Jumat, 01 Maret 2013

[FF SERIES] Love Doesn’t Need a Password PART 4

Diposting oleh hunhanbuin di 13.59 0 komentar

 Title : Love Doesn’t Need a Password
Author : Sonia aka. Han Minji
Genre : Romance, friendship, drama.
Main casts : Kris, Byun Baekhyun, Juniel as Choi Junhee, IU as Lee Jieun, and other cameos.



“Saat aku bersamamu, aku ingin yakin bahwa aku bersama kau yang sesungguhnya, Choi Junhee yang sesungguhnya.”-Baekhyun



Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Kata-kata terakhir yang diucapkannya pada Baekhyun serasa menggema dalam telinga Junhee sementara tubuh Baekhyun layu dalam pelukannya. Kris tiba-tiba sudah berada di sampingnya, mengatakan sesuatu di telinganya, tapi Junhee tidak bisa mendengar apa yang dikatakan namja itu. Terlalu banyak suara bersahutan yang menggema dalam benaknyasemua kata-kata Baekhyun padanya dan juga kata yang baru saja diucapkannya. Dia hanya menatap ketika Kris dengan lembut mencoba melepaskan tangannya dari tangan Baekhyuntanpa hasil. Bahkan Junhee sendiri terkejut, dia tidak merasa menggenggam tangan Baekhyun seerat itu.
“Junhee-ya, ambulans sudah datang. Kau harus melepas tanganmu agar petugas bisa menyelamatkan Baekhyun,” ujar Kris sembari mencoba kembali melepaskan tangan Junhee dari Baekhyundan kali ini dia berhasil.
Sebuah suara kemudian menyeruak mencari jalan keluar dari tenggorokan Junhee, isakan yang terdengar sangat kasar. “Ini salahku,” ujarnya sambil memandang ke arah mobil ambulans yang mulai menjauh.
“Ini bukan salahmu.”
“Kau benar. Ini salah kita,” kata Junhee dengan tajam dan dingin.
Kris menoleh, kegusaran tampak jelas di wajahnya. “Kenapa kau sampai menyimpulkan hal seperti itu?”
Junhee menatap Kris beberapa saat, tanpa suara. Garis wajahnya, bibirnya yang sedikit menekuk karena khawatir, mata hitam tajamnya yang terlihat sangat jernih, juga beberapa jumput rambut pirangnya yang jatuh di keningnya Kris memang sangat tampan, pikir Junhee dengan perasaan merana. Tidak ada satu hal punkecuali sindrom kepangeranannyayang serasa kurang sempurna dari sosok Kris.
Choi Junhee, kau tidak boleh egois. Pikirkan tentang perasaan Baekhyun juga, katanya dalam hati, berusaha mengingatkan dirinya sendiri.
“Apa?” tanya Kris. “Kenapa kau memandangiku seperti itu?”
Pada detik itu, kenginan Junhee untuk menghambur ke dalam pelukan Kris dan menangis sama besarnnya dengan keinginannya untuk memukuli namja itu.
“Seandainya bukan karena kejadian di ruang latihan tadi, Baekhyun pasti masih baik-baik saja.”

***

Gereja tua itu ada di pusat kota Seoul. Berdiri kokoh seperti kastil batu di kota London atau semacamnya. Begitu masuk ke dalamnya, kebisingan dan kesibukan kota seluruhnya teredam. Ruangan gereja itu besar dan megah dengan langit-langit menjulang di atas. Di dalamnya, bangku-bangku panjang ditata dengan rapi dan dibagi menjadi dua bagian sehingga menciptakan sebuah jalan kecil di antara bangku-bangku itu, serta terdapat lilin-lilin menyala di penyangga yang dipakukan sepanjang dinding. Suara hening meliputi gereja itu, apalagi pada waktu dini hari seperti ini. Hanya ada suara jangkrik serta suara lolongan anjing yang tampak menderita atau mungkin juga suara isakan? Sebagai jawabannya,  di sana, di bangku paling depan  duduklah seorang yeoja yang tampak sedang khusyuk berdoa.
“Tidak akan terjadi apa-apa pada Baekhyun. Dia akan tetap hidup. Dia tidak akan pernah pergi meninggalkanku,” ujar Junhee berulang-ulang di tengah isakannya, berdoa untuk keselamatan Baekhyun. Sambil menjalinkan jari-jari kedua tangannya menjadi satu di depan dada, dia berkata lagi, “Tolong selamatkan dia. Jika Kau menyelamatkan Baekhyun, aku tidak akan meminta apapun lagi pada-Mu...”
Kemudian pintu gereja terbuka lebar dan seseorang pun masuk, menciptakan bunyi langkah kaki di antara heningnya gereja.  “Kau harus menyudahi ini. Jangan siksa dirimu.” bisiknya sambil memegang pundak Junhee.
Junhee mendongak menatap orang itu. “Baekho Oppa!” serunya lalu berdiri menghadap namja itu. Namja bernama Baekho itu pun memeluk Junhee yang langsung menangis sejadi-jadinya.
“Baekhyun, dia....”ujar Junhee tercekat, suaranya serasa menyangkut di tenggorokannya yang bengkak karena air mata. ”Apa yang harus aku lakukan sekarang?” hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut mungilnya. Kristal-kristal es memenuhi hatinya karena perasaan bersalah, membuat perasaan lain di hatinyaselain sedih, sesal dan rasa tak mengenakkan lainnyamembeku sama sekali. Dia jadi mati rasa dan kaku. Dia bahkan tidak merasakan pelukan Baekho yang berusaha menenangkannya
“Ini semua bukan salahmu. Ini semua sudah ditakdirkan. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu seperti itu,” kata Baekho. “Junhee-ya? Kau mendengarku, kan?” katanya lagi saat merasa dia tidak diperhatikan.
“Memang ucapan yang manis untuk dikatakan dan didengar. Tapi tetap saja ini semua salahku. Apa yang menimpa Baekhyun sekarang adalah salahku,” kata Junhee, dia kemudian kembali duduk di kursi panjang.
“Kau tidak pernah tahu hal ini akan terjadi kan? Sudahlah, jangan salahkan dirimu lagi. Tidak ada manfaatnya,” kata Baekho lagi lalu duduk di samping Junhee. Wajahnya menyiratkan rasa cemas yang entah bagaimana caranyasedikit menenangkan yeoja itu.
Junhee menatap Baekho lurus-lurus, mendadak dia merasa sedang bersama Baekhyun sekarang. Dia baru sadar jika banyak kemiripan antara Baekhyun dengan kakaknya. Garis wajah Baekho, bentuk hidung dan bibirnya sama persis seperti Baekhyun. Yang membedakan mereka berdua hanyalah mata Baekho yang lebih lebar dan rambut Baekho yang dicat kemerahan. Dan juga  Baekho jauh lebih tinggi, mungkin hampir sejajar dengan Kris, pikir Junhee. Lalu dia pun langsung mengingatkan dirinya untuk tidak membahas tentang namja berambut (dicat) pirang itu lagi, bahkan di dalam benaknya. Tidak memikirkan Kris merupakan upayanya untuk menebus dosa atas apa yang menimpa Baekhyun sekarang ini. Itu adalah cara terburuk yang dia pikirkan untuk menghukum dirinya sendiri.
“Baekhyun selalu ada bersamaku. Baekhyun selalu ada di sana. Dalam semua kenanganku,” ujar Junhee tiba-tiba. “Dia selalu melakukan semuanya dengan tulus. Perasaannya padaku dan semuanya. Aku saja yang tidak pernah menerimanya dengan baik. Aku tidak ingin melakukan hal seperti itu lagi. Setelah semua ini menimpa Baekhyun, aku baru menyadari betapa pentingnya dia bagiku. ”
“Dengar,” kata Baekho dengan nada menenangkan. “Aku adalah kakak Baekhyun dan aku adalah orang yang paling dekat dengannya selain dirimu. Dia selalu menceritakan apa yang dialaminya padaku, bahkan tentang perasaannya padamu. Sepanjang aku mengenal dia, dia selalu ingin berada di satu tempat dan dia berusaha mati-matian untuk sampai di sana dan mempertahankan posisinya.”
“Di mana itu?” tanya Junhee penasaran.
“Di mana pun kau berada,” jawab Baekho tanpa maksud sarkas sedikit pun dan wajahnya mendadak serius.  “Kau tahu? kesetiaan seperti itu tidak ternilai harganya.”
“Aku sudah tahu itu. Sangat tahu. Jadi, jangan membuatku merasa semakin merasa bersalah.”
“Junhee-ya, bukan itu yang kumaksud. Yang kumaksud adalah dia sudah membuat keputusannya sendiri. Kau juga sudah memutuskan untuk jujur kepada dirimu sendiri dan juga pada Baekhyun. Kau mengatakan padanya apa yang sebenarnya kaurasakan dan dia sendiri yang tetap bertahan dengan perasaannya terhadapmu. Junhee-ya, semua orang memang harus menentukan pilihannya dalam hidup.”
“Tapi jika kau mencintai seseorang, kau tidak akan punya pilihan lagi,” kata Junhee dengan senyum pahit.“Karena cinta merampas semua pilihan-pilihan yang kita punya...”
“Bagaimana bisa seperti itu?” tanya Baekho sedikit terperangah dengan pernyataan Junhee.
“Kau bisa lihat sendiri. Hal yang kubicarakan memang sedang terjadi, di dekatmu...”

***

Kris berjalan di sebuah lorong panjang di rumah sakit. Tangannya mengepal keras di kedua sisi tubuhnya yang menjulang. Tatapannya tajam ke depan, sambil sesekali melirik ke kanan-kirinya untuk melihat nomor kamar yang sedang dicarinya. Kepalan tangannya semakin mengencang saat dirinya sudah berdiri beberapa kaki dari sekelompok orang yang sedang mengerubungi seorang dokter. Wajah mereka tampak kecewa, sedih dan mungkin putus asa? Kris coba mencuri dengar apa yang dikatakan oleh sang dokter kepada mereka semua.
“Pasien sudah banyak mengeluarkan darah dari luka-luka yang didapatnya. Selain itu, pasien juga mengalami cedera otak traumatis. Tapi ini tidak akan menjadi masalah selama ada bantuan dari keluarga atau siapapun yang bisa mendonorkan darahnya untuk pasien. Setidaknya sampai pagi hari nanti, harus ada seorang pendonor. Jika tidak, pasien tidak akan bisa diselamatkan. Kami tidak mungkin melakukan operasi jika pasien tidak memiliki cukup...”
“Tapi, di antara kami tidak ada yang bergolongan darah sama dengannya. Hanya ayah yang memiliki golongan darah yang sama dengannya dan ayah...” potong Baekho dengan tatapan memohon. “Apa tidak ada persediaan darah lagi untuk adikku?”
“Kami akan berusaha mencarikan pendonor untuk pasien sesegera mungkin. Tapi selain itu, anda juga perlu mencari orang yang bergolongan darah sama dengannya.”
Segera setelah dokter itu pergi, melalui kaca di pintu, Junhee memandangi Baekhyun yang terbaring dengan banyak selang dimasukkan dalam tubuhnya. Air mata Junhee kembali mengalir membasahi kedua pipinya. Di sampingnya, Baekho dan Ibu Baekhyun menatapnya dengan tatapan yang tepat sama. Nanar.
Gelombang udara yang lebih dingin dari udara di akhir musim gugur mendadak mendera Kris yang masih memperhatikan adegan menyedihkan di depannya, dan dia menahan napas sejenak. Hanya ada seseorang yang dikenalnya di sana. Junhee. Dan yeoja itu tampak lebih rapuh dibanding waktu terakhir dia melihatnya naik taksi menuju ke rumah sakit. Dia kemudian memutuskan untuk menghampiri Junhee, walaupun mungkin usahanya itu akan berujung penolakan pahit.
“Junhee-ya,” Kris berjongkok di depan Junhee yang kini duduk bersandar di depan pintu ruang inap Baekhyun. Namja itu menggapai tangan Junhee, tapi yeoja itu meringkuk menghindar persis seperti vampir yang ketakutan pada cahaya matahari. Sesaat dia melihat ekspresi kaget dan terluka berkelebat dalam wajah Kris, tapi namja itu hanya berkata, “Baiklah, aku mengerti...”
Junhee sama sekali tidak mau menyentuh Kris. Dia berjanji tidak akan menyentuh Kris lagi. Itulah hukuman paling setimpal bagi dirinya sendiri, penebusan atas dosa yang dibuatnya pada sahabatnya sendiri. Dia terus saja mengingatkan dirinya akan hal itu.
Kris berusaha mengelola emosinya dan dia kemudian beranjak dari posisinya lalu sedikit berbincang dengan Ibu dan juga kakak Baekhyun. Junhee tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh ketiga orang itu, lagi pula dia juga tidak terlalu peduli tentang hal itu. Atau mungkin pura-pura tidak peduli. Tapi Junhee bisa dengar Kris mengatakan sesuatu tentang ‘golongan darah’ atau hal semacam itu.

***

Lorong-lorong panjang di rumah sakit selalu mengingatkan Junhee akan scene mengerikan di film horror. Bau obat menguar di dalamnya. Tempat itu begitu dingin dan juga berkesan tidak mengenakkan baginya.
Kaki-kaki logam kursi di pinggiran lorong itu berderit di lantai saat Junhee menariknya dan duduk perlahan sambil merapikan roknya yang masih bernodakan darah Baekhyun. Berkali-kali Baekho menyuruhnya untuk pulang dan berganti pakaian, tapi yeoja itu berkeras untuk tetap ada di sana hingga Baekhyun selesai dioperasi. Dan disinilah dia. Di lorong depan ruang operasi.
 Setiap kali dia berada di rumah sakit, tenggorokannya terasa kering dan gugup. Lama sekali dia memainkan jari-jarinya untuk menghilangkan rasa cemas dan gugup yang menyerangnya. Doa-doa untuk keselamatan Baekhyun senantiasa dia ucapkan tiap detiknya. Beberapa kali dia merasakan ponselnya bergetar di dalam tasnya, tapi dia tidak peduli. Dia tahu itu pasti Kris dan dia sama sekali tak ingin mengangkatnya.
“Junhee-ya, apa kau sudah mendapat telepon dari...” Baekho baru memulai pembicaraan dan Junhee langsung memotongnya.
“Dari Eomma? Bukankah Oppa sudah memberitahunya dan Eomma sebentar lagi juga akan ke sini.”
“Sebenarnya tadi aku ingin mengatakan Kris.”
“Oh,” jawabnya singkat dengan mulut membulat. Sebenarnya Kris sudah belasan kali atau mungkin puluhan kali meneleponnya bahkan juga mengiriminya pesan, tapi dia tidak menggubrisnya. “Belum.”
Baekho mendesah pelan. “Sebaiknya kau meneleponnya. Sekedar untuk mengetahui apakah dia baik-baik saja. Dia mungkin juga sedang mengalami masa yang sulit, mengingat...”
Junhee menggeser posisi duduknya dan memotong lagi, kali ini dengan tajam. Sangat tajam hingga Baekho terperangah dengan ekspresi yang tidak pernah diperlihatkannya pada orang lain. “Adikmu sedang dioperasi di dalam sana dan kau malah mencemaskan orang lain yang bahkan asing bagimu? Maafkan aku Oppa, aku sudah bicara sekasar ini padamu, tapi kurasa Kris tidak apa-apa. Dia kelihatan segar bugar. Paling tidak, dia tidak terlihat sakit seperti Baekhyun.”
“Bukan kesehatan fisiknya yang kumaksud. Tapi mentalnya. Hatinya.”
“Lupakan. Aku tidak akan menelepon Kris.” Junhee mendengar nada dingin dalam suaranya dan hampir terkejut sendiri. “Sekarang ini aku harus mendampingi Baekhyun.”
Baekho mengangkat bahunya. “Ya, mungkin kau benar. Tapi aku tidak mau tanggung jawab jika pada akhirnya kau menyesal,” ujarnya dengan senyum samar membayangi wajahnya lalu beranjak dari posisinya.

***

Kris duduk di sofa besar di ruang duduk rumahnya dan memandangi dengan lekat foto—itu foto masa kecilnya bersama ayah dan ibunya—yang ada di atas meja kecil. Cahaya yang mengalir memasuki ruangan melalui jendela sudah menguat, dari cahaya fajar yang pucat menjadi cahaya matahari siang yang sedikit terik. Tapi Kris tampak tidak memedulikan hal itu. Walaupun tatapannya terarah pada foto itu, dia terus saja membayangkan Junhee yang meringkuk menghindarinya saat dia mencoba untuk menyentuhnya. Perutnya mendadak mual karena memikirkan semua kejadian yang semalam dialaminya.
Kris mengangkat wajahnya ketika pintu kamar ayahnya terbuka dan ayahnya muncul. Dia menatap Kris tajam. Matanya yang berwarna hitam semakin terlihat gelap. “Kukira kau tidak akan pulang,”katanya.
“Tadinya aku ingin begitu,”ujar Kris dengan mengemas sarkasme sebanyak mungkin dalam pernyataannya. “Tapi, kupikir tidak baik meninggalkan satu-satunya keluargaku hidup sendiri.”
“Jangan sarkastis,” kata ayahnya sambil merapikan setelan jasnya. “Tidak ada gunanya.”
Kris mulai muak. Suasana hatinya sedang sangat buruk sekarang dan ayahnya malah membuatnya menjadi semakin parah. “Percayalah, Ayah. Ayah adalah hal terakhir yang kuharapkan untuk kulihat saat ini,” ujarnya dengan suara bergetar. “Kau ayah yang payah. Ayah selalu menganggapku anak kecil dan mendikte semua tindakanku. Ayah tidak tahu apa-apa tentangku. Apa yang kusukai, apa yang kubenci, tidak ada yang Ayah tahu. Ayah tidak pernah tahu seberapa banyak aku membutuhkanmu di saat-saat sulit. Ayah tidak tahu bagaimana menderitanya aku hidup tanpa Ibu. Ayah pikir aku tidak merindukan Ibu? Ayah pikir hanya Ayah yang membutuhkan Ibu? Ayah hanya tahu cara memaksakan kehendak padaku. Ayah tidak pernah menyimpan cinta untukku dan kurasa memang tidak perlu.” Mata gelapnya bergerak dari foto yang dari tadi dilihatnya ke wajah ayahnya. Dia sedikit terkejut setelah menyadari dia bisa mengucapkan kata-kata yang telah dipendamnya selama belasan tahun itu pada ayahnya. Tapi pada akhirnya dia hanya berkata dengan lirih. “Yaaah... walaupun begitu, Ayah tetaplah Ayahku dan aku tidak bisa membenci Ayah...”
“Kris,” kata ayahnya pelan. Garis-garis kemarahan atau mungkin penyesalan tergurat di wajah tuanya.
Kris memejamkan matanya sejenak. Dia lelah dengan semua hal yang ada di hidupnya. “Sudahlah, Ayah. Ayah tidak perlu menyesal atau merasa kasihan padaku. Cepatlah ke kantor, kurasa Ayah akan telat menghadiri rapat jika tidak berangkat sekarang.”

***

Baekhyun terduduk tegak, menggelengkan kepalanya pelan untuk menghilangkan rasa nanar yang membuat pandangan matanya berkunang-kunang. Baru sesaat kemudian dia menyadari dimana dia berada sekarang—di salah satu kamar di rumah sakit. Cahaya senja yang kemerahan mengalir masuk melalui sepasang jendela di sebelah kanannya. Pandangannya kemudian tertuju pada sosok yang tidur menelungkup di samping ranjangnya—Junhee.
Yeoja itu duduk di sebuah kursi di samping ranjang. Baekhyun lalu menyadari bahwa tangannya yang kanan berada dalam genggaman sahabatnya itu. Dia tampak sangat lelah dan rambut panjangnya tampak berantakan. Cahaya redup dari jendela menyinari wajahnya hingga bayang-bayang hitam di bawah matanya terlihat sangat kentara. Ada bekas air mata di pipi yeoja itu.
Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh wajah Junhee. Perlahan dia menarik tangannya dari genggaman Junhee lalu menyibak poni yang menutupi sebagian wajah sahabatnya itu. Dia kemudian mengelus pipi Junhee dengan kelembutan yang terasa asing bahkan bagi dirinya sendiri.
Lalu tiba-tiba Junhee membuka matanya dan beranjak dari posisinya. Dia menggosok matanya pelan, mengerjap untuk menyingkirkan kantuk. Lalu matanya terpaku pada Baekhyun beberapa saat. Sesaat kemudian, dengan kemendadakan yang tak biasa, dia merengkuh Baekhyun dan memeluknya sangat erat. Baekhyun hanya mengerjapkan matanya karena kaget, dia tidak pernah dipeluk seerat itu oleh seseorang sebelumnya. Dan dia tidak mengira Junhee akan melakukan itu padanya.
“Aduh, sakit.” Baekhyun sedikit mengerang.
“Ah, maaf. Aku terlalu senang,” ujar Junhee. “Bagaimana rasanya dicemaskan oleh semua orang?”
“Tidak terlalu menyenangkan. Maaf, sudah membuatmu cemas.” jawab Baekhyun sambil tersenyum, lalu dengan cepat menambahkan. “Berapa lama aku tertidur?”
“Sekitar dua hari kurasa.”
Junhee ingin sekali melemparkan dirinya pada Baekhyun, tapi perban-perban tebal yang membungkus sebagian besar tubuh sahabatnya itu membuatnya menahan diri. Dia pun mengambil tangan Baekhyun, menautkan jari-jari mereka dan menempelkannya ke pipi. Junhee memejamkan mata dan pada saat bersamaan, air mata menggelincir dari bawah kelopak matanya. “Kupikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi...”
“June,” panggil Baekhyun dengan lembut.
“Apa?”
“Aku tidak terbiasa melihatmu memperlakukan aku seperti ini. Sebaik ini.”
Ada kepasrahan dalam suara Baekhyun yang tidak pernah Junhee dengar sebelumnya. Junhee menatap Baekhyun sesaat sebelum berkata, “Aku akan ambilkan minum untukmu.”
Junhee kemudian mengambil segelas air dan mendorong gelas itu ke tangan Baekhyun. “Minumlah.”
Baekhyun mengambil gelas itu. Matanya terus saja menatap ke arah Junhee yang kembali duduk di kursi di sebelah ranjangnya.
“Byunbaek,” ujarnya dengan bibir bergetar menahan tangis yang sepertinya akan kembali membuncah dari matanya. “Berjanjilah kau tidak akan membahayakan dirimu lagi seperti ini. Janji.”
Junhee merasakan sebelah tangan Baekhyun menepuk kepalanya pelan lalu menelusurkan jari-jarinya di rambutnya. “Aku janji...”
 “June, mendekatlah. Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu,” ujar Baekhyun. Tatapannya tertancap pada Junhee yang sekarang duduk di sebelahnya. Saat Junhee melakukan apa yang dikatakan olehnya, dia merengkuh Junhee dan menciumnya dengan dengan lembut. Tangannya perlahan menyusup di antara rambut Junhee yang tergerai.
Junhee bisa merasakan dentam jantung Baekhyun yang berdegup kencang, kulit Baekhyun yang panas karena demam dan juga pipinya yang memerah. Ciuman Baekhyun sama sekali berbeda dengan Kris. Ciuman Baekhyun terasa aman dan akrab baginya, juga lembut. Tidak seperti ciuman Kris yang berbahaya dan terasa mengancam.  Junhee kembali mengingatkan dirinya untuk tidak memikirkan Kris, apalagi di saat dia sedang bersama dengan Baekhyun. Dia membuang jauh-jauh pikirannya tentang Kris.
“Maaf, mungkin kau tidak menduga yang barusan itu,” kata Baekhyun sambil menarik diri, bibirnya membentuk senyum kecil dan pipinya memerah—sebagian kecil karena demam. Dia terlihat salah tingkah. Tapi Junhee pikir itu terlihat imut.
Junhee hanya menanggapinya dengan tersenyum, tapi pipinya jelas-jelas merona hebat.
Lalu tiba-tiba pintu kamar Baekhyun terayun terbuka dan Baekho pun masuk. “Wah, jagoan. Kau sudah siuman ternyata,” katanya sambil meletakkan sekantong plastik makanan di meja kecil di samping ranjang. “Junhee-ya, makanlah. Sejak kau di sini kau belum makan apapun, kan?”
Kedatangan Baekho membuat Baekhyun dan Junhee salah tingkah, wajah mereka berdua merah padam.
“Sebenarnya aku sudah makan tadi waktu pulang ke rumah untuk ganti baju. Tapi omong-omong, apa yang Oppa bawa itu bagel?” jawab Junhee dengan suara dan ekspresi sebiasa mungkin.
Baekho mengangguk lalu tersenyum menggoda. “Kau pasti tidak bisa menolak yang satu itu, kan?”
“Ya! Hyung! Berhenti menggoda pacarku,” sela Baekhyun dengan wajah dibuat sebal.
Ekspresi terkejut terlintas di wajah Baekho saat adiknya mengucapkan kata pacar, tapi itu hanya sesaat. Dia kemudian menunjukkan ekspresi yang dibuat-buat dan berlebihan. “Uuuuh... aku takut.”
“Ah, hyung. Kau  ini benar-benar ya...”
Baekho duduk di ujung ranjang Baekhyun dan menatap adiknya lekat, ada rasa khawatir di sana. “Apa kau sudah merasa baikan?”
“Tidak juga sih sebenarnya...” jawab Baekhyun lalu menunjuk perban yang masih membaluti kepalanya dan juga beberapa plester yang menutupi luka-luka di wajahnya. “Eomma mana?”
“Aku baru saja mengantarnya pulang untuk beristirahat. Dia kelihatan lelah sekali. Aku tidak tega...” kata Baekho. “Sebenarnya hari ini aku harus menjalankan sebuah proyek fotografi, tapi karena...”
“Pergi saja, Hyung. Aku sudah tidak apa-apa kok. Lagi pula kan ada Junhee yang menemaniku,” potong Baekhyun dengan lembut, berusaha meyakinkan kakaknya.
Junhee yang sedari tadi diam langsung menyahut. “Iya, Oppa. Aku akan menjaga Baekhyun dengan baik. Aku berjanji...”
“Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ya. Besok pagi aku akan kembali lagi. Annyeong!”
Pintu kemudian menutup di belakang Baekho, meninggalkan Junhee dan Baekhyun sendirian di sana.
“Aku ingin cepat sembuh dan keluar dari sini,” renung Baekhyun saat Junhee sedang memakan bagel yang dibawa oleh Baekho tadi. “Kita pasangan yang resmi sekarang. Jadi, aku ingin kita melakukan apa yang pasangan-pasangan lain lakukan. Menonton film, makan malam bersama...”
Junhee tersenyum. “Kita akan melakukannya. Karena itu, kau harus cepat sembuh. OK?”
Baekhyun mengangguk. “Terima kasih sudah mau menemaniku...”
“Jangan berkata seperti itu. Kau juga pasti akan melakukannya untukku,” ujar Junhee dengan sebelah tangan terangkat canggung.
“Tentu saja,” kata Baekhyun tanpa kesombongan dalam nada bicaranya maupun kepura-puraan, “tapi aku selalu berpikir bahwa seperti itulah yang selalu terjadi pada kita berdua. Kau pasti tahu lah.”
Junhee mengerutkan keningnya dengan bingung. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali.”
“Maksudku,” ujar Baekhyun. Dia tampak terkejut karena harus menjelaskan sesuatu yang seharusnya sudah jelas bagi Junhee. “Aku yang selalu membutuhkanmu lebih dari kau membutuhkanku.”
Mata Junhee membelalak kaget. “Itu tidak benar, Byunbaek.”
“Itu memang benar,” tukas Baekhyun lagi. Nada suaranya tampak tenang dan tidak dibuat-buat.
Junhee meraih sebelah tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat. “Jangan pernah membayangkan jika dirimu tidak penting bagiku. Sekedar berpikir begitupun jangan...”
“June, Baekho hyung pernah mengatakan sesuatu tentangmu padaku,” ujar Baekhyun tiba-tiba. Suaranya sedikit bergetar, tapi Junhee tidak menyadarinya.
“Sesuatu tentangku? Apa itu?”
Baekhyun hanya tersenyum tipis, lalu menjawab, “Tapi aku tidak akan memberitahukannya padamu.”
“Ya! Tidak adil berahasia seperti itu!”
“Siapa bilang dunia ini adil, eo?”

***

“June, bukankah hari ini ada latihan untuk pertunjukan akhir tahun?” tanya Baekhyun pada pagi harinya saat Junhee sedang mengupaskan apel untuknya.
“Iya, harusnya. Tapi kau tahu kan, di sana aku harus bernyanyi dengan dia.
“Lebih baik kau meneleponnya dan bicara padanya supaya dia mengijinkanmu untuk absen latihan kali ini. Jika kau tidak melakukannya, gyosunim juga pasti akan marah,” ujar Baekhyun menyarankan.
“Aku tidak ingin meneleponnya. Pokoknya saat ini aku sedang tidak mau berbicara dengannya.”
“Ya sudah. Berikan saja ponselmu padaku. Biar aku yang bicara padanya.” Baekhyun kemudian menerima ponsel yang diangsurkan oleh Junhee padanya. “Kau ingin aku mengatakan apa?”
“Jelaskan saja apa yang tadi kita bicarakan. Dia pasti langsung mengerti.”
Kris menjawab telepon pada dering keempat, suaranya terdengar seperti orang yang kehabisan napas. “Junhee-ya,” ujar Kris dengan kerapuhan yang mengerikan dan hal itu membuat Baekhyun terkejut sampai akhirnya dia sadar bahwa tentu saja nama Junhee yang muncul di layar ponsel namja itu. “Junhee-ya, apa kau baik-baik saja?”
Baekhyun merasa bimbang. Dalam suara Kris terdapat nada yang belum pernah didengarnya, suatu kecemasan mutlak dengan kesedihan samar yang jauh dari kesan sarkasme atau rasa sombong. Beginikah cara Kris berbicara pada Junhee saat mereka sedang berdua?
“Junhee-ya,” kata Kris lagi. “Kupikir kau sedang menghindariku...”
Kilatan amarah menyambar Baekhyun dalam sekejap saat mendengarnya. Kau bukan siapa-siapa, dia ingin meneriakkan itu di telepon. Kau tidak memilikinya. Kau tidak berhak kedengaran begitu... patah hati.
Lalu pada akhirnya Baekhyun menyahut. “Kau benar,” ujarnya tajam dan sedingin jarum es. “Dan sekarang pun masih. Ini aku, Baekhyun...”
Kesenyapan kemudian lama menyela hingga Baekhyun mengira Kris sudah menjatuhkan teleponnya di seberang sana.
“Hei, kau masih di sana?”
“Aku di sini,” Kris menyahut. Suaranya tajam sekaligus dingin seperti daun-daun maple yang berguguran di luar. Jelas berbeda dari nada yang dia gunakan di awal percakapan tadi. “Jika kau meneleponku hanya untuk mengobrol, pria kecil, kau pasti jauh lebih kesepian daripada yang kuduga.”
Baekhyun melirik sekilas pada Junhee lalu membalas dengan suara tak kalah tajam. “Percayalah. Jika aku boleh memilih, aku tidak akan meneleponmu. Ini semua kulakukan karena Junhee.”
“Apa dia baik-baik saja?” Kris dipenuhi kekhawatiran dan nada dingin juga sudah menyingkir dari suaranya. “Jika terjadi sesuatu padanya—”
“Tidak terjadi apa-apa padanya,” potong Baekhyun. Dia berusaha keras menyingkirkan amarah dari dalam suaranya demi menjaga perasaan Junhee yang kini sedang memerhatikannya dengan ekspresi gugup. Sesingkat yang dia bisa, dia menyampaikan apa yang ingin Junhee katakan padanya. Kris pun hanya mengiyakan lalu menutup telepon tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
“Bagaimana?” tanya Junhee sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Dia bilang ‘iya’. Itu saja...”

***

Hari sudah mulai gelap di luar rumah sakit. Pintu ruangan itu tiba-tiba mengayun terbuka ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas dan berpenerangan cukup baik—ruang kamar inap Baekhyun. Seorang namja kemudian berdiri menjulang di depan daun pintu yang terbuka. Empat orang yang ada dalam ruangan itu serempak memandanginya dengan tatapan yang sungguh berbeda satu sama lain. Satu dengan tatapan tidak senang, satu dengan tatapan rindu yang tak kentara dan dua orang yang lain dengan tatapan bingung.
Namja yang baru saja datang itu langsung masuk begitu Ibu dan kakak Baekhyun memersilakannya. Dia membawa sekeranjang penuh buah yang kemudian dia letakkan di meja kecil di samping ranjang Baekhyun.
“Untuk apa kau ke sini?” tanya Junhee, suaranya kelihatan dibuat-buat supaya terdengar tajam.
Namja itu hanya tersenyum kecil dan menjawab, “Tentu saja untuk menjenguk pacar barumu.”
“Kurasa itu bukan tujuanmu yang sebenarnya,” tukas Junhee dengan suara bergetar. Warna wajahnya menyurut dengan cepat, mendadak pucat pasi mendengar kata-kata Kris. Senyum yang baru saja diperlihatkan Kris padanya makin menyakiti hatinya. Itu lebih menyakitkan dari hal apapun yang pernah dialaminnya.  Tapi dia sudah betekad untuk berusaha menahan perasaannya pada namja itu.
“Yah, aku minta maaf sudah mengejutkan kalian dengan datang ke sini,” ucap Kris santai.
“Kau tidak kelihatan menyesal. Sama sekali,” sambar Baekhyun dengan dingin.
“Kau tahu? Jika bukan karena Gyosunim memintaku untuk memberitahu Junhee info tentang MT minggu depan, aku tidak akan ke sini. Jangan terlalu percaya diri,” balas Kris tak kalah tajamnya. Dia seolah lupa jika di sana ada Ibu dan juga kakak Baekhyun yang juga sedang memerhatikan mereka bicara.
“Apa kau tidak mengenal alat komunikasi bernama ponsel? Kau bisa saja meneleponnya. ”
Kris tersenyum sinis. “Sudah kubilang tadi. Aku juga ingin menjenguk pacar baru Junhee.”
“Sudahlah, jangan bertengkar lagi...” ujar Junhee menengahi sebelum Baekhyun bisa membalas perkataan sinis Kris. Dia merasa tidak enak pada keluarga Baekhyun. “Kris, katakan saja apa yang harus kau katakan. Keberadaanmu di sini hanya akan membuat keadaan Baekhyun memburuk.”
Bibir Kris menekuk membentuk senyuman, tapi Junhee bisa melihat kepedihan di balik matanya. “Baiklah.”
Dan setelah dia mengucapkan apa yang diperintahkan gyosunim, dia pun pergi begitu saja. Tanpa pamit, bahkan pada Ibu Baekhyun. Junhee memandangi punggung Kris dengan tatapan nanar. Aku tidak ingin melakukan ini padamu. Tapi aku harus...

***

Hari sudah mulai gelap saat Junhee membuka pintu gerbang sebuah rumah—yang sudah dianggapnya sebagai rumahnya sendiri karena dia sangat sering menginap di rumah itu saat masih bersekolah di sekolah dasar. Saat dia mulai menapaki undakan teras rumah itu, suara seseorang yang sudah sangat akrab di telinganya menyapanya dengan ramah. Ibu Baekhyun. Wanita setengah baya itu tampaknya sedang berkebun seperti biasanya.
“Baekhyun ada di kamarnya,” ujarnya, seolah kedatangan Junhee itu sudah biasa baginya.
Junhee tersenyum lalu membungkukkan badannya. Dia kemudian masuk ke dalam rumah bergaya eropa tapi minimalis itu. Sampai di kamar Baekhyun, dia langsung duduk di sebelah sahabatnya yang sedang memainkan game favoritnya.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Baekhyun meletakkan stick game-nya di atas ranjang lalu berjalan menghampiri Junhee dan memberi kecupan di kening Junhee dengan lembut. “Aku sudah tidak apa-apa kok. Geokjeongma—jangan khawatir”
Junhee mengangguk sambil tersenyum dan Baekhyun pun mengelus kepalanya dengan lembut. Mereka kini duduk di lantai sambil bersandar pada ranjang Baekhyun. Junhee bisa mencium wangi parfum Baekhyun dengan jelas dalam jarak sedekat ini. Kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya dia memasuki kamar Baekhyun semenjak mereka lulus SMP dulu. Kalau dipikir-pikir juga, ini adalah kali pertama dia masuk ke kamar seorang namja. Wajah Junhee mendadak memerah mengingat hal itu. Dia buru-buru memalingkan wajahnya agar Baekhyun tidak menyadarinya.
Tiba-tiba ponsel Junhee berdering nyaring hingga membuat keduanya tersentak kaget. Mereka berdua saling pandang kemudian tertawa geli. Junhee pun lalu segera mengangkat teleponnya.
“Apa ini Jieun?” tanyanya ragu-ragu, karena nomor yang muncul di layar ponselnya tidak ada di dalam kontak ponselnya.
Suara di seberang sana langsung menyahut dengan suara tercekat seperti baru saja menangis. Junhee merasa asing dengan pemilik suara itu.
“Kalau bukan Jieun, lalu ini siapa?” tanya Junhee heran lalu tatapannya beralih pada Baekhyun yang memandangnya dengan wajah penasaran.
“A, ternyata ajoemma. Museun iriseyo—Ada masalah apa?”
 “Kris menghilang...”

***

Bulan sudah mulai terlihat bulat sempurna saat Junhee dan Baekhyun sampai di kafe langganan mereka. Mereka ke sana bukan untuk kencan atau makan malam romantis, melainkan untuk mencari Kris. Junhee bersikukuh untuk mencari keberadaan Kris yang sudah tidak pulang ke rumahnya berhari-hari. Dan Junhee yakin dia akan menemukan Kris di kafe itu. Baekhyun dengan setia bersedia menemani Junhee walaupun keadaannya belum terlalu sehat. Junhee sudah berkata padanya untuk tetap tinggal di rumah, tapi Baekhyun berkeras untuk ikut.
Dan di sinilah mereka sekarang. Di kafe yang setengah penuh oleh pelanggan, tidak ramai seperti biasanya. Junhee mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, berusaha mencari sosok jangkung berambut pirang—Kris. Dia hilang tenaga saat mendapati tidak ada tanda-tanda keberadaan Kris di sana. Baekhyun yang berdiri di sampingnya menepuk pundaknya sambil menggeleng, tanda bahwa dia juga tidak melihat Kris.
Saat harapan telah hilang darinya dan kecemasan mulai menggerogoti habis hatinya, ponsel Junhee kembali berdering.
“Ajeomma!” serunya.
“Aku tahu kemungkinan dimana Kris berada.” Katanya dari seberang sana. “Aku akan mengirim alamatnya lewat pesan setelah ini. Semoga perkiraanku tidak salah soal ini.”
Tak lama setelah telepon ditutup, pesan yang dimaksud datang dan Junhee dengan tergesa meminta Baekhyun untuk mengantarnya ke alamat itu.
Setelah mencari alamat itu, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah rumah mewah di distrik Gangnam. Setelah berhasil memasuki rumah dengan penjagaan ketat itu, Baekhyun dan Junhee diantar oleh pemilik rumah itu yang mengaku bahwa dia adalah adik dari Eomma Kris.
“Dia ada di dalam,” ujarnya dengan ramah.
“Terima kasih,” kata Junhee dan Baekhyun secara bersamaan.
Junhee masuk terlebih dulu ke dalam ruangan beraksen putih-biru itu. Di ruangan itu hanya ada ranjang king size, lemari baju, satu rak penuh buku dan juga meja kecil di samping ranjang yang membuat ruangan yang luas itu terasa kosong. Di sana, di lantai dekat ranjang, duduk sosok Kris. Dia duduk meringkuk sambil bersandar di kaki ranjang. Junhee merasa miris melihatnya. Tidak ada lagi sosok angkuh Kris di hadapannya.
Kris yang menyadari keberadaan mereka langsung mendongak. Junhee pun langsung mencetus, “Ada apa denganmu, Kris?”
Tangan kanan Kris terangkat dan jari telunjuknya mengarah pada sosok Baekhyun. “Aku tidak mau dia ada di sini.”
Junhee yang tadinya merasa bersimpati mendadak tersulut emosinya. “Apa maksudmu dengan mengatakan hal itu, eo?”
“Tidak ada. Aku tidak ingin dia di sini. Itu saja.”
“Baiklah,” ujar Baekhyun dengan suara yang terdengar seperti geraman kesal, dia tampak menahan sumpah serapah agar tidak keluar dari mulutnya. Tangannya mengepal keras dan wajahnya memerah. Tatapannya tajam ke arah Kris. “Aku akan keluar.”
Junhee menggeleng. “Kau tidak perlu melakukan ini.”
“It’s OK, June. Sepertinya anak manja ini mengharapkan aku lenyap dari sini.”
Pintu menutup di belakang Baekhyun dengan bantingan keras yang suaranya membuat Junhee tersentak. Kris menyeringai melihatnya.
Junhee mengalihkan pandangannya pada Kris setelah lama terpaku pada pintu kamar itu. “Apa motifmu melakukan semua ini? Apa kau tidak tahu jika ajeomma sangat mengkhawatirkanmu?”
“Aku tidak peduli jika dia yang mengkhawatirkanku. Toh ayahku juga tidak akan sadar jika aku tidak di rumah,” jawab Kris dengan sinis.
“Kau egois. Kau tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Kau selalu menganggap dirimu hidup sendirian di dunia ini. Kau...”
Kris memotong dengan tajam. “Yang egois bukan aku. Tapi kau.”

***

Baekhyun bersandar pada dinding di seberang pintu kamar Kris. Kedua tangannya dia masukkan dalam saku jaket kulitnya. Tatapan matanya terus terpaku pada pintu kamar itu. Sesekali dia menghela napas panjang sambil memejamkan matanya sejenak. Perutnya terasa mual karena terlalu sebal dengan kenyataan yang harus di hadapinya. Baru beberapa hari yang lalu dia mencium Junhee dan hal paling indah yang pernah dibayangkan olehnya terjadi. Junhee membalas ciumannya waktu itu. Tapi saat ini Junhee sedang ada di dalam kamar dengan Kris, berdua. Hanya berdua. Kenyataan itu membuatnya merasa pening. Dia lega sekali saat Junhee berkata dia sudah memutuskan hubungannya dengan Kris. Tapi sama saja baginya jika yang Junhee pikirkan selama bersamanya hanyalah Kris, Kris dan Kris. Dia merasa Junhee yang bersamanya beberapa hari ini bukanlah Junhee yang dikenalnya. Dia merasa ini semua tidak benar.
Mana ada sahabat yang bersikap seperti itu? Pikirnya dengan perasaan miris.
Dia mengangkat wajahnya ketika pintu kamar itu mengayun terbuka dan Junhee muncul di baliknya.  Wajahnya tampak murung, lebih murung dari pada tadi saat dia pertama melihat Kris tampak kacau seperti itu. Matanya  mulai memerah seperti sedang menahan tangis. Baekhyun ingin sekali bertanya apa yang membuatnya tampak seperti itu, tapi dia segera mengurungkan niatnya tersebut. Dia kemudian merangkul pundak Junhee lalu berpamitan pada pemilik rumah itu.

***

Aula tempat mereka menginap saat MT dilaksanakan sudah nyaris penuh. Junhee, yang sedang bergandengan dengan tangan dengan Baekhyun memperhatikan ketika Kris memasuki ruangan itu. Dia menjaga kepalanya untuk tetap menunduk saat Kris melewatinya. Seolah dengan cara itu dia akan menjadi seseorang yang tidak terlihat dan Kris tidak akan bisa melihatnya.
“Dia memandangimu tadi,” kata Baekhyun. Genggaman tangannya mengerat seperti takut jika tangan Junhee akan terlepas dari genggamannya. “Dan sekarang pun masih.”
Junhee menghemat tenaga dengan tidak menjawab. Dilihatnya Kris sudah berbaris di barisan depan dengan mata masih memandang ke arahnya. Junhee mati-matian berusaha tidak memerhatikan Kris, bagaimana intensnya namja itu memandanginya. Junhee dan Baekhyun kemudian berdiri di satu sisi dan Kris sisi lainnya.
“Selamat malam,” ucap gyosunim di atas panggung di aula itu. “Malam ini kalian akan berlatih untuk acara tahunan kampus. Lalu setelah itu kalian bisa beristirahat. Tapi jangan senang dulu, besok pagi akan ada latihan ekstra...”
Suara keluhan langsung berkoar begitu gyosunim mengucapkan kata ‘latihan ekstra’.
“Jangan ada keluhan. Kalian harus berusaha sebaik mungkin untuk menyukseskan acara ini,” ujar gyosunim dengan ketegasan dan juga keputusan mutlak. “dan sekarang, ayo semua mulai latihan kalian!”
Dalam sekejap mereka pun sibuk dengan tarian, nyanyian dan semua yang sudah mereka siapkan untuk acara tahunan itu. Tak terkecuali Junhee dan Kris yang harus bekerjaa dalam satu tim. Walaupun merasa canggung dengan situasi itu, mereka dengan profesional tetap berlatih. Hal yang sama juga terjadi pada Baekhyun dan Jieun. Pertemuan terakhir mereka berakhir dengan cara yang tak menyenangkan dan itu membuat mereka merasa tidak enak satu sama lain.
Tak terasa, acara latihan selesai dan mereka semua pun mulai sibuk bersiap-siap untuk tidur. Setelah mandi dan berganti baju, Junhee pergi ke salah satu ruangan di penginapan itu untuk mengambil selimut. Dia baru saja mengambil beberapa selimut tebal dari dalam lemari ketika dia merasa seseorang ada di belakangnya. Junhee berbalik, selimut yang dipegangnya jatuh teronggok di lantai dekat kakinya.
Ternyata Kris. “Maaf sudah membuatmu kaget.”
“Tidak apa-apa,” jawab Junhee singkat lalu membungkuk untuk mengambil selimutnya.
“Sebenarnya aku tidak menyesal,” ujar Kris. “Itu emosimu yang paling kuat yang kulihat setelah beberapa hari ini.”
“Aku memang tidak melihatmu selama berhari-hari.”
“Dan salah siapa itu? Aku menelepon, tapi kau tidak pernah menjawab. Aku datang menemuimu, kau mengusirku dan saat terakhir kita bertemu, kau langsung pergi begitu saja. Aku hanya sekedar mengingatkan, kalau kau lupa.”
“Kau benar, aku memang sudah lupa,” jawab Junhee berusaha terdengar santai. “Bukankah seharusnya sekarang kau cepat-cepat pergi tidur? Besok kita masih harus berlatih.”
Mulut Kris menekuk dan Junhee dapat melihat sesuatu yang retak di balik matanya, sebuah ledakan kepedihan. “Sudah tidak sabar menyingkirkanku, Choi Junhee?”
“Bukan,” ujar Junhee sambil memeluk selimutnya erat dan memandangi tangannya. Dia tak kuasa menyambut tatapan mata Kris. Keinginannya untuk memeluk namja itu sangat kuat hingga dia ingin menjeritkan kata-kata rindu padanya. Tapi dia tidak bisa. Tidak di sini, dalam situasi seperti ini. “Bukan itu maksudku. Sama sekali bukan. Aku tidak membencimu, Kris. Sungguh.”
Kris tersenyum miring. “Aku juga tidak membencimu.”
Junhee langsung menengadah menatap Kris, rasa lega memenuhi hatinya. “Aku senang mendengarnya—”
“Seandainya saja aku bisa membencimu,” potong Kris. Suaranya ringan, bibirnya melekukkan senyuman tak acuh seperti biasanya, tapi matanya sarat akan penderitaan. “Aku ingin membencimu setelah apa yang kau lakukan padaku. Aku berusaha membencimu. Kupikir pasti segalanya akan jauh lebih mudah seandainya aku memang membencimu. Kadang aku mengira aku benar-benar membencimu tapi kemudian aku melihatmu dan aku—”
Tangan Junhee kesemutan karena memegang selimut terlalu erat. “Dan kau apa?”
“Kau pikir apa?” Kris balik bertanya lalu menggeleng sedih. “Kenapa aku harus menceritakan padamu apa yang kurasakan sedangkan kau tidak pernah menceritakan apa-apa padaku? Kau tahu bagaimana rasanya?”
Junhee dengan refleks menggelengkan kepalanya pelan.
“Rasanya seperti membenturkan kepalaku ke dinding. Hanya saja jika aku memang membenturkan kepalaku ke dinding, aku bisa memaksa diriku untuk berhenti melakukannya.”
Bibir Junhee bergetar hebat hingga dia merasa kesulitan untuk bicara. “Kau pikir ini mudah untukku?” tanyanya dengan susah payah. “Kau pikir aku—”
“June?” itu suara Baekhyun yang sedang melangkah memasuki ruangan membuat Junhee begitu terkejut sampai menjatuhkan selimutnya untuk kedua kalinya.  Junhee dengan cepat memalingkan wajahnya. Tidak cukup cepat untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya dan juga sorot matanya—yang menceritakan segalanya—dari Baekhyun. “Aku mengerti,” ujar Baekhyun setelah lama terdiam. “Maaf kalau aku mengganggu.” Baekhyun menghilang di balik pintu, meninggalkan Junhee yang terus memandanginya dari balik air mata.
“Damn!Junhee menoleh pada Kris. “Kau ini  kenapa sih?” kata Junhee, lebih kasar dari apa yang dimaksudkan olehnya. “Kenapa kau harus merusak segalanya, eo?” lalu dengan tergesa dia menyerahkan selimut yang dipegangnya pada Kris dan berlari mengejar Baekhyun.
Baekhyun sudah hampir mencapai pintu kamarnya saat Junhee sampai. “Byunbaek, kau mau ke mana?”
Baekhyun berbalik, hampir dengan enggan. “Tentu saja tidur. Ini sudah larut, aku tidak mau telat untuk latihan besok.”
Karena saat ini baru jam sepuluh, dan belum bisa dibilang larut, alasan ini dianggap lemah bagi Junhee. “Kau selalu tidur di atas jam dua belas, aku yakin kau belum mengantuk. Karena itu, ayo kita jalan-jalan sebentar malam ini.”
“Kurasa itu bukan ide bagus. Udaranya sangat dingin, nanti kau bisa sakit.”
“Kenapa? Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba seperti ini.”
Baekhyun tersenyum, senyum getir dengan sesuatu yang lain dibaliknya. “Apa kau tahu apa hal paling buruk yang bisa kubayangkan?”
Junhee mengerjapkan mata, terlihat bingung. “Tidak.”
“Tidak memercayai orang yang kucintai.”
Junhee meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya. Baekhyun tidak memprotes tindakan itu tapi juga tidak bereaksi akan sentuhan Junhee. “Apa yang kau maksud—”
“Ya,” kata Baekhyun. Dia tahu apa apa yang akan ditanyakan oleh Junhee. “Yang kumaksud adalah kau.”
“Tapi kau bisa memercayaiku.”
“Dulu kupikir aku bisa, tapi aku punya firasat jika kau lebih suka mendambakan orang lain yang memang jauh lebih baik dariku.”
“Beri aku waktu,” ujar Junhee jujur, dia pikir tidak ada gunanya berpura-pura di depan Baekhyun karena dia pasti tahu apa yang sebenarnya. “Aku hanya perlu melupakan— melupakan semuanya. Itu saja.”
“Kau tidak bisa mengatakan bahwa apa yang kukatakan itu salah, kan?” tanya Baekhyun. Matanya tampak lebar—walaupun saat itu dia tidak memakai eyeliner seperti biasanya—di bawah cahaya redup lampu di lorong depan kamar. “Tidak untuk sekarang.”
“Tidak sekarang. Maafkan aku. Aku menyesal.”
“Tidak perlu. Aku menghargai kejujuranmu.” Baekhyun tersenyum enggan. “Apa kau masih ingin tahu apa yang dikatakan Baekho hyung tentangmu?”
Junhee mengangguk.
“Dia berkata bahwa kau pasti akan membuatku patah hati,” ujar Baekhyun dengan senyum yang makin membuat Junhee merasa bersalah. “Dan aku ingin memberitahukan sesuatu padamu. Aku tidak tahu ini kabar buruk atau bukan.”
“Semuanya kalau tidak baik, ya buruk,” ujar Junhee. “Katakan padaku bahwa kau baik-baik saja.”
“Aku baik-baik saja,” sahut Baekhyun cepat. “Tapi, kurasa sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi.”
Junhee merasa ada sesuatu yang keras menyambarnya dengan cepat dan membuatnya hampir pingsan saat itu juga. “Kau tidak mau kita bersahabat lagi?” tanyanya hampir menjerit.
“June...”
“Apa semua ini karena hubunganku dengan Kris? Aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya kalau kau mau tahu,” seru Junhee, suaranya semakin meninggi. “Aku tahu aku sudah egois dengan melakukan semua hal itu, tapi aku—”
Baekhyun mengernyit. “Kau mulai terdengar seperti radio rusak, tahu tidak? Berhentilah dan dengarkan aku bicara.”
Junhee langsung berhenti bicara dan mengatupkan bibirnya rapat.
“Aku ingin kita tetap bersahabat,” ujar Baekhyun. “Soal satunya lagi yang membuatku tidak yakin.”
Junhee mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. “Soal satunya lagi?”
Wajah Baekhyun mendadak memerah. Dia tampak kebingungan mencari kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan mereka. “Soal kita berkencan, maksudku.”
Baekhyun menunduk menatap tangan mereka berdua yang saling terjalin. Jari-jari Junhee tampak kecil berada di antara- jari-jarinya. Baekhyun kemudian mengusap buku-buku jari Junhee dengan ibu jarinya.
Junhee menatapnya lekat. “Kupikir itu yang kau inginkan,” ujar Junhee. “Bukankah kau bilang bahwa...”
Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap Junhee dari balik bulu matanya. “Bahwa aku mencintaimu? Aku memang mencintaimu, June. Aku tidak pernah mencintai siapapun selain dirimu. Tapi bukan hanya itu masalahnya.”
“Apa ini semua karena Jieun?” gigi Junhee mulai bergemeletuk, sebagian kecil karena dingin. “Karena kau menyukainya?”
Baekhyun terlihat bimbang. Tidak yakin dengan keputusannya sendiri. “Tidak,” ujarnya. “Maksudku, ya. Aku menyukainya. Tapi bukan seperti apa yang kau pikirkan. Hanya saja, bila aku di dekatnya, aku tahu seperti apa rasanya jika ada orang yang menyukaiku seperti itu. Dan denganmu, tidak seperti itu adanya.”
“Tapi kau tidak mencintainya.”
“Mungkin suatu hari nanti aku bisa menyukainya.”
“Mungkin suatu hari nanti aku bisa menyukaimu.
“Saat kau benar-benar bisa,” Baekhyun menukas. “Datanglah padaku dan beri tahu aku. Kau tahu dimana bisa menemukanku.”
Junhee menggigil lebih keras. “Aku tidak sanggup kehilanganmu, Byunbaek. Tidak sanggup...”
“Kau tidak akan pernah kehilangan diriku dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tapi aku lebih suka mempertahankan apa yang kita punya sebelumnya—yang penting dan juga nyata—daripada harus memaksamu berpura-pura menjadi orang lain.  Saat aku bersamamu, aku ingin yakin bahwa aku bersama kau yang sesungguhnya, Choi Junhee yang sesungguhnya.”
Junhee menengadah, memandangi wajah Baekhyun dengan seksama. Ada sesuatu yang tak biasa di wajah sahabatnya itu yang membuatnya merasa semakin bersalah. Dia kemudian menatap tubuhnya sendiri dari atas sampai ke bawah lalu menatap lagi pada Baekhyun. “Aku bahkan tidak pernah tahu bagaimana diriku yang sesungguhnya...”
“Tapi aku tahu,” ujar Baekhyun dengan lembut lalu perlahan melepas genggaman tangan Junhee.

***

Kaki Junhee terayun dengan langkah letih, dia serasa limbung dan seperti berjalan di dalam mimpi buruk. Setelah melewati lorong dan berbelok, akhirnya dia sampai di depan ruangan tempatnya menginap. Dia baru saja memutar kenop pintu saat melihat sosok Sehun tengah berjalan dan sepertinya akan melewati lorong tempatnya berdiri. Junhee menegakkan tubuhnya, dia pasti mulai berkhayal lagi. Tiap suasana hatinya buruk, dia selalu saja seperti itu. Ketika sosok Sehun hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri, Junhee langsung menghambur memeluknya. Toh dia hanya sedang berkhayal, pikirnya.
“Sehun-a, aku benar-benar sudah habis sekarang. Aku sudah tak punya apa-apa lagi,” ucap Junhee di sela isakannya. “Baekhyun memutuskanku dan Kris...”
“Kris?”
“Iya, Kris.”ujar Junhee. “Tapi aku percaya kau tidak akan menyakitiku. Kau kan hanya khayalanku.” Junhee mengangkat wajahnya dan menatap wajah Sehun sambil tersenyum.
“Khayalan?” gumam Sehun.
“Aku putus dengannya demi menjaga perasaan Baekhyun. Tapi sekarang, Baekhyun hanya ingin memiliki hubungan yang sebatas sahabat denganku.”
“Jika kau sangat menyukainya, kenapa kau melakukan itu? Walaupun  kau putus dengannya, setidaknya kau harus tetap berkomunikasi dengannya.” Sehun menepuk punggungnya dengan lembut dan melanjutkan. “Kau meyukainya, kan? Berusahalah untuk tetap berkomunikasi dengannya. Tapi jika itu tidak bekerja, kau bisa datang ke sisiku...” katanya lagi, kali ini dengan nada menggoda.
Junhee tersenyum lalu melepaskan dirinya dari Sehun. “Apa yang kau katakan? Kau hanya khayalanku...”
Sehun baru saja membuka mulut untuk membalas pernyataan Junhee saat sebuah suara menginterupsinya. “Kau harusnya memperkenalkan dia padaku. Oh Sehun.”
Junhee membelalak saat mendengar suara itu. Suara yang tak asing di telinganya.
“Kau mengagetkanku saja,” kata Sehun balas tersenyum pada pemilik suara itu. “Oh ya, hyung. Bisakah kau antarkan aku ke kamar yang sudah disiapkan untukku? Aku sudah berkeliling tapi belum juga menemukannya.” Dia menggaruk bagian belakang kepalanya sambil tertawa malu.
Baru setelah Sehun mengatakan itu, Kris memerhatikan siapa yeoja yang sedang bersama Sehun tadi. Senyuman langsung lenyap dari wajah Kris begitu tahu bahwa itu adalah Junhee.
Sehun melihat keduanya secara bergantian dan bertanya. “Kalian sudah saling kenal?”
Keduanya tak menjawab. Junhee kemudian berjalan melewati Kris untuk memasuki kamarnya. Tapi saat dia melewati namja itu, Kris menahannya dengan mencengkeram lengannya. Namja itu lalu menariknya menjauh dari Sehun yang masih menatap mereka dengan tatapan bingung. “Apa yang terjadi? Ada hubungan apa kau dengannya?” bisiknya dengan geram.
“Ini bukan urusanmu,” sahut Junhee tajam.
“Apa hubunganmu dengan Sehun?” Kris tak peduli dan terus bertanya.
“Lalu apa hubunganmu dengan dia?” Junhee balik bertanya dengan sinis.
“Dia sudah kuanggap seperti adikku. Dia anak dari adik eommaku,” jelas Kris dengan tidak sabar. “Lalu bagaimana denganmu?”
“Nae namchiniya—dia pacarku.” jawab Junhee sambil tersenyum penuh kemenangan. “Maaf kalau selama ini aku menduakanmu. Oh bukan, bisa dibilang aku menigakanmu. Aku mencampakkanmu bukan hanya karena Baekhyun tapi juga karena dia. Kau puas?” Junhee lalu berbalik pergi tapi lagi-lagi Kris menahannya.
“Apa kau pikir ini semua masuk akal? Apa kau terlihat seperti tukang selingkuh?”
“Ya, aku memang tukang selingkuh. Dan kau sudah kucampakkan,” ucapnya dengan senyum puas lalu masuk ke kamarnya.
Kris langsung berbalik dan menghampiri Sehun yang masih berdiri di tempatnya tadi.
“Apa yang terjadi? Apa kau kenal dengan Junhee? Bagaimana kau bisa bersamanya?” tanya Kris dengan bertubi-tubi dan penuh emosi.
“Bagaimana kau mengenal dia?” balas Sehun.
“Bukankah aku sudah bercerita padamu jika ada seorang yeoja yang kusukai?”
“Jadi, orang yang kau bicarakan kemarin adalah—”
“Aku bertanya padamu apa yang terjadi!” bentak Kris. “Lebih tepatnya, aku bertanya apa hubunganmu dengannya.”
“Aku baru bertemu dengannya tadi. Demi Tuhan, aku baru bertemu dengannya. Dan yang membuatku kaget adalah dia—”
Kris makin marah dengan jawaban Sehun. “Kau berpelukan dengan yeoja yang baru saja kau temui. Begitu maksudmu?”
Sehun mulai sebal dengan sikap Kris yang sangat menyalahkan dirinya. “Hyung. Kenapa hyung berkelakuan seperti namja yang tak berhati seperti itu? Membuat yeoja-yeoja menangis seperti itu.”
“Di...dia menangis?”
“Eo! Karena dirimu, dia bisa saja membuat sungai Han banjir karena air matanya. Bisakah kau memperbaiki perilakumu yang seperti itu?”
“Kenapa dia menangis di depanmu, eo? Apa yang kau lakukan padanya?” sambar Kris tidak terima.
“Hyung! Tidakkah kau mengerti ucapanku?” Sehun benar-benar sudah tidak sabar lagi. “Bersikap baiklah padanya. Kasihan dia. Ini semua pasti sulit baginya. Dia bilang dia baru saja putus dengan seseorang yang bernama Baekhyun atau entah siapa—aku lupa.”
“Dia berkata seperti itu padamu? Bagaimana mungkin dia bercerita secara buka-bukaan pada seseorang yang bahkan belum pernah dikenalnya?”
“Yah, aku juga tidak tahu. Dia mungkin sedang dalam kondisi yang buruk. Dia bahkan mengira aku ini hanya khayalannya saja.” Sehun sedikit tersenyum mengingat kejadian tadi.
Kris yang baru menangkap omongan Sehun langsung menyambar dengan tidak sabar, “Tunggu. Kau bilang apa tadi? Dia putus dengan Baekhyun?”
“Eum... kurasa begitu. ”
“Tapi jika itu benar, kenapa dia bersikap seperti itu padaku?”

***

TBC ;)
 

My Fictional World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea