Title :
Love Doesn’t Need a Password
Author :
Sonia aka. Han Minji
Genre :
Romance, friendship, drama.
Main casts
: Kris, Byun Baekhyun, Juniel as Choi Junhee, IU as Lee Jieun, and other
cameos.
***
“Jika kau
kekasihnya di masa lalu, maka aku akan menjadi kekasihnya di masa sekarang.”—Kris
***
Junhee berdiri di halte dalam diam. Udara malam yang cukup dingin
berebut menusuki kulitnya yang hanya dilapisi dress katun tipis. Sesekali yeoja
itu mengusap-usapkan tangannya di lengan agar lengannya sedikit menghangat. Wajahnya
menengadah ke langit yang cerah dan dipenuhi oleh bintang-bintang. Dia tampak
merenungkan sesuatu.
Wae?
Sekarang kau merasa sangat malu? Kau merasa seperti sebuah layang-layang yang
terpisah dari benang pengikatnya, kan? Seperti kaktus yang kehilangan
duri-durinya...
“Mana
mungkin aku menjadi selemah itu hanya karena namja?” gumamnya sambil terus
melamun.
Junhee pun
mulai berkhayal lagi. Setiap merasa tertekan atau sedih, dia akan merasa bahwa
Sehun ada di sampingnya, berdiri di sampingnya sambil tersenyum. Ya, Sehun
bukan hanya seorang idola baginya. Tapi lebih seperti tipe namja yang diidamkannya.
“Sehun-a...”
panggilnya pelan.
Sehun
hanya diam sambil tersenyum simpul, seolah berkata “Ada apa?”
“Bantu aku
melupakannya...”
***
Di waktu
yang sama, Kris sedang mengendarai mobilnya menuju rumah. Wajahnya tampak
tegang. Dia kembali memikirkan kata-kata Junhee saat di kafe tadi.
Kau...
Memiliki sisi gelap yang bahkan jika kau berusaha menutupinya, aku tetap bisa
melihatnya. Kau! Menjijikkan.
Kris
menghela napas panjang, hatinya mendadak sakit mengingatnya. Kata-kata Junhee
padanya bak jarum yang menusukkan luka di atas luka lamanya.
“Eo, aku
memang menjijikkan dan tak tahu diri. Mungkin karena itulah ayahku
membenciku...”
***
Kris
memasuki rumahnya dengan langkah enggan. Ada sesuatu di sana yang membuatnya
merasa bersalah, sedih sekaligus marah tiap menapakinya. Saat melewati ruang
makan, dia melihat ayahnya sedang makan. Kris berhenti sejenak dan memandangi
ayahnya dari jauh. Ada sengatan rasa rindu dan juga rasa benci yang menyeruak
di matanya saat memandangi sosok itu.
Sudah lama
sekali rasanya sejak terakhir kali dia melihat ayahnya pulang ke rumah. Ayahnya
selalu saja beralasan sibuk sehingga jarang pulang. Ayahnya memang mempunyai
sebuah perusahaan yang cukup besar dan dia tahu, mungkin juga ayahnya tidak
bohong soal kesibukannya. Tapi bukankah keterlaluan jika dalam sebulan ayahnya
hanya pulang dua atau tiga kali ke rumah? Ayahnya jarang menemui dan
berkomunikasi dengannya. Bagaimana pun dewasanya Kris sekarang, dia masih butuh
kasih sayang ayahnya. Kris tidak memaksa ayahnya untuk menyayanginya
sepenuhnya, karena dia benar-benar memahami jika ayahnya membencinya. Dan
walaupun mereka saling berkomunikasi, toh akhirnya sang ayah hanya akan
menyalahkan Kris, membuat Kris membuka luka lama yang belasan tahun berusaha
disembuhkannya seorang diri.
Kris menarik
napas panjang. Dia baru saja akan melangkah menuju tangga saat ayahnya
menyadari keberadaannya.
“Kau baru
pulang? Kenapa kau betah berlama-lama di luar setiap hari?” gertak ayahnya.
Kris diam
tak mejawab. Dia kemudian mengurungkan langkahnya dan menatap ayahnya dengan
tatapan yang sulit diartikan. Bukankah
kau juga betah berlama-lama di luar? Geram Kris dalam hati. Perlahan dia pun
berjalan menyeberangi ruangan dan menuju ruang makan.
“Musun
iriseyo—ada masalah
apa?” tanya Kris, dia masih berdiri beberapa meter dari ayahnya.
“Apa kau
sudah membuat keputusan? Kau akan mengikuti perintahku, kan?” tanya ayahnya, seperti
biasa—ada nada
memaksa dalam suaranya.
Kris diam,
tangannya mengepal erat hingga membuat buku-buku jarinya memutih. “Aku belum
tahu.” jawabnya kemudian. Dia lalu pergi dari hadapan ayahnya tanpa
mengeluarkan kata-kata lagi.
“Dasar
anak tidak tahu diri...” kata ayahnya, cukup keras hingga Kris mendengarnya.
Kris
menghentikan langkah sambil memejamkan mata, mencoba menahan emosinya yang
hampir meledak. Dia kemudian melangkah lagi, perlahan menuju kamarnya.
Kris
menenggelamkan dirinya di kasur. Tatapannya menerawang. “Kenapa dia selalu
memaksakan kehendaknya padaku? Aku hanya ingin dia memperlakukanku layaknya
seorang anak. Selama ini aku selalu menuruti perintahnya, karena tak ingin
membuatnya kecewa. Tapi untuk hal yang satu ini... aku sedikit keberatan.”
***
Berhari-hari
sejak kejadian di kafe malam itu, Junhee dan Kris tidak lagi bertemu. Atau
lebih tepatnya pura-pura tidak bertemu. Mereka sering sekali berpapasan saat di
kantin atau gerbang masuk kampus, tapi mereka pura-pura tidak melihat. Sampai akhirnya
hari itu Kris menghampiri Junhee saat yeoja itu sedang menunggu Baekhyun di
sebuah bangku di taman kampus. Junhee mendengus saat melihat Kris keluar dari salah satu gedung dan berjalan ke
arahnya. Dia kemudian memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat namja itu.
“Menyingkirlah
dari pandanganku.” Kata Junhee saat Kris sudah berdiri di depannya.
“Bisakah
kau bicara secara normal tanpa amarah di dalamnya?”
“Aku
sungguh tidak dalam mood yang baik
sekarang. Geunyang ka—pergilah.”
“Sirheunde—tidak
mau. Aku sedang dalam mood yang baik
sekarang.” Dia tersenyum, seperti biasa ujung kanan bibirnya terangkat.
Junhee
mengatupkan rahangnya kuat-kuat sambil menghela napas dengan jengkel.
“Kau harus
melupakan itu.” Kata Kris, tiba-tiba dia sudah berada di samping Junhee. “Untuk
yang aku katakan hari itu, sagwahage—aku minta maaf. Untuk yang sudah kau
katakan, aku juga akan melupakannya,” katanya dengan ekspresi serius yang
terlihat tulus, tidak seperti biasanya.
Choi Junhee, jangan tertipu dengan wajah
hipokritnya, kata Junhee dalam hatinya.
“Aku sudah
melupakannya sejak lama.” Ujar Junhee ketus.
“Itu tidak terdengar seperti kau telah
memaafkanku.” Kris berdecak kesal, “Ya, Junhee-ssi. Bukankah kau juga bersalah?”
sindir Kris, wajahnya kembali seperti biasa.
“Wae—kenapa?” tanya Junhee, ekspresinya kaget,
tapi dibuat-buat. “Apa kau tertusuk tepat di titik lukamu?”
“Walaupun
begitu, aku sudah minta maaf.”
“Yah,
kelihatannya kau tak peduli apakah orang lain menerima permintaan maafmu atau
tidak. Kau meminta maaf semudah kau mencela orang.”
Kris
berdiri, lalu mengambil sesuatu dari kantong jaketnya. “Isagwareul bada—terimalah apel ini.” Kris melemparkan sebuah apel
pada Junhee. Untuk sekedar informasi, dalam bahasa Korea, kata maaf dan apel sama-sama diucapkan dengan kata sagwa.
Junhee
kaget, dia berusaha menangkap apel itu tapi tidak bisa. Apel itu pun jatuh ke
rerumputan di dekat kakinya.
“Kau tidak
ingin menangkapnya atau memang tidak bisa menangkapnya? Tidak bisakah kau menerima
permintaan maafku?”
Junhee
menatap apel di dekat kakinya dengan tatapan sinis. “Kau sebut ini permintaan
maaf?”
Kris
mengambil apel itu lalu meniupinya, agar debu yang menempel hilang. “Terimalah
ini. Setiap aku melihatmu, aku jadi merasa tidak enak.”
“Kalau
begitu, jangan melihatku.” Cetus Junhee sengit.
“Siapa
juga yang ingin melihatmu?” balas Kris. “Aku selalu bertemu denganmu secara kebetulan.”
“Jarak
gedung fakultasmu dan taman ini sangat dekat. Kau jelas-jelas mengikutiku dan
kau masih menyebut ini kebetulan?”
“Tetap
saja pertemuan ini hanya kebetulan.” Kris mengulungkan apel itu lagi. ”Terima
saja, OK?”
“Tidak
perlu menjadi seorang jenius untuk tahu bahwa apel itu busuk.”
“Aku sudah
minta maaf baik-baik. Aku sudah mengakui kesalahanku. Kau juga sudah menamparku
dan aku sudah baik hati memaafkanmu tanpa perlu kau minta maaf. Bukankah itu
sudah cukup adil untukmu memaafkanku?”
Oh God, orang ini benar-benar pintar bermain
kata! Junhee memutar bola matanya dengan kesal. “A, arrasseo, arrasseo. Tapi
cepatlah pergi dari hadapanku.”
“June, na
wasseo—aku datang!” seru Baekhyun dari arah belakang Junhee.
Junhee
segera berbalik dan melambaikan tangannya pada Baekhyun. Sedangkan Kris, dia
tetap berdiri di dekat Junhee sambil memandangi Baekhyun dengan tatapan yang bisa
disebut sinis.
Baekhyun
langsung duduk di sebelah Junhee tanpa memperhatikan keberadaan Kris di sana. Baru
setelah beberapa saat, dia menyadari ada orang asing di sana.
“June, dia
siapa?”
“Byeontae
yang kuceritakan itu.” Jawab Junhee, suaranya sengaja dibuat keras agar Kris
mendengarnya.
Kris
membelalakkan matanya karena kaget, “Mwo? Byeontae?”
Baekhyun
mengangguk-angguk lalu menatap Kris dari atas sampai bawah.
Kris merasa
tidak nyaman dengan tatapan Baekhyun terhadapnya. “Kalian sangat dekat ya? Seperti
pasangan saja. Tiap hari selalu saling menunggu seperti ini. Romantisnyaaaa...”
katanya, sedikit dibuat-buat dan berlebihan.
Baekhyun
berdiri dari posisinya. “Musun soriya?” tanyanya dengan tajam dan tidak senang.
Kris
memandang Baekhyun dengan pongahnya. “Tidak ada maksud terselubung kok, pria kecil. Aku hanya ingin
berkata-kata.”
Kris
menghela napas panjang, dia kemudian memberikan apel itu pada Baekhyun. “Ambil
saja ini untukmu.” Katanya halus, tapi sinis. Setelah itu dia pun melambaikan
tangannya pada Junhee dan Baekhyun, lalu melangkah pergi.
Baekhyun
menimbang-nimbang apel itu di tangannya. “Apa dia bilang? Pria kecil? Dan untuk
apa dia memberikan ini padaku?”
“Tanyakan
saja padanya. Sanggwan eopseo—aku tak peduli.”
“Yah, aku
juga tidak peduli. Dia mengesalkan, an geurae—bukankah begitu?” Baekhyun
bergumam, tapi akhirnya dimakan juga apel itu.
“Byun
Baekhyun, apa kau sudah mengatakan soal acara tahunan itu pada Jieun? Kurasa
kau harus cepat mengatakannya, karena kita hanya punya waktu beberapa bulan
untuk persiapan.” kata Junhee sambil menerawang. Sebenarnya dia berat untuk
mengatakan hal itu.
Baekhyun
mengunyah apel dalam mulutnya perlahan, lalu sedikit mendesah. “Belum,” jawabnya
singkat.
“Kalau
begitu, cepat hampiri dia di ruang teater. Ppalli!” kata Junhee, lalu mendorong
punggung Baekhyun pelan.
“Tapi
bagaimana denganmu?”
“Kau pikir
aku ini anak kecil? Aku bisa pulang sendiri.” Junhee memutar bola matanya. “Cepat
sana...”
“Kau ini
senang sekali mengusirku...” gerutu Baekhyun. “Baiklah. Na kalkke.” Baekhyun
berjalan menjauh. Junhee hanya memandangi punggung sahabatnya itu dalam diam. Dia
pun menghela napas panjang dan beranjak
pergi.
***
Ruang teater
Institut Seni Seoul bisa dikatakan mewah untuk
ukuran sebuah kampus. Ruangannya dibuat kedap suara dan fasilitasnya sangat
lengkap. Dindingnya dicat warna marun dan hal itu membuatnya terkesan sangat elegan.
Walaupun tidak terlalu luas, tapi suasana di dalamnya cukup menyenangkan.
Baekhyun
masuk ke dalam ruangan teater itu dan duduk di sebuah kursi di pojok ruangan. Dia
duduk diam sambil mengamati gerak-gerik Jieun di atas panggung. Dan benar saja
dugaannya, Jieun tak menyadari keberadaannya di sana. Saat Jieun menyanyi
sendiri di sana, ada dorongan dalam hati Baekhyun untuk menyanyi bersama dengan
yeoja itu. Suaranya yang merdu itu membuat Baekhyun tak henti memandanginya. Saat
Jieun selesai menyanyikan lagunya, Baekhyun segera berdiri dan memberikan applause.
Jieun
terlihat sangat kaget mendengarnya, dia pun mencari sumber suara itu dengan
gerakan mata yang cepat.
“Bb...
bb... Baekhyun-ssi? Wae yeogi isseo—kenapa kau ada di sini?” tanya Jieun
sedikit terbata.
“Ni meoksori...Jjangieyo—suaramu...menakjubkan.”
kata Baekhyun sambil tersenyum, lalu menghampiri Jieun yang masih mematung
dengan kepala menunduk. “Kenapa kau tidak pernah menunjukkannya di depan umum?”
tanyanya.
“Geuge...
itu karena aku merasa aku...” kata Jieun, kegugupan masih menyelimutinya.
“Maukah
kau menyanyi bersamaku di acara tahunan kampus?” potong Baekhyun, tanpa
basa-basi.
“Mwora?”
Jieun terlihat kaget.
“Ayo bernyanyi
denganku. Kau harus mau, OK?”
“Tapi...
kenapa kau mengajakku? Kenapa tidak mengajak Junhee saja? Dia kan yeochi-mu.”
“Ah... dia
bukan yeochi-ku.” Jawab Baekhyun pahit.
“A,
geurae? Kupikir kalian memiliki suatu hubungan.”
Baekhyun
tersenyum kecil. “Lupakan soal aku dan Junhee. Yang penting sekarang adalah...
kau harus mau menjadi teman bernyanyiku. Aku tidak punya pilihan lagi.”
“Tapi...”
Aku merasa tak pantas jika harus disandingkan
denganmu, Byun Baekhyun... kata Jieun dalam hatinya
“Sudahlah.
Sampai jumpa di ruang latihan...” Baekhyun tersenyum simpul, tangan kanannya
menepuk kepala Jieun dengan pelan. “Aku sangat mengharapkan bantuanmu.” Katanya
sambil melambaikan tangannya.
“Tapi...siapa
yang akan menolak jika seorang Baekhyun mengajaknya bernyanyi bersama?” kata Jieun,
dia hanya diam tanpa bisa membantah satu
kata pun yang keluar dari mulut Baekhyun. Dia memandangi sosok Baekhyun yang
semakin menghilang lalu memegang bagian kepalanya yang baru saja disentuh oleh
Baekhyun. Senyum lebar mengembang di wajah manisnya. Dia menutup mulutnya,
berusaha menahan kegembiraannya yang meluap karena orang yang dikaguminya selama
ini baru saja menemuinya secara personal.
***
Di tempat
yang berbeda, Junhee sedang berjalan pelan menuju gerbang kampus. Saat melewati
gerbang kampus, tak sengaja dia melihat dari kejauhan bahwa Kris sedang mencoba
kabur dari dua orang namja—berpenampilan bak bodyguard atau mereka memang bodyguard?—yang
sedang memaksanya untuk masuk ke mobil. Junhee
mengernyit. Pasti dia punya banyak hutang
dengan bos namja-namja itu. Terlihat sekali dari wajahnya... batin Junhee,
lalu tersenyum sinis. “Pakaian yang dipakainya terlihat mahal dan semuanya
bermerk. Pasti dia mendapatkannya dengan cara seperti itu.”
Junhee
kemudian bersembunyi di balik gerbang kampusnya dan mengintip apa yang
dilakukan orang-orang itu pada Kris. Junhee menahan napas, dia sebenarnya
kasihan melihat Kris diperlakukan seperti itu.
“Aissh! Kenapa
aku harus peduli padanya?”
Saat
kepanikan mulai menggerogoti hatinya, secara tak terduga Kris menyadari
keberadaannya dan menatap ke arahnya. Namja itu menatapnya dengan tatapan yang
tidak bisa dibaca oleh Junhee, dia tampak ingin mengatakan sesuatu pada yeoja
itu. Lebih mengagetkan lagi, Kris berhasil kabur dari dua namja berperawakan
sangar itu dan berlari menuju ke arah Junhee.
“Ya! Lepaskan
aku!” seru Junhee saat Kris menggenggam pergelangan tangannya erat dan
menariknya menjauh sambil terus berlari.
Kris tak
menanggapi dan terus berlari di antara gedung-gedung fakultas yang ada. Sesekali
mereka bersembunyi di balik dinding untuk sekedar menyambung napas mereka yang
tersengal, sampai dua namja itu melewati mereka berdua. Kris masih memegang
erat pergelangan tangan Junhee dan
mereka masih berlari tak tentu arah sampai akhirnya mereka masuk ke gedung
auditorium yang kebetulan tidak dikunci.
“Dengar. Ini
semua tidak seperti yang kau pikirkan...” kata Kris, mencoba menjelaskan.
“Aku tak
peduli tentang itu. Ini semua karena kau.” Kata Junhee, napasnya masih
terengah. “Jika bukan karena kau, aku tidak akan selelah ini!”
Kris tak
menjawab, dia sibuk mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
Junhee pun
berbalik dan siap melangkah pergi, tapi namja itu menahannya. “Kau mau pergi ke
mana?”
“Pulang.”
Junhee berusaha melepas genggaman Kris di lengannya.
“Kau tahu?
Aku tidak pernah berpikir mereka sampai datang ke sini.” Kata Kris tiba-tiba. “Siapa
yang tahu jika ayahku akan bertindak sampai sejauh ini? Dia memaksaku untuk
kuliah di bidang ekonomi, tapi aku lebih suka kuliah di sini, di bidang seni. Aku
tidak mengira dia sampai melakukan hal konyol seperti ini. Benar-benar
memalukan.”
Junhee terdiam,
dia menatap Kris dengan tatapan sengit.
“Wae? Kenapa
kau menatapku seperti itu?” tanya Kris dengan senyuman khasnya.
“Ya,
byeontae! Penjelasanmu benar-benar tidak masuk akal. Mana mungkin ada ayah
seperti itu di dunia ini, eo? Semua
orang tahu kelakuanmu, kenapa kau tidak mengatakannya saja?”
Tentu saja ada ayah yang seperti itu, dan itu
ayahku... Batin Kris sambil tersenyum getir.
“Mengatakan
apa?” tanya Kris.
“Kau pasti
melakukan kesalahan besar pada atasan orang-orang itu. Jika tidak, kenapa
mereka memperlakukanmu seperti itu? Mungkinkah... kau berhutang dan tak mampu
membayarnya?” Junhee tersenyum sinis, “Kau selalu memakai pakaian bermerk
terkenal dan mobil yang kau pakai juga bukan mobil yang murah. Kau pasti
mendapatkan semuanya dengan cara seperti itu.”
“Jadi kau
ingin ceritanya seperti itu? Apa aku terlihat seperti itu?”
Junhee menatap
Kris tepat di manik mata namja itu. “Jika tidak, maka buktikanlah.”
Senyuman
luntur dari wajah Kris dan digantikan dengan ekspresi tidak senang. “Kau ingin
aku membuktikannya padamu? Kenapa aku harus melakukan itu?” katanya dengan nada
tajam.
Junhee
menatapnya dengan ekspresi sedikit terkejut.
“Junhee-ssi,
kenapa kau menanyakan hal ini? Apa kau punya hak untuk itu? Bukankah kita
berdua hanya orang asing?”
Bibir Junhee
seakan terkunci, dia ingin membalas kata-kata Kris dengan kalimat tajamnya, tapi
tidak bisa. Dia pun kemudian berbalik pergi tanpa mengatakan apapun. Pada
akhirnya dia menyadari bahwa kata-kata Kris memang sepenuhnya benar, tak ada
yang salah—bahkan untuk satu kata.
“Geurae. Kita hanyalah
orang asing...” katanya pelan saat dia mulai jauh dari gedung auditorium.
Junhee
mengacak-acak rambutnya dengan kesal. “Changpihae—sangat memalukan. Kenapa aku
harus merasa ingin tahu seperti itu? Dia pasti berpikir aku tertarik padanya. Aissh!”
Langkah
Junhee mulai pelan. Kemudian, ingatannya melayang pada saat-saat dia bersama
dengan Kris. Kau cukup manis...
kata-kata namja itu kembali terngiang dalam telinganya. Mungkinkah kau menyukaiku? Suara Kris terus saja menghantuinya. “Mana
mungkin aku menyukaimu, byeontae? Jangan berkhayal terlalu tinggi!”
Bukankah kita berdua hanya orang asing? Wajah Kris
yang tersenyum jahat kembali melintas dalam pikirannya secara berulang-ulang.
“Nappeun
nom—dasar brengsek.”
***
Keesokan harinya,
matahari sudah bertengger tepat di atas kepala Junhee dan Baekhyun saat mereka
sedang berjalan menuju fakultasnya. Seperti biasa, mereka mengobrol dengan
akrab dan berjalan beriringan. Orang-orang yang tidak mengenal mereka pasti
mengira jika mereka berdua adalah sepasang kekasih. Baekhyun baru saja
mengatakan sebuah lelucon saat tiba-tiba Junhee bersembunyi di balik
punggungnya seperti anak kecil yang ketakutan.
“Wae?”
tanya Baekhyun disertai tawa geli.
“Ada
Chanyeol. Dia berjalan ke sini.” Kata Junhee setengah berbisik.
Baekhyun
mencari sosok Chanyeol di tengah kerumuman mahasiswa yang tampak terburu-buru
dan langsung menutupi tubuh Junhee dengan tubuhnya.
Saat
mereka pikir sudah berhasil melewati Chanyeol dengan selamat, sebuah suara
memanggil nama Junhee. Itu suara Chanyeol, Junhee tahu itu.
Junhee pun
menegakkan badannya dan menarik dirinya dari balik punggung Baekhyun. Dia
kemudian memasang ekspresi sedatar mungkin.
“Aissh,
bagaimana dia bisa tahu?” gerutu Junhee, lalu melotot pada Baekhyun. “Ini
karena tubuhmu kurang tinggi.”
Bibir
Baekhyun mengerucut. “Lagi-lagi kau menyalahkan aku.”
“Choi
Junhee.” suara berat Chanyeol kembali terdengar. Kali ini namja itu sudah
berada di antara Junhee dan Baekhyun.
“Wae?”
tanya Junhee kasar.
“Kita
harus bicara.” Chanyeol memegang pergelangan tangan Junhee erat.
Junhee
menghempaskan tangan Chanyeol dengan kasar dan menatapnya penuh emosi. “Tidak
ada yang perlu dibicarakan lagi, Park Chanyeol!”
“Pergilah,
jangan ganggu Junhee lagi. Apa kau tidak merasa bersalah...” Baekhyun mendekat
ke arah Chanyeol dan menatap namja itu dengan tatapan penuh benci.
“Byunbaek,
jangan ikut campur,” potong Junhee cepat. “Kau tunggu saja aku di kantin, aku
akan selesaikan ini sendiri.”
Baekhyun
mundur beberapa langkah menjauhi Chanyeol yang sekarang tersenyum sinis
padanya. Setelah itu dia berbalik menuju kantin yang hanya berjarak beberapa
meter dari tempatnya saat ini. Begitu memasuki kantin, dia dihalangi oleh
seseorang—Kris. Ternyata
dari tadi namja itu sudah mengamati Junhee, Baekhyun dan Chanyeol dari dalam. Namja
itu kemudian bertanya pada Baekhyun apa yang sebenarnya terjadi di luar. Baekhyun
tak menjawabnya, karena dia pikir ini bukan urusan Kris. Kris pun langsung keluar
dari kantin dan menghampiri Junhee.
Sementara
itu, Chanyeol mengambil ponsel dari sakunya dan menelepon nomor Junhee. Sebagai
hasilnya, ponsel Junhee pun berdering dengan nyaring.
“Kau belum
mengganti nomor ponselmu? Kalau begitu, kapan-kapan aku bisa mengajakmu untuk
sekedar minum teh bersama.” Senyum senang segera mengembang di wajah Chanyeol.
Tepat saat
itu, Kris datang dan langsung mengalungkan tangannya di leher Junhee.
“Jika kau
kekasih di masa lalunya, maka aku akan menjadi kekasihnya di masa sekarang. Dan
jika kau ingin minum teh bersamanya, ada baiknya jika kau mengajakku juga,”kata
Kris dengan senyum lebar ke arah Chanyeol.
Chanyeol
terlihat kaget, begitupun Junhee. Yeoja itu tak mengira Kris akan melakukan hal
gila seperti itu, apalagi di depan Chanyeol.
“Kaja.” Ucap
Kris pada Junhee, lalu menarik pergelangan tangannya untuk menjauh dari
Chanyeol.
Chanyeol
tersenyum dengan tidak senang dan membuang mukanya.
***
“Ya! Kau
pikir jika bertingkah seperti itu kau terlihat keren? Jangan terlalu percaya
diri! Itu sangat kekanakan!” seru Junhee sambil berusaha melepas genggaman
tangan Kris.
Kris
tersenyum lebar seperti anak kecil. “Kau tidak tahu ya? Aku kan memang
kekanakan.”
Bibir
Junhee menipis. “Geurae! Silahkan lanjutkan hidupmu dengan bertingkah seperti
itu. Lanjutkanlah!” Junhee berlalu dari hadapan Kris dan berjalan cepat
meninggalkannya.
Kris
berjalan cepat dan menahan Junhee dengan memegang lengan yeoja itu. “Kau pernah
berkencan dengannya, kan?”
“Tidak ada
hubungannya denganmu.”
“Aku
terlibat dalam masalah ini. Bagaimana mungkin aku tidak ada hubungannya dengan
ini?” katanya dengan senyum menyebalkan. “Dia terlihat seperti model. Seleramu
tidak buruk.”
“Lepaskan
tanganku,” kata Junhee di antara gigi-giginya.
“Kenapa
kau tidak mengganti nomor ponselmu? Apa kau masih menunggunya?” ekspresi Kris
tampak tak senang saat mengatakannya.
“Kenapa
aku harus menjelaskan ini padamu?” kata Junhee, penuh sarkasme.
Kris
tampak terkejut mendengar pertanyaan Junhee. Dia tahu jika kata-kata itu adalah
kata-kata yang diucapkannya kemarin.
“Apa kau
punya hak untuk menanyakan pertanyaan seperti itu?”
Kris
mengerjapkan matanya beberapa kali sambil terus menatap Junhee dengan tajam.
“Bukankah
kita hanya dua orang asing yang kebetulan bertemu?” lanjut Junhee. “Karena
itu, cepat lepaskan tanganku.”
Kris
mematung, rahangnya mengatup keras dan dia kini memalingkan wajahnya dari
Junhee. Dia tak pernah mengira Junhee akan mengembalikan kata-kata itu padanya.
“Aku
bilang lepaskan tanganku!” mata Junhee melebar, kelihatan sekali jika emosi
sudah menguasai dirinya.
Junhee
baru saja menutup mulutnya saat Kris
membungkuk untuk mencium bibirnya. Kris menyelipkan jari-jarinya ke belakang
kepala Junhee dan terus mengulum bibir yeoja itu. Dengan sekuat tenaga, Junhee
memberontak, berusaha melepaskan dirinya dari Kris. Yeoja itu mendorong tubuh
Kris dengan kuat, sampai akhirnya namja itu terhuyung mundur beberapa langkah.
Junhee
mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangan dan bertanya dengan
lantang, “Apa yang kau lakukan, eo?”
“Sekarang
kita bukan orang asing lagi. Bukankah begitu?” kata Kris, mimik wajahnya sangat
serius.
Junhee
membuang napasnya dengan kesal dan menatap Kris seakan dia akan menelan namja
itu hidup-hidup.
Kris melanjutkan,
“Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau masih menunggunya?”
“Ya
byeontae! Apa kau pikir jika bibir kita bersentuhan, kita akan jadi lebih
dekat?”
“Eum... yang
tadi itu cukup panas.” Kata Kris
sambil tersenyum tanpa dosa.
Junhee
mengusap bibirnya lagi. “Itu bukan ciuman yang sebenarnya! Itu hanya... dua
bibir yang saling bersentuhan. Aku sedikit tidak nyaman bersentuhan bibir
denganmu. Jika aku mau, aku bisa melaporkanmu ke polisi atas tuduhan kejahatan
seks!”
“Aigoo...
kau benar-benar tidak memiliki selera humor ya?”
“Mwo? Humor
katamu? Jadi kau ingin benar-benar kulaporkan?”
“Tsk. Benar-benar
gampang marah.” Kata Kris, lalu berjalan kembali ke kantin.
“Ya
byeontae! Kau harus membayar semua ini! Awas kau!” teriak Junhee.
Junhee
menatap punggung Kris dengan kilatan benci. “Sial! Dia sudah mencuri ciuman
pertamaku,” gumamnya, lalu pergi menuju kelasnya. Dia sama sekali tak ingat
pada Baekhyun yang menunggunya di kantin.
***
“Ya! Apa
yang baru saja kau lakukan?” seru Baekhyun pada Kris yang baru saja memasuki
pintu kantin. Wajahnya memerah karena marah dan napasnya terengah-engah.
Kris
menghentikan langkahnya dan bertanya dengan mimik pongahnya. “Kau menyukai
Junhee, kan?”
“Geurae. Aku memang menyukainya tapi aku tidak tahu
harus mengencaninya atau tidak.”
“Wae?”
“Dia sudah
menjadi sahabatku sejak kecil...”
“Jadi kau
sebut itu dengan rasa ‘suka’?” Kris memotong dengan tajam. “Jika kau
benar-benar menyukainya, harusnya kau mengatakan padanya. Jika itu aku, seorang anak pasti sudah lahir,” kata
Kris.
Baekhyun
mendelik marah mendengar kata-kata frontal yang keluar dari mulut Kris. “Ya,
ijashi! Jika kau tidak tertarik padanya, jangan terus mengganggunya. Jangan
mempermainkannya seperti itu!”
“Siapa
bilang aku tidak tertarik padanya? Aku tidak pernah berkata seperti itu.” Balas
Kris santai.
“Apa
artinya... kau benar-benar tertarik pada Junhee?”
“Bagaimana
jika memang begitu?” jawab Kris, ujung kanan bibirnya terangkat. “Dan kau,
kenapa kau terus menyembunyikan perasaanmu? Apa kau takut ditolak?”
Baekhyun
tak menggubris pertanyaan sarkas yang keluar dari mulut Kris. “Berjanjilah
padaku. Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan mencarinya atau menemuinya
lagi,” geramnya.
“Mengenai
permintaanmu, aku takut aku tidak bisa menepatinya,” kata Kris, lalu dia berjalan melewati
Baekhyun yang kini hanya bisa berdiri membeku di tempatnya.
***
Seperti
biasa, Junhee pulang bersama Baekhyun. Hari
itu mereka tidak bicara sama sekali setelah peristiwa di depan kantin tadi. Mereka
berdua menjadi canggung satu sama lain dan pada akhirnya mereka memutuskan
untuk diam. Di sela-sela konsentrasinya menyetir, beberapa kali Baekhyun
melirik ke arah Junhee. Yeoja itu terlihat masih kesal atau mungkin shock
karena ciuman paksa yang didapatnya tadi. Baekhyun menghela napas panjang,
menyesal karena dia sudah melihat adegan itu di depan matanya sendiri. Dia
kemudian teringat kata-kata Kris, Dan
kau, kenapa kau terus menyembunyikan perasaanmu? Apa kau takut ditolak?
Emosinya
langsung bergejolak saat kata-kata itu mendengung di telinganya. Kata-kata itu
adalah hinaan yang paling mengena di hatinya. Baekhyun mengakui jika dia memang
takut ditolak oleh Junhee karena status mereka sebagai sahabat karib. Dia takut
hubungan dekatnya dengan Junhee akan menjadi bumerang baginya. Keringat dingin
mengucur di pelipisnya. Tiba-tiba dia merasa perlu untuk mengungkapkan
perasaannya sekarang juga. Bayangan jika Junhee akan berkencan dengan Kris
mendorongnya dengan kuat untuk melakukannya. Cukup baginya untuk merasa sakit
hati saat melihat Junhee berkencan dengan Chanyeol dan menangis karena namja
itu.
“June...”
kata Baekhyun pelan, tanpa berani menoleh ke arah Junhee.
“June, aku
ingin mengatakan sesuatu padamu,” lanjutnya, suaranya sedikit bergetar karena
gugup. “Apa kau tahu? Ini sudah berjalan empat belas tahun. Selama itulah kita
mengenal satu sama lain. Walaupun bukan waktu yang singkat, tapi aku merasa
kita melaluinya dengan cepat. Dan itu karena kau. Aku menghabiskan semua
waktuku denganmu. Choi Junhee, kau tahu bahwa sebenarnya aku menyukaimu. Eum,
bukan. Aku... mencintaimu.”
Baekhyun
masih belum berani menatap ke arah Junhee, “Kau punya aku. Jadi jangan pikirkan
Chanyeol lagi. Jangan bersedih karena dia lagi,” katanya. “June, nae yeojaya—kau adalah wanitaku. Nae yeojarago,”
ucap Baekhyun dengan penuh penekanan.
Beberapa
saat dia menunggu reaksi dari Junhee, tapi tak ada juga.
“June?”
panggilnya dengan lembut, lalu menoleh ke arah sahabatnya itu. Dilihatnya
Junhee sudah tidur dengan kepala bersandar di kaca mobil. Wajahnya tertutup
oleh rambutnya.
“Ah, kau
tidur ya?” desahnya pahit sambil menyibak rambut yang menutupi wajah Junhee. “Sudahlah,
lupakan. Choi Junhee... kurasa kau dan aku memang ditakdirkan untuk tidak bersama.”
***
Sinar matahari
mulai terasa menyengat saat Junhee berjalan memasuki kampus. Kali ini dia
berangkat sendiri ke kampus karena Baekhyun tidak ada kelas hari ini. Sebenarnya
dia paling malas untuk datang ke kelas siang, tapi mau bagaimana lagi? Demi
beasiswa yang diincarnya dari awal kuliah, dia harus rajin datang ke kelas. Sebelum
masuk ke kelas siang, seperti biasanya dia mampir dulu ke kantin untuk makan
siang.
Dengan
langkah lebar dia memasuki kantin kampusnya. Namun langkahnya langsung terhenti
di ambang pintu saat melihat Kris tengah duduk membelakanginya di dekat pintu. Junhee
memejamkan matanya sambil mengehembuskan napas dengan kesal, Kenapa harus ada dia di sini? Dia kemudian
berjalan masuk, melihat sekeliling untuk memilih meja yang nyaman. Tapi mungkin
hari ini memang bukan hari keberuntungannya, karena hanya ada satu meja kosong di
sana dan meja itu ada di depan meja Kris. Junhee pun berjalan menuju mejanya
dan pura-pura tidak tahu jika namja itu ada di sana.
“Annyeong
hasimnikka, Junhee-ssi!” seru Kris yang kini telah menatap ke arah Junhee
sambil tersenyum lebar.
Junhee tak
mempedulikannya dan duduk sambil memilih menu yang ada. Kris tak melepas
pandangannya dari Junhee dan memandanginya dalam senyum. Dia kemudian
menghampiri Junhee dan duduk di sebelahnya.
“Siapa
yang mengijinkanmu duduk?” cetus Junhee kasar.
“Aku sudah
mendaftarkanmu sebagai performer di acara tahunan kampus,” kata Kris, seolah
tak menyadari nada kasar dalam suara Junhee.
Junhee
yang sedang sibuk memilih menu langsung menoleh pada Kris dengan mulut
menganga. “Mwo?”
“Kau ingin
ikut berpartisipasi kan? Nah, aku sudah mendaftarkanmu untuk menjadi teman bernyanyiku.”
“Ya! Kau
pikir kau siapa bisa berbuat seenaknya seperti itu?”
“Kau ini
kasar sekali,” ucap Kris sambil mengangkat tangan kanannya, bersiap menyentil
kening Junhee.
Dengan
cepat Junhee menepis tangan Kris. “Ya! Apa kau bercanda?”
“Aigoo...
kita bahkan sudah berciuman. Tapi kenapa kau begitu kasar?” kata Kris, suaranya
sengaja dibuat keras sehingga hampir semua orang yang ada di kantin memandangi
mereka berdua.
Junhee
kelihatan salah tingkah dan menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Sedangkan
Kris malah memeperlihatkan cengirannya dengan senang. Dia melipat tangannya di
depan dada, terlihat puas setelah menggoda Junhee.
“Jangnan
aniya—ini bukan
candaan. Jadi setelah kelasmu selesai, kau harus datang ke ruang teater,”
lanjut Kris. Dia kemudian berdiri dan tersenyum, “Makanannya tadi enak.”
Junhee baru
saja menarik napas lega—karena
namja menyebalkan itu sudah pergi—saat
seorang pelayan menghampiri dan mengangsurkan selembar bill padanya.
Junhee
mendongak dan menatap pelayan itu dengan heran. “Aku belum memesan apapun.”
Pelayan
itu tersenyum ramah dan berkata, “Namja yang baru saja pergi tadi mengatakan
bahwa anda yang akan membayar bill-nya.”
Setelah
pelayan itu pergi, Junhee mengambil bill itu dan menatapnya dengan kesal. “Aissh!
Lagi-lagi dia berhasil mempermainkan aku!”
***
Puluhan
mahasiswa berkumpul di ruang teater. Mereka semua terlihat gembira karena
mereka termasuk dalam daftar performer di acara tahunan kampus yang sudah
melahirkan banyak artis terkenal di Korea. Junhee memasuki ruang itu dengan
canggung. Dia merasa seperti telah menjilat ludahnya sendiri. Dia menolak
bernyanyi dengan Baekhyun dan sekarang dia harus tergabung dalam acara ini
karena kelakuan Kris yang seenaknya.
Junhee
berjalan pelan ke dalam kerumunan mahasiswa itu.
“June! Wae
yeogi isseo?” seru Baekhyun, kepalanya menyembul dari balik kerumunan.
Junhee
tersenyum lega melihat sahabatnya itu. “Aku juga mengisi acara ini...” jawabnya
lirih saat Baekhyun sudah ada di depannya.
“Mwo?”
tanya Baekhyun dengan ekspresi kaget.
Junhee
menjawab dengan enggan. Dia merasa tidak enak karena sudah menolak tawaran
Baekhyun tempo hari. “Aku... aku akan...”
“Dia akan
bernyanyi denganku.” Suara berat Kris menginterupsi jawaban yang akan keluar
dari mulut mungil Junhee. Tangan namja itu kini melingkar di sekitar leher
Junhee.
“Ya! Apa yang kau lakukan? Lepas!” seru
Junhee, matanya melotot.
Kris
melepaskan tangannya dari Junhee dan menatap Baekhyun. “Wae? Apa kau cemburu?”
Baekhyun
melengos, lalu tersenyum pada Junhee, “Mari bekerja sama demi kesuksesan acara
tahun ini.”
Junhee
mengangguk keras, “Ne! Pasti!”
“Semuanya!
Kalian harus siap untuk menerima pelatihan khusus untuk acara tahunan ini. Kalian
harus bekerja ekstra keras.” Suara Im
gyeosunim menggelegar ke seluruh ruangan, membuat para mahasiswa langsung terdiam.
“Berkumpullah dengan kelompok kalian masing-masing dan berdiskusilah tentang
apa yang akan kalian tampilkan. Setelah itu kalian boleh pulang. Kita akan
memulai latihannya minggu depan, arrasseo?”
“Ne,
arrasseumnida!” serentak, seluruh performer meneriakkan semangatnya.
Junhee
menghembuskan napas kesal saat menyadari dirinya harus berlatih dengan Kris. Namja
itu kini sedang berdiri agak jauh darinya, banyak yeoja yang mengerumuninya. Tapi
ajaibnya, Kris memasang wajah datarnya yang terlihat dingin. Dia terlihat tidak
suka diperlakukan seperti itu oleh para yeoja.
Lagi-lagi
Junhee membuang napasnya dengan kesal. “Apa-apaan mereka semua?” dia lalu
menghampiri Kris dan yeoja-yeoja itu, “Apa kalian lupa alasan utama kita berkumpul
di sini?”
“Oh,
Junhee-ya!” seru Kris, dengan wajah tanpa dosanya. Dia kemudian memberi isyarat
pada yeoja-yeoja itu untuk menjauh darinya.
“Jangan
sok akrab denganku,” jawab Junhee ketus.
Kris
berjalan menghampiri Junhee dan memasang ekspresi pongahnya, “Ya! Apa kau tidak
takut?”
“Takut
apa?” tanya Junhee, bingung.
“Takut
padaku.”
“Hah? Apa
yang perlu kutakutkan dari namja sepertimu?”
“Aku bisa
membuat para yeoja jatuh cinta padaku hanya dengan sekali pandang.”
“Aku
bahkan tak percaya pada setiap kata yang keluar dari mulutmu.”
“Jika kau
tak percaya, kau tidak akan berada di sini.” Kris mendekatkan wajahnya pada
Junhee. “Secara tidak langsung, kau sudah memercayaiku.”
“Ya! Itu
tidak masuk hitungan!” sanggah Junhee cepat.
Kris
mengangkat bahunya, “Terserah apa katamu, Junhee-ssi.” Kris mengambil ponselnya
dari saku. “Beri aku nomor teleponmu.”
“Untuk
apa?”
“Sudahlah,
berikan saja. Mana ponselmu?”
Junhee
mengangsurkan ponselnya dengan tidak ikhlas dan membiarkan Kris menuliskan
nomornya di kontak. “Sudah. Kalau butuh sesuatu, kau bisa meneleponku.”
“Arra.” Jawab
Junhee singkat, “Ya! Kita mau menampilkan apa untuk acara ini? Kau belum
memberitahuku. Babo!”
“Kau akan
menyanyikan lagu dengan gitarmu dan aku akan menjadi rapper-nya. Arrasseo?”
“Baiklah. Lagu
apa yang akan kita nyanyikan?”
“Lagu
ciptaanmu.”
“Mwo?”
“Kau
pandai membuat lagu kan? Nah, lakukan saja... ”
“Tapi...”
“June!”
seruan Baekhyun memotong alasan yang akan dikatakan Junhee.
Junhee
mengalihkan pandangannya pada Baekhyun, “Wae?”
“Aku sudah
selesai berdiskusi dengan Jieun. Bisakah sekarang kau menemaniku untuk membeli
sesuatu di Insadong?” senyum lebar tergambar di wajah Baekhyun.
Junhee
mengangguk. “Baiklah,” katanya, lalu melirik ke arah Kris dengan kesal. “Aku
menjadi bad mood karena seseorang. Ada
baiknya jika aku berjalan-jalan sebentar.”
“Ya! Bagaimana
dengan lagu yang akan kita nyanyikan?” protes Kris, merasa tidak diperhatikan.
“Itu
urusanmu. Salahmu sendiri mengajakku ikut acara ini,” Junhee melenggang pergi
dengan santainya. “Byunbaek, kaja.”
Baekhyun
menatap Kris dengan tatapan mengejek dan tersenyum sinis.
“Sial!”
gumam Kris sambil mengepalkan tangan dengan erat.
***
“Ada perlu
apa kau mengajakku ke Insadong?” tanya Junhee saat mobil Baekhyun mulai melesat
dengan cepat menuju ke Insadong.
Baekhyun
tersenyum lebar, lalu menoleh pada Junhee. “Aku perlu bantuanmu untuk
membelikan hadiah untuk orang yang sangat spesial bagiku.”
“Kau sudah
memiliki yeochi lagi?” mulut Junhee menganga karena kaget.
“Jika aku
bilang dia orang yang spesial, belum tentu dia yeochi-ku, kan?” ujar Baekhyun.
“Lalu
kenapa kau mengajakku?”
“Aku butuh
bantuanmu untuk memilihkan hadiah untuknya. Kau tidak keberatan, kan?”
“Tentu
saja aku tidak keberatan. Boleh kutahu hal apa yang disukainya?” tanya Junhee,
tampak antusias.
Baekhyun
mendesah pelan lalu menjawab, “Dia suka musik. Sangat suka.”
“Wah, itu
bagus! Jika begitu, aku bisa memilihkan hadiah untuknya yang sesuai dengan
seleraku.” Junhee menjentikkan jarinya sambil mengerling. “Apa boleh kutebak
siapa dia?”
“Eo, coba
saja. Aku yakin kau tidak akan pernah menjawab dengan benar.”
“Dengarkan
dulu jawabanku. Pasti aku benar. Dia Jieun, kan?” cetus Junhee yakin.
“Seberapa
keras pun kau berpikir, kau tidak akan tahu siapa dia. Jadi, kusarankan untuk
tidak menebaknya lagi.”
“Ya! Kau
tidak mungkin menyembunyikan hal itu selamanya, kan? Marhaebwa!”
“Sirheo,”
ucap Baekhyun, lalu menjulurkan lidahnya pada Junhee.
“Menyebalkan!”
bibir Junhee mengerucut sebal.
Baekhyun
terkekeh. “Hei, jangan pasang ekspresi seperti itu. Kau terlihat lebih jelek
dan menakutkan dari biasanya.”
“Tidak ada
yang perlu ditertawakan, Byun Baekhyun!”
“Arrasseo,
arrasseo. Aku akan diam.”
“Aissh.
Molla!”
***
Setelah
mengelilingi pertokoan di Insadong, akhirnya Baekhyun dan Junhee mendapatkan
hadiah yang sekiranya cocok untuk diberikan pada yeoja itu. Mereka kemudian
berjalan beriringan menuju ke tempat Baekhyun memarkir mobilnya.
“June, kau
tunggu aku di sini dulu ya? Aku ingin ke kamar kecil sebentar. Jangan pergi ke
mana-mana,” kata Baekhyun lalu berlari kecil.
Junhee
mengangguk. Dia kemudian melihat sekeliling. Tanpa diketahuinya, ada dua orang
namja yang sedari tadi mengawasinya. Dua namja itu kemudian berlari ke arah
Junhee dan merebut tas yang dipakai Junhee. Junhee kemudian berlari mengejar
dua orang itu sambil meneriaki mereka. Di tengah usahanya mengejar mereka,
untunglah Junhee bertemu dengan Baekhyun yang baru saja keluar dari toilet.
“Wae
geurae?” tanya Baekhyun dengan panik.
“Mereka
mengambil tasku!” rengek Junhee dengan panik.
“Kau di
sini saja, OK? Aku akan berusaha menangkap mereka.” Baekhyun kemudian berlari
kencang mengikuti dua orang namja berperawakan sangar itu.
Junhee
terduduk lemas sambil memeluk kedua lututnya. “Dompetku, semuanya ada di sana. Apa
yang harus kulakukan?”
Setelah lama
menunggu di tempat parkir itu, Baekhyun tak juga kembali. Junhee menggigiti
kukunya. Itu pertanda jika kepanikan mulai menguasai dirinya.
“Byunbaek,
kau di mana?” gumamnya, dia kemudian mengambil ponsel dari saku jaketnya dan
mencoba menelepon Baekhyun. “Apa terjadi sesuatu padanya?”
Junhee
berlari, berusaha mencari keberadaan Baekhyun sambil terus mencoba menghubungi
ponselnya. “Byunbaek, tolong angkat. Jebal!” gumamnya.
Hari sudah
mulai gelap dan Junhee belum juga menemukan Baekhyun. Tenggorokannya sudah
kering, kakinya lemas dan dia tidak memiliki tenaga untuk kembali melangkah. Yeoja
itu kemudian duduk di pinggir trotoar untuk sekedar meluruskan kakinya yang pegal.
Tatapannya menerawang dan kosong. Yang ada di dalam otaknya saat ini adalah
bagaimana caranya dia bisa menemukan Baekhyun dan kembali ke Ansan dengan
selamat.
Di saat
rasa lelah menghujam seluruh tubuhnya, matanya yang sayu menangkap sebuah obyek
yang tak asing baginya. “Itu Baekhyun!” teriaknya lega saat melihat sahabatnya
itu tengah duduk di sebuah kursi di seberangnya. Junhee kemudian mengerahkan
sisa tenaganya untuk menghampiri sahabatnya itu.
Junhee
duduk di sebelah Baekhyun. “Byunbaek, akhirnya aku bisa menemukanmu,” Junhee tersenyum
lega.
“Baekhyun-a,”
panggilnya, karena sahabatnya itu tidak merespon.
Junhee lalu
berjongkok di depan Baekhyun dan menyadari bahwa wajah dan tubuh sahabatnya itu
kini penuh dengan luka lebam. Darah segar juga mengalir dari hidungnya. Matanya
setengah terpejam, dia terlaihat sedang menahan rasa sakitnya.
“Byun
Baekhyun!” panggil Junhee untuk ketiga kalinya.
“June, kau
lihat? Aku bisa mendapatkan tasmu kembali.” Baekhyun mengulungkan tas Junhee
pada yeoja itu sambil tersenyum, walaupun dia terlihat sangat kesakitan.
“Babo! Sekarang
itu tidak penting bagiku! Kau harus cepat ke rumah sakit. Tunggu sebentar, aku
akan mencari bantuan,” seru Junhee, lalu berdiri.
Dia
mengambil ponsel dari sakunya lalu menelepon Kris. Entah apa yang dipikirkannya
saat itu hingga hanya nama Kris yang terpikir olehnya.
“Junhee? Ada
angin apa hingga kau meneleponku?” kata Kris dari seberang sana, ada nada
mengejek dari suaranya.
“Itu tidak
penting! Datanglah ke Insadong, di depan gedung xxxx. Aku sangat memerlukan
bantuanmu!”
“Ya! Musun
iriseyo—apa ada
masalah?” tanya Kris, dia ikut panik mendengar seruan Junhee.
“Ppalli wa—cepat datang!” seru Junhee, dia lalu
menutup teeponnya.
Junhee
lalu duduk di sebelah Baekhyun dan menatap sahabatnya itu penuh rasa bersalah. Lama
sekali mereka hanya duduk dalam diam. Sampai akhirnya Junhee memulai
pembicaraan di antara mereka.
“Mianhae. Ini
semua karena aku...” kata Junhee pelan, air mata sudah menggenang di pelupuk
matanya.
Baekhyun
menoleh padanya dan tersenyum, “Aku tidak apa-apa kok. Jadi, jangan salahkan
dirimu.” Baekhyun menghela napas panjang. “Kupikir kau tidak akan...”
“Mencarimu?”
potong Junhee cepat. Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali karena kaget
Junhee mengetahui apa yang akan dikatakannya.
“Tentu
saja aku akan melakukannya. Kau kan sahabatku. Kau orang paling penting bagiku
setelah keluargaku,” lanjut Junhee.
“Gomawo,”
ujar Baekhyun.
“Untuk
apa?”
“Da—semua.”
Junhee
memeluk Baekhyun dengan sayang. “Aku juga berterimakasih padamu, Byunbaek...”
“Apho—sakit!” seru Baekhyun saat Junhee
memeluknya.
Junhee
segera melepas pelukannya. “Ah, mian.”
“Apa
kalian sudah selesai melakukan itu semua?” sebuah suara menginterupsi. Itu
suara Kris. Namja itu kini sedang bersandar di mobilnya dengan kedua tangan
terlipat di dada. Dia memandang ke arah matahari terbenam, seakan pemandangan
di depannya menyakiti matanya.
“Kenapa
dia ada di sini?” geram Baekhyun kesal.
“Aku memintanya
untuk membantu kita.”
“Yah,
kalau dia tidak mau, aku bisa pergi sekarang juga,” ujar Kris santai.
Junhee
mendelik. “Ya! Kau sudah ke sini. Cepat antar kami ke rumah sakit.”
“Baiklah nyonya besar, saya akan membantu anda,”
kata Kris dengan wajah super menyebalkan.
***
“Apa kau
sudah merasa baikan?” tanya Junhee pada Baekhyun setelah dia mendapatkan
pengobatan.
“Eo,
geurom,” jawab Baekhyun yakin, dia lalu mengubah posisinya ke posisi duduk. “Jangan
khawatir, aku lebih kuat dibanding apa yang kau pikirkan.”
Junhee
tersenyum. “Kau ini masih saja sempat mengatakan hal seperti itu.”
“Apa dia
sudah pergi?” tanya Baekhyun.
“Dia
siapa?”
“Byeontae.
Apa dia sudah pergi?”
“Kurasa
sudah,” jawab Junhee asal.
“June...”
panggil Baekhyun.
Junhee
menoleh. “Wae?”
“Aku
merasa sangat senang saat melihatmu memperhatikan dan mengkhawatirkanku seperti
tadi.”
“Kenapa
kau berkata seperti itu?”
“Karena
bagiku, setengah perhatianmu lebih baik daripada seluruh perhatian orang lain.”
“Bagaimana
bisa seperti itu? Apa maksudmu?”
Baekhyun
menghembuskan napasnya dengan berat. “Ani. Amugeotdo—bukan apa-apa.”
“Kau ini
selalu saja membuatku bertanya-tanya maksud perkataanmu.”
Baekhyun
kemudian duduk di pinggir ranjangnya dan Junhee pun segera duduk di sebelahnya.
Mereka berdua mengayun-ayunkan kaki sambil bersenandung dan menatap ke atas, sama
seperti yang mereka lakukan saat kecil dulu jika mereka akan tidur.
Junhee
bangkit dan berjalan ke arah jendela yang masih terbuka dan menutupnya. Dia kemudian
memandangi obyek-obyek di bawah, lama sekali. “Byunbaek, kalau kau sudah pulih,
kita pergi ke atap gedung ya?”
Junhee
menoleh ke arah Baekhyun karena dia tak mendengar jawaban darinya. Dilihatnya,
Baekhyun sudah terlelap. Dia kemudian menyelimuti tubuh Baekhyun agar
sahabatnya itu bisa tidur lebih nyenyak.
Junhee
baru saja akan membuka pintu ruangan saat Kris memutar kenop pintunya dan berjalan
masuk.
“Ada apa? Kukira
kau sudah kembali ke Ansan.”
“Ayo ke
atap gedung. Kita akan berpiknik,” katanya seraya mengangkat sebuah keranjang
berukuran cukup besar dengan kedua tangannya.
“Mwo? Apa
kau gila? Ini sudah malam dan di sana pasti gelap.”
“Tidak
perlu takut, kan ada aku.”
“Hah, kau
benar-benar pantas dipanggil byeontae.”
“Kenapa
kau selalu memanggilku seperti itu?” protes Kris tidak terima.
“Seorang
yang mesum akan selalu disebut orang mesum. Akankah disebut sesuatu yang lain?”
“Selalu saja berakhir dengan debat tidak penting,”
kata Kris sambil menahan napas. “Sudahlah, ikut saja denganku. Aku sudah
menyiapkan banyak makanan. Kau juga belum makan, kan?”
“Baiklah kalau kau memaksa,” ujar Junhee pada
akhirnya.
***
Dalam setengah cahaya,
ruangan-ruangan rumah sakit yang mereka lewati di jalan menuju atap tampak
menakutkan dan sepi. Bau obat-obatan yang sangat identik dengan rumah sakit
membuat rasa takut Junhee berlipat ganda. Dia pun berjalan pelan jauh di
belakang Kris sambil melihat sekeliling dengan ngeri.
“Ini sungguh tidak nyaman,” Junhee
tertegun, bulu kuduknya meremang.
“Kau ingin aku menggandeng
tanganmu?” kata Kris yang tiba-tiba sudah berada di depan Junhee.
Junhee segera menarik tangannya
ke belakang punggung, menyembunyikannya seperti anak kecil. “Jangan harap!” katanya
ketus.
“Ya sudah kalau tidak mau. Aku
juga tidak memaksa.”
Kris membuka pintu menuju ke atap
gedung rumah sakit dengan pelan, ada suara berdecit yang ditimbulkan benda tua
itu. Junhee berjalan mengikuti langkah Kris. Dia kini dapat melihat cahaya kota
yang berkelap-kelip seperti mutiara beku dari atas sana.
“Wow. Sangat cantik ya di sini
saat malam.” Pandangannya tak lepas dari lampu-lampu yang memenuhi seluruh
pandangannya.
Kris kini sedang sibuk menyiapkan
peralatan pikniknya. Dia tersenyum lalu
menjawab, “Itu alasan kenapa aku mengajakmu ke sini.”
“Mau ini?” kata Kris sambil
menyodorkan beberapa potongan buah apel pada Junhee setelah selesai melakukan
persiapan dan mengupas sebuah apel.
Junhee duduk berhadapan dengan
Kris dan mengambil satu potong apel lalu memakannya. “Gomawo.”
Kris tersenyum. “Kau tahu? ini
pertama kalinya aku berpiknik,” ujarnya sambil memandangi Junhee. “Ibuku
meninggal saat aku berulangtahun yang ke-5 tahun. Dan sejak itu aku tidak
pernah merasakan apa yang disebut dengan kasih sayang. Aku juga tidak pernah
bisa merasakan bagaimana rasanya berpiknik dengan keluarga. Kadang aku iri
melihat anak-anak lain yang terlihat bahagia saat berkumpul dengan keluarganya
di taman atau bermain di taman bermain bersama orang tua mereka.”
“Apa yang menyebabkan ibumu
meninggal? Bagaimana dengan ayahmu? Bukankah dia masih hidup?” tanya Junhee,
tanpa sadar dia terlarut dalam kisah yang diceritakan oleh namja itu.
“Ibuku meninggal karena
kecelakaan pesawat tepat di hari ulang tahunku yang ke-5. Sehari sebelum
kecelakaan itu, aku merengek pada ibuku untuk pulang dari Paris dan merayakan
ulang tahunku di Korea. Saat itu aku meminta ayah untuk meneleponnya. Waktu
itu, ibu bilang akan mengusahakannya. Aku tidak pernah tahu jika permintaanku
akan berujung bencana seperti itu,” jawab Kris. “Dan apa kau tahu bagian
terlucu dari kisahku ini?”
Junhee menggeleng pelan.
“Ayahku membenciku!” Kris tertawa
keras.
“Ya! Itu tidak lucu. Sama sekali,”
tanggap Junhee.
“Itu lucu, tahu. ayahku berpikir
bahwa aku lah yang membunuh ibuku dan sampai sekarang dia masih membenciku. Bukankah
itu sangat menggelikan?” Kris tertawa lagi.
“Hentikan. Jangan seperti ini. Aku
tahu kau pasti sangat sedih dan tertekan. Tapi jangan tertawa seperti itu lagi,
kau membuatku takut. Kalau ingin menangis, menangis saja. Jangan ditahan.”
Tanpa diduga oleh Junhee, Kris
benar-benar menangis. Junhee menatapnya dengan miris. Dia belum pernah melihat
namja lain—selain Baekhyun—menangis seperti itu di depannya. Perlahan dia
bangkit menghampiri Kris dan memeluknya untuk menenangkannya. Tapi,
lama-kelamaan Junhee merasakan beban tubuh Kris semakin berat saja dan tubuh
namja itu juga melemas.
“Ya, byeontae! Gwaenchanna?“ seru
Junhee, dia sebenarnya panik. Jantungnya
berdebar semakin keras detik ke detiknya.
“Ya! Jangan bercanda seperti ini,”
ujarnya lalu melepas pelukannya pada Kris. Mata Kris terpejam, tubuhnya juga
lemas. Junhee semakin panik melihatnya.
“Ya! Ireona!” Junhee
mengguncang-guncang tubuh Kris, tapi tetap tak ada reaksi. Tiba-tiba tangan
Kris bergerak dan meraih tubuh Junhee sehingga kini jarak antarwajah mereka
hanya beberapa senti.
Junhee terkejut dan mengerjapkan
matanya beberapa kali. Kris tersenyum dan perlahan membuka matanya. Namja itu
kemudian tertawa senang karena lagi-lagi dia berhasil menjahili Junhee. Junhee merasa
kesal dan langsung menarik dirinya untuk menjauh dari Kris. Dia kemudian
berdiri dan bersiap pergi, tapi tangan Kris mencegahnya.
“Maaf karena telah menunjukkan
sisi lemahku padamu. Terima kasih sudah mau mendengar kisah hidupku dan
mengkhawatirkanku seperti itu,” katanya sambil tersenyum tanpa dosa.
“Mwo?”
“Aku bilang terima kasih.” Kris
beranjak dari posisinya dan kini mereka berdiri berhadapan. Dia kemudian
menunduk dan mencium bibir Junhee dengan lembut. Tangan namja itu melingkar di
pinggang Junhee. Anehnya, saat ini Junhee mau saja menerima ciuman itu dan
bahkan membalasnya. Junhee kemudian melingkarkan tangannya di leher Kris dan
hal itu membuatnya harus sedikit berjinjit. Sebenarnya, Kris merasa sedikit
kaget saat tahu Junhee membalas ciumannya.
“Sebaiknya kita kembali sekarang,”
kata Junhee dengan segala usaha agar suaranya tetap terdengar biasa setelah
mereka merasa canggung untuk beberapa saat.
“Baiklah.”
Mereka kemudian menuruni tangga
dengan bergandengan tangan. Jantung Junhee serasa akan meledak saat itu juga. Dia
tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, bahkan saat dia sedang bersama
Chanyeol dulu.
Apakah hanya aku yang
merasakan hal ini? Apa dia juga merasakannya? Kata Junhee dalam
hatinya sambil menatap tangannya yang kini berada dalam genggaman Kris.
Mereka pun akhirnya
sampai di depan pintu ruang rawat inap Baekhyun. Junhee bersandar ke dinding di samping pintu,
mendongak menatap Kris. "Terimakasih untuk hari ini," kata Junhee sambil berusaha menjaga nada
suaranya agar tetap normal.
“Harusnya aku yang berterima
kasih padamu,” Kris kelihatan
enggan melepas tangan Junhee. "Kau mau tidur ya?"
"Apa kau
tidak lelah?" tanya Junhee.
"Aku tidak pernah merasa sebangun ini,"
dia menunduk untuk mencium Junhee—lagi. Bibir mereka kembali bersentuhan . Awalnya terasa ringan dan lembut, lalu dengan tekanan yang semakin kuat tiap detiknya. Tepat pada saat itulah Baekhyun membuka pintu dan
melangkah keluar. Baekhyun mengerjap.
Rambutnya terlihat sangat kusut. Matanya yang setengah terbuka langsung
melebar saat melihat dengan jelas adegan yang terjadi di depan matanya. "Ya! Apa-apaan
ini?"
***
TBC… ;)