Selasa, 02 Juli 2013

[FF ONESHOOT] After The Spring Rain

Diposting oleh hunhanbuin di 01.15 1 komentar
Title : After The Spring Rain
Author : Sonia aka. Min Seonhee
Cast : Himchan, Daehyun, Eunji, Hayoung, and other cameos.

***
Tanpa kusadari, cinta telah datang ke dalam hatiku layaknya hujan musim semi yang datang secara tiba-tiba dan membuatku basah kuyup seperti ini. Setelah hujan ini reda, apakah bunga-bunga di dalam hatiku juga akan bermekaran seperti bunga musim semi di luar sana?
***

Angin membekukan di musim dingin sudah hilang digantikan kehangatan musim baru. Musim semi. Sebuah musim dimana kehangatan, harapan dan cinta baru bermekaran seperti halnya bunga sakura. Musim semi adalah musim cinta, begitu kata banyak orang. Memandangi indahnya bunga sakura dengan orang yang dicintai sungguh sebuah kenangan yang indah bahkan walau hanya dalam khayalan. Berjalan di bawah guguran bunga sakura sambil bergandengan tangan dan menghirup udara segar khas musim semi merupakan mimpi banyak orang.
Termasuk aku. Namaku Jung Eunji. Aku seorang mahasiswa di Universitas Hongik yang sekarang sedang duduk mendengarkan ceramah dosen di aula. Walaupun kelihatannya aku memperhatikan dosen, tapi sebenarnya aku lebih memperhatikan seorang namja yang duduk di deretan kursi di sisi kanan dosen. Namanya Jung Daehyun, hanya itu yang kutahu dari sosok namja itu. Sudah dua bulan ini aku mencuri-curi pandang ke arah Daehyun saat kuliah Sejarah Seni Dunia. Karena hanya di kelas itu lah aku bisa memandangi Daehyun diam-diam dan itu pun hanya dua minggu sekali. Selama waktu itu, aku tidak pernah bertegur sapa apalagi mengobrol dengannya. Ya, walaupun begitu, aku sudah sangat senang bisa melihat Daehyun di kelas. Ada kalanya saat aku diam-diam menatap Daehyun, namja itu balik menatapku dan aku pun langsung memalingkan wajahku. Tentu saja itu kulakukan karena aku tidak ingin ketahuan olehnya.
Saat pertama aku melihat namja itu adalah pada awal semester ketigaku, di awal musim semi. Saat melihatnya, aku berpikir, musim semi telah datang dalam hatiku juga. Sebelum hari itu, aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada. Aku menganggap hal seperti itu konyol. Tapi dia dengan mudahnya merusak keyakinanku itu. Ya, aku menyukainya sejak pertama aku melihatnya masuk ke kelas. Ada sesuatu dalam caranya berjalan, berbicara dan berekspresi  yang membuatku tertarik walaupun  aku tidak tahu itu apa.
Kebanyakan temanku mengeluh kenapa harus ada mata kuliah Sejarah Seni Dunia, karena mereka pikir itu membosankan. Dulu aku juga berpikir seperti itu. Namun sekarang mata kuliah ini sudah menjadi mata kuliah favoritku. Karena hanya di sinilah aku bisa diam-diam memandanginya.
Sudah cukup lama aku menyukainya secara diam-diam, bahkan sahabatku—Hayoung—pun tidak kuberi tahu. Bukannya aku tidak percaya padanya, hanya saja... aku takut ketahuan jika aku memiliki perasaan pada Daehyun.
Bagiku, memulai sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti ini sama saja dengan saat kita sedang ingin membeli suatu barang tapi kita tidak punya cukup uang dan pada akhirnya kita hanya bisa melihat barang itu dibeli orang lain yang memang memiliki banyak uang. Miris memang, tapi itulah resiko memulai cerita cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Karena aku takut orang lain melihat ke dalam hatiku, aku berhati-hati agar tidak menunjukkan perasaanku.  Oleh karena itulah aku hanya bisa memandanginya dari jauh, tanpa berani menyapa ataupun berbicara padanya. Bukannya bersikap seperti pengecut, tapi tahu diri saja kalau kami tidak akan bisa bersatu. Dia tampan, banyak teman dan populer di kalangan mahasiswa lain. Aku hanya bisa kesal mendengar pujian-pujian yang keluar dari mulut teman-temanku tentang dia. Bahkan dosenku pun ada yang mengatakan kalau dia itu memang tampan. Aku semakin merasa jika pepatah ‘Bagai pungguk merindukan bulan’ itu sangat pas dengan situasiku.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan... memiliki dua sisi yang berbeda pada saat yang sama. Yang pertama adalah sisi kebahagiaan. Tak kupungkiri juga kalau cinta bertepuk sebelah tangan itu membuat hati merasa senang, apalagi saat melihat dia tersenyum dan tertawa dengan riang, walaupun itu bukan karena aku. Dan apa kau tahu? Hal paling baik yang kudapat setelah merasakannya adalah aku selalu ingin jadi lebih baik dari diriku saat ini. Yang kedua, sisi kesedihan. Karena dengan memulai sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan sama artinya dengan memulai derita batin sendiri. Menyukai dan mengagumi seseorang tanpa orang itu tahu, bahkan orang itu pun tidak mengenal siapa kita atau nama kita. It hurts so much...

***

“Bagaimana cara kita pulang?” tanya Hayoung, sahabat baikku saat kami keluar dari kelas.
Aku tidak menanggapi Hayoung dan terus menatap ke arah pintu kelas, menunggu Daehyun keluar dari kelas dan berharap bisa menyapanya, walaupun itu tidak mungkin juga kulakukan. Karena, hanya melihat wajah Daehyun saja sudah membuatku tak mampu berkata-kata.
“Kau menunggu seseorang?” tanya Hayoung.
Aku  mengalihkan pandangan ke arah lain lalu menjawab, “Aniya. Tentu saja tidak ada.”
“Kenapa tiba-tiba hujan turun sih? Padahal setelah ini aku ada janji dengan Junhong,” kata Hayoung, bibirnya mengerucut sebal.
“Aku suka hujan musim semi, hujan yang melelehkan dinginnya salju musim dingin dan menggantinya dengan bunga-bunga yang indah.” Jawabku sambil menengadah menatap langit, mengulurkan tangan dan merasakan jarum-jarum air hujan menusuki telapak tanganku sambil bergumam, “Tiba-tiba... aku berharap dalam hidupku juga terjadi sesuatu yang tiba-tiba. Seperti...cinta misalnya.”
Hayoung tampak tak mendengarkan kata-kataku. Dia sibuk sendiri dengan ponselnya.
“A, Eunji-ya. Aku pergi duluan ya. Junhong sudah menjemputku. Annyeong!” seru Hayoung dengan mata berbinar senang. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan lemas. Tak bisa kupungkiri, aku terkadang merasa iri jika melihat teman-temanku bersama dengan pacarnya. Contohnya seperti saat ini.
Aku kemudian berjalan menuruni tangga menuju ke pelataran gedung. Aku baru saja membuka payung yang kubawa dan bersiap pergi saat seorang namja memegang pegangan payungku dan berkata, “Antar aku ke gedung seberang. Tolong, aku dikejar waktu.”
Aku yang masih merasa kaget hanya memandangi wajah namja di sampingku dengan wajah bodoh.
“Aku tahu kau sedang mengagumi keelokan wajahku, tapi ayolah bantu aku,” ujar namja itu, yang di telingaku kedengaran memaksa daripada meminta tolong.
Kekagumanku padanya langsung lenyap mendengar kata-katanya barusan. Aku memutar bola mata dengan kesal. “Wajahmu memang elok, tapi kelakuanmu tidak. Jadi jangan memaksa. Kau beli saja payung sendiri. Aku mau pulang,” ujarku dengan sengit.
“Ayolah, aku minta tolong.”ujar namja itu sambil menunjukkan sedikit aegyo dengan senyum lebarnya.
“Aku bahkan tidak mengenalnya, kenapa dia bersikap seperti ini padaku? Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan sih? Kenapa dia tidak juga menyingkir?”  batinku, sedikit geram.
“Kau cari saja orang lain. Masih banyak orang yang membawa payung. Lihatlah sekeliling,” ujarku.
“Jangan terlalu marah, nanti kau bisa menyukaiku lho. Lagi pula jaraknya hanya beberapa meter dari sini, karena itu—”
“Karena itu kau hanya perlu berlari, tidak perlu memakai payung. Paling bajumu basah sedikit.”
Namja itu menunjuk ke gedung seberang dengan telunjuk kanannya. “Temanku sudah menunggu di seberang. Tidak bisakah kau melihat? Dari tadi dia sudah melotot ke arahku.”
“Te... temanmu?” tanyaku, mendadak jadi gagap setelah melihat siapa yang ditunjuk oleh namja itu. Namja itu pun mengangguk.
“Kalau begitu, baiklah,” kataku sambil menatap ke seberang.
Kami berdua pun berjalan di bawah satu payung yang sama. Saat kami sampai di gedung seberang, ternyata di sana benar ada Daehyun. Daehyun menyambut kedatangan namja yang datang bersamaku dengan tatapan kesal.
“Ya, Kim Himchan! Lagi-lagi kau telat. Kau ini ketua, tapi kenapa...” ujar Daehyun sambil menatap namja bernama Himchan itu dengan sebal.
Himchan meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya dan menggaruk belakang kepalanya, “Kau tahu lah, dari tadi hujan turun dengan deras. Lihatlah, bajuku hampir semuanya basah dan aku—”
“Ah, lupakan. Cepat latihan, kita harus memenangkan kompetisi kali ini dan kita butuh kau.”
“Kau membolehkan Zelo bolos, tapi kau memarahiku seperti itu hanya karena aku telat beberapa menit.” Himchan mencibir lalu berbalik padaku yang tengah berdiri mematung sambil memandangi Daehyun.
“Setelah kupikir-pikir, kita belum berkenalan, Noran-ssi.”kata Himchan dengan senyum sumringah. “Aku Kim Himchan.”
Himchan memanggilku dengan sebutan ‘Noran’ karena hari itu aku memakai payung yang berwarna kuning. ‘Noran’ dalam bahasa Korea berarti ‘kuning’.
Aku tak menanggapi Himchan dan terus memandangi wajah Daehyun.
“Noran-ssi, ada apa denganmu? Kau membuatku merasa tidak senang. Tiap orang yang berkenalan denganku pasti akan berkata ‘Wah, itu nama yang bagus’, ‘Wah, namamu sangat cocok dengan sifat riangmu’ atau paling tidak biasanya mereka akan memperkenalkan dirinya sebagai balasan, tapi kau malah...”
“Namja ini benar-benar berisik sekali sih?” umpat ku dalam hati.
“Aku... namaku... Jung Eunji.”kataku dengan sedikit terbata, tapi pandanganku masih tertuju pada Daehyun.
“Oh, aku lupa. Kenalkan, dia Jung Daehyun.” ujar Himchan sambil menatap Daehyun selirik—masih dengan tatapan sebal.
“Senang bertemu denganmu, Jung Eunji. Oh, bukankah kita sekelas di kuliah sejarah?” kata Daehyun sambil membungkukkan badannya sedikit dan aku pun membalasnya. “Tapi maaf, hari ini kami akan berlatih untuk kompetisi. Kita lanjutkan obrolan kita kapan-kapan,” ujar Daehyun lagi, masih dengan senyuman di wajahnya. Dia kemudian menepuk pundak Himchan, memberi isyarat agar dia mengikutinya ke ruang ekskul.
 “Terima kasih, Noran-ssi. Sampai jumpa lagi!” seru Himchan sambil berjalan mengikuti Daehyun.
Aku berbalik dan berjalan pergi sambil menggerutu, “’Sampai jumpa lagi’ katamu? Jeez...”

***

Aku tidak tahu apa yang aku mimpikan tadi malam. Yang jelas, selama ini pun aku tidak pernah berpikir tentang berkenalan dengan Daehyun. Walaupun aku tidak bisa tulus mengatakannya, aku berterima kasih pada namja bernama Himchan itu. Kalau dia tidak memintaku mengantarnya, hal langka ini tidak akan terjadi. Aku masih saja teringat ekspresi kesal Daehyun tadi, yang di mataku itu terlihat sangat imut. Apa karena itu Daehyun, marah jadi terlihat imut? Aaah... aku tidak tahu. Dan yang tidak kukira sebelumnya adalah bahwa dia tahu aku sekelas dengannya. Mungkin hal itu terdengar sepele, tapi tidak bagiku. Dia ternyata menyadari keberadaanku...
Yang jelas mulai saat ini mungkin kami tidak akan merasa seasing sebelumnya. Paling tidak kami sudah pernah berkenalan dan mungkin juga akan saling menyapa. Paling tidak dia sekarang tahu bahwa yeoja bernama Jung Eunji itu ada.
Tapi, ada kemungkinan terburuk yang pernah terpikir olehku. Bagaimana kalau suatu hari dia hilang dari pandanganku? Bagaimana kalau kelas Sejarah Seni Dunia sudah usai dan aku tidak bisa diam-diam melihatnya lagi? Dan yang paling buruk... bagaimana kalau dia ternyata sudah memiliki yeoja chingu?
Aku lebih memilih untuk tidak memikirkannya lagi, karena beban sebuah ‘jjak sarang’ itu sendiri sudah membuatku lelah.

***

Pagi ini aku berangkat ke kampus pagi-pagi demi mengerjakan tugas terkutuk yang diberikan dosen seminggu yang lalu. Aku terlalu malas untuk mengerjakannya di kampus sepagi ini, jadi kuputuskan untuk pergi ke sebuah coffee shop di area kampus, karena biasanya di sana aku mendapat pencerahan untuk mengerjakan tugasku. Kurasakan pancaran sinar matahari di awal musim semi terasa seperti sedang mengelus tubuhku dengan kehangatannya. Di padi yang penuh kehangatan ini aku mengerjakan tugas dengan ditemani oleh secangkir frappe yang sesekali sisa busanya menempel di ujung bibir atasku. Namun yang sangat disayangkan, lagi-lagi aku harus mengusapnya sendiri.
Baru saja aku melamunkan sebuah scene drama, seorang namja duduk di depanku dengan senyuman lebarnya. Himchan.
“Sebentar...” ucapnya lalu menyapukan ibu jarinya di bibir bagian atasku.
“Apa... apa yang kaulakukan?” tanyaku masih dengan tampang bodoh. Aku melebarkan mataku karena kaget. Tak bisa kupungkiri, itu pertama kalinya aku diperlakukan seperti itu oleh seorang namja, apa lagi namja itu baru kukenal seminggu yang lalu. Tanpa Himchan tahu, wajahku sedikit memerah karenanya.
“Tidak ada. Hanya saja ada sisa kopi di bibirmu,” jawabnya sambil tersenyum lagi.
“Aku tahu dan kurasa aku bisa mengusapnya sendiri,” kataku dengan nada sedatar mungkin. “Kau sedang apa?”
“Kaupikir apa? Aku hanya sedang ingin minum kopi.”
“Bukan itu maksudku. Kenapa kau di sini?”
“Aku memang sering ke sini kok. Mungkin bisa sampai empat kali sehari,” jawabnya sambil tersenyum lalu menyesap kopinya.
Aku memicingkan mataku, setengah tak percaya.
Dia melihat ekspresi yang muncul di wajahku. “Apa kau pikir aku mengikutimu?” tanyanya sambil menunjuk wajahnya sendiri lalu wajahku dengan telunjuk kanannya.
Aku hanya diam, mengalihkan pandanganku ke tempat lain lalu menyesap kopiku.
Dia melanjutkan, “Itu sama sekali tidak benar. Aku memang sering ke sini karena aku suka kopi dan suasana tempat ini. Lagi pula ini kafe untuk umum, jadi boleh-boleh saja kan kalau a—,” potong Himchan, tapi kata-katanya berhenti di tengah-tengah. Dia menatap buku gambar yang sedang kupegang. Aku dengan segera menutup buku gambarku itu. Namun, sepertinya Himchan terlanjur melihat apa yang kugambar di sana.
“Boleh kutanya sesuatu padamu?” tanya Himchan dengan tatapan yang aneh. Sinar matanya yang biasa tampak ceria seolah terhalangi sesuatu. Apa mungkin dia kecewa?
Aku segera menepis pikiran itu dari benakku lalu menjawab, “Baiklah. Tanya saja.”
“Kau menyukai Daehyun, kan?”
“Ne?” hanya itu yang bisa kuucapkan untuk menahan rasa kaget sekaligus malu.
“Sejak kapan kau menyukainya? Daehyun benar-benar tidak tahu tentang itu.”
“Siapa bilang aku menyukainya?”
“Hei, mengaku saja. Aku tahu kau menyukai dia.”
“Aku bilang, aku tidak menyukainya.”
“Benarkah? Kalau begitu, bagus lah.”
Aku memandang wajah Himchan dengan tatapan kaget. Walau aku tahu dia pasti berpikir seperti itu setelah melihat apa yang kulukis. Ya, aku melukis Daehyun. Aku tidak bisa melupakan senyumnya pada hari itu saat berkenalan denganku. Bayangan senyum Daehyun terlalu nyata jika hanya dijadikan sebuah kenangan. Jika aku sedang kehilangan ide atau inspirasi untuk mengerjakan tugas, pada ujungnya aku selalu melukis Daehyun. Hal ini seolah sudah menjadi kebiasaanku belakangan ini.
Himchan melanjutkan, “Kurasa itu jenis cinta yang bisa dibilang bertepuk sebelah tangan. Benar?”
Aku tidak bisa mengatakan hal apapun untuk menjawab pertanyaan Himchan yang sangat menohok itu. Sampai pada akhirnya dia bicara lagi, “Tak perlu menjawab. Ekspresimu sudah mengatakan semuanya.” Himchan mengatakan semua itu sambil tersenyum. Itu terlihat mudah baginya, tapi tidak bagiku. Selama ini belum ada orang yang tahu tentang perasaanku pada Daehyun. Dan satu hal yang paling aku takuti, Himchan adalah teman dekat Daehyun. Bagaimana jadinya kalau dia memberi tahu Daehyun semuanya?
“Aku tidak perlu mendengar apapun darimu, tapi kurasa kau perlu mengatakan sesuatu tentang itu. Ini kesempatanmu untuk menjelaskan. Walaupun aku lebih percaya penilaianku daripada alasan yang akan kau ucapkan,” katanya lagi dengan ekspresi sok yang  menyebalkan. “Aku akan mendengarkan alasan yang sudah kau rancang.”
Aku menghela napas panjang mendengar kata-kata Himchan.“Ini semua hanya kesalahpahaman,” kataku berusaha sabar dan tidak emosi menghadapi orang seperti Himchan.
“Baiklah kalau begitu. Anggap saja ini tidak terjadi,” ucapnya, lagi-lagi dengan senyuman. Dia kemudian menatap ke arah pintu kafe dan berseru, “Daehyun-a! Noran-ssi bilang kalau dia tidak pernah memiliki perasaan padamu!”
Dengan kecepatan cahaya, aku menoleh dengan panik ke arah pintu. Namun ternyata tidak ada Daehyun di sana. Himchan sedang mempermainkan aku. Sialan!!
“Apa sih yang kau lakukan?” ujarku sambil melotot ke arahnya.
“Setiap kali kau mendengar nama Daehyun, kau langsung merona dan kelihatan bersemangat. Tapi kau masih saja tidak mau mengakuinya.” Kata Himchan lagi, lalu dia kembali menatap ke arah pintu dan berseru, “Daehyun-a! Kenapa kau ke sini?”
Aku semakin sebal karena dia berusaha mempermainkanku lagi. “Ya! Bisakah kau hentikan lelucon basimu itu?” seruku tak sabaran.
“Yang jelas aku tidak ke sini untuk menemuimu,” jawab suara dari arah belakangku. Tubuhku menegang saat mendengar suara itu. Aku kenal suara itu. Daehyun benar-benar ada di sini.
“Oh, ternyata ada Eunji di sini. Hai...” sapa Daehyun seraya tersenyum padaku.
Himchan mengalihkan pandangannya dari Daehyun ke arahku, dia tersenyum miring dan mengedipkan matanya penuh kemenangan. Aku langsung berdiri dari posisiku dan bersiap pergi.
“Pembicaraan kita belum selesai, Noran-ssi. Apa kau ingin aku memberitahukan pada—”
“Maafka aku, tapi kurasa aku harus permisi lebih dulu,” kataku cepat. Aku tersenyum sekilas pada Daehyun lalu bersiap melangkah pergi dari tempat itu.
Namun tak kusangka, Daehyun memegang pergelangan tanganku saat aku bangkit dari kursi sambil berkata,  “Kenapa terburu-buru? Makanlah sebelum pergi. Aku yang traktir.”
Aku menatap tangan Daehyun yang masih melingkari pergelangan tanganku. Jantungku pun mulai berdebar keras tak karuan karenanya. Dan karena itulah aku hanya bisa diam tak menjawab tawaran dari Daehyun.
Kulihat sekilas dari sudut mataku, Himchan menatapku dengan tatapan dan seringaian setengah mengejek.
“Kurasa Noran-ssi sedang tidak dalam keadaan dimana dia bisa makan dengan nyaman,” ujar Himchan tanpa dosa.
Aku menatapnya dengan tatapan membunuh, tapi dia hanya tersenyum kecil sambil meminum kopinya. Sedangkan Daehyun, dia langsung melepas tangannya dari pergelangan tanganku dan bertanya, “Apa kau sedang sakit?”
Aku yang sedang sibuk membunuh Himchan dalam pikiranku langsung tersentak dan menjawab dengan cepat, “Tidak. Hanya saja ada sesuatu yang harus kulakukan sekarang.”
Aku mengalihkan pandanganku dari Daehyun ke Himchan. “Lain kali kita bicarakan lagi soal ini.”
“Tidak ada lain kali.”ujarnya dengan ekspresi menyebalkan.
“Aku ingin kita bertemu lagi besok di sini. Jam lima.”

***

Aku masuk ke kelas dan duduk di kursi paling depan seperti biasa. Saat itu Hayoung belum datang, jadi aku hanya bisa melamun sambil bertopang dagu di sana. Aku kembali teringat wajah senang Himchan setelah berhasil membodohiku tadi. Dia benar-benar menyebalkan. Baru pertama kali ini aku bertemu dengan orang sesinting Himchan.
Aku lalu teringat saat dia mengusapkan ibu jarinya di bibirku dan mendadak pipiku memanas dengan sendirinya.  Aduh, kenapa aku jadi memikirkan dia terus sih?
“Hei, kau sedang memikirkan apa? Kenapa wajahmu masam begitu?”
“Tidak kok, aku hanya sedang melamun saja. Tidak ada apa-apa,” jawabku kemudian tersenyum.
“Ah, baiklah.” Hayoung duduk di sebelahku lalu menoleh ke arahku sambil memasang ekspresi menggoda. “Kurasa aku tahu kenapa akhir-akhir ini kau suka melamun. Kau sedang jatuh cinta ya?”
Aku mengibaskan tanganku dengan cepat lalu menyangkal, “Siapa bilang? Aku hanya sedang memikirkan apa aku harus ikut kompetisi melukis itu atau tidak.”
“Benarkah? Jadi dugaanku salah? Kukira kau sedang jatuh cinta. Tapi kalau kau jatuh cinta, kira-kira dengan siapa ya?” Hayoung mengerutkan alisnya sambil mengerjap ke arahku.
“Ei... tidak ada yang kusuka.”
“Tapi kurasa, jika kau jatuh cinta, pasti kau akan menyukai namja yang setipe dengan Daehyun...” Hayoung mengelus dagunya, lalu menatapku sekilas.
Jantungku langsung berdetak cepat saat nama Daehyun disebut. Tapi aku berusaha tidak menampakkan keterkejutanku itu. “Memangnya kau itu aku? Enak saja menebak-nebak.”
Hayoung tertawa. “Kan aku hanya menebak. Sepertinya kau suka namja yang seperti itu sih...”
“Ya, aku memang sedang jatuh cinta. Pada seorang namja yang sekelas dengan kita di kelas ini, kuliah Sejarah Seni Dunia. Sudah itu dulu yang kuberi tahu. jangan menebak-nebak lagi. Aku sedang tidak ingin membicarakan tentang hal ini, tapi aku janji aku akan cerita padamu nanti. ”
Aku mengeluarkan buku dari tasku dan kulihat Hayoung menatapku dengan tatapan heran. Aku tahu dia tidak seratus persen mempercayai kata-kataku tadi.
Satu per satu mahasiswa masuk ke dalam kelas dan kulihat Daehyun duduk sendirian di tempat dia biasa duduk. Deretan bangku sebelah kanan, di baris kedua, kursi nomor tiga. Aku sampai hafal dimana dia akan duduk karena aku selalu memperhatikan bahkan detail kecil yang ada padanya. Sebelum dosen masuk, saat aku mengobrol dengan Hayoung, diam-diam aku memperhatikan Daehyun lagi. Kenapa dia sendirian? Apa temannya tidak berangkat?
Melihat kenyataan itu, aku semakin ingin menyapa dan mengobrol dengannya, tapi aku segera  sadar bahwa Hayoung jadi mengawasi setiap gerak-gerikku, mencari tahu siapa namja yang kumaksud, walaupun aku jadi sedikit tidak nyaman, tapi aku berusaha memasang ekspresi sebiasa mungkin.
Saat kuliah berlangsung, mataku terus memaksaku untuk sesekali melirik ke arah Daehyun. Aku menghembuskan napas panjang. Kau tidak tahu dan tidak akan pernah tahu betapa senangnya hatiku saat aku sekelas denganmu di awal tahun keduaku ini...

***

Hari berikutnya, jam lima sore di kafe yang kemarin, aku bertemu lagi dengan Himchan. Tapi dari kami berdua belum ada yang memulai pembicaraan sejak lima belas menit yang lalu, bahkan untuk sekedar menanyakan pesanan. Pada akhirnya kami memesan sendiri-sendiri. Aku pun hanya bisa menatapnya dengan tatapan sebal.
“Kenapa menatapku dengan pandangan seperti itu? Apa kau tidak merasa bersalah setelah membuat namja yang menyukaimu mengetahui kalau kau menyukai sahabatnya?”
Aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus secepatnya menyelesaikan urusanku dengannya dan berusaha membuatnya yakin  kalau aku tidak memiliki perasaan apapun pada Daehyun. “Aku tahu kalau sekarang nasib dan harga diriku berada di tanganmu, tapi tidak bisakah kau menghentikan omong kosongmu? Kau pikir aku punya banyak waktu untuk bermain-main denganmu?”
“Aku tidak bisa,” jawabnya dengan senyuman lebar. “Kurasa masalah harga dirimu inilah yang akan membantuku untuk bertemu denganmu, karena aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu.”
Aku memutar bola mataku dengan kesal. “Jangan main-main. ”
“Kurasa sekarang aku tahu kenapa kau mau mengantarku saat itu. Saat itu kau pasti senang sekali ya, bisa berkenalan dengan Daehyun.”
“Apa maksudmu?”
”Kenapa kau menyukai Daehyun?” tanyanya sambil bersedekap.
Aku menatapnya selama beberapa saat, mencari tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan namja setengah gila ini. Aku menarik napas panjang lalu menjawab, “Aku tidak tahu kenapa aku harus menjelaskan perasaanku pada Daehyun padamu, tapi jika kau ingin tahu, aku tidak pernah memikirkan alasan apa yang membuatku menyukainya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan perasaanku selalu tumbuh tiap melihatnya.”
Himchan mengalihkan pandangannya ke arah luar kafe. Dia tampak tidak senang. “Kurasa aku harus memberi tahumu dua pilihan. Kau memilih namja lain untuk kau sukai atau bertahan dengan cinta bertepuk sebelah tanganmu itu. Asal kau tahu, Daehyun sudah mempunyai hubungan dengan orang lain.”
Aku mengepalkan tanganku, menahan ledakan emosi. “Kau tidak perlu mempedulikan nasib cintaku, karena aku akan mengurusnya sendiri. Jadi berhentilah ikut campur. Aku tidak memerlukan penonton dalam hal ini.” Aku menatap Himchan lurus-lurus, “Dan juga, tolong jaga rahasiaku. Jangan sampai Daehyun tahu.”
“Apa kau tahu jika permintaanmu itu sangat menyebalkan, Noran-ssi?”
“Apapun yang kaupikirkan, ini tetap janji.”
“Apa yang membuatmu berpikir jika aku setuju?”
“Kumohon,” ucapku pelan. “Kau akan menepatinya, kan?”
“Aku tidak mengira kalau ternyata kau begitu bodoh. Kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang namja.”
“Apa?” tanyaku, sama sekali tidak mengerti.
“Namja yang sedang duduk di hadapanmu ini,” ujar Himchan dengan tatapan serius. “Sudah mengatakan padamu kalau dia menyukaimu dan kau dengan kejam menyuruhnya untuk menjaga rahasia tentang perasaanmu pada orang lain. Tidakkah kau berpikir jika kau telah berbuat kasar padaku?”
“Baiklah, aku akui jika aku kejam padamu. Lalu kau ingin aku melakukan apa?”
“Kapan pun aku ingin melihatmu, kau harus datang. Tak peduli kau sedang apa dan di mana.”
“Tak bisa kupercaya,” kataku sambil tersenyum mengejek, menahan tawa mendengar permintaannya yang tak masuk akal. “Lalu apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak melakukannya? Apa kau akan membocorkan semuanya pada Daehyun?”
Himchan menyela dengan santai. “Jangan mencoba mengujiku.”
Mendengar itu, tawa langsung menghilang dari wajahku digantikan pelototan kesal.
Namun Himchan terus tersenyum sambil memakan wafflenya. “Kau tidak makan?”
“Aku tidak lapar. Kau makan saja, aku mau pulang.”
“Siapa bilang kau boleh pulang?”
“Urusan  kita sudah selesai. Kenapa masih saja menahanku?”
“Makan dulu waffle-mu,” katanya sambil memotong wafflenya menjadi bagian-bagian kecil.
Aku menatapnya kesal. “Sungguh hanya karena waffle ini kau memintaku tetap di sini?”
Dia menatapku lalu tersenyum. “Mana mungkin seperti itu.”
“Lalu apa?” tanyaku sambil berusaha menekan emosiku, karena aku tahu dia mulai bermain-main lagi denganku.
“Apa kau tidak pernah jatuh cinta?”
Aku tidak menjawabnya, hanya memicingkan mata.
“Apa kau benar-benar tidak tahu apa alasan seorang namja menahan seorang yeoja untuk tidak pergi?” tanya Himchan dengan senyum lebarnya. “Apa kau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya? Sangat memalukan jika kau tidak tahu, mengingat kau sudah menyukai Daehyun seca—”
Aku memotong kalimat Himchan dengan tidak sabaran, “Aku memang tidak tahu. Dan karena itu lah aku bertanya padamu!”
“Sudahlah, lupakan. Kau bisa pergi. Tapi sebelum itu, beri aku nomor teleponmu.”
Aku menulis nomorku di selembar kertas lalu mengulungkannya pada Himchan. “Aku minta maaf karena telah membuatmu tidak nyaman. Tolong mengertilah. Sekarang aku bahkan kehilangan kesempatan untuk menyatakan perasaanku pada Daehyun. Jadi—”
“Aku memutuskan untuk memulai kisah cinta bertepuk sebelah tanganku,” ujar Himchan tiba-tiba.
“Apa? Dengan siapa?” tanyaku spontan.
“Denganmu.”
Aku mengerutkan alis lalu menunjuk wajahku sendiri. “Aku?”
“Kau tidak boleh melarangku.”
Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Jadi kau bilang kau akan memulai cinta bertepuk sebelah tangan denganku dan kau baru saja mengatakannya secara langsung padaku. Begitu?”
“Ya, begitulah.”
“Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?”
“Kenapa kau tidak menyukaiku?” tanya Himchan.
“Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?” ulangku lagi tapi dengan nada tinggi.
“Tak bisakah kau menyukaiku sedikit saja?”
“Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?” ulangku untuk yang ketiga kalinya.
“Aku sudah mengatakan alasannya dua-tiga kali, tapi kau terus saja lupa. Aku pikir ini bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah kau lupakan.”
“Apa kau merasa senang setelah bermain-main denganku? Aku membiarkanmu melakukan itu karena aku merasa bersalah dan karena kau tahu rahasiaku, tapi—”
“Aku bukan anak kecil yang senang bermain-main.”
“Apa kau pikir memulai sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan itu mudah? Apalagi kau selalu bermain-main, tidak pernah serius.”
“Hanya karena aku tampan dan terkenal, kau pikir aku tidak bisa serius?”
Aku memutar bola mata karena sebal. “Jadi, kau benar-benar akan memulai cintamu yang bertepuk sebelah tangan itu padaku? Dan apa kau bilang aku tidak boleh melarangmu?”
“Paling tidak aku tadi  tidak memintamu menerimaku. Apa kau menyukai Daehyun dengan ijin darinya? Tidak, kan?”
“Tapi paling tidak aku tidak pernah menampakkan kalau aku menyukainya.”
“Oh, jadi karena itu kau tertangkap basah olehku?“ tanggap Himchan penuh sarkasme.
“Itu—” aku tidak bisa bicara lagi. Bermain kata dengan Himchan sama saja dengan bunuh diri, karena sudah pasti dia yang menang. “Lupakan! Aku pergi sekarang.”

***

Semenjak Himchan tahu tentang perasaanku pada Daehyun, hidupku tidak lagi tenang. Aku seolah dihantui oleh sesuatu yang abstrak. Aku hanya menyukai seseorang, tapi kenapa aku merasa seperti baru saja melakukan sebuah kejahatan besar? Aku tidak ingin orang lain tahu. Aku selalu disiksa oleh rasa gelisah, takut jika orang lain akan menangkap gelagatku.
Tapi sekarang berbeda. Himchan sudah tahu tentang itu dan kegelisahanku bertambah besar. Bagaimana kalau dia memberitahu Daehyun tentang hal ini dan Daehyun menghindariku?
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat karena menyadari beberapa hari ini tanpa sadar pikiran tentang Himchan menelusup dalam kepalaku. Aku berusaha untuk tidak mempedulikan kekhawatiranku tentang Himchan yang tahu jika aku menyukai Daehyun. Aku menghela napas panjang lalu menoleh ke arah luar jendela kelas, berharap Daehyun  sudah duduk di sana, di dekat jendela, di gedung seberang. Mungkin orang lain akan berpikir aku semacam orang bodoh atau apa, tapi aku suka. Melihatnya dari kejauhan seperti ini membuat perasaanku sedikit senang. Ya, selain mata kuliah Sejarah, aku juga suka dengan mata kuliah melukis, karena dari gedung ini, aku bisa melihat Daehyun, walaupun tidak begitu jelas aku tetap senang. Namun tiba-tiba sosok Himchan datang lagi mengganggu pikiranku, membuat kekhawatiranku muncul kembali. Aku kembali menghela napas panjang dan bertopang dagu.
Semua lamunanku buyar saat Hayoung datang dan mengagetkanku. Mendadak rasa bersalahku muncul mengingat aku belum memberitahunya tentang semua hal absurd yang menimpaku belakangan ini.
“Ya! Kenapa belakangan ini kau sering melamun sih? Ada masalah apa?” Dia mulai memberondongku dengan pertanyaan. Aku tahu jika cepat atau lambat aku harus memberitahunya.
Aku hanya tersenyum kecil. “Tidak ada kok. Jangan khawatir.”
“Hei, jangan bermain rahasia denganku.”
Kurasa aku memang tidak bisa merahasiakan apapun dari Hayoung. Sahabat karibku ini pasti akan tahu dengan sendirinya. Jadi kuputuskan untuk memberitahunya sekarang. “Kau sudah tahu kan jika aku menyukai seseorang?”
“Ya, aku tahu dan aku bersyukur karena akhirnya kau jadi gadis normal!” katanya senang.
“Ya! Apa maksudmu berkata seperti itu?” seruku tak terima.
“Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa,” ujarnya sambil meringis. “Lalu siapa dia?”
Aku mendekatkan bibirku ke telinga Hayoung dan berbisik, “Jung Daehyun. Aku menyukainya sejak pertama melihatnya di kelas.”
“Mwo? Jadi benar dia?” seru Hayoung tak percaya. “Tapi bukannya dia sekarang sedang berkencan?”
“Aku tahu itu. Tapi masalahnya bukan itu saja.”
“Kalau bukan hanya itu, lalu apa lagi?” Hayoung mengerutkan alisnya bingung.
“Apa kau tahu Kim Himchan?”
“Kim Himchan? Bagaimana kau bisa tahu tentang Kim Himchan?”
“Aku bertemu dengannya beberapa kali di kafe,” ujarku pelan. “Apa kau tahu dia orang yang seperti apa?”
Mata Hayoung membulat karena tak percaya. “Kau beberapa kali bertemu dengan Himchan di kafe? Aku tidak pernah mengira jika kau mempunyai daya pikat sebesar itu...”
“Ya! Bukan itu masalahnya sekarang!” aku melotot pada Hayoung. “Apa kau tahu Himchan itu orang yang seperti apa?”
“Aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Tapi menurutku dan menurut gosip yang kudengar, dia itu tampan, mempunyai kepribadian yang baik, supel dan yang jelas dia dikelilingi banyak yeoja.”
“Ah, jadi begitu...”
“Apa sesuatu terjadi di antara kau dan Himchan?”
“Tidak ada. Hanya saja dia tahu kalau aku menyukai Daehyun dan seminggu yang lalu dia berkata padaku kalau dia menyukaiku. Kurasa dia setengah gila.”
“Hei, semua orang memang jadi gila kalau sedang jatuh cinta.”
“Ya! Tapi mana mungkin baru bertemu tapi dia langsung menyukaiku?”
“Apa kau tidak merasa jika kau bahkan lebih gila dari Himchan?”
“Mwo? Bagaimana bisa—”
Hayoung memotong dengan cepat. “Kau juga menyukai Daehyun saat pertama melihat dia kan? Kau tidak pernah menyapanya apalagi mengobrol. Sedangkan Himchan selangkah lebih maju darimu. Dia berani mengungkapkan padamu kalau dia memiliki perasaan padamu. Tapi kau...” Hayoung menggelengkan kepalanya sambil menatapku dengan tatapan hopeless.
“Itu berbeda. Dia tahu aku tidak sedang berkencan,” bantahku membela diri.
“Jika Daehyun tidak sedang berkencan, apa itu akan mengubah keadaan?” tanya Hayoung tajam. Aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa menjawab apapun.
“Himchan... dia tahu kalau kau menyukai Daehyun,” kata Hayoung lagi, dia seakan sedang menelisik sesuatu. “Bahkan walaupun dia tahu kenyataan itu, dia masih saja mengejarmu. Kurasa dia sudah benar-benar jatuh cinta padamu. Kenapa kau tidak mencoba menjalin hubungan dengannya? Daripada kau menggalau gara-gara Daehyun yang sudah jelas-jelas tidak akan bisa jadi milikmu.” Hayoung mengangkat bahunya. “Why not, Jung Eunji?”
Baru saja aku akan menjawab kata-kata Hayoung, ponselku bergetar keras tanda sebuah panggilan masuk.
“Yeoboseyo?” kataku dengan ragu, tak tahu siapa yang berbicara di seberang sana.
“Ini aku. Himchan,” balas suara di seberang.
“Ada apa?” tanyaku sedikit ketus.
“Apa kau sudah membuka lokermu di ruang ekskul lukis?”
“Belum. Memang ada apa di sana? Awas saja kalau kau—” ucapku mulai kesal.
Baru saja aku akan meneriakkan umpatan padanya, dia dengan seenaknya memutus telepon.
Hayoung yang dari tadi memperhatikanku langsung bertanya, “Siapa? Himchan?”
Aku hanya memberi anggukan lemas untuk menjawab. Aku langsung teringat pertanyaan Himchan tentang loker dan aku pun menggeret Hayoung ke ruang ekskul lukis untuk memeriksa apa yang dilakukan Himchan pada lokerku.
Aku membuka lokerku dengan kalap dan menemukan sebuah kotak kecil dengan pita kuning diikatkan di atasnya.
“Wah, apa itu?” tanya Hayoung yang sedari tadi sudah penasaran setengah mati.
“Aku juga tidak tahu,” jawabku datar lalu membuka ikatan pita kuning itu perlahan. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk payung kuning mini. Aku mengedipkan mataku beberapa kali melihat kalung super imut ini. Namun aku segera tersadar, aku tidak bisa memiliki kalung ini dan harus mengembalikannya pada Himchan sekarang juga.
Aku berlari keluar ruangan tanpa mempedulikan seruan Hayoung yang penasaran kemana aku akan pergi. Aku meraih ponsel dalam tas dan menelepon Himchan. Dalam dering ketiga dia mengangkat teleponku, “Ada apa, Noran-ssi?”
“Kau ada di mana sekarang?”
“Seperti biasa, di kafe.”
Aku langsung memutus sambungan telepon dan bergegas pergi ke kafe langgananku.

***

“Apa maksudmu dengan menaruh benda ini di lokerku?” tanyaku langsung sambil menyodorkan kotak kecil itu di depan wajah Himchan.
“Kalung seharusnya dipakai, bukan ditenteng kemana-mana. Apa kau tidak suka?”
Aku memutar bola mata dengan sebal. “Apa artinya ini? Aku tidak bisa menerimanya.”
“Kenapa tidak bisa?” ujarnya santai. “Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang istimewa untuk cintaku yang bertepuk sebelah tangan.”
“Mana ada orang yang akan memberikan kalung pada cinta mereka yang bertepuk sebelah tangan? Kau terlalu berlebihan.”
“Itu kan hanya hadiah. Tapi kalau kau tidak mau, kembalikan saja.” Himchan mengambil kotak kecil itu dari tanganku lalu memberikannya pada seorang yeoja yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Himchan. Entah dia tiba-tiba ada di sana atau aku saja yang baru melihatnya. Yang jelas yeoja itu... sangat cantik.
“Aku bisa memberikan ini padanya, kan?” ujarnya sambil menatap ke arahku lalu ke arah yeoja itu.
Yeoja itu kemudian menatapku dengan tatapan tak mengerti. “Dia siapa?” tanyanya pada Himchan.
“Cintaku yang bertepuk sebelah tangan, Jung Eunji.” Jawab Himchan santai sambil menatapku, lalu memberi isyarat pada yeoja itu untuk meninggalkan kami berdua.
Aku menahan emosiku mendengar jawaban Himchan. Dia mengatakan semua itu seolah semua ini adalah permainan tak berarti.
“Siapa dia?” tanyaku balik.
“Menurutmu siapa?” tanya Himchan.
Tiba-tiba aku merasakan emosi yang tidak biasa menjalari otak dan tubuhku. Aku ingin sekali menjambaki rambut yeoja itu dan juga Himchan. “Oh, jadi begini cara seorang namja dengan cinta bertepuk sebelah tangan bersikap?” tanyaku sambil menggeretakkan gigi.
“Apa namja yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan tidak boleh menyukai yeoja lain?”
“Kau pikir ini semua masuk akal?”
“Kenapa tidak? Lagi pula aku bukan siapa-siapamu.”
Aku melebarkan mata karena kaget sekaligus tidak terima. “Kau bilang apa?”
Himchan tersenyum miring dengan gaya soknya lalu berkata dengan datar,“Kau ingin berkencan denganku?”
Aku mengalihakan pandanganku sejenak ke arah lain sambil menghembuskan napas kesal lalu kembali menatap Himchan. “Apa kau gila?”
“Kalau kau tidak mau berkencan denganku, lalu kenapa kau marah-marah? Kau menyukai namja lain, tapi kau mengharapkanku untuk setia dengan hanya menyukaimu? Lucu sekali...” Himchan menatapku lurus lalu tersenyum, “Kalau sudah selesai, kau bisa pergi.”

***

Malam harinya, aku benar-benar tidak bisa tidur. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasakan amarah yang tidak biasa menjalari tubuhku sejak kejadian di kafe tadi. Aku terus membolak-balikkan tubuhku mencari posisi tidur yang sekiranya nyaman, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Aku jadi semakin kesal pada namja brengsek satu itu.
Saat aku menutup mataku, yang kulihat hanya gambaran kejadian tadi. Ekspresi dan kata-kata Himchan berulang-ulang masuk ke dalam pikiranku dan membuatku sedikit depresi. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku terus saja berpikir tentang Himchan?
Aku membuka mataku lagi dan beralih ke posisi terlentang. Kupandangi langit-langit kamarku, seolah ada jawaban atas semua ini di sana. Namun lagi-lagi wajah Himchan menghantuiku. Aku beralih ke posisi duduk, mengacak-acak rambutku dengan kesal seperti orang gila lalu menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. “Aaaaa! Aku pasti sudah gila!”

***

Sudah hampir dua minggu ini aku tidak berkomunikasi dengan Himchan. Aku tidak pernah melihatnya di kafe maupun di dalam kampus. Aku pun merasa sedikit lega karena tidak bertemu dengan namja setengah gila itu. Namun di balik itu semua, aku tetap saja terus memikirkan apa dia sudah memberitahu Daehyun tentang rahasiaku atau tetap menjaganya. Selain itu, aku juga masih terpikir tentang kejadian pada saat terakhir kami bertemu. Tiap mengingat kejadian itu, mendadak aku jadi gusar sendiri tanpa sebab.
“Eunji-ya. Apa kau mau ikut aku ke acara final kompetisi dance?” suara Hayoung lagi-lagi menginterupsi lamunanku.
Aku mendongak ke arahnya dengan tatapan malas. “Buat apa kita ke sana?”
“Aku ingin memberi dukungan pada Junhong tentu saja. Ayolah, ikut saja. Oke?”
“Terserah,” jawabku singkat.
“Baiklah. Ayo ke tempat parkir. Junhong sudah menunggu di sana.”
Aku menghela napas panjang. Tapi kupikir menonton final ini pasti akan sangat menghiburku.
“Ya, Hayoung-a. Kenapa ada dia di sana?” tanyaku sambil menunjuk dengan dagu ke arah Himchan yang sedang mengobrol dengan Junhong di sisi depan mobil.
“Aku tidak tahu. Mungkin dia segrup dengan Junhong di acara itu?”
Aku menghentikan langkahku seketika itu juga. Hayoung ikut menghentikan langkahnya dan menatapku heran. “Kenapa kau berhenti?”
“Aku malas jika ada orang itu.”kataku seperti anak kecil.
“Ayolaaah... kalau kau tidak mau melihatnya, kau bisa menutup matamu.”
“Oh, tolonglah. Aku sedang tidak bercanda. Aku benar-benar tidak ma—”
“Noran-ssi!” teriak Himchan dari sana sambil melambaikan tangan. Dia melakukan itu dengan ringan seolah tak mempunyai kesalahan padaku. Aku benar-benar sewot melihat tingkahnya itu.
Hayoung menatapku dengan senyum geli. “Kurasa kau tidak bisa kabur.”
“Tsk! Sialan. Kenapa aku selalu terjebak dalam situasi menjengkelkan seperti ini sih?”
“Apanya yang menjengkelkan?” itu suara Himchan, dia sedang berjalan mendekatiku dan Hayoung.
“Kau,” jawabku dengan ketus.
“Kau ini tidak bisa ya, sedikit saja bersikap manis padaku?”
“Bersikap manis padamu? Aku bisa terkena kutukan seumur hidup jika melakukannya.”
“Terserah apa katamu. Cepat masuk mobil. Acaranya dimulai sebentar lagi.”
Tanpa berkata-kata lagi, aku mengekor di belakang Hayoung lalu duduk di jok belakang bersamanya. Namun, tiba-tiba Himchan meminta Hayoung untuk bertukar tempat duduk dengannya dengan iming-iming agar Hayoung bisa duduk di sebelah Junhong. Tentu saja Hayoung mau. Aku benar-benar kesal saat itu. Kenapa lagi-lagi aku harus berhubungan dengan Himchan?
“Siapa bilang kau boleh duduk di sebelahku? Duduk saja di bagasi,” ujarku super ketus.
“Wow. Kau kejam sekali Noran-ssi.” Himchan tersenyum sambil memegang pintu mobil yang terbuka dengan sebelah tangannya sementara setengah tubuhnya ada di dalam mobil.
Junhong dan Hayoung terkekeh melihatku dan Himchan bertengkar seperti anak kecil, tapi aku tidak mempedulikannya.
“Kulihat kalian berdua akrab sekali. Kenapa tida berkencan saja?” tanya Junhong sambil tertawa.
Aku memelototinya dan dia pun langsung terdiam, tapi dia berkata lagi, “Kalau berkelahi terus seperti itu, nanti kalian bisa jadi saling menyukai lho...”
Himchan langsung menanggapi dengan senang dan mengerling padaku. “Kuharap begitu.”
Aku membantah dengan keras. “Mana mungkin itu terjadi?”
“Eunji-ya. Kalau kau tak mau itu terjadi, biarkan saja dia duduk di situ. Lagi pula ini bukan masalah yang besar untuk diperdebatkan. OK?” ujar Hayoung tampak tak sabar. Aku pun hanya mengangguk lemas sementara Himchan langsung memperlihatkan senyumannya yang menyebalkan itu padaku. Dia kemudian duduk dan terus saja menatapku sambil tersenyum atau lebih tepatnya menahan tawa.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa ada yang lucu?” sambarku dengan keras dan tajam. “Mana yang lebih lucu? Orang yang memberikan kalung padahal dia sudah punya yeoja lain atau aku yang—”
Himchan memotong kalimatku, “Kau kelihatannya marah, Noran-ssi. Jika aku menjelaskan, apa kau akan mendengarkannya?”
“Kau harusnya menjelaskannya sebelum mengusirku saat itu.”jawabku dengan sarkasme sebanyak yang aku bisa munculkan.
“Dalam situasi seperti itu, apa kau ingin aku meninggalkannya dan mengejarmu? Aku bukan orang yang akan tergila-gila pada yeoja yang tidak pernah tertarik padaku.”
Junhong menginterupsi sambil menatap wajahku dan Himchan dari kaca dalam mobil, “Kalian berdua ini benar-benar ya. Bisa-bisanya bertengkar di sini seolah aku dan Hayoung tidak ada.”
“A... aku tidak—”
Himchan menyeringai dan sambil menatapku dia menjawab dengan ringan, “Maaf karena membiarkan kalian mendengarkan urusan rumah tangga kami.”
Rumah tangga katamu?” aku melotot mendengarnya, kurasa dia benar-benar sudah tidak waras.
“Kurasa kalian benar-benar saling menyukai,” ujar Hayoung seraya menahan senyum di wajahnya.
Aku langsung berseru tak terima, “Anigeodeun!”

***

Kami berempat memasuki ruang ganti dan makeup di lokasi final akan dilangsungkan. Sejak turun dari mobil, Himchan terus saja berjalan di sebelahku. Aku mempercepat jalanku tapi sama saja, kakinya jauh lebih panjang dari kakiku. Tiba di ruang ganti, ternyata Daehyun juga sudah ada di sana. Lagi-lagi mendadak tubuhku jadi kaku.
Kemudian kulihat Daehyun tersenyum ke arahku dan Himchan, lalu menghampiri kami berdua. “Kalian berdua benar-benar berkencan ya?”
Aku menatap ke arah Daehyun dengan gugup dan menjawab terbata. “Ti..tidak. Ada orang lain yang kusukai.”
“Tidak masalah.” Himchan yang menanggapi. “Bahkan jika kau memiliki namja lain, itu tidak akan jadi masalah untukku. Lagi pula namja yang kau sukai juga tidak memiliki ketertarikan padamu. Jadi, lupakanlah dia dan mulailah menyukaiku.”
Aku melirik ke arah Daehyun dengan resah lalu ke arah Himchan dengan tatapan kesal.
Daehyun tersenyum geli dan menanggapi, “Hei. Apa kau sedang melakukan pengakuan cinta sekarang?”
Himchan menjawab sambil terus menatapku. “Ya, aku melakukannya setiap kami bertemu. Karena aku menyukainya, aku tidak pernah peduli tentang harga diriku. Aku akan melakukan apapun sampai akhir.”
Himchan kemudian memegang pergelangan tanganku. Aku berusaha melepaskannya, tapi genggamannya pada tanganku terlalu erat.
“Ayo pergi. Wajahmu memerah.”katanya lalu menarikku keluar.
Aku membungkuk sedikit pada Daehyun untuk berpamitan dan mengikuti Himchan.
“Apa maksudmu dengan mengatakan hal seperti itu di depan Daehyun, eo?” umpatku segera saat kami keluar dari ruang ganti.
“Apa kau ingin Daehyun tahu tentang perasaanmu padanya? Atau jangan-jangan kau memang berharap dia tahu?”
Aku menyambarnya dengan kasar, “Apa yang kau katakan, eo?”
“Manusia memiliki kemampuan untuk melihat yang sangat sempurna jika dibandingkan makhluk lain di dunia ini. Tapi kau hanya bisa melihat Daehyun, Daehyun dan Daehyun. Dari tadi kau terus saja memandanginya dengan mata berbinar. Bukankah kau bilang perasaanmu itu sebuah rahasia? Karena itulah tidak seharusnya kau melakukan hal yang bisa membuatmu ketahuan.”
Aku tak menginterupsi perkataan Himchan, karena aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk membela diriku.
“Biarkan aku menanyakan sesuatu padamu. Kau memiliki kesempatan, tapi bagaimana bisa kau tidak pernah mengungkapkannya pada Daehyun? Kau tidak ingin melukai perasaan yeoja yang berkencan dengan Daehyun atau tidak ingin melukai dirimu sendiri?”
Aku menatap Himchan dengan sengit. Aku kesal kenapa dia selalu bertingkah seolah tahu semua tentangku dan apa yang kurasakan. Aku baru saja akan menjawab kata-kata Himchan saat pintu ruang ganti terbuka dan Yonguk muncul dari baliknya.
“Himchan-a, bisakah kau membelikan air minum untuk kita? Karena tanpa makeup pun kau sudah tampan, kurasa kau bisa—”
Himchan memotong, dia tampak terganggu lalu mengibaskan tangannya. “Baiklah. Akan kube—”
“Biar aku yang membeli. Kalian bersiap-siap saja,” sambarku cepat. Sebenarnya ini kulakukan agar aku bisa terhindar dari Himchan dan segala hal tentangnya yang menyebalkan untuk sesaat. Ya, dengan kata lain, aku kabur dari Himchan.
Yongguk menatapku dengan senang dan mengulungkan beberapa lembar uang padaku. “Terima kasih banyak. Kami merasa sangat terbantu,” katanya lalu menepuk pundak Himchan, menyuruhnya kembali ke ruang ganti.
Selepas mereka masuk, aku menghembuskan napas lega. “Untung saja aku tidak harus menjawab pertanyaan Himchan...”

***

Aku berjalan menuju ke tempat pelaksanaan final setelah membelikan minuman dan beberapa macam snack. Saat melewati sebuah lorong kecil di antara dua gedung, aku mendengar seseorang memanggil-manggil dari arah lorong itu.
“Hei, Hajin.”kata suara itu. “Hajin, kemarilah.”
Aku menoleh ke sekelilingku, mencari orang yang kira-kira bernama Hajin. Namun yang ada di sana hanya aku.
“Iya, kau yang memakai dress warna biru.”
Aku melihat pakaian yang kupakai yang langsung bergidik. “Aku?”
“Aku tahu jika kau itu Hajin. Jadi jangan berpura-pura.”
Aku mempercepat langkahku karena dalam pikiranku sudah mulai muncul hal-hal yang tidak kuinginkan. Namun, seseorang mencegatku. Seorang namja yang memakai setelan tapi terlihat sangat lusuh.
“Hajin-a, aku sungguh merindukanmu. Sudah lama aku tidak melihatmu,” kata namja itu lalu bersiap memelukku. Aku tentu saja menghindar. Kurasa dia pasti orang gila. Apa yang harus kulakukan?
“Maaf, tapi aku bukan Hajin. Aku Eunji.”kataku sambil menahan kengerianku.
“Kau itu Hajin! Hajin-ku!” seru namja itu sambil menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil.
“Baiklah kalau itu maumu. Ya, aku Hajin. Jadi sekarang aku oleh pergi, kan?” kataku lalu berlari sekencang mungkin, tapi orang gila itu masih terus saja mengejarku sambil memanggil-manggil nama Hajin.  Yang membuatku heran, kenapa tidak ada orang yang sadar kalau dia orang gila. Menyebalkan!
Di saat-saat kritis seperti ini, tiba-tiba aku melihat Himchan tengah berlari ke arahku. Aku tidak tahu ini nyata atau tidak, yang jelas aku merasa sangat terberkati.
Aku langsung  bersembunyi di balik punggung Himchan begitu dia tiba.
“Ada apa? Kenapa kau lama sekali belanjanya?” tanyanya, dia terlihat cemas.
“Ada orang gila mengejar-ngejarku. Tolong aku.”jawabku sambil terengah.
“Hajin, di mana kau?” seru orang gila itu sambil berlari menuju ke arah Himchan. “Apa kau melihat Hajin-ku?”
“Ada perlu apa kau mencari Hajin? Sekarang dia milikku, jadi kau pergi saja sana!” bentak Himchan.
Aku kaget dengan apa yang dilakukan Himchan. “Apa sih yang kaulakukan? Kau membuatnya tambah marah,” bisikku padanya.
“Kau diam saja. Dia pasti akan segera pergi.”
“Hajin-a, apa benar apa yang dikatakannya?” orang gila itu tampak terluka.
“Tentu saja benar. Memangnya kenapa?” jawabku sambil memeluk pinggang Himchan dengan gaya sok mesra. Tanpa kusadari aku terseret dalam permainan Himchan.
“Aku tidak percaya!” orang gila itu menghentak-hentakkan kakinya lagi. “Buktikan kalau kalian benar-benar berkencan!”
Himchan tersenyum menantang. “Oh, jadi kau mau bukti?” Himchan kemudian memegang kedua sisi wajahku dengan tangannya. Tangannya begitu hangat menyentuh kulit wajahku. Lalu kejadian selanjutnya yang membuatku shock. Himchan mencium bibirku. Pada awalnya dengan lembut, tapi semakin lama tekanan bibirnya semakin terasa. Aku hanya bisa melotot kaget menerima perlakuan tak terduga ini. 
“Sudah puas?” tanya Himchan pada orang gila itu setelah melepaskan ciumannya dari bibirku.
“Aku tidak terima! Ini benar-benar penghinaan bagiku! Hajin-a, aku kecewa padamu. Kau tega sekali...” ujar orang gila itu sambil menangis lalu berbalik pergi.
“Haaah... akhirnya dia pergi juga,” Himchan tersenyum lega.
Setelah beberapa saat aku terpana karena kegilaan tingkah Himchan, aku kemudian sadar dan menendang kakinya keras-keras.
 “Ya! Kenapa kau menendang kakiku?” serunya kesakitan sambil mengelus tulang keringnya.
“Apa kau bodoh? Akting macam apa tadi itu, eo?” semprotku kesal lalu mengusap bibirku kuat-kuat dengan punggung tangan.
“Yang itu…” Himchan cengengesan, “Ya kalau tidak begitu, orang gila itu tidak akan mau pergi. Dia akan mengejarmu terus-terusan.”
Aku menggertakkan gigiku dengan sebal. “Dia memang orang gila, tapi kau lebih gila dan juga kurang ajar!” Aku berjalan cepat meninggalkan Himchan yang masih terlihat bingung melihatku bisa semarah itu. Kulihat Himchan mengambil plastik belanjaan yang kutinggalkan dan langsung menyusulku .
“Noran-ssi! Maafkan aku, yang tadi itu aku benar-benar tidak sengaja.” Serunya dari belakang.
Aku pura-pura tidak mendengarnya dan langsung menyetop sebuah taksi. Aku benar-benar tidak ingin melihatnya sekarang ini atau mungkin sampai nanti.
Di dalam taksi, aku masih saja teringat akan kejadian tadi. Tanpa kusadari pipiku memanas. Darahku berdesir cepat tal seperti biasanya dan jantung berdegup kencang. Kurasa aku sudah benar-benar dibuat gila oleh namja sinting itu. Aku menutup mataku sesaat dan aku kembali membayangkan kejadian itu lagi.
Jika dipikir-pikir, sentuhan bibir Himchan tadi tidak buruk juga. Bibir Himchan menyentuh bibirku dengan lembutnya bagaikan permen kapas yang manis. Kusadari jika ciuman Himchan masih terasa nyata bagiku, bahkan aroma kopi di bibir Himchan masih tertinggal di mulutku.
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat setelah memikirkan hal itu. Aduh, apa yang kupikirkan sih? Kenapa aku jadi merasa gila sendiri memikirkan hal itu?

***

Hari-hari berikutnya, aku masih saja uring-uringan.  Pikiranku masih saja tertuju pada Himchan dan yeoja tak dikenal itu serta ciuman yang dilakukannya padaku. Bukannya aku merasa cemburu atau apa, aku hanya merasa Himchan tidak pernah tulus dengan kata-katanya selama ini dan hanya bermain-main denganku.
Saat sedang sibuk-sibuknya mengumpat Himchan dalam pikiran, tiba-tiba seseorang memanggil namaku. Aku yang sedang berjalan keluar kampus otomatis lan   gsung menengok ke belakang. Ternyata Youngjae. Dia sudah cukup lama mengejarku, beberapa kali dia bilang padaku kalau dia menyukaiku. Aku tidak pernah menanggapinya karena aku tidak ingin menyakitinya lebih dalam. Aku sendiri tidak mau kalau hanya dipermainkan saja oleh orang yang aku sukai, jadi kupikir ini satu-satunya cara.
“Jung Eunji, tunggu sebentar,” serunya.
Awalnya aku tidak menanggapinya, tapi tiba-tiba dia sudah berjalan di sampingku, menjajari langkah kecilku.
“Tunggu sebentar,” katanya lagi.
Kali ini aku berhenti lalu berdiri menghadap ke arahnya. “Maaf, tapi aku tidak memiliki perasaan padamu. Kurasa akan lebih baik jika kau mencari yeoja lain yang bisa menyayangimu dengan tulus,” ujarku selembut mungkin agar tidak melukai perasaan Youngjae.
“Ta... tapi bukankah kau tidak sedang berkencan? Jadi—”
“Kau salah. Namja chinguku sedang berjalan kesini sekarang,” ujarku lagi sambil melirik ke arah Himchan yang kebetulan sedang berjalan keluar kampus. Mendadak aku bersyukur melihat namja menyebalkan itu di saat seperti ini.
Aku segera meninggalkan Youngjae dan menghampiri Himchan yang saat itu sedang berjalan sendiri sambil menenteng tasnya dengan sebelah tangan. Aku berhenti di depan Himchan. Himchan hanya memandangiku dengan tatapan heran sekaligus kaget. Dengan keberanianku yang tersisa, aku memeluknya dengan erat.
Aku berkata pada Himchan, “Tunggu sebentar. Tetap dalam posisi seperti ini sebentar saja...”
Aku melepas pelukanku pada Himchan lalu menoleh pada Youngjae yang tampak sangat shock. “Kau benar soal aku tidak sedang berkencan, tapi itu dulu. Sekarang duniaku sudah dipenuhi oleh dia. Kim Himchan. Kumohon, carilah yeoja yang bisa menyayangimu dengan tulus.”
Youngjae pun pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku merasa sangat bersalah. Setelah Youngjae menghilang dari pandanganku, aku melirik ke arah Himchan yang kini tengah memandangku dengan tatapan kecewa.
“Mianhae...” ucapku pelan pada Himchan yang sedang menatapku dengan tajam.
Dia tidak menanggapi kata maafku dan berjalan pergi begitu saja. Aku yakin aku sudah melukai perasaannya. Aku pun mengejarnya dan menghadang jalannya.
“Aku bilang minta maaf,” kataku penuh sesal. “Kau pasti merasa terkejut. Aku akan jelaskan se—”
“Apa kau baru saja bilang minta maaf?” kata Himchan setajam dan sedingin jarum es. Matanya yang memerah menatapku lurus penuh kekecewaan.
Aku menunduk dalam-dalam. “Aku benar-benar minta maaf.”
“Apa kau pikir aku cukup baik untuk bisa menerima pengakuan cinta palsumu itu? Kau bilang apa tadi? ‘Kini duniaku dipenuhi oleh Kim Himchan’? Aku memang menyukaimu, tapi bukan berarti kau bisa memanfaatkanku seenak hatimu.”
“Aku tidak bermaksud seperti itu,” ucapku berusaha meyakinkan.
Himchan menyambar dengan ketus, “Kau memang tidak bermaksud seperti itu, tapi kau sudah melakukannya.”
“Aku tidak mau menyakiti Youngjae lebih dalam, jadi—” jawabku jujur.
“Oh, jadi kau berpikir aku tidak akan sakit hati?” tanyanya penuh sarkasme.
“Bukan. Bukan itu...”
“Baiklah, aku mengerti. Aku tahu aku memang tidak cukup penting untukmu menunjukkan perhatian. Selama ini kau hanya menganggapku namja pengganggu yang tak tahu malu. Benar, kan?” Himchan menatapku lurus lalu melanjutkan, “Bahkan walaupun sekarang aku masih menyukaimu, kau tidak sepantasnya memanfaatkan aku seperti itu. Jadi, mulai sekarang kita tidak usah bertemu lagi. Walaupun itu pertemuan yang tidak dapat dielakkan, cobalah menghindariku. Aku juga akan melakukannya seperti itu. ”
“Ya, Kim Himchan! Aku tahu kau marah, tapi bisakah kau—”
“Sejak aku bertemu denganmu, aku mulai mengerti bagaimana mencintai dengan tulus. Karena itulah saat ini aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Tapi aku menyadari satu hal penting. ”
Aku mendongak menatap Himchan dalam-dalam, menunggu apa yang akan dikatakannya.
“Aku kini mengerti bahwa kau tidak akan bisa menerima hatiku. Jadi kurasa aku harus melepas perasaanku padamu. Aku minta maaf jika selama ini aku sudah mengganggumu dengan tingkah kekanakanku. ”
Himchan tersenyum kecil lalu melewatiku dan pergi begitu saja, meninggalkanku yang hanya bisa berdiri terpaku dengan penuh rasa sesal. Tanpa kusadari, mataku memanas karena tekanan air mata yang mulai membuncah.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku pada diri sendiri sambil mengusap mataku yang mulai basah. “Kurasa aku menyukainya. Aku menyukainya...”
Aku berjalan pelan menuju ke halte bus. Baru beberapa langkah aku meninggalkan gerbang kampusku, hujan turun dengan derasnya. Aku membuka payung kuning yang kugunakan untuk memayungi Himchan saat pertama kami bertemu. Mendadak suasana hatiku jadi bertambah melankolis karenanya. Aku menangis di antara derasnya air hujan musim semi kali ini.
Kusadari, cinta telah datang ke dalam hatiku layaknya hujan musim semi yang datang tiba-tiba dan membuatku basah kuyup seperti ini.

***

Aku menangis dengan tersedu-sedu sambil duduk di ranjang milik Hayoung. Setelah apa yag dikatakan Himchan padaku tadi, aku merasa tidak akan kuat jika menanggungnya sendiri. Paling tidak jika ada Hayoung aku akan merasa sedikit tenang.
“Kau bilang padaku kalau kau lolos ke babak selanjutnya dalam kompetisi. Lalu kenapa kau bertingkah seperti ini?” tanya Hayoung bingung sambil melipat tangannya di depan dada.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, dan menangis semakin keras.
“Paling tidak kau harus menceritakan padaku apa yang terjadi supaya aku bisa memberi saran atau membuat rencana untuk menyelesaikannya. Kenapa kau menangis, eo?”
“Seseorang melepasku, membiarkanku pergi begitu saja.” jawabku dengan napas sedikit tersekat, tenggorokanku bengkak karena terlalu lama menangis. “Mulai sekarang aku akan berusaha melupakan semuanya. Ya, kurasa semua ini akan baik-baik saja jika aku melupakannya.”
“Siapa ‘seseorang’ itu? Apakah... Kim Himchan?”
Aku diam, tak mau menjawab lagi. Mendengar nama Himchan saja sudah cukup membuat tangisanku semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar menyesal.
“Aku tidak mengerti bagaimana bisa Himchan membuatmu seperti ini. Tapi kurasa dia memiliki lebih dari satu bakat selain dance.” Hayoung memandangiku dengan tatapan sedih.
Aku mengeluarkan suara seperti orang tercekik dari tenggorokanku, tersengguk-sengguk karena terlalu lama menangis. “Maksudmu, bakat lain apa?”
“Dia memiliki kemampuan untuk membuatmu tertawa pada satu waktu lalu kesal dan menangis pada menit berikutnya. Dibutuhkan bakat untuk membuat orang lain takluk pada setiap perbuatannya.”
Masih dengan sesenggukan, aku menjawabnya. “Kapan aku pernah menangis atau tertawa karena dia?” semprotku.
“Ya ampun, kau masih saja menyangkal.”
“Aku tidak bilang padamu kalau namja itu Himchan!”
“Bahkan walaupun kau menyangkalnya, aku bisa tahu kalau kau sepenuhnya berbohong padaku.”
Aku tahu aku memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Hayoung karena dia memang tahu segala hal tentangku. “Kau benar. Kurasa tak ada yang bisa kulakukan mengenai hal itu. Tak peduli seberapa keras aku menyembunyikannya, semuanya sia-sia. Bahkan kalaupun aku menutupinya, kau tetap dapat melihatnya.”

***

Setelah puas menangis di depan Hayoung, sahabatku itu akhirnya megantarku pulang ke rumah. Aku baru saja selesai melepaskan sabuk pengaman saat kulihat eonniku dan pacarnya sedang berpelukan erat di depan rumah. Aku yang sedang sensitif langsung menggerutu sebal.
“Ada apa dengan semua orang? Kenapa mereka melakukan hal ini padaku?”
“Tepat sekali,” tanggap Hayoung cepat. “Apa yang mereka lakukan di depan rumah? Memangnya hanya mereka yang sedang jatuh cinta?”
Aku langsung menoleh ke arah Hayoung dan memelototinya dengan tatapan membunuh. Saat melihat wajahku,  senyum langsung menghilang dari wajahnya dan dia pun berusaha mengalihkan perhatian, “Pacar eonnimu sepertinya sudah mau pulang,” ujarnya sambil menunjuk ke depan rumahku dengan dagunya.
“Keterlaluan! Menyebalkaaaan!” seruku kesal karena melihat eonniku berpelukan lagi.

***

Ada satu hal penting yang dapat kupelajari dari apa yang baru saja terjadi antara aku dan Himchan. Bahwa meninggalkan seseorang memiliki resiko patah hati yang lebih kecil daripada ditinggalkan seseorang. Walaupun saat kita meninggalkan seseorang kita akan merasa bersalah, tapi rasa bersalah itu lebih baik daripada harus merasakan sakit hati seperti ini.
Meninggalkan dan ditinggalkan sama-sama memiliki resiko sakit hati. Tapi sebelum itu terjadi, sebenarnya kita bisa memilih mana yang akan kita dapatkan, ditinggalkan atau meninggalkan. Dua pilihan yang sama sekali tidak menyenangkan memang.
Seperti saat ini, tanpa sengaja aku telah memilih opsi ditinggalkan. Semua perbuatanku terhadap Himchan membuatku pantas untuk ditinggalkan, aku tahu itu.
Banyak orang memilih untuk mengejar cinta yang dirasa paling pantas untuk mereka dapatkan. Tapi bagaimana jadinya kalau cinta yang kita rasa pantas, ternyata tidak mau menerima diri kita?

***

Setelah kejadian hari itu, beberapa kali aku bertemu dengan Himchan dan seperti yang dia katakan saat itu, dia bertingkah seolah tidak pernah mengenalku dalam hidupnya. Saat kami berpapasan, dia melewatiku begitu saja. Saat tak sengaja berdiri berhadapan, dia berbalik dan langsung berjalan pergi.
Hari ini entah sudah ke berapa kalinya aku memencet nomor Himchan dan berusaha menghubunginya, tapi dia sama sekali tidak mengangkat telpon dariku. Aku pun kemudian memutuskan untuk menunggu di depan ruangan tempat dia biasa berlatih dance. Aku kemudian mengirimkan pesan teks padanya, memberitahunya kalau aku ada di depan ruang latihannya dan meminta untuk bertemu. Baru saja pesan itu kukirim, Himchan dan teman sekelompoknya keluar dari ruangan itu. Kulihat Himchan baru saja membaca pesanku dan berdecak lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.
Daehyun menyapaku saat dia lewat, tapi aku tidak terlalu memperhatikannya dan terus menatap Himchan yang memasang ekspresi dingin sambil berjalan menuju ke arahku. Aku tersenyum padanya dan bersiap menyapanya. Namun, dia melewatiku begitu saja. Tanpa melirik ke arahku sedikit pun. Aku mengedipkan mataku beberapa kali, masih tak percaya dengan perlakuan Himchan padaku setiap kali bertemu. Aku pun mengikutinya dan memanggilnya.
“Kim Himchan!”
Himchan dan teman-temannya berhenti dan mereka semua memandangiku dengan heran. Kulihat Himchan menyuruh teman-temannya untuk pergi dulu. Aku pun menghampiri Himchan selepas kepergian teman-temannya.
“Apa kau sedang mencoba membuatku gila? Kenapa kau selalu menghindariku?”
“Kapan aku menghindarimu?”
Kapan? Kau bertanya padaku kapan? Kau selalu menghindariku dan sebisa mungkin tidak melakukan kontak mata denganku. Bahkan sampai sekarang pun kau begitu.”
Himchan seketika itu langsung menatap mataku. “Kalau kau memanggilku hanya untuk minta maaf, sebaiknya kau pergi. Kau menyukai Daehyun tapi berakhir mengungkapkan perasaanmu pada—”
“Bagaimana kabarmu?” tanyaku basa-basi, memotong perkataannya.
“Tidak baik.”
“Tapi kurasa tidak seburuk perasaanku...”
Himchan tersenyum, tapi senyumnya bukan senyum riang yang biasa melainkan senyuman yang menyimpan kecewa. “Kelihatan sekali kalau kau tidak makan dan tidur dengan baik.”
“Ya. Begitulah.”jawabku singkat sambil menunduk.
“Itu semua karena kau memanfaatkanku.” Ujar Himchan sarkas. “Aku masih memiliki banyak urusan, jadi aku lebih baik pergi sekarang.” Himchan berkata lalu bersiap pergi. Dia melirikku sebentar dengan tatapan menusuk.
“Kim Himchan!” seruku sedikit kesal karena perlakuan Himchan yang sudah keterlaluan.  “Aku tahu kau marah, tapi bagaimana bisa kau menjadi sekasar itu?”
“Bagaimana bisa kau menyebut kesungguhan hatiku itu kasar?” jawabnya sambil tersenyum santai. Jika tidak ada kata-kata yang—”
“Banyak hal yang ingin kukatakan, jadi jangan menginterupsi lagi dan dengarkan dengan baik.”
Himchan mengangkat bahunya lalu menatapku lurus.
“Ijinkan aku menyelesaikan permintaan maafku. Maafkan aku karena sudah membuatmu menerima pernyataan cinta palsuku dan membuatmu terluka. Aku akui saat itu aku tidak melakukannya dengan tulus, tapi bukan berarti permintaan maafku juga tidak tulus. Jika kau ingin tahu, aku lebih memilih untuk tidak memayungimu waktu itu. Jadi kita tidak akan pernah saling kenal dan tidak berakhir dengan saling memiliki perasaan. Sejak pertama kau tidak seharusnya mengatakan padaku bahwa kau menyukaiku dan membuat hatiku goyah. Jadi semua ini akan berakhir hari itu juga dan tidak akan menjadi serumit ini.”
Himchan lagi-lagi tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Aku menjadi emosi sendiri melihatnya.
“Kenapa kau tersenyum, eo? Aku mengatakan semua ini karena aku frustasi. Kau sama sekali tidak mau mendengarkanku.”
“Bahkan saat ini pun aku berpikir jika kau cantik. Hal itu lah yang membuatku marah.”
Aku diam mendengar kata-kata Himchan sambil memandanginya dengan tatapan tak mengerti.
“Aku minta maaf karena selama ini aku terlalu memaksakan perasaan sukaku padamu. ” katanya lalu berbalik pergi meninggalkanku.
Aku hanya bisa terdiam, terpaku di tempatku berdiri sambil memandangi punggung Himchan yang semakin menjauh dari pandanganku. Perlahan air mata mulai mengaliri pipiku tanpa aku sadari. Aku pun segera berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu dengan hati yang serasa hancur.

***

Aku menunggu Himchan di kafe dimana kami sering bertemu. Setiap hari aku selalu duduk termenung di kafe itu sambil berharap melihat Himchan datang ke sana. Tapi sudah beberapa hari ini sepulang kuliah aku menunggu dan Himchan masih saja tidak muncul. Kurasa dia memang sedang menghindariku dan mungkin... membenciku.
Pada saat seperti inilah aku baru menyadari bahwa aku hanya tahu sedikit tentang dia. Aku hanya tahu nama dan nomor ponselnya tanpa tahu dia masuk jurusan apa di universitas ini. Karena itulah aku hanya bisa menunggunya seperti ini.
Aku menyesap cokelat hangatku sambil melihat keluar, siapa tahu hari ini dia akan muncul. Lalu kuberanikan untuk mengirim pesan padanya, memberitahu kalau aku sedang berada di kafe untuk menunggunya. Tapi tentu saja tidak ada balasan darinya.
“Lihatlah diriku. Setengah mati ingin melihatnya, tapi dia tidak muncul-muncul juga. Betapa bodohnya...” gumamku sambil tersenyum sedih lalu mengeluarkan alat gambarku dan mulai melukis wajah Himchan.
Aku sesekali memandang ke arah jendela, memperhatikan tiap tetes air hujan yang jatuh di jalanan dan orang-orang yang berlalu-lalang. Sungguh ini suasana yang sempurna bagiku untuk merasa resah. Kalau dia tidak datang, tidak apa-apa. Kalau bukan sekarang, mungkin dia akan datang esok harinya. Kalau bukan esok, mungkin lusa.
Aku mendengarkan suara titik-titik air hujan yang jatuh dalam diam. Entah apa yang terjadi denganku, kurasa aku benar-benar sedang kacau. Bahkan suara air hujan pun terdengar bagaikan suara langkah kaki Himchan bagiku. Entah kenapa suara hujan musim semi kali ini begitu mengusikku. Aku bahkan tak dapat menjelaskan kegelisahan yang kurasakan dalam hatiku dari suara hujan musim semi ini. Orang-orang bilang kalau hujan musim semi adalah hujan yang akan memekarkan semua bunga. Setelah hujan musim semi berhenti, bunga-bunga akan berlomba untuk bermekaran dengan indah. Tapi apakah bunga-bunga di hatiku juga akan bermekaran setelah hujan musim semi ini reda? Aku tak peduli tentang hal itu sekarang, yang jelas saat ini aku benar-benar menginginkan hujan ini reda. Kenapa hujan turun begitu derasnya seperti tak pernah kenal lelah? Hujan ini benar-benar seperti sedang mengejekku.
Aku menutup buku gambarku lalu meletakkannya di atas meja. Aku menunduk sambil menutup mataku. Dengan begini aku bisa merasakan aroma kopi dan karamel yang tersebar di seluruh kafe dengan lebih kuat. Setiap mencium aroma kopi dan karamel, aku teringat pada Himchan. Tanpa terasa air mata mulai merembes dari kelopak mataku. Ya, meskipun baru sebentar aku memilikinya di hatiku, air mataku selalu saja mengalir tanpa ijin karenanya.
Setelah menunggu selama hampir dua jam, akhirnya aku memutuskan untuk pulang karena hujan sudah reda dan kafe ini juga sudah mulai sepi. Aku sedang  berjalan gontai menuju ke halte bus saat seseorang memanggilku. Aku menoleh dan mendapati Daehyun sedang duduk di bangku kecil di pinggir jalan sambil membawa segelas jus di tangannya. Dia memberi isyarat dengan tangannya yang bebas padaku untuk menghampirinya.
“Kenapa kau berjalan sendirian malam-malam begini?” tanyanya.
“Aku hanya sedang ingin jalan-jalan,” jawabku asal. “Lalu...kenapa kau memanggilku? Apa ada masalah?”
“Aku akan membuatnya singkat. Ini semua tentang Himchan.”
“Himchan?” tanyaku heran sekaligus kaget, untuk apa Daehyun berbicara tentang Himchan denganku?
“Ya. Himchan.”ujarnya pelan sambil menatapku. “Aku minta maaf jika kau menganggapku lancang atau apa. Tapi aku tahu tentang kau yang menyukai aku.”
Deg. Jantungku seakan mau keluar dari tempatnya saat Daehyun mengatakan hal itu. “Kau... kau tahu? Apa Himchan yang memberitahumu?” tanyaku terbata-bata.
“Himchan?” Daehyun tampak terkejut mendengar pertanyaanku. “Jadi maksudmu Himchan tahu bahwa kau menyukaiku?”
Aku mengangguk lemas.
“Bahkan walaupun dia tahu tentang hal itu, dia masih saja mengejarmu seperti itu. Kupikir dia benar-benar sudah tergila-gila padamu.” Daehyun menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“Jadi benar bukan Himchan yang memberitahumu?”
“Ya. Bukan Himchan yang memberitahuku, tapi gerak-gerikmu selama ini.” jawabnya dengan tatapan serius ke arahku. “Tapi jujur, dibanding kau, aku lebih khawatir pada Himchan karena dia sangatlah menyukaimu. Dan kupikir jika aku menyukaimu pun, aku tidak akan bisa menyukaimu sebanyak yang dilakukan Himchan.”
“Apa maksudmu dengan—”
“Kulihat sekarang kau juga mulai menyukainya. Perasaan dan hatimu sedikit demi sedikit telah berubah. Apa aku salah?” tanya Daehyun sambil tersenyum.
Aku diam memikirkan semua kata-kata Daehyun.
“Kau sudah membuat Himchan menunggu terlalu lama. Bagaimana jika hatinya berubah seperti yang terjadi pada hatimu?”
Mendengar kalimat itu, aku langsung berlari kembali ke kafe. Sebelum aku pergi, aku berkata pada Daehyun, “Aku merasa beruntung pernah kenal dan menyukai orang sepertimu...”
Dan kulihat Daehyun tersenyum mendengarnya.

***

Aku berdiri di depan kafe. Aku tersenyum saat melihat Himchan sudah ada di kursi di mana kami selalu duduk. Aku terdiam dan menatapnya sambil tersenyum kecil. Dia sedang menunduk dalam hingga tidak menyadari keberadaanku. Aku berjalan mendekati jendela kafe dan mengetuknya beberapa kali. Dia tampak terkejut saat melihatku. Aku tersenyum padanya dan dia pun membalas senyumanku. Aku kemudian mengambil buku gambarku dari dalam tas dan menunjukkan hasil lukisanku padanya. Lukisan yang menggambarkan suasana saat Himchan menciumku malam itu. Jujur saja, aku tidak pernah bisa melupakan momen itu dari pikiranku.
Dia buru-buru keluar dan menemuiku. Aku diam sambil membawa buku gambarku. Lalu kulihat dia menarik tanganku, mengambil buku gambarku dan melihat apa yang ada di dalamnya.
“Ini semua berisi gambarku?” tanyanya tak percaya.
“Ya. Aku hanya bisa meluapkan rasa rinduku padamu lewat gambar itu.”
Dia kemudian melihat gambar paling belakang yang tadi kutunjukkan padanya. Dia tersenyum lalu bergumam, “Aku merindukanmu...”
“Apa kau bilang?” tanyaku, pura-pura tidak mendengarnya.
“Kau tadi menungguku?” tanyanya.
Aku memicingkan mata berpura-pura kesal padanya. “Ya.”
“Apa kau menunggu dalam waktu yang lama lagi?”
“Ya. Karena itu bisakah kau berhenti bersikap keras kepala?”
“Ponselku tertinggal di rumah dan saat aku pulang aku baru membaca pesanmu. Kupikir tadi kau sudah pergi,” katanya.
“Aku memang sudah pergi, tapi hatiku membawaku untuk kembali ke sini. Aku benar-benar kesal. Apa gunanya aku menyukaimu jika hanya membuatku menderita? Tidak tahukah kau jika beberapa hari ini aku menunggumu di sini hanya untuk melihatmu?”
“Apa kau melakukannya karena kau...menyukaiku?” tanyanya.
“Kau tidak tahu?” aku tersenyum lagi. “Padahal sebelumnya kau yang dengan agresif mengejarku. Tapi kuakui aku memang menyukaimu, Kim Himchan. Aku bilang aku menyukaimu. Sudah agak lama sebenarnya. Tapi karena aku takut kau menilaiku sebagai orang yang gampang jatuh cinta, aku tidak berani menunjukkannya. Aku mengatakan semua ini bukan agar kau menerimaku atau apa, jadi kalau kau mau menolakku—”
Kata-kataku langsung terpotong karena tiba-tiba Himchan mengecup bibirku dengan lembut.
“Ya! Kau tidak bisa melakukannya secara tiba-tiba seperti itu!” protesku.
“Ternyata kau benar-benar banyak bicara, tapi pengakuan cintamu itu cukup berkesan, Jung Eunji.” Himchan kemudian mendekatiku lagi lalu dengan lembut dia mencium bibirku. Aku bisa merasakan bahwa dia juga sedang menahan napas, seperti halnya aku. Tangan kirinya kemudian turun dari pipiku ke bahuku. Aku memeluknya dengan erat seolah tak ingin melepaskannya. Perlahan dia melepas pelukannya dariku. Kita berdua saling menatap untuk beberapa saat tanpa ada yang memulai pembicaraan. Sampai pada akhirnya Himchan bertanya padaku, “Sejak kapan kau mulai menyukaiku?”
Aku tertawa mendengar pertanyaannya.
“Apa yang kau sukai dariku?” tanyanya lagi.
“Karena kau tampan sekaligus cantik seperti bunga yang mekar di musim semi,” jawabku jujur.
“Tidak perlu menyebutkan hal itu. Sebutkan sesuatu selain yang sudah diketahui seluruh negeri.”
Aku menahan senyum mendengar ucapannya. Dia kembali menjadi Himchan yang narsis dan selalu membanggakan dirinya.
“Saat kau mengatakan akan memulai kisah cinta bertepuk sebelah tanganmu denganku, aku merasa gugup. Tiap kali kita bertemu dan kau selalu mengatakan perasaanmu padaku, aku merasa sedikit terharu. Saat kau memintaku untuk sedikit saja menyukaimu, aku sudah mulai bimbang dengan perasaanku sendiri. Saat kau bilang kau akan melepasku, untuk pertama kalinya aku merasa takut. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika kau tidak menyukaiku lagi,” jelasku panjang lebar.
“Sejak pertama aku melihatmu aku sudah berpikir seperti itu. Apa yang harus kulakukan jika yeoja ini tidak menyukaiku?”
Himchan kemudian menggandeng tanganku lalu membukakan pintu mobilnya untukku.
“Ternyata kau lebih penyabar daripada perkiraanku,” ujar Himchan sambil menyetir mobilnya.
Aku menoleh ke arahnya lalu bertanya, “Apa?”
Dia menoleh sebentar ke arahku lalu menjawab, “Menyukaiku seperti itu, tapi bagaimana bisa kau menyembunyikannya?”
“Aku tidak tahu,” ucapku lalu mengangkat bahu. “Lalu bagaimana dengan yeoja yang membuatmu mengusirku? Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja?” tanyaku sarkastis.
Himchan tertawa keras mendengarnya. Dia kemudian meminggirkan mobilnya.
“Kenapa tertawa?” tanyaku sengit.
“Jadi saat itu kau benar-benar cemburu ya?” tanyanya di sela tawa. “Aku hanya menyuruhnya membantuku untuk membuatmu cemburu, tahu. Aku sudah putus asa saat itu karena kau terus saja menolakku dengan kasar.”
Mendadak aku merasa bersalah karenanya. “Maafkan aku. Saat itu aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri hingga...” ucapanku berhenti di tengah-tengah karena aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. “Yang jelas aku tidak bermaksud membuatmu—”
“Lupakan. Aku tidak merasa kau mempunyai salah padaku. Maafkan aku beberapa waktu lalu karena telah berpura-pura membencimu, berkata kasar dan membuatmu sedih. Aku menyesal.”
Aku mengangguk sambil tersenyum padanya. Dia kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari laci dalam mobilnya. Kurasa aku sangat mengenali kotak itu. Himchan mengulungkan kalung itu padaku sambil tersenyum.
“Kali ini kau mau menerimanya kan?” katanya.
Aku mengangguk sambil menatapnya dalam-dalam.
Dia mengeluarka kalung di dalamnya dan bersiap memakaikannya padaku. “Sini biar kupakaikan...”
Jantung berdetak sangat cepat saat kedua lengan Himchan melingkari leherku. Jarak wajah kami saat itu pun teramat dekatnya hingga membuatku semakin gugup. Setelah memakaikan kalung itu padaku, Himchan kembali mengecup bibirku dengan lembut. Lagi-lagi dia berhasil membuat wajahku semerah tomat.
“Baiklah. Sekarang kita benar-benar berangkat,” katanya lalu menyalakan mesin mobilnya kembali.
“Sebenarnya sekarang kita mau pergi kemana?”
“Tentu saja ke rumah,” jawabnya sambil terus melihat ke jalan.
“Rumah siapa?” tanyaku polos.
“Tentu saja rumahmu.” Himchan tersenyum senang lalu melanjutkan, “Atau kau ingin pergi ke rumah Daehyun?”
Aku langsung menoleh padanya dan memelototinya. “Kau ini benar-benar ya. Apa kau sedang cemburu saat ini?”
Dia mengangkat bahu lalu melirikku sambil tersenyum jahil. “Aku kan hanya menawarkan.”


***

Yeah... so that's right that flower in my heart blossoms after the spring rain.
 

My Fictional World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea