Jumat, 03 Agustus 2012

[FF SERIES] Love Doesn't Need a Password PART 1

Diposting oleh hunhanbuin di 15.07

 Tittle : Love Doesn’t Need a Password
Author : Sonia aka. Han Minji
Genre :  Romance,  drama, friendship.
Main Casts : Kris, Byun Baekhyun, Choi Junhee, Lee Jieun and other cameos.

***

Kau hanya perlu tidur sampai namja lain datang di hidupmu... Kris

***

 “Choi Junhee... apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Baekhyun sambil menatap yeoja di sampingnya yang dengan kalap sedang memakan se-cup besar es krim.
“Eopseo—tidak ada.” Jawab yeoja itu singkat, tampak tak peduli.
“Ya! Kau pikir aku baru saja mengenalmu? Aku sudah mengenalmu sejak umur enam tahun. Dan aku tahu, jika kau memakan makanan manis sebanyak ini, pasti ada sesuatu yang mengusikmu. Geurigo... matamu sembab dan ada lingkaran hitam mengerikan di sekelilingnya.” Baekhyun terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu. “Jangan-jangan... kau putus dengan Chanyeol?” Seru namja itu tapi tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya sambil sesekali melirik ke arah Junhee.
“Ya, Byun Baekhyun! Kau ini benar-benar cerewet! Haruskah aku memakan makanan yang asin, eo?” jawab Junhee dengan tatapan jengkel  lalu memasukkan sesendok penuh es krim ke dalam mulutnya. Junhee pun kemudian membuka jendela mobil Baekhyun dan menarik napas panjang, seolah sedang berusaha melepas sesuatu.
Baekhyun hanya mengangkat bahu melihat  sahabatnya yang satu itu. Dia tahu kata-katanya benar, sahabatnya itu pasti baru saja putus dengan Chanyeol. Dia juga tahu jika Junhee mungkin sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, bahkan dirinya.
“Geu ijashi... bagian mana darinya yang lebih baik dariku? Chanyeol... dia bahkan tidak bisa menyanyi sebaik aku, huh!.” Umpat Baekhyun dalam hati.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, mereka hanya diam, tak ada yang berinisiatif memulai pembicaraan lagi.
“Stop! Stop!” teriak Junhee tiba-tiba saat melihat kerumunan yeoja di depan gedung KBS. Baekhyun terkaget dan segera memarkir mobilnya.
“Ada apa sebenarnya?” kening Baekhyun mengerut bingung melihat tingkah sahabatnya yang dari menit ke menit semakin aneh saja.
Junhee diam tak menanggapi dan segera keluar dari mobil. “Wah, Sehun ada di sini!” serunya senang lalu menutup pintu mobil dan berlari ke arah kerumunan itu. Mati-matian yeoja bertubuh jangkung itu berusaha menerobos kerumunan yeoja yang juga menggila sepertinya. “Pikyeo! Aku ingin melihatnya dari dekat!” serunya berkali-kali pada orang yang menghalangi langkahnya.
Sementara itu, Baekhyun hanya bisa berdiri ternganga seraya bersandar di badan mobilnya. Tak percaya jika Junhee bisa berubah sedrastis itu. Baekhyun memiringkan kepalanya, “Padahal semenit yang lalu wajahnya sangat suram. Bagaimana bisa dia tersenyum dan berteriak seperti orang gila sekarang?”
Sehun pun turun dari mobilnya, mata Junhee langsung berbinar senang saat melihat idolanya itu dari dekat. “Dia sangat tampan!!”
Junhee melompat-lompat seraya melambaikan tangannya penuh semangat, berusaha berteriak sekeras mungkin pada idolanya itu. “Sehun-a! Sehun-a! Ini aku! Apa kau tahu Nuna sangat mencintaimu?”
Namun usahanya itu sama sekali tak berguna, suaranya seperti ditelan suara puluhan fans lain yag ada di sekelilingnya.
Baekhyun yang melihat dari kejauhan hanya bisa mendengus lalu menggelengkan kepalanya, “Apa-apaan ini? Benar-benar...”
Di sisi lain, Junhee masih belum menyerah dia terus saja berteriak. “Sehun-a! Lihat aku! Sehun-a!”
Lalu, tanpa disadarinya, keseimbangan tubuhnya mulai goyah karena tarikan dan dorongan yang diterimanya. Dia pun akhirnya terjatuh di antara para fangirl yang tengah menggila. “Aissh. Apa—sakit!” serunya saat beberapa dari mereka tak sengaja menendang dan menginjaknya. Untung saja, tak lama setelah itu mereka semua berlarian mengikuti Sehun dan meninggalkan tempat di mana Junhee jatuh.
Baekhyun yang menyadari Junhee terjatuh langsung menghampiri yeoja itu, dia tampak panik. Dia pun berjongkok di samping Junhee yang sedang menggeliat, berusaha untuk bangun dari posisinya.
“Ireonabwa...” Katanya pelan sambil mengulurkan tangannya pada Junhee. Junhee menerima uluran tangan Baekhyun dan segera berdiri tegak.
“Sekumpulan remaja labil! Beraninya mereka menginjakku!” gerutunya kesal, tangannya sibuk membersihkan debu yang menempel pada bajunya.
“Ya, kau juga masih remaja, tahu.” Baekhyun memutar bola matanya. “Dan lagi... apa kau benar-benar menyukainya? Padahal menurutku orang itu jelek dan kerempeng.”
Junhee melotot sebal. “Apa maksudmu jelek?! Hanya karena kau kerempeng, kau pikir semua orang juga kerempeng, eo?!”
“Tapi dia memang kerempeng!” seru Baekhyun tak terima. “Aigooo...hanya karena dia, kau jadi sangat kekanakan.”
“Aissh, jangan begitu iri padanya!” kata Junhee dan dia pun segera berlari ke dalam gedung untuk mengikuti Sehun.
“Ya! Kita ada kuliah siang ini!” teriak Baekhyun.
Junhee berhenti dan membalas teriakan Baekhyun. “Aku tak peduli! Sekali-kali kita bolos, OK?”
Baekhyun menatap punggung Junhee yang semakin menghilang ke dalam gedung mewah itu dan dia pun berjalan kembali ke mobilnya. “Apapun yang kaulakukan, aku akan tetap menunggumu.”

***

Junhee berjalan mengendap-endap menyusuri ruangan-ruangan di gedung itu. Sesekali dia bersembunyi saat ada petugas keamanan tengah berkeliling untuk melihat keadaan. Baru pertama kali ini dia memasuki gedung KBS dan itu membuatnya bingung. Kerumunan yeoja tadi juga sudah tak terlihat dalam pandangannya. “Aissh... aku takut akan tersesat.”
Di tengah kebingungannya mencari jalan keluar, dia mendengar suara berisik yang berasal dari orang-orang yang sedang mengobrol. “Ah... mungkin aku bisa bertanya pada orang-orang itu.” Gumamnya, lalu mencari di mana suara itu berasal.
“Uwaaa... itu Sehun.” gumamnya saat mengintip salah satu ruangan yang dinilainya paling bersuara. “Dengan sedikit makeup di wajahnya...dia pasti akan semakin tampan.”
Junhee membalikkan badannya dan bersandar di dinding, “Andai saja aku tidak masuk ke sini secara illegal, aku pasti sudah memintanya menandatangani bajuku...” katanya sambil menunduk.
Dia pun kemudian mengangkat kepalanya dan bersiap pergi dari tempat itu. Namun, ada seorang namja yang berdiri tak jauh darinya tengah menatapnya lekat dengan pandangan aneh. Pada awalnya Junhee merasa terpesona pada namja jangkung nan tampan itu dan terpaku saat melihatnya. Namja itu mengangkat ujung kanan bibirnya dan membuat Junhee tersadar. “Mwolbwayo—apa yang kaulihat?” tanya Junhee.
Namja dengan rambut dicat pirang itu tak menjawab dan hanya memandangi Junhee.
“Neo byeontaeyo—apa kau orang mesum? Kenapa kau memandangiku terus?” tanya Junhee, dia mulai terganggu dengan tatapannya.
“Rokmu terangkat.” tutur namja itu, dia sedikit terbatuk seperti sedang menahan tawa.
“Mwo?” Junhee tercengang dengan jawaban namja itu.
“Rokmu terangkat dan bagian bawahmu terlihat.” Ulangnya, kali ini wajahnya memerah. Entah karena menahan tawa atau karena dia telah melihat ‘itu’.
Junhee mendelik dan segera membenarkan ujung belakang roknya yang terlipat ke dalam. “Aaaaargh~ eotte?!” serunya.
Namja berambut pirang itu memalingkan wajahnya saat Junhee membenarkan roknya.
Setelah membenarkan roknya, Junhee melangkah pergi dengan berjalan cepat. Saat melewati namja itu, dia berseru penuh kekesalan, “Kau tidak memberitahuku dari tadi supaya kau bisa puas melihatnya, kan?!” Junhee mengangkat sebelah kakinya, bermaksud menendang bokong namja itu tapi tak berhasil karena namja itu dengan cepat menghindarinya. Bibir Junhee menipis karena menahan kekesalan, “BYEONTAEYA—DASAR MESUM!”
Junhee baru saja akan berbalik saat namja itu mencegahnya, “Jamkkanman.”
“Waeyo? Kau ingin meminta maaf?” ujar Junhee, kini dia sudah berhadapan dengan namja itu.
“Ada sesuatu yang menyangkut di ponimu...” namja itu mendekatkan wajahnya ke wajah Junhee. Junhee pun merasa sedikit tak nyaman dengan perlakuan itu dan ... TTAK! Sebuah sentilan keras mendarat di kening yeoja itu, membuat keningnya berubah warna menjadi kemerahan.
Namja itu pun tersenyum puas melihat Junhee memegangi keningnya sambil mengaduh kesakitan. “Itu balasan karena kau sudah menyebutku byeontae!”
“Ya! Isarami jinjja—orang ini benar-benar!!” seru Junhee di sela kesakitannya.
Namja berambut pirang itu tersenyum simpul melihat sikap Junhee yang menurutnya antik. “Wah, kurasa ini hari yang indah...” katanya, membuat Junhee merasa semakin jengkel.
Namja itu lalu berjalan cepat meninggalkan Junhee yang hanya bisa memandanginya dengan kilatan marah. “Aissh! Bagaimana mungkin ada orang sepertimu, eo?! Dugeobwa, neo jugeosseo—tunggu dan lihat saja, kau pasti mati!!!” teriaknya kesal.
Junhee kemudian berlari kecil sambil memegangi ujung belakang roknya setelah menyadari orang-orang di ruangan yang diintipnya tadi—termasuk Sehun—tengah menatapnya. “Aissh...neomu changpihae—aku sangat malu!”

***

Junhee membuka sebungkus cokelat yang diambilnya dari dalam tas dan menghabiskannya dengan satu kali gigitan. Baekhyun bergidik melihatnya.
“June, kau tidak bertemu dengan Sehun ya? Kenapa wajahmu semakin kusut saja? Kau tahu? Kau membuatku takut.”
Junhee menyandarkan kepalanya di sisi jendela mobil, bibirnya mengerucut sebal. “Aku bertemu dengan seorang namja mesum dan dengan seenaknya dia menyentil keningku sambil merah begini.” Dia menyibak poninya dan menunjuk keningnya yang sakit.
Baekhyun tersenyum penuh arti melihat ekspresi Junhee dan hal itu membuat yeoja itu melotot ke arahnya. “Wae usseo—kenapa tersenyum? Apa kau senang aku melihatku menderita seperti ini,eo?!”
“Aniya. Aku hanya ingin berterimakasih pada namja mesum itu. Yah, siapapun dia... dia sudah berhasil membawa tabiat aslimu kembali.”
“Aissh, apa itu masuk akal?” Junhee melipat tangannya di depan dada dan melempar pandangannya ke luar jendela.
“Melihatmu marah lebih baik daripada melihatmu seperti tadi pagi. Menurutku kau terlihat cantik saat marah.” Baekhyun menoleh pada Junhee dan tersenyum penuh perhatian.
“Kau ini! Jangan menggombali aku. Jika ingin menggombal, gombali saja yeoja-yeoja lain.”
“Tidak ada yeoja yang dekat denganku selain dirimu. Kau juga tahu kalau aku tidak punya yeochi. Karena itu, aku tidak tahu mau menggombali siapa lagi jika tidak menggombalimu.” Baekhyun terkikik saat tahu dia berhasil membuat Junhee semakin kesal karenanya. “Apa kau tahu? Kupikir, hanya aku yang tidak memiliki yeochi saat ini.”
“Siapa yang peduli kalau kau memiliki yeochi atau tidak?”
“Aku peduli...” jawab Baekhyun muram.
Junhee tak menanggapi dan meminta Baekhyun untuk mengantarnya pulang. ”Antar aku pulang, aku lelah hari ini...”
Baekhyun mengangguk tak rela, karena hari ini sebenarnya mereka sudah membuat rencana untuk pergi ke kafe di dekat kampus mereka untuk sekedar hangout sepulang dari kampus. “Baiklah.” Jawabnya pelan, agak kecewa.

*** 

Sulur-sulur dari tumbuhan dan berbagai macam lumut tumbuh mengelilingi tepian kolam ikan mini bagaikan hiasan renda hijau. Terkadang, permukaan air kolam itu beriak kecil karena kibasan ekor ikan-ikan yang hidup di dalamnya. Sebuah gazebo kecil dari kayu dibangun tak jauh dari tepi kolam. Junhee duduk di sana, memandangi kolam dengan tatapan kosong.
“Park Chanyeol! Kau pikir namja di dunia ini hanya dirimu? Lihat saja, aku pasti mendapatkan pengganti yang lebih baik darimu!” napasnya terengah, dia kemudian membungkuk untuk  mengambil sebuah batu yang lumayan besar dan melemparnya ke dalam kolam. Seketika itu, ikan-ikan di dalamnya mulai membuat gerakan kaget yang menyebabkan Junhee terkena cipratan air. “Aissh! Apa yang kalian lakukan?!” serunya jengkel pada ikan-ikan itu.
“Junhee-ya... apa kau di sana? Ayo cepat masuk, Eomma sudah menyiapkan makan malam untukmu.”
Junhee mengangguk dan membalas seruan Eomma-nya, “Ne. Aku akan ke ruang makan segera!”
“Tadi Baekhyun menelepon.” Tutur Eommanya saat Junhee muncul dari balik pintu ruang makan.
Junhee duduk di kursi di seberang Eommanya, “Dia bicara apa, Eomma?”
“Dia bilang dia akan datang menjemputmu sekitar jam delapan. Tapi saat Eomma tanya mau ke mana, dia hanya menjawab ‘suatu tempat’.”
“A, geuraeyo. Aku akan bersiap-siap sekarang.” kata Junhee lalu beranjak dari posisinya dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.
“Apa kau tidak mau makan dulu?” seru Eommanya.
Junhee menengok ke arah Eommanya di bawah dan berseru, “Nanti saja. Aku akan makan di luar bersama Baekhyun.”
“Aigo...dasar anak muda.” Gumam Eomma Junhee seraya menggelengkan kepalanya.
Junhee mengambil setelan dress biru dan cardigan putih dari dalam lemarinya dan memakainya. Tak lupa, dia memoles wajahnya dengan makeup tipis yang membuatnya terlihat natural tapi cantik. Dia kemudian mengambil sepasang high heels favoritnya yang akan membuat tinggi tubuhnya sejajar dengan Baekhyun jika dia memakainya.
“Sehun-a, aku terlihat cantik, kan?” tanyanya pada poster yang tertempel di dekat ranjangnya sambil bergaya dengan mengangkat ujung dress-nya dan berputar beberapa kali.
Junhee tersenyum senang melihat pantulan dirinya di cermin. Lalu, dia pun teringat pada Baekhyun yang akan menjemputnya jam delapan. Dia melihat jam di atas mejanya dan mendesah, “Yaaah... masih satu jam lagi. Sebaiknya aku menelepon Baekhyun sekarang.”
“June, ada apa?” suara di seberang sana terdengar sangat akrab di telinganya.
“Baekhyun-a! Kita ke sana sekarang saja, OK? Aku bosan di rumah.”
“Ah, baiklah kalau itu maumu. Dalam tiga menit aku akan sampai di rumahmu. Jadi tunggu aku di depan rumah, arra?”
“Eo, arratta.” Jawab Junhee senang. “Kkeunheo.”

***

“Aku akan memesan makanan dan minuman. Sementara kau carikan kursi untuk kita. Kau pesan seperti yang biasanya kan?” kata Baekhyun saat mereka memasuki kafe yang cukup ramai itu.
Junhee mengangguk, “Eung, aku mau yang seperti biasanya.”
Baekhyun kemudian segera berjalan menuju bar sambil mendendangkan lagu. Junhee mencarikan kursi untuk mereka duduki. Akhirnya, Junhee menemukan sebuah sofa kosong di salah satu sisi kafe—di dekat panggung. Baru saja dia duduk di sofa itu saat seorang yeoja—yang menurut Junhee cukup cute—menepuk pundaknya pelan. “Chogiyo—permisi...”
Junhee mendongak ke arah yeoja itu, sedikit terkejut.
“Apa namja itu namchi-mu?” tanya yeoja itu padanya.
Junhee mengikuti arah pandang yeoja itu dan sudah bersiap menjawab bahwa dia tidak mengenal namja yang dimaksud olehnya. Namun, Junhee menyadari bahwa namja yang dimaksud yeoja itu adalah Baekhyun. Sahabatnya itu kini tengah berjalan menuju ke arahnya sambil membawa pesanan mereka berdua. “Aniya. Dia temanku.” Jawab Junhee.
Wajah yeoja itu langsung berseri. “Neomu kwiyeopta—dia sangat imut. Apa dia punya yeochi?”
Junhee mengernyit, lalu menjawab dengan ragu-ragu. “Eopseoyo...”
“Bolehkah aku meminta nomor ponselnya?” yeoja itu meminta dengan wajah penuh harap.
Junhee selamat dari menjawab permintaan yeoja itu berkat kedatangan Baekhyun. Yeoja itu buru-buru pergi saat Baekhyun meletakkan pesanannya di meja. Baekhyun kemudian duduk di samping Junhee dan berkata, “Ini choco bagel kesukaanmu. Makan yang banyak, aku tahu kau belum makan apa-apa setelah makan es krim tadi.”
Junhee berusaha menyembunyikan senyumnya saat menatap Baekhyun. Selama empat belas tahun bersahabat dengannya, dia tidak pernah memikirkan apakah Baekhyun itu imut atau tidak, tampan atau tidak. Junhee berpikir kalau Baekhyun memiliki mata hitam yang sangat indah. Dia terlihat sangat keren, apalagi saat eyeliner hitam membingkai matanya seperti saat ini. Wajahnya juga sangat imut, bahkan terkadang terlihat seperti anak kecil.
“Kenapa memandangiku? Apa ada sesuatu di wajahku?” kata Baekhyun.
Aku harus memberitahunya, batin Junhee, tapi ada desakan dalam dirinya untuk tidak melakukan hal itu. Isanghae—ini aneh. Kalau aku tidak memberitahunya, berarti aku bukan sahabat yang baik untuknya.
“Jangan melihat ke arahnya, tapi yeoja itu berpikir kalau kau imut,” bisiknya pada Baekhyun.
Mata Baekhyun melirik untuk melihat yeoja itu. “Yeoja yang memakai dress pink itu?”
Junhee mengangguk lalu menelan bagelnya semulut penuh, tampak sekali dia sudah kelaparan beberapa jam terakhir ini.
Wajah Baekhyun mengeras, dia tampak kaku. “Dari mana kau tahu itu? Dan...kenapa kau berpikir begitu?”
Junhee membuka mulutnya yang penuh untuk menjawab, tapi terpotong oleh seseorang yang tiba-tiba menghampiri dirinya dan Baekhyun.
“Byun Baekhyun! Apa kau bersedia membantuku? Ini benar-benar gawat...” kata seorang namja yang dikenal mereka sebagai Jongin. Dia adalah orang yang ditugaskan oleh pemilik kafe untuk mengatur kafe ini.
“Membantu? Membantu apa?” tanya Baekhyun dengan sebelah alis terangkat.
“Band yang mengisi panggung hari ini tidak bisa datang. Bisakah kau menggantikannya untukku?” Jongin memandang Baekhyun dengan tatapan memohon, “Jebal! Ddak hanbeonman—satu kali ini saja...”
Junhee dan Baekhyun saling tatap. Junhee kemudian mengangguk, mengisyaratkan pada Baekhyun untuk menyetujuinya.
“Baiklah, aku akan mengisinya. Tapi hanya untuk satu lagu.” Baekhyun beranjak dan berjalan menuju panggung.
Jongin langsung berbinar melihatnya, “Gomawo~!” serunya pada Baekhyun sambil membuat bentuk love dengan kedua tangannya. Junhee pun langsung terkekeh melihat tingkah Jongin.
“Eum, annyeong haseyo. Byun Baekhyun imnida.” Kata Baekhyun sambil membungkukkan badannya untuk mmeberi hormat, lalu duduk di kursi piano di panggung itu.
Alunan nada-nada piano yang lembut segera menggema ke seluruh penjuru kafe, membuat semua orang yang ada di sana menghentikan aktivitasnya dan menonton pertunjukan Baekhyun dengan tatapan kagum. Junhee tersenyum memandangi Baekhyun dan namja itu pun membalas tatapannya dari balik piano.
Senyuman tak pernah lepas dari wajah Baekhyun, perlahan dia menarik napas dan mulai bernyanyi.
Breathlessly, I love you, I only love you. My heart that looks toward you is burning. We’re not friends, we’re not loversit hurts and I cry. My heart cannot be hidden- it’s getting bigger- it hurts. If you are tired and exahusted and you need someone else. I will be there, I’ll treat you well so you can rest. I will stand behind you, I’ll look at you alonethe love of a friend. Though I try to erase, I cannot erase... (UKISS – Love of a Friend)
Suasana hati Junhee tiba-tiba membaik setelah mendengar Baekhyun bernyanyi. Suara merdu sahabatnya itu selalu mampu menenangkan hatinya. Walau lagu yang dibawakannya bukanlah lagu yang ceria, tapi itu cukup indah menurut Junhee. Dia jadi lega karena sudah bisa sedikit melupakan Chanyeol yang dengan kejam telah selingkuh darinya.

***

“Byun Baekhyun! Neoneun jjang—kau keren!” seru Junhee saat Baekhyun berjalan ke arahnya setelah turun dari panggung.
“Jinjjaya?” tanya Baekhyun dengan senyum lebar.
Junhee memberikan dua jempolnya pada Baekhyun. “Eung~ meosisseo—keren!”
Baekhyun kemudian duduk dan kembali menikmati kopi americano-nya. Junhee menatap Baekhyun lekat-lekat. “Omong-omong, tentang yeoja yang tadi berpikir kau imut...”
“Lupakan tentang itu,” potong Baekhyun. Junhee mengerjapkan mata beberapa kali karena terkejut. “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Sesuatu? Tentang apa?” Junhee langsung bertanya.
“Ini tentang yang kita bicarakan tadi—saat kita di mobil. Tentang aku yang tidak punya yeochi...”
“Oh, tentang itu.” Junhee mengangkat bahunya. “Kenapa kau tidak mengencani salah satu yeoja di kelas kita? Contohnya... Sulli. Dia sangat imut, pintar dan ada rumor yang mengatakan jika dia menyukaimu.”
“Sirheo—aku tidak mau.”
“Wae?” tanya Junhee, dia tiba-tiba merasa kesal. “Kau tidak suka yeoja yang sempurna seperti dia?”
“Geuge anira—bukan seperti itu.” Sanggahnya cepat. Wajahnya tampak gelisah. “Aku tidak bisa mengencani Sulli atau siapapun karena itu takkan adil baginya nanti.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena aku sudah memiliki seseorang yang kusukai.” Jawab Baekhyun, wajahnya memucat karena gelisah.
Junhee mengernyit, dia heran kenapa menyukai seseorang bisa membuat sahabatnya itu tampak begitu gelisah. “Jadi siapa dia?” tanya Junhee. Dia baru saja ingin menambah pertanyaan bagi Baekhyun saat dia mendengar suara seorang namja batuk-batuk dengan keras dari arah belakangnya. Itu batuk mengejek, semacam bunyi yang dikeluarkan oleh seseorang saat dia menahan untuk tidak tertawa keras.
Junhee berbalik.
Duduk di sofa yang berjarak beberapa meter darinya, ada namja jangkung berambut pirang itu. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak warna biru muda berlengan panjang. Pergelangan tangannya dililiti beberapa gelang hitam. Namja itu sedang menatapnya. Ujung kanan bibirnya terangkat, dia terlihat senang—atau lebih tepatnya, dia tampak sedang mengejek Junhee.
“Ada apa?” tanya Baekhyun.
Junhee diam dan terus memandangi namja jangkung itu yang tiba-tiba berdiri lalu melambaikan tangannya ke arah Junhee. Dia pergi begitu saja.
“Junhee-ya, apa ada masalah?” tanya Baekhyun sambil menepuk pelan pundak Junhee.
“Eum... tunggu di sini. Aku akan segera kembali.” Junhee buru-buru mengejar namja itu, meninggalkan Baekhyun yang terdiam sambil memandanginya. Siapa namja itu?

***

Junhee menyerbu keluar kafe, dia takut namja itu telah lenyap. Tapi ternyata dia masih ada di sana. Namja itu bersandar di dinding luar kafe, tampak sedang menelepon seseorang. Dia mendongak terkejut saat melihat Junhee sudah berdiri di hadapannya.
Namja itu buru-buru memasukkan ponselnya ke kantung celana jeans. “Suara temanmu itu cukup bagus—menurutku.”
“Tidak hanya cukup, tapi memang bagus.” Junhee mengoreksi perkataan namja itu. “Aku mau tahu, kenapa kau mengikutiku ke sini? Jangan-jangan kau mencari korban lain setelah aku?”
“Eo? Mengikutimu? Kata siapa aku mengikutimu?” namja itu mengangkat sebelah alisnya. “Dan apa kau bilang? Korban? Korban apa?”
“Ya, byeontaeya! Kau pasti sedang mencari yeoja dengan ujung rok terangkat sepertiku tadi kan?”
“Sudah kubilang aku bukan byeontae. Aku punya nama dan namaku, Kris.”
“Aku tak peduli siapa namamu, kau lebih pantas dipanggil byeontae!”
“Terserah apa katamu.”
“Melihat pantat seorang yeoja, tidakkah kelakuan seperti itu perlu kaubenahi,eo?”
“Kau pikir aku ingin melihatnya? Itu sudah jelas kesalahanmu. Kau sendiri yang membiarkan rokmu...”
“Dwaesseo—lupakan. Dwaesseo...” Potong Junhee.
Namja itu kemudian tersenyum merendahkan, lalu tiba-tiba berkata, “Kau dan temanmu itu terlihat sangat menggelikan.”
“Mwo?”
“Tak ada orang yang lebih bodoh dari kalian.”
“Kau pikir kau begitu pintar?” kata Junhee. “Kurasa itulah sebabnya kau menertawai kami tadi.”
“Tadi aku tertawa karena pernyataan cinta itu begitu menggelikan, apalagi kalau tidak terbalas.”
“Musun soriya—apa maksudmu?”
Kris mengangkat sudut kanan bibirnya lagi. “Sudah kuduga, kau tidak akan menyadarinya—bodoh.”
“Ya, byeontae! Bicaralah yang jelas!” seru Junhee kesal.
Baru saja Kris ingin menyanggah Junhee, seorang yeoja mabuk terjatuh di depan mereka sambil meracau tidak jelas. Tak lama setelah itu, dua polisi dan seorang namja datang menghampiri yeoja itu.
“Ya! Cepat bangun!” gertak namja itu pada yeoja mabuk tersebut.
“Wae? Apa aku memalukan?! Aku memalukan?!!” yeoja mabuk itu menatap ke arah namja itu dengan pandangan benci, lalu menendang-nendang dengan kasar, menolak diamankan oleh polisi.
“Aissh, sangat memalukan!! Benar-benar membuat malu!” namja itu menatap yeoja mabuk itu dengan jengkel, “Masih tidak bangun? Apa kau sudah bosan hidup, eo?!”
“Mwo? Aku tidak akan mati!” yeoja mabuk itu terus saja mengamuk dan hal itu membuat hampir seluruh pengunjung kafe—termasuk Baekhyun—keluar untuk melihat keributan yang terjadi.
Yeoja itu mendongak, menatap ke arah namja itu. “Berani-beraninya kau membuangku! Kau pikir kau siapa?!”
Namja itu menghembuskan napas dengan kesal.
Junhee mendekati yeoja yang tengah mabuk itu tanpa rasa takut, setelah dia melihat polisi sudah tidak bisa menanganinya. “Bangunlah, nyonya.” Kata Junhee pada yeoja itu.
“Memangnya siapa kau?!” yeoja itu menatap wajah Junhee lekat-lekat dan mulai menendang-nendang seperti anak kecil lagi. “Kau pikir kau siapa bisa begitu cantik?!”
Yeoja itu menoleh pada namja yang bersamanya. “Oppa! Apa kau pikir dia lebih cantik dariku?”
“Aissh, jinjja! Aku bisa gila karena kau!” seru namja itu jengkel sambil meremas rambutnya. Dia kemudian meminta polisi untuk membawa yeoja itu pergi. Junhee kesal melihat kelakuan namja itu dan berjalan menghampirinya. “Kau tidak seharusnya memerlakukannya seperti ini! Dia jadi seperti ini juga karena dirimu!!”
Junhee kembali berjongkok di depan yeoja mabuk itu, “Apa dengan mabuk seperti ini masalahmu akan selesai? Atau jangan-jangan kau masih berharap untuk memulai lagi dengannya?! Masih mengharapkan hubungan?!
“Aniyo. Aku mabuk karena dulu dia berkata padaku jika aku terlihat cantik saat mabuk seperti ini.”
“Hal apapun akan dikatakan oleh namja saat mereka ingin merayu yeoja.”
“Kenapa dia harus beralasan? Kenapa dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya? Dia mempunyai yeoja lain di belakangku!” katanya sambil menunjuk namja—yang sekarang terlihat sangat malu.
“Mana ada namja yang mengatakan kebenaran?” kata Junhee, lebih kepada dirinya sendiri.
“Benarkah? Lalu kenapa dia bisa bosan denganku?” rengek yeoja mabuk itu. Kata-katanya kali ini mampu membuat Junhee terdiam. Dia memikirkan kata-kata itu dan mengulangnya, Chanyeol... Kenapa dia bisa bosan denganku?
“Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?” suara namja yang terdengar berat ikut menginterupsi pikiran Junhee. Kris. Namja itu kini sedang berjongkok di sebelahnya sambil meemandangi yeoja mabuk itu. Junhee ikut menatap Kris, memerhatikan tiap kata yang keluar dari mulut namja itu.
“Kurasa itu bukan karena dia bosan atau apa. Itu hanya karena... hatinya bukan menjadi milikmu lagi.”
“Benarkah karena itu?” tanya yeoja mabuk itu, pertanyaan yang sama yang ingin diajukan oleh Junhee.
Kris mengangguk pelan sambil tersenyum. Yeoja mabuk itu seperti terbius oleh senyuman dan tatapan Kris. “Jadi, kau tidak perlu mengutuk dirimu sendiri atau orang lain. Pulanglah, mandi dan tidur. Setelah itu, kau hanya perlu tidur sampai namja lain datang di hidupmu.”
Junhee terpaku mendengar kata-kata Kris, “Benarkah?”
“Jeongmal?”
“Eum...jeongmal.” Kris tersenyum lalu menyentil kening yeoja itu pelan. Junhee kemudian teringat saat Kris juga melakukan itu padanya, dia mendadak tersenyum sendiri mengingat peristiwa itu.
Kris beranjak dari posisinya, dia mengulurkan tangannya pada yeoja mabuk itu. Setelah itu, dia menyerahkannya pada namja tukang selingkuh yang dari tadi hanya bisa mengumpat dan berdiri kaku. Kris menoleh pada Junhee, lalu tersenyum. Junhee tak tahu pasti arti senyuman itu. Mereka pun saling pandang untuk beberapa saat sampai akhirnya Baekhyun menepuk pundak Junhee pelan lalu membantunya berdiri.
“Gwaenchanna?” tanya Baekhyun.
Junhee mengangguk pelan. Dilihatnya dari sudut mata, Kris melangkah menjauh dari mereka berdua. “Gwaenchanna...” jawabnya pelan pada Baekhyun.
“Mau pulang sekarang?” tanya Baekhyun lagi.
“Terserah padamu. Kau yang punya mobil.”
“Kau ini...” Baekhyun merangkul Junhee dan mengajaknya berjalan menuju mobil. “Kalau mau pulang, bilang saja. Seperti bukan dirimu saja.”

***

Junhee masuk ke dalam kamarnya dan segera mengganti dress yang membungkus tubuhnya dengan baju piyama. Setelah mematikan lampu, dia duduk di ranjangnya sambil memandangi poster besar Sehun yang ditempelnya di dekat pintu ranjang. Lalu, dia merasa Sehun dalam posternya itu hilang dan kini duduk di sebelahnya. Junhee menoleh pada Sehun dan bertanya, “Apa benar jika aku hanya perlu tidur sampai namja lain datang di hidupku?”
Sehun tersenyum dan mengangguk pelan.
“Jika kau juga berpikir seperti itu, maka aku akan tidur sekarang.” Kata Junhee, dia lalu membaringkan tubuhnya.
Sosok Sehun yang tadi juga duduk di ranjangnya, kini sudah kembali ke tempatnya—poster. Junhee memandang ke atas. Di eternit kamarnya juga ada poster Sehun. Dia memang sengaja memasangnya di sana agar dapat memandang wajah idolanya itu sebelum tidur. Kelihatan bodoh memang, tapi dia percaya jika bukan hanya dia yang seperti itu di dunia. Hampir seluruh sudut kamarnya terisi dengan pernak-pernik tentang Sehun, seperti mug, kalender, foto dan benda-benda lainnya.
“Sehuna-a, jalja—tidur yang nyenyak...” ucapnya pelan pada poster itu.
Junhee menutup matanya. Saat dia sudah jatuh tertidur, dia mendengar gema kata-kata Kris di benaknya. Kau hanya perlu tidur sampai namja lain datang di hidupmu.
“Meskipun aku tidak tahu siapa itu, tapi cepatlah datang.” Junhee berkata pelan dalam tidurnya.

***

Kantin Institut Seni Seoul memang selalu penuh. Ukurannya sangat besar, sehingga bisa menampung banyak mahasiswa. Interiornya nyaman dan terkesan anak muda banget, hampir seperti kafe. Para pegawainya ramah dan memakai celemek warna biru muda sebagai seragamnya. Menunya begitu mengesankan dan enak dengan harga terjangkau.
Junhee duduk di tengah-tengah kantin, dia sedang menunggu Baekhyun yang katanya dipanggil oleh Lim Gyosunim untuk membahas tentang acara tahunan kampus mereka. Yah, Baekhyun memang mahasiswa kesayangan Lim Gyosunim karena suaranya yang sangat powerful dan indah itu. Junhee menyesap caramel macchiatonya pelan sambil menulis sesuatu di buku yang tiap hari selalu dibawanya. Itu buku musik, dia menulis semua lagu ciptaannya di sana.
Tiba-tiba, saat dirinya sedang asik merangkai nada yang sekiranya indah, seseorang datang dan mengambil gelas macchiatonya. Junhee mendongak dan menatap orang di hadapannya dengan tatapan jengkel. Damn, kenapa orang aneh ini bisa ada di sisni?
“Ini lumayan enak.” Katanya sambil memandangi dan menimang-nimang gelas macchiato Junhee.
“Apa kau tidak punya uang untuk membelinya sendiri?” tanya Junhee sarkastik.
“Eung~ eopseo.” Kris dengan enteng lalu meletakkan gelas itu kembali ke tempatnya. Dia kemudian duduk di samping Junhee.
“Siapa bilang kau bisa duduk di sini?”
“Aku yang bilang.”
Junhee berdiri, tatapannya tampak berapi-api karena kekesalan yang memuncak. “Neo! Na johahaseyo—apa kau menyukaiku?”
Kris diam dan memandangi wajah kesal Junhee dengan tatapan tanpa dosanya.
“Seperti inikah caramu mengungkapkan perasaanmu? Ini tak ada gunanya.” Junhee kemudian merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas, lalu berpindah ke meja lain.
Kris mengikutinya, tapi kali ini dia duduk berhadapan dengan Junhee. “Apa yang harus kulakukan? Kau bukan tipe yang kusuka.”
“Kau juga bukan tipeku.” Junhee mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Baekhyun agar sahabatnya itu cepat datang.
“Geundae, wae jakku banmal—tapi kenapa kau selalu menggunakan bahasa tidak formal padaku?” Junhee melotot pada Kris. Perlahan namja itu berdiri, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Junhee hingga jarak wajah mereka hanya beberapa senti. Junhee memundurkan wajahnya. Kris dengan santainya mendekatkan wajahnya lagi pada yeoja itu. Kris kemudian menatap bibir dan mata Junhee secara bergantian selama beberapa saat dan berkata, “Kau cukup manis...”
Wajah Junhee merona, pipinya mendadak terasa panas. Dia segera mengalihkan pandangannya dan memalingkan wajah.
“Wah... wajahmu memerah.” Kata Kris dengan maksud mengejek. “Mungkinkah kau menyukaiku?”
Bibir Junhee menipis, wajahnya terlihat berang. “Ini karena udara di sini panas.” Katanya sambil mengipasi wajah dengan buku musiknya dan memegangi pipinya sesekali.
“Begitukah?” tanya Kris dengan wajah menyebalkannya. “Ah, baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok...” dia pergi dengan senyuman khasnya lalu melambai singkat ke arah Junhee.
Junhee menghembuskan napas panjang saat namja itu menghilang dari balik dinding. “Bagaimana bisa...” bibirnya kembali menipis. “Memandangku dari jarak sedekat itu. Jika itu terjadi padanya, wajahnya juga pasti akan memerah!!!”
“Ya! Wae geurae?” tanya suara yang sudah sangat akrab di telinga Junhee.
“Byun Baekhyun, kenapa kau lama sekali? Aku bisa gila!”
Baekhyun duduk di hadapan Junhee. “Wae? Apa ada seseorang yang mengganggumu?”
“Eo. Dia byeontae yang kuceritakan itu.”
“Kenapa dia ada di sini?”
“Jangan bilang kalau dia...”
“Kuliah di sini.” Baekhyun melengkapi kalimat Junhee.
“Oh, crap!” seru Junhee sebal.
“Sudahlah. Jangan dipikirkan.” Kata Baekhyun, bermaksud menenangkan.
“Bagaimana tadi?” tanya Junhee.
“Oh, tentang acara tahunan kampus?”
Junhee mengangguk.
“Aku diminta Gyosunim untuk mengajak salah satu teman dari jurusan kita duet di acara itu. Dan aku sudah memutuskan siapa yang akan menemaniku menyanyi.”
“Eh? Secepat itukah kau memutuskan?”
Baekhyun mengangguk dengan mantap sambil tersenyum.
“Lalu siapa dia?”
“Kau.”
“Ya! Bagaimana bisa itu aku?” protes Junhee.
“Kau memiliki bakat yang hebat. Suaramu bagus, kau juga pandai menciptakan lagu.”
“Sirheo—aku tidak mau. Kau bisa menggunakan lagu ciptaanku. Tapi untuk menyanyikannya di panggung, aku tidak bisa melakukannya.”
“Baiklah jika itu kemauanmu. Tapi masalahnya...dengan siapa aku nanti akan menyanyi di acara itu?” Baekhyun tampak kecewa dengan keputusan yang dibuat Junhee.
“Mianhae...” kata Junhee pelan. “Eum, bagaimana jika kau mengajak Jieun saja?”
“Jieun? Si pendiam yang misterius itu?” Baekhyun tercengang mendengar saran Junhee.
Junhee mengangguk. “Ada sebuah rumor yang mengatakan bahwa sebenarnya dia memiliki suara emas. Rumor itu juga mengatakan bahwa tiap selesai kegiatan di kelas, dia selalu berlatih di ruang teater. Aku penasaran apa rumor itu benar. Bagaimana kalau kita mengeceknya sendiri untuk memastikan?”
“Maksudmu... kita pergi ke ruang teater sekarang?”
“Ye. Kaja!” Junhee bangkit dari posisi duduk lalu menggamit lengan Baekhyun dan menariknya ke ruang teater.

***

Baekhyun dan Junhee mengendap-endap lalu mengintip dari balik pintu ruang teater yang sedikit terbuka. Di sana, di atas panggung, berdiri seorang yeoja yang tingginya kira-kira sama dengan Junhee. Rambutnya hitam panjang dan sedikit bergelombang, cocok sekali dengan wajahnya yang kalem dan terlihat sangat imut. Yeoja itu tampak sedang melakukan pemanasan vokal.
Junhee melirik ke arah Baekhyun. “Sebentar lagi dia akan menyanyi...” bisiknya.
“Eung, arra.”
Tepat setelah Baekhyun membalas kata-kata Junhee, suara merdu dan bernada tinggi mulai terdengar dari dalam ruangan itu. Baekhyun dan Junhee terdiam, mendengarkan baik-baik kualitas suara itu.
“Benar-benar emas, seperti yang kau katakan.” Kata Baekhyun dengan setengah berbisik tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Jieun. Dia sangat kagum pada suara Jieun yang lembut dan menenangkan itu.
“Rumor itu benar-benar terbukti. Tapi yang membuatku heran, kenapa dia tidak pernah menunjukkan bakatnya itu pada orang lain?”
“Yaaah, kurasa alasannya sama dengan alasan seseorang yang kukenal.” Sindir Baekhyun.
“Ya! Itu tidak sama!” seru Junhee, lalu kemudian dia menutup mulutnya karena dia tahu Jieun mendengar suaranya.
“Nuguya?” tanya Jieun sambil melihat sekelilingnya.
Baekhyun menarik Junhee untuk tidak melanjutkan kegiatan mengintai mereka.
“Itu tidak sama.” Ulang Junhee saat mereka berjalan menuju tempat parkir.
“Arra—aku tahu. Tanpa kau beri tahu pun aku sudah tahu alasannya. Aku kan mengenal dirimu luar dalam.” Baekhyun tersenyum dan menepuk pundak Junhee pelan lalu merangkul yeoja itu sambil berjalan.

***

Malam harinya, Junhee pergi ke kafe langganannya sendirian tanpa ditemani Baekhyun seperti biasanya. Setelah mendapatkan pesanannya—choco waffle dan hot choco—dia duduk di sebuah sofa di pojok ruangan kafe itu. Lama sekali dia hanya diam di sofa itu tanpa melakukan aktivitas apapun selain bernapas. Sesekali dia menarik napas panjang. Dia kemudian mengambil ponsel di tasnya dan mengecek apakah ada pesan atau telepon yang masuk. Seperti yang telah ditebaknya, tak ada satu pun pesan atau telepon untuknya. Dia pun menghela napas panjang lagi.
Tanpa diketahuinya, ada seorang namja yang sedari tadi mmeperhatikan tingkahnya dan tersenyum dalam diam.
Junhee kemudian menelepon Baekhyun. “Eo? June... wae geurae?” tanya suara di seberang sana.
“Geunyang aniya—tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menelepon seseorang.”
“Mwo? Apa sesuatu terjadi lagi?”
“Aniya, tidak ada...”
“Pasti sesuatu telah terjadi.”
“Kubilang tidak ada.”
“Kutahu pasti ada.”
Junhee menaikkan nada suaranya. “Aku bilang tidak ada. Kenapa kau bertanya terus?”
“Lebih baik kau istirahat. Tenangkan pikiran dan hatimu, ne?” kata  Baekhyun penuh perhatian.
“Eo. Keunho!” Junhee menutup teleponnya, pandangannya kini kosong.
“Aku... Sebenarnya aku ingin ikut mengisi acara tahunan itu, apalagi jika berduet dengan Baekhyun. Tapi... aku tidak bisa, ada Chanyeol juga di sana. Aku tidak mau jika harus melihatnya di setiap latihan acara itu. Jujur, aku masih memiliki rasa sayang padanya. Mana mungkin aku bisa melupakannya dalam waktu dua atau tiga hari?” Junhee menangis. “Aku benar-benar benci pada diriku yang seperti ini. Tapi apa yang  harus kulakukan? Aku tak bisa mengelak dari perasaan ini.” Dia kini mulai terisak hebat. Dalam sela isakannya, dia mengambil waffle yang dipesannya dan menggigitnya dengan kalap.
Lalu tiba-tiba waffle di tangannya lenyap begitu saja karena direbut oleh seseorang. Isakan Junhee segera berhenti karena kaget. Dia menoleh ke arah orang itu. “Sekarang apa lagi?”
“Aku yang traktir. Makanlah yang kau suka.” Kata Kris, lalu duduk di sebelah Junhee.
“Siapa yang akan mengatakan ‘tidak’ untuk itu?” kata Junhee, dia kemudian memesan menu-menu dengan harga termahal di kafe itu.
“Eum, selera makanmu bagus juga.”
“Untuk seseorang yang baru saja kukenal, kau cukup baik karena mau menraktirku makan.” Kata Junhee lagi, tidak dengan maksud memuji.
“A, geurae?” Kris menatap Junhee lalu tersenyum lebar pada yeoja itu.
Junhee memutar bola matanya. “Omo—Ya Tuhan. Apa kau benar-benar berpikir jika kau tersenyum padaku, maka aku akan terpesona?”
“Apa kau terpesona padaku?” mimik wajah Kris berubah menjadi serius, tapi kemudian kembali seperti biasa lagi.
“Apa kau khawatir aku akan menyukaimu?”
Kris mengangguk menanggapi pertanyaan Junhee.
Junhee tersenyum sinis dan menatap Kris seolah berkata pada namja itu, kau menggelikan!
“Kenapa aku harus menyukai namja sepertimu?”
“Apa yang salah dengan namja sepertiku?”
“Kau tidak tahu malu, licik dan selalu mengambil keuntungan dari orang lain.”
Kris hanya mengangkat bahu, lalu tersenyum tanpa dosa.
“Kau menderita sindrom ‘kepangeranan’ yang membuatmu merasa kalau seluruh yeoja di dunia ini pasti akan jatuh cinta padamu.”
“Yah, itu faktanya...” kata Kris santai.
“Dan kau... memiliki sisi gelap yang bahkan jika kau berusaha menutupinya, aku tetap bisa melihatnya. Kau! Menjijikkan. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada namja sepertimu? Sekarang kau sudah tahu alasannya, kan?”
Kris membeku mendengar kata-kata terakhir yang terucap dari mulut Junhee. Matanya menatap tajam pada Junhee, membuat yeoja itu sedikit tak nyaman dibuatnya. Ada rasa marah sekaligus sedih dalam tatap matanya. Keduanya terdiam beberapa saat sampai akhirnya Kris mulai berbicara lagi.
“Aku juga tidak akan menyukai yeoja yang tidak menyukaiku.” Katanya tajam.“Menangis sendirian di kafe karena diselingkuhi seorang namja. Sungguh menyedihkan melihatnya.”
Junhee ganti menatap Kris dengan tatapan berkilat.
“Wae? Sekarang kau merasa sangat malu? Kau merasa seperti sebuah layang-layang yang terpisah dari benang pengikatnya, kan? Seperti kaktus yang kehilangan duri-durinya...”
Mata Junhee memerah, air mata sedikit demi sedikit mulai menggenangi matanya. Dia kemudian berdiri. “Bagaimana kau tahu aku seperti itu? Ada cara hingga kau bisa tahu?”
“Aku hanya menebak.” Jawab Kris, dia kemudian juga berdiri. Tubuhnya menjulang di hadapan Junhee.
“Menebak? Kau pasti sangat yakin, mengingat bahwa kau mengucapkannya tanpa basa-basi seperti itu.”
“Eung~ aku yakin 80% ucapanku benar.”
“Geuraesseo—jadi begitu?”
Kris baru saja mengangguk saat tangan Junhee melesat cepat ke wajahnya. Tamparan itu membuat Kris terhuyung mundur. Dia memegangi pipinya yang kini dihiasi tanda merah bekas tamparan Junhee.
“Ya! Untuk apa yang tadi itu?!”
“Yang 20% lagi.” jawab Junhee singkat, lalu berbalik pergi.

***

TBC...

0 komentar:

Posting Komentar

 

My Fictional World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea