Title : After The Spring
Rain
Author : Sonia
aka. Min Seonhee
Cast : Himchan,
Daehyun, Eunji, Hayoung, and other cameos.
***
Tanpa
kusadari, cinta telah datang ke dalam hatiku layaknya hujan musim semi yang
datang secara tiba-tiba dan membuatku basah kuyup seperti ini. Setelah hujan
ini reda, apakah bunga-bunga di dalam hatiku juga akan bermekaran seperti bunga
musim semi di luar sana?
***
Angin
membekukan di musim dingin sudah hilang digantikan kehangatan musim baru. Musim
semi. Sebuah musim dimana kehangatan, harapan dan cinta baru bermekaran seperti
halnya bunga sakura. Musim semi adalah musim cinta, begitu kata banyak orang. Memandangi
indahnya bunga sakura dengan orang yang dicintai sungguh sebuah kenangan yang
indah bahkan walau hanya dalam khayalan. Berjalan di bawah guguran bunga sakura
sambil bergandengan tangan dan menghirup udara segar khas musim semi merupakan
mimpi banyak orang.
Termasuk
aku. Namaku Jung Eunji. Aku seorang mahasiswa di Universitas Hongik yang
sekarang sedang duduk mendengarkan ceramah dosen di aula. Walaupun kelihatannya
aku memperhatikan dosen, tapi sebenarnya aku lebih memperhatikan seorang namja
yang duduk di deretan kursi di sisi kanan dosen. Namanya Jung Daehyun, hanya
itu yang kutahu dari sosok namja itu. Sudah dua bulan ini aku mencuri-curi
pandang ke arah Daehyun saat kuliah Sejarah Seni Dunia. Karena hanya di kelas
itu lah aku bisa memandangi Daehyun diam-diam dan itu pun hanya dua minggu
sekali. Selama waktu itu, aku tidak pernah bertegur sapa apalagi mengobrol
dengannya. Ya, walaupun begitu, aku sudah sangat senang bisa melihat Daehyun di
kelas. Ada kalanya saat aku diam-diam menatap Daehyun, namja itu balik menatapku
dan aku pun langsung memalingkan wajahku. Tentu saja itu kulakukan karena aku
tidak ingin ketahuan olehnya.
Saat
pertama aku melihat namja itu adalah pada awal semester ketigaku, di awal musim
semi. Saat melihatnya, aku berpikir, musim semi telah datang dalam hatiku juga.
Sebelum hari itu, aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama
itu ada. Aku menganggap hal seperti itu konyol. Tapi dia dengan mudahnya
merusak keyakinanku itu. Ya, aku menyukainya sejak pertama aku melihatnya masuk
ke kelas. Ada sesuatu dalam caranya berjalan, berbicara dan berekspresi yang membuatku tertarik walaupun aku tidak tahu itu apa.
Kebanyakan
temanku mengeluh kenapa harus ada mata kuliah Sejarah Seni Dunia, karena mereka
pikir itu membosankan. Dulu aku juga berpikir seperti itu. Namun sekarang mata
kuliah ini sudah menjadi mata kuliah favoritku. Karena hanya di sinilah aku bisa diam-diam memandanginya.
Sudah
cukup lama aku menyukainya secara diam-diam, bahkan sahabatku—Hayoung—pun
tidak kuberi tahu. Bukannya aku tidak percaya padanya, hanya saja... aku takut
ketahuan jika aku memiliki perasaan pada Daehyun.
Bagiku,
memulai sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti ini sama saja dengan
saat kita sedang ingin membeli suatu barang tapi kita tidak punya cukup uang
dan pada akhirnya kita hanya bisa melihat barang itu dibeli orang lain yang
memang memiliki banyak uang. Miris memang, tapi itulah resiko memulai cerita
cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Karena
aku takut orang lain melihat ke dalam hatiku, aku berhati-hati agar tidak
menunjukkan perasaanku. Oleh karena
itulah aku hanya bisa memandanginya dari jauh, tanpa berani menyapa ataupun
berbicara padanya. Bukannya bersikap seperti pengecut, tapi tahu diri saja
kalau kami tidak akan bisa bersatu. Dia tampan, banyak teman dan populer di
kalangan mahasiswa lain. Aku hanya bisa kesal mendengar pujian-pujian yang
keluar dari mulut teman-temanku tentang dia. Bahkan dosenku pun ada yang
mengatakan kalau dia itu memang tampan. Aku semakin merasa jika pepatah ‘Bagai
pungguk merindukan bulan’ itu sangat pas dengan situasiku.
Cinta
yang bertepuk sebelah tangan... memiliki dua sisi yang berbeda pada saat yang
sama. Yang pertama adalah sisi kebahagiaan. Tak kupungkiri juga kalau cinta
bertepuk sebelah tangan itu membuat hati merasa senang, apalagi saat melihat
dia tersenyum dan tertawa dengan riang, walaupun itu bukan karena aku. Dan apa
kau tahu? Hal paling baik yang kudapat
setelah merasakannya adalah aku selalu ingin jadi lebih baik dari diriku saat
ini. Yang kedua, sisi kesedihan. Karena dengan memulai sebuah cinta yang
bertepuk sebelah tangan sama artinya dengan memulai derita batin sendiri. Menyukai
dan mengagumi seseorang tanpa orang itu tahu, bahkan orang itu pun tidak
mengenal siapa kita atau nama kita. It
hurts so much...
***
“Bagaimana
cara kita pulang?” tanya Hayoung, sahabat baikku saat kami keluar dari kelas.
Aku tidak
menanggapi Hayoung dan terus menatap ke arah pintu kelas, menunggu Daehyun
keluar dari kelas dan berharap bisa menyapanya, walaupun itu tidak mungkin juga
kulakukan. Karena, hanya melihat wajah Daehyun saja sudah membuatku tak mampu
berkata-kata.
“Kau
menunggu seseorang?” tanya Hayoung.
Aku mengalihkan pandangan ke arah lain lalu menjawab,
“Aniya. Tentu saja tidak ada.”
“Kenapa
tiba-tiba hujan turun sih? Padahal setelah
ini aku ada janji dengan Junhong,” kata Hayoung, bibirnya mengerucut sebal.
“Aku
suka hujan musim semi, hujan yang melelehkan dinginnya salju musim dingin dan
menggantinya dengan bunga-bunga yang indah.” Jawabku sambil menengadah menatap
langit, mengulurkan tangan dan merasakan jarum-jarum air hujan menusuki telapak
tanganku sambil bergumam, “Tiba-tiba... aku berharap dalam hidupku juga terjadi
sesuatu yang tiba-tiba. Seperti...cinta misalnya.”
Hayoung
tampak tak mendengarkan kata-kataku. Dia sibuk sendiri dengan ponselnya.
“A,
Eunji-ya. Aku pergi duluan ya. Junhong sudah menjemputku. Annyeong!” seru Hayoung
dengan mata berbinar senang. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan lemas. Tak
bisa kupungkiri, aku terkadang merasa iri jika melihat teman-temanku bersama
dengan pacarnya. Contohnya seperti saat ini.
Aku kemudian
berjalan menuruni tangga menuju ke pelataran gedung. Aku baru saja membuka
payung yang kubawa dan bersiap pergi saat seorang namja memegang pegangan
payungku dan berkata, “Antar aku ke gedung seberang. Tolong, aku dikejar waktu.”
Aku yang
masih merasa kaget hanya memandangi wajah namja di sampingku dengan wajah
bodoh.
“Aku
tahu kau sedang mengagumi keelokan wajahku, tapi ayolah bantu aku,” ujar namja
itu, yang di telingaku kedengaran memaksa daripada meminta tolong.
Kekagumanku
padanya langsung lenyap mendengar kata-katanya barusan. Aku memutar bola mata
dengan kesal. “Wajahmu memang elok, tapi kelakuanmu tidak. Jadi jangan memaksa.
Kau beli saja payung sendiri. Aku mau pulang,” ujarku dengan sengit.
“Ayolah,
aku minta tolong.”ujar namja itu sambil menunjukkan sedikit aegyo dengan senyum
lebarnya.
“Aku bahkan tidak mengenalnya, kenapa dia
bersikap seperti ini padaku? Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan sih? Kenapa
dia tidak juga menyingkir?” batinku,
sedikit geram.
“Kau
cari saja orang lain. Masih banyak orang yang membawa payung. Lihatlah
sekeliling,” ujarku.
“Jangan
terlalu marah, nanti kau bisa menyukaiku lho. Lagi pula jaraknya hanya beberapa
meter dari sini, karena itu—”
“Karena
itu kau hanya perlu berlari, tidak perlu memakai payung. Paling bajumu basah
sedikit.”
Namja
itu menunjuk ke gedung seberang dengan telunjuk kanannya. “Temanku sudah
menunggu di seberang. Tidak bisakah kau melihat? Dari tadi dia sudah melotot ke
arahku.”
“Te...
temanmu?” tanyaku, mendadak jadi gagap setelah melihat siapa yang ditunjuk oleh
namja itu. Namja itu pun mengangguk.
“Kalau
begitu, baiklah,” kataku sambil menatap ke seberang.
Kami
berdua pun berjalan di bawah satu payung yang sama. Saat kami sampai di gedung
seberang, ternyata di sana benar ada Daehyun. Daehyun menyambut kedatangan
namja yang datang bersamaku dengan tatapan kesal.
“Ya,
Kim Himchan! Lagi-lagi kau telat. Kau ini ketua, tapi kenapa...” ujar Daehyun
sambil menatap namja bernama Himchan itu dengan sebal.
Himchan
meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya dan menggaruk belakang kepalanya,
“Kau tahu lah, dari tadi hujan turun dengan deras. Lihatlah, bajuku hampir
semuanya basah dan aku—”
“Ah,
lupakan. Cepat latihan, kita harus memenangkan kompetisi kali ini dan kita butuh
kau.”
“Kau
membolehkan Zelo bolos, tapi kau memarahiku seperti itu hanya karena aku telat
beberapa menit.” Himchan mencibir lalu berbalik padaku yang tengah berdiri
mematung sambil memandangi Daehyun.
“Setelah
kupikir-pikir, kita belum berkenalan, Noran-ssi.”kata Himchan dengan senyum
sumringah. “Aku Kim Himchan.”
Himchan memanggilku dengan sebutan ‘Noran’
karena hari itu aku memakai payung yang berwarna kuning. ‘Noran’ dalam bahasa
Korea berarti ‘kuning’.
Aku
tak menanggapi Himchan dan terus memandangi wajah Daehyun.
“Noran-ssi,
ada apa denganmu? Kau membuatku merasa tidak senang. Tiap orang yang berkenalan
denganku pasti akan berkata ‘Wah, itu nama yang bagus’, ‘Wah, namamu sangat
cocok dengan sifat riangmu’ atau paling tidak biasanya mereka akan memperkenalkan
dirinya sebagai balasan, tapi kau malah...”
“Namja ini benar-benar berisik sekali sih?”
umpat ku dalam hati.
“Aku...
namaku... Jung Eunji.”kataku dengan sedikit terbata, tapi pandanganku masih
tertuju pada Daehyun.
“Oh,
aku lupa. Kenalkan, dia Jung Daehyun.” ujar Himchan sambil menatap Daehyun
selirik—masih
dengan tatapan sebal.
“Senang
bertemu denganmu, Jung Eunji. Oh, bukankah kita sekelas di kuliah sejarah?”
kata Daehyun sambil membungkukkan badannya sedikit dan aku pun membalasnya. “Tapi
maaf, hari ini kami akan berlatih untuk kompetisi. Kita lanjutkan obrolan kita
kapan-kapan,” ujar Daehyun lagi, masih dengan senyuman di wajahnya. Dia
kemudian menepuk pundak Himchan, memberi isyarat agar dia mengikutinya ke ruang
ekskul.
“Terima kasih, Noran-ssi. Sampai jumpa lagi!”
seru Himchan sambil berjalan mengikuti Daehyun.
Aku berbalik
dan berjalan pergi sambil menggerutu, “’Sampai jumpa lagi’ katamu? Jeez...”
***
Aku
tidak tahu apa yang aku mimpikan tadi malam. Yang jelas, selama ini pun aku
tidak pernah berpikir tentang berkenalan dengan Daehyun. Walaupun aku tidak
bisa tulus mengatakannya, aku berterima
kasih pada namja bernama Himchan itu. Kalau dia tidak memintaku
mengantarnya, hal langka ini tidak akan terjadi. Aku masih saja teringat
ekspresi kesal Daehyun tadi, yang di mataku itu terlihat sangat imut. Apa karena itu Daehyun, marah jadi
terlihat imut? Aaah... aku tidak tahu. Dan yang tidak kukira sebelumnya adalah
bahwa dia tahu aku sekelas dengannya. Mungkin hal itu terdengar sepele, tapi
tidak bagiku. Dia ternyata menyadari keberadaanku...
Yang
jelas mulai saat ini mungkin kami tidak akan merasa seasing sebelumnya. Paling
tidak kami sudah pernah berkenalan dan mungkin juga akan saling menyapa. Paling
tidak dia sekarang tahu bahwa yeoja bernama Jung Eunji itu ada.
Tapi,
ada kemungkinan terburuk yang pernah terpikir olehku. Bagaimana kalau suatu
hari dia hilang dari pandanganku? Bagaimana kalau kelas Sejarah Seni Dunia
sudah usai dan aku tidak bisa diam-diam melihatnya lagi? Dan yang paling buruk...
bagaimana kalau dia ternyata sudah memiliki yeoja
chingu?
Aku
lebih memilih untuk tidak memikirkannya lagi, karena beban sebuah ‘jjak sarang’ itu sendiri sudah membuatku
lelah.
***
Pagi
ini aku berangkat ke kampus pagi-pagi demi mengerjakan tugas terkutuk yang
diberikan dosen seminggu yang lalu. Aku terlalu malas untuk mengerjakannya di
kampus sepagi ini, jadi kuputuskan untuk pergi ke sebuah coffee shop di area kampus, karena biasanya di sana aku mendapat
pencerahan untuk mengerjakan tugasku. Kurasakan pancaran sinar matahari di awal
musim semi terasa seperti sedang mengelus tubuhku dengan kehangatannya. Di padi
yang penuh kehangatan ini aku mengerjakan tugas dengan ditemani oleh secangkir frappe yang sesekali sisa busanya
menempel di ujung bibir atasku. Namun yang sangat disayangkan, lagi-lagi aku
harus mengusapnya sendiri.
Baru
saja aku melamunkan sebuah scene drama, seorang namja duduk di depanku dengan
senyuman lebarnya. Himchan.
“Sebentar...”
ucapnya lalu menyapukan ibu jarinya di bibir bagian atasku.
“Apa...
apa yang kaulakukan?” tanyaku masih dengan tampang bodoh. Aku melebarkan mataku
karena kaget. Tak bisa kupungkiri, itu pertama kalinya aku diperlakukan seperti
itu oleh seorang namja, apa lagi namja itu baru kukenal seminggu yang lalu. Tanpa
Himchan tahu, wajahku sedikit memerah karenanya.
“Tidak
ada. Hanya saja ada sisa kopi di bibirmu,” jawabnya sambil tersenyum lagi.
“Aku
tahu dan kurasa aku bisa mengusapnya sendiri,” kataku dengan nada sedatar
mungkin. “Kau sedang apa?”
“Kaupikir
apa? Aku hanya sedang ingin minum kopi.”
“Bukan
itu maksudku. Kenapa kau di sini?”
“Aku
memang sering ke sini kok. Mungkin bisa sampai empat kali sehari,” jawabnya sambil
tersenyum lalu menyesap kopinya.
Aku
memicingkan mataku, setengah tak percaya.
Dia
melihat ekspresi yang muncul di wajahku. “Apa kau pikir aku mengikutimu?”
tanyanya sambil menunjuk wajahnya sendiri lalu wajahku dengan telunjuk
kanannya.
Aku
hanya diam, mengalihkan pandanganku ke tempat lain lalu menyesap kopiku.
Dia
melanjutkan, “Itu sama sekali tidak benar. Aku memang sering ke sini karena aku
suka kopi dan suasana tempat ini. Lagi pula ini kafe untuk umum, jadi
boleh-boleh saja kan kalau a—,” potong Himchan, tapi kata-katanya
berhenti di tengah-tengah. Dia menatap buku gambar yang sedang kupegang. Aku
dengan segera menutup buku gambarku itu. Namun, sepertinya Himchan terlanjur
melihat apa yang kugambar di sana.
“Boleh
kutanya sesuatu padamu?” tanya Himchan dengan tatapan yang aneh. Sinar matanya
yang biasa tampak ceria seolah terhalangi sesuatu. Apa mungkin dia kecewa?
Aku
segera menepis pikiran itu dari benakku lalu menjawab, “Baiklah. Tanya saja.”
“Kau
menyukai Daehyun, kan?”
“Ne?”
hanya itu yang bisa kuucapkan untuk menahan rasa kaget sekaligus malu.
“Sejak
kapan kau menyukainya? Daehyun benar-benar tidak tahu tentang itu.”
“Siapa
bilang aku menyukainya?”
“Hei,
mengaku saja. Aku tahu kau menyukai dia.”
“Aku
bilang, aku tidak menyukainya.”
“Benarkah?
Kalau begitu, bagus lah.”
Aku
memandang wajah Himchan dengan tatapan kaget. Walau aku tahu dia pasti berpikir
seperti itu setelah melihat apa yang kulukis. Ya, aku melukis Daehyun. Aku
tidak bisa melupakan senyumnya pada hari itu saat berkenalan denganku. Bayangan
senyum Daehyun terlalu nyata jika hanya dijadikan sebuah kenangan. Jika aku sedang
kehilangan ide atau inspirasi untuk mengerjakan tugas, pada ujungnya aku selalu
melukis Daehyun. Hal ini seolah sudah menjadi kebiasaanku belakangan ini.
Himchan
melanjutkan, “Kurasa itu jenis cinta yang bisa dibilang bertepuk sebelah
tangan. Benar?”
Aku
tidak bisa mengatakan hal apapun untuk menjawab pertanyaan Himchan yang sangat
menohok itu. Sampai pada akhirnya dia bicara lagi, “Tak perlu menjawab. Ekspresimu
sudah mengatakan semuanya.” Himchan mengatakan semua itu sambil tersenyum. Itu
terlihat mudah baginya, tapi tidak bagiku. Selama ini belum ada orang yang tahu
tentang perasaanku pada Daehyun. Dan satu hal yang paling aku takuti, Himchan
adalah teman dekat Daehyun. Bagaimana jadinya kalau dia memberi tahu Daehyun
semuanya?
“Aku
tidak perlu mendengar apapun darimu, tapi kurasa kau perlu mengatakan sesuatu
tentang itu. Ini kesempatanmu untuk menjelaskan. Walaupun aku lebih percaya
penilaianku daripada alasan yang akan kau ucapkan,” katanya lagi dengan
ekspresi sok yang menyebalkan. “Aku akan
mendengarkan alasan yang sudah kau rancang.”
Aku
menghela napas panjang mendengar kata-kata Himchan.“Ini semua hanya kesalahpahaman,”
kataku berusaha sabar dan tidak emosi menghadapi orang seperti Himchan.
“Baiklah
kalau begitu. Anggap saja ini tidak terjadi,” ucapnya, lagi-lagi dengan
senyuman. Dia kemudian menatap ke arah pintu kafe dan berseru, “Daehyun-a!
Noran-ssi bilang kalau dia tidak pernah memiliki perasaan padamu!”
Dengan
kecepatan cahaya, aku menoleh dengan panik ke arah pintu. Namun ternyata tidak
ada Daehyun di sana. Himchan sedang mempermainkan aku. Sialan!!
“Apa
sih yang kau lakukan?” ujarku sambil melotot ke arahnya.
“Setiap
kali kau mendengar nama Daehyun, kau langsung merona dan kelihatan bersemangat.
Tapi kau masih saja tidak mau mengakuinya.” Kata Himchan lagi, lalu dia kembali
menatap ke arah pintu dan berseru, “Daehyun-a! Kenapa kau ke sini?”
Aku
semakin sebal karena dia berusaha mempermainkanku lagi. “Ya! Bisakah kau
hentikan lelucon basimu itu?” seruku tak sabaran.
“Yang
jelas aku tidak ke sini untuk menemuimu,” jawab suara dari arah belakangku. Tubuhku
menegang saat mendengar suara itu. Aku kenal suara itu. Daehyun benar-benar ada
di sini.
“Oh,
ternyata ada Eunji di sini. Hai...” sapa Daehyun seraya tersenyum padaku.
Himchan
mengalihkan pandangannya dari Daehyun ke arahku, dia tersenyum miring dan mengedipkan
matanya penuh kemenangan. Aku langsung berdiri dari posisiku dan bersiap pergi.
“Pembicaraan
kita belum selesai, Noran-ssi. Apa kau ingin aku memberitahukan pada—”
“Maafka
aku, tapi kurasa aku harus permisi lebih dulu,” kataku cepat. Aku tersenyum
sekilas pada Daehyun lalu bersiap melangkah pergi dari tempat itu.
Namun
tak kusangka, Daehyun memegang pergelangan tanganku saat aku bangkit dari kursi
sambil berkata, “Kenapa terburu-buru? Makanlah
sebelum pergi. Aku yang traktir.”
Aku
menatap tangan Daehyun yang masih melingkari pergelangan tanganku. Jantungku
pun mulai berdebar keras tak karuan karenanya. Dan karena itulah aku hanya bisa
diam tak menjawab tawaran dari Daehyun.
Kulihat
sekilas dari sudut mataku, Himchan menatapku dengan tatapan dan seringaian
setengah mengejek.
“Kurasa
Noran-ssi sedang tidak dalam keadaan dimana dia bisa makan dengan nyaman,” ujar
Himchan tanpa dosa.
Aku
menatapnya dengan tatapan membunuh, tapi dia hanya tersenyum kecil sambil
meminum kopinya. Sedangkan Daehyun, dia langsung melepas tangannya dari
pergelangan tanganku dan bertanya, “Apa kau sedang sakit?”
Aku yang
sedang sibuk membunuh Himchan dalam pikiranku langsung tersentak dan menjawab
dengan cepat, “Tidak. Hanya saja ada sesuatu yang harus kulakukan sekarang.”
Aku
mengalihkan pandanganku dari Daehyun ke Himchan. “Lain kali kita bicarakan lagi
soal ini.”
“Tidak
ada lain kali.”ujarnya dengan ekspresi menyebalkan.
“Aku
ingin kita bertemu lagi besok di sini. Jam lima.”
***
Aku
masuk ke kelas dan duduk di kursi paling depan seperti biasa. Saat itu Hayoung
belum datang, jadi aku hanya bisa melamun sambil bertopang dagu di sana. Aku
kembali teringat wajah senang Himchan setelah berhasil membodohiku tadi. Dia
benar-benar menyebalkan. Baru pertama kali ini aku bertemu dengan orang
sesinting Himchan.
Aku
lalu teringat saat dia mengusapkan ibu jarinya di bibirku dan mendadak pipiku
memanas dengan sendirinya. Aduh, kenapa aku jadi memikirkan dia terus
sih?
“Hei,
kau sedang memikirkan apa? Kenapa wajahmu masam begitu?”
“Tidak
kok, aku hanya sedang melamun saja. Tidak ada apa-apa,” jawabku kemudian
tersenyum.
“Ah,
baiklah.” Hayoung duduk di sebelahku lalu menoleh ke arahku sambil memasang
ekspresi menggoda. “Kurasa aku tahu kenapa akhir-akhir ini kau suka melamun. Kau
sedang jatuh cinta ya?”
Aku
mengibaskan tanganku dengan cepat lalu menyangkal, “Siapa bilang? Aku hanya
sedang memikirkan apa aku harus ikut kompetisi melukis itu atau tidak.”
“Benarkah?
Jadi dugaanku salah? Kukira kau sedang jatuh cinta. Tapi kalau kau jatuh cinta,
kira-kira dengan siapa ya?” Hayoung mengerutkan alisnya sambil mengerjap ke
arahku.
“Ei...
tidak ada yang kusuka.”
“Tapi
kurasa, jika kau jatuh cinta, pasti kau akan menyukai namja yang setipe dengan
Daehyun...” Hayoung mengelus dagunya, lalu menatapku sekilas.
Jantungku
langsung berdetak cepat saat nama Daehyun disebut. Tapi aku berusaha tidak
menampakkan keterkejutanku itu. “Memangnya kau itu aku? Enak saja
menebak-nebak.”
Hayoung
tertawa. “Kan aku hanya menebak. Sepertinya kau suka namja yang seperti itu
sih...”
“Ya,
aku memang sedang jatuh cinta. Pada seorang namja yang sekelas dengan kita di kelas
ini, kuliah Sejarah Seni Dunia. Sudah itu dulu yang kuberi tahu. jangan
menebak-nebak lagi. Aku sedang tidak ingin membicarakan tentang hal ini, tapi
aku janji aku akan cerita padamu nanti. ”
Aku
mengeluarkan buku dari tasku dan kulihat Hayoung menatapku dengan tatapan
heran. Aku tahu dia tidak seratus persen mempercayai kata-kataku tadi.
Satu
per satu mahasiswa masuk ke dalam kelas dan kulihat Daehyun duduk sendirian di
tempat dia biasa duduk. Deretan bangku sebelah kanan, di baris kedua, kursi
nomor tiga. Aku sampai hafal dimana dia akan duduk karena aku selalu
memperhatikan bahkan detail kecil yang ada padanya. Sebelum dosen masuk, saat
aku mengobrol dengan Hayoung, diam-diam aku memperhatikan Daehyun lagi. Kenapa dia sendirian? Apa temannya tidak
berangkat?
Melihat
kenyataan itu, aku semakin ingin menyapa dan mengobrol dengannya, tapi aku
segera sadar bahwa Hayoung jadi
mengawasi setiap gerak-gerikku, mencari tahu siapa namja yang kumaksud,
walaupun aku jadi sedikit tidak nyaman, tapi aku berusaha memasang ekspresi
sebiasa mungkin.
Saat
kuliah berlangsung, mataku terus memaksaku untuk sesekali melirik ke arah
Daehyun. Aku menghembuskan napas panjang. Kau
tidak tahu dan tidak akan pernah tahu betapa senangnya hatiku saat aku sekelas
denganmu di awal tahun keduaku ini...
***
Hari
berikutnya, jam lima sore di kafe yang kemarin, aku bertemu lagi dengan Himchan.
Tapi dari kami berdua belum ada yang memulai pembicaraan sejak lima belas menit
yang lalu, bahkan untuk sekedar menanyakan pesanan. Pada akhirnya kami memesan
sendiri-sendiri. Aku pun hanya bisa menatapnya dengan tatapan sebal.
“Kenapa
menatapku dengan pandangan seperti itu? Apa kau tidak merasa bersalah setelah
membuat namja yang menyukaimu mengetahui kalau kau menyukai sahabatnya?”
Aku
sudah tidak tahan lagi. Aku harus secepatnya menyelesaikan urusanku dengannya
dan berusaha membuatnya yakin kalau aku
tidak memiliki perasaan apapun pada Daehyun. “Aku tahu kalau sekarang nasib dan
harga diriku berada di tanganmu, tapi tidak bisakah kau menghentikan omong
kosongmu? Kau pikir aku punya banyak waktu untuk bermain-main denganmu?”
“Aku
tidak bisa,” jawabnya dengan senyuman lebar. “Kurasa masalah harga dirimu
inilah yang akan membantuku untuk bertemu denganmu, karena aku jatuh cinta pada
pandangan pertama padamu.”
Aku
memutar bola mataku dengan kesal. “Jangan main-main. ”
“Kurasa
sekarang aku tahu kenapa kau mau mengantarku saat itu. Saat itu kau pasti
senang sekali ya, bisa berkenalan dengan Daehyun.”
“Apa
maksudmu?”
”Kenapa
kau menyukai Daehyun?” tanyanya sambil bersedekap.
Aku
menatapnya selama beberapa saat, mencari tahu apa yang sebenarnya sedang
dilakukan namja setengah gila ini. Aku menarik napas panjang lalu menjawab, “Aku
tidak tahu kenapa aku harus menjelaskan perasaanku pada Daehyun padamu, tapi
jika kau ingin tahu, aku tidak pernah memikirkan alasan apa yang membuatku
menyukainya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan perasaanku selalu
tumbuh tiap melihatnya.”
Himchan
mengalihkan pandangannya ke arah luar kafe. Dia tampak tidak senang. “Kurasa
aku harus memberi tahumu dua pilihan. Kau memilih namja lain untuk kau sukai
atau bertahan dengan cinta bertepuk sebelah tanganmu itu. Asal kau tahu,
Daehyun sudah mempunyai hubungan dengan orang lain.”
Aku
mengepalkan tanganku, menahan ledakan emosi. “Kau tidak perlu mempedulikan
nasib cintaku, karena aku akan mengurusnya sendiri. Jadi berhentilah ikut
campur. Aku tidak memerlukan penonton dalam hal ini.” Aku menatap Himchan
lurus-lurus, “Dan juga, tolong jaga rahasiaku. Jangan sampai Daehyun tahu.”
“Apa
kau tahu jika permintaanmu itu sangat menyebalkan, Noran-ssi?”
“Apapun
yang kaupikirkan, ini tetap janji.”
“Apa
yang membuatmu berpikir jika aku setuju?”
“Kumohon,”
ucapku pelan. “Kau akan menepatinya, kan?”
“Aku
tidak mengira kalau ternyata kau begitu bodoh. Kau benar-benar tidak tahu
apa-apa tentang namja.”
“Apa?”
tanyaku, sama sekali tidak mengerti.
“Namja
yang sedang duduk di hadapanmu ini,” ujar Himchan dengan tatapan serius. “Sudah
mengatakan padamu kalau dia menyukaimu dan kau dengan kejam menyuruhnya untuk
menjaga rahasia tentang perasaanmu pada orang lain. Tidakkah kau berpikir jika
kau telah berbuat kasar padaku?”
“Baiklah,
aku akui jika aku kejam padamu. Lalu kau ingin aku melakukan apa?”
“Kapan
pun aku ingin melihatmu, kau harus datang. Tak peduli kau sedang apa dan di
mana.”
“Tak
bisa kupercaya,” kataku sambil tersenyum mengejek, menahan tawa mendengar
permintaannya yang tak masuk akal. “Lalu apa yang akan kau lakukan kalau aku
tidak melakukannya? Apa kau akan membocorkan semuanya pada Daehyun?”
Himchan
menyela dengan santai. “Jangan mencoba mengujiku.”
Mendengar
itu, tawa langsung menghilang dari wajahku digantikan pelototan kesal.
Namun
Himchan terus tersenyum sambil memakan wafflenya.
“Kau tidak makan?”
“Aku
tidak lapar. Kau makan saja, aku mau pulang.”
“Siapa
bilang kau boleh pulang?”
“Urusan kita sudah selesai. Kenapa masih saja
menahanku?”
“Makan
dulu waffle-mu,” katanya sambil memotong wafflenya menjadi bagian-bagian kecil.
Aku
menatapnya kesal. “Sungguh hanya karena waffle ini kau memintaku tetap di sini?”
Dia
menatapku lalu tersenyum. “Mana mungkin seperti itu.”
“Lalu
apa?” tanyaku sambil berusaha menekan emosiku, karena aku tahu dia mulai
bermain-main lagi denganku.
“Apa
kau tidak pernah jatuh cinta?”
Aku
tidak menjawabnya, hanya memicingkan mata.
“Apa
kau benar-benar tidak tahu apa alasan seorang namja menahan seorang yeoja untuk
tidak pergi?” tanya Himchan dengan senyum lebarnya. “Apa kau tidak pernah jatuh
cinta sebelumnya? Sangat memalukan jika kau tidak tahu, mengingat kau sudah menyukai
Daehyun seca—”
Aku
memotong kalimat Himchan dengan tidak sabaran, “Aku memang tidak tahu. Dan karena
itu lah aku bertanya padamu!”
“Sudahlah,
lupakan. Kau bisa pergi. Tapi sebelum itu, beri aku nomor teleponmu.”
Aku menulis
nomorku di selembar kertas lalu mengulungkannya pada Himchan. “Aku minta maaf
karena telah membuatmu tidak nyaman. Tolong mengertilah. Sekarang aku bahkan
kehilangan kesempatan untuk menyatakan perasaanku pada Daehyun. Jadi—”
“Aku
memutuskan untuk memulai kisah cinta bertepuk sebelah tanganku,” ujar Himchan
tiba-tiba.
“Apa?
Dengan siapa?” tanyaku spontan.
“Denganmu.”
Aku
mengerutkan alis lalu menunjuk wajahku sendiri. “Aku?”
“Kau
tidak boleh melarangku.”
Aku
menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Jadi kau bilang kau akan memulai cinta
bertepuk sebelah tangan denganku dan kau baru saja mengatakannya secara
langsung padaku. Begitu?”
“Ya,
begitulah.”
“Kenapa
kau bersikap seperti ini padaku?”
“Kenapa
kau tidak menyukaiku?” tanya Himchan.
“Kenapa
kau bersikap seperti ini padaku?” ulangku lagi tapi dengan nada tinggi.
“Tak
bisakah kau menyukaiku sedikit saja?”
“Kenapa
kau bersikap seperti ini padaku?” ulangku untuk yang ketiga kalinya.
“Aku
sudah mengatakan alasannya dua-tiga kali, tapi kau terus saja lupa. Aku pikir
ini bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah kau lupakan.”
“Apa
kau merasa senang setelah bermain-main denganku? Aku membiarkanmu melakukan itu
karena aku merasa bersalah dan karena kau tahu rahasiaku, tapi—”
“Aku
bukan anak kecil yang senang bermain-main.”
“Apa
kau pikir memulai sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan itu mudah? Apalagi
kau selalu bermain-main, tidak pernah serius.”
“Hanya
karena aku tampan dan terkenal, kau pikir aku tidak bisa serius?”
Aku
memutar bola mata karena sebal. “Jadi, kau benar-benar akan memulai cintamu
yang bertepuk sebelah tangan itu padaku? Dan apa kau bilang aku tidak boleh
melarangmu?”
“Paling
tidak aku tadi tidak memintamu menerimaku.
Apa kau menyukai Daehyun dengan ijin darinya? Tidak, kan?”
“Tapi
paling tidak aku tidak pernah menampakkan kalau aku menyukainya.”
“Oh,
jadi karena itu kau tertangkap basah olehku?“ tanggap Himchan penuh sarkasme.
“Itu—”
aku tidak bisa bicara lagi. Bermain kata dengan Himchan sama saja dengan bunuh
diri, karena sudah pasti dia yang menang. “Lupakan! Aku pergi sekarang.”
***
Semenjak
Himchan tahu tentang perasaanku pada Daehyun, hidupku tidak lagi tenang. Aku
seolah dihantui oleh sesuatu yang abstrak. Aku hanya menyukai seseorang, tapi
kenapa aku merasa seperti baru saja melakukan sebuah kejahatan besar? Aku tidak
ingin orang lain tahu. Aku selalu disiksa oleh rasa gelisah, takut jika orang
lain akan menangkap gelagatku.
Tapi
sekarang berbeda. Himchan sudah tahu tentang itu dan kegelisahanku bertambah
besar. Bagaimana kalau dia memberitahu Daehyun tentang hal ini dan Daehyun
menghindariku?
Aku
menggelengkan kepalaku kuat-kuat karena menyadari beberapa hari ini tanpa sadar
pikiran tentang Himchan menelusup dalam kepalaku. Aku berusaha untuk tidak
mempedulikan kekhawatiranku tentang Himchan yang tahu jika aku menyukai
Daehyun. Aku menghela napas panjang lalu menoleh ke arah luar jendela kelas,
berharap Daehyun sudah duduk di sana, di
dekat jendela, di gedung seberang. Mungkin orang lain akan berpikir aku semacam
orang bodoh atau apa, tapi aku suka. Melihatnya dari kejauhan seperti ini
membuat perasaanku sedikit senang. Ya, selain mata kuliah Sejarah, aku juga
suka dengan mata kuliah melukis, karena dari gedung ini, aku bisa melihat
Daehyun, walaupun tidak begitu jelas aku tetap senang. Namun tiba-tiba sosok
Himchan datang lagi mengganggu pikiranku, membuat kekhawatiranku muncul
kembali. Aku kembali menghela napas panjang dan bertopang dagu.
Semua
lamunanku buyar saat Hayoung datang dan mengagetkanku. Mendadak rasa bersalahku
muncul mengingat aku belum memberitahunya tentang semua hal absurd yang
menimpaku belakangan ini.
“Ya!
Kenapa belakangan ini kau sering melamun sih? Ada masalah apa?” Dia mulai
memberondongku dengan pertanyaan. Aku tahu jika cepat atau lambat aku harus
memberitahunya.
Aku
hanya tersenyum kecil. “Tidak ada kok. Jangan khawatir.”
“Hei,
jangan bermain rahasia denganku.”
Kurasa
aku memang tidak bisa merahasiakan apapun dari Hayoung. Sahabat karibku ini
pasti akan tahu dengan sendirinya. Jadi kuputuskan untuk memberitahunya
sekarang. “Kau sudah tahu kan jika aku menyukai seseorang?”
“Ya,
aku tahu dan aku bersyukur karena akhirnya kau jadi gadis normal!” katanya
senang.
“Ya!
Apa maksudmu berkata seperti itu?” seruku tak terima.
“Maaf,
aku tidak bermaksud apa-apa,” ujarnya sambil meringis. “Lalu siapa dia?”
Aku
mendekatkan bibirku ke telinga Hayoung dan berbisik, “Jung Daehyun. Aku
menyukainya sejak pertama melihatnya di kelas.”
“Mwo?
Jadi benar dia?” seru Hayoung tak percaya. “Tapi bukannya dia sekarang sedang
berkencan?”
“Aku
tahu itu. Tapi masalahnya bukan itu saja.”
“Kalau
bukan hanya itu, lalu apa lagi?” Hayoung mengerutkan alisnya bingung.
“Apa
kau tahu Kim Himchan?”
“Kim
Himchan? Bagaimana kau bisa tahu tentang Kim Himchan?”
“Aku
bertemu dengannya beberapa kali di kafe,” ujarku pelan. “Apa kau tahu dia orang
yang seperti apa?”
Mata
Hayoung membulat karena tak percaya. “Kau beberapa kali bertemu dengan Himchan
di kafe? Aku tidak pernah mengira jika kau mempunyai daya pikat sebesar itu...”
“Ya!
Bukan itu masalahnya sekarang!” aku melotot pada Hayoung. “Apa kau tahu Himchan
itu orang yang seperti apa?”
“Aku
belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Tapi menurutku dan menurut
gosip yang kudengar, dia itu tampan, mempunyai kepribadian yang baik, supel dan
yang jelas dia dikelilingi banyak yeoja.”
“Ah,
jadi begitu...”
“Apa
sesuatu terjadi di antara kau dan Himchan?”
“Tidak
ada. Hanya saja dia tahu kalau aku menyukai Daehyun dan seminggu yang lalu dia
berkata padaku kalau dia menyukaiku. Kurasa dia setengah gila.”
“Hei,
semua orang memang jadi gila kalau sedang jatuh cinta.”
“Ya!
Tapi mana mungkin baru bertemu tapi dia langsung menyukaiku?”
“Apa
kau tidak merasa jika kau bahkan lebih gila dari Himchan?”
“Mwo?
Bagaimana bisa—”
Hayoung
memotong dengan cepat. “Kau juga menyukai Daehyun saat pertama melihat dia kan?
Kau tidak pernah menyapanya apalagi mengobrol. Sedangkan Himchan selangkah
lebih maju darimu. Dia berani mengungkapkan padamu kalau dia memiliki perasaan
padamu. Tapi kau...” Hayoung menggelengkan kepalanya sambil menatapku dengan
tatapan hopeless.
“Itu
berbeda. Dia tahu aku tidak sedang berkencan,” bantahku membela diri.
“Jika
Daehyun tidak sedang berkencan, apa itu akan mengubah keadaan?” tanya Hayoung
tajam. Aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa menjawab apapun.
“Himchan...
dia tahu kalau kau menyukai Daehyun,” kata Hayoung lagi, dia seakan sedang
menelisik sesuatu. “Bahkan walaupun dia tahu kenyataan itu, dia masih saja
mengejarmu. Kurasa dia sudah benar-benar jatuh cinta padamu. Kenapa kau tidak
mencoba menjalin hubungan dengannya? Daripada kau menggalau gara-gara Daehyun
yang sudah jelas-jelas tidak akan bisa jadi milikmu.” Hayoung mengangkat
bahunya. “Why not, Jung Eunji?”
Baru
saja aku akan menjawab kata-kata Hayoung, ponselku bergetar keras tanda sebuah
panggilan masuk.
“Yeoboseyo?”
kataku dengan ragu, tak tahu siapa yang berbicara di seberang sana.
“Ini
aku. Himchan,” balas suara di seberang.
“Ada
apa?” tanyaku sedikit ketus.
“Apa
kau sudah membuka lokermu di ruang ekskul lukis?”
“Belum.
Memang ada apa di sana? Awas saja kalau kau—” ucapku mulai kesal.
Baru
saja aku akan meneriakkan umpatan padanya, dia dengan seenaknya memutus
telepon.
Hayoung
yang dari tadi memperhatikanku langsung bertanya, “Siapa? Himchan?”
Aku
hanya memberi anggukan lemas untuk menjawab. Aku langsung teringat pertanyaan Himchan
tentang loker dan aku pun menggeret Hayoung ke ruang ekskul lukis untuk
memeriksa apa yang dilakukan Himchan pada lokerku.
Aku
membuka lokerku dengan kalap dan menemukan sebuah kotak kecil dengan pita
kuning diikatkan di atasnya.
“Wah,
apa itu?” tanya Hayoung yang sedari tadi sudah penasaran setengah mati.
“Aku
juga tidak tahu,” jawabku datar lalu membuka ikatan pita kuning itu perlahan. Sebuah
kalung dengan liontin berbentuk payung kuning mini. Aku mengedipkan mataku
beberapa kali melihat kalung super imut ini. Namun aku segera tersadar, aku
tidak bisa memiliki kalung ini dan harus mengembalikannya pada Himchan sekarang
juga.
Aku
berlari keluar ruangan tanpa mempedulikan seruan Hayoung yang penasaran kemana aku akan
pergi.
Aku meraih ponsel dalam tas dan menelepon Himchan. Dalam dering ketiga dia
mengangkat teleponku, “Ada apa, Noran-ssi?”
“Kau ada
di mana sekarang?”
“Seperti
biasa, di kafe.”
Aku
langsung memutus sambungan telepon dan bergegas pergi ke kafe langgananku.
***
“Apa
maksudmu dengan menaruh benda ini di lokerku?” tanyaku langsung sambil
menyodorkan kotak kecil itu di depan wajah Himchan.
“Kalung
seharusnya dipakai, bukan ditenteng kemana-mana. Apa kau tidak suka?”
Aku
memutar bola mata dengan sebal. “Apa artinya ini? Aku tidak bisa menerimanya.”
“Kenapa
tidak bisa?” ujarnya santai. “Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang istimewa
untuk cintaku yang bertepuk sebelah tangan.”
“Mana
ada orang yang akan memberikan kalung pada cinta mereka yang bertepuk sebelah
tangan? Kau terlalu berlebihan.”
“Itu
kan hanya hadiah. Tapi kalau kau tidak mau, kembalikan saja.” Himchan mengambil
kotak kecil itu dari tanganku lalu memberikannya pada seorang yeoja yang
tiba-tiba sudah ada di sebelah Himchan. Entah dia tiba-tiba ada di sana atau
aku saja yang baru melihatnya. Yang jelas yeoja itu... sangat cantik.
“Aku
bisa memberikan ini padanya, kan?” ujarnya sambil menatap ke arahku lalu ke
arah yeoja itu.
Yeoja
itu kemudian menatapku dengan tatapan tak mengerti. “Dia siapa?” tanyanya pada
Himchan.
“Cintaku
yang bertepuk sebelah tangan, Jung Eunji.” Jawab Himchan santai sambil
menatapku, lalu memberi isyarat pada yeoja itu untuk meninggalkan kami berdua.
Aku
menahan emosiku mendengar jawaban Himchan. Dia mengatakan semua itu seolah
semua ini adalah permainan tak berarti.
“Siapa
dia?” tanyaku balik.
“Menurutmu
siapa?” tanya Himchan.
Tiba-tiba
aku merasakan emosi yang tidak biasa menjalari otak dan tubuhku. Aku ingin
sekali menjambaki rambut yeoja itu dan juga Himchan. “Oh, jadi begini cara seorang
namja dengan cinta bertepuk sebelah tangan bersikap?” tanyaku sambil
menggeretakkan gigi.
“Apa
namja yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan tidak boleh menyukai yeoja
lain?”
“Kau
pikir ini semua masuk akal?”
“Kenapa
tidak? Lagi pula aku bukan siapa-siapamu.”
Aku
melebarkan mata karena kaget sekaligus tidak terima. “Kau bilang apa?”
Himchan
tersenyum miring dengan gaya soknya
lalu berkata dengan datar,“Kau ingin berkencan denganku?”
Aku
mengalihakan pandanganku sejenak ke arah lain sambil menghembuskan napas kesal
lalu kembali menatap Himchan. “Apa kau gila?”
“Kalau
kau tidak mau berkencan denganku, lalu kenapa kau marah-marah? Kau menyukai
namja lain, tapi kau mengharapkanku untuk setia dengan hanya menyukaimu? Lucu
sekali...” Himchan menatapku lurus lalu tersenyum, “Kalau sudah selesai, kau
bisa pergi.”
***
Malam
harinya, aku benar-benar tidak bisa tidur. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku
merasakan amarah yang tidak biasa menjalari tubuhku sejak kejadian di kafe
tadi. Aku terus membolak-balikkan tubuhku mencari posisi tidur yang sekiranya
nyaman, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Aku jadi semakin kesal pada namja
brengsek satu itu.
Saat
aku menutup mataku, yang kulihat hanya gambaran kejadian tadi. Ekspresi dan
kata-kata Himchan berulang-ulang masuk ke dalam pikiranku dan membuatku sedikit
depresi. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku terus saja berpikir
tentang Himchan?
Aku
membuka mataku lagi dan beralih ke posisi terlentang. Kupandangi langit-langit
kamarku, seolah ada jawaban atas semua ini di sana. Namun lagi-lagi wajah Himchan
menghantuiku. Aku beralih ke posisi duduk, mengacak-acak rambutku dengan kesal
seperti orang gila lalu menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. “Aaaaa!
Aku pasti sudah gila!”
***
Sudah
hampir dua minggu ini aku tidak berkomunikasi dengan Himchan. Aku tidak pernah
melihatnya di kafe maupun di dalam kampus. Aku pun merasa sedikit lega karena
tidak bertemu dengan namja setengah gila itu. Namun di balik itu semua, aku
tetap saja terus memikirkan apa dia sudah memberitahu Daehyun tentang rahasiaku
atau tetap menjaganya. Selain itu, aku juga masih terpikir tentang kejadian
pada saat terakhir kami bertemu. Tiap mengingat kejadian itu, mendadak aku jadi
gusar sendiri tanpa sebab.
“Eunji-ya.
Apa kau mau ikut aku ke acara final kompetisi dance?” suara Hayoung lagi-lagi
menginterupsi lamunanku.
Aku
mendongak ke arahnya dengan tatapan malas. “Buat apa kita ke sana?”
“Aku
ingin memberi dukungan pada Junhong tentu saja. Ayolah, ikut saja. Oke?”
“Terserah,”
jawabku singkat.
“Baiklah.
Ayo ke tempat parkir. Junhong sudah menunggu di sana.”
Aku
menghela napas panjang. Tapi kupikir menonton final ini pasti akan sangat
menghiburku.
“Ya,
Hayoung-a. Kenapa ada dia di sana?” tanyaku sambil menunjuk dengan dagu ke arah
Himchan yang sedang mengobrol dengan Junhong di sisi depan mobil.
“Aku
tidak tahu. Mungkin dia segrup dengan Junhong di acara itu?”
Aku
menghentikan langkahku seketika itu juga. Hayoung ikut menghentikan langkahnya
dan menatapku heran. “Kenapa kau berhenti?”
“Aku
malas jika ada orang itu.”kataku seperti anak kecil.
“Ayolaaah...
kalau kau tidak mau melihatnya, kau bisa menutup matamu.”
“Oh,
tolonglah. Aku sedang tidak bercanda. Aku benar-benar tidak ma—”
“Noran-ssi!”
teriak Himchan dari sana sambil melambaikan tangan. Dia melakukan itu dengan
ringan seolah tak mempunyai kesalahan padaku. Aku benar-benar sewot melihat
tingkahnya itu.
Hayoung
menatapku dengan senyum geli. “Kurasa kau tidak bisa kabur.”
“Tsk!
Sialan. Kenapa aku selalu terjebak dalam situasi menjengkelkan seperti ini sih?”
“Apanya
yang menjengkelkan?” itu suara Himchan, dia sedang berjalan mendekatiku dan
Hayoung.
“Kau,”
jawabku dengan ketus.
“Kau
ini tidak bisa ya, sedikit saja bersikap manis padaku?”
“Bersikap
manis padamu? Aku bisa terkena kutukan seumur hidup jika melakukannya.”
“Terserah
apa katamu. Cepat masuk mobil. Acaranya dimulai sebentar lagi.”
Tanpa
berkata-kata lagi, aku mengekor di belakang Hayoung lalu duduk di jok belakang
bersamanya. Namun, tiba-tiba Himchan meminta Hayoung untuk bertukar tempat
duduk dengannya dengan iming-iming agar Hayoung bisa duduk di sebelah Junhong. Tentu
saja Hayoung mau. Aku benar-benar kesal saat itu. Kenapa lagi-lagi aku harus
berhubungan dengan Himchan?
“Siapa
bilang kau boleh duduk di sebelahku? Duduk saja di bagasi,” ujarku super ketus.
“Wow.
Kau kejam sekali Noran-ssi.” Himchan tersenyum sambil memegang pintu mobil yang
terbuka dengan sebelah tangannya sementara setengah tubuhnya ada di dalam
mobil.
Junhong
dan Hayoung terkekeh melihatku dan Himchan bertengkar seperti anak kecil, tapi
aku tidak mempedulikannya.
“Kulihat
kalian berdua akrab sekali. Kenapa tida berkencan saja?” tanya Junhong sambil
tertawa.
Aku
memelototinya dan dia pun langsung terdiam, tapi dia berkata lagi, “Kalau
berkelahi terus seperti itu, nanti kalian bisa jadi saling menyukai lho...”
Himchan
langsung menanggapi dengan senang dan mengerling padaku. “Kuharap begitu.”
Aku membantah
dengan keras. “Mana mungkin itu terjadi?”
“Eunji-ya.
Kalau kau tak mau itu terjadi, biarkan saja dia duduk di situ. Lagi pula ini bukan
masalah yang besar untuk diperdebatkan. OK?” ujar Hayoung tampak tak sabar. Aku
pun hanya mengangguk lemas sementara Himchan langsung memperlihatkan senyumannya
yang menyebalkan itu padaku. Dia kemudian duduk dan terus saja menatapku sambil
tersenyum atau lebih tepatnya menahan tawa.
“Kenapa
kau tersenyum seperti itu? Apa ada yang lucu?” sambarku dengan keras dan tajam.
“Mana yang lebih lucu? Orang yang memberikan kalung padahal dia sudah punya
yeoja lain atau aku yang—”
Himchan
memotong kalimatku, “Kau kelihatannya marah, Noran-ssi. Jika aku menjelaskan,
apa kau akan mendengarkannya?”
“Kau
harusnya menjelaskannya sebelum mengusirku saat itu.”jawabku dengan sarkasme
sebanyak yang aku bisa munculkan.
“Dalam
situasi seperti itu, apa kau ingin aku meninggalkannya dan mengejarmu? Aku
bukan orang yang akan tergila-gila pada yeoja yang tidak pernah tertarik
padaku.”
Junhong
menginterupsi sambil menatap wajahku dan Himchan dari kaca dalam mobil, “Kalian
berdua ini benar-benar ya. Bisa-bisanya bertengkar di sini seolah aku dan
Hayoung tidak ada.”
“A...
aku tidak—”
Himchan
menyeringai dan sambil menatapku dia menjawab dengan ringan, “Maaf karena
membiarkan kalian mendengarkan urusan rumah
tangga kami.”
“Rumah tangga katamu?” aku melotot
mendengarnya, kurasa dia benar-benar sudah tidak waras.
“Kurasa
kalian benar-benar saling menyukai,” ujar Hayoung seraya menahan senyum di
wajahnya.
Aku
langsung berseru tak terima, “Anigeodeun!”
***
Kami
berempat memasuki ruang ganti dan makeup di lokasi final akan dilangsungkan. Sejak
turun dari mobil, Himchan terus saja berjalan di sebelahku. Aku mempercepat
jalanku tapi sama saja, kakinya jauh lebih panjang dari kakiku. Tiba di ruang
ganti, ternyata Daehyun juga sudah ada di sana. Lagi-lagi mendadak tubuhku jadi
kaku.
Kemudian
kulihat Daehyun tersenyum ke arahku dan Himchan, lalu menghampiri kami berdua. “Kalian
berdua benar-benar berkencan ya?”
Aku
menatap ke arah Daehyun dengan gugup dan menjawab terbata. “Ti..tidak. Ada
orang lain yang kusukai.”
“Tidak
masalah.” Himchan yang menanggapi. “Bahkan jika kau memiliki namja lain, itu
tidak akan jadi masalah untukku. Lagi pula namja yang kau sukai juga tidak
memiliki ketertarikan padamu. Jadi, lupakanlah dia dan mulailah menyukaiku.”
Aku
melirik ke arah Daehyun dengan resah lalu ke arah Himchan dengan tatapan kesal.
Daehyun
tersenyum geli dan menanggapi, “Hei. Apa kau sedang melakukan pengakuan cinta
sekarang?”
Himchan
menjawab sambil terus menatapku. “Ya, aku melakukannya setiap kami bertemu. Karena
aku menyukainya, aku tidak pernah peduli tentang harga diriku. Aku akan
melakukan apapun sampai akhir.”
Himchan
kemudian memegang pergelangan tanganku. Aku berusaha melepaskannya, tapi
genggamannya pada tanganku terlalu erat.
“Ayo
pergi. Wajahmu memerah.”katanya lalu menarikku keluar.
Aku
membungkuk sedikit pada Daehyun untuk berpamitan dan mengikuti Himchan.
“Apa
maksudmu dengan mengatakan hal seperti itu di depan Daehyun, eo?” umpatku
segera saat kami keluar dari ruang ganti.
“Apa
kau ingin Daehyun tahu tentang perasaanmu padanya? Atau jangan-jangan kau
memang berharap dia tahu?”
Aku
menyambarnya dengan kasar, “Apa yang kau katakan, eo?”
“Manusia
memiliki kemampuan untuk melihat yang sangat sempurna jika dibandingkan makhluk
lain di dunia ini. Tapi kau hanya bisa melihat Daehyun, Daehyun dan Daehyun. Dari
tadi kau terus saja memandanginya dengan mata berbinar. Bukankah kau bilang
perasaanmu itu sebuah rahasia? Karena itulah tidak seharusnya kau melakukan hal
yang bisa membuatmu ketahuan.”
Aku
tak menginterupsi perkataan Himchan, karena aku tidak tahu harus mengatakan apa
untuk membela diriku.
“Biarkan
aku menanyakan sesuatu padamu. Kau memiliki kesempatan, tapi bagaimana bisa kau
tidak pernah mengungkapkannya pada Daehyun? Kau tidak ingin melukai perasaan
yeoja yang berkencan dengan Daehyun atau tidak ingin melukai dirimu sendiri?”
Aku
menatap Himchan dengan sengit. Aku kesal kenapa dia selalu bertingkah seolah
tahu semua tentangku dan apa yang kurasakan. Aku baru saja akan menjawab
kata-kata Himchan saat pintu ruang ganti terbuka dan Yonguk muncul dari
baliknya.
“Himchan-a,
bisakah kau membelikan air minum untuk kita? Karena tanpa makeup pun kau sudah
tampan, kurasa kau bisa—”
Himchan
memotong, dia tampak terganggu lalu mengibaskan tangannya. “Baiklah. Akan kube—”
“Biar
aku yang membeli. Kalian bersiap-siap saja,” sambarku cepat. Sebenarnya ini
kulakukan agar aku bisa terhindar dari Himchan dan segala hal tentangnya yang
menyebalkan untuk sesaat. Ya, dengan kata lain, aku kabur dari Himchan.
Yongguk
menatapku dengan senang dan mengulungkan beberapa lembar uang padaku. “Terima
kasih banyak. Kami merasa sangat terbantu,” katanya lalu menepuk pundak
Himchan, menyuruhnya kembali ke ruang ganti.
Selepas
mereka masuk, aku menghembuskan napas lega. “Untung saja aku tidak harus
menjawab pertanyaan Himchan...”
***
Aku berjalan menuju ke tempat pelaksanaan final setelah
membelikan minuman dan beberapa macam snack. Saat melewati sebuah lorong kecil
di antara dua gedung, aku mendengar seseorang memanggil-manggil dari arah
lorong itu.
“Hei, Hajin.”kata suara itu. “Hajin, kemarilah.”
Aku menoleh ke sekelilingku, mencari orang yang kira-kira
bernama Hajin. Namun yang ada di sana hanya aku.
“Iya, kau yang memakai dress warna biru.”
Aku melihat pakaian yang kupakai yang langsung bergidik. “Aku?”
“Aku tahu jika kau itu Hajin. Jadi jangan berpura-pura.”
Aku mempercepat langkahku karena dalam pikiranku sudah mulai
muncul hal-hal yang tidak kuinginkan. Namun, seseorang mencegatku. Seorang
namja yang memakai setelan tapi terlihat sangat lusuh.
“Hajin-a,
aku sungguh merindukanmu. Sudah lama aku tidak melihatmu,” kata namja itu lalu
bersiap memelukku. Aku tentu saja menghindar. Kurasa dia pasti orang gila. Apa yang harus kulakukan?
“Maaf,
tapi aku bukan Hajin. Aku Eunji.”kataku sambil menahan kengerianku.
“Kau
itu Hajin! Hajin-ku!” seru namja itu sambil menghentak-hentakkan kakinya
seperti anak kecil.
“Baiklah
kalau itu maumu. Ya, aku Hajin. Jadi sekarang aku oleh pergi, kan?” kataku lalu
berlari sekencang mungkin, tapi orang gila itu masih terus saja mengejarku sambil
memanggil-manggil nama Hajin. Yang
membuatku heran, kenapa tidak ada orang yang sadar kalau dia orang gila. Menyebalkan!
Di
saat-saat kritis seperti ini, tiba-tiba aku melihat Himchan tengah berlari ke
arahku. Aku tidak tahu ini nyata atau tidak, yang jelas aku merasa sangat
terberkati.
Aku
langsung bersembunyi di balik punggung
Himchan begitu dia tiba.
“Ada
apa? Kenapa kau lama sekali belanjanya?” tanyanya, dia terlihat cemas.
“Ada
orang gila mengejar-ngejarku. Tolong aku.”jawabku sambil terengah.
“Hajin,
di mana kau?” seru orang gila itu sambil berlari menuju ke arah Himchan. “Apa
kau melihat Hajin-ku?”
“Ada
perlu apa kau mencari Hajin? Sekarang dia milikku, jadi kau pergi saja sana!”
bentak Himchan.
Aku
kaget dengan apa yang dilakukan Himchan. “Apa sih yang kaulakukan? Kau membuatnya
tambah marah,” bisikku padanya.
“Kau
diam saja. Dia pasti akan segera pergi.”
“Hajin-a,
apa benar apa yang dikatakannya?” orang gila itu tampak terluka.
“Tentu
saja benar. Memangnya kenapa?” jawabku sambil memeluk pinggang Himchan dengan
gaya sok mesra. Tanpa kusadari aku terseret dalam permainan Himchan.
“Aku
tidak percaya!” orang gila itu menghentak-hentakkan kakinya lagi. “Buktikan
kalau kalian benar-benar berkencan!”
Himchan
tersenyum menantang. “Oh, jadi kau mau bukti?” Himchan kemudian memegang kedua
sisi wajahku dengan tangannya. Tangannya begitu hangat menyentuh kulit wajahku.
Lalu kejadian selanjutnya yang membuatku shock. Himchan mencium bibirku. Pada
awalnya dengan lembut, tapi semakin lama tekanan bibirnya semakin terasa. Aku
hanya bisa melotot kaget menerima perlakuan tak terduga ini.
“Sudah
puas?” tanya Himchan pada orang gila itu setelah melepaskan ciumannya dari
bibirku.
“Aku
tidak terima! Ini benar-benar penghinaan bagiku! Hajin-a, aku kecewa padamu. Kau
tega sekali...” ujar orang gila itu sambil menangis lalu berbalik pergi.
“Haaah... akhirnya dia pergi juga,” Himchan
tersenyum lega.
Setelah beberapa saat aku terpana karena kegilaan
tingkah Himchan, aku kemudian sadar dan menendang kakinya keras-keras.
“Ya!
Kenapa kau menendang kakiku?” serunya kesakitan sambil mengelus tulang
keringnya.
“Apa kau bodoh? Akting macam apa tadi itu, eo?”
semprotku kesal lalu mengusap bibirku kuat-kuat dengan punggung tangan.
“Yang itu…” Himchan cengengesan, “Ya kalau tidak
begitu, orang gila itu tidak akan mau pergi. Dia akan mengejarmu terus-terusan.”
Aku menggertakkan gigiku dengan sebal. “Dia memang
orang gila, tapi kau lebih gila dan juga kurang ajar!” Aku berjalan cepat meninggalkan
Himchan yang masih terlihat bingung melihatku bisa semarah itu. Kulihat Himchan mengambil plastik belanjaan yang kutinggalkan
dan langsung menyusulku .
“Noran-ssi!
Maafkan aku, yang tadi itu aku benar-benar tidak sengaja.” Serunya dari
belakang.
Aku
pura-pura tidak mendengarnya dan langsung menyetop sebuah taksi. Aku
benar-benar tidak ingin melihatnya sekarang ini atau mungkin sampai nanti.
Di dalam
taksi, aku masih saja teringat akan kejadian tadi. Tanpa kusadari pipiku
memanas. Darahku berdesir cepat tal seperti biasanya dan jantung berdegup kencang.
Kurasa aku sudah benar-benar dibuat gila oleh namja sinting itu. Aku menutup
mataku sesaat dan aku kembali membayangkan kejadian itu lagi.
Jika
dipikir-pikir, sentuhan bibir Himchan tadi tidak buruk juga. Bibir Himchan
menyentuh bibirku dengan lembutnya bagaikan permen kapas yang manis. Kusadari
jika ciuman Himchan masih terasa nyata bagiku, bahkan aroma kopi di bibir
Himchan masih tertinggal di mulutku.
Aku
menggelengkan kepalaku kuat-kuat setelah memikirkan hal itu. Aduh, apa yang kupikirkan sih? Kenapa aku
jadi merasa gila sendiri memikirkan hal itu?
***
Hari-hari
berikutnya, aku masih saja uring-uringan.
Pikiranku masih saja tertuju pada Himchan dan yeoja tak dikenal itu
serta ciuman yang dilakukannya padaku. Bukannya aku merasa cemburu atau apa,
aku hanya merasa Himchan tidak pernah tulus dengan kata-katanya selama ini dan
hanya bermain-main denganku.
Saat
sedang sibuk-sibuknya mengumpat Himchan dalam pikiran, tiba-tiba seseorang
memanggil namaku. Aku yang sedang berjalan keluar kampus otomatis lan gsung menengok ke belakang. Ternyata
Youngjae. Dia sudah cukup lama mengejarku, beberapa kali dia bilang padaku
kalau dia menyukaiku. Aku tidak pernah menanggapinya karena aku tidak ingin
menyakitinya lebih dalam. Aku sendiri tidak mau kalau hanya dipermainkan saja
oleh orang yang aku sukai, jadi kupikir ini satu-satunya cara.
“Jung
Eunji, tunggu sebentar,” serunya.
Awalnya
aku tidak menanggapinya, tapi tiba-tiba dia sudah berjalan di sampingku,
menjajari langkah kecilku.
“Tunggu
sebentar,” katanya lagi.
Kali
ini aku berhenti lalu berdiri menghadap ke arahnya. “Maaf, tapi aku tidak
memiliki perasaan padamu. Kurasa akan lebih baik jika kau mencari yeoja lain
yang bisa menyayangimu dengan tulus,” ujarku selembut mungkin agar tidak
melukai perasaan Youngjae.
“Ta...
tapi bukankah kau tidak sedang berkencan? Jadi—”
“Kau
salah. Namja chinguku sedang berjalan kesini sekarang,” ujarku lagi sambil
melirik ke arah Himchan yang kebetulan sedang berjalan keluar kampus. Mendadak
aku bersyukur melihat namja menyebalkan itu di saat seperti ini.
Aku
segera meninggalkan Youngjae dan menghampiri Himchan yang saat itu sedang
berjalan sendiri sambil menenteng tasnya dengan sebelah tangan. Aku berhenti di
depan Himchan. Himchan hanya memandangiku dengan tatapan heran sekaligus kaget.
Dengan keberanianku yang tersisa, aku memeluknya dengan erat.
Aku
berkata pada Himchan, “Tunggu sebentar. Tetap dalam posisi seperti ini sebentar
saja...”
Aku melepas
pelukanku pada Himchan lalu menoleh pada Youngjae yang tampak sangat shock. “Kau
benar soal aku tidak sedang berkencan, tapi itu dulu. Sekarang duniaku sudah
dipenuhi oleh dia. Kim Himchan. Kumohon, carilah yeoja yang bisa menyayangimu
dengan tulus.”
Youngjae
pun pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku merasa sangat
bersalah. Setelah Youngjae menghilang dari pandanganku, aku melirik ke arah
Himchan yang kini tengah memandangku dengan tatapan kecewa.
“Mianhae...”
ucapku pelan pada Himchan yang sedang menatapku dengan tajam.
Dia
tidak menanggapi kata maafku dan berjalan pergi begitu saja. Aku yakin aku
sudah melukai perasaannya. Aku pun mengejarnya dan menghadang jalannya.
“Aku
bilang minta maaf,” kataku penuh sesal. “Kau pasti merasa terkejut. Aku akan
jelaskan se—”
“Apa
kau baru saja bilang minta maaf?” kata Himchan setajam dan sedingin jarum es. Matanya
yang memerah menatapku lurus penuh kekecewaan.
Aku
menunduk dalam-dalam. “Aku benar-benar minta maaf.”
“Apa
kau pikir aku cukup baik untuk bisa menerima pengakuan cinta palsumu itu? Kau bilang
apa tadi? ‘Kini duniaku dipenuhi oleh Kim Himchan’? Aku memang menyukaimu, tapi
bukan berarti kau bisa memanfaatkanku seenak hatimu.”
“Aku
tidak bermaksud seperti itu,” ucapku berusaha meyakinkan.
Himchan
menyambar dengan ketus, “Kau memang tidak bermaksud seperti itu, tapi kau sudah
melakukannya.”
“Aku
tidak mau menyakiti Youngjae lebih dalam, jadi—” jawabku jujur.
“Oh,
jadi kau berpikir aku tidak akan sakit hati?” tanyanya penuh sarkasme.
“Bukan.
Bukan itu...”
“Baiklah,
aku mengerti. Aku tahu aku memang tidak cukup penting untukmu menunjukkan
perhatian. Selama ini kau hanya menganggapku namja pengganggu yang tak tahu
malu. Benar, kan?” Himchan menatapku lurus lalu melanjutkan, “Bahkan walaupun
sekarang aku masih menyukaimu, kau tidak sepantasnya memanfaatkan aku seperti
itu. Jadi, mulai sekarang kita tidak usah bertemu lagi. Walaupun itu pertemuan
yang tidak dapat dielakkan, cobalah menghindariku. Aku juga akan melakukannya
seperti itu. ”
“Ya,
Kim Himchan! Aku tahu kau marah, tapi bisakah kau—”
“Sejak
aku bertemu denganmu, aku mulai mengerti bagaimana mencintai dengan tulus.
Karena itulah saat ini aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Tapi aku menyadari
satu hal penting. ”
Aku
mendongak menatap Himchan dalam-dalam, menunggu apa yang akan dikatakannya.
“Aku
kini mengerti bahwa kau tidak akan bisa menerima hatiku. Jadi kurasa aku harus
melepas perasaanku padamu. Aku minta maaf jika selama ini aku sudah
mengganggumu dengan tingkah kekanakanku. ”
Himchan
tersenyum kecil lalu melewatiku dan pergi begitu saja, meninggalkanku yang
hanya bisa berdiri terpaku dengan penuh rasa sesal. Tanpa kusadari, mataku
memanas karena tekanan air mata yang mulai membuncah.
“Apa
yang harus kulakukan?” tanyaku pada diri sendiri sambil mengusap mataku yang
mulai basah. “Kurasa aku menyukainya. Aku menyukainya...”
Aku berjalan
pelan menuju ke halte bus. Baru beberapa langkah aku meninggalkan gerbang
kampusku, hujan turun dengan derasnya. Aku membuka payung kuning yang kugunakan
untuk memayungi Himchan saat pertama kami bertemu. Mendadak suasana hatiku jadi
bertambah melankolis karenanya. Aku menangis di antara derasnya air hujan musim
semi kali ini.
Kusadari, cinta telah datang ke dalam hatiku
layaknya hujan musim semi yang datang tiba-tiba dan membuatku basah kuyup
seperti ini.
***
Aku
menangis dengan tersedu-sedu sambil duduk di ranjang milik Hayoung. Setelah apa
yag dikatakan Himchan padaku tadi, aku merasa tidak akan kuat jika
menanggungnya sendiri. Paling tidak jika ada Hayoung aku akan merasa sedikit
tenang.
“Kau
bilang padaku kalau kau lolos ke babak selanjutnya dalam kompetisi. Lalu kenapa
kau bertingkah seperti ini?” tanya Hayoung bingung sambil melipat tangannya di depan
dada.
Aku
tidak menjawab pertanyaannya, dan menangis semakin keras.
“Paling
tidak kau harus menceritakan padaku apa yang terjadi supaya aku bisa memberi
saran atau membuat rencana untuk menyelesaikannya. Kenapa kau menangis, eo?”
“Seseorang
melepasku, membiarkanku pergi begitu saja.” jawabku dengan napas sedikit
tersekat, tenggorokanku bengkak karena terlalu lama menangis. “Mulai sekarang
aku akan berusaha melupakan semuanya. Ya, kurasa semua ini akan baik-baik saja
jika aku melupakannya.”
“Siapa
‘seseorang’ itu? Apakah... Kim Himchan?”
Aku
diam, tak mau menjawab lagi. Mendengar nama Himchan saja sudah cukup membuat
tangisanku semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar menyesal.
“Aku
tidak mengerti bagaimana bisa Himchan membuatmu seperti ini. Tapi kurasa dia
memiliki lebih dari satu bakat selain dance.”
Hayoung memandangiku dengan tatapan sedih.
Aku
mengeluarkan suara seperti orang tercekik dari tenggorokanku,
tersengguk-sengguk karena terlalu lama menangis. “Maksudmu, bakat lain apa?”
“Dia
memiliki kemampuan untuk membuatmu tertawa pada satu waktu lalu kesal dan
menangis pada menit berikutnya. Dibutuhkan bakat untuk membuat orang lain takluk
pada setiap perbuatannya.”
Masih
dengan sesenggukan, aku menjawabnya. “Kapan aku pernah menangis atau tertawa
karena dia?” semprotku.
“Ya
ampun, kau masih saja menyangkal.”
“Aku
tidak bilang padamu kalau namja itu Himchan!”
“Bahkan
walaupun kau menyangkalnya, aku bisa tahu kalau kau sepenuhnya berbohong
padaku.”
Aku
tahu aku memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Hayoung karena dia
memang tahu segala hal tentangku. “Kau benar. Kurasa tak ada yang bisa
kulakukan mengenai hal itu. Tak peduli seberapa keras aku menyembunyikannya,
semuanya sia-sia. Bahkan kalaupun aku menutupinya, kau tetap dapat melihatnya.”
***
Setelah
puas menangis di depan Hayoung, sahabatku itu akhirnya megantarku pulang ke
rumah. Aku baru saja selesai melepaskan sabuk pengaman saat kulihat eonniku dan
pacarnya sedang berpelukan erat di depan rumah. Aku yang sedang sensitif
langsung menggerutu sebal.
“Ada
apa dengan semua orang? Kenapa mereka melakukan hal ini padaku?”
“Tepat
sekali,” tanggap Hayoung cepat. “Apa yang mereka lakukan di depan rumah? Memangnya
hanya mereka yang sedang jatuh cinta?”
Aku
langsung menoleh ke arah Hayoung dan memelototinya dengan tatapan membunuh. Saat
melihat wajahku, senyum langsung
menghilang dari wajahnya dan dia pun berusaha mengalihkan perhatian, “Pacar
eonnimu sepertinya sudah mau pulang,” ujarnya sambil menunjuk ke depan rumahku
dengan dagunya.
“Keterlaluan!
Menyebalkaaaan!” seruku kesal karena melihat eonniku berpelukan lagi.
***
Ada
satu hal penting yang dapat kupelajari dari apa yang baru saja terjadi antara
aku dan Himchan. Bahwa meninggalkan seseorang memiliki resiko patah hati yang
lebih kecil daripada ditinggalkan seseorang. Walaupun saat kita meninggalkan
seseorang kita akan merasa bersalah, tapi rasa bersalah itu lebih baik daripada
harus merasakan sakit hati seperti ini.
Meninggalkan
dan ditinggalkan sama-sama memiliki resiko sakit hati. Tapi sebelum itu
terjadi, sebenarnya kita bisa memilih mana yang akan kita dapatkan,
ditinggalkan atau meninggalkan. Dua pilihan yang sama sekali tidak menyenangkan
memang.
Seperti
saat ini, tanpa sengaja aku telah memilih opsi ditinggalkan. Semua perbuatanku terhadap Himchan membuatku pantas
untuk ditinggalkan, aku tahu itu.
Banyak
orang memilih untuk mengejar cinta yang dirasa paling pantas untuk mereka
dapatkan. Tapi bagaimana jadinya kalau cinta yang kita rasa pantas, ternyata
tidak mau menerima diri kita?
***
Setelah
kejadian hari itu, beberapa kali aku bertemu dengan Himchan dan seperti yang
dia katakan saat itu, dia bertingkah seolah tidak pernah mengenalku dalam
hidupnya. Saat kami berpapasan, dia melewatiku begitu saja. Saat tak sengaja
berdiri berhadapan, dia berbalik dan langsung berjalan pergi.
Hari
ini entah sudah ke berapa kalinya aku memencet nomor Himchan dan berusaha
menghubunginya, tapi dia sama sekali tidak mengangkat telpon dariku. Aku pun
kemudian memutuskan untuk menunggu di depan ruangan tempat dia biasa berlatih dance. Aku kemudian mengirimkan pesan
teks padanya, memberitahunya kalau aku ada di depan ruang latihannya dan
meminta untuk bertemu. Baru saja pesan itu kukirim, Himchan dan teman
sekelompoknya keluar dari ruangan itu. Kulihat Himchan baru saja membaca
pesanku dan berdecak lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.
Daehyun
menyapaku saat dia lewat, tapi aku tidak terlalu memperhatikannya dan terus
menatap Himchan yang memasang ekspresi dingin sambil berjalan menuju ke arahku.
Aku tersenyum padanya dan bersiap menyapanya. Namun, dia melewatiku begitu
saja. Tanpa melirik ke arahku sedikit pun. Aku mengedipkan mataku beberapa
kali, masih tak percaya dengan perlakuan Himchan padaku setiap kali bertemu. Aku
pun mengikutinya dan memanggilnya.
“Kim
Himchan!”
Himchan
dan teman-temannya berhenti dan mereka semua memandangiku dengan heran. Kulihat
Himchan menyuruh teman-temannya untuk pergi dulu. Aku pun menghampiri Himchan
selepas kepergian teman-temannya.
“Apa
kau sedang mencoba membuatku gila? Kenapa kau selalu menghindariku?”
“Kapan
aku menghindarimu?”
“Kapan? Kau bertanya padaku kapan? Kau selalu menghindariku dan
sebisa mungkin tidak melakukan kontak mata denganku. Bahkan sampai sekarang pun
kau begitu.”
Himchan
seketika itu langsung menatap mataku. “Kalau kau memanggilku hanya untuk minta
maaf, sebaiknya kau pergi. Kau menyukai Daehyun tapi berakhir mengungkapkan
perasaanmu pada—”
“Bagaimana
kabarmu?” tanyaku basa-basi, memotong perkataannya.
“Tidak
baik.”
“Tapi
kurasa tidak seburuk perasaanku...”
Himchan
tersenyum, tapi senyumnya bukan senyum riang yang biasa melainkan senyuman yang
menyimpan kecewa. “Kelihatan sekali kalau kau tidak makan dan tidur dengan
baik.”
“Ya.
Begitulah.”jawabku singkat sambil menunduk.
“Itu
semua karena kau memanfaatkanku.” Ujar Himchan sarkas. “Aku masih memiliki
banyak urusan, jadi aku lebih baik pergi sekarang.” Himchan berkata lalu
bersiap pergi. Dia melirikku sebentar dengan tatapan menusuk.
“Kim
Himchan!” seruku sedikit kesal karena perlakuan Himchan yang sudah keterlaluan.
“Aku tahu kau marah, tapi bagaimana bisa
kau menjadi sekasar itu?”
“Bagaimana
bisa kau menyebut kesungguhan hatiku itu kasar?” jawabnya sambil tersenyum
santai. Jika tidak ada kata-kata yang—”
“Banyak
hal yang ingin kukatakan, jadi jangan menginterupsi lagi dan dengarkan dengan
baik.”
Himchan
mengangkat bahunya lalu menatapku lurus.
“Ijinkan
aku menyelesaikan permintaan maafku. Maafkan aku karena sudah membuatmu
menerima pernyataan cinta palsuku dan membuatmu terluka. Aku akui saat itu aku
tidak melakukannya dengan tulus, tapi bukan berarti permintaan maafku juga
tidak tulus. Jika kau ingin tahu, aku lebih memilih untuk tidak memayungimu
waktu itu. Jadi kita tidak akan pernah saling kenal dan tidak berakhir dengan
saling memiliki perasaan. Sejak pertama kau tidak seharusnya mengatakan padaku
bahwa kau menyukaiku dan membuat hatiku goyah. Jadi semua ini akan berakhir
hari itu juga dan tidak akan menjadi serumit ini.”
Himchan
lagi-lagi tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Aku menjadi emosi sendiri
melihatnya.
“Kenapa
kau tersenyum, eo? Aku mengatakan semua ini karena aku frustasi. Kau sama
sekali tidak mau mendengarkanku.”
“Bahkan
saat ini pun aku berpikir jika kau cantik. Hal itu lah yang membuatku marah.”
Aku
diam mendengar kata-kata Himchan sambil memandanginya dengan tatapan tak
mengerti.
“Aku
minta maaf karena selama ini aku terlalu memaksakan perasaan sukaku padamu. ”
katanya lalu berbalik pergi meninggalkanku.
Aku
hanya bisa terdiam, terpaku di tempatku berdiri sambil memandangi punggung
Himchan yang semakin menjauh dari pandanganku. Perlahan air mata mulai
mengaliri pipiku tanpa aku sadari. Aku pun segera berbalik dan pergi
meninggalkan tempat itu dengan hati yang serasa hancur.
***
Aku
menunggu Himchan di kafe dimana kami sering bertemu. Setiap hari aku selalu
duduk termenung di kafe itu sambil berharap melihat Himchan datang ke sana. Tapi
sudah beberapa hari ini sepulang kuliah aku menunggu dan Himchan masih saja
tidak muncul. Kurasa dia memang sedang menghindariku dan mungkin... membenciku.
Pada
saat seperti inilah aku baru menyadari bahwa aku hanya tahu sedikit tentang
dia. Aku hanya tahu nama dan nomor ponselnya tanpa tahu dia masuk jurusan apa
di universitas ini. Karena itulah aku hanya bisa menunggunya seperti ini.
Aku
menyesap cokelat hangatku sambil melihat keluar, siapa tahu hari ini dia akan
muncul. Lalu kuberanikan untuk mengirim pesan padanya, memberitahu kalau aku
sedang berada di kafe untuk menunggunya. Tapi tentu saja tidak ada balasan
darinya.
“Lihatlah
diriku. Setengah mati ingin melihatnya, tapi dia tidak muncul-muncul juga. Betapa
bodohnya...” gumamku sambil tersenyum sedih lalu mengeluarkan alat gambarku dan
mulai melukis wajah Himchan.
Aku sesekali
memandang ke arah jendela, memperhatikan tiap tetes air hujan yang jatuh di
jalanan dan orang-orang yang berlalu-lalang. Sungguh ini suasana yang sempurna
bagiku untuk merasa resah. Kalau dia
tidak datang, tidak apa-apa. Kalau bukan sekarang, mungkin dia akan datang esok
harinya. Kalau bukan esok, mungkin lusa.
Aku mendengarkan
suara titik-titik air hujan yang jatuh dalam diam. Entah apa yang terjadi
denganku, kurasa aku benar-benar sedang kacau. Bahkan suara air hujan pun terdengar
bagaikan suara langkah kaki Himchan bagiku. Entah kenapa suara hujan musim semi
kali ini begitu mengusikku. Aku bahkan tak dapat menjelaskan kegelisahan yang
kurasakan dalam hatiku dari suara hujan musim semi ini. Orang-orang bilang
kalau hujan musim semi adalah hujan yang akan memekarkan semua bunga. Setelah hujan
musim semi berhenti, bunga-bunga akan berlomba untuk bermekaran dengan indah. Tapi apakah bunga-bunga di hatiku juga akan
bermekaran setelah hujan musim semi ini reda? Aku tak peduli tentang hal
itu sekarang, yang jelas saat ini aku benar-benar menginginkan hujan ini reda. Kenapa
hujan turun begitu derasnya seperti tak pernah kenal lelah? Hujan ini benar-benar
seperti sedang mengejekku.
Aku
menutup buku gambarku lalu meletakkannya di atas meja. Aku menunduk sambil
menutup mataku. Dengan begini aku bisa merasakan aroma kopi dan karamel yang
tersebar di seluruh kafe dengan lebih kuat. Setiap mencium aroma kopi dan
karamel, aku teringat pada Himchan. Tanpa terasa air mata mulai merembes dari
kelopak mataku. Ya, meskipun baru sebentar aku memilikinya di hatiku, air
mataku selalu saja mengalir tanpa ijin karenanya.
Setelah
menunggu selama hampir dua jam, akhirnya aku memutuskan untuk pulang karena
hujan sudah reda dan kafe ini juga sudah mulai sepi. Aku sedang berjalan gontai menuju ke halte bus saat
seseorang memanggilku. Aku menoleh dan mendapati Daehyun sedang duduk di bangku
kecil di pinggir jalan sambil membawa segelas jus di tangannya. Dia memberi
isyarat dengan tangannya yang bebas padaku untuk menghampirinya.
“Kenapa
kau berjalan sendirian malam-malam begini?” tanyanya.
“Aku
hanya sedang ingin jalan-jalan,” jawabku asal. “Lalu...kenapa kau memanggilku?
Apa ada masalah?”
“Aku
akan membuatnya singkat. Ini semua tentang Himchan.”
“Himchan?”
tanyaku heran sekaligus kaget, untuk apa Daehyun berbicara tentang Himchan denganku?
“Ya.
Himchan.”ujarnya pelan sambil menatapku. “Aku minta maaf jika kau menganggapku
lancang atau apa. Tapi aku tahu tentang kau yang menyukai aku.”
Deg. Jantungku seakan mau keluar dari
tempatnya saat Daehyun mengatakan hal itu. “Kau... kau tahu? Apa Himchan yang
memberitahumu?” tanyaku terbata-bata.
“Himchan?”
Daehyun tampak terkejut mendengar pertanyaanku. “Jadi maksudmu Himchan tahu
bahwa kau menyukaiku?”
Aku mengangguk
lemas.
“Bahkan
walaupun dia tahu tentang hal itu, dia masih saja mengejarmu seperti itu. Kupikir
dia benar-benar sudah tergila-gila padamu.” Daehyun menggelengkan kepalanya
beberapa kali.
“Jadi
benar bukan Himchan yang memberitahumu?”
“Ya.
Bukan Himchan yang memberitahuku, tapi gerak-gerikmu selama ini.” jawabnya
dengan tatapan serius ke arahku. “Tapi jujur, dibanding kau, aku lebih khawatir
pada Himchan karena dia sangatlah menyukaimu. Dan kupikir jika aku menyukaimu
pun, aku tidak akan bisa menyukaimu sebanyak yang dilakukan Himchan.”
“Apa
maksudmu dengan—”
“Kulihat
sekarang kau juga mulai menyukainya. Perasaan dan hatimu sedikit demi sedikit
telah berubah. Apa aku salah?” tanya Daehyun sambil tersenyum.
Aku
diam memikirkan semua kata-kata Daehyun.
“Kau
sudah membuat Himchan menunggu terlalu lama. Bagaimana jika hatinya berubah
seperti yang terjadi pada hatimu?”
Mendengar
kalimat itu, aku langsung berlari kembali ke kafe. Sebelum aku pergi, aku
berkata pada Daehyun, “Aku merasa beruntung pernah kenal dan menyukai orang
sepertimu...”
Dan
kulihat Daehyun tersenyum mendengarnya.
***
Aku
berdiri di depan kafe. Aku tersenyum saat melihat Himchan sudah ada di kursi di
mana kami selalu duduk. Aku terdiam dan menatapnya sambil tersenyum kecil. Dia
sedang menunduk dalam hingga tidak menyadari keberadaanku. Aku berjalan
mendekati jendela kafe dan mengetuknya beberapa kali. Dia tampak terkejut saat
melihatku. Aku tersenyum padanya dan dia pun membalas senyumanku. Aku kemudian
mengambil buku gambarku dari dalam tas dan menunjukkan hasil lukisanku padanya.
Lukisan yang menggambarkan suasana saat Himchan menciumku malam itu. Jujur
saja, aku tidak pernah bisa melupakan momen itu dari pikiranku.
Dia
buru-buru keluar dan menemuiku. Aku diam sambil membawa buku gambarku. Lalu kulihat
dia menarik tanganku, mengambil buku gambarku dan melihat apa yang ada di
dalamnya.
“Ini
semua berisi gambarku?” tanyanya tak percaya.
“Ya.
Aku hanya bisa meluapkan rasa rinduku padamu lewat gambar itu.”
Dia kemudian
melihat gambar paling belakang yang tadi kutunjukkan padanya. Dia tersenyum
lalu bergumam, “Aku merindukanmu...”
“Apa
kau bilang?” tanyaku, pura-pura tidak mendengarnya.
“Kau
tadi menungguku?” tanyanya.
Aku
memicingkan mata berpura-pura kesal padanya. “Ya.”
“Apa
kau menunggu dalam waktu yang lama lagi?”
“Ya.
Karena itu bisakah kau berhenti bersikap keras kepala?”
“Ponselku
tertinggal di rumah dan saat aku pulang aku baru membaca pesanmu. Kupikir tadi
kau sudah pergi,” katanya.
“Aku
memang sudah pergi, tapi hatiku membawaku untuk kembali ke sini. Aku
benar-benar kesal. Apa gunanya aku menyukaimu jika hanya membuatku menderita? Tidak
tahukah kau jika beberapa hari ini aku menunggumu di sini hanya untuk
melihatmu?”
“Apa
kau melakukannya karena kau...menyukaiku?” tanyanya.
“Kau
tidak tahu?” aku tersenyum lagi. “Padahal sebelumnya kau yang dengan agresif
mengejarku. Tapi kuakui aku memang menyukaimu, Kim Himchan. Aku bilang aku
menyukaimu. Sudah agak lama sebenarnya. Tapi karena aku takut kau menilaiku
sebagai orang yang gampang jatuh cinta, aku tidak berani menunjukkannya. Aku
mengatakan semua ini bukan agar kau menerimaku atau apa, jadi kalau kau mau
menolakku—”
Kata-kataku
langsung terpotong karena tiba-tiba Himchan mengecup bibirku dengan lembut.
“Ya!
Kau tidak bisa melakukannya secara tiba-tiba seperti itu!” protesku.
“Ternyata
kau benar-benar banyak bicara, tapi pengakuan cintamu itu cukup berkesan, Jung
Eunji.” Himchan kemudian mendekatiku lagi lalu dengan lembut dia mencium
bibirku. Aku bisa merasakan bahwa dia juga sedang menahan napas, seperti halnya
aku. Tangan kirinya kemudian turun dari pipiku ke bahuku. Aku memeluknya dengan
erat seolah tak ingin melepaskannya. Perlahan dia melepas pelukannya dariku. Kita
berdua saling menatap untuk beberapa saat tanpa ada yang memulai pembicaraan. Sampai
pada akhirnya Himchan bertanya padaku, “Sejak kapan kau mulai menyukaiku?”
Aku
tertawa mendengar pertanyaannya.
“Apa
yang kau sukai dariku?” tanyanya lagi.
“Karena
kau tampan sekaligus cantik seperti bunga yang mekar di musim semi,” jawabku
jujur.
“Tidak
perlu menyebutkan hal itu. Sebutkan sesuatu selain yang sudah diketahui seluruh
negeri.”
Aku
menahan senyum mendengar ucapannya. Dia kembali menjadi Himchan yang narsis dan
selalu membanggakan dirinya.
“Saat
kau mengatakan akan memulai kisah cinta bertepuk sebelah tanganmu denganku, aku
merasa gugup. Tiap kali kita bertemu dan kau selalu mengatakan perasaanmu
padaku, aku merasa sedikit terharu. Saat kau memintaku untuk sedikit saja
menyukaimu, aku sudah mulai bimbang dengan perasaanku sendiri. Saat kau bilang
kau akan melepasku, untuk pertama kalinya aku merasa takut. Aku tidak tahu apa
yang akan kulakukan jika kau tidak menyukaiku lagi,” jelasku panjang lebar.
“Sejak
pertama aku melihatmu aku sudah berpikir seperti itu. Apa yang harus kulakukan
jika yeoja ini tidak menyukaiku?”
Himchan
kemudian menggandeng tanganku lalu membukakan pintu mobilnya untukku.
“Ternyata
kau lebih penyabar daripada perkiraanku,” ujar Himchan sambil menyetir
mobilnya.
Aku
menoleh ke arahnya lalu bertanya, “Apa?”
Dia
menoleh sebentar ke arahku lalu menjawab, “Menyukaiku seperti itu, tapi bagaimana
bisa kau menyembunyikannya?”
“Aku
tidak tahu,” ucapku lalu mengangkat bahu. “Lalu bagaimana dengan yeoja yang
membuatmu mengusirku? Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja?” tanyaku
sarkastis.
Himchan
tertawa keras mendengarnya. Dia kemudian meminggirkan mobilnya.
“Kenapa
tertawa?” tanyaku sengit.
“Jadi
saat itu kau benar-benar cemburu ya?” tanyanya di sela tawa. “Aku hanya
menyuruhnya membantuku untuk membuatmu cemburu, tahu. Aku sudah putus asa saat
itu karena kau terus saja menolakku dengan kasar.”
Mendadak
aku merasa bersalah karenanya. “Maafkan aku. Saat itu aku terlalu sibuk dengan
perasaanku sendiri hingga...” ucapanku berhenti di tengah-tengah karena aku
tidak tahu harus mengatakan apa lagi. “Yang jelas aku tidak bermaksud membuatmu—”
“Lupakan.
Aku tidak merasa kau mempunyai salah padaku. Maafkan aku beberapa waktu lalu
karena telah berpura-pura membencimu, berkata kasar dan membuatmu sedih. Aku
menyesal.”
Aku
mengangguk sambil tersenyum padanya. Dia kemudian mengeluarkan sebuah kotak
kecil dari laci dalam mobilnya. Kurasa aku sangat mengenali kotak itu. Himchan
mengulungkan kalung itu padaku sambil tersenyum.
“Kali
ini kau mau menerimanya kan?” katanya.
Aku
mengangguk sambil menatapnya dalam-dalam.
Dia
mengeluarka kalung di dalamnya dan bersiap memakaikannya padaku. “Sini biar
kupakaikan...”
Jantung
berdetak sangat cepat saat kedua lengan Himchan melingkari leherku. Jarak wajah
kami saat itu pun teramat dekatnya hingga membuatku semakin gugup. Setelah
memakaikan kalung itu padaku, Himchan kembali mengecup bibirku dengan lembut. Lagi-lagi
dia berhasil membuat wajahku semerah tomat.
“Baiklah.
Sekarang kita benar-benar berangkat,” katanya lalu menyalakan mesin mobilnya
kembali.
“Sebenarnya
sekarang kita mau pergi kemana?”
“Tentu
saja ke rumah,” jawabnya sambil terus melihat ke jalan.
“Rumah
siapa?” tanyaku polos.
“Tentu
saja rumahmu.” Himchan tersenyum senang lalu melanjutkan, “Atau kau ingin pergi
ke rumah Daehyun?”
Aku
langsung menoleh padanya dan memelototinya. “Kau ini benar-benar ya. Apa kau
sedang cemburu saat ini?”
Dia
mengangkat bahu lalu melirikku sambil tersenyum jahil. “Aku kan hanya
menawarkan.”
***
Yeah... so that's right that flower in my heart blossoms after the spring rain.