Selasa, 06 November 2012

[FF SERIES] Love Doesn't Need a Password PART 3

Diposting oleh hunhanbuin di 07.50 0 komentar
Title : Love Doesn’t Need a Password
Author : Sonia aka. Han Minji
Genre : Romance, friendship, drama.
Main casts : Kris, Byun Baekhyun, Juniel as Choi Junhee, IU as Lee Jieun, and other cameos.


***
Aku tidak tahu kata apa yang bisa membuka pintu hatimu untukku. Karena yang kutahu, cinta tidak membutuhkan kata kunci.” -Kris
***

Mereka sampai di depan pintu ruang rawat inap Baekhyun. Junhee bersandar ke dinding di samping pintu, mendongak menatap Kris. "Terimakasih untuk hari ini," katanya sambil berusaha menjaga nada suaranya agar tetap normal.
“Harusnya aku yang berterima kasih padamu,” Kris kelihatan enggan melepas tangan Junhee. "Kau mau tidur ya?"
"Apa kau tidak lelah?" tanya Junhee.
"Aku tidak pernah merasa sebangun ini," dia menunduk untuk mencium Junheelagi. Bibir mereka kembali bersentuhan . Awalnya terasa ringan dan lembut, lalu dengan tekanan yang semakin kuat tiap detiknya. Tepat pada saat itulah Baekhyun membuka pintu dan melangkah keluar. Baekhyun mengerjap. Rambutnya terlihat sangat kusut. Matanya yang setengah terbuka langsung melebar saat melihat dengan jelas adegan yang terjadi di depan matanya. "Ya! Apa-apaan ini?" dia bertanya dengan sangat keras, hingga Junhee melompat dari Kris, seakan sentuhan dari namja itu membakar kulitnya.
"Byun Baekhyun! Kau sedang apa di sini? Maksudku, aku kira kau sedang..." ujar Junhee gelagapan.
"Tidur? Tadinya iya," kata Baekhyun. Wajahnya memerah, memang seperti itu kalau dia sedang marah atau malu. "Lalu aku bangun dan kau sudah tidak ada di dalam, jadi aku..." Baekhyun tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Junhee diam, dia tidak bisa memikirkan sesuatu pun untuk dikatakan. Kenapa tak pernah terpikir olehnya jika hal seperti ini akan terjadi? Jawabannya mudah saja. Dia telah lupa tentang Baekhyun, sama sekali.
"Mianhae," kata Junhee, tapi tidak yakin kepada siapa kata itu ditujukan. Dari sudut matanya, dia melihat Kris menatapnya dengan amarah putih.
"Di masa depan, Junhee-ssi," kata Kris. "Lebih bijaksana kalau kau memberitahuku jika kau sudah memiliki namja lain."
"Kami hanya berciuman," kata Junhee, lebih kepada Baekhyun.
"Hanya berciuman?" nada suara Kris berubah sinis.
"Kris..." Junhee melihat kemarahan yang terselubung dalam mata Kris, maka dia pun berhenti bicara.
"Baekhyun-a, maaf karena telah membangunkanmu." kata Junhee, hanya kata-kata itu yang terpikir olehnya untuk meredam kemarahan sahabatnya.
"Aku juga minta maaf sudah mengganggu acara kalian." Baekhyun melangkah masuk ke dalam, lalu membanting pintu dengan keras.
Kris mengangkat ujung kanan bibirnya, seperti biasa saat dia ingin mengejek seseorang. "Pergilah. Kejar dia. Tepuk-tepuk kepalanya dan bilang padanya jika dia tetaplah pria kecil super spesialmu. Bukankah itu yag ingin kaulakukan sekarang?"
"Geumanhae." kata Junhee. "Berhentilah bersikap seperti itu."
“Seperti apa?”
“Seperti kau baik-baik saja.” Jawab Junhee dengan penuh penekanan. “Kau pikir kau orang yang jujur? Berhentilah berbohong. Kau sangat suka bertingkah sok keren, tapi kau tidak pernah menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya.”
Senyum Kris melebar, tapi tatapannya sangat menohok. Dia menatap Junhee lekat-lekat. "Tenang saja, Choi Junhee. Ciuman tadi tidak terlalu berkesan bagiku kok," Kris berbalik pergi dan berjalan dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Junhee memperhatikannya berjalan menjauh. Dia merasakan campuran rasa ingin menangis sekaligus ingin menampar namja itu (lagi). Dia kemudian masuk ke dalam kamar untuk menjelaskan semua ini pada Baekhyun.
Di sana, Baekhyun sedang berdiri di tengah ruangan dalam diam. Junhee kemudian mendengar kembali gema suara Kris dalam benaknya. Suara itu berkata dengan jahat, Tepuk-tepuk kepalanya dan bilang padanya jika dia tetaplah pria kecil super spesialmu.
Junhee melangkah mendekati Baekhyun. "Byunbaek, dengar dulu..."
Baekhyun menyela dengan kaku lalu berjalan menuju tasnya yang tergeletak di sofa. "Tapi aku harus mengemasi barang-barangku."
"Kau mau ke mana?"
"Pulang,” jawabnya singkat.
Junhee mendesah. "Dengar, aku tidak bermaksud menciumnya. Itu semua terjadi begitu saja. Aku tidak tahu jika kau akan sangat marah
“Benarkah? Apa aku terlihat sangat marah sekarang?” Baekhyun memotong dengan tajam.
”Aku tahu kau tidak suka padanya. Tapi tolong"
"Tidak," potong Baekhyun dengan sinis. "Aku tidak suka samgyupsal, aku tidak suka matematika, aku tidak suka penyanyi yang hanya modal tampang dan aku benci Kris. Bisakah kau lihat perbedaannya?" kata Baekhyun dengan penekanan di kata ‘benci’.
Amarah Junhee langsung tersulut mendengar itu semua. "Jadi, memangnya kenapa kalau Kris menyebalkan? Kau bukan ayahku, juga bukan kakakku atau siapapun. Kau tidak harus menyukainya. Aku tidak pernah menyukai satu pun yeoja yang dekat denganmu, tapi setidaknya aku cukup sopan untuk menyembunyikan hal itu."
"Itu berbeda," geram Baekhyun di antara giginya.
"Kenapa bisa berbeda, eo?"
"Karena aku melihat caramu menatapnya! Kau tidak pernah menatap namja lain seperti kau menatapnya. Bahkan pada Chanyeol." serunya dengan keras, hampir seperti teriakan. "Selain itu, aku juga tidak pernah menatap satu pun dari yeoja-yeoja yang pernah berkencan denganku seperti itu! Bagiku, mereka semua hanya untuk berlatih sampai..."
"Sampai apa?" seru Junhee tak kalah keras. Sepertinya mereka berdua sudah lupa bahwa mereka sedang berada di rumah sakit.
Semuanya terasa sangat buruk. Mereka bahkan belum pernah bertengkar sampai saling berteriak seperti ini sejak mereka masih di bangku SMP. Tapi Junhee sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. "Sampai kau mendapat yeoja lagi untuk kau permainkan?" suara Junhee meninggi.
"Aku sedang membuatmu cemburu." desis Baekhyun, kedua tangannya mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih. Dia memejamkan matanya beberapa saat, lalu menatap Junhee lurus-lurus. "Choi Junhee, kau bodoh. Sangat bodoh. Kau tidak bisa melihat apa-apa ya?"
Junhee menatap Baekhyun dengan bingung, "Mencoba membuatku cemburu? Maksudmu apa?"
Baekhyun menghela napas panjang, tak percaya bahwa dia harus menjawab pertanyaan yang seharusnya Junhee sudah tahu jawabannya. "Karena aku telah jatuh cinta  padamu sejak kita masih di SMP. Jadi kurasa sepertinya sudah waktunya untuk mencari tahu apakah kau merasakan hal yang sama denganku atau tidak. Tapi ternyata jawabannya tidak." Baekhyun tersenyum getir.
Junhee tidak bisa menyanggah lagi. Dia menyesal telah mengajukan pertanyaan itu, dia pikir itu adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah diajukannya. Dia merasa seperti Baekhyun telah menamparnya dengan keras hingga dia merasa pusing dibuatnya. Dia memandangi Baekhyun, mencoba memberi tanggapan, tapi Baekhyun memotongnya dengan tajam. "Malhajima. Tak ada yang bisa kau katakan..."
Junhee melihatnya berjalan melewati pintu. Sebenarnya dia sangat ingin menahannya, tapi dia tidak bisa mengatakan apapun pada Baekhyun. Dia tidak mungkin berkata padanya ‘Aku mencintaimu’ karena kenyataannya Baekhyun hanya dianggapnya sebagai sahabat sekaligus kakaknya. Pintu tertutup di depan Junhee, dan dia pun kini sendirian.

Setelah Baekhyun pergi, Junhee membenamkan dirinya ke dalam kasur. Choi Junhee, kau bodoh. Sangat bodoh. Kau tidak bisa melihat apa-apa ya?
Junhee kemudian teringat ratusan hal yang telah Baekhyun katakan atau lakukan, lelucon yang dibuat teman-teman mereka tentang dirinya dan Baekhyun dan juga percakapan yang terhenti saat Junhee masuk ke dalam ruangan.
Dan satu hal yang paling penting, Kris telah mengetahui hal ini sejak awal. Pernyataan cinta itu menggelikan, apalagi kalau tak terbalas.
Dulu dia tak bisa berhenti bertanya apa maksud semua hal itu, tapi sekarang yeoja itu mengerti. Sangat mengerti.

***

“Junhee-ya!” ibu Baekhyun berseri-seri wajahnya saat melihat yeoja itu berdiri di undakan depan rumahnya. “Sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Aku sudah mulai khawatir jika kau dan Baekhyun bertengkar.”
“Oh, tentu saja tidak.” Jawab Junhee, tentu saja dia berbohong.“Saya hanya sedang sibuk dengan kegiatan kampus dan sedikit kelelahan.”
“Pasti sama seperti Baekhyun. Beberapa hari yang lalu, dia hampir tidak bisa bangun dari ranjangnya.”
“Tapi sekarang dia sudah baikan, kan?” kata Junhee khawatir, mengingat terakhir kali dia melihat Baekhyun penuh memar seperti itu.
“Dia sudah terlihat lebih baik kok. Kurasa dia sekarang ada di luar, di taman belakang rumah. Ke sana saja lewat gerbang pagar.” Ibu Baekhyun tersenyum. “Dia pasti senang melihatmu.”
Junhee menutup gerbang di belakangnya lalu mencari sosok Baekhyun. Sahabatnya itu ada di taman belakang—seperti yang dikatakan ibunya—dan dia sedang duduk di ayunan dengan pandangan kosong ke depan. Saat melihat Junhee, dia segera menegakkan posisi duduknya dan memasang ekspresi datar.
Junhee melihat sekeliling dan sedikit menggigil, lalu merapatkan jaket yang dipakainya. “Kau sedang apa di sini? Cuacanya sedang tidak bagus. Apa kau tidak kedinginan?”
Baekhyun bergeming, pandangannya masih lurus ke depan. Sedetik pun dia tidak menatap ke arah Junhee.
 “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,” kata Junhee. Dia kini duduk di ayunan, di sebelah Baekhyun.
Baekhyun yang berada di sampingnya hanya menatapnya tanpa berkata apapun, bahkan setelah mereka lama sekali terdiam dalam suasana yang canggung.
“Mianhae,” kata Junhee pelan. “Atas perkataanku di rumah sakit saat itu, aku minta maaf. Saat itu aku benar-benar sedang dikuasai oleh emosi.” Junhee menahan napas sejenak lalu menghembuskannya pelan,“Aku selalu menjadi sahabat yang egois. Aku tidak pernah memikirkan perasaanmu. Aku menyesali semua itu.”
“Apa kau ke sini hanya untuk mengatakan itu?” tanya Baekhyun sinis.
Junhee menelan ludah, dia tidak pernah melihat ekspresi Baekhyun yang seperti itu. Ini pertama kalinya sahabatnya itu terlihat sangat marah padanya. Dari matanya, Junhee bisa melihat jika ada kesedihan, kemarahan dan satu rasa tak terjelaskan darinya.
“Aku tanya padamu. Apa kau ke sini hanya untuk mengatakan itu?” ulang Baekhyun, lebih seperti mengintimidasi Junhee. “Jika iya, lebih baik kau pergi saja. Aku sedang ingin sendiri.”
“Aku tidak ada hubungan apapun dengan Kris, kumohon percayalah padaku,” kata Junhee tiba-tiba dengan nada memohon.
“Kau ada hubungan atau tidak dengannya, aku tidak peduli,” jawab Baekhyun kaku.
“Aku tahu aku salah, tapi janganlah seperti ini.”
Baekhyun berdiri, Junhee pun mengikutinya dan kini mereka berdiri berhadapan.
 “Tidak. Kau tidak bersalah, Choi Junhee. Aku yang salah. Aku yang salah karena diam-diam telah menganggap hubungan kita lebih dari sahabat.”
“Byun Baekhyun…” sela Junhee.
“Aku mengerti semuanya, jangan khawatir. Kau suka namja yang bertubuh tinggi dan kaya. Aku mengerti jika aku bukanlah tipe namja yang kau sukai.”
“Geumanhaehentikan, Byun Baekhyun,” kata Junhee pelan. Matanya mulai memanas, air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.
“Kau bilang aku orang terpenting bagimu setelah keluargamu? Kurasa itu hanya kau katakan untuk menyenangkan hatiku saja.”
 “Geumanharagohentikan, kataku!”
“Kau bisa berhenti memedulikanku sekarang. Aku tidak butuh rasa kasihanmu lagi,” teriak Baekhyun, lalu sedikit terengah karena emosi. “Seseorang yang bukan siapapun sepertiku tidak akan pernah berharga untukmu. Karena itu, pergilah saja pada Kris!”
Air mata Junhee tumpah. Dia tidak pernah mengira Baekhyun akan mengucapkan kata-kata kejam seperti itu padanya. Tanpa disadarinya, tangan kanannya terangkat dan melesat ke pipi Baekhyun. Baekhyun langsung terdiam, sedikit kaget dengan tamparan yang baru saja mendarat di pipinya. Ini pertama kalinya dia ditampar oleh seseorang dan orang itu adalah sahabatnya sendiri. Dia kemudian menatap Junhee yang kini sedang menatapnya dari balik air mata. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, akhirnya dia pergi meninggalkan Junhee menangis sendirian di taman itu. Kedua kaki yeoja itu terasa lumpuh, dia pun jatuh bersimpuh dalam penyesalan. Dia tak percaya jika dalam waktu kurang dari seminggu dia bisa kehilangan sahabat yang dikenalnya selama belasan tahun.

***

“Sehun-a, kau lihat? Aku memang paling hebat dalam merusak segala hal. Sekarang Baekhyun marah padaku, dan Kris…” kata Junhee sambil memandangi poster Sehun saat dia baru saja pulang dari rumah Baekhyun.
“Ah, lupakan soal dia. Aku tidak peduli lagi. Sehun-a, kurasa seumur hidupku aku hanya akan memandangimu seperti ini. Karena aku tahu, kau tidak akan menyakitiku. Bukan. Kau tidak bisa menyakitiku karena kau hanya ada dalam khayalanku. Benar, kan?”
“Tenang saja, Junhee. Aku akan selalu ada di sampingmu dan tentu saja aku tidak akan menyakitimu,” ujar Sehun dalam khayalannya.
“Eung, aku tahu…”

***

Sejak peristiwa di rumah sakit itu, Junhee sudah tidak pernah lagi bertemu Kris. Bahkan saat latihan untuk pertunjukan tahunan kampus pun namja itu tidak datang. Sesekali Junhee berkeliling di fakultas Kris hanya untuk mencari di mana namja itu. Kesan terakhir yang dimilikinya dengan namja itu sangatlah tidak enak untuk dikenang. Junhee takut jika Kris tidak datang ke kampus hanya karena tidak mau melihat dirinya. Dia sedikit khawatir jika terjadi sesuatu dengan namja itu.
Hari ini adalah kali ke-4 Junhee berlatih tanpa Kris. Namja itu benar-benar hilang tanpa petunjuk yang jelas.
“Bagaimana mungkin dia bolos berlatih seperti ini tanpa ijin, eo?” gertak Im Gyosunim saat mengabsen daftar hadir latihan. “Anak nakal itu, jika dia belum juga kembali minggu ini, aku akan benar-benar mengeluarkannya dari daftar performer.”
“Ya, benar. Ini juga membuatku marah. Gunakan kesempatan ini untuk mengeluarkannya dari acara ini. Hanya melihat kelakuannya saja, aku sudah merasa muak dan cemas,” kata Baekhyun menambahi dan perkataannya pun disetujui oleh Gyosunim.
Seketika itu, Junhee menoleh pada Baekhyun dan menatap namja itu lekat-lekat. Baekhyun membalas tatapannya lalu membuang mukanya ke arah lain.
Byunbaek, sebegitu bencinyakah kau pada Kris? batin Junhee.
“Junhee-ya…” panggil Jieun sambil menyikut lengan Junhee pelan.
“Eung?”
“Apa ada masalah serius antara kau dan Baekhyun? Kulihat akhir-akhir ini kalian jarang berbicara. Tidak seperti biasanya,” tanya Jieun seraya menatap Baekhyun lalu beralih ke Junhee.
“Memang ada masalah di antara kami, tapi aku akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin…” ujar Junhee dengan senyum yang agak di paksa di wajahnya. “Aku tidak tahan jika terus seperti ini.”
“Choi Junhee,” panggil Im Gyosunim.
“Ne?” jawab Junhee, sedikit kaget.
“Kau dan Baekhyun aku tugaskan membuat lagu penutup  untuk acara tahunan kita.”
“Jegayo—aku?” tanya Junhee, berusaha meyakinkan.
Im Gyosunim mengangguk. “Kalian berdua memiliki pengalaman dalam mengaransemen lagu.” Gyosunim mengalihkan pandangannya pada Junhee, “Dan aku dengar  kau ingin mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Ini bisa menjadi jalan pintasmu. Jadi, kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik mulai saat ini.”
Junhee terlihat bimbang untuk mengambil keputusan. Dia masih merasa canggung untuk sekedar berbicara dengan Baekhyun. Dia lalu menatap Baekhyun selama beberapa detik, seolah jawabannya ada pada diri namja itu.
“Wae? Apa kau tidak percaya diri dengan kemampuanmu?” tanya Gyosunim pada Junhee.
Junhee menggelengkan kepalanya beberapa kali, “Aniyo.” Dia kemudian menoleh ke arah Baekhyun yang kelihatan acuh tak acuh,“Tentu saja saya akan mencobanya,” jawab Junhee pada akhirnya.
“Nah, ini baru Junhee yang kutahu.” Kata Im Gyosunim seraya menyerahkan beberapa lembar dokumen pada Junhee dan Baekhyun. “Ini adalah penjelasan tentang tema pertunjukan kali ini. Baca dan pahami.”
“Ne, Gyosunim.” jawab mereka berdua dengan kompak.

***

Selesai latihan, Baekhyun dan Junhee diminta oleh Im Gyosunim untuk datang ke ruangannya dan membicarakan tentang lagu penutup pertunjukan. Setelah menyelesaikan diskusi mereka, Baekhyun berjalan di samping Junhee dan berkata dengan datar, “Jangan memaksakan dirimu. Jika kau tidak mau melakukannya, aku akan menjelaskannya pada Im Gyosunim,” ujar Baekhyun lalu mengangsurkan sekaleng soda pada Junhee.
Junhee menerimanya lalu tersenyum kecil. “Jangan khawatir, aku tidak memaksakan diri kok.”
“Bukankah itu akan menyusahkanmu jika bekerja sama denganku?”
“Bagaimana mungkin itu menyusahkanku? Karena pertunjukan itu lah kita akan sering bertemu lagi. Bukankah itu bagus?”
“June.”
“Wae?”
“Aku ingin minta maaf atas perkataan kasarku padamu...”
“Tidak usah minta maaf pun aku sudah memaafkanmu. Karena aku berharap kita bisa terus menjadi sahabat yang bisa bertengkar dan bercanda sepanjang waktu.”
“Begitu, ya?” Baekhyun tersenyum tipis. Ada rasa sakit yang disamarkan dalam senyumnya.
“Emmm... Aku ke toilet sebentar ya.”kata Junhee.
“Ya, Choi Junhee!” panggil Baekhyun sambil mengocok kaleng soda yang dibawanya.
Junhee baru saja menoleh saat Baekhyun membuka kaleng soda itu dan isinya langsung menyembur keluar mengenai baju Junhee.
Junhee berseru kesal sambil membersihkan bajunya.
“Kau benar-benar lambat,” kata Baekhyun di sela tawanya.
Junhee menatap Baekhyun dengan sengit lalu mengocok kaleng yang ada di tangannya kuat-kuat. “Byun Baekhyun, aku akan membalasmu! Kemari kau!” serunya sambil mengejar Baekhyun yang berlari menghindarinya.
Sudah lama sekali rasanya mereka tidak bermain-main seperti ini. Tertawa lepas bersama seperti sepasang anak kecil. Mereka benar-benar merindukan suasana seperti ini. Suasana masa kecil mereka yang penuh canda tawa.

***

Saat berada di dalam mobil ketika perjalan menuju rumah, keduanya kembali merasa canggung satu sama lain, sehingga mereka hanya saling diam. Junhee menopang kepalanya dengan sebelah tangan, pandangannya kosong. Pikirannya kembali melayang pada sosok Kris yang seminggu lebih sudah tak dilihatnya. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dia tidak datang ke kampus beberapa hari ini? Kenapa dia tidak meneleponku? Apa dia sakit?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berputar secara berulang-ulang di benaknya, membuatnya merasa semakin galau akan perasaannya. Dia bahkan lupa jika sekarang dia sedang bersama Baekhyun yang notabene sangat membenci Kris.
Junhee kemudian mengambil beberapa bungkus coklat dari tasnya lalu memakannya dengan kalap.
“June. Apa ada sesuatu yang mengganggumu lagi?” cetus Baekhyun memecah keheningan di antara mereka berdua.
“Eoptta—tidak ada,” jawab Junhee singkat sambil terus mengunyah coklatnya.
“Kau sudah makan banyak makanan penutup waktu istirahat latihan. Mulai dari Es krim, cake, bagel dan sekarang coklat. Tidakkah ini berlebihan?” cerocos Baekhyun tanpa jeda. Dia sudah kembali menjadi Baekhyun yang cerewet.
“Ini makanan penutup setelah makanan penutup,” jawab Junhee asal.
“Kurasa aku tahu kenapa kau jadi seperti ini,” kata Baekhyun lagi. Ada rasa kesal dalam nada bicaranya.
Junhee diam tak menanggapi pernyataan Baekhyun dan terus saja makan.
 “Kau pasti sekarang sudah penuh sampai ke tenggorokan…” tanggap Baekhyun seraya menatap Junhee dengan pandangan khawatir.
Junhee menoleh pada Baekhyun dan meminta sahabatnya itu untuk menghentikan mobil karena dia merasa ingin muntah.
Baekhyun melihatnya keluar mobil dengan buru-buru dan muntah di selokan. Dia kemudian memukulkan tangannya dengan geram ke stir mobilnya. “Aissh. Bagian mana darinya yang bisa membuat Junhee segamang ini?” desisnya.

***

Hari berikutnya, Kris masih belum muncul juga di area kampus dan juga di latihan pertunjukan. Junhee kemudian bertanya pada Im Gyosunim apakah Kris sudah memberi kabar tentang ketidakhadiarannya atau belum. Im gyosunim menjawab jika Kris sedang sakit sekarang. Hal ini membuat Junhee semakin khawatir pada keadaan namja itu.
“Junhee-ssi. Kulihat akhir-akhir ini lingkaran hitam di bawah matamu semakin jelas saja,” tanggap Jieun yang kini sudah menjadi teman dekat Junhee. “Apa terjadi sesuatu?”
Junhee tak menanggapi dan terus mencoba meremah permen lolipop yang dibawanya.
Baekhyun yang melihatnya langsung mendesah, “Lebih baik makan coklat atau es krim. Hati-hati agar gigimu tidak patah.”
Junhee kemudian mengambil ponsel dari saku celananya, mengecek apa ada pesan untuknya atau tidak. Dia sangat berharap Kris memberitahu dimana dirinya sekarang.
“Ponselmu juga tidak berdering sepanjang hari,” tambah Baekhyun. Dia tidak pernah melihat Junhee segalau ini sebelumnya. Dia kemudian mendatangi Junhee dan merebut lolipop yang berada di tangan yeoja itu.
“Jika kau ingin tahu, kenapa kau tidak pergi dan menemukannya?” ucap Baekhyun.
Junhee kaget menyadari apa yang dilakukan oleh namja itu sekarang.
“Bukankah kau bisa menanyakan alamatnya pada Im gyosunim? Beliau pasti punya data pribadi semua performer,” lanjut Baekhyun. “Jika aku jadi kau, aku pasti sudah melakukannya sejak dulu.”
Setelah mengatakan itu semua, Baekhyun pergi ke luar ruang teater dengan ekspresi sebal sekaligus menyesal karena telah menyarankan hal itu.
Junhee terdiam sejenak dan memikirkan kata-kata Baekhyun. Dia kemudian pergi ke ruangan Im Gyosunim untuk mencari tahu alamat rumah Kris.

***

“Siapa yang kaucari, gadis cantik?” tanya seorang ajumma pada Junhee ketika yeoja itu sedang mencocokkan alamat yang dibawanya dengan plat yang ada di depan sebuah rumah.
“Apa Kris tinggal di sini?” tanya Junhee setelah membungkukkan badannya pada wanita setengah baya itu.
“Kau teman kuliahnya atau kekasihnya?” tanya ajumma itu ramah.
“A…aku bukan kekasihnya. Benar-benar bukan kekasihnya,” jawab Junhee agak gelagapan. “Kami kenal karena kami sama-sama menjadi performer untuk acara tahunan kampus.”
“Sebenarnya, ini pertama kalinya seorang yeoja datang kemari untuk mencarinya.”
Junhee tersenyum samar mendengar kata-kata ajumma itu.
“Bocah itu bahkan tidak memberitahu apapun padaku,” lanjutnya.
“Tapi, dapatkah saya tahu apa hubungan ajumma dengan Kris?”
Ajumma itu tersenyum ramah. “Aku pengasuhnya sejak kecil.”
“Pengasuhnya? Apa ajumma bekerja di sini tak lama setelah Eomma Kris meninggal?”
“Ne. setelah Ibunya meninggal…” Ajumma itu kemudian menunjukkan ekspresi heran dan tidak melanjutkan kalimatnya. “Bahkan dia menceritakan tentang ini padamu?”
“Eo? Aniyo. Dia hanya mengatakan jika ibunya sudah meninggal.”
“Dia sudah hidup tanpa ibu sejak umur lima tahun. Karena kecelakaan pesawat, dia kehilangan ibu yang sangat dekat dengannya. Tidak hanya itu, ayahnya juga membencinya karena dia pikir Kris lah yang membuat istrinya meninggal.”
Junhee kemudian diam dan memperhatikan ajumma itu bercerita panjang lebar tentang kehidupan Kris.
“Eum… apa sekarang dia sedang sakit?” tanyanya saat ajumma itu selesai bercerita.
“Sakit? Siapa yang sakit?” ajumma itu malah balik bertanya, “Jika yang kau maksud itu Kris, dia sedang ada di luar negeri sekarang. Ada sesuatu yang harus dikerjakannya di sana. Oh ya, besok hari ulang tahunnya. Aku tidak tahu apakah dia akan membuat sup rumput laut atau tidak.”
Ajumma itu memandangi Junhee lekat, lalu tersenyum. “Ayo masuk ke dalam. Kau akan mengenalnya lebih baik.”
Junhee mengangguk lalu mengikuti ajumma itu. Dia akhirnya sampai di sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang keluarga. Mata Junhee langsung tertuju pada jajaran foto yang berada di sebuah meja kecil di pojok ruangan. Itu adalah foto keluarga. Ada seorang  ibu muda yang cantik di sana. Junhee dapat menebak jika itu adalah ibu Kris. Mereka terlihat sangat bahagia di foto itu. Kris juga terlihat masih sangat lucu.
Junhee menyentuh wajah Kris di foto itu lalu tersenyum. Aku benar-benar ingin tahu tentangmu. Aku ingin mengenalmu lebih dalam…
Mata Junhee kemudian tertuju pada sosok namja yang menggendong Kris di salah satu foto itu.
“Ajumma, ini ayah Kris ya?”
“Eung, dia ayah Kris.”
“Dia tidak terlihat seperti ayah yang jahat…” gumam Junhee.
“Dulunya memang begitu. Tapi setelah Ibu Kris meninggal, dia mulai berubah.”
“Dia tidak boleh seperti itu. Kris juga membutuhkan kasih sayangnya. Dia sudah kehilangan ibunya, tidak seharusnya dia kehilangan perhatian dari ayahnya, kan?”
“Aku juga berpikir seperti itu. Tapi apa boleh buat?” ujarnya. “Dari kecil, Kris selalu menyendiri. Dia tidak pernah mempunyai teman. Saat kau berkata bahwa kau temannya, aku merasa sedikit kaget karena baru kali ini ada teman Kris yang datang ke rumah ini.”
“A, geuraeyo?”
Setelah menanyakan tentang Kris pada ajumma, Junhee pamit pulang. Dia kemudian pergi ke sebuah toko baju dan membelikan sebuah syal untuk hadiah ulang tahun namja itu. Sekarang akhir musim gugur dan Junhee ingin memberikan sesuatu yang bisa menghangatkan namja itu di musim dingin. Junhee terus tersenyum menatap kado yang dibelinya untuk Kris. Ponsel Junhee berdering nyaring dan dia merasa sangat senang. Dia berpikir jika itu adalah telepon dari Kris, tapi ternyata bukan. Junhee mendesah, dia kemudian melihat Kris berdiri di depannya dengan senyum pongahnya.
“Ya, Choi Junhee! Apa kau masih menunggu telepon dariku? Tidakkah kau pikir kau sedikit berlebihan dalam menyukaiku? Aku jadi merasa sedikit cemas.”
Junhee terdiam, dia baru saja membuka mulutnya untuk menjawab saat menyadari bahwa itu semua hanya bayangannya saja. Nyatanya, Kris sedang tidak ada di sana.
Junhee terduduk di bangku halte. Tatapannya menerawang ke depan. Dia merasa kepalanya terayun ke belakang seolah baru saja ditampar oleh seseorang dan membuatnya sadar apa yang baru saja dilakukannya.
Benar… karena kita berdua hanyalah orang asing. Maafkan aku. Aku sedikit berlebihan.

***

Hari berikutnya, seperti biasa Junhee makan di kantin sebelum masuk ke kelas. Ketika memasuki pintu kantin, dia langsung terpaku di tempatnya. Di sana, di salah satu sisi kantin, Kris duduk sambil menyesap secangkir kopi.
Namja itu tersenyum segera setelah tahu Junhee ada di sana. Dia kemudian menghampiri Junhee.
“Kenapa? Kau seperti melihat hantu,” kata Kris, masih dengan senyum di wajahnya. Berbicara seolah tak pernah terjadi apa-apa. “Tapi Choi Junhee, kau terlihat sangat cocok dengan baju yang kau pakai sekarang. Seperti gadis kecil, sangat cantik.”
“Sedang  apa kau di sini?”
“Aku? Tentu saja aku sedang makan. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.”
“Aku sangat sibuk, bicaranya nanti saja.” Junhee kemudian berjalan keluar kantin. Kris mengikutinya dan mencegahnya.
“Ini hampir jam makan siang. Kau belum makan, kan? Ayo makan bersama.”
“Bukankah kita hanya dua orang asing? Itu artinya hubungan kita juga berada dalam tahap dimana kita tidak seharusnya makan bersama.”
“Aku tidak peduli tentang hal itu. Kachi meokja—Ayo makan bersama.”
Kris menarik tangan Junhee dan membawa yeoja itu ke bangku dimana dia makan tadi. Mereka berdua duduk berhadapan.
“Hari ini aku yang traktir…” ujar Kris.
Setelah pesanannya datang, Junhee memakannya dengan cepat. Kris memerhatikannya sambil terus tersenyum.
“Wae? Apa wajahku terlihat seperti kue kukus?” kata Junhee, pura-pura tidak peduli pada Kris, padahal dalam hati dia sangat merindukan namja itu. “Kenapa akhir-akhir ini kau tidak muncul?”
Kris tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil memandangi Junhee.
“Jangan tersenyum. Orang asing membencinya,” kata Junhee dengan maksud sarkas.
“Aku merindukanmu,” kata Kris tiba-tiba.
Junhee menghentikan aktivitas makannya dan menatap Kris tak percaya. Junhee merasa pipinya mulai bersemu merah dan mendadak menjadi panas. Lalu untuk menutupinya, tanpa berkata apapun dia melanjutkan makannya lagi.
“Kau selesai kuliah jam delapan kan? Nanti jangan pulang dulu. Tunggu aku.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin melihatmu. Bahkan ketika aku melihatmu, aku masih saja merindukanmu.”
“Jangnanchijima—jangan bercanda.”
Kris memasang ekspresi sangat serius. “Pokoknya, jangan pulang dulu. Tunggu aku.” Dia lalu tersenyum lagi, “Tunggu aku setelah kau selesai kuliah hari ini.”
“Aku punya janji,” jawab Junhee sambil terus memakan pesanannya.
“Pelan-pelan. Kau hampir memakan rambutmu,” Kris berkata sambil menyibak rambut Junhee yang menutupi sebagian wajahnya. Junhee mengerjap karena kaget.
“Kenapa terkejut? Di masa depan akan ada banyak hal yang lebih mengejutkanmu.”
“Mungkinkah… setelah membuat janji denganku seperti ini kau berencana mengabaikanku lagi?”
“Kenapa aku melakukan itu?”
“Bukankah kau ahli dalam hal ini?” ucap Junhee, “Pura-pura baik pada semua orang lalu tiba-tiba menjadi musuh dalam selimut.”
“Apa kau sedang mengatakan bahwa aku sudah menciummu dan tidak akan mengakuinya?”
Junhee tersedak mendengarnya dan langsung menenggak air putih di hadapannya dengan beberapa teguk.
Kris tersenyum. “Jika itu membuatmu tidak senang, anggap saja itu sebagai strategi tarik-ulur. Mendorongmu, tapi kemudian menarikmu kembali.”
“Aku pergi sekarang. Kau urus saja bill-nya.”
Junhee kemudian beranjak dan berjalan keluar kantin.
“Jangan pulang dulu, tunggu aku. Oppa akan ada di sana dalam sekejap!” seru Kris.

***

“June. Apa yang kau makan saat makan siang?” bisik Baekhyun heran saat melihat Junhee tak henti-hentinya tersenyum sendiri. Saat ini mereka sedang berada di kelas terakhir hari ini. Junhee tak henti-hentinya tersenyum saat teringat kata-kata Kris padanya, Aku ingin melihatmu…
“Bagel coklat,” jawabnya singkat.
“Jangan bilang kau makan yang sudah mengeras dan berjamur.”
“GeulsseSiapa yang tahu?”
“Berhentilah tersenyum, June. Kau terlihat seperti orang gila.”
“Berani sekali kau memanggilku orang gila.” bisik Junhee dengan mata melotot, tapi kemudian dia kembali tersenyum sendiri.
“Isanghae—aneh,” gumam baekhyun.
“June, bagaimana kalau setelah kelas ini selesai kita makan malam di kafe yang biasanya?”
“Aku tidak bisa. Aku ada janji dengan seseorang.”
“Janji?” Baekhyun memiringkan kepalanya heran.

***

Junhee duduk di sebuah bangku di pelataran kampus. Beberapa kali dia merapatkan syal dan jaketnya agar hawa dingin tidak menginvasi tubuhnya. Sesekali dia mengecek ponselnya untuk melihat apakah Kris mengiriminya pesan atau tidak. Ini sudah hampir satu jam sejak dia selesai kelas dan namja itu belum juga muncul.
“June, kau masih di sini?” tanya seseorang dan orang itu adalah Baekhyun.
“Aku kan sudah bilang padamu, aku punya janji dengan seseorang,” jawab Junhee. “Bagaimana denganmu? Kenapa kau masih di sini?”
“Aku baru saja menyerahkan rancangan lagu yang kita buat pada Im Gyosunim,” jawab Baekhyun lalu memasukkan telapak tangannya ke saku jaketnya.
Tiba-tiba ponsel Junhee berdering nyaring. Ponselnya terjatuh ke rerumputan di bawahnya, karena saking semangatnya dia mengambil ponsel.
Namun, wajahnya langsung berubah kelabu saat melihat nama yang muncul di layar ponselnya.
“Ne, Eomma?” jawab Junhee tanpa semangat.“Ne, arrasseoyo. Aku akan segera pulang. Jangan khawatir.”
“Sepertinya dia tidak bisa datang,” celetuk Baekhyun dengan wajah kesal, karena dia tahu siapa orang yang ditunggu Junhee.
“Kata siapa seperti itu?” semprot Junhee sebal.
Baekhyun kemudian berjalan pergi tanpa mengatakan apapun.
Junhee kembali menunggu Kris. Dia akhirnya memutuskan untuk menelepon namja itu terlebih dulu. Tapi teleponnya tidak diangkat dan saat Junhee mencoba menghubunginya lagi, ponsel namja itu sudah tidak aktif.
Junhee mendesah. Dia baru saja akan beranjak pergi saat sebuah pesan masuk.
“Kris!” serunya senang.
‘Maaf. Sesuatu yang darurat baru saja terjadi…’ dia berkata di pesan itu.
Junhee menatap layar ponselnya dengan pandangan tak percaya sekaligus kesal. Ada perasaan ingin membunuh namja itu sekarang juga.
“Brengsek! Apa dia tidak tahu berapa lama aku sudah menunggunya?”

***

“June! Dia ada di sini! Dia di sini!” seru Baekhyun sambil berlari menghampiri Junhee yang sedang sibuk merangkai nada di buku musiknya pada hari berikutnya.
“Dia siapa?” tanya Junhee, tak tertarik.
“Byeontae itu.”
“Aku tahu…” ujar Junhee.
“Eo? Kau sudah tahu?”
“Aku tidak peduli jika orang itu atau anaknya atau siapapun. Aku tidak peduli jika dia datang atau tidak. Jika kau pikir kemarin aku menunggunya, maka kau benar-benar telah salah kira.” Kata Junhee, dia terlihat sangat kesal. “Aku punya standar. Bagaimana bisa kau menyebut namaku di kalimat yang sama dengan orang seperti dia, eo? Kau terlalu merendahkanku.”
Baekhyun diam dan menatap Junhee heran.
“Hanya karena kau lebih pintar dariku, kau berani merendahkanku. Kau anggap apa aku?”
Tepat saat Junhee menyelesaikan kalimatnya, Kris berseru dari ambang pintu kelas, “Ayo bicara. Keluarlah,” katanya singkat lalu berbalik pergi.
“Orang itu… dia pikir dia siapa? Menyuruhmu seenaknya seperti itu,” ujar Baekhyun seraya melayangkan pandangan penuh benci pada Kris.
Sebaliknya, Junhee langsung mengepaki barangnya dan mengikuti kemana namja itu pergi.
Baekhyun mengerjap. “Hei, sejak kapan dia begitu patuh?”

***

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Junhee saat mereka berdua sampai di ujung koridor.
“Aku minta maaf karena tidak bisa menepati janjiku,” kata Kris, ekspresi wajahnya sangat berbeda dari yang biasa. Dia terlihat bimbang, kalut dan mungkin juga menyesal.
“Jika itu permintaan maaf, maka aku akan menerimanya.”
“Gomawo,” jawab Kris singkat, lalu beranjak pergi.
Junhee mencegahnya dengan menarik lengan namja itu. “Cuma itu?”
Kris membuang muka, matanya tampak berkaca-kaca seperti sedang menahan tangis. Namja itu kelihatan lelah, tegang dan juga gugup. Matanya dilingkari warna kelabu. Tatapannya melewati Junhee dan menerawang jauh.
“Apa sesuatu terjadi?” tanya Junhee khawatir.
“Mianhada—maafkan aku.”
“Untuk apa?”
“Da—semuanya.”
“Apa maksudmu dengan semuanya?” Junhee semakin dibuat pusing dengan kata-kata Kris yang menurutnya tak bertujuan itu.
“Karena telah menyusahkanmu selama ini.”
“Aku tidak pernah merasa susah sedikit pun. Tidak pernah,” Junhee berusaha meyakinkan. “Jadi kau tidak perlu meminta maaf.”
Kris menatap Junhee tepat di manik mata yeoja itu.
Junhee mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Aku menunggu sangat lama,” ujarnya kemudian.
“Jadi, kau menungguku?”
“Eo.”
“Wae? Kenapa kau menungguku?”
“Karena aku menyukaimu…” kata Junhee, meskipun suaranya datar dan lirih, tapi Kris tahu bagaimana yeoja itu berperang melawan harga dirinya untuk mengatakan kalimat itu padanya.
“Aku bilang aku jatuh cinta padamu, byeontae! Jadi kau tidak perlu meminta maaf,” seru Junhee.
Kris tak menjawab pernyataan Junhee dan terus memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Apa yang terjadi padamu? Bukankah kau bilang walaupun kau sedang melihatku, kau tetap merasa rindu padaku? Tapi kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini padaku?”
Kris menghela napas panjang. “Kau di luar jangkauanku, Choi Junhee. Jadi mulai sekarang jangan berhubungan lagi denganku…”
“Jangan seperti ini…”
Kris melepas genggaman Junhee di lengannya dan mulai melangkah.
“Tolong jangan seperti ini.” Junhee memeluk Kris dari belakang,  air mata mulai turun membasahi wajahnya.
Kris melepas pelukan Junhee dan berjalan pergi tanpa mengatakan satu kata pun pada yeoja itu.

“Ya, ijashi! Apa yang kau lakukan?” tanya Baekhyun saat Kris melewatinya. Dia menahan Kris dengan tangan kanannya. Kris menyingkirkan tangan Baekhyun dan bersiap pergi, tapi Baekhyun mencegahnya lagi.
“Kau bilang apa? Dia di luar jangkauanmu? Apa kata-kata itu diucapkan oleh manusia,eo?” Baekhyun sudah tidak tahan melihat Junhee menangis seperti itu lagi. “Jika itu masalahnya, kenapa kau bahkan berani mendekatinya?” seru Baekhyun penuh emosi.
Kris mencengkeram kerah kemeja Baekhyun dengan erat. Air mata sudah memenuhi pelupuk matanya. “Diam kau!” geram Kris, setetes air mata kemudian jatuh di pipinya. “Jangan katakan apapun lagi. Jangan coba memprovokasiku…”
Kris kemudian melepas cengkeramannya dan berlalu dari hadapan Baekhyun.

Baekhyun berjalan menghampiri Junhee yang tengah terduduk sambil menangis tersedu.
Kenapa aku harus melihatnya menangis seperti ini lagi?
Dia kemudian duduk di sebelah Junhee. Yeoja itu langsung memeluknya dan menangis keras. Baekhyun menepuk-nepuk punggung Junhee pelan untuk menenangkannya.
“Kau benar-benar jelek. Bagaimana bisa kau menangis dengan sepenuh hati seperti itu?” kata Baekhyun saat tangisan Junhee mulai mereda.
“Kurasa dugaanku benar. Kau tidak akan berpura-pura kau tidak melihatnya.” Ujar Junhee sarkas.
“Hei, aku tidak sedewasa itu, June. Tapi, dibandingkan dengan namja itu, kepribadianku jauh lebih baik. Benar,kan?”
Junhee diam karena malas menanggapi.
“Lupakan saja dia. Namja itu benar-benar tak beralasan, jahat dan rendah. Dia bahkan tidak bisa menghadapi keyakinan yang kau punya. Benar-benar tidak baik.” Baekhyun menghela napas panjang. “Tapi… aku sedikit iri padanya. Apa yang bagus darinya sehingga bisa membuat seorang Junhee menjadi kacau seperti ini, eo?”
“Sudahlah, Byun Baekhyun. Jangan bahas tentang dia lagi. Mungkin sudah takdirku untuk tidak menjalani sebuah hubungan.”
“Hei, jangan berkata seperti itu.”
Junhee tidak mendengarkan Baekhyun dan sibuk mencari sesuatu dalam tasnya. “Ini syal untukmu.”
“Untukku?” Baekhyun menimbang-nimbang syal itu dan menatapnya heran. “Dalam rangka apa kau memberiknnya padaku?”
“Anggap saja itu kado permintaan maaf dariku, OK?”
“Arrasseo…” jawab Baekhyun, lalu melingkarkar syal itu di lehernya. “Ini hangat, gomawo…”
Baekhyun kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari dalam kantong jasnya dan memberikannya pada Junhee.
“Ini apa?”
“Buka saja dan lihat apa isinya.” Baekhyun tersenyum lebar saat memberikannya.
Junhee terkejut saat melihat isinya. Sebuah kalung. Dan kalung itu adalah kalung yang dibeli Baekhyun saat mereka pergi ke Insadong beberapa waktu yang lalu. “Bukankah ini… kau bilang kau membelinya untuk seseorang yang spesial untukmu. Kenapa kau memberikannya padaku?”
Baekhyun hanya tersenyum kecil lalu mengambil kalung itu dari tangan Junhee, “Sini. Biarkan aku membantumu memakainya…”
“Tidak perlu, Byunbaek. Aku bisa memakainya sendiri kok.”
Baekhyun tak memedulikan Junhee dan memakaikan kalung itu. Kemudian, tanpa berkata apapun, Baekhyun mengecup bibir Junhee dengan lembut. “Itu hadiah kedua dariku,” kata Baekhyun.
Tepat saat itulah mobil Kris melaju di samping mereka berdua. Kris yang tak sengaja melihat adegan itu hanya bisa mengatupkan rahangnya keras-keras dan menggeram kesal lalu segera menyetir mobilnya pergi menjauh dari tempat itu.
“Byun Baekhyun…” ujar Junhee dengan mata membelalak kaget.
“Eung?”
“Kenapa kau melakukan ini?”
“Kau tahu jawabannya…” jawab Baekhyun sambil tersenyum.
“Tapi, aku tidak bisa menerima ini.” Kata Junhee pelan. “Aku berterima kasih padamu untuk semuanya. Aku mengerti perasaanmu. Tapi kurasa aku tidak baik untukmu. Aku tidak tahu bagaimana membalas perlakuan baik orang lain padaku. Aku selalu bersikap egois dan tidak memikirkan perasaanmu sebagai sahabatku. Aku minta maaf untuk itu semua.”
“Aku tidak mengerti semua ini…” ujar Baekhyun, dia tampak kesal sekaligus sedih.
“Lalu kau ingin aku melakukan apa? Kau tidak bisa memaksaku untuk berkencan denganmu, kan? Percayalah, Byunbaek… kau akan bertemu dengan yeoja yang lebih baik dariku di masa depan.”
“Apa ini semua karena Kris? Bukankah kalian tidak ada hubungan apa-apa? Kau berkata seperti itu padaku, bukan?”
“Ini bukan karena Kris… aku hanya belum siap untuk berkencan lagi dengan seseorang. Selain itu, aku takut hubungan kita akan merenggang. Aku tidak mau kehilangan sahabat seperti dirimu.” Junhee kemudian melepas kalung pemberian Baekhyun dan meletakkannya di telapak tangan namja itu. “Berikan ini pada yeoja yang tepat.”
“Tapi June… tidak bisakah kaumaksudku, apa benar ini semua bukan karena Kris?”
Junhee tak menjawab, dia hanya menghela napas panjang dan memejamkan matanya sejenak.

***

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Junhee masih berkutat dengan buku musik dan gitarnya pada hari berikutnya. Teman-temannya sesama performer juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan Baekhyun, namja itu baru saja pergi membeli cemilan untuk mereka makan selagi membuat lagu yang diminta oleh gyosunim. Saat sedang serius memadukan nada dan lirik lagu ciptaan mereka, tiba-tiba pintu ruang latihan terbuka lebar.
“Byunbaek, aku baru saja menemukan nada yang pas untuk bait ketiga lagu kita,” cerocos Junhee penuh semangat, lalu menoleh ke arah pintu.
Dilihatnya Kris berdiri di ambang pintu sambil menatap lurus ke arahnya. “Kau bekerja sampai malam untuk acara ini ya? Apa kau sibuk?”
“Aniya,” jawab Junhee singkat sambil terus fokus pada gitarnya.
Kris berjalan menghampiri Junhee dan berdiri di dekat yeoja itu. “Aku ingin minta maaf atas sikapku kemarin. Terlalu banyak masalah yang harus kuhadapi sekarang ini hingga membuatku stress dan bersikap seperti itu padamu.”
“Kenapa kau datang ke sini malam-malam dan tidak datang saat latihan tadi?” tanya Junhee, pura-pura tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan Kris.
Kris berdiri berhadapan dengan Junhee, “Aku hanya ingin melihatmu…”
“Sudahlah, jangan lakukan ini lagi padaku.”
Kris melihat leher Junhee dan memeriksa apa yeoja itu masih memakai kalung pemberian Baekhyun kemarin. Hatinya sedikit lega melihat kalung itu tidak terpasang di leher yeoja itu. “Kau sudah bersahabat dengan Baekhyun belasan tahun lamanya, kan? Kurasa dia sangat menyukaimu.”
“Mwo?” tanya Junhee, kali ini dia benar-benar memerhatikan Kris.
“Dia mengatakan padaku untuk tidak mempermainkanmu.”
“Dia… kupikir dia salah mengartikan rasa sayangnya padaku sebagai perasaan cinta. Dia sudah lama bersamaku dan kami saling kenal dengan baik. Kurasa itulah alasan dia bersikap seperti itu padaku.”
“Bagaimana denganmu? Kau tidak akan dibingungkan oleh perasaannya, kan? ”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku adalah apa yang baru saja aku katakan…” kata Kris, “Apakah hanya Baekhyun yang memiliki perasaan seperti itu?”
Junhee memasang ekspresi sinisnya, “Memang apa pentingnya bagimu jika aku memiliki perasaan yang sama dengannya? Bukankah katamu aku diliuar jangkauanmu? Kris-ssi, apa kau sedang cemburu sekarang?”
“Eo. Aku cemburu…” ujarnya sambil menatap Junhee lekat, “Junhee-ya, kurasa aku sangat menyukaimu.  Aku berusaha memungkirinya, tapi aku tetap tidak bisa. Aku tidak mau lagi merasa kesal karena cemburu pada Baekhyun atau siapapun itu. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya.”
“Apa yang kau bicarakan? Ini sudah terlalu malam, Baekhyun juga akan segera kembali ke sini. Jadi, sebaiknya kau pergi sekarang,” kata Junhee dengan susah payah, ada setitik air mata yang siap jatuh di matanya. Dia kemudian menatap Kris tepat di manik mata namja itu. Seketika itu, dia merasakan ketulusan akan kata-kata Kris padanya. Walaupun jantungnya serasa akan meledak waktu itu juga, tapi Junhee merasa ini semua tidak benar. Dia baru saja berbaikan dengan Baekhyun, dia tidak mau jika sahabatnya itu marah lagi padanya karena dia berhubungan dengan Kris.
“Kenapa kau selalu mencemaskan Baekhyun? Kenapa kau terus mendorongku dan tidak membiarkanku mendekatimu?”
“Karena dia adalah sahabatku dan aku tidak ingin menyakiti hatinya,” kata Junhee dengan suara bergetar. “Kau juga tahu itu! Jadi, lenyaplah dari hidupku. Kau sudah merusak semuanya.”
“Kau hanya menganggap Baekhyun sebagai pengalih perhatian.”
“Bukan seperti itu,” kata Junhee berbohong. “Aku mencintainya…”
“Seperti kau mencintai ibumu,” sahut Kris. “Seperti kau mencintai ayahmu.”
“Bukan.” Suara Junhee setajam dan sedingin jarum es. “Jangan coba mendikte perasaanku.”
Junhee mengalihkan pandangannya dari Kris. Dia tak sanggup menatap mata namja itu. “Kris, kenapa kau lakukan ini padaku?”
“Karena kau berbohong padaku dan juga berbohong pada dirimu sendiri.” Mata Kris tampak menyala-nyala dan kedua tangannya mengepal keras.
“Lalu kau ingin aku melakukan apa?”
“Ayo mulai dari awal. Aku ingin kita memulai semua ini dari awal…” ujar Kris pelan.
Junhee hanya diam dan dia mulai memberanikan diri untuk menatap mata Kris.
 “Saranghae, Junhee-ya…”
Junhee beranjak pergi meninggalkan Kris. “Jangan mengatakan hal seperti itu padaku. Aku tahu setelah ini kau pasti akan menusukku dari belakang lagi. Aku tidak percaya padamu. Sama sekali.”
“Mideobwapercayalah. Jinshimiyaaku tulus,” Kris menahan Junhee dengan mencengkeram lengan yeoja itu.
“Kenapa kau selalu memintaku untuk mempercayaimu sedangkan kau selalu mengingkari janji yang kau buat, eo? Aku tidak akan terpengaruh lagi oleh kata-katamu,” ujar Junhee sarkas.
“Jadi kau merasa ragu? Kau tidak mempercayaiku?”
“Itulah kenyataannya.”
“Choi Junhee,” panggil Kris, dia kemudian melepas cengkeramannya di lengan Junhee. Dia mengangkat tangannya untuk memegang wajah Junhee. “Ketika aku berkata padamu supaya kau mempercayaiku, aku tidak mengatakannya secara biasa.”
“Bukankah itu karena kau sangat pintar berbicara dan bermain kata?”
“Lalu apa yang harus kulakukan untuk membuatmu percaya? Bagaimana cara untuk membuktikannya?”
“Aku baru bisa percaya jika kau melakukan sesuatu untukku.”
“Sangat jarang kau bisa jadi sepintar ini, Choi Junhee,” kata Kris seraya tersenyum lalu duduk di salah satu undakan di panggung.
“Aigo, kau mulai bersikap kurang ajar lagi padaku,” kata Junhee kesal, tapi pada akhirnya dia tidak bisa menahan senyum ketika melihat Kris bertingkah seperti itu padanya.
“Kemarilah…” kata Kris sambil menepuk tempat di sebelahnya.
Junhee menatap Kris dengan ragu.  
“Aku bilang kemarilah,” ulangnya lagi.
Kali ini Junhee menghampiri Kris dan duduk di sebelah namja itu. Kris pun segera menarik Junhee dan menyandarkan kepala yeoja itu di pundaknya. Tangannya lembut membelai rambut Junhee yang tergerai panjang.
“’Aku tidak bisa berjanji padamu bahwa aku tidak akan membuatmu menangis. Tapi aku berjanji aku akan selalu menjadi alasan untuk setiap kebahagiaanmu. Aku tidak tahu kata apa yang bisa membuka pintu hatimu untukku. Karena yang kutahu, cinta tidak membutuhkan kata kunci.’ Ayahku mengatakan ini saat menyatakan cintanya pada ibuku. Jadi, apa kau masih tidak mempercayaiku?”
Junhee mendongak menatap Kris sambil tersenyum kecil, “Ini benar-benar aneh. Aku selalu saja mempercayai gombalan  yang keluar dari mulutmu.”
“Yaaah, sebaiknya memang begitu…”
“Tapi, apa masalah yang lebih penting dariku hingga kau mengingkari janjimu kemarin?” selidik Junhee, ada kekesalan yang berkelebat dalam nada bicaranya.
“Aku harus menggantikan ayahku untuk menangani perusahaan. Jadi…”
“Lain kali kau harus mendahulukan aku, tidak boleh seperti itu.”
“Wah, egois sekali kau Nona Choi Junhee?” kata Kris, lalu tersenyum.
“Biar saja! Itu karena kau selalu menempatkanku di prioritas terakhirmu,” kata Junhee dan mereka pun terdiam cukup lama. “Apa kau bisa menceritakan apa yang membuatmu bersikap seperti itu padaku kemarin? Kenapa ekspresi wajahmu seperti orang yang
Kris menggenggam tangan Junhee erat lalu menghembuskan napas dengan berat. “Apa kau benar-benar ingin tahu?”
Junhee mengangguk pelan dan Kris pun mulai bercerita.
“Aku harus keluar dari kampus ini sesegera mungkin dan mengambil kuliah bisnis untuk bisa mengelola perusahaan ayahku nantinya. Padahal aku sangat menyukai musik, ini sangat sulit bagiku. Selain itu, kesehatan ayahku juga semakin memburuk. Walaupun ayahku terlihat seperti membenciku, tapi aku tahu ayah selalu menyayangiku. Aku takut dia akan meninggalkanku. Kau tahu, kan? Hanya dia yang aku miliki di dunia ini. Aku sudah tidak memiliki ibu dan” Kris tak kuasa melanjutkan ceritanya. Dia tampak sedang melawan rasa sedih dan penderitaan yang menikamnya. “Kau tahu? Aku selalu berpikir andaikan saja aku bisa kembali ke masa lalu, membolak-balikkan waktu sesukaku. Dengan begitu, ibuku akan tetap hidup dan aku tidak akan menderita seperti ini. Jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan menghilangkan keegoisan seorang anak kecil dalam diriku sehingga ibuku tidak meninggal dalam kecelakaan itu…”
Junhee meletakkan sebelah tangannya yang bebas di atas tangan Kris.
“Beberapa hari yang lalu aku pergi ke rumahmu,” kata Junhee. Kris langsung menatapnya dengan tatapan kaget.
“Pengasuhmu saat kecil sangatlah ramah dan juga baik hati. Dia seperti ibumu sendiri. Kau benar-benar beruntung bertemu orang seperti dia. Dia bercerita jika hubunganmu dengan ayahmu tidak terlalu baik setelah kematian ibumu. Kau selalu sendirian di rumah tanpa ada teman yang bisa menghiburmu.”
Junhee menatap mata Kris. Dari sana dia bisa melihat penderitaan yang belasan tahu berusaha disimpannya sendiri.  Wajah namja itu tampak menegang, rahangnya mengatup rapat dan matanya memerah. “Bagaimana mungkin kau bisa hidup dengan cara seperti itu? Kau pasti ketakutan. Kau pasti telah banyak menangis,” kata Junhee sambil terus menatap tangannya dan tangan Kris yang saling bertaut.
Kris mengalihkan pandangannya ke arah dimana Junhee tidak bisa melihatnya menangis. Dia tidak ingin yeoja itu melihatnya menangis lagi. Sekarang dia tengah berusaha menghirup udara dengan tarikan keras untuk menahan tangisnya. Perasaan seperti ini sangat asing baginya. Sebelumnya, dia belum pernah menangis di depan orang lain, sama sekali.  Aissh, kenapa aku jadi cengeng seperti ini? Batinnya.
“Aku pikir itu menakutkan…” kata Junhee lagi, begitu rendah hingga terdengar seperti bisikan.
Kris sedikit terisak, dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Junheemendongak menatap Kris yang memalingkan wajahnya ke arah lain. Tangannya bergerak perlahan merengkuh namja itu ke dalam pelukannya. Membiarkannya menangis di pundaknya. Junhee membelai ke belakang rambut Kris dari dahi dengan kelembutan yang sama sekali asing baginya.  
“Aku mengerti. Aku mengerti semuanya…” kata Junhee berusaha menghibur Kris, padahal dia sendiri kini sedang menangis karena ikut merasakan kesedihan namja itu. “Semuanya akan jauh lebih baik sekarang. Percayalah.”
Junhee kemudian melepaskan pelukannya pada Kris saat namja itu sudah sedikit tenang. “Ya, harusnya kau senang karena aku sudah menerima pernyataan cintamu. Tapi kenapa kau malah menangis seperti itu?” canda Junhee untuk menggoda Kris. “Kukira namja yang selalu bertingkah sok keren sepertimu tidak akan menangis tersedu-sedu seperti itu di depanku.”
“Ya! Kau yang membuatku menceritakan semuanya. Aku akan jadi sangat sensitif kalau sudah membicarakan tentang keluargaku. Kau tahu itu,” sahut Kris tidak terima.
“Mianhae, aku tidak bermaksud melakukannya.”
“Gwaenchanna. Lagi pula aku jadi merasa lega karena telah menceritakan semua ini pada seseorang sehingga berat beban yang kutanggung bisa sedikit berkurang.”
“Kau benar, aku akan membantumu mengurangi beban itu. Aku bisa membawakan kira-kira sepuluh ton bebanmu,” kata Junhee sambil tersenyum lebar dan menepuk pundak Kris.
Kris menarik Junhee dalam pelukannya. “Gomawo. Jika bukan karena kau, aku tidak akan merasa selega ini.”
Kris kemudian berdiri lalu meletakkan tangannya di bahu Junhee. Junhee pun ikut berdiri kemudian menolehkan wajahnya agar menghadap ke arah namja itu. “Choi Junhee, bersiaplah. Aku akan menciummu sekarang,” ujar Kris dengan lembut.
“Ya! Byeontae! Mwohae?” seru Junhee, tapi pada detik berikutnya dia sudah memejamkan matanya. Dia bisa merasakan sentuhan bibir Kris yang awalnya ringan menjadi semakin kuat menekan bibirnya.  Dia kemudian melingkarkan tangannya di leher Kris. Tangan Kris mulai meremas-remas rambut panjangnya yang tergerai indah. Dan dia dapat merasakan detak jatung Kris yang berpacu semakin cepat tiap detiknya. Tangan Kris kemudian bergerak dari rambutnya, turun menyusuri punggungnya. Junhee merasakan tekanan tangan Kris pada tulang belikatnya, lalu dengan lembut namja itu melepaskan diri, menarik tangan Junhee dari lehernya dan melangkah mundur.
“Mengesankan,” kata Kris.

***

Baekhyun baru saja akan mengeluarkan suara saat sampai di ambang pintu ruang latihan ketika dia melihat Junhee dan Kris sedang berdiri sambil berciuman. Plastik berisi cemilan yang baru saja dibelinya dijatuhkannya begitu saja di depan pintu dan dia langsung berbalik pergi. Walaupun dia sudah tahu hal seperti ini pasti akan terjadi lagi, dia tetap merasa terkejut dan juga merasakan sakit yang lebih dibandingkan kejadian saat di rumah sakit. Mata Baekhyun mulai memanas, dia sangat murka sekaligus sedih karena Junhee telah berbohong padanya. Kau bilang kau tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Batinnya sambil berjalan dengan lunglai menuju mobilnya.
“Baekhyun?” gumam Jieun sambil berjalan menuju ke arah Baekhyun yang kini hanya berdiri diam membelakanginya. Ketika melewati pintu ruang latihan yang terbuka, tak sengaja dia melihat adegan yang baru saja dilihat oleh Baekhyun. Jieun melihat ke arah dalam ruangan dan ke arah Baekhyun secara bergantian. Tadinya dia bermaksud untuk memanggil Baekhyun, tapi setelah melihat hal itu, dia mengurungkan niatnya. Dia tahu betul jika Baekhyun memiliki perasaan yang lebih pada Junhee.
Jieun kemudian berlari menghampiri Baekhyun. “Baekhyun-ssi, jamkkanman!”
Baekhyun bergeming dan tatapannya tetap mengarah ke depan. Matanya memerah dan sedikit berair, dia sedang menahan tangis.
“Baekhyun-ssi…” panggil Jieun dengan senyum di wajahnya. Dia bermaksud menghibur Baekhyun.
“Minggir,” ujar Baekhyun singkat.
“Jadi kau belum pulang? Bagaimana jika kau makan malam denganku? Aku yang akan menraktirmu.”
“Aku bilang minggir!”
Ekspresi Jieun langsung berubah seketika saat mendengar Baekhyun mengatakan hal itu untuk kedua kali. “Bukankah kau sudah tahu jika semua akan berakhir seperti ini? Apa kau pikir jika kau mempertahankan cintamu yang bertepuk sebelah tangan itu Junhee akan membalas perasaanmu padanya?” ujar Jieun tanpa jeda, dia terlihat sudah tidak bisa mengendalikan dirinya.
“Kau… apa kau menyukaiku?” tanya Baekhyun dengan tajam dan sedingin es.
Jieun terkejut dengan pertanyaan singkat Baekhyun. “Mwo?”
“Kau pikir dengan bertingkah seperti ini, aku akan menyukaimu dan melupakan Junhee?”
“Baekhyun-ssi…”
“Aku tak peduli siapa orang yang kau sukai. Itu bukan urusanku dan aku tidak peduli. Jadi, kau juga harus berhenti mempedulikanku.” Baekhyun pergi melewati Jieun dan langsung memasuki mobilnya.
Sedangkan Jieun, dia masih tidak percaya Baekhyun bersikap kejam seperti itu padanya. Tanpa disadarinya, dia mulai menangis. “Byun Baekhyun, kau bodoh…”

***

“Adalah aku yang selalu menjadi orang terdekat  bagi Junhee. Adalah sesuatu yang wajar jika aku meletakkan Junhee sebagai prioritas utamaku. Tapi kurasa semua itu akan segera menghilang. Hari-hari dimana kami selalu bercanda dan bertengkar karena sesuatu hal yang sepele, sekarang hanya akan menjadi kenangan. Orang yang paling kucintai di dunia ini, kini telah berkencan dengan orang laindengan orang yang paling kubenci…”  batin Baekhyun sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia benar-benar sedang dikuasai oleh emosi sekarang. Apa yang harus dilaluinya beberapa waktu ini sangat lah menguji emosi dan juga hatinya. Dia merasa terkhianati, sedih, kesal dan patah hati.
Apa kau pikir jika kau mempertahankan cintamu yang bertepuk sebelah tangan itu Junhee akan membalas perasaanmu padanya? Kata-kata Jieun padanya kembali terngiang. Baekhyun menggeram kesal kemudian berteriak marah.

***

Junhee mengambil ponsel dari sakunya sesaat sebelum keluar dari ruang latihan. Diam-diam dia memeriksa layar ponselnya. Baekhyun belum mencoba menghubunginya. Dada Junhee terasa seolah dihimpit oleh sesuatu yang sangat berat. Sampai dua minggu yang lalu, sudah bertahun-tahun dia dan Baekhyun tidak pernah bertengkar. Tapi sekarang, Baekhyun seperti selalu marah kepadanya.
Dia tekan nomor Baekhyun. Setelah beberapa saat telpon tersambung, terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang ditujunya sedang tidak berada dalam jangkauan. Junhee berdecak gelisah.
“Sedang apa kau?” Kris berdiri di ambang pintu, menunggu Junhee selesai mengepaki barangnya.
Junhee segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. “Tidak sedang apa-apa. Hanya melihat jam.”
“Itu ada jam di dekat jendela,” Kris menunjuk. “Kau menelepon pria kecil itu, kan?”
“Namanya Baekhyun dan kau tidak perlu sejahat itu padanya.”
Kris mengangkat bahunya. “Ayo cepat pulang. Ini sudah malam.”
Junhee berjalan menghampiri Kris. Dia terkejut saat menemukan seplastik penuh cemilan tergeletak di dekat pintu. “Dia di sini. Dia tadi di sini…” gumam Junhee panik lalu mengambil plastik itu.
“Siapa? Pria kecil itu?”
“Sudah kubilang namanya Baekhyun!” seru Junhee.
Dia pun segera mengambil poselnya lagi. Ditekannya nomor Baekhyun, tapi hasilnya masih saja sama. Tak ada jawaban dari sahabatnya itu.
“Apa sekarang kau merasa bersalah karena dia melihat kita melakukan ‘itu’? Aku sih tidak mau repot-repot meneleponnya. Aku yakin jika dia memang sedang menghindarimu.”
“Dan apa kau tahu jika itu karena hubunganmu dan dia sangatlah akrab?” sindir Junhee tajam.
“Tentu saja aku tahu.”
“Ini salahmu. Bagaimana kalau dia melakukan suatu hal yang bodoh?” kata Junhee tiba-tiba, amarah sudah mengumpul di hatinya. “Tidak seharusnya kita seperti ini.”
“Memang bagaimana kita seharusnya?”
“Tidak,” ujar Junhee dengan sedikit bergetar. “Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan Baekhyun.”
“Itu tidak akan terjadi. Ayo pulang…” Kris menyambar tangan Junhee lalu menariknya.
“Tapi firasatku tidak enak mengenai hal ini.”
Kris membimbing Junhee masuk ke dalam mobilnya. Selama perjalanan, Junhee hanya diam sambil terus memegangi ponselnya. Kris dapat melihat dari sudut matanya jika yeoja itu kini sedang merasa gelisah.
Kegelisahan yang dirasakan Junhee bukanlah kegelisahan yang wajar, sama sekali bukan seperti dirinya. Pasti benar-benar telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan olehnya. Dia kembali menarik napas cepat, lalu menggigit bibirnya keras-keras. 
“Junhee-ya. Percayalah padaku. Tidak akan terjadi apa-apa pada” kalimat Kris terpotong karena dia harus mengerem mendadak. Kris sedikit menyumpah. Ada kecelakaan yang sepertinya baru saja terjadi beberapa meter di depan mereka. Mereka berdua keluar dari mobil. Mulanya mereka tak mempedulikan hal itu karena hal tersebut sudah biasa terjadi. Lalu Junhee melihat mobil yang terlibat kecelakaan itu bukanlah mobil yang asing baginya. Di sana, dia antara kerumunan orang yang melihat, Junhee mengenali sosok tubuh di dalam mobil itu. Sesosok tubuh yang menyandar di jok mobil dengan kepala terdongak, menampakkan wajahnya yang penuh dengan darah dan luka-luka sayatan karena pecahan kaca mobil. Junhee merasakan tangan Kris mencengkeram erat lengannya. Pada saat itulah dia melihat dengan lebih jelas jaket cokelat dengan lambang-lambang aneh yang sangat dikenalnya sudah penuh dengan noda darah dan Junhee pun menjerit tertahan. Junhee merasakan lututnya goyah dan dia pasti roboh ke jalan seandainya Kris tidak menahannya.
“Jangan lihat,” kata Kris di telinganya. “Pokoknya jangan lihat.”
Tapi tidak mungkin Junhee tidak melihat darah yang merekat di hampir seluruh wajah Baekhyun.
Dalam cahaya bulan yang redup, Junhee bisa melihat bagian depan kaos Baekhyun yang basah kuyup oleh darah.
“Baekhyun tidak mati,” kata Kris sambil mencengkeram lengan Junhee lebih erat. “Dia tidak mati.”
Junhee melepaskan  diri dari Kris dengan sentakan keras dan menghambur menuju Baekhyun yang kini sudah dikeluarkan dari mobil oleh beberapa polisi. Dia duduk bersimpuh di jalan. Dia sama sekali tidak merasa jijik saat dia menyelipkan tangannya di bawah kepala Baekhyun yang bersimbah darah dan mengangkat Baekhyun ke pangkuannya.
“Byunbaek,” bisiknya sambil menyentuh wajah Baekhyun. “Byunbaek, ini aku.”
Tiba-tiba Baekhyun tersengal, tubuhnya menggeliat dalam pelukan Junhee. Junhee menjerit dan menangkap Baekhyun, menarik Baekhyun ke arah tubuhnya. Mata Baekhyun yang semula terpejam tiba-tiba terbuka lebar. Namja itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Junhee.
“Ini aku,” ujar Junhee. Dengan lembut dia mendorong tangan yang terulur itu ke dada Baekhyun sambil menjalin jemari mereka menjadi satu. “Byunbaek, ini aku. Ini Junhee.”
Saat menatap ke bawah,  Junhee melihat tangannya dan tangan Baekhyun basah oleh darah dari kaos yang dipakai Baekhyun dan juga air mata yang sudah mengalir menuruni wajahnya tanpa dia sadari. “Byunbaek, aku mencintaimu,” ujarnya.
Tangan Baekhyun mengencang menggenggam tangan Junhee. Baekhyun menghembuskan napas yang terdengar kasar dan berangsur sayupdan setelah itu, Baekhyun tak bergerak lagi.

***

TBC…
 

My Fictional World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea