Rabu, 04 Juli 2012

[Oneshoot] Can't Believe It

Diposting oleh hunhanbuin di 14.29 0 komentar

Title : Can’t Believe It
Author : Sonia aka. Han Minji
Genre : Romance, drama, friendship.
Main casts : Yoo Seungho, Han Minji, Choi Hyerin, Kim Seonri, Cho Hara, and other cameos.
Song of Story : Juniel – Illa Illa, Juniel – Fool, 2NE1 – Be Mine, Yonghwa  - You’ve Fallen for Me.


A-YO WASSUUUP~~!!  \m/ *ala Kris*
si author comeback sambil bawa FF request-an si Dinar alias Hyerin, haha. Sesuai permintaan tuh anak, author di sini pake cast Yoo Seungho yang imut-imut ituuuu~ :D
nah, sesuai request-an Hyerin, scene di FF ini banyak yang diambil dari kisah nyata author & first love author pas jaman SD dulu. Yah, kata si Hyerin, ada satu foto di mana muka ‘first love’nya author itu mirip sama Yoo Seungho, makanya Hyerin nyaranin supaya yang jadi cast itu si Yoo Seungho. Haha~ ada-ada aja tuh anak :D
tapi di sini marga Yoo Seungho aku ganti jadi ‘Yang’. Buat A+, aku minjem nama leader MBLAQ buat meranin Yoo Seungho ya? *ini juga saran Hyerin* hehe :p
WARNING! INI FF FULL CURHATANNYA AUTHOR , BUAT YANG TAHU KISAH SEBENARNYA, DILARANG NGAKAK! :p
Yaudah deh, gak usah basa-basi lagi. Happy reading dan jangan lupa RCL!! Ahihi~ :D



***
Dear someone in somewhere...

No way!  I’ve realized that I’ve been looking at you, even if I try to hate it, stop it, or hide it, I keep do that. I like this sensation. You know how I feel,  even though we fight everyday.
 I’m lonely, my heart’s crazy for you and you’re the only one I see. I guess my heart was stolen before I knew it and I’m missing you all day long.
I know that it doesn’t make any sense, but I love you... J

(Younha – Can’t Believe It)

***

Suara riuh rendah yang memekakkan telinga menggema ke segala penjuru kelas. Beberapa siswi sibuk bergosip dan bergerombol di sudut-sudut kelas, sedangkan para siswa berlarian seperti orang kesetanan saat bermain kejar-kejaran. Hanya tiga orang yang diam, berdiri di muka kelas sambil mengamati teman-teman mereka dengan tatapan membunuh. Suasana seperti itu sudah biasa terjadi di dalam ruang kelas dua. Maklum, mereka adalah anak-anak SD yang masih ingin merasakan kebebasan bermain di mana pun mereka berada.
“YA! KALIAN SEMUA! DAKCHIGOOO-----DIAMLAAAH!!” teriak tiga orang siswa berbadan kerempeng dengan lagak seperti komando seraya mengetukkan tongkat kayu kecil ke atas meja di muka kelas. Seketika itu, semua mata tertuju pada mereka bertiga. Semua murid di kelas itu terdiam, menghentikan aktivitasnya masing-masing dan suasana pun menjadi hening.
“Ini sudah mulai memasuki jam pelajaran, tahu!” seru salah satu dari mereka dengan gaya yang sok.
“Aku juga tahu ini sudah memasuki jam pelajaran. Lalu apa salahnya? Seonsaengnim juga belum masuk kelas.” Sahut seorang siswi, yeoja mungil dengan suara lantang yang tak suka diatur-atur oleh tiga siswa sok itu.
“Ya! Kau tahu kan, kami ini diperintahkan oleh Seonsaengnim untuk mengatur kalian semua agar tidak ribut!” balas salah satu dari siswa itu tak kalah lantang.
“Lalu apa peduliku? Dasar domba bau!” cibir siswi itu dengan mata melotot sebal.
“Kau panggil aku apa? Domba?!!” seru siswa itu tak terima.
“Yang. Seung. Ho. Margamu adalah ‘Yang’ dan dalam bahasa Korea ‘Yang’ berarti domba. Kau tidak bodoh, dan kupikir kau tahu itu.” Siswi itu menatap Seungho dari atas ke bawah, “Eum...nama itu cocok sekali denganmu. Haha...” siswi itu tertawa mengejek, diikuti oleh tawa ketiga temannya lalu seisi kelas.
“Neo jinjja...!” desis Seungho dengan nada geram.
“Mwo? Kau tidak terima? Memangnya kau bisa melakukan apa, eo?” tantang siswi itu.
“Han Minji, neo!!!” Seungho dan dua temannya menghampiri Minji dan mengetukkan tongkatnya beberapa kali ke meja yeoja mungil itu. Seungho bersiap melayangkan tongkatnya ke arah Minji, tapi hal itu langsung dihentikannya saat Minji mengomando teman-temannya untuk  membuka rok mereka. Semua murid perempuan di kelas itu kaget dan menelan ludah. Sedangkan  murid laki-laki di sana langsung memasang mata lebar-lebar, bersiap untuk menikmati pamandangan indah yang akan segera tersaji di hadapan mereka.
“Buka rok kaliaaaan!” seru Minji, dan ketiga temannya pun langsung mengikuti aba-abanya.
“Aissh! Apa yang kalian lakukan? Cepat turunkann rok kalian!” Seungho buru-buru meletakkan tongkat kayunya dan menutup matanya rapat-rapat dengan tangannya, begitu juga kedua temannya.
“Sirheo!” jawab empat yeoja di hadapannya dengan kompak dan tetap memamerkan celana dalam mereka seperti tak mempunyai rasa malu sedikit pun. Maklumlah, ketiganya masih kecil, jadi mereka belum mengenal apa yang dimaksud dengan ‘malu’.
“Seungho, sebaiknya kita keluar. Mereka gila!” seru salah satu teman Seungho, lalu berbalik pergi. Seungho pun mengangguk dan mengikuti langkah temannya yang satu itu. Masih dengan mata tertutup, ketiga namja kecil itu berjalan keluar kelas dengan susah payah dan sesekali meraba-raba benda di sekitarnya. Dan....
DUAKKK! Sebuah suara benturan terdengar keras di telinga Minji dan ketiga temannya. Mereka pun menoleh ke sumber suara dan langsung tertawa puas melihat apa yang terjadi di pintu kelas mereka itu. Di sana, Seungho tengah merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya yang baru saja terbentur daun pintu yang keras.
“Wae usseo-----kenapa tertawa? Ini semua gara-gara kalian!!” semprot Seungho kesal, “Aku akan laporkan ini pada Songsaengnim. Lihat saja...!”
“Kalian yang mulai duluan dan asal kalian tahu, kami tidak takut, weeek~!” Minji dan ketiga temannya menjulurkan lidah dengan tatapan mengejek.
Seungho memberi kode pada dua temannya untuk mengikutinya ke ruang guru sambil terus memegangi keningnya yang mulai berganti warna menjadi ungu kebiruan karena memar. “Ughhh... Han Minji. Awas kau!”

***

Minji tergelak saat mengingat kisahnya saat SD dulu. Tawanya terdengar renyah dan keras saat memasuki telinga ketiga sahabatnya, Hyerin, Seonri dan Hara. Saat itu mereka sedang berada di sebuah coffee shop untuk sekedar berkumpul setelah beberapa hari tidak bertemu.
“YA! Kenapa kau tertawa tanpa sebab, eo? Dari tadi kau diam dan sekarang tertawa sendiri.” Cetus Seonri sambil melirik ke arah Minji yang duduk bersebrangan dengannya.
“Eo. Seonri benar. Aku takut ada yang salah denganmu.” Tambah Hara sambil browsing dengan gadgednya.
Minji hanya diam sambil tersenyum geli, otaknya masih saja berkeliaran di masa lalu.
“Kurasa aku tahu penyebabnya...” kata Hyerin, lalu menyesap frappenya. “Dia pasti sedang mengingat masa memalukan kita dulu. Bukankah begitu, Han Minji?”
Minji langsung memasang tampang poker-face “Bagaimana kau tahu?”
“Apa yang tidak diketahui seorang Hyerin darimu?” kata Hyerin penuh sarkasme.
“Hehe... benar juga. Kalian kan sudah menjadi sahabatku lebih dari sembilan tahun lamanya.” Minji menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
“Nah, kau tahu itu...” jawab Hara cuek.
“Minji-ya... apa kau masih mempunyai perasaan pada si Domba itu?” tanya Seonri, dia sendiri tampak tak tertarik, karena dia sudah tahu jawabannya.
“Tentu saja tidak. Apa bagusnya Domba bau seperti dia? Kau ini ada-ada saja...” jawab Minji cepat, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain lalu beberapa detik kemudian dia memandangi teman-temannya kembali. “A, cham... bukankah besok kita harus berangkat pagi? Besok hari pertama kita masuk sekolah setelah liburan musim dingin. Kalian tidak lupa itu kan?” katanya, lalu buru-buru menyedot choco-ice di hadapannya.
“Aissh... kau ini selalu saja mengalihkan pembicaraan tiap kami menyebut si Domba itu.” Kata Seonri sambil menatap Minji kesal.
Minji menggeleng cepat sambil mengibaskan telapak tangannya,“Geuge anira-----bukan seperti itu. Aku tidak mengalihkan pembicaraan, aku kan hanya mengingatkan kalian untuk bangun pagi.”
“Dan kau adalah tukang sangkal terhebat.” Tambah Seonri lagi, membuat Minji semakin terpojok.
“Ya! Aku sudah bilang tidak menyukainya lagi. Itu hanya masa lalu...” suara Minji semakin pelan. “Itu sudah hampir enam tahun yang lalu, saat kita masih kelas tiga.” dan akhirnya suaranya hanya terdengar seperti gumaman.
“Seperti itu masih berani menyangkal. Akui saja lah, kau masih belum bisa melupakan Seungho kan?” kata Hyerin sambil membenahi poninya yang sedikit berantakan. “Aku ingat saat kelas delapan dulu. Saat... siapa ya? Aku lupa namanya...” Hyerin terdiam sejenak memikirkan nama yang daritadi mengusiknya, dan beberapa detik kemudian yeoja itu mengerjap senang sambil menjentikkan jarinya. “Aku ingat! Saat Sehun, ah ya... saat dia mengungkapkan perasaannya padamu. Kau dengan kejam menolaknya tanpa alasan yang jelas. Padahal kukira kau menyukainya juga saat itu.”
“Itu bukan karena Domba busuk itu, kau tahu?!” bibir Minji mengerucut karena sebal.
“Atau jangan-jangan kau tidak suka dengan namja? Jangan-jangan kau menyukai salah satu dari kami?” canda Hara sambil tertawa diikuti dengan tawa Hyerin dan Seonri.
“YA! Kalian jahat sekali mengataiku seperti itu. Aku masih normal, tahu! Dan aku sudah mengatakan pada kalian berkali-kali, ‘Aku tidak menyukai SEUNGHO lagi!’” Minji mendelik, tapi bukannya takut atau merasa bersalah, ketiga temannya itu langsung tertawa semakin keras.
“Jangnanieyo-----bercanda. Jangan dianggap serius.” Kata Hyerin di sela tawanya. Lau tiba-tiba dia terdiam, sepertinya sesuatu baru saja melintas di otaknya. Minji, Hara dan Seonri mengernyit, menunggunya mengatakan sesuatu.
“A, cham! Bagaimana jika Minji sekelas lagi dengan Seungho tahun ini?” tanya Hyerin.
That’ll be great...” kata Seonri, “Mereka tidak pernah sekelas lagi sejak lulus SD. Kalian tahu itu.” Kali ini kata-katanya ditujukan pada Hyerin dan Hara.
“Eung. Kupikir juga begitu.” Tambah Hara, lalu menoleh pada Minji yang duduk di sebelahnya, “Ini bisa jadi kesempatanmu untuk dekat dengannya lagi. Selama ini kau tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya, kan? Padahal kita satu sekolah, tapi saat berpapasan kau selalu saja pura-pura tak kenal dengannya.”
“Geumanhae. Aku tidak mungkin sekelas lagi dengannya. Aku yakin itu.” Ada keraguan dalam suaranya, “Jadi... kita bicara hal lain saja, OK?” ucap Minji seraya menatap temannya satu per satu, lalu menyuapkan sepotong waffle coklat ke mulutnya. Teman-temannya hanya mengangkat bahu sambil saling pandang.
“Ah, geurom.” kata Hara tiba-tiba sambil menyeruput cappuchino panasnya. “Apa kalian masih ingat pada Ji Eun teman SD kita dulu?”
“Aku ingat, tentu saja. Bukankah dia yang mencuri kartu ucapan selamat ulang tahun yang diberikan Minji padaku?” ujar Seonri sambil mengingat-ingat, lalu melirik Minji yang terlihat kesal setelah mendengar nama itu disebut. “Dia juga dengan kejam sudah membacakan isinya di depan kelas. Padahal di kartu itu Minji mengatakan bahwa dia menyukai Seungho.” Lanjut Seonri.
“Jangan sebut namanya lagi. Aku benci dia. Dia benar-benar nenek sihir!” Minji bersungut kesal.
“Tapi berkat dia, Seungho tahu perasaanmu yang sebenarnya.” Kata Hyerin, naif.
“Dan dia sukses membuat Seungho menjauhiku setelah hari itu. Padahal waktu itu hubungannya denganku sudah membaik, kami sudah jarang bertengkar.” Tambah Minji, bibirnya sudah manyun dan ada kilatan marah di matanya. “Ganti topik, ganti topik! Kenapa setiap hal yang kalian bicarakan selalu mengarah pada Domba itu, eo?”
“Yaaah... itu bukan salahku, aku kan hanya ingin memberi info pada kalian bahwa nenek sihir itu sudah pergi jauh ke...” lanjut Hara.
“Ke mana?” potong Minji, mendadak dia berkata penuh semangat.
“Pada akhirnya kau penasaran juga kan? Dasarrr...” ucap Hara sambil menatap Minji.
“Aku hanya ingin tahu...” rengeknya.
“Dia sudah kembali ke Busan. Jauh ke Busan sana. Are you happy now?”  cibir Hara.
“Aaaaa~ sinna! Hidupku pasti akan bahagia sekarang. Aku takkan lagi melihat nenek sihir itu berkeliaran di Seoul.” Minji menyeringai.
“Lihat dia. Baru saja dia merasa galau, tapi sekarang...” cetus Seonri, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Minji hanya terkekeh mendengar tanggapan teman-temannya itu.

***

Tahun ajaran baru dimulai. Seperti biasa, aroma segar angin musim semi menyambut kembalinya mereka ke sekolah. Para murid sibuk berdesakan  untuk melihat papan pengumuman di halaman depan sekolah, mencari-cari di kelas mana namanya tertera. Setelah susah payah berdesakan dengan makhluk-makhluk yang jauh lebih tinggi dengannya, akhirnya Minji mengetahui di kelas mana dia akan belajar untuk setahun ke depan. Dia senang saat mengetahui dia sekelas lagi dengan Seonri di kelas XI A. Namun, dia tidak sekelas lagi dengan Hyerin dan Hara karena dua temannya itu masuk ke kelas sebelah, kelas XI B.
“Gwaenchanna, yang penting masih ada Seonri.” Gumam Minji, lalu melangkah ke kelas barunya dengan langkah riang.
Saat memasuki kelasnya, Seonri sudah berada di sana, di bangku nomor dua dari belakang. Minji segera menghampirinya. “Annyeong, Kim Seonri~!!” seru Minji senang, lalu duduk di bangku di sebelah Seonri.
“Annyeong.” balas Seonri singkat. “Kenapa hari ini kau terlihat begitu bersemangat?” tanyanya heran.
“Ini kan hari pertama kita masuk sekolah, jadi kita harus bersemangat!” jawab Minji menggebu-gebu.
“Kau belum tahu hal apa yang akan kau hadapi setahun ke depan.” Kata Seonri misterius sambil menatap ke suatu arah.
“Benar juga. Tapi apapun yang terjadi, aku harus menghadapinya dengan semangat!” Minji mengepalkan tangannya lalu meninju udara, tampak berapi-api.
“Aku salut dengan semangatmu, Han Minji. Tapi, aku khawatir jika semangatmu itu akan langsung hilang saat melihat itu.” Seonri menunjuk sesuatu dengan gerakan matanya.
Minji pun mengikuti arah pandangnya. Di sana, dekat pintu, seorang namja bertubuh tinggi, berkulit putih dan berwajah emmm... yah... cukup tampan sedang bersandar di bingkai pintu sambil mengobrol dengan beberapa namja lain. Minji melotot kaget sambil menelan ludah, lalu kembali menatap Seonri.
“Kenapa dia ada di sini?” tanya Minji. Ya, pertanyaan bodoh tentu saja.
“Tentu saja karena dia juga masuk di kelas ini.” Jawab Seonri.
Minji merosot ke tempat duduknya, lemas. Senyuman dan semangatnya langsung lenyap begitu saja. “Damn! Kenapa harus sekelas dengannya?!” ratapnya.
“Hal yang kaukira buruk terkadang tak seburuk yang kaupikirkan. Geokjeongma, cobalah bersikap biasa. Ne?” kata Seonri, kali ini dengan senyum di wajahnya.
Minji mengangguk pasrah sambil mendesah.
“Gwaenchanna. Takkan terjadi apa-apa. Percayalah.” Seonri menepuk pundak Minji pelan, berusaha memberi semangat.
Tak ada tanggapan, karena ternyata Minji sedang melihat ke satu objek : Seungho. Namja itu berjalan masuk ke kelas.
“Ah, eotte? Eotte?” gumam Minji, dia memainkan jemarinya dengan gusar.
“Bersikap biasa. Ingat, bersikaplah seperti biasa.” Bisik Seonri padanya.
Minji menunduk dalam-dalam saat namja itu akan melewatinya.
“Han Minji, annyeong...” sapa Seungho saat menyadari Minji ada di sana.
Namun Minji tak mendengarnya, dia terlalu gugup.
“Ya! Dia menyapamu!” desis Seonri kesal saat Seungho sudah melewati mereka berdua, “dan dengan bodohnya kau malah bersikap tak acuh seperti itu.”
Minji mendongak, “Mwo? Kapan dia menyapaku? Aku tak mendengarnya...”
“Aissh, kau ini...” kata Seonri sedikit frustasi.
“Apa dia benar-benar menyapaku?” Minji menjerit tertahan.
“Ah, sudahlah, lupakan.” Seonri mengibaskan tangan. “Jangan berlebihan. Lagipula dia hanya menyapamu.” lanjutnya.
“Tapi aku tidak membalas sapaannya. Bagaimana kalau dia berpikir aku sudah melupakannya atau... membencinya?”
“Dia takkan berpikir seperti itu. Kau ini terlalu parno.” Seonri kemudian memicingkan matanya pada Minji, membuat temannya itu merasa tidak nyaman. “Kau bilang kau tidak suka padanya. Kenapa kau begitu takut dia berprasangka buruk padamu, eo?”
“Geuge... geuge anira, aku memang tidak menyukai dia kok.”
“Eoh, geuronde?” kata Seonri pada akhirnya, sebenarnya dia bermaksud menyindir. Seonri pun kembali sibuk dengan gadgednya.
“Tenang, Han Minji. Semua akan baik-baik saja seperti harapanmu. Jangan gugup Han Minji. Tenang... rileks...” gumamnya sambil menghela napas lalu membuangnya perlahan, berusaha menenangkan diri. Namun sebuah suara mengagetkannya.
“Aku boleh duduk di belakangmu, Han Minji?” kata pemilik suara itu, seperti biasa dengan wajah soknya tapi kali ini dengan sedikit aksen senyum.
Minji hanya terdiam sambil menatapnya dengan tatapan yang terlihat dingin. “Oh, shit! Ada apa lagi sekarang? Bagaimana mungkin dia bisa tersenyum seperti itu padaku setelah bertahun-tahun menghindariku?! Dasar Domba bau!” gerutunya dalam hati.
“Tidak ada bangku yang tersisa. Hanya tempat ini yang kosong.” Namja itu menunjuk bangku di belakang Minji dengan gerakan telunjuknya.
“Tidak ada tempat kosong?” tanya Minji lalu melihat ke sekeliling kelas. Dan benar saja, hanya bangku di belakangnya yang kosong. Mau tak mau dia harus mengiyakan. Dia pun mengangguk, “Ya sudah. Kau duduk saja di situ.” Katanya dengan kaku yang menjurus ke ketus, tanpa senyum sedikit pun.
Minji membalikkan badannya menghadap depan kembali, “Apa yang harus kulakukan dengan makhluk itu? Aku sudah berkata akan melupakannya, tapi kenapa dia malah muncul lagi?”

***

Musim semi. Entah bagaimana awalnya, semua orang mengidentikkan musim ini dengan romansa dan kisah-kisah cinta yang penuh kehangatan, tapi tidak bagi Minji. Bukan karena dia pernah patah hati atau memiliki pengalaman buruk di musim ini, hanya saja, tak ada yang istimewa baginya. Semua tidak berubah, tak ada yang baru dan tak ada yang menarik baginya.
Masa-masa SD memang sudah berlalu, tapi bagi Minji ini semua sama dengan masa itu. Perasaan dan orang-orang yang berperan dalam kisahnya, semua sama. Perasaan jengkelnya pada Seungho yang selalu usil padanya dan Seonri yang selalu ada saat dia merasa tertekan oleh kehadiran Seungho, semuanya masih bertahan seperti dulu. Mungkin perubahan yang ada hanyalah... saat ini Minji tak lagi membuka roknya saat dia marah pada namja tengil satu itu. Mana mungkin dia melakukan hal itu lagi? Umurnya hampir tujuh belas tahun sekarang.
Ada sedikit rasa senang saat yeoja itu tahu bahwa dia satu kelas dengan Seungho, tapi rasa takutnya jauh lebih besar dari itu. Dia takut. Dia takut Seungho akan mempermainkan perasaannya hanya karena dia tahu Minji menyukainya. Minji tak mau itu terjadi dan dia pun kini memperlakukan Seungho seperti pada awal mereka bertemu, kadang seperti tak saling kenal, kadang bertengkar karena hal yang tak penting dan jika mereka saling bicara pun, Minji akan berbicara ketus pada namja itu. Semua itu dia lakukan demi melindungi perasaannya agar tidak dimainkan sesuka hati olehnya. Minji tak mau merasakan sakit seperti itu. Baginya, rasa sakit karena cinta yang tak tersampaikan lebih baik daripada rasa sakit karena ditolak. Buktinya, dia mampu mempertahankan perasaannya pada Seungho selama lebih dari enam tahun. Sampai suatu waktu Seonri pernah mengatakan padanya, “Kurasa kau akan memecahkan rekor dunia karena telah menyukai seseorang selama bertahun-tahun tanpa memberitahu orang itu. Yaaah... walaupun dia mungkin sudah tahu, tapi kau belum pernah mengungkapkannya secara langsung. The longer you hide your feelings for someone, the more you fall for them.”
Minji menyadari kata-kata Seonri itu sepenuhnya benar dan dia pun merasakannya, perasaannya menguat, walaupun dia sudah berusaha melupakan namja itu dari ingatannya. Kini hari-harinya bertambah berat saat harus sekelas lagi dengan namja itu dan berinteraksi dengannya dengan tidak boleh melibatkan perasaannya. Dari semua hal itu, hal paling menyebalkan yang harus dilaluinya adalah di saat dia berusaha mati-matian menahan perasaannya yang siap meledak, Seungho malah bersikap seperti tak pernah terjadi apa-apa. Seperti telah melupakan hari di mana Jieun membuka rahasianya di muka kelas bahwa Minji menyukai namja itu. Melupakan hari itu sama saja melupakan pernyataan cinta Minji yang tak disengaja.  Ya, Minji sadar, itu bukanlah hal penting untuk diingat oleh namja itu, tapi tetap saja dia merasa sedikit...kecewa.
“YA! Han Minji! Aku pinjam pensilmu!” seru seseorang dari belakang telinga Minji, tentu saja itu Seungho. Dan suara itu kini mulai mengusik Minji lagi, seperti hari-hari sebelumnya.
“Aku tidak punya.” Minji terkaget dari lamunannya, lalu menjawab dengan judes.
Tiba-tiba pensil di genggaman Minji lenyap begitu saja karena dirampas oleh Seungho. “Geotjimalma-----jangan bohong.” kata namja itu santai lalu kembali mengerjakan soal matematikanya.
“Kembalikan pensilku! Sudah kubilang aku hanya membawa satu, apa kau tak dengar?!” suara nyaring Minji menggema ke seluruh penjuru kelas.
Untung saja guru matematika mereka sangat cuek, jadi beliau tidak terlalu peduli dengan suara-suara yang berkoar di dalam kelasnya.
“YA! KALIAN BERDUA BISA DIAM ATAU TIDAK?!!” kata Seonri dengan tatapan membunuh, merasa kesal karena monsentrasinya buyar setelah mendengar pertengkaran tak penting antara Minji dan Seungho. “Kalian ini sudah SMA, kenapa masih saja mempertahankan sikap kekanakan kalian, eo? Ini bukan jaman SD lagi.” Lanjut Seonri masih dengan tatapan membunuhnya.
Minji melirik Seungho dengan tatapan sengit seolah sedang mengatakan pada namja itu; “Ini semua gara-gara kau!”
Seungho pun membalas tatapan mata itu dengan tatapan yang tak kalah sengit, “Kau juga bersalah, tahu!”
“Apa kalian akan saling berteriak lagi, eo?” tanya Seonri saat melihat keduanya saling tatap seperti itu.
“Aniya!” jawab Seungho dan Minji bersamaan, sedikit ngeri pada Seonri.
Selama setengah jam berikutnya mereka sibuk mengerjakan soal matematika yang diberikan guru mereka dengan asal-asalan, karena mereka tak mengerti sama sekali tentang materi yang diajarkan. Kemudian, tibalah waktunya mengoreksi jawaban yang telah mereka tulis di buku latihan mereka masing-masing. Guru mereka menyuruh para muridnya untuk menukarkan buku mereka dengan orang yang ada di belakang mereka. Minji harus mengoreksi jawaban milik Seungho dan begitupun sebaliknya.
“Ya, domba bau! Ternyata kau bodoh sekali. Nilaimu nol! Lihatlah...” kata Minji dengan senyum puas di wajahnya lalu menunjukkan buku Seungho pada namja itu.
“Dan aku tidak sendiri. Kau sama bodohnya denganku. Nilaimu juga nol!!” balas Seungho dengan seringaian yang sangat mengejek. “Aku sudah menggambar telur retak sebagai lambang nilaimu di bukumu. Bagus, kan? Kupikir aku memang berbakat dalam hal menggambar...”
Minji melotot saat melihat ada sebuah gambar telur retak di ujung kanan bawah halaman bukunya. “YA!” bentaknya kesal.
“Bukankah itu mirip dengan angka nol?” tanya Seungho, innocent.
“Awas saja, aku akan balas!”
“Tapi... kau takkan membuka rokmu lagi kan? Itu hanya akan menyenangkan aku sekarang.” Seungho mengerlingkan matanya pada Minji, membuat yeoja itu bergidik.
“Neo jinjja!” geram Minji, lalu dia pun kembali menghadap ke depan, berusaha tak menghiraukan. Seungho pun hanya tersenyum kecil melihatnya.
“Aku kan sudah bilang, jangan pedulikan Seungho lagi. Kau hanya akan merasakan tekanan batin.” Kata Seonri saat melihat ekspresi Minji yang terlihat putus asa. Minji hanya mengangguk menanggapinya.
“Han Minji. Silahkan maju ke depan dan kerjakan soal yang ada di papan tulis.” Kata Seongsaengnim dari muka kelas seraya menatap Minji.
Minji tersentak. “A... aku?” rasa takut memenuhi hatinya.
“Ye, kau. Cepat kerjakan.” Perintahnya.
Minji menelan ludah, dia menatap Seonri dengan tatapan panik, “Apa yang harus kulakukan?”
Seonri meringis lalu mengangkat bahunya, “Aku tidak bisa membantu, kau tahu aku juga tidak menyukai matematika...”
Minji bangkit dari kursinya dan bersiap melangkah maju, tapi sebuah tangan mencegahnya. Tangan Seungho. Tangan namja itu memegang erat ujung kemeja Minji yang sedikit keluar sehingga yeoja itu tertahan di posisinya.
“Ya! Neo mwohae?! Aku harus maju.” bisik Minji sambil melotot ke arah Seungho. Namun, namja itu bergeming dan tak mau melepasnya.
“Diamlah. Sebentar lagi pelajaran akan berakhir, jadi kau tak perlu maju lagi. ” kata Seungho pelan. Mereka pun akhirnya saling tatap.
“Musun soriya?” desis Minji sebal.
Seungho tak membalas dan hanya menatap Minji dengan tatapan yang aneh. Tanpa mereka sadari, seisi kelas tengah memandangi mereka.
Mereka berdehem tidak jelas. “Cieee~ Seungho...” celetuk salah seorang teman sekelas mereka dan seisi kelas pun langsung bergemuruh menyoraki mereka berdua. Guru matematika mereka hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aissh! Kalian apa-apaan sih?!” semprot Minji kesal ke seisi kelas. Sedangkan Seungho, dia malah cengar-cengir menanggapinya. Dia pun berusaha melepaskan tangan Seungho dari kemejanya. “Lepas!” bentaknya pada Seungho untuk kedua kalinya dan pada saat itu pula bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi.
Seungho melepas  pegangannya. “Nah, kau tak perlu mempermalukan dirimu di depan kelas dengan menunjukkan kebodohanmu.” katanya.
“Aissh~ menyebalkan. Kaupikir kau pintar? Beraninya mengataiku bodoh!” Minji kemudian duduk kembali sambil mencibir sampai bibirnya monyong-monyong..
***
Minji memasuki kafe langganannya dengan langkah lebar, dia sudah rindu sekali dengan aroma dan rasa manis choco waffle di kafe itu. Biasanya seminggu sekali dia pergi ke kafe itu bersama ketiga temannya sepulang sekolah. Kafe itu tergolong ramai untuk hari Rabu sore seperti ini. Sebagian sofa dan kursi di kafe itu sudah dipenuhi oleh remaja yang ingin menikmati suasana sore di musim semi. Harum bermacam kopi dan coklat melimpah, membuat Minji semakin lapar.
Setelah mendapatkan pesanannya, yeoja itu memilih duduk di sebelah jendela agar dapat menikmati indahnya bunga sakura yang kemerahan tersiram sinar matahari senja. Di meja yang ditempatinya terdapat tiga kursi kosong lain, biasanya kursi-kursi itu diduduki oleh tiga temannya, tapi saat ini mereka sedang sibuk dengan acara masing-masing. Jadi, Minji harus ke kafe itu sendiri sekarang. Dia sedang ingin menenangkan diri dengan segelas coklat dingin untuk sejenak melupakan kekesalan yang didapatnya dari Seungho. Sesekali dia melihat sekeliling, banyak sekali pasangan yang sedang berduaan. “Aissh, itu semua menyakiti mataku...” gumamnya lalu kembali menunduk dan  mengaduk sirup yang baru saja dituangkannya ke dalam choco icenya.
“Apa yang menyakiti matamu, Han Minji?” tiba-tiba sebuah suara muncul dari arah kirinya.
Hanya satu orang yang selalu memanggilnya dengan nama lengkap; Sengho. “Neo! Bagaimana bisa kau di sini?” tanya Minji saat melihat Seungho sudah membawa sebuah gelas styrofoam yang sepertinya berisi coklat panas di tangannya.
“Ini kan kafe umum, siapa saja bisa ke sini. Termasuk aku.” Seungho kemudian duduk berhadapan dengan Minji. “Boleh aku bergabung denganmu?” katanya lagi.
“Kau sudah melakukannya dan kalau aku menolak pun kau pasti akan tetap duduk di situ.” Jawab Minji tanpa melepas nada ketus dari cara bicaranya.
Seungho terkekeh lalu menyesap coklat panasnya. “Sangat menyebalkan jika kafe ramai seperti ini. Cangkirnya habis dan kalau memakai styrofoam seperti ini, tanganku jadi kepanasan.” Kata Seungho tiba-tiba, dia meniupi jemarinya yang memerah.
Minji berusaha menyembunyikan senyum saat memandangi wajah Seungho. Biasanya dia tidak pernah memikirkan apakah Seungho memiliki wajah yang tampan atau tidak. Minji pikir mata Seungho berwarna hitam indah dan tubuhnya cukup tegap untuk ukuran seorang pelajar SMA. Dan potongan rambutnya... Minji pikir itu yang terbaik, sangat cocok dengan wajahnya yang terkesan bad boy. Wajahnya sudah jauh lebih dewasa sejak terakhir dia memandanginya dari dekat seperti ini saat SD.
“Kau memandangiku?” kata Seungho. “Kenapa memandangiku? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?”
“Memandangimu? Mana mungkin...” sangkal Minji lalu cepat-cepat menyedot choco ice-nya. “Mmm... bagaimana kabar bandmu?” Minji segera mengalihkan pembicaraan. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya, dia merasa gerah. Padahal saat itu cuaca sedikit dingin. Itu adalah salah satu tanda jika yeoja itu sedang merasa gugup. Ya, gugup. Tentu saja dia gugup. Dia kini sedang mengobrol berdua dengan cinta pertamanya yang bahkan sampai saat ini masih hidup di hatinya. Walaupun jantungnya tidak berdebar kencang seperti biasa, tapi Minji merasa tubuhnya mendadak kaku.
“Semuanya hebat tentu saja. Kami lolos ke babak selanjutnya di Festival rock.” Wajah Seungho menjadi sangat cerah, dia tersenyum senang. Senyum tulus yang pertama kali dilihat Minji setelah mereka sekelas, karena namja itu bisanya menunjukkan senyum soknya yang memuakkan. Tanpa disadarinya, jantung yeoja itu berdebar kencang saat melihat Seungho tersenyum seperti itu.
Minji menyeka keringat di pelipisnya. “A, geurae? Kupikir kalian hanya bisa berkeliaran di sekolah dan tebar pesona pada yeoja-yeoja untuk membuat mereka terkesan dengan berkata bahwa kalian adalah anak band.” Katanya sambil tersenyum sinis, padahal saat itu jantungnya terus saja berpacu.
“Aku tidak menyangkal, tapi itu tidak sepenuhnya benar.” Jawab Seungho dengan cepat. “Sebagian anggota bandku sudah memiliki yeochi dan mereka tidak lagi tebar pesona seperti yang kaukatakan, hanya aku dan Hyunwoo yang belum. Kau tahu kan, itu memang alasan utama kami masuk band, untuk memikat yeoja.”
“Sebelumnya, kupikir itu semua untuk musik.” Kata Minji bermaksud menyindir.”Lagi pula, siapa yang akan peduli  jika kau punya yeochi?”
“Eung. Kau benar, takkan ada yang peduli itu.” Ujar Seungho, lalu membuang pandangannya ke jalanan yang padat di sampingnya.
“Kau kan punya banyak fans di sekolah yang tiap hari menempel terus padamu, kenapa tak kau kencani saja salah satu dari mereka?” Minji menyarankan dengan berat hati tentu saja, lalu mengikuti arah pandang Seungho ke luar.
Seungho tampak kaku seraya menatap lurus pada Minji. “Kenapa kau menyarankan hal seperti itu?”
Ayo lanjutkan, Han Minji. Bukankah kau ingin melupakan dia? Minji mulai membuka mulutnya, “Aku sekedar bicara. Aku hanya heran saja, kenapa kau tak mau mengencani salah satu dari mereka...”
“Aku tidak ingin berkencan dengan salah satu dari mereka karena itu tidak akan adil baginya nanti.”
Minji memicingkan mata, ada rasa bahagia yang besar saat Seungho mengatakan tidak ingin berkencan dengan salah satu yeoja-yeoja centil itu. “Kenapa tidak?”
“Karena aku suka orang lain.” Ucap Seungho. Wajahnya terlihat gelisah setelah mengucapkan kata-kata itu.
Minji heran kenapa Seungho bisa segelisah itu hanya karena menyukai seseorang, “Jadi, siapa dia?” tanyanya dengan kekuatan terakhir yang dimiliki. Dia terlalu takut mendengar nama yeoja yang disukai Seungho, karena dia tahu bahwa itu bukanlah dirinya.
Tas selempangnya bergetar saat ponselnya meraung, ada pesan baru. Minji membuka tasnya dan segera membuka pesan dari Hyerin. Ya! Kau sedang berkencan dengan Seungho, tapi kenapa tidak memberitahu kami, eo? Ini akan menjadi berita terbesar abad ini! :p
Minji mendelik melihat layar ponselnya. Dia kemudian berbalik dan memandang sekitar untuk mencari keberadaan Hyerin. Tapi sia-sia, dia tidak menemukan tanda-tanda kehadiran temannya yang satu itu. “Bagaimana dia bisa tahu aku di sini?!”
“Pesan dari siapa?” tanya Seungho, heran.
“Bukan urusanmu.” Jawab Minji singkat, lalu berdiri dan bersiap pergi.
“Eodi ka ----- Kau mau ke mana?”
“Tentu saja pulang. Ini sudah sore.” Kata Minji, bersiap melangkah pergi.
“Bagaimana kalau kuantar? Rumah kita kan cukup dekat.” Tawar Seungho.
“Dwaesseo-----tidak usah. Aku bisa naik bus. Kalkke~” Minji keluar dan berjalan pulang sendiri meninggalkan Seungho yang masih saja tersenyum hingga yeoja itu hilang dari penglihatannya.
***
Seonri, Hara dan Hyerin berkumpul di depan rumah Minji. Ketiganya sudah berganti pakaian bebas dengan gaya mereka masing-masing. Sudah hampir setengah jam mereka duduk di teras rumah Minji menanti yeoja itu kembali. Ya, mereka bertiga langsung berkumpul saat Hyerin mengirimi mereka pesan bahwa dia melihat Minji tengah berkencan dengan Seungho di kafe langganan mereka.
“Bisakah kalian membayangkan jika Minji benar-benar berkencan dengan Seungho? Jangan-jangan untuk sekedar berpegangan tangan pun mereka segan.” Hara terkikik membayangkan betapa canggungnya Minji dan Seungho saat berkencan.
“Pasti akan sangat menarik. Benar-benar menarik...” Seonri berkomentar penuh antusiasme.
“Tadi mereka  terlihat tidak canggung, tapi aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Ekspresi mereka terlalu serius untuk disebut kencan.” Tambah Hyerin sambil mengingat penglihatannya tadi.
“Apapun yang mereka bicarakan, kita harus segera mewawancarai Minji. Aku penasaran.” Sahut Seonri.
“Apa yang kaliann lakukan di rumahku?” tanya Minji saat menyadari ada tiga makhluk sedang duduk di terasnya.
“Kau benar-benar tak tahu alasan kami?” tanya Hyerin seraya mengangkat sebelah alisnya.
Minji menggeleng, “Tentu saja tidak tahu.”
“Cepat ceritakan bagaimana kau bisa bersama Seungho di kafe!!” seru Hara dan Seonri langsung pada inti, tak sabar.
“Jadi... kalian ke rumahku hanya untuk menanyakan hal ini?” mulut Minji menganga.
“Eung, geurae. Oleh karena itu, cepat jelaskan pada kami. Kami sudah penasaran, tahu.” Desak Seonri.
“Sudahlah, aku tidak ingin lagi membicarakan Seungho, domba atau apapun yang menyangkut hal itu.” Minji menarik napas panjang. “Dia sudah memiliki seseorang di hatinya.”
“Bagaimana kau tahu itu, eo?” tanya Hyerin tak percaya.
“Dia bilang sendiri padaku tadi.” Jawab Minji sambil cemberut, dia kesal pada Seungho.
“Bagaimana ekspresinya saat mengatakannya padamu?” kali ini Hara yang bertanya.
“Itu yang membuatku heran, wajahnya terlihat sangat gelisah...” jawab Minji sekenanya. “Mian, tapi bisakah kalian meninggalkan aku sendiri saat ini? Kurasa aku sedang bad mood...”
Seonri, Hara dan Hyerin saling pandang dan mengangguk. Ketiganya pun segera pergi dari rumah Minji karena mereka tahu sahabat mereka yang satu itu sedang tidak ingin diganggu.
Ketiganya pun berjalan sambil terus memikirkan kata-kata Minji. Itu yang membuatku heran, wajahnya terlihat sangat gelisah...
“Ah, I got it! Bukankah kalau namja berbicara dengan gelisah di hadapan kita itu artinya dia sedang menyembunyikan sesuatu?” cetus Seonri sambil menjentikkan jari dengan senang. “Dulu saat Chanyeol akan menyatakan cinta padaku, dia juga gelisah seperti itu.”
“Apa maksudmu...” kata Hara, ada kilatan senang dalam matanya.
“Eung. Kurasa yeoja yang dimaksud Seungho adalah Minji.” Kata Seonri cepat.
“Jadi, sebenarnya mereka saling suka?” tanya Hyerin dengan mata berbinar. “Aku sudah merasakan itu dari dulu, tapi tak berani mencetuskannya pada kalian karena aku tahu kalian akan menganggapku gila.”
“Percaya atau tidak, aku juga merasakan yang kau rasakan. Mereka sebenarnya saling suka, tapi gengsi mereka lah yang menjadi cockblock di antara mereka,” kata Seonri.”Ironis. mereka berpura-pura seperti dua manusia yang menjalani kehidupan mereka masing-masing. Tanpa sadar jika mereka merasakan cinta yang datang pada kedua hati mereka. Selalu melihatnya saat di aula, sembunyi-sembunyi memandanginya saat pelajaran, senyum-senyum sendiri memperhatikan tingkahnya dan jantung yang berpacu cepat tiap melihat dia tersenyum walau senyum itu tidak ditujukan padanya.” Seonri menarik napas panjang, “Aaah... aku kasihan pada mereka berdua.”
“Oleh karena itu, kita harus bisa menyatukan mereka.” Timpal Hara sambil tersenyum puas.
***
Malam sudah mulai larut, tapi Minji masih saja terjaga. Dia duduk di ranjangnya sambil memeluk sebuah boneka domba yang cukup besar. Boneka itu adalah hadiah  dari ketiga sahabatnya saat ulang tahunnya yang keenam belas. Minji tak habis pikir, kenapa ketiga sahabatnya itu memberinya boneka ini. “Apa mereka tahu jika aku sangat ingin memukuli domba busuk itu, eo?!” ujarnya dalam hati sambil memelototi boneka itu dengan kesal.
Minji memukuli boneka domba itu dengan gemas, “Aku harus meperlakukanmu seperti apa,eo? Kau benar-benar menyebalkan! Dengan kejamnya kau berkata ‘Karena aku suka orang lain’ di hadapanku. Apa kau sudah lupa jika aku...” ucapannya terhenti karena dia menyadari sesuatu. Minji pun menjitak kepala boneka itu. “Kenapa kelakuanku jadi seperti orang patah hati?!” sungut Minji sambil meremas-remas kaki boneka itu.
Minji menggeleng cepat. “Andwae, andwae, andwae! Dia saja tidak pernah memikirkan perasaanku, kenapa aku harus peduli jika dia menyukai yeoja lain? Lagi pula itu haknya.”
Dia kembali merenungi kata-kata Seungho saat di kafe tadi. ‘Karena aku suka orang lain’.
“Yang Seungho! Lihat saja nanti. Aku akan menghabisimu!” dia kembali meraih boneka domba itu dan memukul kepalanya sekali lagi.
Minji kemudian membaringkan tubuhnya. “Dasar domba bau menyebalkaaaaan!” gerutunya seraya memeluk erat boneka itu hingga akhirnya dia terlelap.
***
Suasana pagi itu cukup ramai karena teriakan atau obrolan para murid yang berlalu-lalang di koridor kelas. Namun, hanya sedikit murid yang berada di dalam kelas sambil menunggu jam pelajaran dimulai. Kebanyakan dari mereka sibuk dengan gadged masing-masing. Minji duduk termenung dalam diam di kursinya, kedua tangannya ia jadikan sebagai penopang dagunya. Sedangkan matanya menatap kosong ke depan. Untuk kesekian kalinya dalam beberapa hari ini, dia bersikap seperti itu.
“Ya! Han Minji, kau melamun lagi?!” seru Hyerin yang tiba-tiba sudah berada di depannya bersama Seonri dan Hara.
Minji mengerjapkan matanya karena kaget. “Eh? Ada apa? Apa seongsaengnim sudah datang?” tanyanya dengan tampang bodoh.
“Sesange! Kau ini benar-benar ya... Kalau seongsaengnim sudah datang, tak mungkin Hyerin dan Hara di sini.” Semprot Seonri kesal.
“Mian, mian...” kata Minji dengan sedikit tertawa.
“Sampai kapan kau begini, eo? Melamuuuuun terus sepanjang hari.” Kali ini Hara.
“Apa kau tidak takut kesambet setan lewat?” tambah Hyerin.
Nada bicara ketiganya terdengar galak, tapi sebenarnya mereka khawatir pada keadaan Minji. Minji mengangkat bahunya, “Gwaenchanna~” dia kemudian tersenyum.
“Bagaimana kabarmu, Han Minji? Baik?” tanya seorang namja yang tiba-tiba sudah bergabung di tengah-tengah mereka berempat. Di belakang namja itu terlihat empat temannya yang sedang cengar-cengir tidak jelas, termasuk di antaranya Seungho yang menjadi penyebab dari masalah empat yeoja itu.
“Ya, Lee Hyunwoo! Apa kau tidak dengar apa yang kubilang sebelumnya?!! Bukan urusanmu jika aku baik-baik saja atau tidak!” jawab Minji dingin.
“Tentu saja itu menjadi urusanku karena aku menyukaimu.” Kata namja itu santai sambil memakaikan jas seragamnya di punggung Minji. Minji langsung menyingkirkan jas itu dari tubuhnya dan membiarkannya jatuh begitu saja di lantai, dia tidak peduli.
Minji mendengus kesal, “Kenapa sih namja ini selalu saja menggangguku. Aku kan tidak menyukainya. Yang kusukai kan... temannya.”
Hyunwoo memamerkan cengiran khasnya dan duduk di meja Minji, membuat yeoja itu memundurkan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan namja menyebalkan yang sejak pertama masuk kelas ini selalu saja menggodanya dan menyerocos jika dia menyukai Minji. Minji menarik napas panjang, mencoba sabar menghadapi namja aneh yang satu itu. Tanpa diketahuinya, Hyunwoo telah memberi kode pada teman-temannya untuk segera keluar dari kelas. Lalu dari sudut matanya, Minji melihat Seungho keluar kelas bersama tiga temannya yang lain. Minji mendesah pelan dan menggumam sangat pelan, “Kenapa kau malah keluar? Kenapa begitu? Ayolah, Seungho... aku ingin sekali kau mencegah Hyunwoo melakukan ini padaku. Setidaknya beri aku satu alasan untuk tidak membencimu.”
“Minji-ya...kenapa diam saja?” tanya namja di hadapannya lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Minji.
Seonri langsung sewot melihatnya, dia menarik Hyunwoo dengan kasar dan mendorong namja itu agar menjauh pergi. “Minji tidak menyukaimu! Ka-----pergilah! Kau hanya mengganggunya.”
“Minji saja tak keberatan, kenapa kau yang sewot?” protes namja itu.
“Jika kau ingin mendekati Minji, kau harus melangkahi Seungho terlebih dulu!” balas Hyerin.
“Hah? Seungho?” mulut Hyunwoo menganga. “Waaah... aku sudah kalah saing kalau begitu. Dia lebih tampan, kaya dan...”
“Nah itu kau sadar. Makanya, cepat pergi. Jangan ganggu Minji lagi.” potong Hara penuh sarkasme.
“Sirheo. Aku ingin dekat-dekat dengan Minji.” Katanya dengan cengiran lebar.
Minji bergidik melihatnya, dia pun segera bangkit dan berjalan keluar kelas. Seonri, Hara dan Hyerin langsung mengikuti temannya yang satu itu.
Hyunwoo ikut bangkit berdiri. “Ya! Ya! Han Minji, kajima!” pekiknya sedikit sewot. Namun percuma, karena Minji tidak menghiraukannya sama sekali.
Dia kemudian mendengar beberapa orang batuk-batuk dengan keras. Itu batuk mengejek, semacam bunyi yang muncul jika seseorang sedang menahan diri untuk tidak tertawa. Hyunwoo menoleh dan dilihatnya teman-temannya—kecuali Seungho, karena dia sudah hilang entah ke mana—sedang memperhatikannya dengan wajah memerah karena menahan tawa. Hyunwoo mendengus kesal. “Wae?! Apa ada yang lucu?”
“Pernyataan cinta itu membuatku geli, terutama ketika tidak terbalas.” Jawab salah satu dari ketiganya sambil tergelak.
“Tsk! Diamlah!” kata Hyunwoo galak.
***
“Minji-ya... sebenarnya Seungho juga menyukaimu.” bisik Hyerin tiba-tiba saat mereka sedang makan siang di kantin pada saat jam istirahat.
Minji langsung tersedak mendengar ucapan Hyerin, dia pun lalu buru-buru menenggak jus jeruk di hadapannya sampai habis. “Siapa bilang begitu?” tanyanya sambil menghapus sisa jus di sekitar mulutnya dengan punggung tangan.
“Kami yang bilang.” Jawab ketiga sahabatnya dengan kompak.
“Jangan bercanda. Ini sungguh tidak lucu.” Kata Minji lagi, lalu mencuri pandang ke arah Seungho serta teman bandnya yang sedang makan tak  jauh dari tempatnya.
“Dan kami sedang tidak melucu.” Ujar Seonri dengan tatapan serius.
Minji kembali fokus pada ketiga sahabatnya. “Apa alasan kalian berspekulasi seperti itu, eo?”
Hara melirik ke arah Seungho. “Ya karena kami tahu sebenarnya dia juga menyukaimu, tapi dia gengsi untuk mengakuinya.” jelasnya. “Begitu juga denganmu.”
“Ya! Jangan menatapnya seperti itu sambil bicara, nanti dia tahu kalau kita sedang membicarakannya.” Minji menatap ke arah Seungho panik, memastikan jika namja itu tidak sedang memandang ke arah mereka.“Emm, baiklah. Kembali ke masalah tadi. Apa buktinya jika dia menyukaiku? Jelas-jelas tidak ada...” Minji mengangkat bahunya lalu menghela napas panjang.
“Dia hanya menaruh perhatiannya padamu. Kau pasti tak pernah menyadarinya.” Kali ini Hyerin yang bicara, hampir seperti mencibir.
“Dia hanya bisa membuatku marah tiap hari, mana mungkin itu bisa disebut perhatian?”
Seonri menambahi sambil menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “Eitsss... jangan salah, justru dia menunjukkannya lewat itu.”
“Aku tidak mengerti. Kalian ini ada-ada saja.” Minji kembali melanjutkan makannya yang tertunda. “Sudahlah, jangan bicara tentang itu lagi. OK?”
Seonri baru membuka mulutnya untuk menyanggah Minji, tapi suaranya tertahan di tenggorokan karena ada seseorang yang menghampiri mereka berempat.
“Eum... aku hanya ingin tanya, apa kalian juga ikut acara Music Camp di sekolah minggu depan?” itu Joonmyun, sang ketua OSIS.
“Music camp?”tanya keempat yeoja itu serempak.
“Eung. Mau ikut? Kita akan menginap satu malam di sekolah. Kujamin, acaranya akan menyenangkan.” Kata Joonmyun, seperti sales yang sedang menawarkan barang dagangannya.
Minji dan teman-temannya saling pandang lalu mengangkat bahu sambil mengerutkan alis.
“Seungho dan bandnya juga akan mengisi acara.” Kata Joonmyun lagi, seakan tahu apa yang ada di pikiran Minji.
Minji menelan ludah. “Apa dia bisa membaca pikiranku?”
“Baiklah, kami ikut!” kata Seonri cepat, tanpa meminta persetujuan ketiga temannya.
Minji, Hara dan Hyerin melotot. “Siapa biang aku akan ikut?!”
Seonri mengedipkan sebelah matanya. “Tenang saja, ini pasti akan menyenangkan.” Jemari tangannya membentuk tanda ‘OK’.
“Baiklah, kalian sudah aku catat. Untuk keterangan lebih lanjut tentang acaranya, silahkan lihat papan pengumuman di depan ruang OSIS.” Joonmyun pun beranjak pergi dan meneruskan tugasnya.
“YA! Kenapa kau langsung setuju, eo?” gerutu Hara.
Seonri memberi tanda pada Hara dan Hyerin untuk mendekat padanya. “Ini akan menjadi event yang tepat.” Bisik Seonri di telinga mereka.
Minji mengangkat alisnya. “Apa sih yang kalian bicarakan?”
“Kami tidak akan memberitahumu.” Ujar Hyerin lalu menjulurkan lidahnya.
“Ya!! Tak adil berahasia seperti itu...” protes Minji.
“Siapa yang bilang dunia ini adil?” balas Seonri santai, membuat Minji semakin merengut.
***
Hari ini adalah hari pelaksanaan Music Camp. Semua peserta acara itu kini sedang berkumpul di aula sekolah mereka yang sekarang sudah berubah menjadi sebuah tempat konser mini. Suara riuh dari teriakan para yeoja mendominasi ruangan serba guna itu. Minji tampak tidak tertarik dengan apapun penampilan yang ada. Dia hanya diam dan terombang-ambing kesana kemari saat ketiga sahabatnya menggila dengan menggoyangkan badannya saat musik mulai menggema.
Musik terhenti dan akan ada band lain yang mengisi. Mereka berdiri menunggu penampilan band yang dinantinya sambil meneriakkan nama band itu.Satu per satu anggota band naik ke atas panggung dan segera menyetel alat musik yang mereka pegang. Para yeoja berteriak menyebut nama band itu.
“YA! Itu Seungho!” teriak Hyerin pada Minji sambil menunjuk dengan liar sehingga dia hampir saja menusuk seorang yeoja yang berada di dekatnya. Yeoja itu langsung memelototinya dengan galak. “Mian, mian!” kata Hyerin pada yeoja itu lalu berbalik pada Minji. “Kau bisa melihatnya?”
Minji berjinjit, mencoba melihat dari atas keramaian. Tubuhnya yang mungil memakasanya untuk menerobos keramaian agar bisa melihat dari dekat. Setelah berjuang dengan saling dorong, akhirnya dia pun sampai di barisan paling depan. Di sana, dia bisa melihat Seungho dengan sangat jelas. Namja itu terlihat sangat berbeda saat ini. Minji pikir... penampilannya benar-benar keren. Gaya rambutnya dan makeup mata yang membuatnya terkesan sangat anak band membuat Minji memandangnya kagum. Dan yang paling Minji suka, Seungho memakai kaos sleeveless yang membuat otot lengannya terlihat jelas.
“Annyeong... hari ini kami akan membawakan lagu You’ve Fallen for Me yang dinyanyikan oleh Jung Yonghwa. Let’s rock!” seru Seungho setelah bandnya sudah siap dengan segala persiapan.
Alunan gitar mengawali lagu yang mereka bawakan. Itu Seungho, dia gitaris sekaligus vokal dari bandnya, setidaknya itu info yang Minji dapat dari Hyerin. Lagu ini salah satu lagu favorit Minji. Minji bahkan pernah membayangkan hari seperti ini terjadi, saat Seungho menyanyikan lagu itu sambil menatap ke arahnya.
Kau telah terpesona padaku, terpesona padaku.
Meleleh karena manisnya cintaku.
Kau telah terpesona padaku, terpesona padaku.
Terpesona oleh tatapanku.
Lihat mataku, kau terpesona padaku.
Lihat mataku, kau terpesona padaku.
Aku juga mencintaimu, aku mencintaimu.
Sekarang aku akan mengakui bahwa aku mencintaimu.
Aku juga mencintaimu, aku mencintaimu.
Hatiku mengatakan "Aku mencintaimu".

Minji tak melepas tatapannya dari sosok Seungho, dia benar-benar merasa jika namja itu sedang menyanyikan lagu ini untuknya. Sesekali, mata mereka bertemu dan hal itu membuat Minji merasa semakin terpesona. “Is it real or just my imagination, uh?!!”
***
Minji menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, dia sudah berganti posisi tidur puluhan kali dan hal itu tidak bisa mengantarnya ke alam mimpi. Harusnya dia sudah langsung tertidur, tapi meskipun lelah, dia tetap tidak bisa tidur atau bahkan untuk sekedar memejamkan mata. Semua teman sekamarnya sudah tertidur sejak tadi, tak ada yang bisa dikerjakannya di sini, dia jadi bosan. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk keluar ruangan dan berjalan-jalan sebentar.
Minji berjalan melintasi koridor dan pergi ke taman sekolah yang tak jauh dari ruangannya tadi. Langkahnya terhenti ketika dia melihat seseorang sedang duduk di salah satu kursi taman. Itu Seungho. Namja itu memakai kaos coklat muda dan skinny jeans yang terlihat sangat cocok dipakainya. Minji pun mendekati namja itu dengan langkah ragu.
“Apa yang kaulakukan di sini sendirian?” katanya, membuat Seungho langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan kaget.
“Aku tidak bisa tidur.” Jawab namja itu sambil tersenyum. Bukan senyum sok seperti biasanya.”Bagaimana denganmu? Apa kau tidak takut jalan-jalan sendirian tengah malam begini?”
“Aku juga tidak bisa tidur.”
“Bagaimana kalau kita pergi ke atap gedung sekolah?” Tawarnya.
Minji mengernyit. “Sekarang? Malam-malam begini? Bukankah di sana... gelap?”
Seungho tersenyum seperti sedang menyembunyikan sesuatu. “Ayolah. Aku tunjukkan sesuatu.”
***
Dalam setengah cahaya, ruangan-ruangan kelas yang mereka lewati di jalan menuju atap tampak menakutkan dan... sepi. Minji berjalan pelan jauh di belakang Seungho.
“Ini sangat... gelap,” Minji tertegun, bulu kuduknya meremang.
“Kau ingin aku menggandeng tanganmu?” kata Seungho yang tiba-tiba sudah berada di depan Minji.
Minji segera menarik tangannya ke belakang punggung, menyembunyikannya seperti anak kecil. “Jangan merendahkanku.” Katanya ketus.
“Yah, aku sulit meninggikanmu. Kau terlalu pendek.” Seungho pun kemudian berjalan lagi, tapi kali ini lebih pelan.
“Annoying! Minji terus mengekor dan mencibir. Sebenarnya dia ingin sekali menendang tulang kering namja itu, tapi itu tak mungkin dilakukannya.
Seungho membuka pintu menuju ke atap sekolah dengan pelan, ada suara berdecit yang ditimbulkan benda tua itu. Minji berjalan mengikuti langkah Seungho. Minji dapat melihat cahaya Seoul yang berkelap-kelip seperti mutiara beku dari atas sini.
“Wow. Sangat cantik ya di sini saat malam.” Pandangannya tak lepas dari lampu-lampu yang memenuhi seluruh pandangannya. Angin bertiup sepoi-sepoi menggerakkan rambut panjang yeoja itu dengan liar. Minji pun mengambil sebuah karet dari saku untuk mengucirnya.
“Mau ini?” kata Seungho sambil menyodorkan beberapa buah strawberry pada Minji.
“Dari mana kau dapat itu?”
Seungho menunjuk sebuah pot berisi pohon strawberry yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Dari situ.” Dia kemudian menyuapkan satu buah ke mulutnya. “Sangat segar dan manis. Mau coba?”
Minji mengangguk dan mengambil satu. “Eum... kau benar, ini manis. Tidak seperti buah strawberry yang lain.”
Seungho berjalan menuju salah satu sudut atap, dia memberi isyarat pada Minji untuk mengikutinya. Mata namja itu mengarah ke suatu arah. Minji mendongak dan mengikuti arah pandang Seungho. Dia hendak bertanya apa yang harus dilihatnya, tapi Seungho mengangkat tangan untuk mencegahnya. “Tunggu,” katanya.
Ada sebuah tanaman yang tumbuh di pot. Tanaman itu memiliki beberapa kuncup bunga yang belum mekar. Salah satu kuncup yang tertutup itu perlahan mulai membuka pelan. Detik demi detik daun kelopak hijau itu membuka keluar, melepaskan kelopak bunga yang terkumpul di dalamnya, hingga akhirnya mekar sepenuhnya menjadi bunga putih yang indah.
“A, yeppeuda!” kata Minji. Dia kemudian menoleh ke arah Seungho dan menemukan namja itu tengah memandanginya. “Apa bunga ini selalu mekar tiap malam?”
“Hanya saat tengah malam.” Jawabnya.
“Gomawo, sudah menunjukkan ini padaku.”
Seungho memalingkan wajahnya. “Sudah larut,” katanya. “Kita harus kembali ke ruangan.”
“Apa kau pernah berkencan sebelumnya?” tanya Minji spontan.
 Seungho kembali menatap Minji. “Berkencan?” tanyanya dengan tatapan kosong.
“Aku kira kau pasti...” Minji jadi merasa canggung sekarang. “Ah, lupakan saja yang barusan.”
Seungho tersenyum. “Jawabannya ‘belum pernah’. Jika kau mau tahu...”
“Maksudmu... kau tidak pernah...”
“Tidak pernah,” tegasnya sekali lagi.
“Tapi banyak yeoja cantik yang menyukaimu.”
“Neodo-----kau juga cantik,” ujar Seungho. “dan sangat berbeda cantiknya dari yeoja-yeoja itu.”
Minji tercenung, tak bisa berkomentar tentang hal ini. Cantik. Baru saja Seungho mengatakan bahwa dia cantik. Tidak ada yang pernah menyebutnya begitu sebelum ini, kecuali ibunya dan ketiga sahabatnya, yang tidak masuk hitungan. Minji memandangi Seungho, jantungnya kini berdebar sangat keras.
“Sebaiknya kita turun sekarang,” kata Seungho lagi. Minji yakin dia telah membuat namja itu tidak nyaman dengan memandanginya, tapi sepertinya dia tidak bisa berhenti.
“Ah, geurae.” Akhirnya dia berkata. Yeoja itu lega karena suaranya terdengar biasa dan dia lebih lega lagi karena dia bisa berhenti memandangi Seungho saat berbalik pergi.
Minji kini berjalan di depan. Dia tak lagi takut karena dia tahu Seungho ada di belakangnya. Di antara langkahnya, yeoja itu melihat bayangan aneh berkelebat di lantai. Minji tersentak kaget dan mundur beberapa langkah sehingga bahunya menabrak tubuh Seungho. Namja itu mengangkat tangannya untuk menegakkan Minji. Tepat ketika yeoja itu berbalik untuk meminta maaf, entah bagaimana dia sudah berada di antara lengan Seungho, lalu namja itupun menciumnya.
Minji merasa jika pada awalnya Seungho tidak bermaksud menciumnya. Bibirnya terasa keras di bibir yeoja itu. Kemudian Seungho meletakkan lengannya di sekeliling Minji dan menarik yeoja itu kepadanya. Bibir Seungho melembut, Minji dapat merasakan detak jantung namja itu yang berpacu cepat. Minji masih merasakan manisnya strawberry yang masih ada di bibirnya. Jantung Minji berdentam-dentam tak karuan.
Seungho menarik diri dari Minji. “Mianhae...”katanya pelan. “Kita harus cepat kembali.”
Minji hanya mengangguk, wajahnya sudah semerah buah strawberry yang tadi dimakannya. Mereka berjalan turun melewati jalan yang sama seperti tadi, tapi bagi Minji ini perjalanan yang berbeda sama sekali. Seungho mennggandeng tangannya, mengirimkan getaran yang kuat ke seluruh tubuhnya.
Mereka pun sampai di depan pintu ruangan tempat Minji tidur. Yeoja itu bersandar di dinding, mendongak menatap Seungho. “Gomawo untuk malam ini,” kata Minji sebiasa mungkin untuk menjaga nada suaranya.
Seungho tampak enggan melepas tangan Minji. “Kau mau tidur ya?”
“Apa kau tidak lelah?”
Seungho diam, dia menunduk dan hal itu membuat kening mereka bersentuhan. Yah, mereka cukup dekat untuk berciuman. Pintu ruangan itu terbuka dan beberapa orang melihat adegan itu. Mereka mengerjap dan menganga melihat keduanya. “Apa-apaan ini?” kata salah satu dari mereka dengan sangat keras sehingga membuat Minji melompat dari Seungho.
“Kalian sedang apa? Kupikir kalian sedang...” kata Seungho pada gerombolan yeoja itu.
“Tidur? Tadinya iya,” kata yeoja itu lagi. Wajahnya memerah karena marah, begitu juga dengan kedua temannya yang berdiri di belakangnya. Sepertinya mereka beberapa yeoja yang terlihat sering menempel pada Seungho.
“Yang Seungho, di masa depan,” kata Minji, “lebih baik jika kau bilang kalau kau sudah memiliki yeochi untuk menghindari situasi membosankan seperti ini.” Minji mengalihkan pandangannya pada tiga yeoja itu, “Tenang saja, kami hanya berciuman. Tidak lebih.”
“Han Minji...” desis Seungho.
“Maaf sudah membangunkan kalian.” Kata Minji, tiga yeoja itu pun hanya tersenyum sinis menanggapinya. Minji lalu menatap Seungho tajam, “Sana, tenangkan mereka. Buat mereka percaya bahwa kita hanya berciuman.”
“Geumanhae.” Kata Seungho. “Berhentilah bersikap seolah-olah kau tidak merasakan apa-apa. Jangan berlagak seakan tak ada yang bisa menyentuhmu. Kalau marah, bilang saja.”
“Mungkin kau harus memikirkan itu sebelum menciumku.” Kata Minji dengan kilatan marah di matanya.”Tapi tenang saja. Ciuman itu tidak berkesan bagiku.”
Seungho hanya bisa memandangi Minji yang berjalan memasuki ruangan itu dalam gelap tanpa bisa menyanggah satu kata pun. “Damn! Pasti dia berpikir aku hanya mempermainkannya!”
***
Minji melangkahkan kakinya menyusuri jalan menuju rumahnya sepulang acara Music Camp. Dia kemudian menoleh ke arah sebuah gedung yang terlihat formal, ada sesuatu di gedung itu yang membuat Minji tersenyum begitu melihatnya. Gedung itu adalah gedung SD Minji. Sekelebat memori terlintas di benaknya. Memori itu pun mengantarkan langkahnya menuju ke dalam gedung yang kini sepi karena hari sudah senja. Dia berjalan pelan di salah satu koridor, berjalan menuju kelasnya dulu.
Bagaikan sebuah video yang dimainkan secara nyata di hadapan yeoja itu, memorinya terkenang. Langkahnya langsung terhenti dan menyimak kenangan itu dalam diam.
“Ya, Yang Seungho! Kembalikan gelangku!” rengek seorang yeoja kecil sambil berlari mengejar namja mungil bernama Seungho itu. Yeoja kecil itu adalah dirinya, Han Minji kecil.
“Tidak akan!” serunya riang, merasa seperti seorang pemenang karena merasa berhasil membalas yeoja kecil itu. “Kalau bisa, tangkap aku dulu, wek!”
“Kau kan tahu jika kakiku ini pendek, mana mungkin aku bisa mengejarmu...” Minji terengah. “Kau ini jahat sekali!”
Tawa keras keluar dari mulut Seungho, semakin menggoda Minji kecil. “Salahmu sendiri jadi bocah pendek!”
“Terserah. Ambil saja gelangku. Aku tidak peduli lagi!” Minji berteriak kesal dan kembali ke kelasnya sambil menghentak-hentakkan kaki.
Minji terkesiap, bayangan nyata di hadapannya sudah menghilang. Yeoja itu pun tersenyum, “Betapa menggelikannya aku dulu...”
Minji menghela napas panjang, “Yang Seungho. Bocah tengil itu selalu saja mengataiku pendek dan membuatku kesal setiap hari. Ya, aku tahu kalau aku memang pendek dan aku juga tahu dia suka yeoja bertubuh tinggi, feminin dan aku... tentu saja bukan tipenya.”
Minji kembali berjalan, kali ini sambil menunduk. Perlahan dia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan. Namun tatapan matanya langsung menyendu melihat siapa yang kini berdiri beberapa blok di depannya. Mereka pun saling bertatapan dan selama beberapa detik tak ada dia antara mereka yang mengeluarkan suara ataupun senyuman.
Namja di hadapannya tersenyum dan tanpa disadarinya, Minji membalas senyum itu. Namja itu berjalan mendekati Minji, “Kenapa kau ke sini?” ucapnya dengan suaranya yang kini terdengar lembut, tidak sok seperti biasa.
“Bukan urusanmu.” Jawab Minji singkat. “Bagaimana denganmu? Kenapa tiba-tiba kau ke sini?”
“Itu juga bukan urusanmu.” Katanya.
“Kau sedang meniruku?” tanya Minji ketus.
“Menirumu? Tentu saja tidak.”
“A, baiklah kalau begitu. Kalkke~” Minji berbalik, melambaikan tangannya dengan malas lalu berjalan dengan cepat.
“Jamkkanman.” Kata namja itu lalu menarik pergelangan tangan Minji.
“Wae?” tanya Minji singkat, mereka kini berdiri berhadapan.
“Ada yang ingin kuberikan padamu.” Kata Seungho tanpa melepas genggamannya dari pergelangan tangan Minji. Dia lalu menggali saku celananya dengan tangan kirinya lalu mengeluarkan sesuatu yang diletakkannya di telapak tangan Minji. “Gelangmu yang waktu itu.” Senyum tipis terukir di wajah namja itu.
“Nae paljji-----gelangku?” Minji mengamati benda itu dengan tak percaya. Dia pikir gelang itu takkan kembali padanya.
“Maaf untuk kejadian tadi malam. Aku bersumpah, mereka bukan siapa-siapa bagiku, kau tahu itu...” kata Seungho pelan. “dan kuharap kau menyukaiku lagi.”
“Mworago?” tanya Minji. “Dulu kau langsung menghindariku saat kau tahu aku menyukaimu dan sekarang kau memintaku untuk... menyukaimu lagi? Hah... lucu sekali kau ini.” Ada kilatan benci di matanya.
“Aku tidak pernah menghindarimu. Sekalipun tidak pernah.” Ujar Seungho. “Kau yang menghindariku.”
“Kau menyalahkan aku?!” suara Minji meninggi.
“Aku berkata yang sebenarnya. Kau yang selalu menghindariku. Saat aku menyapamu, kau tak pernah membalas. Saat aku tersenyum, kau melengos. Saat aku berbicara padamu, kau selalu membalasnya dengan ketus. Aku berusaha agar kau tahu perasaanku, tapi kau seperti menutup hatimu.”
“Asal kau tahu, aku menderita selama bertahun-tahun karena memendam perasaanku padamu. Kau pasti tak pernah merasakan itu, kan?”
“Aku juga merasakan hal yang sama.” Seungho meraih tangan Minji dan menggenggamnya erat. “Aku akan menekankan ini. Dengarkan baik-baik.” Dia terdiam sejenak, “Saranghae, Han Minji.”
Minji tak menjawab, dia hanya memandangi Seungho dengan tatapan tak percaya.
“Nae yeochiga dwae o jullae-----would you be my GF?”
Minji mengangguk pelan, ini seperti mimpi yang mendadak menjadi nyata baginya. Yang Seungho. Domba bau itu kini tengah memeluknya dengan erat, seakan tak ingin kehilangan dirinya. Minji pun tersenyum dan segera membalas pelukannya.
“Han Minji, kau sungguh sangat menyukaiku ya?” tanya Seungho lalu menjulurkan lidahnya.
“Siapa bilang begitu? Hajima, kau jelek kalau seperti itu.”
“Berarti aslinya aku tampan dong.”
“Aissh! Rasa PD-mu benar-benar sudah over dosis. Dasar domba bau!”
***
END
 

My Fictional World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea