Title : Love Doesn’t Need a Password
Author : Sonia aka. Han Minji
Genre : Romance, friendship, drama.
Main casts : Kris, Byun Baekhyun, Juniel as Choi
Junhee, IU as Lee Jieun, and other cameos.
“Saat
aku bersamamu, aku ingin yakin bahwa aku bersama kau yang sesungguhnya, Choi Junhee
yang sesungguhnya.”-Baekhyun
Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku
mencintaimu. Kata-kata terakhir yang diucapkannya pada Baekhyun serasa
menggema dalam telinga Junhee sementara tubuh Baekhyun layu dalam pelukannya. Kris
tiba-tiba sudah berada di sampingnya, mengatakan sesuatu di telinganya, tapi
Junhee tidak bisa mendengar apa yang dikatakan namja itu. Terlalu banyak suara bersahutan
yang menggema dalam benaknya—semua
kata-kata Baekhyun padanya dan juga kata yang baru saja diucapkannya. Dia hanya menatap ketika
Kris dengan lembut mencoba melepaskan tangannya dari tangan Baekhyun—tanpa hasil. Bahkan Junhee
sendiri terkejut, dia tidak merasa menggenggam tangan Baekhyun seerat itu.
“Junhee-ya, ambulans sudah datang. Kau harus melepas
tanganmu agar petugas bisa menyelamatkan Baekhyun,” ujar Kris sembari mencoba kembali
melepaskan tangan Junhee dari Baekhyun—dan
kali ini dia berhasil.
Sebuah suara kemudian menyeruak mencari jalan keluar dari
tenggorokan Junhee, isakan yang terdengar sangat kasar. “Ini salahku,” ujarnya sambil memandang ke arah
mobil ambulans yang mulai menjauh.
“Ini bukan salahmu.”
“Kau benar. Ini salah kita,”
kata Junhee dengan tajam dan dingin.
Kris menoleh, kegusaran tampak jelas di wajahnya. “Kenapa
kau sampai menyimpulkan hal seperti itu?”
Junhee menatap Kris beberapa saat, tanpa suara. Garis
wajahnya, bibirnya yang sedikit menekuk karena khawatir, mata hitam tajamnya
yang terlihat sangat jernih, juga beberapa jumput rambut pirangnya yang jatuh
di keningnya— Kris
memang sangat tampan, pikir Junhee dengan perasaan merana. Tidak ada satu hal
pun—kecuali sindrom kepangeranannya—yang serasa kurang
sempurna dari sosok Kris.
Choi Junhee, kau tidak
boleh egois. Pikirkan tentang perasaan Baekhyun juga, katanya dalam hati,
berusaha mengingatkan dirinya sendiri.
“Apa?” tanya Kris. “Kenapa kau memandangiku seperti itu?”
Pada detik itu, kenginan Junhee untuk menghambur ke dalam
pelukan Kris dan menangis sama besarnnya dengan keinginannya untuk memukuli
namja itu.
“Seandainya bukan karena kejadian di ruang latihan tadi,
Baekhyun pasti masih baik-baik saja.”
***
Gereja
tua itu ada di pusat kota Seoul. Berdiri kokoh seperti kastil batu di kota
London atau semacamnya. Begitu masuk ke dalamnya, kebisingan dan kesibukan kota
seluruhnya teredam. Ruangan gereja itu besar dan megah dengan langit-langit
menjulang di atas. Di dalamnya, bangku-bangku panjang ditata dengan rapi dan
dibagi menjadi dua bagian sehingga menciptakan sebuah jalan kecil di antara
bangku-bangku itu, serta terdapat lilin-lilin menyala di penyangga yang
dipakukan sepanjang dinding. Suara hening meliputi gereja itu, apalagi pada
waktu dini hari seperti ini. Hanya ada suara jangkrik serta suara lolongan
anjing yang tampak menderita atau mungkin juga suara isakan? Sebagai
jawabannya, di sana, di bangku paling
depan duduklah seorang yeoja yang tampak
sedang khusyuk berdoa.
“Tidak
akan terjadi apa-apa pada Baekhyun. Dia akan tetap hidup. Dia tidak akan pernah
pergi meninggalkanku,” ujar Junhee berulang-ulang di tengah isakannya, berdoa
untuk keselamatan Baekhyun. Sambil menjalinkan jari-jari kedua tangannya menjadi
satu di depan dada, dia berkata lagi, “Tolong selamatkan dia. Jika Kau
menyelamatkan Baekhyun, aku tidak akan meminta apapun lagi pada-Mu...”
Kemudian
pintu gereja terbuka lebar dan
seseorang pun masuk, menciptakan bunyi langkah kaki di antara heningnya gereja. “Kau harus menyudahi ini. Jangan siksa
dirimu.” bisiknya sambil memegang pundak Junhee.
Junhee
mendongak menatap orang itu. “Baekho Oppa!” serunya lalu berdiri menghadap
namja itu. Namja bernama Baekho itu pun memeluk Junhee yang langsung menangis
sejadi-jadinya.
“Baekhyun,
dia....”ujar Junhee tercekat, suaranya serasa menyangkut di tenggorokannya yang
bengkak karena air mata. ”Apa yang harus aku lakukan sekarang?” hanya kata-kata
itu yang bisa keluar dari mulut mungilnya. Kristal-kristal es memenuhi hatinya
karena perasaan bersalah, membuat perasaan lain di hatinya—selain sedih, sesal dan
rasa tak mengenakkan lainnya—membeku
sama sekali. Dia jadi mati rasa dan kaku. Dia bahkan tidak merasakan pelukan
Baekho yang berusaha menenangkannya
“Ini
semua bukan salahmu. Ini semua sudah ditakdirkan. Kau tidak perlu menyalahkan
dirimu seperti itu,” kata Baekho. “Junhee-ya? Kau mendengarku, kan?” katanya
lagi saat merasa dia tidak diperhatikan.
“Memang
ucapan yang manis untuk dikatakan dan didengar. Tapi tetap saja ini semua
salahku. Apa yang menimpa Baekhyun sekarang adalah salahku,” kata Junhee, dia
kemudian kembali duduk di kursi panjang.
“Kau
tidak pernah tahu hal ini akan terjadi kan? Sudahlah, jangan salahkan dirimu
lagi. Tidak ada manfaatnya,” kata Baekho lagi lalu duduk di samping Junhee. Wajahnya
menyiratkan rasa cemas yang —entah
bagaimana caranya—sedikit menenangkan
yeoja itu.
Junhee
menatap Baekho lurus-lurus, mendadak dia merasa sedang bersama Baekhyun sekarang.
Dia baru sadar jika banyak kemiripan antara Baekhyun dengan kakaknya. Garis
wajah Baekho, bentuk hidung dan bibirnya sama persis seperti Baekhyun. Yang
membedakan mereka berdua hanyalah mata Baekho yang lebih lebar dan rambut
Baekho yang dicat kemerahan. Dan juga
Baekho jauh lebih tinggi, mungkin hampir sejajar dengan Kris, pikir
Junhee. Lalu dia pun langsung mengingatkan dirinya untuk tidak membahas tentang
namja berambut
(dicat) pirang
itu lagi, bahkan di dalam benaknya. Tidak memikirkan Kris merupakan upayanya
untuk menebus dosa atas apa yang menimpa Baekhyun sekarang ini. Itu adalah cara
terburuk yang dia pikirkan untuk menghukum dirinya sendiri.
“Baekhyun
selalu ada bersamaku. Baekhyun selalu ada di sana. Dalam semua kenanganku,”
ujar Junhee tiba-tiba. “Dia selalu melakukan semuanya dengan tulus. Perasaannya
padaku dan semuanya. Aku saja yang tidak pernah menerimanya dengan baik. Aku
tidak ingin melakukan hal seperti itu lagi. Setelah semua ini menimpa Baekhyun,
aku baru menyadari betapa
pentingnya dia bagiku. ”
“Dengar,”
kata Baekho dengan nada menenangkan. “Aku adalah kakak Baekhyun dan aku adalah
orang yang paling dekat dengannya selain dirimu. Dia selalu menceritakan apa
yang dialaminya padaku, bahkan tentang perasaannya padamu. Sepanjang aku
mengenal dia, dia selalu ingin berada di satu tempat dan dia berusaha
mati-matian untuk sampai di sana dan mempertahankan posisinya.”
“Di
mana itu?” tanya Junhee penasaran.
“Di
mana pun kau berada,” jawab Baekho tanpa maksud sarkas sedikit pun dan wajahnya
mendadak serius. “Kau tahu? kesetiaan
seperti itu tidak ternilai harganya.”
“Aku
sudah tahu itu. Sangat tahu. Jadi, jangan membuatku merasa semakin merasa
bersalah.”
“Junhee-ya,
bukan itu yang kumaksud. Yang kumaksud adalah dia sudah membuat keputusannya
sendiri. Kau juga sudah memutuskan untuk jujur kepada dirimu sendiri dan juga pada
Baekhyun. Kau mengatakan padanya apa yang sebenarnya kaurasakan dan dia sendiri
yang tetap bertahan dengan perasaannya terhadapmu. Junhee-ya, semua orang memang
harus menentukan pilihannya dalam hidup.”
“Tapi
jika kau mencintai seseorang, kau tidak akan punya pilihan lagi,” kata Junhee
dengan senyum pahit.“Karena cinta merampas semua pilihan-pilihan yang kita
punya...”
“Bagaimana
bisa seperti itu?” tanya Baekho sedikit terperangah dengan pernyataan Junhee.
“Kau
bisa lihat sendiri. Hal yang kubicarakan memang sedang terjadi, di dekatmu...”
***
Kris
berjalan di sebuah lorong panjang di rumah sakit. Tangannya mengepal keras di
kedua sisi tubuhnya yang menjulang. Tatapannya tajam ke depan, sambil sesekali
melirik ke kanan-kirinya untuk melihat nomor kamar yang sedang dicarinya. Kepalan
tangannya semakin mengencang saat dirinya sudah berdiri beberapa kaki dari
sekelompok orang yang sedang mengerubungi seorang dokter. Wajah mereka tampak
kecewa, sedih dan mungkin putus asa? Kris coba mencuri dengar apa yang
dikatakan oleh sang dokter kepada mereka semua.
“Pasien
sudah banyak mengeluarkan darah dari luka-luka yang didapatnya. Selain itu,
pasien juga mengalami cedera otak traumatis. Tapi ini tidak akan menjadi
masalah selama ada bantuan dari keluarga atau siapapun yang bisa mendonorkan
darahnya untuk pasien. Setidaknya sampai pagi hari nanti, harus ada seorang
pendonor. Jika tidak, pasien tidak akan bisa diselamatkan. Kami tidak mungkin
melakukan operasi jika pasien tidak memiliki cukup...”
“Tapi,
di antara kami tidak ada yang bergolongan darah sama dengannya. Hanya ayah yang
memiliki golongan darah yang sama dengannya dan ayah...” potong Baekho dengan
tatapan memohon. “Apa tidak ada persediaan darah lagi untuk adikku?”
“Kami
akan berusaha mencarikan pendonor untuk pasien sesegera mungkin. Tapi selain
itu, anda juga perlu mencari orang yang bergolongan darah sama dengannya.”
Segera
setelah dokter itu pergi, melalui kaca di pintu, Junhee memandangi Baekhyun
yang terbaring dengan banyak selang dimasukkan dalam tubuhnya. Air mata Junhee
kembali mengalir membasahi kedua pipinya. Di sampingnya, Baekho dan Ibu
Baekhyun menatapnya dengan tatapan yang tepat sama. Nanar.
Gelombang
udara yang lebih dingin dari udara di akhir musim gugur mendadak mendera Kris
yang masih memperhatikan adegan menyedihkan di depannya, dan dia menahan napas
sejenak. Hanya ada seseorang yang dikenalnya di sana. Junhee. Dan yeoja itu
tampak lebih rapuh dibanding waktu terakhir dia melihatnya naik taksi menuju ke
rumah sakit. Dia kemudian memutuskan untuk menghampiri Junhee, walaupun mungkin
usahanya itu akan berujung penolakan pahit.
“Junhee-ya,”
Kris berjongkok di depan Junhee yang kini duduk bersandar di depan pintu ruang
inap Baekhyun. Namja itu menggapai tangan Junhee, tapi yeoja itu meringkuk
menghindar persis seperti vampir yang ketakutan pada cahaya matahari. Sesaat
dia melihat ekspresi kaget dan terluka berkelebat dalam wajah Kris, tapi namja
itu hanya berkata, “Baiklah, aku mengerti...”
Junhee
sama sekali tidak mau menyentuh Kris. Dia berjanji tidak akan menyentuh Kris
lagi. Itulah hukuman paling setimpal bagi dirinya sendiri, penebusan atas dosa
yang dibuatnya pada sahabatnya sendiri. Dia terus saja mengingatkan dirinya
akan hal itu.
Kris
berusaha mengelola emosinya dan dia kemudian beranjak dari posisinya lalu
sedikit berbincang dengan Ibu dan juga kakak Baekhyun. Junhee tidak bisa mendengar
dengan jelas apa yang dibicarakan oleh ketiga orang itu, lagi pula dia juga
tidak terlalu peduli tentang hal itu. Atau mungkin pura-pura tidak peduli. Tapi
Junhee bisa dengar Kris mengatakan sesuatu tentang ‘golongan darah’ atau hal
semacam itu.
***
Lorong-lorong
panjang di rumah sakit selalu mengingatkan Junhee akan scene mengerikan di film horror. Bau obat menguar di dalamnya. Tempat
itu begitu dingin dan juga berkesan tidak mengenakkan baginya.
Kaki-kaki
logam kursi di pinggiran lorong itu berderit di lantai saat Junhee menariknya
dan duduk perlahan sambil merapikan roknya yang masih bernodakan darah Baekhyun.
Berkali-kali Baekho menyuruhnya untuk pulang dan berganti pakaian, tapi yeoja
itu berkeras untuk tetap ada di sana hingga Baekhyun selesai dioperasi. Dan
disinilah dia. Di lorong depan ruang operasi.
Setiap kali dia berada di rumah sakit,
tenggorokannya terasa kering dan gugup. Lama sekali dia memainkan jari-jarinya
untuk menghilangkan rasa cemas dan gugup yang menyerangnya. Doa-doa untuk keselamatan
Baekhyun senantiasa dia ucapkan tiap detiknya. Beberapa kali dia merasakan
ponselnya bergetar di dalam tasnya, tapi dia tidak peduli. Dia tahu itu pasti
Kris dan dia sama sekali tak ingin mengangkatnya.
“Junhee-ya,
apa kau sudah mendapat telepon dari...” Baekho baru memulai pembicaraan dan
Junhee langsung memotongnya.
“Dari
Eomma? Bukankah Oppa sudah memberitahunya dan Eomma sebentar lagi juga akan ke
sini.”
“Sebenarnya
tadi aku ingin mengatakan Kris.”
“Oh,”
jawabnya singkat dengan mulut membulat. Sebenarnya Kris sudah belasan kali atau
mungkin puluhan kali meneleponnya bahkan juga mengiriminya pesan, tapi dia
tidak menggubrisnya. “Belum.”
Baekho
mendesah pelan. “Sebaiknya kau meneleponnya. Sekedar untuk mengetahui apakah
dia baik-baik saja. Dia mungkin juga sedang mengalami masa yang sulit,
mengingat...”
Junhee
menggeser posisi duduknya dan memotong lagi, kali ini dengan tajam. Sangat
tajam hingga Baekho terperangah dengan ekspresi yang tidak pernah
diperlihatkannya pada orang lain. “Adikmu sedang dioperasi di dalam sana dan
kau malah mencemaskan orang lain yang bahkan asing bagimu? Maafkan aku Oppa,
aku sudah bicara sekasar ini padamu, tapi kurasa Kris tidak apa-apa. Dia
kelihatan segar bugar. Paling tidak, dia tidak terlihat sakit seperti Baekhyun.”
“Bukan
kesehatan fisiknya yang kumaksud. Tapi mentalnya. Hatinya.”
“Lupakan.
Aku tidak akan menelepon Kris.” Junhee mendengar nada dingin dalam suaranya dan
hampir terkejut sendiri. “Sekarang ini aku harus mendampingi Baekhyun.”
Baekho
mengangkat bahunya. “Ya, mungkin kau benar. Tapi aku tidak mau tanggung jawab
jika pada akhirnya kau menyesal,” ujarnya dengan senyum samar membayangi
wajahnya lalu beranjak dari posisinya.
***
Kris
duduk di sofa besar di ruang duduk rumahnya dan memandangi dengan
lekat foto—itu foto masa kecilnya bersama ayah dan ibunya—yang ada di atas
meja kecil. Cahaya yang mengalir memasuki ruangan melalui jendela sudah
menguat, dari cahaya fajar yang pucat menjadi cahaya matahari siang yang
sedikit terik. Tapi Kris tampak tidak memedulikan hal itu. Walaupun tatapannya
terarah pada foto itu, dia terus saja membayangkan Junhee yang meringkuk
menghindarinya saat dia mencoba untuk menyentuhnya. Perutnya mendadak mual
karena memikirkan semua kejadian yang semalam dialaminya.
Kris
mengangkat wajahnya ketika pintu kamar ayahnya terbuka dan ayahnya muncul. Dia
menatap Kris tajam. Matanya yang berwarna hitam semakin terlihat gelap. “Kukira
kau tidak akan pulang,”katanya.
“Tadinya
aku ingin begitu,”ujar Kris dengan mengemas sarkasme sebanyak mungkin dalam
pernyataannya. “Tapi, kupikir tidak baik meninggalkan satu-satunya keluargaku
hidup sendiri.”
“Jangan
sarkastis,” kata ayahnya sambil merapikan setelan jasnya. “Tidak ada gunanya.”
Kris
mulai muak. Suasana hatinya sedang sangat buruk sekarang dan ayahnya malah
membuatnya menjadi semakin parah. “Percayalah, Ayah. Ayah adalah hal terakhir
yang kuharapkan untuk kulihat saat ini,” ujarnya dengan suara bergetar. “Kau
ayah yang payah. Ayah selalu menganggapku anak kecil dan mendikte semua
tindakanku. Ayah tidak tahu apa-apa tentangku. Apa yang kusukai, apa yang
kubenci, tidak ada yang Ayah tahu. Ayah tidak pernah tahu seberapa banyak aku
membutuhkanmu di saat-saat sulit. Ayah tidak tahu bagaimana menderitanya aku
hidup tanpa Ibu. Ayah pikir aku tidak merindukan Ibu? Ayah pikir hanya Ayah
yang membutuhkan Ibu? Ayah hanya tahu cara memaksakan kehendak padaku. Ayah
tidak pernah menyimpan cinta untukku dan kurasa memang tidak perlu.” Mata
gelapnya bergerak dari foto yang dari tadi dilihatnya ke wajah ayahnya. Dia
sedikit terkejut setelah menyadari dia bisa mengucapkan kata-kata yang telah
dipendamnya selama belasan tahun itu pada ayahnya. Tapi pada akhirnya dia hanya
berkata dengan lirih. “Yaaah... walaupun begitu, Ayah tetaplah Ayahku dan aku
tidak bisa membenci Ayah...”
“Kris,”
kata ayahnya pelan. Garis-garis kemarahan atau mungkin penyesalan tergurat di
wajah tuanya.
Kris
memejamkan matanya sejenak. Dia lelah dengan semua hal yang ada di hidupnya. “Sudahlah,
Ayah. Ayah tidak perlu menyesal atau merasa kasihan padaku. Cepatlah ke kantor,
kurasa Ayah akan telat menghadiri rapat jika tidak berangkat sekarang.”
***
Baekhyun
terduduk tegak, menggelengkan kepalanya pelan untuk menghilangkan rasa nanar
yang membuat pandangan matanya berkunang-kunang. Baru sesaat kemudian dia
menyadari dimana dia berada sekarang—di salah satu kamar di rumah sakit. Cahaya
senja yang kemerahan mengalir masuk melalui sepasang jendela di sebelah
kanannya. Pandangannya kemudian tertuju pada sosok yang tidur menelungkup di
samping ranjangnya—Junhee.
Yeoja itu
duduk di sebuah kursi di samping ranjang. Baekhyun lalu menyadari bahwa
tangannya yang kanan berada dalam genggaman sahabatnya itu. Dia tampak sangat lelah
dan rambut panjangnya tampak berantakan. Cahaya redup dari jendela menyinari wajahnya
hingga bayang-bayang hitam di bawah matanya terlihat sangat kentara. Ada bekas
air mata di pipi yeoja itu.
Baekhyun
tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh wajah Junhee. Perlahan dia
menarik tangannya dari genggaman Junhee lalu menyibak poni yang menutupi
sebagian wajah sahabatnya itu. Dia kemudian mengelus pipi Junhee dengan
kelembutan yang terasa asing bahkan bagi dirinya sendiri.
Lalu
tiba-tiba Junhee membuka matanya dan beranjak dari posisinya. Dia menggosok
matanya pelan, mengerjap untuk menyingkirkan kantuk. Lalu matanya terpaku pada
Baekhyun beberapa saat. Sesaat kemudian, dengan kemendadakan yang tak biasa,
dia merengkuh Baekhyun dan memeluknya sangat erat. Baekhyun hanya mengerjapkan
matanya karena kaget, dia tidak pernah dipeluk seerat itu oleh seseorang
sebelumnya. Dan dia tidak mengira Junhee akan melakukan itu padanya.
“Aduh,
sakit.” Baekhyun sedikit mengerang.
“Ah, maaf.
Aku terlalu senang,” ujar Junhee. “Bagaimana rasanya dicemaskan oleh semua
orang?”
“Tidak
terlalu menyenangkan. Maaf, sudah membuatmu cemas.” jawab Baekhyun sambil
tersenyum, lalu dengan cepat menambahkan. “Berapa lama aku tertidur?”
“Sekitar
dua hari kurasa.”
Junhee
ingin sekali melemparkan dirinya pada Baekhyun, tapi perban-perban tebal yang
membungkus sebagian besar tubuh sahabatnya itu membuatnya menahan diri. Dia pun
mengambil tangan Baekhyun, menautkan jari-jari mereka dan menempelkannya ke
pipi. Junhee memejamkan mata dan pada saat bersamaan, air mata menggelincir
dari bawah kelopak matanya. “Kupikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu
lagi...”
“June,”
panggil Baekhyun dengan lembut.
“Apa?”
“Aku tidak
terbiasa melihatmu memperlakukan aku seperti ini. Sebaik ini.”
Ada
kepasrahan dalam suara Baekhyun yang tidak pernah Junhee dengar sebelumnya. Junhee
menatap Baekhyun sesaat sebelum berkata, “Aku akan ambilkan minum untukmu.”
Junhee
kemudian mengambil segelas air dan mendorong gelas itu ke tangan Baekhyun. “Minumlah.”
Baekhyun
mengambil gelas itu. Matanya terus saja menatap ke arah Junhee yang kembali
duduk di kursi di sebelah ranjangnya.
“Byunbaek,”
ujarnya dengan bibir bergetar menahan tangis yang sepertinya akan kembali
membuncah dari matanya. “Berjanjilah kau tidak akan membahayakan dirimu lagi
seperti ini. Janji.”
Junhee
merasakan sebelah tangan Baekhyun menepuk kepalanya pelan lalu menelusurkan
jari-jarinya di rambutnya. “Aku janji...”
“June, mendekatlah. Ada sesuatu yang ingin
kuberikan padamu,” ujar Baekhyun. Tatapannya tertancap pada Junhee yang sekarang
duduk di sebelahnya. Saat Junhee melakukan apa yang dikatakan olehnya, dia
merengkuh Junhee dan menciumnya dengan dengan lembut. Tangannya perlahan
menyusup di antara rambut Junhee yang tergerai.
Junhee
bisa merasakan dentam jantung Baekhyun yang berdegup kencang, kulit Baekhyun
yang panas karena demam dan juga pipinya yang memerah. Ciuman Baekhyun sama
sekali berbeda dengan Kris. Ciuman Baekhyun terasa aman dan akrab baginya, juga
lembut. Tidak seperti ciuman Kris yang berbahaya dan terasa mengancam. Junhee kembali mengingatkan dirinya untuk
tidak memikirkan Kris, apalagi di saat dia sedang bersama dengan Baekhyun. Dia
membuang jauh-jauh pikirannya tentang Kris.
“Maaf,
mungkin kau tidak menduga yang barusan itu,” kata Baekhyun sambil menarik diri,
bibirnya membentuk senyum kecil dan pipinya memerah—sebagian kecil karena demam.
Dia terlihat salah tingkah. Tapi Junhee pikir itu terlihat imut.
Junhee
hanya menanggapinya dengan tersenyum, tapi pipinya jelas-jelas merona hebat.
Lalu
tiba-tiba pintu kamar Baekhyun terayun terbuka dan Baekho pun masuk. “Wah,
jagoan. Kau sudah siuman ternyata,” katanya sambil meletakkan sekantong plastik
makanan di meja kecil di samping ranjang. “Junhee-ya, makanlah. Sejak kau di
sini kau belum makan apapun, kan?”
Kedatangan
Baekho membuat Baekhyun dan Junhee salah tingkah, wajah mereka berdua merah
padam.
“Sebenarnya
aku sudah makan tadi waktu pulang ke rumah untuk ganti baju. Tapi omong-omong,
apa yang Oppa bawa itu bagel?” jawab Junhee dengan suara dan ekspresi sebiasa
mungkin.
Baekho
mengangguk lalu tersenyum menggoda. “Kau pasti tidak bisa menolak yang satu
itu, kan?”
“Ya! Hyung!
Berhenti menggoda pacarku,” sela Baekhyun
dengan wajah dibuat sebal.
Ekspresi
terkejut terlintas di wajah Baekho saat adiknya mengucapkan kata pacar, tapi itu hanya sesaat. Dia
kemudian menunjukkan ekspresi yang dibuat-buat dan berlebihan. “Uuuuh... aku
takut.”
“Ah,
hyung. Kau ini benar-benar ya...”
Baekho
duduk di ujung ranjang Baekhyun dan menatap adiknya lekat, ada rasa khawatir di
sana. “Apa kau sudah merasa baikan?”
“Tidak
juga sih sebenarnya...” jawab Baekhyun lalu menunjuk perban yang masih
membaluti kepalanya dan juga beberapa plester yang menutupi luka-luka di
wajahnya. “Eomma mana?”
“Aku baru
saja mengantarnya pulang untuk beristirahat. Dia kelihatan lelah sekali. Aku
tidak tega...” kata Baekho. “Sebenarnya hari ini aku harus menjalankan sebuah
proyek fotografi, tapi karena...”
“Pergi
saja, Hyung. Aku sudah tidak apa-apa kok. Lagi pula kan ada Junhee yang
menemaniku,” potong Baekhyun dengan lembut, berusaha meyakinkan kakaknya.
Junhee
yang sedari tadi diam langsung menyahut. “Iya, Oppa. Aku akan menjaga Baekhyun
dengan baik. Aku berjanji...”
“Baiklah
kalau begitu. Aku pergi dulu ya. Besok pagi aku akan kembali lagi. Annyeong!”
Pintu
kemudian menutup di belakang Baekho, meninggalkan Junhee dan Baekhyun sendirian
di sana.
“Aku ingin
cepat sembuh dan keluar dari sini,” renung Baekhyun saat Junhee sedang memakan
bagel yang dibawa oleh Baekho tadi. “Kita pasangan yang resmi sekarang. Jadi,
aku ingin kita melakukan apa yang pasangan-pasangan lain lakukan. Menonton
film, makan malam bersama...”
Junhee
tersenyum. “Kita akan melakukannya. Karena itu, kau harus cepat sembuh. OK?”
Baekhyun mengangguk. “Terima kasih sudah mau menemaniku...”
“Jangan berkata seperti itu. Kau juga pasti akan melakukannya
untukku,” ujar Junhee dengan sebelah tangan terangkat canggung.
“Tentu saja,” kata Baekhyun tanpa kesombongan dalam nada bicaranya
maupun kepura-puraan, “tapi aku selalu berpikir bahwa seperti itulah yang
selalu terjadi pada kita berdua. Kau pasti tahu lah.”
Junhee mengerutkan keningnya dengan bingung. “Apa maksudmu? Aku
tidak mengerti sama sekali.”
“Maksudku,” ujar Baekhyun. Dia tampak terkejut karena harus
menjelaskan sesuatu yang seharusnya sudah jelas bagi Junhee. “Aku yang selalu
membutuhkanmu lebih dari kau membutuhkanku.”
Mata Junhee membelalak kaget. “Itu tidak benar, Byunbaek.”
“Itu memang benar,” tukas Baekhyun lagi. Nada suaranya tampak
tenang dan tidak dibuat-buat.
Junhee meraih sebelah tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat. “Jangan
pernah membayangkan jika dirimu tidak penting bagiku. Sekedar berpikir
begitupun jangan...”
“June, Baekho hyung pernah mengatakan sesuatu tentangmu padaku,”
ujar Baekhyun tiba-tiba. Suaranya sedikit bergetar, tapi Junhee tidak
menyadarinya.
“Sesuatu tentangku? Apa itu?”
Baekhyun hanya tersenyum tipis, lalu menjawab, “Tapi aku tidak
akan memberitahukannya padamu.”
“Ya! Tidak adil berahasia seperti itu!”
“Siapa bilang dunia ini adil, eo?”
***
“June,
bukankah hari ini ada latihan untuk pertunjukan akhir tahun?” tanya Baekhyun pada
pagi harinya saat Junhee sedang mengupaskan apel untuknya.
“Iya,
harusnya. Tapi kau tahu kan, di sana aku harus bernyanyi dengan dia.”
“Lebih
baik kau meneleponnya dan bicara padanya supaya dia mengijinkanmu untuk absen
latihan kali ini. Jika kau tidak melakukannya, gyosunim juga pasti akan marah,”
ujar Baekhyun menyarankan.
“Aku tidak
ingin meneleponnya. Pokoknya saat ini aku sedang tidak mau berbicara dengannya.”
“Ya sudah.
Berikan saja ponselmu padaku. Biar aku yang bicara padanya.” Baekhyun kemudian menerima
ponsel yang diangsurkan oleh Junhee padanya. “Kau ingin aku mengatakan apa?”
“Jelaskan
saja apa yang tadi kita bicarakan. Dia pasti langsung mengerti.”
Kris
menjawab telepon pada dering keempat, suaranya terdengar seperti orang yang
kehabisan napas. “Junhee-ya,” ujar Kris dengan kerapuhan yang mengerikan dan
hal itu membuat Baekhyun terkejut sampai akhirnya dia sadar bahwa tentu saja
nama Junhee yang muncul di layar ponsel namja itu. “Junhee-ya, apa kau
baik-baik saja?”
Baekhyun
merasa bimbang. Dalam suara Kris terdapat nada yang belum pernah didengarnya,
suatu kecemasan mutlak dengan kesedihan samar yang jauh dari kesan sarkasme
atau rasa sombong. Beginikah cara Kris berbicara pada Junhee saat mereka sedang
berdua?
“Junhee-ya,”
kata Kris lagi. “Kupikir kau sedang menghindariku...”
Kilatan
amarah menyambar Baekhyun dalam sekejap saat mendengarnya. Kau bukan siapa-siapa, dia ingin meneriakkan itu di telepon. Kau tidak memilikinya. Kau tidak berhak
kedengaran begitu... patah hati.
Lalu pada
akhirnya Baekhyun menyahut. “Kau benar,” ujarnya tajam dan sedingin jarum es. “Dan
sekarang pun masih. Ini aku, Baekhyun...”
Kesenyapan
kemudian lama menyela hingga Baekhyun mengira Kris sudah menjatuhkan teleponnya
di seberang sana.
“Hei, kau
masih di sana?”
“Aku di
sini,” Kris menyahut. Suaranya tajam sekaligus dingin seperti daun-daun maple yang berguguran di luar. Jelas
berbeda dari nada yang dia gunakan di awal percakapan tadi. “Jika kau
meneleponku hanya untuk mengobrol, pria kecil, kau pasti jauh lebih kesepian
daripada yang kuduga.”
Baekhyun
melirik sekilas pada Junhee lalu membalas dengan suara tak kalah tajam. “Percayalah.
Jika aku boleh memilih, aku tidak akan meneleponmu. Ini semua kulakukan karena
Junhee.”
“Apa dia
baik-baik saja?” Kris dipenuhi kekhawatiran dan nada dingin juga sudah
menyingkir dari suaranya. “Jika terjadi sesuatu padanya—”
“Tidak
terjadi apa-apa padanya,” potong Baekhyun. Dia berusaha keras menyingkirkan
amarah dari dalam suaranya demi menjaga perasaan Junhee yang kini sedang
memerhatikannya dengan ekspresi gugup. Sesingkat yang dia bisa, dia
menyampaikan apa yang ingin Junhee katakan padanya. Kris pun hanya mengiyakan
lalu menutup telepon tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
“Bagaimana?”
tanya Junhee sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Dia
bilang ‘iya’. Itu saja...”
***
Hari sudah
mulai gelap di luar rumah sakit. Pintu ruangan itu tiba-tiba mengayun terbuka
ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas dan berpenerangan cukup baik—ruang
kamar inap Baekhyun. Seorang namja kemudian berdiri menjulang di depan daun
pintu yang terbuka. Empat orang yang ada dalam ruangan itu serempak
memandanginya dengan tatapan yang sungguh berbeda satu sama lain. Satu dengan
tatapan tidak senang, satu dengan tatapan rindu yang tak kentara dan dua orang
yang lain dengan tatapan bingung.
Namja yang
baru saja datang itu langsung masuk begitu Ibu dan kakak Baekhyun
memersilakannya. Dia membawa sekeranjang penuh buah yang kemudian dia letakkan
di meja kecil di samping ranjang Baekhyun.
“Untuk apa
kau ke sini?” tanya Junhee, suaranya kelihatan dibuat-buat supaya terdengar
tajam.
Namja itu
hanya tersenyum kecil dan menjawab, “Tentu saja untuk menjenguk pacar barumu.”
“Kurasa
itu bukan tujuanmu yang sebenarnya,” tukas Junhee dengan suara bergetar. Warna
wajahnya menyurut dengan cepat, mendadak pucat pasi mendengar kata-kata Kris. Senyum
yang baru saja diperlihatkan Kris padanya makin menyakiti hatinya. Itu lebih
menyakitkan dari hal apapun yang pernah dialaminnya. Tapi dia sudah betekad untuk berusaha menahan
perasaannya pada namja itu.
“Yah, aku
minta maaf sudah mengejutkan kalian dengan datang ke sini,” ucap Kris santai.
“Kau tidak
kelihatan menyesal. Sama sekali,” sambar Baekhyun dengan dingin.
“Kau tahu?
Jika bukan karena Gyosunim memintaku untuk memberitahu Junhee info tentang MT
minggu depan, aku tidak akan ke sini. Jangan terlalu percaya diri,” balas Kris
tak kalah tajamnya. Dia seolah lupa jika di sana ada Ibu dan juga kakak
Baekhyun yang juga sedang memerhatikan mereka bicara.
“Apa kau
tidak mengenal alat komunikasi bernama ponsel? Kau bisa saja meneleponnya. ”
Kris
tersenyum sinis. “Sudah kubilang tadi. Aku juga ingin menjenguk pacar baru Junhee.”
“Sudahlah,
jangan bertengkar lagi...” ujar Junhee menengahi sebelum Baekhyun bisa membalas
perkataan sinis Kris. Dia merasa tidak enak pada keluarga Baekhyun. “Kris,
katakan saja apa yang harus kau katakan. Keberadaanmu di sini hanya akan
membuat keadaan Baekhyun memburuk.”
Bibir Kris
menekuk membentuk senyuman, tapi Junhee bisa melihat kepedihan di balik
matanya. “Baiklah.”
Dan
setelah dia mengucapkan apa yang diperintahkan gyosunim, dia pun pergi begitu
saja. Tanpa pamit, bahkan pada Ibu Baekhyun. Junhee memandangi punggung Kris
dengan tatapan nanar. Aku tidak ingin
melakukan ini padamu. Tapi aku harus...
***
Hari sudah
mulai gelap saat Junhee membuka pintu gerbang sebuah rumah—yang sudah
dianggapnya sebagai rumahnya sendiri karena dia sangat sering menginap di rumah
itu saat masih bersekolah di sekolah dasar. Saat dia mulai menapaki undakan
teras rumah itu, suara seseorang yang sudah sangat akrab di telinganya
menyapanya dengan ramah. Ibu Baekhyun. Wanita setengah baya itu tampaknya
sedang berkebun seperti biasanya.
“Baekhyun
ada di kamarnya,” ujarnya, seolah kedatangan Junhee itu sudah biasa baginya.
Junhee
tersenyum lalu membungkukkan badannya. Dia kemudian masuk ke dalam rumah
bergaya eropa tapi minimalis itu. Sampai di kamar Baekhyun, dia langsung duduk
di sebelah sahabatnya yang sedang memainkan game favoritnya.
“Bagaimana
keadaanmu sekarang?”
Baekhyun
meletakkan stick game-nya di atas ranjang lalu berjalan menghampiri Junhee dan memberi
kecupan di kening Junhee dengan lembut. “Aku sudah tidak apa-apa kok.
Geokjeongma—jangan khawatir”
Junhee
mengangguk sambil tersenyum dan Baekhyun pun mengelus kepalanya dengan lembut. Mereka
kini duduk di lantai sambil bersandar pada ranjang Baekhyun. Junhee bisa
mencium wangi parfum Baekhyun dengan jelas dalam jarak sedekat ini. Kalau
dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya dia memasuki kamar Baekhyun semenjak
mereka lulus SMP dulu. Kalau dipikir-pikir juga, ini adalah kali pertama dia
masuk ke kamar seorang namja. Wajah Junhee mendadak memerah mengingat hal itu. Dia
buru-buru memalingkan wajahnya agar Baekhyun tidak menyadarinya.
Tiba-tiba
ponsel Junhee berdering nyaring hingga membuat keduanya tersentak kaget. Mereka
berdua saling pandang kemudian tertawa geli. Junhee pun lalu segera mengangkat
teleponnya.
“Apa ini
Jieun?” tanyanya ragu-ragu, karena nomor yang muncul di layar ponselnya tidak
ada di dalam kontak ponselnya.
Suara di
seberang sana langsung menyahut dengan suara tercekat seperti baru saja
menangis. Junhee merasa asing dengan pemilik suara itu.
“Kalau
bukan Jieun, lalu ini siapa?” tanya Junhee heran lalu tatapannya beralih pada
Baekhyun yang memandangnya dengan wajah penasaran.
“A,
ternyata ajoemma. Museun iriseyo—Ada masalah apa?”
“Kris menghilang...”
***
Bulan
sudah mulai terlihat bulat sempurna saat Junhee dan Baekhyun sampai di kafe langganan
mereka. Mereka ke sana bukan untuk kencan atau makan malam romantis, melainkan
untuk mencari Kris. Junhee bersikukuh untuk mencari keberadaan Kris yang sudah
tidak pulang ke rumahnya berhari-hari. Dan Junhee yakin dia akan menemukan Kris
di kafe itu. Baekhyun dengan setia bersedia menemani Junhee walaupun keadaannya
belum terlalu sehat. Junhee sudah berkata padanya untuk tetap tinggal di rumah,
tapi Baekhyun berkeras untuk ikut.
Dan di
sinilah mereka sekarang. Di kafe yang setengah penuh oleh pelanggan, tidak
ramai seperti biasanya. Junhee mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan,
berusaha mencari sosok jangkung berambut pirang—Kris. Dia hilang tenaga saat
mendapati tidak ada tanda-tanda keberadaan Kris di sana. Baekhyun yang berdiri
di sampingnya menepuk pundaknya sambil menggeleng, tanda bahwa dia juga tidak
melihat Kris.
Saat
harapan telah hilang darinya dan kecemasan mulai menggerogoti habis hatinya,
ponsel Junhee kembali berdering.
“Ajeomma!”
serunya.
“Aku tahu
kemungkinan dimana Kris berada.” Katanya dari seberang sana. “Aku akan mengirim
alamatnya lewat pesan setelah ini. Semoga perkiraanku tidak salah soal ini.”
Tak lama
setelah telepon ditutup, pesan yang dimaksud datang dan Junhee dengan tergesa
meminta Baekhyun untuk mengantarnya ke alamat itu.
Setelah
mencari alamat itu, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah rumah mewah di
distrik Gangnam. Setelah berhasil memasuki rumah dengan penjagaan ketat itu,
Baekhyun dan Junhee diantar oleh pemilik rumah itu yang mengaku bahwa dia
adalah adik dari Eomma Kris.
“Dia ada
di dalam,” ujarnya dengan ramah.
“Terima
kasih,” kata Junhee dan Baekhyun secara bersamaan.
Junhee
masuk terlebih dulu ke dalam ruangan beraksen putih-biru itu. Di ruangan itu
hanya ada ranjang king size, lemari
baju, satu rak penuh buku dan juga meja kecil di samping ranjang yang membuat
ruangan yang luas itu terasa kosong. Di sana, di lantai dekat ranjang, duduk
sosok Kris. Dia duduk meringkuk sambil bersandar di kaki ranjang. Junhee merasa
miris melihatnya. Tidak ada lagi sosok angkuh Kris di hadapannya.
Kris yang
menyadari keberadaan mereka langsung mendongak. Junhee pun langsung mencetus, “Ada
apa denganmu, Kris?”
Tangan
kanan Kris terangkat dan jari telunjuknya mengarah pada sosok Baekhyun. “Aku
tidak mau dia ada di sini.”
Junhee
yang tadinya merasa bersimpati mendadak tersulut emosinya. “Apa maksudmu dengan
mengatakan hal itu, eo?”
“Tidak
ada. Aku tidak ingin dia di sini. Itu saja.”
“Baiklah,”
ujar Baekhyun dengan suara yang terdengar seperti geraman kesal, dia tampak
menahan sumpah serapah agar tidak keluar dari mulutnya. Tangannya mengepal
keras dan wajahnya memerah. Tatapannya tajam ke arah Kris. “Aku akan keluar.”
Junhee
menggeleng. “Kau tidak perlu melakukan ini.”
“It’s OK,
June. Sepertinya anak manja ini
mengharapkan aku lenyap dari sini.”
Pintu
menutup di belakang Baekhyun dengan bantingan keras yang suaranya membuat
Junhee tersentak. Kris menyeringai melihatnya.
Junhee
mengalihkan pandangannya pada Kris setelah lama terpaku pada pintu kamar itu. “Apa
motifmu melakukan semua ini? Apa kau tidak tahu jika ajeomma sangat
mengkhawatirkanmu?”
“Aku tidak
peduli jika dia yang mengkhawatirkanku. Toh ayahku juga tidak akan sadar jika
aku tidak di rumah,” jawab Kris dengan sinis.
“Kau
egois. Kau tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Kau selalu menganggap
dirimu hidup sendirian di dunia ini. Kau...”
Kris
memotong dengan tajam. “Yang egois bukan aku. Tapi kau.”
***
Baekhyun
bersandar pada dinding di seberang pintu kamar Kris. Kedua tangannya dia
masukkan dalam saku jaket kulitnya. Tatapan matanya terus terpaku pada pintu
kamar itu. Sesekali dia menghela napas panjang sambil memejamkan matanya
sejenak. Perutnya terasa mual karena terlalu sebal dengan kenyataan yang harus
di hadapinya. Baru beberapa hari yang lalu dia mencium Junhee dan hal paling
indah yang pernah dibayangkan olehnya terjadi. Junhee membalas ciumannya waktu
itu. Tapi saat ini Junhee sedang ada di dalam kamar dengan Kris, berdua. Hanya
berdua. Kenyataan itu membuatnya merasa pening. Dia lega sekali saat Junhee
berkata dia sudah memutuskan hubungannya dengan Kris. Tapi sama saja baginya
jika yang Junhee pikirkan selama bersamanya hanyalah Kris, Kris dan Kris. Dia
merasa Junhee yang bersamanya beberapa hari ini bukanlah Junhee yang
dikenalnya. Dia merasa ini semua tidak benar.
Mana ada sahabat yang bersikap seperti itu? Pikirnya
dengan perasaan miris.
Dia
mengangkat wajahnya ketika pintu kamar itu mengayun terbuka dan Junhee muncul
di baliknya. Wajahnya tampak murung,
lebih murung dari pada tadi saat dia pertama melihat Kris tampak kacau seperti
itu. Matanya mulai memerah seperti
sedang menahan tangis. Baekhyun ingin sekali bertanya apa yang membuatnya tampak
seperti itu, tapi dia segera mengurungkan niatnya tersebut. Dia kemudian
merangkul pundak Junhee lalu berpamitan pada pemilik rumah itu.
***
Aula
tempat mereka menginap saat MT dilaksanakan sudah nyaris penuh. Junhee, yang
sedang bergandengan dengan tangan dengan Baekhyun memperhatikan ketika Kris
memasuki ruangan itu. Dia menjaga kepalanya untuk tetap menunduk saat Kris
melewatinya. Seolah dengan cara itu dia akan menjadi seseorang yang tidak
terlihat dan Kris tidak akan bisa melihatnya.
“Dia
memandangimu tadi,” kata Baekhyun. Genggaman tangannya mengerat seperti takut
jika tangan Junhee akan terlepas dari genggamannya. “Dan sekarang pun masih.”
Junhee
menghemat tenaga dengan tidak menjawab. Dilihatnya Kris sudah berbaris di
barisan depan dengan mata masih memandang ke arahnya. Junhee mati-matian
berusaha tidak memerhatikan Kris, bagaimana intensnya namja itu memandanginya. Junhee
dan Baekhyun kemudian berdiri di satu sisi dan Kris sisi lainnya.
“Selamat
malam,” ucap gyosunim di atas panggung di aula itu. “Malam ini kalian akan
berlatih untuk acara tahunan kampus. Lalu setelah itu kalian bisa beristirahat.
Tapi jangan senang dulu, besok pagi akan ada latihan ekstra...”
Suara
keluhan langsung berkoar begitu gyosunim mengucapkan kata ‘latihan ekstra’.
“Jangan
ada keluhan. Kalian harus berusaha sebaik mungkin untuk menyukseskan acara ini,”
ujar gyosunim dengan ketegasan dan juga keputusan mutlak. “dan sekarang, ayo
semua mulai latihan kalian!”
Dalam
sekejap mereka pun sibuk dengan tarian, nyanyian dan semua yang sudah mereka
siapkan untuk acara tahunan itu. Tak terkecuali Junhee dan Kris yang harus
bekerjaa dalam satu tim. Walaupun merasa canggung dengan situasi itu, mereka
dengan profesional tetap berlatih. Hal yang sama juga terjadi pada Baekhyun dan
Jieun. Pertemuan terakhir mereka berakhir dengan cara yang tak menyenangkan dan
itu membuat mereka merasa tidak enak satu sama lain.
Tak
terasa, acara latihan selesai dan mereka semua pun mulai sibuk bersiap-siap
untuk tidur. Setelah mandi dan berganti baju, Junhee pergi ke salah satu
ruangan di penginapan itu untuk mengambil selimut. Dia baru saja mengambil beberapa
selimut tebal dari dalam lemari ketika dia merasa seseorang ada di belakangnya.
Junhee berbalik, selimut yang dipegangnya jatuh teronggok di lantai dekat
kakinya.
Ternyata
Kris. “Maaf sudah membuatmu kaget.”
“Tidak
apa-apa,” jawab Junhee singkat lalu membungkuk untuk mengambil selimutnya.
“Sebenarnya
aku tidak menyesal,” ujar Kris. “Itu emosimu yang paling kuat yang kulihat
setelah beberapa hari ini.”
“Aku
memang tidak melihatmu selama berhari-hari.”
“Dan salah
siapa itu? Aku menelepon, tapi kau tidak pernah menjawab. Aku datang menemuimu,
kau mengusirku dan saat terakhir kita bertemu, kau langsung pergi begitu saja. Aku
hanya sekedar mengingatkan, kalau kau lupa.”
“Kau
benar, aku memang sudah lupa,” jawab Junhee berusaha terdengar santai. “Bukankah
seharusnya sekarang kau cepat-cepat pergi tidur? Besok kita masih harus
berlatih.”
Mulut Kris
menekuk dan Junhee dapat melihat sesuatu yang retak di balik matanya, sebuah
ledakan kepedihan. “Sudah tidak sabar menyingkirkanku, Choi Junhee?”
“Bukan,”
ujar Junhee sambil memeluk selimutnya erat dan memandangi tangannya. Dia tak
kuasa menyambut tatapan mata Kris. Keinginannya untuk memeluk namja itu sangat
kuat hingga dia ingin menjeritkan kata-kata rindu padanya. Tapi dia tidak bisa.
Tidak di sini, dalam situasi seperti ini. “Bukan itu maksudku. Sama sekali
bukan. Aku tidak membencimu, Kris. Sungguh.”
Kris
tersenyum miring. “Aku juga tidak membencimu.”
Junhee
langsung menengadah menatap Kris, rasa lega memenuhi hatinya. “Aku senang
mendengarnya—”
“Seandainya
saja aku bisa membencimu,” potong Kris. Suaranya ringan, bibirnya melekukkan
senyuman tak acuh seperti biasanya, tapi matanya sarat akan penderitaan. “Aku
ingin membencimu setelah apa yang kau lakukan padaku. Aku berusaha membencimu.
Kupikir pasti segalanya akan jauh lebih mudah seandainya aku memang membencimu.
Kadang aku mengira aku benar-benar membencimu tapi kemudian aku melihatmu dan
aku—”
Tangan
Junhee kesemutan karena memegang selimut terlalu erat. “Dan kau apa?”
“Kau pikir
apa?” Kris balik bertanya lalu menggeleng sedih. “Kenapa aku harus menceritakan
padamu apa yang kurasakan sedangkan kau tidak pernah menceritakan apa-apa
padaku? Kau tahu bagaimana rasanya?”
Junhee
dengan refleks menggelengkan kepalanya pelan.
“Rasanya
seperti membenturkan kepalaku ke dinding. Hanya saja jika aku memang membenturkan
kepalaku ke dinding, aku bisa memaksa diriku untuk berhenti melakukannya.”
Bibir
Junhee bergetar hebat hingga dia merasa kesulitan untuk bicara. “Kau pikir ini
mudah untukku?” tanyanya dengan susah payah. “Kau pikir aku—”
“June?”
itu suara Baekhyun yang sedang melangkah memasuki ruangan membuat Junhee begitu
terkejut sampai menjatuhkan selimutnya untuk kedua kalinya. Junhee dengan cepat memalingkan wajahnya. Tidak
cukup cepat untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya dan juga sorot matanya—yang
menceritakan segalanya—dari Baekhyun. “Aku mengerti,” ujar Baekhyun setelah
lama terdiam. “Maaf kalau aku mengganggu.” Baekhyun menghilang di balik pintu,
meninggalkan Junhee yang terus memandanginya dari balik air mata.
“Damn!”
Junhee menoleh pada Kris. “Kau ini
kenapa sih?” kata Junhee,
lebih kasar dari apa yang dimaksudkan olehnya. “Kenapa kau harus merusak
segalanya, eo?” lalu dengan tergesa dia menyerahkan selimut yang dipegangnya
pada Kris dan berlari mengejar Baekhyun.
Baekhyun
sudah hampir mencapai pintu kamarnya saat Junhee sampai. “Byunbaek, kau mau ke
mana?”
Baekhyun
berbalik, hampir dengan enggan. “Tentu saja tidur. Ini sudah larut, aku tidak
mau telat untuk latihan besok.”
Karena
saat ini baru jam sepuluh, dan belum bisa dibilang larut, alasan ini dianggap
lemah bagi Junhee. “Kau selalu tidur di atas jam dua belas, aku yakin kau belum
mengantuk. Karena itu, ayo kita jalan-jalan sebentar malam ini.”
“Kurasa
itu bukan ide bagus. Udaranya sangat dingin, nanti kau bisa sakit.”
“Kenapa? Aku
tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba seperti ini.”
Baekhyun
tersenyum, senyum getir dengan sesuatu yang lain dibaliknya. “Apa kau tahu apa
hal paling buruk yang bisa kubayangkan?”
Junhee
mengerjapkan mata, terlihat bingung. “Tidak.”
“Tidak
memercayai orang yang kucintai.”
Junhee
meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya. Baekhyun tidak memprotes tindakan
itu tapi juga tidak bereaksi akan sentuhan Junhee. “Apa yang kau maksud—”
“Ya,” kata
Baekhyun. Dia tahu apa apa yang akan ditanyakan oleh Junhee. “Yang kumaksud adalah
kau.”
“Tapi kau
bisa memercayaiku.”
“Dulu
kupikir aku bisa, tapi aku punya firasat jika kau lebih suka mendambakan orang
lain yang memang jauh lebih baik dariku.”
“Beri aku
waktu,” ujar Junhee jujur, dia pikir tidak ada gunanya berpura-pura di depan
Baekhyun karena dia pasti tahu apa yang sebenarnya. “Aku hanya perlu melupakan—
melupakan semuanya. Itu saja.”
“Kau tidak
bisa mengatakan bahwa apa yang kukatakan itu salah, kan?” tanya Baekhyun. Matanya
tampak lebar—walaupun saat itu dia tidak memakai eyeliner seperti biasanya—di
bawah cahaya redup lampu di lorong depan kamar. “Tidak untuk sekarang.”
“Tidak
sekarang. Maafkan aku. Aku menyesal.”
“Tidak
perlu. Aku menghargai kejujuranmu.” Baekhyun tersenyum enggan. “Apa kau masih ingin
tahu apa yang dikatakan Baekho hyung tentangmu?”
Junhee
mengangguk.
“Dia berkata
bahwa kau pasti akan membuatku patah hati,” ujar Baekhyun dengan senyum yang
makin membuat Junhee merasa bersalah. “Dan aku ingin memberitahukan sesuatu padamu.
Aku tidak tahu ini kabar buruk atau bukan.”
“Semuanya
kalau tidak baik, ya buruk,” ujar Junhee. “Katakan padaku bahwa kau baik-baik
saja.”
“Aku
baik-baik saja,” sahut Baekhyun cepat. “Tapi, kurasa sebaiknya kita tidak usah
bertemu lagi.”
Junhee
merasa ada sesuatu yang keras menyambarnya dengan cepat dan membuatnya hampir
pingsan saat itu juga. “Kau tidak mau kita bersahabat lagi?” tanyanya hampir
menjerit.
“June...”
“Apa semua
ini karena hubunganku dengan Kris? Aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya
kalau kau mau tahu,” seru Junhee, suaranya semakin meninggi. “Aku tahu aku
sudah egois dengan melakukan semua hal itu, tapi aku—”
Baekhyun
mengernyit. “Kau mulai terdengar seperti radio rusak, tahu tidak? Berhentilah
dan dengarkan aku bicara.”
Junhee
langsung berhenti bicara dan mengatupkan bibirnya rapat.
“Aku ingin
kita tetap bersahabat,” ujar Baekhyun. “Soal
satunya lagi yang membuatku tidak yakin.”
Junhee
mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. “Soal satunya lagi?”
Wajah
Baekhyun mendadak memerah. Dia tampak kebingungan mencari kata yang tepat untuk
menggambarkan hubungan mereka. “Soal kita berkencan, maksudku.”
Baekhyun
menunduk menatap tangan mereka berdua yang saling terjalin. Jari-jari Junhee
tampak kecil berada di antara- jari-jarinya. Baekhyun kemudian mengusap
buku-buku jari Junhee dengan ibu jarinya.
Junhee
menatapnya lekat. “Kupikir itu yang kau inginkan,” ujar Junhee. “Bukankah kau
bilang bahwa...”
Baekhyun
mengangkat wajahnya dan menatap Junhee dari balik bulu matanya. “Bahwa aku
mencintaimu? Aku memang mencintaimu, June. Aku tidak pernah mencintai siapapun
selain dirimu. Tapi bukan hanya itu masalahnya.”
“Apa ini
semua karena Jieun?” gigi Junhee mulai bergemeletuk, sebagian kecil karena
dingin. “Karena kau menyukainya?”
Baekhyun
terlihat bimbang. Tidak yakin dengan keputusannya sendiri. “Tidak,” ujarnya. “Maksudku,
ya. Aku menyukainya. Tapi bukan seperti apa yang kau pikirkan. Hanya saja, bila
aku di dekatnya, aku tahu seperti apa rasanya jika ada orang yang menyukaiku
seperti itu. Dan denganmu, tidak seperti itu adanya.”
“Tapi kau
tidak mencintainya.”
“Mungkin
suatu hari nanti aku bisa menyukainya.”
“Mungkin
suatu hari nanti aku bisa menyukaimu.”
“Saat kau
benar-benar bisa,” Baekhyun menukas. “Datanglah padaku dan beri tahu aku. Kau
tahu dimana bisa menemukanku.”
Junhee
menggigil lebih keras. “Aku tidak sanggup kehilanganmu, Byunbaek. Tidak sanggup...”
“Kau tidak
akan pernah kehilangan diriku dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tapi
aku lebih suka mempertahankan apa yang kita punya sebelumnya—yang penting dan juga
nyata—daripada harus memaksamu berpura-pura menjadi orang lain. Saat aku bersamamu, aku ingin yakin bahwa aku
bersama kau yang sesungguhnya, Choi Junhee yang sesungguhnya.”
Junhee menengadah,
memandangi wajah Baekhyun dengan seksama. Ada sesuatu yang tak biasa di wajah
sahabatnya itu yang membuatnya merasa semakin bersalah. Dia kemudian menatap
tubuhnya sendiri dari atas sampai ke bawah lalu menatap lagi pada Baekhyun. “Aku
bahkan tidak pernah tahu bagaimana diriku yang sesungguhnya...”
“Tapi aku
tahu,” ujar Baekhyun dengan lembut lalu perlahan melepas genggaman tangan
Junhee.
***
Kaki
Junhee terayun dengan langkah letih, dia serasa limbung dan seperti berjalan di
dalam mimpi buruk. Setelah melewati lorong dan berbelok, akhirnya dia sampai di
depan ruangan tempatnya menginap. Dia baru saja memutar kenop pintu saat
melihat sosok Sehun tengah berjalan dan sepertinya akan melewati lorong
tempatnya berdiri. Junhee menegakkan tubuhnya, dia pasti mulai berkhayal lagi. Tiap
suasana hatinya buruk, dia selalu saja seperti itu. Ketika sosok Sehun hanya
berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri, Junhee langsung menghambur
memeluknya. Toh dia hanya sedang berkhayal, pikirnya.
“Sehun-a,
aku benar-benar sudah habis sekarang. Aku sudah tak punya apa-apa lagi,” ucap Junhee
di sela isakannya. “Baekhyun memutuskanku dan Kris...”
“Kris?”
“Iya,
Kris.”ujar Junhee. “Tapi aku percaya kau tidak akan menyakitiku. Kau kan hanya
khayalanku.” Junhee mengangkat wajahnya dan menatap wajah Sehun sambil
tersenyum.
“Khayalan?”
gumam Sehun.
“Aku putus
dengannya demi menjaga perasaan Baekhyun. Tapi sekarang, Baekhyun hanya ingin
memiliki hubungan yang sebatas sahabat denganku.”
“Jika kau
sangat menyukainya, kenapa kau melakukan itu? Walaupun kau putus dengannya, setidaknya kau harus
tetap berkomunikasi dengannya.” Sehun menepuk punggungnya dengan lembut dan
melanjutkan. “Kau meyukainya, kan? Berusahalah untuk tetap berkomunikasi
dengannya. Tapi jika itu tidak bekerja, kau bisa datang ke sisiku...” katanya
lagi, kali ini dengan nada menggoda.
Junhee
tersenyum lalu melepaskan dirinya dari Sehun. “Apa yang kau katakan? Kau hanya
khayalanku...”
Sehun baru
saja membuka mulut untuk membalas pernyataan Junhee saat sebuah suara
menginterupsinya. “Kau harusnya memperkenalkan dia padaku. Oh Sehun.”
Junhee
membelalak saat mendengar suara itu. Suara yang tak asing di telinganya.
“Kau
mengagetkanku saja,” kata Sehun balas tersenyum pada pemilik suara itu. “Oh ya,
hyung. Bisakah kau antarkan aku ke kamar yang sudah disiapkan untukku? Aku
sudah berkeliling tapi belum juga menemukannya.” Dia menggaruk bagian belakang
kepalanya sambil tertawa malu.
Baru
setelah Sehun mengatakan itu, Kris memerhatikan siapa yeoja yang sedang bersama
Sehun tadi. Senyuman langsung lenyap dari wajah Kris begitu tahu bahwa itu
adalah Junhee.
Sehun
melihat keduanya secara bergantian dan bertanya. “Kalian sudah saling kenal?”
Keduanya
tak menjawab. Junhee kemudian berjalan melewati Kris untuk memasuki kamarnya. Tapi
saat dia melewati namja itu, Kris menahannya dengan mencengkeram lengannya. Namja
itu lalu menariknya menjauh dari Sehun yang masih menatap mereka dengan tatapan
bingung. “Apa yang terjadi? Ada hubungan apa kau dengannya?” bisiknya dengan
geram.
“Ini bukan
urusanmu,” sahut Junhee tajam.
“Apa
hubunganmu dengan Sehun?” Kris tak peduli dan terus bertanya.
“Lalu apa
hubunganmu dengan dia?” Junhee balik bertanya dengan sinis.
“Dia sudah
kuanggap seperti adikku. Dia anak dari adik eommaku,” jelas Kris dengan tidak
sabar. “Lalu bagaimana denganmu?”
“Nae
namchiniya—dia pacarku.” jawab Junhee sambil tersenyum penuh kemenangan. “Maaf
kalau selama ini aku menduakanmu. Oh
bukan, bisa dibilang aku menigakanmu.
Aku mencampakkanmu bukan hanya karena Baekhyun tapi juga karena dia. Kau puas?”
Junhee lalu berbalik pergi tapi lagi-lagi Kris menahannya.
“Apa kau
pikir ini semua masuk akal? Apa kau terlihat seperti tukang selingkuh?”
“Ya, aku
memang tukang selingkuh. Dan kau sudah kucampakkan,” ucapnya dengan senyum puas
lalu masuk ke kamarnya.
Kris
langsung berbalik dan menghampiri Sehun yang masih berdiri di tempatnya tadi.
“Apa yang
terjadi? Apa kau kenal dengan Junhee? Bagaimana kau bisa bersamanya?” tanya
Kris dengan bertubi-tubi dan penuh emosi.
“Bagaimana
kau mengenal dia?” balas Sehun.
“Bukankah
aku sudah bercerita padamu jika ada seorang yeoja yang kusukai?”
“Jadi,
orang yang kau bicarakan kemarin adalah—”
“Aku
bertanya padamu apa yang terjadi!” bentak Kris. “Lebih tepatnya, aku bertanya
apa hubunganmu dengannya.”
“Aku baru
bertemu dengannya tadi. Demi Tuhan, aku baru bertemu dengannya. Dan yang
membuatku kaget adalah dia—”
Kris makin
marah dengan jawaban Sehun. “Kau berpelukan dengan yeoja yang baru saja kau temui.
Begitu maksudmu?”
Sehun
mulai sebal dengan sikap Kris yang sangat menyalahkan dirinya. “Hyung. Kenapa
hyung berkelakuan seperti namja yang tak berhati seperti itu? Membuat
yeoja-yeoja menangis seperti itu.”
“Di...dia
menangis?”
“Eo! Karena
dirimu, dia bisa saja membuat sungai Han banjir karena air matanya. Bisakah kau
memperbaiki perilakumu yang seperti itu?”
“Kenapa
dia menangis di depanmu, eo? Apa yang kau lakukan padanya?” sambar Kris tidak
terima.
“Hyung! Tidakkah
kau mengerti ucapanku?” Sehun benar-benar sudah tidak sabar lagi. “Bersikap
baiklah padanya. Kasihan dia. Ini semua pasti sulit baginya. Dia bilang dia
baru saja putus dengan seseorang yang bernama Baekhyun atau entah siapa—aku
lupa.”
“Dia
berkata seperti itu padamu? Bagaimana mungkin dia bercerita secara buka-bukaan
pada seseorang yang bahkan belum pernah dikenalnya?”
“Yah, aku
juga tidak tahu. Dia mungkin sedang dalam kondisi yang buruk. Dia bahkan
mengira aku ini hanya khayalannya saja.” Sehun sedikit tersenyum mengingat
kejadian tadi.
Kris yang
baru menangkap omongan Sehun langsung menyambar dengan tidak sabar, “Tunggu. Kau
bilang apa tadi? Dia putus dengan Baekhyun?”
“Eum...
kurasa begitu. ”
“Tapi jika
itu benar, kenapa dia bersikap seperti itu padaku?”
***
TBC ;)