Selasa, 09 Oktober 2012

[FF SERIES] Love Doesn't Need a Password PART 2

Diposting oleh hunhanbuin di 07.57 0 komentar

Title : Love Doesn’t Need a Password
Author : Sonia aka. Han Minji
Genre : Romance, friendship, drama.
Main casts : Kris, Byun Baekhyun, Juniel as Choi Junhee, IU as Lee Jieun, and other cameos.

***
“Jika kau kekasihnya di masa lalu, maka aku akan menjadi kekasihnya di masa sekarang.”—Kris
***

Junhee berdiri di halte dalam diam. Udara malam yang cukup dingin berebut menusuki kulitnya yang hanya dilapisi dress katun tipis. Sesekali yeoja itu mengusap-usapkan tangannya di lengan agar lengannya sedikit menghangat. Wajahnya menengadah ke langit yang cerah dan dipenuhi oleh bintang-bintang. Dia tampak merenungkan sesuatu.
Wae? Sekarang kau merasa sangat malu? Kau merasa seperti sebuah layang-layang yang terpisah dari benang pengikatnya, kan? Seperti kaktus yang kehilangan duri-durinya...
“Mana mungkin aku menjadi selemah itu hanya karena namja?” gumamnya sambil terus melamun.
Junhee pun mulai berkhayal lagi. Setiap merasa tertekan atau sedih, dia akan merasa bahwa Sehun ada di sampingnya, berdiri di sampingnya sambil tersenyum. Ya, Sehun bukan hanya seorang idola baginya. Tapi lebih seperti tipe namja yang diidamkannya.
“Sehun-a...” panggilnya pelan.
Sehun hanya diam sambil tersenyum simpul, seolah berkata “Ada apa?”
“Bantu aku melupakannya...”

***

Di waktu yang sama, Kris sedang mengendarai mobilnya menuju rumah. Wajahnya tampak tegang. Dia kembali memikirkan kata-kata Junhee saat di kafe tadi.
Kau... Memiliki sisi gelap yang bahkan jika kau berusaha menutupinya, aku tetap bisa melihatnya. Kau! Menjijikkan.
Kris menghela napas panjang, hatinya mendadak sakit mengingatnya. Kata-kata Junhee padanya bak jarum yang menusukkan luka di atas luka lamanya.
“Eo, aku memang menjijikkan dan tak tahu diri. Mungkin karena itulah ayahku membenciku...”

***

Kris memasuki rumahnya dengan langkah enggan. Ada sesuatu di sana yang membuatnya merasa bersalah, sedih sekaligus marah tiap menapakinya. Saat melewati ruang makan, dia melihat ayahnya sedang makan. Kris berhenti sejenak dan memandangi ayahnya dari jauh. Ada sengatan rasa rindu dan juga rasa benci yang menyeruak di matanya saat memandangi sosok itu.
Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali dia melihat ayahnya pulang ke rumah. Ayahnya selalu saja beralasan sibuk sehingga jarang pulang. Ayahnya memang mempunyai sebuah perusahaan yang cukup besar dan dia tahu, mungkin juga ayahnya tidak bohong soal kesibukannya. Tapi bukankah keterlaluan jika dalam sebulan ayahnya hanya pulang dua atau tiga kali ke rumah? Ayahnya jarang menemui dan berkomunikasi dengannya. Bagaimana pun dewasanya Kris sekarang, dia masih butuh kasih sayang ayahnya. Kris tidak memaksa ayahnya untuk menyayanginya sepenuhnya, karena dia benar-benar memahami jika ayahnya membencinya. Dan walaupun mereka saling berkomunikasi, toh akhirnya sang ayah hanya akan menyalahkan Kris, membuat Kris membuka luka lama yang belasan tahun berusaha disembuhkannya seorang diri.
Kris menarik napas panjang. Dia baru saja akan melangkah menuju tangga saat ayahnya menyadari keberadaannya.
“Kau baru pulang? Kenapa kau betah berlama-lama di luar setiap hari?” gertak ayahnya.
Kris diam tak mejawab. Dia kemudian mengurungkan langkahnya dan menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukankah kau juga betah berlama-lama di luar? Geram Kris dalam hati. Perlahan dia pun berjalan menyeberangi ruangan dan menuju ruang makan.
“Musun iriseyo—ada masalah apa?” tanya Kris, dia masih berdiri beberapa meter dari ayahnya.
“Apa kau sudah membuat keputusan? Kau akan mengikuti perintahku, kan?” tanya ayahnya, seperti biasa—ada nada memaksa dalam suaranya.
Kris diam, tangannya mengepal erat hingga membuat buku-buku jarinya memutih. “Aku belum tahu.” jawabnya kemudian. Dia lalu pergi dari hadapan ayahnya tanpa mengeluarkan kata-kata lagi.
“Dasar anak tidak tahu diri...” kata ayahnya, cukup keras hingga Kris mendengarnya.
Kris menghentikan langkah sambil memejamkan mata, mencoba menahan emosinya yang hampir meledak. Dia kemudian melangkah lagi, perlahan menuju kamarnya.
Kris menenggelamkan dirinya di kasur. Tatapannya menerawang. “Kenapa dia selalu memaksakan kehendaknya padaku? Aku hanya ingin dia memperlakukanku layaknya seorang anak. Selama ini aku selalu menuruti perintahnya, karena tak ingin membuatnya kecewa. Tapi untuk hal yang satu ini... aku sedikit keberatan.”

***

Berhari-hari sejak kejadian di kafe malam itu, Junhee dan Kris tidak lagi bertemu. Atau lebih tepatnya pura-pura tidak bertemu. Mereka sering sekali berpapasan saat di kantin atau gerbang masuk kampus, tapi mereka pura-pura tidak melihat. Sampai akhirnya hari itu Kris menghampiri Junhee saat yeoja itu sedang menunggu Baekhyun di sebuah bangku di taman kampus. Junhee mendengus saat melihat Kris  keluar dari salah satu gedung dan berjalan ke arahnya. Dia kemudian memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat namja itu.
“Menyingkirlah dari pandanganku.” Kata Junhee saat Kris sudah berdiri di depannya.
“Bisakah kau bicara secara normal tanpa amarah di dalamnya?”
“Aku sungguh tidak dalam mood yang baik sekarang. Geunyang ka—pergilah.”
“Sirheunde—tidak mau. Aku sedang dalam mood yang baik sekarang.” Dia tersenyum, seperti biasa ujung kanan bibirnya terangkat.
Junhee mengatupkan rahangnya kuat-kuat sambil menghela napas dengan jengkel.
“Kau harus melupakan itu.” Kata Kris, tiba-tiba dia sudah berada di samping Junhee. “Untuk yang aku katakan hari itu, sagwahage—aku minta maaf. Untuk yang sudah kau katakan, aku juga akan melupakannya,” katanya dengan ekspresi serius yang terlihat tulus, tidak seperti biasanya.
Choi Junhee, jangan tertipu dengan wajah hipokritnya, kata Junhee dalam hatinya.
“Aku sudah melupakannya sejak lama.” Ujar Junhee ketus.
 “Itu tidak terdengar seperti kau telah memaafkanku.” Kris berdecak kesal, “Ya, Junhee-ssi. Bukankah kau juga bersalah?” sindir Kris, wajahnya kembali seperti biasa.
“Wae—kenapa?” tanya Junhee, ekspresinya kaget, tapi dibuat-buat. “Apa kau tertusuk tepat di titik lukamu?”
“Walaupun begitu, aku sudah minta maaf.”
“Yah, kelihatannya kau tak peduli apakah orang lain menerima permintaan maafmu atau tidak. Kau meminta maaf semudah kau mencela orang.”
Kris berdiri, lalu mengambil sesuatu dari kantong jaketnya. “Isagwareul bada—terimalah apel ini.” Kris melemparkan sebuah apel pada Junhee. Untuk sekedar informasi, dalam bahasa Korea, kata maaf dan apel sama-sama diucapkan dengan kata sagwa.
Junhee kaget, dia berusaha menangkap apel itu tapi tidak bisa. Apel itu pun jatuh ke rerumputan di dekat kakinya.
“Kau tidak ingin menangkapnya atau memang tidak bisa menangkapnya? Tidak bisakah kau menerima permintaan maafku?”
Junhee menatap apel di dekat kakinya dengan tatapan sinis. “Kau sebut ini permintaan maaf?”
Kris mengambil apel itu lalu meniupinya, agar debu yang menempel hilang. “Terimalah ini. Setiap aku melihatmu, aku jadi merasa tidak enak.”
“Kalau begitu, jangan melihatku.” Cetus Junhee sengit.
“Siapa juga yang ingin melihatmu?” balas Kris. “Aku selalu bertemu denganmu secara kebetulan.”
“Jarak gedung fakultasmu dan taman ini sangat dekat. Kau jelas-jelas mengikutiku dan kau masih menyebut ini kebetulan?”
“Tetap saja pertemuan ini hanya kebetulan.” Kris mengulungkan apel itu lagi. ”Terima saja, OK?”
“Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk tahu bahwa apel itu busuk.”
“Aku sudah minta maaf baik-baik. Aku sudah mengakui kesalahanku. Kau juga sudah menamparku dan aku sudah baik hati memaafkanmu tanpa perlu kau minta maaf. Bukankah itu sudah cukup adil untukmu memaafkanku?”
Oh God, orang ini benar-benar pintar bermain kata! Junhee memutar bola matanya dengan kesal. “A, arrasseo, arrasseo. Tapi cepatlah pergi dari hadapanku.”
“June, na wasseo—aku datang!” seru Baekhyun dari arah belakang Junhee.
Junhee segera berbalik dan melambaikan tangannya pada Baekhyun. Sedangkan Kris, dia tetap berdiri di dekat Junhee sambil memandangi Baekhyun dengan tatapan yang bisa disebut sinis.
Baekhyun langsung duduk di sebelah Junhee tanpa memperhatikan keberadaan Kris di sana. Baru setelah beberapa saat, dia menyadari ada orang asing di sana.
“June, dia siapa?”
“Byeontae yang kuceritakan itu.” Jawab Junhee, suaranya sengaja dibuat keras agar Kris mendengarnya.  
Kris membelalakkan matanya karena kaget, “Mwo? Byeontae?”
Baekhyun mengangguk-angguk lalu menatap Kris dari atas sampai bawah.
Kris merasa tidak nyaman dengan tatapan Baekhyun terhadapnya. “Kalian sangat dekat ya? Seperti pasangan saja. Tiap hari selalu saling menunggu seperti ini. Romantisnyaaaa...” katanya, sedikit dibuat-buat dan berlebihan.
Baekhyun berdiri dari posisinya. “Musun soriya?” tanyanya dengan tajam dan tidak senang.
Kris memandang Baekhyun dengan pongahnya. “Tidak ada maksud terselubung kok, pria kecil. Aku hanya ingin berkata-kata.”
Kris menghela napas panjang, dia kemudian memberikan apel itu pada Baekhyun. “Ambil saja ini untukmu.” Katanya halus, tapi sinis. Setelah itu dia pun melambaikan tangannya pada Junhee dan Baekhyun, lalu melangkah pergi.
Baekhyun menimbang-nimbang apel itu di tangannya. “Apa dia bilang? Pria kecil? Dan untuk apa dia memberikan ini padaku?”
“Tanyakan saja padanya. Sanggwan eopseo—aku tak peduli.”
“Yah, aku juga tidak peduli. Dia mengesalkan, an geurae—bukankah begitu?” Baekhyun bergumam, tapi akhirnya dimakan juga apel itu.
“Byun Baekhyun, apa kau sudah mengatakan soal acara tahunan itu pada Jieun? Kurasa kau harus cepat mengatakannya, karena kita hanya punya waktu beberapa bulan untuk persiapan.” kata Junhee sambil menerawang. Sebenarnya dia berat untuk mengatakan hal itu.
Baekhyun mengunyah apel dalam mulutnya perlahan, lalu sedikit mendesah. “Belum,” jawabnya singkat.
“Kalau begitu, cepat hampiri dia di ruang teater. Ppalli!” kata Junhee, lalu mendorong punggung Baekhyun pelan.
“Tapi bagaimana denganmu?”
“Kau pikir aku ini anak kecil? Aku bisa pulang sendiri.” Junhee memutar bola matanya. “Cepat sana...”
“Kau ini senang sekali mengusirku...” gerutu Baekhyun. “Baiklah. Na kalkke.” Baekhyun berjalan menjauh. Junhee hanya memandangi punggung sahabatnya itu dalam diam. Dia pun menghela napas  panjang dan beranjak pergi.

***

Ruang teater Institut Seni Seoul bisa dikatakan mewah untuk ukuran sebuah kampus. Ruangannya dibuat kedap suara dan fasilitasnya sangat lengkap. Dindingnya dicat warna marun dan hal itu membuatnya terkesan sangat elegan. Walaupun tidak terlalu luas, tapi suasana di dalamnya cukup menyenangkan.
Baekhyun masuk ke dalam ruangan teater itu dan duduk di sebuah kursi di pojok ruangan. Dia duduk diam sambil mengamati gerak-gerik Jieun di atas panggung. Dan benar saja dugaannya, Jieun tak menyadari keberadaannya di sana. Saat Jieun menyanyi sendiri di sana, ada dorongan dalam hati Baekhyun untuk menyanyi bersama dengan yeoja itu. Suaranya yang merdu itu membuat Baekhyun tak henti memandanginya. Saat Jieun selesai menyanyikan lagunya, Baekhyun segera berdiri dan memberikan applause.
Jieun terlihat sangat kaget mendengarnya, dia pun mencari sumber suara itu dengan gerakan mata yang cepat.
“Bb... bb... Baekhyun-ssi? Wae yeogi isseo—kenapa kau ada di sini?” tanya Jieun sedikit terbata.
“Ni meoksori...Jjangieyo—suaramu...menakjubkan.” kata Baekhyun sambil tersenyum, lalu menghampiri Jieun yang masih mematung dengan kepala menunduk. “Kenapa kau tidak pernah menunjukkannya di depan umum?” tanyanya.
“Geuge... itu karena aku merasa aku...” kata Jieun, kegugupan masih menyelimutinya.
“Maukah kau menyanyi bersamaku di acara tahunan kampus?” potong Baekhyun, tanpa basa-basi.
“Mwora?” Jieun terlihat kaget.
“Ayo bernyanyi denganku. Kau harus mau, OK?”
“Tapi... kenapa kau mengajakku? Kenapa tidak mengajak Junhee saja? Dia kan yeochi-mu.”
“Ah... dia bukan yeochi-ku.” Jawab Baekhyun pahit.
“A, geurae? Kupikir kalian memiliki suatu hubungan.”
Baekhyun tersenyum kecil. “Lupakan soal aku dan Junhee. Yang penting sekarang adalah... kau harus mau menjadi teman bernyanyiku. Aku tidak punya pilihan lagi.”
“Tapi...”
Aku merasa tak pantas jika harus disandingkan denganmu, Byun Baekhyun... kata Jieun dalam hatinya
“Sudahlah. Sampai jumpa di ruang latihan...” Baekhyun tersenyum simpul, tangan kanannya menepuk kepala Jieun dengan pelan. “Aku sangat mengharapkan bantuanmu.” Katanya sambil melambaikan tangannya.
“Tapi...siapa yang akan menolak jika seorang Baekhyun mengajaknya bernyanyi bersama?” kata Jieun, dia  hanya diam tanpa bisa membantah satu kata pun yang keluar dari mulut Baekhyun. Dia memandangi sosok Baekhyun yang semakin menghilang lalu memegang bagian kepalanya yang baru saja disentuh oleh Baekhyun. Senyum lebar mengembang di wajah manisnya. Dia menutup mulutnya, berusaha menahan kegembiraannya yang meluap karena orang yang dikaguminya selama ini baru saja menemuinya secara personal.

***

Di tempat yang berbeda, Junhee sedang berjalan pelan menuju gerbang kampus. Saat melewati gerbang kampus, tak sengaja dia melihat dari kejauhan bahwa Kris sedang mencoba kabur dari dua orang namja—berpenampilan bak bodyguard atau mereka memang bodyguard?—yang sedang memaksanya untuk masuk ke mobil. Junhee mengernyit. Pasti dia punya banyak hutang dengan bos namja-namja itu. Terlihat sekali dari wajahnya... batin Junhee, lalu tersenyum sinis. “Pakaian yang dipakainya terlihat mahal dan semuanya bermerk. Pasti dia mendapatkannya dengan cara seperti itu.”
Junhee kemudian bersembunyi di balik gerbang kampusnya dan mengintip apa yang dilakukan orang-orang itu pada Kris. Junhee menahan napas, dia sebenarnya kasihan melihat Kris diperlakukan seperti itu. 
“Aissh! Kenapa aku harus peduli padanya?”
Saat kepanikan mulai menggerogoti hatinya, secara tak terduga Kris menyadari keberadaannya dan menatap ke arahnya. Namja itu menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca oleh Junhee, dia tampak ingin mengatakan sesuatu pada yeoja itu. Lebih mengagetkan lagi, Kris berhasil kabur dari dua namja berperawakan sangar itu dan berlari menuju ke arah Junhee.
“Ya! Lepaskan aku!” seru Junhee saat Kris menggenggam pergelangan tangannya erat dan menariknya menjauh sambil terus berlari.
Kris tak menanggapi dan terus berlari di antara gedung-gedung fakultas yang ada. Sesekali mereka bersembunyi di balik dinding untuk sekedar menyambung napas mereka yang tersengal, sampai dua namja itu melewati mereka berdua. Kris masih memegang erat  pergelangan tangan Junhee dan mereka masih berlari tak tentu arah sampai akhirnya mereka masuk ke gedung auditorium yang kebetulan tidak dikunci.
“Dengar. Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan...” kata Kris, mencoba menjelaskan.
“Aku tak peduli tentang itu. Ini semua karena kau.” Kata Junhee, napasnya masih terengah. “Jika bukan karena kau, aku tidak akan selelah ini!”
Kris tak menjawab, dia sibuk mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
Junhee pun berbalik dan siap melangkah pergi, tapi namja itu menahannya. “Kau mau pergi ke mana?”
“Pulang.” Junhee berusaha melepas genggaman Kris di lengannya.
“Kau tahu? Aku tidak pernah berpikir mereka sampai datang ke sini.” Kata Kris tiba-tiba. “Siapa yang tahu jika ayahku akan bertindak sampai sejauh ini? Dia memaksaku untuk kuliah di bidang ekonomi, tapi aku lebih suka kuliah di sini, di bidang seni. Aku tidak mengira dia sampai melakukan hal konyol seperti ini. Benar-benar memalukan.”
Junhee terdiam, dia menatap Kris dengan tatapan sengit.
“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Kris dengan senyuman khasnya.
“Ya, byeontae! Penjelasanmu benar-benar tidak masuk akal. Mana mungkin ada ayah seperti itu di dunia ini, eo?  Semua orang tahu kelakuanmu, kenapa kau tidak mengatakannya saja?”
Tentu saja ada ayah yang seperti itu, dan itu ayahku... Batin Kris sambil tersenyum getir.
“Mengatakan apa?” tanya Kris.
“Kau pasti melakukan kesalahan besar pada atasan orang-orang itu. Jika tidak, kenapa mereka memperlakukanmu seperti itu? Mungkinkah... kau berhutang dan tak mampu membayarnya?” Junhee tersenyum sinis, “Kau selalu memakai pakaian bermerk terkenal dan mobil yang kau pakai juga bukan mobil yang murah. Kau pasti mendapatkan semuanya dengan cara seperti itu.”
“Jadi kau ingin ceritanya seperti itu? Apa aku terlihat seperti itu?”
Junhee menatap Kris tepat di manik mata namja itu. “Jika tidak, maka buktikanlah.”
Senyuman luntur dari wajah Kris dan digantikan dengan ekspresi tidak senang. “Kau ingin aku membuktikannya padamu? Kenapa aku harus melakukan itu?” katanya dengan nada tajam.
Junhee menatapnya dengan ekspresi sedikit terkejut.
“Junhee-ssi, kenapa kau menanyakan hal ini? Apa kau punya hak untuk itu? Bukankah kita berdua hanya orang asing?”
Bibir Junhee seakan terkunci, dia ingin membalas kata-kata Kris dengan kalimat tajamnya, tapi tidak bisa. Dia pun kemudian berbalik pergi tanpa mengatakan apapun. Pada akhirnya dia menyadari bahwa kata-kata Kris memang sepenuhnya benar, tak ada yang salah—bahkan untuk satu kata.
 “Geurae. Kita hanyalah orang asing...” katanya pelan saat dia mulai jauh dari gedung auditorium.
Junhee mengacak-acak rambutnya dengan kesal. “Changpihae—sangat memalukan. Kenapa aku harus merasa ingin tahu seperti itu? Dia pasti berpikir aku tertarik padanya. Aissh!”
Langkah Junhee mulai pelan. Kemudian, ingatannya melayang pada saat-saat dia bersama dengan Kris. Kau cukup manis... kata-kata namja itu kembali terngiang dalam telinganya. Mungkinkah kau menyukaiku? Suara Kris terus saja menghantuinya. “Mana mungkin aku menyukaimu, byeontae? Jangan berkhayal terlalu tinggi!”
Bukankah kita berdua hanya orang asing? Wajah Kris yang tersenyum jahat kembali melintas dalam pikirannya secara berulang-ulang.
“Nappeun nom—dasar brengsek.”

***

Keesokan harinya, matahari sudah bertengger tepat di atas kepala Junhee dan Baekhyun saat mereka sedang berjalan menuju fakultasnya. Seperti biasa, mereka mengobrol dengan akrab dan berjalan beriringan. Orang-orang yang tidak mengenal mereka pasti mengira jika mereka berdua adalah sepasang kekasih. Baekhyun baru saja mengatakan sebuah lelucon saat tiba-tiba Junhee bersembunyi di balik punggungnya seperti anak kecil yang ketakutan.
“Wae?” tanya Baekhyun disertai tawa geli.
“Ada Chanyeol. Dia berjalan ke sini.” Kata Junhee setengah berbisik.
Baekhyun mencari sosok Chanyeol di tengah kerumuman mahasiswa yang tampak terburu-buru dan langsung menutupi tubuh Junhee dengan tubuhnya.
Saat mereka pikir sudah berhasil melewati Chanyeol dengan selamat, sebuah suara memanggil nama Junhee. Itu suara Chanyeol, Junhee tahu itu.
Junhee pun menegakkan badannya dan menarik dirinya dari balik punggung Baekhyun. Dia kemudian memasang ekspresi sedatar mungkin.
“Aissh, bagaimana dia bisa tahu?” gerutu Junhee, lalu melotot pada Baekhyun. “Ini karena tubuhmu kurang tinggi.”
Bibir Baekhyun mengerucut. “Lagi-lagi kau menyalahkan aku.”
“Choi Junhee.” suara berat Chanyeol kembali terdengar. Kali ini namja itu sudah berada di antara Junhee dan Baekhyun.
“Wae?” tanya Junhee kasar.
“Kita harus bicara.” Chanyeol memegang pergelangan tangan Junhee erat.
Junhee menghempaskan tangan Chanyeol dengan kasar dan menatapnya penuh emosi. “Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Park Chanyeol!”
“Pergilah, jangan ganggu Junhee lagi. Apa kau tidak merasa bersalah...” Baekhyun mendekat ke arah Chanyeol dan menatap namja itu dengan tatapan penuh benci.
“Byunbaek, jangan ikut campur,” potong Junhee cepat. “Kau tunggu saja aku di kantin, aku akan selesaikan ini sendiri.”
Baekhyun mundur beberapa langkah menjauhi Chanyeol yang sekarang tersenyum sinis padanya. Setelah itu dia berbalik menuju kantin yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya saat ini. Begitu memasuki kantin, dia dihalangi oleh seseorang—Kris. Ternyata dari tadi namja itu sudah mengamati Junhee, Baekhyun dan Chanyeol dari dalam. Namja itu kemudian bertanya pada Baekhyun apa yang sebenarnya terjadi di luar. Baekhyun tak menjawabnya, karena dia pikir ini bukan urusan Kris. Kris pun langsung keluar dari kantin dan menghampiri Junhee.
Sementara itu, Chanyeol mengambil ponsel dari sakunya dan menelepon nomor Junhee. Sebagai hasilnya, ponsel Junhee pun berdering dengan nyaring.
“Kau belum mengganti nomor ponselmu? Kalau begitu, kapan-kapan aku bisa mengajakmu untuk sekedar minum teh bersama.” Senyum senang segera mengembang di wajah Chanyeol.
Tepat saat itu, Kris datang dan langsung mengalungkan tangannya di leher Junhee.
“Jika kau kekasih di masa lalunya, maka aku akan menjadi kekasihnya di masa sekarang. Dan jika kau ingin minum teh bersamanya, ada baiknya jika kau mengajakku juga,”kata Kris dengan senyum lebar ke arah Chanyeol.
Chanyeol terlihat kaget, begitupun Junhee. Yeoja itu tak mengira Kris akan melakukan hal gila seperti itu, apalagi di depan Chanyeol.
“Kaja.” Ucap Kris pada Junhee, lalu menarik pergelangan tangannya untuk menjauh dari Chanyeol.
Chanyeol tersenyum dengan tidak senang dan membuang mukanya.

***

“Ya! Kau pikir jika bertingkah seperti itu kau terlihat keren? Jangan terlalu percaya diri! Itu sangat kekanakan!” seru Junhee sambil berusaha melepas genggaman tangan Kris.
Kris tersenyum lebar seperti anak kecil. “Kau tidak tahu ya? Aku kan memang kekanakan.”
Bibir Junhee menipis. “Geurae! Silahkan lanjutkan hidupmu dengan bertingkah seperti itu. Lanjutkanlah!” Junhee berlalu dari hadapan Kris dan berjalan cepat meninggalkannya.
Kris berjalan cepat dan menahan Junhee dengan memegang lengan yeoja itu. “Kau pernah berkencan dengannya, kan?”
“Tidak ada hubungannya denganmu.”
“Aku terlibat dalam masalah ini. Bagaimana mungkin aku tidak ada hubungannya dengan ini?” katanya dengan senyum menyebalkan. “Dia terlihat seperti model. Seleramu tidak buruk.”
“Lepaskan tanganku,” kata Junhee di antara gigi-giginya.
“Kenapa kau tidak mengganti nomor ponselmu? Apa kau masih menunggunya?” ekspresi Kris tampak tak senang saat mengatakannya.
“Kenapa aku harus menjelaskan ini padamu?” kata Junhee, penuh sarkasme.
Kris tampak terkejut mendengar pertanyaan Junhee. Dia tahu jika kata-kata itu adalah kata-kata yang diucapkannya kemarin.
“Apa kau punya hak untuk menanyakan pertanyaan seperti itu?”
Kris mengerjapkan matanya beberapa kali sambil terus menatap Junhee dengan tajam.
“Bukankah kita hanya dua orang asing yang kebetulan bertemu?” lanjut Junhee. “Karena itu, cepat lepaskan tanganku.”
Kris mematung, rahangnya mengatup keras dan dia kini memalingkan wajahnya dari Junhee. Dia tak pernah mengira Junhee akan mengembalikan kata-kata itu padanya.
“Aku bilang lepaskan tanganku!” mata Junhee melebar, kelihatan sekali jika emosi sudah menguasai dirinya.
Junhee baru saja menutup mulutnya saat  Kris membungkuk untuk mencium bibirnya. Kris menyelipkan jari-jarinya ke belakang kepala Junhee dan terus mengulum bibir yeoja itu. Dengan sekuat tenaga, Junhee memberontak, berusaha melepaskan dirinya dari Kris. Yeoja itu mendorong tubuh Kris dengan kuat, sampai akhirnya namja itu terhuyung mundur beberapa langkah.
Junhee mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangan dan bertanya dengan lantang, “Apa yang kau lakukan, eo?”
“Sekarang kita bukan orang asing lagi. Bukankah begitu?” kata Kris, mimik wajahnya sangat serius.
Junhee membuang napasnya dengan kesal dan menatap Kris seakan dia akan menelan namja itu hidup-hidup.
Kris melanjutkan, “Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau masih menunggunya?”
“Ya byeontae! Apa kau pikir jika bibir kita bersentuhan, kita akan jadi lebih dekat?”
“Eum... yang tadi itu cukup panas.” Kata Kris sambil tersenyum tanpa dosa.
Junhee mengusap bibirnya lagi. “Itu bukan ciuman yang sebenarnya! Itu hanya... dua bibir yang saling bersentuhan. Aku sedikit tidak nyaman bersentuhan bibir denganmu. Jika aku mau, aku bisa melaporkanmu ke polisi atas tuduhan kejahatan seks!”
“Aigoo... kau benar-benar tidak memiliki selera humor ya?”
“Mwo? Humor katamu? Jadi kau ingin benar-benar kulaporkan?”
“Tsk. Benar-benar gampang marah.” Kata Kris, lalu berjalan kembali ke kantin.
“Ya byeontae! Kau harus membayar semua ini! Awas kau!” teriak Junhee.
Junhee menatap punggung Kris dengan kilatan benci. “Sial! Dia sudah mencuri ciuman pertamaku,” gumamnya, lalu pergi menuju kelasnya. Dia sama sekali tak ingat pada Baekhyun yang menunggunya di kantin.

***

“Ya! Apa yang baru saja kau lakukan?” seru Baekhyun pada Kris yang baru saja memasuki pintu kantin. Wajahnya memerah karena marah dan napasnya terengah-engah.
Kris menghentikan langkahnya dan bertanya dengan mimik pongahnya. “Kau menyukai Junhee, kan?”
“Geurae.  Aku memang menyukainya tapi aku tidak tahu harus mengencaninya atau tidak.”
“Wae?”
“Dia sudah menjadi sahabatku sejak kecil...”
“Jadi kau sebut itu dengan rasa ‘suka’?” Kris memotong dengan tajam. “Jika kau benar-benar menyukainya, harusnya kau mengatakan padanya. Jika itu aku, seorang anak pasti sudah lahir,” kata Kris.
Baekhyun mendelik marah mendengar kata-kata frontal yang keluar dari mulut Kris. “Ya, ijashi! Jika kau tidak tertarik padanya, jangan terus mengganggunya. Jangan mempermainkannya seperti itu!”
“Siapa bilang aku tidak tertarik padanya? Aku tidak pernah berkata seperti itu.” Balas Kris santai.
“Apa artinya... kau benar-benar tertarik pada Junhee?”
“Bagaimana jika memang begitu?” jawab Kris, ujung kanan bibirnya terangkat. “Dan kau, kenapa kau terus menyembunyikan perasaanmu? Apa kau takut ditolak?”
Baekhyun tak menggubris pertanyaan sarkas yang keluar dari mulut Kris. “Berjanjilah padaku. Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan mencarinya atau menemuinya lagi,” geramnya.
“Mengenai permintaanmu, aku takut aku tidak bisa menepatinya,”  kata Kris, lalu dia berjalan melewati Baekhyun yang kini hanya bisa berdiri membeku di tempatnya.

***

Seperti biasa,  Junhee pulang bersama Baekhyun. Hari itu mereka tidak bicara sama sekali setelah peristiwa di depan kantin tadi. Mereka berdua menjadi canggung satu sama lain dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk diam. Di sela-sela konsentrasinya menyetir, beberapa kali Baekhyun melirik ke arah Junhee. Yeoja itu terlihat masih kesal atau mungkin shock karena ciuman paksa yang didapatnya tadi. Baekhyun menghela napas panjang, menyesal karena dia sudah melihat adegan itu di depan matanya sendiri. Dia kemudian teringat kata-kata Kris, Dan kau, kenapa kau terus menyembunyikan perasaanmu? Apa kau takut ditolak?
Emosinya langsung bergejolak saat kata-kata itu mendengung di telinganya. Kata-kata itu adalah hinaan yang paling mengena di hatinya. Baekhyun mengakui jika dia memang takut ditolak oleh Junhee karena status mereka sebagai sahabat karib. Dia takut hubungan dekatnya dengan Junhee akan menjadi bumerang baginya. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Tiba-tiba dia merasa perlu untuk mengungkapkan perasaannya sekarang juga. Bayangan jika Junhee akan berkencan dengan Kris mendorongnya dengan kuat untuk melakukannya. Cukup baginya untuk merasa sakit hati saat melihat Junhee berkencan dengan Chanyeol dan menangis karena namja itu.
“June...” kata Baekhyun pelan, tanpa berani menoleh ke arah Junhee.
“June, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” lanjutnya, suaranya sedikit bergetar karena gugup. “Apa kau tahu? Ini sudah berjalan empat belas tahun. Selama itulah kita mengenal satu sama lain. Walaupun bukan waktu yang singkat, tapi aku merasa kita melaluinya dengan cepat. Dan itu karena kau. Aku menghabiskan semua waktuku denganmu. Choi Junhee, kau tahu bahwa sebenarnya aku menyukaimu. Eum, bukan. Aku... mencintaimu.”
Baekhyun masih belum berani menatap ke arah Junhee, “Kau punya aku. Jadi jangan pikirkan Chanyeol lagi. Jangan bersedih karena dia lagi,” katanya. “June, nae yeojaya—kau adalah wanitaku. Nae yeojarago,” ucap Baekhyun dengan penuh penekanan.
Beberapa saat dia menunggu reaksi dari Junhee, tapi tak ada juga.
“June?” panggilnya dengan lembut, lalu menoleh ke arah sahabatnya itu. Dilihatnya Junhee sudah tidur dengan kepala bersandar di kaca mobil. Wajahnya tertutup oleh rambutnya.
“Ah, kau tidur ya?” desahnya pahit sambil menyibak rambut yang menutupi wajah Junhee. “Sudahlah, lupakan. Choi Junhee... kurasa kau dan aku memang ditakdirkan untuk tidak bersama.”

***

Sinar matahari mulai terasa menyengat saat Junhee berjalan memasuki kampus. Kali ini dia berangkat sendiri ke kampus karena Baekhyun tidak ada kelas hari ini. Sebenarnya dia paling malas untuk datang ke kelas siang, tapi mau bagaimana lagi? Demi beasiswa yang diincarnya dari awal kuliah, dia harus rajin datang ke kelas. Sebelum masuk ke kelas siang, seperti biasanya dia mampir dulu ke kantin untuk makan siang.
Dengan langkah lebar dia memasuki kantin kampusnya. Namun langkahnya langsung terhenti di ambang pintu saat melihat Kris tengah duduk membelakanginya di dekat pintu. Junhee memejamkan matanya sambil mengehembuskan napas dengan kesal, Kenapa harus ada dia di sini? Dia kemudian berjalan masuk, melihat sekeliling untuk memilih meja yang nyaman. Tapi mungkin hari ini memang bukan hari keberuntungannya, karena hanya ada satu meja kosong di sana dan meja itu ada di depan meja Kris. Junhee pun berjalan menuju mejanya dan pura-pura tidak tahu jika namja itu ada di sana.
“Annyeong hasimnikka, Junhee-ssi!” seru Kris yang kini telah menatap ke arah Junhee sambil tersenyum lebar.
Junhee tak mempedulikannya dan duduk sambil memilih menu yang ada. Kris tak melepas pandangannya dari Junhee dan memandanginya dalam senyum. Dia kemudian menghampiri Junhee dan duduk di sebelahnya.
“Siapa yang mengijinkanmu duduk?” cetus Junhee kasar.
“Aku sudah mendaftarkanmu sebagai performer di acara tahunan kampus,” kata Kris, seolah tak menyadari nada kasar dalam suara Junhee.
Junhee yang sedang sibuk memilih menu langsung menoleh pada Kris dengan mulut menganga. “Mwo?”
“Kau ingin ikut berpartisipasi kan? Nah, aku sudah mendaftarkanmu untuk menjadi teman bernyanyiku.”
“Ya! Kau pikir kau siapa bisa berbuat seenaknya seperti itu?”
“Kau ini kasar sekali,” ucap Kris sambil mengangkat tangan kanannya, bersiap menyentil kening Junhee.
Dengan cepat Junhee menepis tangan Kris. “Ya! Apa kau bercanda?”
“Aigoo... kita bahkan sudah berciuman. Tapi kenapa kau begitu kasar?” kata Kris, suaranya sengaja dibuat keras sehingga hampir semua orang yang ada di kantin memandangi mereka berdua.
Junhee kelihatan salah tingkah dan menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Sedangkan Kris malah memeperlihatkan cengirannya dengan senang. Dia melipat tangannya di depan dada, terlihat puas setelah menggoda Junhee.
“Jangnan aniya—ini bukan candaan. Jadi setelah kelasmu selesai, kau harus datang ke ruang teater,” lanjut Kris. Dia kemudian berdiri dan tersenyum, “Makanannya tadi enak.”
Junhee baru saja menarik napas lega—karena namja menyebalkan itu sudah pergi—saat seorang pelayan menghampiri dan mengangsurkan selembar bill padanya.
Junhee mendongak dan menatap pelayan itu dengan heran. “Aku belum memesan apapun.”
Pelayan itu tersenyum ramah dan berkata, “Namja yang baru saja pergi tadi mengatakan bahwa anda yang akan membayar bill-nya.”
Setelah pelayan itu pergi, Junhee mengambil bill itu dan menatapnya dengan kesal. “Aissh! Lagi-lagi dia berhasil mempermainkan aku!”

***

Puluhan mahasiswa berkumpul di ruang teater. Mereka semua terlihat gembira karena mereka termasuk dalam daftar performer di acara tahunan kampus yang sudah melahirkan banyak artis terkenal di Korea. Junhee memasuki ruang itu dengan canggung. Dia merasa seperti telah menjilat ludahnya sendiri. Dia menolak bernyanyi dengan Baekhyun dan sekarang dia harus tergabung dalam acara ini karena kelakuan Kris yang seenaknya.
Junhee berjalan pelan ke dalam kerumunan mahasiswa itu.
“June! Wae yeogi isseo?” seru Baekhyun, kepalanya menyembul dari balik kerumunan.
Junhee tersenyum lega melihat sahabatnya itu. “Aku juga mengisi acara ini...” jawabnya lirih saat Baekhyun sudah ada di depannya.
“Mwo?” tanya Baekhyun dengan ekspresi kaget.
Junhee menjawab dengan enggan. Dia merasa tidak enak karena sudah menolak tawaran Baekhyun tempo hari. “Aku... aku akan...”
“Dia akan bernyanyi denganku.” Suara berat Kris menginterupsi jawaban yang akan keluar dari mulut mungil Junhee. Tangan namja itu kini melingkar di sekitar leher Junhee.
 “Ya! Apa yang kau lakukan? Lepas!” seru Junhee, matanya melotot.
Kris melepaskan tangannya dari Junhee dan menatap Baekhyun. “Wae? Apa kau cemburu?”
Baekhyun melengos, lalu tersenyum pada Junhee, “Mari bekerja sama demi kesuksesan acara tahun ini.”
Junhee mengangguk keras, “Ne! Pasti!”
“Semuanya! Kalian harus siap untuk menerima pelatihan khusus untuk acara tahunan ini. Kalian harus bekerja  ekstra keras.” Suara Im gyeosunim menggelegar ke seluruh ruangan, membuat para mahasiswa langsung terdiam. “Berkumpullah dengan kelompok kalian masing-masing dan berdiskusilah tentang apa yang akan kalian tampilkan. Setelah itu kalian boleh pulang. Kita akan memulai latihannya minggu depan, arrasseo?”
“Ne, arrasseumnida!” serentak, seluruh performer meneriakkan semangatnya.
Junhee menghembuskan napas kesal saat menyadari dirinya harus berlatih dengan Kris. Namja itu kini sedang berdiri agak jauh darinya, banyak yeoja yang mengerumuninya. Tapi ajaibnya, Kris memasang wajah datarnya yang terlihat dingin. Dia terlihat tidak suka diperlakukan seperti itu oleh para yeoja.
Lagi-lagi Junhee membuang napasnya dengan kesal. “Apa-apaan mereka semua?” dia lalu menghampiri Kris dan yeoja-yeoja itu, “Apa kalian lupa alasan utama kita berkumpul di sini?”
“Oh, Junhee-ya!” seru Kris, dengan wajah tanpa dosanya. Dia kemudian memberi isyarat pada yeoja-yeoja itu untuk menjauh darinya.
“Jangan sok akrab denganku,” jawab Junhee ketus.
Kris berjalan menghampiri Junhee dan memasang ekspresi pongahnya, “Ya! Apa kau tidak takut?”
“Takut apa?” tanya Junhee, bingung.
“Takut padaku.”
“Hah? Apa yang perlu kutakutkan dari namja sepertimu?”
“Aku bisa membuat para yeoja jatuh cinta padaku hanya dengan sekali pandang.”
“Aku bahkan tak percaya pada setiap kata yang keluar dari mulutmu.”
“Jika kau tak percaya, kau tidak akan berada di sini.” Kris mendekatkan wajahnya pada Junhee. “Secara tidak langsung, kau sudah memercayaiku.”
“Ya! Itu tidak masuk hitungan!” sanggah Junhee cepat.
Kris mengangkat bahunya, “Terserah apa katamu, Junhee-ssi.” Kris mengambil ponselnya dari saku. “Beri aku nomor teleponmu.”
“Untuk apa?”
“Sudahlah, berikan saja. Mana ponselmu?”
Junhee mengangsurkan ponselnya dengan tidak ikhlas dan membiarkan Kris menuliskan nomornya di kontak. “Sudah. Kalau butuh sesuatu, kau bisa meneleponku.”
“Arra.” Jawab Junhee singkat, “Ya! Kita mau menampilkan apa untuk acara ini? Kau belum memberitahuku. Babo!”
“Kau akan menyanyikan lagu dengan gitarmu dan aku akan menjadi rapper-nya. Arrasseo?”
“Baiklah. Lagu apa yang akan kita nyanyikan?”
“Lagu ciptaanmu.”
“Mwo?”
“Kau pandai membuat lagu kan? Nah, lakukan saja... ”
“Tapi...”
“June!” seruan Baekhyun memotong alasan yang akan dikatakan Junhee.
Junhee mengalihkan pandangannya pada Baekhyun, “Wae?”
“Aku sudah selesai berdiskusi dengan Jieun. Bisakah sekarang kau menemaniku untuk membeli sesuatu di Insadong?” senyum lebar tergambar di wajah Baekhyun.
Junhee mengangguk. “Baiklah,” katanya, lalu melirik ke arah Kris dengan kesal. “Aku menjadi bad mood karena seseorang. Ada baiknya jika aku berjalan-jalan sebentar.”
“Ya! Bagaimana dengan lagu yang akan kita nyanyikan?” protes Kris, merasa tidak diperhatikan.
“Itu urusanmu. Salahmu sendiri mengajakku ikut acara ini,” Junhee melenggang pergi dengan santainya. “Byunbaek, kaja.”
Baekhyun menatap Kris dengan tatapan mengejek dan tersenyum sinis.
“Sial!” gumam Kris sambil mengepalkan tangan dengan erat.

***

“Ada perlu apa kau mengajakku ke Insadong?” tanya Junhee saat mobil Baekhyun mulai melesat dengan cepat menuju ke Insadong.
Baekhyun tersenyum lebar, lalu menoleh pada Junhee. “Aku perlu bantuanmu untuk membelikan hadiah untuk orang yang sangat spesial bagiku.”
“Kau sudah memiliki yeochi lagi?” mulut Junhee menganga karena kaget.
“Jika aku bilang dia orang yang spesial, belum tentu dia yeochi-ku, kan?” ujar Baekhyun.
“Lalu kenapa kau mengajakku?”
“Aku butuh bantuanmu untuk memilihkan hadiah untuknya. Kau tidak keberatan, kan?”
“Tentu saja aku tidak keberatan. Boleh kutahu hal apa yang disukainya?” tanya Junhee, tampak antusias.
Baekhyun mendesah pelan lalu menjawab, “Dia suka musik. Sangat suka.”
“Wah, itu bagus! Jika begitu, aku bisa memilihkan hadiah untuknya yang sesuai dengan seleraku.” Junhee menjentikkan jarinya sambil mengerling. “Apa boleh kutebak siapa dia?”
“Eo, coba saja. Aku yakin kau tidak akan pernah menjawab dengan benar.”
“Dengarkan dulu jawabanku. Pasti aku benar. Dia Jieun, kan?” cetus Junhee yakin.
“Seberapa keras pun kau berpikir, kau tidak akan tahu siapa dia. Jadi, kusarankan untuk tidak menebaknya lagi.”
“Ya! Kau tidak mungkin menyembunyikan hal itu selamanya, kan? Marhaebwa!”
“Sirheo,” ucap Baekhyun, lalu menjulurkan lidahnya pada Junhee.
“Menyebalkan!” bibir Junhee mengerucut sebal.
Baekhyun terkekeh. “Hei, jangan pasang ekspresi seperti itu. Kau terlihat lebih jelek dan menakutkan dari biasanya.”
“Tidak ada yang perlu ditertawakan, Byun Baekhyun!”
“Arrasseo, arrasseo. Aku akan diam.”
“Aissh. Molla!”

***

Setelah mengelilingi pertokoan di Insadong, akhirnya Baekhyun dan Junhee mendapatkan hadiah yang sekiranya cocok untuk diberikan pada yeoja itu. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju ke tempat Baekhyun memarkir mobilnya.
“June, kau tunggu aku di sini dulu ya? Aku ingin ke kamar kecil sebentar. Jangan pergi ke mana-mana,” kata Baekhyun lalu berlari kecil.
Junhee mengangguk. Dia kemudian melihat sekeliling. Tanpa diketahuinya, ada dua orang namja yang sedari tadi mengawasinya. Dua namja itu kemudian berlari ke arah Junhee dan merebut tas yang dipakai Junhee. Junhee kemudian berlari mengejar dua orang itu sambil meneriaki mereka. Di tengah usahanya mengejar mereka, untunglah Junhee bertemu dengan Baekhyun yang baru saja keluar dari toilet.
“Wae geurae?” tanya Baekhyun dengan panik.
“Mereka mengambil tasku!” rengek Junhee dengan panik.
“Kau di sini saja, OK? Aku akan berusaha menangkap mereka.” Baekhyun kemudian berlari kencang mengikuti dua orang namja berperawakan sangar itu.
Junhee terduduk lemas sambil memeluk kedua lututnya. “Dompetku, semuanya ada di sana. Apa yang harus kulakukan?”
Setelah lama menunggu di tempat parkir itu, Baekhyun tak juga kembali. Junhee menggigiti kukunya. Itu pertanda jika kepanikan mulai menguasai dirinya.
“Byunbaek, kau di mana?” gumamnya, dia kemudian mengambil ponsel dari saku jaketnya dan mencoba menelepon Baekhyun. “Apa terjadi sesuatu padanya?”
Junhee berlari, berusaha mencari keberadaan Baekhyun sambil terus mencoba menghubungi ponselnya. “Byunbaek, tolong angkat. Jebal!” gumamnya.
Hari sudah mulai gelap dan Junhee belum juga menemukan Baekhyun. Tenggorokannya sudah kering, kakinya lemas dan dia tidak memiliki tenaga untuk kembali melangkah. Yeoja itu kemudian duduk di pinggir trotoar untuk sekedar meluruskan kakinya yang pegal. Tatapannya menerawang dan kosong. Yang ada di dalam otaknya saat ini adalah bagaimana caranya dia bisa menemukan Baekhyun dan kembali ke Ansan dengan selamat.
Di saat rasa lelah menghujam seluruh tubuhnya, matanya yang sayu menangkap sebuah obyek yang tak asing baginya. “Itu Baekhyun!” teriaknya lega saat melihat sahabatnya itu tengah duduk di sebuah kursi di seberangnya. Junhee kemudian mengerahkan sisa tenaganya untuk menghampiri sahabatnya itu.
Junhee duduk di sebelah Baekhyun. “Byunbaek, akhirnya aku bisa menemukanmu,” Junhee tersenyum lega.
“Baekhyun-a,” panggilnya, karena sahabatnya itu tidak merespon.
Junhee lalu berjongkok di depan Baekhyun dan menyadari bahwa wajah dan tubuh sahabatnya itu kini penuh dengan luka lebam. Darah segar juga mengalir dari hidungnya. Matanya setengah terpejam, dia terlaihat sedang menahan rasa sakitnya.
“Byun Baekhyun!” panggil Junhee untuk ketiga kalinya.
“June, kau lihat? Aku bisa mendapatkan tasmu kembali.” Baekhyun mengulungkan tas Junhee pada yeoja itu sambil tersenyum, walaupun dia terlihat sangat kesakitan.
“Babo! Sekarang itu tidak penting bagiku! Kau harus cepat ke rumah sakit. Tunggu sebentar, aku akan mencari bantuan,” seru Junhee, lalu berdiri.
Dia mengambil ponsel dari sakunya lalu menelepon Kris. Entah apa yang dipikirkannya saat itu hingga hanya nama Kris yang terpikir olehnya.
“Junhee? Ada angin apa hingga kau meneleponku?” kata Kris dari seberang sana, ada nada mengejek dari suaranya.
“Itu tidak penting! Datanglah ke Insadong, di depan gedung xxxx. Aku sangat memerlukan bantuanmu!”
“Ya! Musun iriseyo—apa ada masalah?” tanya Kris, dia ikut panik mendengar seruan Junhee.
“Ppalli wa—cepat datang!” seru Junhee, dia lalu menutup teeponnya.
Junhee lalu duduk di sebelah Baekhyun dan menatap sahabatnya itu penuh rasa bersalah. Lama sekali mereka hanya duduk dalam diam. Sampai akhirnya Junhee memulai pembicaraan di antara mereka.
“Mianhae. Ini semua karena aku...” kata Junhee pelan, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Baekhyun menoleh padanya dan tersenyum, “Aku tidak apa-apa kok. Jadi, jangan salahkan dirimu.” Baekhyun menghela napas panjang. “Kupikir kau tidak akan...”
“Mencarimu?” potong Junhee cepat. Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali karena kaget Junhee mengetahui apa yang akan dikatakannya.
“Tentu saja aku akan melakukannya. Kau kan sahabatku. Kau orang paling penting bagiku setelah keluargaku,” lanjut Junhee.
“Gomawo,” ujar Baekhyun.
“Untuk apa?”
“Da—semua.”
Junhee memeluk Baekhyun dengan sayang. “Aku juga berterimakasih padamu, Byunbaek...”
“Apho—sakit!” seru Baekhyun saat Junhee memeluknya.
Junhee segera melepas pelukannya. “Ah, mian.”
“Apa kalian sudah selesai melakukan itu semua?” sebuah suara menginterupsi. Itu suara Kris. Namja itu kini sedang bersandar di mobilnya dengan kedua tangan terlipat di dada. Dia memandang ke arah matahari terbenam, seakan pemandangan di depannya menyakiti matanya.
“Kenapa dia ada di sini?” geram Baekhyun kesal.
“Aku memintanya untuk membantu kita.”
“Yah, kalau dia tidak mau, aku bisa pergi sekarang juga,” ujar Kris santai.
Junhee mendelik. “Ya! Kau sudah ke sini. Cepat antar kami ke rumah sakit.”
“Baiklah nyonya besar, saya akan membantu anda,” kata Kris dengan wajah super menyebalkan.

***

“Apa kau sudah merasa baikan?” tanya Junhee pada Baekhyun setelah dia mendapatkan pengobatan.
“Eo, geurom,” jawab Baekhyun yakin, dia lalu mengubah posisinya ke posisi duduk. “Jangan khawatir, aku lebih kuat dibanding apa yang kau pikirkan.”
Junhee tersenyum. “Kau ini masih saja sempat mengatakan hal seperti itu.”
“Apa dia sudah pergi?” tanya Baekhyun.
“Dia siapa?”
“Byeontae. Apa dia sudah pergi?”
“Kurasa sudah,” jawab Junhee asal.
“June...” panggil Baekhyun.
Junhee menoleh. “Wae?”
“Aku merasa sangat senang saat melihatmu memperhatikan dan mengkhawatirkanku seperti tadi.”
“Kenapa kau berkata seperti itu?”
“Karena bagiku, setengah perhatianmu lebih baik daripada seluruh perhatian orang lain.”
“Bagaimana bisa seperti itu? Apa maksudmu?”
Baekhyun menghembuskan napasnya dengan berat. “Ani. Amugeotdo—bukan apa-apa.”
“Kau ini selalu saja membuatku bertanya-tanya maksud perkataanmu.”
Baekhyun kemudian duduk di pinggir ranjangnya dan Junhee pun segera duduk di sebelahnya. Mereka berdua mengayun-ayunkan kaki sambil bersenandung dan menatap ke atas, sama seperti yang mereka lakukan saat kecil dulu jika mereka akan tidur.
Junhee bangkit dan berjalan ke arah jendela yang masih terbuka dan menutupnya. Dia kemudian memandangi obyek-obyek di bawah, lama sekali. “Byunbaek, kalau kau sudah pulih, kita pergi ke atap gedung ya?”
Junhee menoleh ke arah Baekhyun karena dia tak mendengar jawaban darinya. Dilihatnya, Baekhyun sudah terlelap. Dia kemudian menyelimuti tubuh Baekhyun agar sahabatnya itu bisa tidur lebih nyenyak.
Junhee baru saja akan membuka pintu ruangan saat Kris memutar kenop pintunya dan berjalan masuk.
“Ada apa? Kukira kau sudah kembali ke Ansan.”
“Ayo ke atap gedung. Kita akan berpiknik,” katanya seraya mengangkat sebuah keranjang berukuran cukup besar dengan kedua tangannya.
“Mwo? Apa kau gila? Ini sudah malam dan di sana pasti gelap.”
“Tidak perlu takut, kan ada aku.”
“Hah, kau benar-benar pantas dipanggil byeontae.”
“Kenapa kau selalu memanggilku seperti itu?” protes Kris tidak terima.
Seorang yang mesum akan selalu disebut orang mesum. Akankah disebut sesuatu yang lain?
“Selalu saja berakhir dengan debat tidak penting,” kata Kris sambil menahan napas. “Sudahlah, ikut saja denganku. Aku sudah menyiapkan banyak makanan. Kau juga belum makan, kan?”
“Baiklah kalau kau memaksa,” ujar Junhee pada akhirnya.

***

Dalam setengah cahaya, ruangan-ruangan rumah sakit yang mereka lewati di jalan menuju atap tampak menakutkan dan sepi. Bau obat-obatan yang sangat identik dengan rumah sakit membuat rasa takut Junhee berlipat ganda. Dia pun berjalan pelan jauh di belakang Kris sambil melihat sekeliling dengan ngeri.
“Ini sungguh tidak nyaman,” Junhee tertegun, bulu kuduknya meremang.
“Kau ingin aku menggandeng tanganmu?” kata Kris yang tiba-tiba sudah berada di depan Junhee.
Junhee segera menarik tangannya ke belakang punggung, menyembunyikannya seperti anak kecil. “Jangan harap!” katanya ketus.
“Ya sudah kalau tidak mau. Aku juga tidak memaksa.”
Kris membuka pintu menuju ke atap gedung rumah sakit dengan pelan, ada suara berdecit yang ditimbulkan benda tua itu. Junhee berjalan mengikuti langkah Kris. Dia kini dapat melihat cahaya kota yang berkelap-kelip seperti mutiara beku dari atas sana.
“Wow. Sangat cantik ya di sini saat malam.” Pandangannya tak lepas dari lampu-lampu yang memenuhi seluruh pandangannya.
Kris kini sedang sibuk menyiapkan peralatan pikniknya.  Dia tersenyum lalu menjawab, “Itu alasan kenapa aku mengajakmu ke sini.”
“Mau ini?” kata Kris sambil menyodorkan beberapa potongan buah apel pada Junhee setelah selesai melakukan persiapan dan mengupas sebuah apel.
Junhee duduk berhadapan dengan Kris dan mengambil satu potong apel lalu memakannya. “Gomawo.”
Kris tersenyum. “Kau tahu? ini pertama kalinya aku berpiknik,” ujarnya sambil memandangi Junhee. “Ibuku meninggal saat aku berulangtahun yang ke-5 tahun. Dan sejak itu aku tidak pernah merasakan apa yang disebut dengan kasih sayang. Aku juga tidak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya berpiknik dengan keluarga. Kadang aku iri melihat anak-anak lain yang terlihat bahagia saat berkumpul dengan keluarganya di taman atau bermain di taman bermain bersama orang tua mereka.”
“Apa yang menyebabkan ibumu meninggal? Bagaimana dengan ayahmu? Bukankah dia masih hidup?” tanya Junhee, tanpa sadar dia terlarut dalam kisah yang diceritakan oleh namja itu.
“Ibuku meninggal karena kecelakaan pesawat tepat di hari ulang tahunku yang ke-5. Sehari sebelum kecelakaan itu, aku merengek pada ibuku untuk pulang dari Paris dan merayakan ulang tahunku di Korea. Saat itu aku meminta ayah untuk meneleponnya. Waktu itu, ibu bilang akan mengusahakannya. Aku tidak pernah tahu jika permintaanku akan berujung bencana seperti itu,” jawab Kris. “Dan apa kau tahu bagian terlucu dari kisahku ini?”
Junhee menggeleng pelan.
“Ayahku membenciku!” Kris tertawa keras.
“Ya! Itu tidak lucu. Sama sekali,” tanggap Junhee.
“Itu lucu, tahu. ayahku berpikir bahwa aku lah yang membunuh ibuku dan sampai sekarang dia masih membenciku. Bukankah itu sangat menggelikan?” Kris tertawa lagi.
“Hentikan. Jangan seperti ini. Aku tahu kau pasti sangat sedih dan tertekan. Tapi jangan tertawa seperti itu lagi, kau membuatku takut. Kalau ingin menangis, menangis saja. Jangan ditahan.”
Tanpa diduga oleh Junhee, Kris benar-benar menangis. Junhee menatapnya dengan miris. Dia belum pernah melihat namja lain—selain Baekhyun—menangis seperti itu di depannya. Perlahan dia bangkit menghampiri Kris dan memeluknya untuk menenangkannya. Tapi, lama-kelamaan Junhee merasakan beban tubuh Kris semakin berat saja dan tubuh namja itu juga melemas.
“Ya, byeontae! Gwaenchanna?“ seru Junhee, dia sebenarnya panik. Jantungnya  berdebar semakin keras detik ke detiknya.
“Ya! Jangan bercanda seperti ini,” ujarnya lalu melepas pelukannya pada Kris. Mata Kris terpejam, tubuhnya juga lemas. Junhee semakin panik melihatnya.
“Ya! Ireona!” Junhee mengguncang-guncang tubuh Kris, tapi tetap tak ada reaksi. Tiba-tiba tangan Kris bergerak dan meraih tubuh Junhee sehingga kini jarak antarwajah mereka hanya beberapa senti.
Junhee terkejut dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Kris tersenyum dan perlahan membuka matanya. Namja itu kemudian tertawa senang karena lagi-lagi dia berhasil menjahili Junhee. Junhee merasa kesal dan langsung menarik dirinya untuk menjauh dari Kris. Dia kemudian berdiri dan bersiap pergi, tapi tangan Kris mencegahnya.
“Maaf karena telah menunjukkan sisi lemahku padamu. Terima kasih sudah mau mendengar kisah hidupku dan mengkhawatirkanku seperti itu,” katanya sambil tersenyum tanpa dosa.
“Mwo?”
“Aku bilang terima kasih.” Kris beranjak dari posisinya dan kini mereka berdiri berhadapan. Dia kemudian menunduk dan mencium bibir Junhee dengan lembut. Tangan namja itu melingkar di pinggang Junhee. Anehnya, saat ini Junhee mau saja menerima ciuman itu dan bahkan membalasnya. Junhee kemudian melingkarkan tangannya di leher Kris dan hal itu membuatnya harus sedikit berjinjit. Sebenarnya, Kris merasa sedikit kaget saat tahu Junhee membalas ciumannya.
“Sebaiknya kita kembali sekarang,” kata Junhee dengan segala usaha agar suaranya tetap terdengar biasa setelah mereka merasa canggung untuk beberapa saat.
“Baiklah.”
Mereka kemudian menuruni tangga dengan bergandengan tangan. Jantung Junhee serasa akan meledak saat itu juga. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, bahkan saat dia sedang bersama Chanyeol dulu.
Apakah hanya aku yang merasakan hal ini? Apa dia juga merasakannya? Kata Junhee dalam hatinya sambil menatap tangannya yang kini berada dalam genggaman Kris.
Mereka pun akhirnya sampai di depan pintu ruang rawat inap Baekhyun. Junhee bersandar ke dinding di samping pintu, mendongak menatap Kris. "Terimakasih untuk hari ini," kata Junhee sambil berusaha menjaga nada suaranya agar tetap normal.
“Harusnya aku yang berterima kasih padamu,” Kris kelihatan enggan melepas tangan Junhee. "Kau mau tidur ya?"
"Apa kau tidak lelah?" tanya Junhee.
"Aku tidak pernah merasa sebangun ini," dia menunduk untuk mencium Junheelagi. Bibir mereka kembali bersentuhan . Awalnya terasa ringan dan lembut, lalu dengan tekanan yang semakin kuat tiap detiknya. Tepat pada saat itulah Baekhyun membuka pintu dan melangkah keluar. Baekhyun mengerjap. Rambutnya terlihat sangat kusut. Matanya yang setengah terbuka langsung melebar saat melihat dengan jelas adegan yang terjadi di depan matanya. "Ya! Apa-apaan ini?"

***



TBC… ;)
 

My Fictional World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea