Title : Love Doesn’t Need a Password
Author : Sonia aka. Han Minji
Genre : Romance, friendship, drama.
Main casts : Kris, Byun Baekhyun, Juniel as Choi
Junhee, IU as Lee Jieun, and other cameos.
***
“Aku tidak tahu kata apa yang
bisa membuka pintu hatimu untukku. Karena yang kutahu, cinta tidak membutuhkan
kata kunci.” -Kris
***
Mereka sampai di depan pintu
ruang rawat inap Baekhyun. Junhee
bersandar ke dinding di samping pintu, mendongak menatap Kris.
"Terimakasih untuk hari ini,"
katanya sambil berusaha menjaga nada suaranya agar tetap
normal.
“Harusnya aku yang berterima kasih padamu,” Kris kelihatan enggan melepas tangan Junhee. "Kau
mau tidur ya?"
"Apa kau tidak lelah?" tanya Junhee.
"Aku
tidak pernah merasa sebangun ini,"
dia menunduk untuk mencium Junhee—lagi. Bibir mereka kembali bersentuhan . Awalnya terasa ringan dan lembut, lalu dengan tekanan yang semakin kuat tiap detiknya. Tepat pada saat itulah Baekhyun membuka pintu dan
melangkah keluar. Baekhyun mengerjap.
Rambutnya terlihat sangat kusut. Matanya yang setengah terbuka langsung
melebar saat melihat dengan jelas adegan yang terjadi di depan matanya. "Ya! Apa-apaan
ini?" dia bertanya dengan sangat keras, hingga Junhee melompat dari Kris,
seakan sentuhan dari namja itu membakar
kulitnya.
"Byun
Baekhyun! Kau sedang apa di sini? Maksudku, aku kira kau sedang..." ujar Junhee gelagapan.
"Tidur?
Tadinya iya," kata Baekhyun. Wajahnya memerah, memang seperti itu kalau
dia sedang marah atau malu. "Lalu aku bangun dan kau sudah tidak ada di dalam, jadi aku..." Baekhyun tak sanggup
melanjutkan kalimatnya.
Junhee
diam, dia tidak bisa memikirkan sesuatu
pun untuk dikatakan. Kenapa tak pernah terpikir olehnya jika hal seperti ini
akan terjadi? Jawabannya mudah saja. Dia telah lupa tentang Baekhyun, sama
sekali.
"Mianhae," kata Junhee, tapi tidak yakin kepada siapa kata
itu ditujukan. Dari sudut matanya, dia melihat Kris menatapnya dengan amarah putih.
"Di
masa depan, Junhee-ssi," kata Kris. "Lebih bijaksana kalau kau memberitahuku jika kau sudah
memiliki namja lain."
"Kami
hanya berciuman," kata Junhee, lebih kepada Baekhyun.
"Hanya berciuman?" nada suara Kris
berubah sinis.
"Kris..."
Junhee melihat kemarahan yang terselubung dalam mata Kris, maka dia pun berhenti bicara.
"Baekhyun-a,
maaf karena telah membangunkanmu." kata Junhee, hanya kata-kata itu yang
terpikir olehnya untuk meredam kemarahan sahabatnya.
"Aku
juga minta maaf sudah mengganggu acara kalian."
Baekhyun melangkah masuk ke dalam, lalu membanting pintu dengan keras.
Kris
mengangkat ujung kanan bibirnya, seperti biasa saat dia ingin mengejek
seseorang. "Pergilah. Kejar dia. Tepuk-tepuk kepalanya dan bilang padanya jika dia tetaplah pria
kecil super
spesialmu. Bukankah itu yag ingin kaulakukan sekarang?"
"Geumanhae."
kata Junhee. "Berhentilah bersikap seperti itu."
“Seperti apa?”
“Seperti kau baik-baik saja.” Jawab Junhee dengan
penuh penekanan. “Kau pikir kau orang yang jujur? Berhentilah berbohong. Kau
sangat suka bertingkah sok keren, tapi kau tidak pernah menunjukkan perasaanmu
yang sebenarnya.”
Senyum
Kris melebar, tapi
tatapannya sangat menohok.
Dia menatap Junhee lekat-lekat. "Tenang
saja, Choi Junhee. Ciuman tadi tidak terlalu berkesan bagiku kok," Kris berbalik pergi dan berjalan dengan langkah
santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Junhee
memperhatikannya berjalan menjauh. Dia merasakan campuran rasa ingin menangis
sekaligus ingin menampar namja itu (lagi).
Dia kemudian masuk ke dalam kamar untuk menjelaskan semua ini pada Baekhyun.
Di sana, Baekhyun sedang berdiri di tengah ruangan dalam diam. Junhee kemudian
mendengar kembali gema suara Kris dalam benaknya. Suara itu berkata dengan
jahat, Tepuk-tepuk kepalanya dan bilang padanya jika dia tetaplah pria kecil super spesialmu.
Junhee
melangkah mendekati Baekhyun. "Byunbaek,
dengar dulu..."
Baekhyun
menyela dengan kaku lalu berjalan menuju tasnya yang tergeletak di sofa.
"Tapi aku harus mengemasi barang-barangku."
"Kau
mau ke mana?"
"Pulang,” jawabnya singkat.
Junhee
mendesah. "Dengar, aku tidak bermaksud menciumnya. Itu semua terjadi begitu saja. Aku tidak tahu jika kau akan
sangat marah—”
“Benarkah? Apa aku terlihat sangat marah sekarang?”
Baekhyun memotong dengan tajam.
”Aku
tahu kau tidak suka padanya. Tapi tolong…"
"Tidak,"
potong Baekhyun dengan sinis.
"Aku tidak suka samgyupsal,
aku tidak suka matematika, aku tidak suka penyanyi yang hanya modal
tampang dan aku benci Kris. Bisakah
kau lihat perbedaannya?" kata Baekhyun dengan penekanan di kata ‘benci’.
Amarah
Junhee langsung tersulut mendengar itu semua. "Jadi, memangnya kenapa kalau Kris menyebalkan?
Kau bukan ayahku, juga bukan kakakku atau siapapun.
Kau tidak harus menyukainya. Aku tidak pernah menyukai satu pun yeoja yang dekat denganmu, tapi setidaknya aku cukup sopan untuk
menyembunyikan hal itu."
"Itu
berbeda," geram Baekhyun
di antara giginya.
"Kenapa
bisa berbeda, eo?"
"Karena
aku melihat caramu menatapnya! Kau tidak pernah menatap namja lain seperti kau
menatapnya. Bahkan pada Chanyeol." serunya dengan keras, hampir seperti
teriakan. "Selain itu,
aku juga tidak pernah menatap satu pun dari yeoja-yeoja yang pernah berkencan
denganku seperti itu! Bagiku,
mereka semua hanya untuk berlatih sampai..."
"Sampai
apa?" seru Junhee tak kalah keras. Sepertinya mereka berdua sudah
lupa bahwa mereka sedang berada di rumah sakit.
Semuanya
terasa sangat buruk. Mereka bahkan belum pernah bertengkar sampai saling berteriak seperti ini sejak mereka masih di bangku SMP. Tapi Junhee
sudah tidak
bisa menahan dirinya lagi. "Sampai kau mendapat yeoja lagi untuk kau
permainkan?" suara Junhee meninggi.
"Aku
sedang membuatmu cemburu." desis Baekhyun,
kedua tangannya mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih. Dia memejamkan matanya beberapa saat, lalu menatap
Junhee lurus-lurus. "Choi Junhee, kau bodoh.
Sangat bodoh. Kau tidak bisa melihat apa-apa ya?"
Junhee
menatap Baekhyun dengan bingung,
"Mencoba membuatku cemburu? Maksudmu apa?"
Baekhyun menghela napas panjang, tak percaya bahwa dia
harus menjawab pertanyaan yang seharusnya Junhee sudah tahu jawabannya. "Karena aku telah jatuh cinta padamu sejak kita masih di SMP. Jadi kurasa sepertinya sudah waktunya untuk mencari
tahu apakah kau merasakan hal yang sama denganku atau tidak. Tapi ternyata jawabannya tidak." Baekhyun tersenyum getir.
Junhee
tidak bisa menyanggah lagi. Dia menyesal telah mengajukan pertanyaan itu, dia
pikir itu adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah diajukannya. Dia merasa seperti Baekhyun telah menamparnya dengan
keras hingga dia
merasa pusing dibuatnya.
Dia memandangi Baekhyun, mencoba memberi tanggapan, tapi Baekhyun memotongnya dengan tajam. "Malhajima.
Tak ada yang bisa kau katakan..."
Junhee
melihatnya berjalan melewati pintu. Sebenarnya dia sangat ingin menahannya,
tapi dia tidak bisa mengatakan apapun pada Baekhyun. Dia tidak
mungkin berkata padanya ‘Aku mencintaimu’
karena kenyataannya Baekhyun hanya dianggapnya sebagai sahabat sekaligus
kakaknya. Pintu tertutup di
depan Junhee, dan dia pun kini sendirian.
Setelah
Baekhyun pergi, Junhee membenamkan dirinya ke dalam kasur. Choi Junhee, kau bodoh. Sangat
bodoh. Kau tidak bisa melihat apa-apa ya?
Junhee
kemudian teringat ratusan hal yang telah Baekhyun katakan atau lakukan, lelucon
yang dibuat teman-teman mereka tentang dirinya dan Baekhyun dan juga percakapan
yang terhenti saat Junhee masuk ke dalam ruangan.
Dan satu hal yang paling penting, Kris telah mengetahui hal ini sejak awal. Pernyataan
cinta itu menggelikan, apalagi kalau tak terbalas.
Dulu
dia tak bisa berhenti bertanya apa maksud semua hal itu, tapi sekarang yeoja itu mengerti. Sangat mengerti.
***
“Junhee-ya!” ibu Baekhyun berseri-seri wajahnya saat
melihat yeoja itu berdiri di undakan depan rumahnya. “Sudah lama sekali aku
tidak melihatmu. Aku sudah mulai khawatir jika kau dan Baekhyun bertengkar.”
“Oh, tentu saja tidak.” Jawab Junhee, tentu saja dia
berbohong.“Saya hanya sedang sibuk dengan kegiatan kampus dan sedikit kelelahan.”
“Pasti sama seperti Baekhyun. Beberapa hari yang lalu,
dia hampir tidak bisa bangun dari ranjangnya.”
“Tapi sekarang dia sudah baikan, kan?” kata Junhee
khawatir, mengingat terakhir kali dia melihat Baekhyun penuh memar seperti itu.
“Dia sudah terlihat lebih baik kok. Kurasa dia
sekarang ada di luar, di taman belakang rumah. Ke sana saja lewat gerbang
pagar.” Ibu Baekhyun tersenyum. “Dia pasti senang melihatmu.”
Junhee menutup gerbang di belakangnya lalu mencari
sosok Baekhyun. Sahabatnya itu ada di taman belakang—seperti yang dikatakan
ibunya—dan dia sedang duduk di ayunan dengan pandangan kosong ke depan. Saat
melihat Junhee, dia segera menegakkan posisi duduknya dan memasang ekspresi
datar.
Junhee melihat sekeliling dan sedikit menggigil, lalu
merapatkan jaket yang dipakainya. “Kau sedang apa di sini? Cuacanya sedang
tidak bagus. Apa kau tidak kedinginan?”
Baekhyun bergeming, pandangannya masih lurus ke depan.
Sedetik pun dia tidak menatap ke arah Junhee.
“Ada sesuatu
yang ingin kubicarakan denganmu,” kata Junhee. Dia kini duduk di ayunan, di
sebelah Baekhyun.
Baekhyun yang berada di sampingnya hanya menatapnya
tanpa berkata apapun, bahkan setelah mereka lama sekali terdiam dalam suasana
yang canggung.
“Mianhae,” kata Junhee pelan. “Atas perkataanku di
rumah sakit saat itu, aku minta maaf. Saat itu aku benar-benar sedang dikuasai oleh
emosi.” Junhee menahan napas sejenak lalu menghembuskannya pelan,“Aku selalu
menjadi sahabat yang egois. Aku tidak pernah memikirkan perasaanmu. Aku
menyesali semua itu.”
“Apa kau ke sini hanya untuk mengatakan itu?” tanya
Baekhyun sinis.
Junhee menelan ludah, dia tidak pernah melihat
ekspresi Baekhyun yang seperti itu. Ini pertama kalinya sahabatnya itu terlihat
sangat marah padanya. Dari matanya, Junhee bisa melihat jika ada kesedihan,
kemarahan dan satu rasa tak terjelaskan darinya.
“Aku tanya padamu. Apa kau ke sini hanya untuk
mengatakan itu?” ulang Baekhyun, lebih seperti mengintimidasi Junhee. “Jika
iya, lebih baik kau pergi saja. Aku sedang ingin sendiri.”
“Aku tidak ada hubungan apapun dengan Kris, kumohon
percayalah padaku,” kata Junhee tiba-tiba dengan nada memohon.
“Kau ada hubungan atau tidak dengannya, aku tidak
peduli,” jawab Baekhyun kaku.
“Aku tahu aku salah, tapi janganlah seperti ini.”
Baekhyun berdiri, Junhee pun mengikutinya dan kini
mereka berdiri berhadapan.
“Tidak. Kau
tidak bersalah, Choi Junhee. Aku yang salah. Aku yang salah karena diam-diam
telah menganggap hubungan kita lebih dari sahabat.”
“Byun Baekhyun…” sela Junhee.
“Aku mengerti semuanya, jangan khawatir. Kau suka
namja yang bertubuh tinggi dan kaya. Aku mengerti jika aku bukanlah tipe namja
yang kau sukai.”
“Geumanhae—hentikan, Byun Baekhyun,” kata
Junhee pelan. Matanya mulai memanas, air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.
“Kau bilang aku orang terpenting bagimu setelah
keluargamu? Kurasa itu hanya kau katakan untuk menyenangkan hatiku saja.”
“Geumanharago—hentikan, kataku!”
“Kau bisa berhenti memedulikanku sekarang. Aku tidak
butuh rasa kasihanmu lagi,” teriak Baekhyun, lalu sedikit terengah karena
emosi. “Seseorang yang bukan siapapun sepertiku
tidak akan pernah berharga untukmu. Karena itu, pergilah saja pada Kris!”
Air mata Junhee tumpah. Dia tidak pernah mengira
Baekhyun akan mengucapkan kata-kata kejam seperti itu padanya. Tanpa
disadarinya, tangan kanannya terangkat dan melesat ke pipi Baekhyun. Baekhyun
langsung terdiam, sedikit kaget dengan tamparan yang baru saja mendarat di
pipinya. Ini pertama kalinya dia ditampar oleh seseorang dan orang itu adalah
sahabatnya sendiri. Dia kemudian menatap Junhee yang kini sedang menatapnya dari balik air mata. Tanpa mengucapkan
sepatah kata pun, akhirnya dia pergi meninggalkan Junhee menangis sendirian di
taman itu. Kedua kaki yeoja itu terasa lumpuh, dia pun jatuh bersimpuh dalam
penyesalan. Dia tak percaya jika dalam waktu kurang dari seminggu dia bisa
kehilangan sahabat yang dikenalnya selama belasan tahun.
***
“Sehun-a, kau lihat? Aku memang paling hebat dalam
merusak segala hal. Sekarang Baekhyun marah padaku, dan Kris…” kata Junhee
sambil memandangi poster Sehun saat dia baru saja pulang dari rumah Baekhyun.
“Ah, lupakan soal dia. Aku tidak peduli lagi. Sehun-a,
kurasa seumur hidupku aku hanya akan memandangimu seperti ini. Karena aku tahu,
kau tidak akan menyakitiku. Bukan. Kau tidak bisa menyakitiku karena kau hanya
ada dalam khayalanku. Benar, kan?”
“Tenang saja, Junhee. Aku akan selalu ada di sampingmu
dan tentu saja aku tidak akan menyakitimu,” ujar Sehun dalam khayalannya.
“Eung, aku tahu…”
***
Sejak peristiwa di rumah sakit itu, Junhee sudah tidak
pernah lagi bertemu Kris. Bahkan saat latihan untuk pertunjukan tahunan kampus
pun namja itu tidak datang. Sesekali Junhee berkeliling di fakultas Kris hanya
untuk mencari di mana namja itu. Kesan terakhir yang dimilikinya dengan namja
itu sangatlah tidak enak untuk dikenang. Junhee takut jika Kris tidak datang ke
kampus hanya karena tidak mau melihat dirinya. Dia sedikit khawatir jika
terjadi sesuatu dengan namja itu.
Hari ini adalah kali ke-4 Junhee berlatih tanpa Kris. Namja
itu benar-benar hilang tanpa petunjuk yang jelas.
“Bagaimana mungkin dia bolos berlatih seperti ini
tanpa ijin, eo?” gertak Im Gyosunim saat mengabsen daftar hadir latihan. “Anak
nakal itu, jika dia belum juga kembali minggu ini, aku akan benar-benar
mengeluarkannya dari daftar performer.”
“Ya, benar. Ini juga membuatku marah. Gunakan
kesempatan ini untuk mengeluarkannya dari acara ini. Hanya melihat kelakuannya
saja, aku sudah merasa muak dan cemas,” kata Baekhyun menambahi dan
perkataannya pun disetujui oleh Gyosunim.
Seketika itu, Junhee menoleh pada Baekhyun dan menatap
namja itu lekat-lekat. Baekhyun membalas tatapannya lalu membuang mukanya ke
arah lain.
Byunbaek, sebegitu bencinyakah
kau pada Kris? batin Junhee.
“Junhee-ya…” panggil Jieun sambil menyikut lengan
Junhee pelan.
“Eung?”
“Apa ada masalah serius antara kau dan Baekhyun? Kulihat
akhir-akhir ini kalian jarang berbicara. Tidak seperti biasanya,” tanya Jieun
seraya menatap Baekhyun lalu beralih ke Junhee.
“Memang ada masalah di antara kami, tapi aku akan
berusaha menyelesaikannya secepat mungkin…” ujar Junhee dengan senyum yang agak
di paksa di wajahnya. “Aku tidak tahan jika terus seperti ini.”
“Choi Junhee,” panggil Im Gyosunim.
“Ne?” jawab Junhee, sedikit kaget.
“Kau dan Baekhyun aku tugaskan membuat lagu penutup untuk acara tahunan kita.”
“Jegayo—aku?” tanya Junhee, berusaha meyakinkan.
Im Gyosunim mengangguk. “Kalian berdua memiliki
pengalaman dalam mengaransemen lagu.” Gyosunim mengalihkan pandangannya pada
Junhee, “Dan aku dengar kau ingin
mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Ini bisa menjadi jalan pintasmu.
Jadi, kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik mulai saat ini.”
Junhee terlihat bimbang untuk mengambil keputusan. Dia
masih merasa canggung untuk sekedar berbicara dengan Baekhyun. Dia lalu menatap
Baekhyun selama beberapa detik, seolah jawabannya ada pada diri namja itu.
“Wae? Apa kau tidak percaya diri dengan kemampuanmu?”
tanya Gyosunim pada Junhee.
Junhee menggelengkan kepalanya beberapa kali, “Aniyo.”
Dia kemudian menoleh ke arah Baekhyun yang kelihatan acuh tak acuh,“Tentu saja
saya akan mencobanya,” jawab Junhee pada akhirnya.
“Nah, ini baru Junhee yang kutahu.” Kata Im Gyosunim
seraya menyerahkan beberapa lembar dokumen pada Junhee dan Baekhyun. “Ini
adalah penjelasan tentang tema pertunjukan kali ini. Baca dan pahami.”
“Ne, Gyosunim.” jawab mereka berdua dengan kompak.
***
Selesai latihan, Baekhyun dan Junhee diminta oleh Im
Gyosunim untuk datang ke ruangannya dan membicarakan tentang lagu penutup
pertunjukan. Setelah menyelesaikan diskusi mereka, Baekhyun berjalan di samping
Junhee dan berkata dengan datar, “Jangan memaksakan dirimu. Jika kau tidak mau
melakukannya, aku akan menjelaskannya pada Im Gyosunim,” ujar Baekhyun lalu
mengangsurkan sekaleng soda pada Junhee.
Junhee menerimanya lalu tersenyum kecil. “Jangan
khawatir, aku tidak memaksakan diri kok.”
“Bukankah itu akan menyusahkanmu jika bekerja sama
denganku?”
“Bagaimana mungkin itu menyusahkanku? Karena
pertunjukan itu lah kita akan sering bertemu lagi. Bukankah itu bagus?”
“June.”
“Wae?”
“Aku ingin minta maaf atas perkataan kasarku padamu...”
“Tidak usah minta maaf pun aku sudah memaafkanmu. Karena
aku berharap kita bisa terus menjadi sahabat yang bisa bertengkar dan bercanda
sepanjang waktu.”
“Begitu, ya?” Baekhyun tersenyum tipis. Ada rasa sakit
yang disamarkan dalam senyumnya.
“Emmm... Aku ke toilet sebentar ya.”kata Junhee.
“Ya, Choi Junhee!” panggil Baekhyun sambil mengocok
kaleng soda yang dibawanya.
Junhee baru saja menoleh saat Baekhyun membuka kaleng
soda itu dan isinya langsung menyembur keluar mengenai baju Junhee.
Junhee berseru kesal sambil membersihkan bajunya.
“Kau benar-benar lambat,” kata Baekhyun di sela
tawanya.
Junhee menatap Baekhyun dengan sengit lalu mengocok
kaleng yang ada di tangannya kuat-kuat. “Byun Baekhyun, aku akan membalasmu! Kemari
kau!” serunya sambil mengejar Baekhyun yang berlari menghindarinya.
Sudah lama sekali rasanya mereka tidak bermain-main
seperti ini. Tertawa lepas bersama seperti sepasang anak kecil. Mereka
benar-benar merindukan suasana seperti ini. Suasana masa kecil mereka yang
penuh canda tawa.
***
Saat berada di dalam mobil ketika perjalan menuju
rumah, keduanya kembali merasa canggung satu sama lain, sehingga mereka hanya
saling diam. Junhee menopang kepalanya dengan sebelah tangan, pandangannya
kosong. Pikirannya kembali melayang pada sosok Kris yang seminggu lebih sudah
tak dilihatnya. Apa yang sebenarnya
terjadi padanya? Kenapa dia tidak datang ke kampus beberapa hari ini? Kenapa
dia tidak meneleponku? Apa dia sakit?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berputar secara
berulang-ulang di benaknya, membuatnya merasa semakin galau akan perasaannya. Dia
bahkan lupa jika sekarang dia sedang bersama Baekhyun yang notabene sangat
membenci Kris.
Junhee kemudian mengambil beberapa bungkus coklat dari
tasnya lalu memakannya dengan kalap.
“June. Apa ada sesuatu yang mengganggumu lagi?” cetus
Baekhyun memecah keheningan di antara mereka berdua.
“Eoptta—tidak ada,” jawab Junhee singkat sambil terus
mengunyah coklatnya.
“Kau sudah makan banyak makanan penutup waktu
istirahat latihan. Mulai dari Es krim, cake, bagel dan sekarang coklat. Tidakkah
ini berlebihan?” cerocos Baekhyun tanpa jeda. Dia sudah kembali menjadi
Baekhyun yang cerewet.
“Ini makanan penutup setelah makanan penutup,” jawab
Junhee asal.
“Kurasa aku tahu kenapa kau jadi seperti ini,” kata
Baekhyun lagi. Ada rasa kesal dalam nada bicaranya.
Junhee diam tak menanggapi pernyataan Baekhyun dan
terus saja makan.
“Kau pasti
sekarang sudah penuh sampai ke tenggorokan…” tanggap Baekhyun seraya menatap
Junhee dengan pandangan khawatir.
Junhee menoleh pada Baekhyun dan meminta sahabatnya
itu untuk menghentikan mobil karena dia merasa ingin muntah.
Baekhyun melihatnya keluar mobil dengan buru-buru dan
muntah di selokan. Dia kemudian memukulkan tangannya dengan geram ke stir
mobilnya. “Aissh. Bagian mana darinya yang bisa membuat Junhee segamang ini?”
desisnya.
***
Hari berikutnya, Kris masih belum muncul juga di area
kampus dan juga di latihan pertunjukan. Junhee kemudian bertanya pada Im
Gyosunim apakah Kris sudah memberi kabar tentang ketidakhadiarannya atau belum.
Im gyosunim menjawab jika Kris sedang sakit sekarang. Hal ini membuat Junhee
semakin khawatir pada keadaan namja itu.
“Junhee-ssi. Kulihat akhir-akhir ini lingkaran hitam
di bawah matamu semakin jelas saja,” tanggap Jieun yang kini sudah menjadi
teman dekat Junhee. “Apa terjadi sesuatu?”
Junhee tak menanggapi dan terus mencoba meremah permen
lolipop yang dibawanya.
Baekhyun yang melihatnya langsung mendesah, “Lebih
baik makan coklat atau es krim. Hati-hati agar gigimu tidak patah.”
Junhee kemudian mengambil ponsel dari saku celananya,
mengecek apa ada pesan untuknya atau tidak. Dia sangat berharap Kris
memberitahu dimana dirinya sekarang.
“Ponselmu juga tidak berdering sepanjang hari,” tambah
Baekhyun. Dia tidak pernah melihat Junhee segalau ini sebelumnya. Dia kemudian
mendatangi Junhee dan merebut lolipop yang berada di tangan yeoja itu.
“Jika kau ingin tahu, kenapa kau tidak pergi dan
menemukannya?” ucap Baekhyun.
Junhee kaget menyadari apa yang dilakukan oleh namja
itu sekarang.
“Bukankah kau bisa menanyakan alamatnya pada Im
gyosunim? Beliau pasti punya data pribadi semua performer,” lanjut Baekhyun. “Jika
aku jadi kau, aku pasti sudah melakukannya sejak dulu.”
Setelah mengatakan itu semua, Baekhyun pergi ke luar
ruang teater dengan ekspresi sebal sekaligus menyesal karena telah menyarankan
hal itu.
Junhee terdiam sejenak dan memikirkan kata-kata
Baekhyun. Dia kemudian pergi ke ruangan Im Gyosunim untuk mencari tahu alamat
rumah Kris.
***
“Siapa yang kaucari, gadis cantik?” tanya seorang ajumma pada Junhee ketika yeoja itu
sedang mencocokkan alamat yang dibawanya dengan plat yang ada di depan sebuah
rumah.
“Apa Kris tinggal di sini?” tanya Junhee setelah
membungkukkan badannya pada wanita setengah baya itu.
“Kau teman kuliahnya atau kekasihnya?” tanya ajumma
itu ramah.
“A…aku bukan kekasihnya. Benar-benar bukan kekasihnya,”
jawab Junhee agak gelagapan. “Kami kenal karena kami sama-sama menjadi
performer untuk acara tahunan kampus.”
“Sebenarnya, ini pertama kalinya seorang yeoja datang
kemari untuk mencarinya.”
Junhee tersenyum samar mendengar kata-kata ajumma itu.
“Bocah itu bahkan tidak memberitahu apapun padaku,”
lanjutnya.
“Tapi, dapatkah saya tahu apa hubungan ajumma dengan
Kris?”
Ajumma itu tersenyum ramah. “Aku pengasuhnya sejak
kecil.”
“Pengasuhnya? Apa ajumma bekerja di sini tak lama
setelah Eomma Kris meninggal?”
“Ne. setelah Ibunya meninggal…” Ajumma itu kemudian menunjukkan
ekspresi heran dan tidak melanjutkan kalimatnya. “Bahkan dia menceritakan
tentang ini padamu?”
“Eo? Aniyo. Dia hanya mengatakan jika ibunya sudah
meninggal.”
“Dia sudah hidup tanpa ibu sejak umur lima tahun. Karena
kecelakaan pesawat, dia kehilangan ibu yang sangat dekat dengannya. Tidak hanya
itu, ayahnya juga membencinya karena dia pikir Kris lah yang membuat istrinya
meninggal.”
Junhee kemudian diam dan memperhatikan ajumma itu
bercerita panjang lebar tentang kehidupan Kris.
“Eum… apa sekarang dia sedang sakit?” tanyanya saat
ajumma itu selesai bercerita.
“Sakit? Siapa yang sakit?” ajumma itu malah balik
bertanya, “Jika yang kau maksud itu Kris, dia sedang ada di luar negeri
sekarang. Ada sesuatu yang harus dikerjakannya di sana. Oh ya, besok hari ulang
tahunnya. Aku tidak tahu apakah dia akan membuat sup rumput laut atau tidak.”
Ajumma itu memandangi Junhee lekat, lalu tersenyum. “Ayo
masuk ke dalam. Kau akan mengenalnya lebih baik.”
Junhee mengangguk lalu mengikuti ajumma itu. Dia
akhirnya sampai di sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang keluarga. Mata
Junhee langsung tertuju pada jajaran foto yang berada di sebuah meja kecil di
pojok ruangan. Itu adalah foto keluarga. Ada seorang ibu muda yang cantik di sana. Junhee dapat
menebak jika itu adalah ibu Kris. Mereka terlihat sangat bahagia di foto itu. Kris
juga terlihat masih sangat lucu.
Junhee menyentuh wajah Kris di foto itu lalu
tersenyum. Aku benar-benar ingin tahu
tentangmu. Aku ingin mengenalmu lebih dalam…
Mata Junhee kemudian tertuju pada sosok namja yang
menggendong Kris di salah satu foto itu.
“Ajumma, ini ayah Kris ya?”
“Eung, dia ayah Kris.”
“Dia tidak terlihat seperti ayah yang jahat…” gumam
Junhee.
“Dulunya memang begitu. Tapi setelah Ibu Kris
meninggal, dia mulai berubah.”
“Dia tidak boleh seperti itu. Kris juga membutuhkan
kasih sayangnya. Dia sudah kehilangan ibunya, tidak seharusnya dia kehilangan
perhatian dari ayahnya, kan?”
“Aku juga berpikir seperti itu. Tapi apa boleh buat?”
ujarnya. “Dari kecil, Kris selalu menyendiri. Dia tidak pernah mempunyai teman.
Saat kau berkata bahwa kau temannya, aku merasa sedikit kaget karena baru kali
ini ada teman Kris yang datang ke rumah ini.”
“A, geuraeyo?”
Setelah menanyakan tentang Kris pada ajumma, Junhee
pamit pulang. Dia kemudian pergi ke sebuah toko baju dan membelikan sebuah syal
untuk hadiah ulang tahun namja itu. Sekarang akhir musim gugur dan Junhee ingin
memberikan sesuatu yang bisa menghangatkan namja itu di musim dingin. Junhee
terus tersenyum menatap kado yang dibelinya untuk Kris. Ponsel Junhee berdering
nyaring dan dia merasa sangat senang. Dia berpikir jika itu adalah telepon dari
Kris, tapi ternyata bukan. Junhee mendesah, dia kemudian melihat Kris berdiri
di depannya dengan senyum pongahnya.
“Ya, Choi Junhee! Apa kau masih menunggu telepon
dariku? Tidakkah kau pikir kau sedikit berlebihan dalam menyukaiku? Aku jadi
merasa sedikit cemas.”
Junhee terdiam, dia baru saja membuka mulutnya untuk
menjawab saat menyadari bahwa itu semua hanya bayangannya saja. Nyatanya, Kris
sedang tidak ada di sana.
Junhee terduduk di bangku halte. Tatapannya menerawang
ke depan. Dia merasa kepalanya terayun ke belakang seolah baru saja ditampar
oleh seseorang dan membuatnya sadar apa yang baru saja dilakukannya.
Benar… karena kita berdua
hanyalah orang asing. Maafkan aku. Aku sedikit berlebihan.
***
Hari berikutnya, seperti biasa Junhee makan di kantin
sebelum masuk ke kelas. Ketika memasuki pintu kantin, dia langsung terpaku di
tempatnya. Di sana, di salah satu sisi kantin, Kris duduk sambil menyesap
secangkir kopi.
Namja itu tersenyum segera setelah tahu Junhee ada di
sana. Dia kemudian menghampiri Junhee.
“Kenapa? Kau seperti melihat hantu,” kata Kris, masih
dengan senyum di wajahnya. Berbicara seolah tak pernah terjadi apa-apa. “Tapi
Choi Junhee, kau terlihat sangat cocok dengan baju yang kau pakai sekarang. Seperti
gadis kecil, sangat cantik.”
“Sedang apa kau
di sini?”
“Aku? Tentu saja aku sedang makan. Aku tidak menyangka
akan bertemu denganmu di sini.”
“Aku sangat sibuk, bicaranya nanti saja.” Junhee
kemudian berjalan keluar kantin. Kris mengikutinya dan mencegahnya.
“Ini hampir jam makan siang. Kau belum makan, kan? Ayo
makan bersama.”
“Bukankah kita hanya dua orang asing? Itu artinya hubungan kita juga berada dalam tahap
dimana kita tidak seharusnya makan bersama.”
“Aku tidak peduli tentang hal itu. Kachi meokja—Ayo
makan bersama.”
Kris menarik tangan Junhee dan membawa yeoja itu ke
bangku dimana dia makan tadi. Mereka berdua duduk berhadapan.
“Hari ini aku yang traktir…” ujar Kris.
Setelah pesanannya datang, Junhee memakannya dengan
cepat. Kris memerhatikannya sambil terus tersenyum.
“Wae? Apa wajahku terlihat seperti kue kukus?” kata
Junhee, pura-pura tidak peduli pada Kris, padahal dalam hati dia sangat
merindukan namja itu. “Kenapa akhir-akhir ini kau tidak muncul?”
Kris tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil
memandangi Junhee.
“Jangan tersenyum. Orang
asing membencinya,” kata Junhee dengan maksud sarkas.
“Aku merindukanmu,” kata Kris tiba-tiba.
Junhee menghentikan aktivitas makannya dan menatap
Kris tak percaya. Junhee merasa pipinya mulai bersemu merah dan mendadak
menjadi panas. Lalu untuk menutupinya, tanpa berkata apapun dia melanjutkan
makannya lagi.
“Kau selesai kuliah jam delapan kan? Nanti jangan
pulang dulu. Tunggu aku.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin melihatmu. Bahkan ketika aku
melihatmu, aku masih saja merindukanmu.”
“Jangnanchijima—jangan bercanda.”
Kris memasang ekspresi sangat serius. “Pokoknya,
jangan pulang dulu. Tunggu aku.” Dia lalu tersenyum lagi, “Tunggu aku setelah
kau selesai kuliah hari ini.”
“Aku punya janji,” jawab Junhee sambil terus memakan
pesanannya.
“Pelan-pelan. Kau hampir memakan rambutmu,” Kris
berkata sambil menyibak rambut Junhee yang menutupi sebagian wajahnya. Junhee
mengerjap karena kaget.
“Kenapa terkejut? Di masa depan akan ada banyak hal
yang lebih mengejutkanmu.”
“Mungkinkah… setelah membuat janji denganku seperti
ini kau berencana mengabaikanku lagi?”
“Kenapa aku melakukan itu?”
“Bukankah kau ahli dalam hal ini?” ucap Junhee, “Pura-pura
baik pada semua orang lalu tiba-tiba menjadi musuh dalam selimut.”
“Apa kau sedang mengatakan bahwa aku sudah menciummu
dan tidak akan mengakuinya?”
Junhee tersedak mendengarnya dan langsung menenggak
air putih di hadapannya dengan beberapa teguk.
Kris tersenyum. “Jika itu membuatmu tidak senang,
anggap saja itu sebagai strategi
tarik-ulur. Mendorongmu, tapi kemudian menarikmu kembali.”
“Aku pergi sekarang. Kau urus saja bill-nya.”
Junhee kemudian beranjak dan berjalan keluar kantin.
“Jangan pulang dulu, tunggu aku. Oppa akan ada di sana dalam sekejap!” seru Kris.
***
“June. Apa yang kau makan saat makan siang?” bisik
Baekhyun heran saat melihat Junhee tak henti-hentinya tersenyum sendiri. Saat
ini mereka sedang berada di kelas terakhir hari ini. Junhee tak henti-hentinya
tersenyum saat teringat kata-kata Kris padanya, Aku ingin melihatmu…
“Bagel coklat,” jawabnya singkat.
“Jangan bilang kau makan yang sudah mengeras dan berjamur.”
“Geulsse—Siapa yang tahu?”
“Berhentilah tersenyum, June. Kau terlihat seperti
orang gila.”
“Berani sekali kau memanggilku orang gila.” bisik
Junhee dengan mata melotot, tapi kemudian dia kembali tersenyum sendiri.
“Isanghae—aneh,” gumam baekhyun.
“June, bagaimana kalau setelah kelas ini selesai kita
makan malam di kafe yang biasanya?”
“Aku tidak bisa. Aku ada janji dengan seseorang.”
“Janji?” Baekhyun memiringkan kepalanya heran.
***
Junhee duduk di sebuah bangku di pelataran kampus. Beberapa
kali dia merapatkan syal dan jaketnya agar hawa dingin tidak menginvasi
tubuhnya. Sesekali dia mengecek ponselnya untuk melihat apakah Kris
mengiriminya pesan atau tidak. Ini sudah hampir satu jam sejak dia selesai
kelas dan namja itu belum juga muncul.
“June, kau masih di sini?” tanya seseorang dan orang
itu adalah Baekhyun.
“Aku kan sudah bilang padamu, aku punya janji dengan
seseorang,” jawab Junhee. “Bagaimana denganmu? Kenapa kau masih di sini?”
“Aku baru saja menyerahkan rancangan lagu yang kita
buat pada Im Gyosunim,” jawab Baekhyun lalu memasukkan telapak tangannya ke
saku jaketnya.
Tiba-tiba ponsel Junhee berdering nyaring. Ponselnya
terjatuh ke rerumputan di bawahnya, karena saking semangatnya dia mengambil
ponsel.
Namun, wajahnya langsung berubah kelabu saat melihat
nama yang muncul di layar ponselnya.
“Ne, Eomma?” jawab Junhee tanpa semangat.“Ne,
arrasseoyo. Aku akan segera pulang. Jangan khawatir.”
“Sepertinya dia tidak bisa datang,” celetuk Baekhyun
dengan wajah kesal, karena dia tahu siapa orang yang ditunggu Junhee.
“Kata siapa seperti itu?” semprot Junhee sebal.
Baekhyun kemudian berjalan pergi tanpa mengatakan
apapun.
Junhee kembali menunggu Kris. Dia akhirnya memutuskan
untuk menelepon namja itu terlebih dulu. Tapi teleponnya tidak diangkat dan
saat Junhee mencoba menghubunginya lagi, ponsel namja itu sudah tidak aktif.
Junhee mendesah. Dia baru saja akan beranjak pergi
saat sebuah pesan masuk.
“Kris!” serunya senang.
‘Maaf. Sesuatu yang darurat
baru saja terjadi…’ dia berkata di pesan itu.
Junhee menatap layar ponselnya dengan pandangan tak
percaya sekaligus kesal. Ada perasaan ingin membunuh namja itu sekarang juga.
“Brengsek! Apa dia tidak tahu berapa lama aku sudah
menunggunya?”
***
“June! Dia ada di sini! Dia di sini!” seru Baekhyun sambil
berlari menghampiri Junhee yang sedang sibuk merangkai nada di buku musiknya
pada hari berikutnya.
“Dia siapa?” tanya Junhee, tak tertarik.
“Byeontae itu.”
“Aku tahu…” ujar Junhee.
“Eo? Kau sudah tahu?”
“Aku tidak peduli jika orang itu atau anaknya atau
siapapun. Aku tidak peduli jika dia datang atau tidak. Jika kau pikir kemarin aku
menunggunya, maka kau benar-benar telah salah kira.” Kata Junhee, dia terlihat
sangat kesal. “Aku punya standar. Bagaimana bisa kau menyebut namaku di kalimat
yang sama dengan orang seperti dia, eo? Kau terlalu merendahkanku.”
Baekhyun diam dan menatap Junhee heran.
“Hanya karena kau lebih pintar dariku, kau berani
merendahkanku. Kau anggap apa aku?”
Tepat saat Junhee menyelesaikan kalimatnya, Kris
berseru dari ambang pintu kelas, “Ayo bicara. Keluarlah,” katanya singkat lalu
berbalik pergi.
“Orang itu… dia pikir dia siapa? Menyuruhmu seenaknya
seperti itu,” ujar Baekhyun seraya melayangkan pandangan penuh benci pada Kris.
Sebaliknya, Junhee langsung mengepaki barangnya dan
mengikuti kemana namja itu pergi.
Baekhyun mengerjap. “Hei, sejak kapan dia begitu
patuh?”
***
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Junhee saat
mereka berdua sampai di ujung koridor.
“Aku minta maaf karena tidak bisa menepati janjiku,”
kata Kris, ekspresi wajahnya sangat berbeda dari yang biasa. Dia terlihat
bimbang, kalut dan mungkin juga menyesal.
“Jika itu permintaan maaf, maka aku akan menerimanya.”
“Gomawo,” jawab Kris singkat, lalu beranjak pergi.
Junhee mencegahnya dengan menarik lengan namja itu. “Cuma
itu?”
Kris membuang muka, matanya tampak berkaca-kaca
seperti sedang menahan tangis. Namja itu kelihatan lelah, tegang dan juga
gugup. Matanya dilingkari warna kelabu. Tatapannya melewati Junhee dan
menerawang jauh.
“Apa sesuatu terjadi?” tanya Junhee khawatir.
“Mianhada—maafkan aku.”
“Untuk apa?”
“Da—semuanya.”
“Apa maksudmu dengan semuanya?” Junhee semakin dibuat
pusing dengan kata-kata Kris yang menurutnya tak bertujuan itu.
“Karena telah menyusahkanmu selama ini.”
“Aku tidak pernah merasa susah sedikit pun. Tidak
pernah,” Junhee berusaha meyakinkan. “Jadi kau tidak perlu meminta maaf.”
Kris menatap Junhee tepat di manik mata yeoja itu.
Junhee mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Aku
menunggu sangat lama,” ujarnya kemudian.
“Jadi, kau menungguku?”
“Eo.”
“Wae? Kenapa kau menungguku?”
“Karena aku menyukaimu…” kata Junhee, meskipun
suaranya datar dan lirih, tapi Kris tahu bagaimana yeoja itu berperang melawan
harga dirinya untuk mengatakan kalimat itu padanya.
“Aku bilang aku jatuh cinta padamu, byeontae! Jadi kau
tidak perlu meminta maaf,” seru Junhee.
Kris tak menjawab pernyataan Junhee dan terus
memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Apa yang terjadi padamu? Bukankah kau bilang walaupun
kau sedang melihatku, kau tetap merasa rindu padaku? Tapi kenapa tiba-tiba kau
bersikap seperti ini padaku?”
Kris menghela napas panjang. “Kau di luar jangkauanku,
Choi Junhee. Jadi mulai sekarang jangan berhubungan lagi denganku…”
“Jangan seperti ini…”
Kris melepas genggaman Junhee di lengannya dan mulai
melangkah.
“Tolong jangan seperti ini.” Junhee memeluk Kris dari
belakang, air mata mulai turun membasahi
wajahnya.
Kris melepas pelukan Junhee dan berjalan pergi tanpa
mengatakan satu kata pun pada yeoja itu.
“Ya, ijashi! Apa yang kau lakukan?” tanya Baekhyun
saat Kris melewatinya. Dia menahan Kris dengan tangan kanannya. Kris menyingkirkan
tangan Baekhyun dan bersiap pergi, tapi Baekhyun mencegahnya lagi.
“Kau bilang apa? Dia di luar jangkauanmu? Apa
kata-kata itu diucapkan oleh manusia,eo?” Baekhyun sudah tidak tahan melihat
Junhee menangis seperti itu lagi. “Jika itu masalahnya, kenapa kau bahkan
berani mendekatinya?” seru Baekhyun penuh emosi.
Kris mencengkeram kerah kemeja Baekhyun dengan erat. Air
mata sudah memenuhi pelupuk matanya. “Diam kau!” geram Kris, setetes air mata
kemudian jatuh di pipinya. “Jangan katakan apapun lagi. Jangan coba
memprovokasiku…”
Kris kemudian melepas cengkeramannya dan berlalu dari
hadapan Baekhyun.
Baekhyun berjalan menghampiri Junhee yang tengah
terduduk sambil menangis tersedu.
Kenapa aku harus melihatnya
menangis seperti ini lagi?
Dia kemudian duduk di sebelah Junhee. Yeoja itu
langsung memeluknya dan menangis keras. Baekhyun menepuk-nepuk punggung Junhee
pelan untuk menenangkannya.
“Kau benar-benar jelek. Bagaimana bisa kau menangis dengan
sepenuh hati seperti itu?” kata Baekhyun saat tangisan Junhee mulai mereda.
“Kurasa dugaanku benar. Kau tidak akan berpura-pura
kau tidak melihatnya.” Ujar Junhee sarkas.
“Hei, aku tidak sedewasa itu, June. Tapi, dibandingkan
dengan namja itu, kepribadianku jauh lebih baik. Benar,kan?”
Junhee diam karena malas menanggapi.
“Lupakan saja dia. Namja itu benar-benar tak beralasan,
jahat dan rendah. Dia bahkan tidak bisa menghadapi keyakinan yang kau punya. Benar-benar
tidak baik.” Baekhyun menghela napas panjang. “Tapi… aku sedikit iri padanya. Apa
yang bagus darinya sehingga bisa membuat seorang Junhee menjadi kacau seperti
ini, eo?”
“Sudahlah, Byun Baekhyun. Jangan bahas tentang dia
lagi. Mungkin sudah takdirku untuk tidak menjalani sebuah hubungan.”
“Hei, jangan berkata seperti itu.”
Junhee tidak mendengarkan Baekhyun dan sibuk mencari
sesuatu dalam tasnya. “Ini syal untukmu.”
“Untukku?” Baekhyun menimbang-nimbang syal itu dan
menatapnya heran. “Dalam rangka apa kau memberiknnya padaku?”
“Anggap saja itu kado permintaan maaf dariku, OK?”
“Arrasseo…” jawab Baekhyun, lalu melingkarkar syal itu
di lehernya. “Ini hangat, gomawo…”
Baekhyun kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari
dalam kantong jasnya dan memberikannya pada Junhee.
“Ini apa?”
“Buka saja dan lihat apa isinya.” Baekhyun tersenyum
lebar saat memberikannya.
Junhee terkejut saat melihat isinya. Sebuah kalung. Dan
kalung itu adalah kalung yang dibeli Baekhyun saat mereka pergi ke Insadong
beberapa waktu yang lalu. “Bukankah ini… kau bilang kau membelinya untuk seseorang
yang spesial untukmu. Kenapa kau memberikannya padaku?”
Baekhyun hanya tersenyum kecil lalu mengambil kalung
itu dari tangan Junhee, “Sini. Biarkan aku membantumu memakainya…”
“Tidak perlu, Byunbaek. Aku bisa memakainya sendiri
kok.”
Baekhyun tak memedulikan Junhee dan memakaikan kalung
itu. Kemudian, tanpa berkata apapun, Baekhyun mengecup bibir Junhee dengan
lembut. “Itu hadiah kedua dariku,” kata Baekhyun.
Tepat saat itulah mobil Kris melaju di samping mereka
berdua. Kris yang tak sengaja melihat adegan itu hanya bisa mengatupkan
rahangnya keras-keras dan menggeram kesal lalu segera menyetir mobilnya pergi
menjauh dari tempat itu.
“Byun Baekhyun…” ujar Junhee dengan mata membelalak
kaget.
“Eung?”
“Kenapa kau melakukan ini?”
“Kau tahu jawabannya…” jawab Baekhyun sambil
tersenyum.
“Tapi, aku tidak bisa menerima ini.” Kata Junhee
pelan. “Aku berterima kasih padamu untuk semuanya. Aku mengerti perasaanmu. Tapi
kurasa aku tidak baik untukmu. Aku tidak tahu bagaimana membalas perlakuan baik
orang lain padaku. Aku selalu bersikap egois dan tidak memikirkan perasaanmu
sebagai sahabatku. Aku minta maaf untuk itu semua.”
“Aku tidak mengerti semua ini…” ujar Baekhyun, dia
tampak kesal sekaligus sedih.
“Lalu kau ingin aku melakukan apa? Kau tidak bisa
memaksaku untuk berkencan denganmu, kan? Percayalah, Byunbaek… kau akan bertemu
dengan yeoja yang lebih baik dariku di masa depan.”
“Apa ini semua karena Kris? Bukankah kalian tidak ada
hubungan apa-apa? Kau berkata seperti itu padaku, bukan?”
“Ini bukan karena Kris… aku hanya belum siap untuk
berkencan lagi dengan seseorang. Selain itu, aku takut hubungan kita akan
merenggang. Aku tidak mau kehilangan sahabat seperti dirimu.” Junhee kemudian
melepas kalung pemberian Baekhyun dan meletakkannya di telapak tangan namja
itu. “Berikan ini pada yeoja yang tepat.”
“Tapi June… tidak bisakah kau—maksudku, apa
benar ini semua bukan karena Kris?”
Junhee tak menjawab, dia hanya menghela napas panjang
dan memejamkan matanya sejenak.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Junhee
masih berkutat dengan buku musik dan gitarnya pada hari berikutnya. Teman-temannya
sesama performer juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan Baekhyun,
namja itu baru saja pergi membeli cemilan untuk mereka makan selagi membuat
lagu yang diminta oleh gyosunim. Saat sedang serius memadukan nada dan lirik
lagu ciptaan mereka, tiba-tiba pintu ruang latihan terbuka lebar.
“Byunbaek, aku baru saja menemukan nada yang pas untuk
bait ketiga lagu kita,” cerocos Junhee penuh semangat, lalu menoleh ke arah
pintu.
Dilihatnya Kris berdiri di ambang pintu sambil menatap
lurus ke arahnya. “Kau bekerja sampai malam untuk acara ini ya? Apa kau sibuk?”
“Aniya,” jawab Junhee singkat sambil terus fokus pada
gitarnya.
Kris berjalan menghampiri Junhee dan berdiri di dekat
yeoja itu. “Aku ingin minta maaf atas sikapku kemarin. Terlalu banyak masalah
yang harus kuhadapi sekarang ini hingga membuatku stress dan bersikap seperti
itu padamu.”
“Kenapa kau datang ke sini malam-malam dan tidak
datang saat latihan tadi?” tanya Junhee, pura-pura tidak mendengar apa yang
baru saja diucapkan Kris.
Kris berdiri berhadapan dengan Junhee, “Aku hanya
ingin melihatmu…”
“Sudahlah, jangan lakukan ini lagi padaku.”
Kris melihat leher Junhee dan memeriksa apa yeoja itu
masih memakai kalung pemberian Baekhyun kemarin. Hatinya sedikit lega melihat
kalung itu tidak terpasang di leher yeoja itu. “Kau sudah bersahabat dengan
Baekhyun belasan tahun lamanya, kan? Kurasa dia sangat menyukaimu.”
“Mwo?” tanya Junhee, kali ini dia benar-benar
memerhatikan Kris.
“Dia mengatakan padaku untuk tidak mempermainkanmu.”
“Dia… kupikir dia salah mengartikan rasa sayangnya
padaku sebagai perasaan cinta. Dia sudah lama bersamaku dan kami saling kenal dengan
baik. Kurasa itulah alasan dia bersikap seperti itu padaku.”
“Bagaimana denganmu? Kau tidak akan dibingungkan oleh
perasaannya, kan? ”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku adalah apa yang baru saja aku katakan…” kata
Kris, “Apakah hanya Baekhyun yang memiliki perasaan seperti itu?”
Junhee memasang ekspresi sinisnya, “Memang apa
pentingnya bagimu jika aku memiliki perasaan yang sama dengannya? Bukankah
katamu aku diliuar jangkauanmu? Kris-ssi, apa kau sedang cemburu sekarang?”
“Eo. Aku cemburu…” ujarnya sambil menatap Junhee
lekat, “Junhee-ya, kurasa aku sangat menyukaimu. Aku berusaha memungkirinya, tapi aku tetap
tidak bisa. Aku tidak mau lagi merasa kesal karena cemburu pada Baekhyun atau
siapapun itu. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya.”
“Apa yang kau bicarakan? Ini sudah terlalu malam,
Baekhyun juga akan segera kembali ke sini. Jadi, sebaiknya kau pergi sekarang,”
kata Junhee dengan susah payah, ada setitik air mata yang siap jatuh di
matanya. Dia kemudian menatap Kris tepat di manik mata namja itu. Seketika itu,
dia merasakan ketulusan akan kata-kata Kris padanya. Walaupun jantungnya serasa
akan meledak waktu itu juga, tapi Junhee merasa ini semua tidak benar. Dia baru
saja berbaikan dengan Baekhyun, dia tidak mau jika sahabatnya itu marah lagi padanya
karena dia berhubungan dengan Kris.
“Kenapa kau selalu mencemaskan Baekhyun? Kenapa kau
terus mendorongku dan tidak membiarkanku mendekatimu?”
“Karena dia adalah sahabatku dan aku tidak ingin
menyakiti hatinya,” kata Junhee dengan suara bergetar. “Kau juga tahu itu! Jadi,
lenyaplah dari hidupku. Kau sudah merusak semuanya.”
“Kau hanya menganggap Baekhyun sebagai pengalih
perhatian.”
“Bukan seperti itu,” kata Junhee berbohong. “Aku
mencintainya…”
“Seperti kau mencintai ibumu,” sahut Kris. “Seperti
kau mencintai ayahmu.”
“Bukan.” Suara Junhee setajam dan sedingin jarum es. “Jangan
coba mendikte perasaanku.”
Junhee mengalihkan pandangannya dari Kris. Dia tak
sanggup menatap mata namja itu. “Kris, kenapa kau lakukan ini padaku?”
“Karena kau berbohong padaku dan juga berbohong pada
dirimu sendiri.” Mata Kris tampak menyala-nyala dan kedua tangannya mengepal
keras.
“Lalu kau ingin aku melakukan apa?”
“Ayo mulai dari awal. Aku ingin kita memulai semua ini
dari awal…” ujar Kris pelan.
Junhee hanya diam dan dia mulai memberanikan diri
untuk menatap mata Kris.
“Saranghae,
Junhee-ya…”
Junhee beranjak pergi meninggalkan Kris. “Jangan
mengatakan hal seperti itu padaku. Aku tahu setelah ini kau pasti akan
menusukku dari belakang lagi. Aku tidak percaya padamu. Sama sekali.”
“Mideobwa—percayalah. Jinshimiya—aku tulus,” Kris menahan Junhee dengan mencengkeram
lengan yeoja itu.
“Kenapa kau selalu memintaku untuk mempercayaimu
sedangkan kau selalu mengingkari janji yang kau buat, eo? Aku tidak akan
terpengaruh lagi oleh kata-katamu,” ujar Junhee sarkas.
“Jadi kau merasa ragu? Kau tidak mempercayaiku?”
“Itulah kenyataannya.”
“Choi Junhee,” panggil Kris, dia kemudian melepas
cengkeramannya di lengan Junhee. Dia mengangkat tangannya untuk memegang wajah Junhee.
“Ketika aku berkata padamu supaya kau mempercayaiku, aku tidak mengatakannya
secara biasa.”
“Bukankah itu karena kau sangat pintar berbicara dan
bermain kata?”
“Lalu apa yang harus kulakukan untuk membuatmu
percaya? Bagaimana cara untuk membuktikannya?”
“Aku baru bisa percaya jika kau melakukan sesuatu
untukku.”
“Sangat jarang kau bisa jadi sepintar ini, Choi
Junhee,” kata Kris seraya tersenyum lalu duduk di salah satu undakan di
panggung.
“Aigo, kau mulai bersikap kurang ajar lagi padaku,”
kata Junhee kesal, tapi pada akhirnya dia tidak bisa menahan senyum ketika
melihat Kris bertingkah seperti itu padanya.
“Kemarilah…” kata Kris sambil menepuk tempat di
sebelahnya.
Junhee menatap Kris dengan ragu.
“Aku bilang kemarilah,” ulangnya lagi.
Kali ini Junhee menghampiri Kris dan duduk di sebelah
namja itu. Kris pun segera menarik Junhee dan menyandarkan kepala yeoja itu di
pundaknya. Tangannya lembut membelai rambut Junhee yang tergerai panjang.
“’Aku tidak bisa berjanji padamu bahwa aku tidak akan
membuatmu menangis. Tapi aku berjanji aku akan selalu menjadi alasan untuk setiap
kebahagiaanmu. Aku tidak tahu kata apa yang bisa membuka pintu hatimu untukku.
Karena yang kutahu, cinta tidak membutuhkan kata kunci.’ Ayahku mengatakan ini
saat menyatakan cintanya pada ibuku. Jadi, apa kau masih tidak mempercayaiku?”
Junhee mendongak menatap Kris sambil tersenyum kecil, “Ini
benar-benar aneh. Aku selalu saja mempercayai gombalan yang keluar dari mulutmu.”
“Yaaah, sebaiknya memang begitu…”
“Tapi, apa masalah yang lebih penting dariku hingga
kau mengingkari janjimu kemarin?” selidik Junhee, ada kekesalan yang berkelebat
dalam nada bicaranya.
“Aku harus menggantikan ayahku untuk menangani
perusahaan. Jadi…”
“Lain kali kau harus mendahulukan aku, tidak boleh
seperti itu.”
“Wah, egois sekali kau Nona Choi Junhee?” kata Kris,
lalu tersenyum.
“Biar saja! Itu karena kau selalu menempatkanku di
prioritas terakhirmu,” kata Junhee dan mereka pun terdiam cukup lama. “Apa kau
bisa menceritakan apa yang membuatmu bersikap seperti itu padaku kemarin? Kenapa
ekspresi wajahmu seperti orang yang—”
Kris menggenggam tangan Junhee erat lalu menghembuskan
napas dengan berat. “Apa kau benar-benar ingin tahu?”
Junhee mengangguk pelan dan Kris pun mulai bercerita.
“Aku harus keluar dari kampus ini sesegera mungkin dan
mengambil kuliah bisnis untuk bisa mengelola perusahaan ayahku nantinya. Padahal
aku sangat menyukai musik, ini sangat sulit bagiku. Selain itu, kesehatan
ayahku juga semakin memburuk. Walaupun ayahku terlihat seperti membenciku, tapi
aku tahu ayah selalu menyayangiku. Aku takut dia akan meninggalkanku. Kau tahu,
kan? Hanya dia yang aku miliki di dunia ini. Aku sudah tidak memiliki ibu dan—” Kris tak kuasa melanjutkan ceritanya. Dia tampak
sedang melawan rasa sedih dan penderitaan yang menikamnya. “Kau tahu? Aku
selalu berpikir andaikan saja aku bisa kembali ke masa lalu, membolak-balikkan
waktu sesukaku. Dengan begitu, ibuku akan tetap hidup dan aku tidak akan
menderita seperti ini. Jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan
menghilangkan keegoisan seorang anak kecil dalam diriku sehingga ibuku tidak
meninggal dalam kecelakaan itu…”
Junhee meletakkan sebelah tangannya yang bebas di atas
tangan Kris.
“Beberapa hari yang lalu aku pergi ke rumahmu,” kata
Junhee. Kris langsung menatapnya dengan tatapan kaget.
“Pengasuhmu saat kecil sangatlah ramah dan juga baik
hati. Dia seperti ibumu sendiri. Kau benar-benar beruntung bertemu orang
seperti dia. Dia bercerita jika hubunganmu dengan ayahmu tidak terlalu baik
setelah kematian ibumu. Kau selalu sendirian di rumah tanpa ada teman yang bisa
menghiburmu.”
Junhee menatap mata Kris. Dari sana dia bisa melihat
penderitaan yang belasan tahu berusaha disimpannya sendiri. Wajah namja itu tampak menegang, rahangnya
mengatup rapat dan matanya memerah. “Bagaimana mungkin kau bisa hidup dengan
cara seperti itu? Kau pasti ketakutan. Kau pasti telah banyak menangis,” kata
Junhee sambil terus menatap tangannya dan tangan Kris yang saling bertaut.
Kris mengalihkan pandangannya ke arah dimana Junhee
tidak bisa melihatnya menangis. Dia tidak ingin yeoja itu melihatnya menangis
lagi. Sekarang dia tengah berusaha menghirup udara dengan tarikan keras untuk
menahan tangisnya. Perasaan seperti ini sangat asing baginya. Sebelumnya, dia
belum pernah menangis di depan orang lain, sama sekali. Aissh,
kenapa aku jadi cengeng seperti ini? Batinnya.
“Aku pikir itu menakutkan…” kata Junhee lagi, begitu
rendah hingga terdengar seperti bisikan.
Kris sedikit terisak, dia sudah tidak bisa menahan
emosinya lagi. Junheemendongak menatap Kris yang memalingkan wajahnya ke arah
lain. Tangannya bergerak perlahan merengkuh namja itu ke dalam pelukannya. Membiarkannya
menangis di pundaknya. Junhee membelai ke belakang rambut Kris dari dahi dengan
kelembutan yang sama sekali asing baginya.
“Aku mengerti. Aku mengerti semuanya…” kata Junhee
berusaha menghibur Kris, padahal dia sendiri kini sedang menangis karena ikut
merasakan kesedihan namja itu. “Semuanya akan jauh lebih baik sekarang. Percayalah.”
Junhee kemudian melepaskan pelukannya pada Kris saat
namja itu sudah sedikit tenang. “Ya, harusnya kau senang karena aku sudah
menerima pernyataan cintamu. Tapi kenapa kau malah menangis seperti itu?” canda
Junhee untuk menggoda Kris. “Kukira namja yang selalu bertingkah sok keren
sepertimu tidak akan menangis tersedu-sedu seperti itu di depanku.”
“Ya! Kau yang membuatku menceritakan semuanya. Aku
akan jadi sangat sensitif kalau sudah membicarakan tentang keluargaku. Kau tahu
itu,” sahut Kris tidak terima.
“Mianhae, aku tidak bermaksud melakukannya.”
“Gwaenchanna. Lagi pula aku jadi merasa lega karena
telah menceritakan semua ini pada seseorang sehingga berat beban yang
kutanggung bisa sedikit berkurang.”
“Kau benar, aku akan membantumu mengurangi beban itu. Aku
bisa membawakan kira-kira sepuluh ton bebanmu,” kata Junhee sambil tersenyum
lebar dan menepuk pundak Kris.
Kris menarik Junhee dalam pelukannya. “Gomawo. Jika
bukan karena kau, aku tidak akan merasa selega ini.”
Kris kemudian berdiri lalu meletakkan tangannya di
bahu Junhee. Junhee pun ikut berdiri kemudian menolehkan wajahnya agar
menghadap ke arah namja itu. “Choi Junhee, bersiaplah. Aku akan menciummu
sekarang,” ujar Kris dengan lembut.
“Ya! Byeontae! Mwohae?” seru Junhee, tapi pada detik
berikutnya dia sudah memejamkan matanya. Dia bisa merasakan sentuhan bibir Kris
yang awalnya ringan menjadi semakin kuat menekan bibirnya. Dia kemudian melingkarkan tangannya di leher
Kris. Tangan Kris mulai meremas-remas rambut panjangnya yang tergerai indah. Dan
dia dapat merasakan detak jatung Kris yang berpacu semakin cepat tiap detiknya.
Tangan Kris kemudian bergerak dari rambutnya, turun menyusuri punggungnya. Junhee
merasakan tekanan tangan Kris pada tulang belikatnya, lalu dengan lembut namja
itu melepaskan diri, menarik tangan Junhee dari lehernya dan melangkah mundur.
“Mengesankan,” kata Kris.
***
Baekhyun baru saja akan mengeluarkan suara saat sampai
di ambang pintu ruang latihan ketika dia melihat Junhee dan Kris sedang berdiri
sambil berciuman. Plastik berisi cemilan yang baru saja dibelinya dijatuhkannya
begitu saja di depan pintu dan dia langsung berbalik pergi. Walaupun dia sudah
tahu hal seperti ini pasti akan terjadi lagi, dia tetap merasa terkejut dan
juga merasakan sakit yang lebih dibandingkan kejadian saat di rumah sakit. Mata
Baekhyun mulai memanas, dia sangat murka sekaligus sedih karena Junhee telah
berbohong padanya. Kau bilang kau tidak
memiliki hubungan apapun dengannya. Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Batinnya
sambil berjalan dengan lunglai menuju mobilnya.
“Baekhyun?” gumam Jieun sambil berjalan menuju ke arah
Baekhyun yang kini hanya berdiri diam membelakanginya. Ketika melewati pintu
ruang latihan yang terbuka, tak sengaja dia melihat adegan yang baru saja
dilihat oleh Baekhyun. Jieun melihat ke arah dalam ruangan dan ke arah Baekhyun
secara bergantian. Tadinya dia bermaksud untuk memanggil Baekhyun, tapi setelah
melihat hal itu, dia mengurungkan niatnya. Dia tahu betul jika Baekhyun
memiliki perasaan yang lebih pada Junhee.
Jieun kemudian berlari menghampiri Baekhyun. “Baekhyun-ssi,
jamkkanman!”
Baekhyun bergeming dan tatapannya tetap mengarah ke
depan. Matanya memerah dan sedikit berair, dia sedang menahan tangis.
“Baekhyun-ssi…” panggil Jieun dengan senyum di
wajahnya. Dia bermaksud menghibur Baekhyun.
“Minggir,” ujar Baekhyun singkat.
“Jadi kau belum pulang? Bagaimana jika kau makan malam
denganku? Aku yang akan menraktirmu.”
“Aku bilang minggir!”
Ekspresi Jieun langsung berubah seketika saat
mendengar Baekhyun mengatakan hal itu untuk kedua kali. “Bukankah kau sudah
tahu jika semua akan berakhir seperti ini? Apa kau pikir jika kau
mempertahankan cintamu yang bertepuk sebelah tangan itu Junhee akan membalas
perasaanmu padanya?” ujar Jieun tanpa jeda, dia terlihat sudah tidak bisa
mengendalikan dirinya.
“Kau… apa kau menyukaiku?” tanya Baekhyun dengan tajam
dan sedingin es.
Jieun terkejut dengan pertanyaan singkat Baekhyun. “Mwo?”
“Kau pikir dengan bertingkah seperti ini, aku akan
menyukaimu dan melupakan Junhee?”
“Baekhyun-ssi…”
“Aku tak peduli siapa orang yang kau sukai. Itu bukan
urusanku dan aku tidak peduli. Jadi, kau juga harus berhenti mempedulikanku.” Baekhyun
pergi melewati Jieun dan langsung memasuki mobilnya.
Sedangkan Jieun, dia masih tidak percaya Baekhyun
bersikap kejam seperti itu padanya. Tanpa disadarinya, dia mulai menangis. “Byun
Baekhyun, kau bodoh…”
***
“Adalah aku yang selalu
menjadi orang terdekat bagi Junhee. Adalah
sesuatu yang wajar jika aku meletakkan Junhee sebagai prioritas utamaku. Tapi
kurasa semua itu akan segera menghilang. Hari-hari dimana kami selalu bercanda
dan bertengkar karena sesuatu hal yang sepele, sekarang hanya akan menjadi
kenangan. Orang yang paling kucintai di dunia ini, kini telah berkencan dengan
orang lain—dengan orang yang paling
kubenci…” batin Baekhyun sambil menyetir mobilnya dengan
kecepatan di atas rata-rata. Dia benar-benar sedang dikuasai oleh emosi
sekarang. Apa yang harus dilaluinya beberapa waktu ini sangat lah menguji emosi
dan juga hatinya. Dia merasa terkhianati, sedih, kesal dan patah hati.
Apa kau pikir jika kau
mempertahankan cintamu yang bertepuk sebelah tangan itu Junhee akan membalas
perasaanmu padanya? Kata-kata Jieun padanya kembali terngiang. Baekhyun
menggeram kesal kemudian berteriak marah.
***
Junhee mengambil ponsel dari sakunya sesaat sebelum
keluar dari ruang latihan. Diam-diam dia memeriksa layar ponselnya. Baekhyun
belum mencoba menghubunginya. Dada Junhee terasa seolah dihimpit oleh sesuatu
yang sangat berat. Sampai dua minggu yang lalu, sudah bertahun-tahun dia dan
Baekhyun tidak pernah bertengkar. Tapi sekarang, Baekhyun seperti selalu marah
kepadanya.
Dia tekan nomor Baekhyun. Setelah beberapa saat telpon
tersambung, terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang ditujunya
sedang tidak berada dalam jangkauan. Junhee berdecak gelisah.
“Sedang apa kau?” Kris berdiri di ambang pintu,
menunggu Junhee selesai mengepaki barangnya.
Junhee segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. “Tidak
sedang apa-apa. Hanya melihat jam.”
“Itu ada jam di dekat jendela,” Kris menunjuk. “Kau
menelepon pria kecil itu, kan?”
“Namanya Baekhyun dan kau tidak perlu sejahat itu padanya.”
Kris mengangkat bahunya. “Ayo cepat pulang. Ini sudah
malam.”
Junhee berjalan menghampiri Kris. Dia terkejut saat
menemukan seplastik penuh cemilan tergeletak di dekat pintu. “Dia di sini. Dia
tadi di sini…” gumam Junhee panik lalu mengambil plastik itu.
“Siapa? Pria kecil itu?”
“Sudah kubilang namanya Baekhyun!” seru Junhee.
Dia pun segera mengambil poselnya lagi. Ditekannya
nomor Baekhyun, tapi hasilnya masih saja sama. Tak ada jawaban dari sahabatnya
itu.
“Apa sekarang kau merasa bersalah karena dia melihat
kita melakukan ‘itu’? Aku sih tidak mau repot-repot meneleponnya. Aku yakin
jika dia memang sedang menghindarimu.”
“Dan apa kau tahu jika itu karena hubunganmu dan dia
sangatlah akrab?” sindir Junhee
tajam.
“Tentu saja aku tahu.”
“Ini salahmu. Bagaimana kalau dia melakukan suatu hal
yang bodoh?” kata Junhee tiba-tiba, amarah sudah mengumpul di hatinya. “Tidak seharusnya
kita seperti ini.”
“Memang bagaimana kita seharusnya?”
“Tidak,” ujar Junhee dengan sedikit bergetar. “Aku
hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan Baekhyun.”
“Itu tidak akan terjadi. Ayo pulang…” Kris menyambar
tangan Junhee lalu menariknya.
“Tapi firasatku tidak enak mengenai hal ini.”
Kris membimbing Junhee masuk ke dalam mobilnya. Selama
perjalanan, Junhee hanya diam sambil terus memegangi ponselnya. Kris dapat
melihat dari sudut matanya jika yeoja itu kini sedang merasa gelisah.
Kegelisahan yang dirasakan Junhee bukanlah kegelisahan
yang wajar, sama sekali bukan seperti dirinya. Pasti benar-benar telah terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan olehnya. Dia kembali menarik napas cepat, lalu
menggigit bibirnya keras-keras.
“Junhee-ya. Percayalah padaku. Tidak akan terjadi
apa-apa pada—” kalimat Kris terpotong
karena dia harus mengerem mendadak. Kris sedikit menyumpah. Ada kecelakaan yang
sepertinya baru saja terjadi beberapa meter di depan mereka. Mereka berdua
keluar dari mobil. Mulanya mereka tak mempedulikan hal itu karena hal tersebut
sudah biasa terjadi. Lalu Junhee melihat mobil yang terlibat kecelakaan itu
bukanlah mobil yang asing baginya. Di sana, dia antara kerumunan orang yang
melihat, Junhee mengenali sosok tubuh di dalam mobil itu. Sesosok tubuh yang
menyandar di jok mobil dengan kepala terdongak, menampakkan wajahnya yang penuh
dengan darah dan luka-luka sayatan karena pecahan kaca mobil. Junhee merasakan
tangan Kris mencengkeram erat lengannya. Pada saat itulah dia melihat dengan
lebih jelas jaket cokelat dengan lambang-lambang aneh yang sangat dikenalnya
sudah penuh dengan noda darah dan Junhee pun menjerit tertahan. Junhee
merasakan lututnya goyah dan dia pasti roboh ke jalan seandainya Kris tidak
menahannya.
“Jangan lihat,” kata Kris di telinganya. “Pokoknya
jangan lihat.”
Tapi tidak mungkin Junhee tidak melihat darah yang
merekat di hampir seluruh wajah Baekhyun.
Dalam cahaya bulan yang redup, Junhee bisa melihat
bagian depan kaos Baekhyun yang basah kuyup oleh darah.
“Baekhyun tidak mati,” kata Kris sambil mencengkeram
lengan Junhee lebih erat. “Dia tidak mati.”
Junhee melepaskan
diri dari Kris dengan sentakan keras dan menghambur menuju Baekhyun yang
kini sudah dikeluarkan dari mobil oleh beberapa polisi. Dia duduk bersimpuh di
jalan. Dia sama sekali tidak merasa jijik saat dia menyelipkan tangannya di
bawah kepala Baekhyun yang bersimbah darah dan mengangkat Baekhyun ke
pangkuannya.
“Byunbaek,” bisiknya sambil menyentuh wajah Baekhyun. “Byunbaek,
ini aku.”
Tiba-tiba Baekhyun tersengal, tubuhnya menggeliat
dalam pelukan Junhee. Junhee menjerit dan menangkap Baekhyun, menarik Baekhyun
ke arah tubuhnya. Mata Baekhyun yang semula terpejam tiba-tiba terbuka lebar. Namja
itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Junhee.
“Ini aku,” ujar Junhee. Dengan lembut dia mendorong
tangan yang terulur itu ke dada Baekhyun sambil menjalin jemari mereka menjadi
satu. “Byunbaek, ini aku. Ini Junhee.”
Saat menatap ke bawah,
Junhee melihat tangannya dan tangan Baekhyun basah oleh darah dari kaos
yang dipakai Baekhyun dan juga air mata yang sudah mengalir menuruni wajahnya
tanpa dia sadari. “Byunbaek, aku
mencintaimu,” ujarnya.
Tangan Baekhyun mengencang menggenggam tangan Junhee. Baekhyun
menghembuskan napas yang terdengar kasar dan berangsur sayup—dan setelah itu, Baekhyun tak bergerak lagi.
***
TBC…