Tittle : Love Doesn’t Need a Password
Author : Sonia aka. Han Minji
Genre : Romance,
drama, friendship.
Main Casts : Kris, Byun Baekhyun, Choi
Junhee, Lee Jieun and other cameos.
***
“Kau hanya perlu tidur sampai namja lain datang di hidupmu...” —Kris
***
“Choi Junhee... apa ada sesuatu yang
mengganggumu?” tanya Baekhyun sambil menatap yeoja di sampingnya yang dengan
kalap sedang memakan se-cup besar es
krim.
“Eopseo—tidak
ada.” Jawab yeoja itu singkat, tampak tak peduli.
“Ya!
Kau pikir aku baru saja mengenalmu? Aku sudah mengenalmu sejak umur enam tahun.
Dan aku tahu, jika kau memakan makanan manis sebanyak ini, pasti ada sesuatu
yang mengusikmu. Geurigo... matamu sembab dan ada lingkaran hitam mengerikan di
sekelilingnya.” Baekhyun terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu.
“Jangan-jangan... kau putus dengan Chanyeol?” Seru namja itu tapi tetap berkonsentrasi
pada jalanan di depannya sambil sesekali melirik ke arah Junhee.
“Ya,
Byun Baekhyun! Kau ini benar-benar cerewet! Haruskah aku memakan makanan yang asin,
eo?” jawab Junhee dengan tatapan jengkel lalu memasukkan sesendok penuh es krim ke
dalam mulutnya. Junhee pun kemudian
membuka jendela mobil Baekhyun dan menarik napas panjang, seolah sedang
berusaha melepas sesuatu.
Baekhyun
hanya mengangkat bahu melihat sahabatnya
yang satu itu. Dia tahu kata-katanya benar, sahabatnya itu pasti baru saja
putus dengan Chanyeol. Dia juga tahu jika Junhee mungkin sedang tidak ingin
diganggu oleh siapapun, bahkan dirinya.
“Geu ijashi... bagian mana darinya yang lebih
baik dariku? Chanyeol... dia bahkan tidak bisa menyanyi sebaik aku, huh!.” Umpat Baekhyun dalam hati.
Sepanjang
perjalanan menuju kampus, mereka hanya diam, tak ada yang berinisiatif memulai
pembicaraan lagi.
“Stop!
Stop!” teriak Junhee tiba-tiba saat melihat kerumunan yeoja di depan gedung
KBS. Baekhyun terkaget dan segera memarkir mobilnya.
“Ada
apa sebenarnya?” kening Baekhyun mengerut bingung melihat tingkah sahabatnya
yang dari menit ke menit semakin aneh saja.
Junhee
diam tak menanggapi dan segera keluar dari mobil. “Wah, Sehun ada di sini!”
serunya senang lalu menutup pintu mobil dan berlari ke arah kerumunan itu.
Mati-matian yeoja bertubuh jangkung itu berusaha menerobos kerumunan yeoja yang
juga menggila sepertinya. “Pikyeo! Aku ingin melihatnya dari dekat!” serunya
berkali-kali pada orang yang menghalangi langkahnya.
Sementara
itu, Baekhyun hanya bisa berdiri ternganga seraya bersandar di badan mobilnya.
Tak percaya jika Junhee bisa berubah sedrastis itu. Baekhyun memiringkan
kepalanya, “Padahal semenit yang lalu wajahnya sangat suram. Bagaimana bisa dia
tersenyum dan berteriak seperti orang gila sekarang?”
Sehun
pun turun dari mobilnya, mata Junhee langsung berbinar senang saat melihat
idolanya itu dari dekat. “Dia sangat tampan!!”
Junhee
melompat-lompat seraya melambaikan tangannya penuh semangat, berusaha berteriak
sekeras mungkin pada idolanya itu. “Sehun-a! Sehun-a! Ini aku! Apa kau tahu
Nuna sangat mencintaimu?”
Namun
usahanya itu sama sekali tak berguna, suaranya seperti ditelan suara puluhan fans
lain yag ada di sekelilingnya.
Baekhyun
yang melihat dari kejauhan hanya bisa mendengus lalu menggelengkan kepalanya,
“Apa-apaan ini? Benar-benar...”
Di
sisi lain, Junhee masih belum menyerah dia terus saja berteriak. “Sehun-a!
Lihat aku! Sehun-a!”
Lalu,
tanpa disadarinya, keseimbangan tubuhnya mulai goyah karena tarikan dan
dorongan yang diterimanya. Dia pun akhirnya terjatuh di antara para fangirl yang tengah menggila. “Aissh.
Apa—sakit!” serunya saat beberapa dari mereka tak sengaja menendang dan menginjaknya.
Untung saja, tak lama setelah itu mereka semua berlarian mengikuti Sehun dan
meninggalkan tempat di mana Junhee jatuh.
Baekhyun
yang menyadari Junhee terjatuh langsung menghampiri yeoja itu, dia tampak
panik. Dia pun berjongkok di samping Junhee yang sedang menggeliat, berusaha
untuk bangun dari posisinya.
“Ireonabwa...”
Katanya pelan sambil mengulurkan tangannya pada Junhee. Junhee menerima uluran
tangan Baekhyun dan segera berdiri tegak.
“Sekumpulan
remaja labil! Beraninya mereka menginjakku!” gerutunya kesal, tangannya sibuk
membersihkan debu yang menempel pada bajunya.
“Ya,
kau juga masih remaja, tahu.” Baekhyun memutar bola matanya. “Dan lagi... apa
kau benar-benar menyukainya? Padahal menurutku orang itu jelek dan kerempeng.”
Junhee
melotot sebal. “Apa maksudmu jelek?! Hanya karena kau kerempeng, kau pikir
semua orang juga kerempeng, eo?!”
“Tapi
dia memang kerempeng!” seru Baekhyun tak terima. “Aigooo...hanya karena dia,
kau jadi sangat kekanakan.”
“Aissh,
jangan begitu iri padanya!” kata Junhee dan dia pun segera berlari ke dalam
gedung untuk mengikuti Sehun.
“Ya!
Kita ada kuliah siang ini!” teriak Baekhyun.
Junhee
berhenti dan membalas teriakan Baekhyun. “Aku tak peduli! Sekali-kali kita
bolos, OK?”
Baekhyun menatap punggung Junhee yang semakin
menghilang ke dalam gedung mewah itu dan dia pun berjalan kembali ke mobilnya. “Apapun
yang kaulakukan, aku akan tetap menunggumu.”
***
Junhee berjalan mengendap-endap
menyusuri ruangan-ruangan di gedung itu. Sesekali dia bersembunyi saat ada petugas
keamanan tengah berkeliling untuk melihat keadaan. Baru pertama kali ini dia
memasuki gedung KBS dan itu membuatnya bingung. Kerumunan yeoja tadi juga sudah
tak terlihat dalam pandangannya. “Aissh...
aku takut akan tersesat.”
Di tengah kebingungannya mencari jalan
keluar, dia mendengar suara berisik yang berasal dari orang-orang yang sedang
mengobrol. “Ah... mungkin aku bisa bertanya pada orang-orang itu.” Gumamnya,
lalu mencari di mana suara itu berasal.
“Uwaaa... itu Sehun.” gumamnya saat
mengintip salah satu ruangan yang dinilainya paling bersuara. “Dengan sedikit makeup di wajahnya...dia pasti akan
semakin tampan.”
Junhee membalikkan badannya dan
bersandar di dinding, “Andai saja aku tidak masuk ke sini secara illegal, aku pasti sudah memintanya
menandatangani bajuku...” katanya sambil menunduk.
Dia pun kemudian mengangkat kepalanya
dan bersiap pergi dari tempat itu. Namun, ada seorang namja yang berdiri tak
jauh darinya tengah menatapnya lekat dengan pandangan aneh. Pada awalnya Junhee
merasa terpesona pada namja jangkung nan tampan itu dan terpaku saat
melihatnya. Namja itu mengangkat ujung kanan bibirnya dan membuat Junhee
tersadar. “Mwolbwayo—apa yang kaulihat?” tanya Junhee.
Namja dengan rambut dicat pirang itu
tak menjawab dan hanya memandangi Junhee.
“Neo byeontaeyo—apa kau orang mesum?
Kenapa kau memandangiku terus?” tanya Junhee, dia mulai terganggu dengan
tatapannya.
“Rokmu terangkat.” tutur namja itu,
dia sedikit terbatuk seperti sedang menahan tawa.
“Mwo?” Junhee tercengang dengan
jawaban namja itu.
“Rokmu terangkat dan bagian bawahmu
terlihat.” Ulangnya, kali ini wajahnya memerah. Entah karena menahan tawa atau
karena dia telah melihat ‘itu’.
Junhee mendelik dan segera membenarkan
ujung belakang roknya yang terlipat ke dalam. “Aaaaargh~ eotte?!” serunya.
Namja berambut pirang itu memalingkan
wajahnya saat Junhee membenarkan roknya.
Setelah membenarkan roknya, Junhee
melangkah pergi dengan berjalan cepat. Saat melewati namja itu, dia berseru
penuh kekesalan, “Kau tidak memberitahuku dari tadi supaya kau bisa puas
melihatnya, kan?!” Junhee mengangkat sebelah kakinya, bermaksud menendang
bokong namja itu tapi tak berhasil karena namja itu dengan cepat menghindarinya.
Bibir Junhee menipis karena menahan kekesalan, “BYEONTAEYA—DASAR MESUM!”
Junhee baru saja akan berbalik saat
namja itu mencegahnya, “Jamkkanman.”
“Waeyo? Kau ingin meminta maaf?” ujar
Junhee, kini dia sudah berhadapan dengan namja itu.
“Ada sesuatu yang menyangkut di
ponimu...” namja itu mendekatkan wajahnya ke wajah Junhee. Junhee pun merasa
sedikit tak nyaman dengan perlakuan itu dan ... TTAK! Sebuah sentilan keras
mendarat di kening yeoja itu, membuat keningnya berubah warna menjadi
kemerahan.
Namja itu pun tersenyum puas melihat
Junhee memegangi keningnya sambil mengaduh kesakitan. “Itu balasan karena kau
sudah menyebutku byeontae!”
“Ya! Isarami jinjja—orang ini
benar-benar!!” seru Junhee di sela kesakitannya.
Namja berambut pirang itu tersenyum
simpul melihat sikap Junhee yang menurutnya antik.
“Wah, kurasa ini hari yang indah...” katanya, membuat Junhee merasa semakin
jengkel.
Namja itu lalu berjalan cepat meninggalkan
Junhee yang hanya bisa memandanginya dengan kilatan marah. “Aissh! Bagaimana
mungkin ada orang sepertimu, eo?! Dugeobwa, neo jugeosseo—tunggu dan lihat saja,
kau pasti mati!!!” teriaknya kesal.
Junhee kemudian berlari kecil sambil
memegangi ujung belakang roknya setelah menyadari orang-orang di ruangan yang
diintipnya tadi—termasuk Sehun—tengah menatapnya. “Aissh...neomu changpihae—aku
sangat malu!”
***
Junhee membuka sebungkus cokelat yang
diambilnya dari dalam tas dan menghabiskannya dengan satu kali gigitan.
Baekhyun bergidik melihatnya.
“June, kau tidak bertemu dengan Sehun
ya? Kenapa wajahmu semakin kusut saja? Kau tahu? Kau membuatku takut.”
Junhee menyandarkan kepalanya di sisi
jendela mobil, bibirnya mengerucut sebal. “Aku bertemu dengan seorang namja
mesum dan dengan seenaknya dia menyentil keningku sambil merah begini.” Dia
menyibak poninya dan menunjuk keningnya yang sakit.
Baekhyun tersenyum penuh arti melihat
ekspresi Junhee dan hal itu membuat yeoja itu melotot ke arahnya. “Wae
usseo—kenapa tersenyum? Apa kau senang aku melihatku menderita seperti
ini,eo?!”
“Aniya. Aku hanya ingin berterimakasih
pada namja mesum itu. Yah, siapapun dia... dia sudah berhasil membawa tabiat
aslimu kembali.”
“Aissh, apa itu masuk akal?” Junhee
melipat tangannya di depan dada dan melempar pandangannya ke luar jendela.
“Melihatmu marah lebih baik daripada
melihatmu seperti tadi pagi. Menurutku kau terlihat cantik saat marah.”
Baekhyun menoleh pada Junhee dan tersenyum penuh perhatian.
“Kau ini! Jangan menggombali aku. Jika ingin menggombal,
gombali saja yeoja-yeoja lain.”
“Tidak ada yeoja yang dekat denganku
selain dirimu. Kau juga tahu kalau aku tidak punya yeochi. Karena itu, aku
tidak tahu mau menggombali siapa lagi
jika tidak menggombalimu.” Baekhyun
terkikik saat tahu dia berhasil membuat Junhee semakin kesal karenanya. “Apa
kau tahu? Kupikir, hanya aku yang tidak memiliki yeochi saat ini.”
“Siapa yang peduli kalau kau memiliki
yeochi atau tidak?”
“Aku peduli...” jawab Baekhyun muram.
Junhee tak menanggapi dan meminta Baekhyun
untuk mengantarnya pulang. ”Antar aku pulang, aku lelah hari ini...”
Baekhyun mengangguk tak rela, karena
hari ini sebenarnya mereka sudah membuat rencana untuk pergi ke kafe di dekat
kampus mereka untuk sekedar hangout sepulang
dari kampus. “Baiklah.” Jawabnya pelan, agak kecewa.
***
Sulur-sulur dari tumbuhan dan berbagai
macam lumut tumbuh mengelilingi tepian kolam ikan mini bagaikan hiasan renda
hijau. Terkadang, permukaan air kolam itu beriak kecil karena kibasan ekor
ikan-ikan yang hidup di dalamnya. Sebuah gazebo kecil dari kayu dibangun tak
jauh dari tepi kolam. Junhee duduk di sana, memandangi kolam dengan tatapan
kosong.
“Park Chanyeol! Kau pikir namja di dunia
ini hanya dirimu? Lihat saja, aku pasti mendapatkan pengganti yang lebih baik
darimu!” napasnya terengah, dia kemudian membungkuk untuk mengambil sebuah batu yang lumayan besar dan
melemparnya ke dalam kolam. Seketika itu, ikan-ikan di dalamnya mulai membuat
gerakan kaget yang menyebabkan Junhee terkena cipratan air. “Aissh! Apa yang
kalian lakukan?!” serunya jengkel pada ikan-ikan itu.
“Junhee-ya... apa kau di sana? Ayo
cepat masuk, Eomma sudah menyiapkan makan malam untukmu.”
Junhee mengangguk dan membalas seruan
Eomma-nya, “Ne. Aku akan ke ruang makan segera!”
“Tadi Baekhyun menelepon.” Tutur
Eommanya saat Junhee muncul dari balik pintu ruang makan.
Junhee duduk di kursi di seberang
Eommanya, “Dia bicara apa, Eomma?”
“Dia bilang dia akan datang menjemputmu
sekitar jam delapan. Tapi saat Eomma tanya mau ke mana, dia hanya menjawab ‘suatu tempat’.”
“A, geuraeyo. Aku akan bersiap-siap
sekarang.” kata Junhee lalu beranjak dari posisinya dan naik ke lantai atas
menuju kamarnya.
“Apa kau tidak mau makan dulu?” seru
Eommanya.
Junhee menengok ke arah Eommanya di
bawah dan berseru, “Nanti saja. Aku akan makan di luar bersama Baekhyun.”
“Aigo...dasar anak muda.” Gumam Eomma
Junhee seraya menggelengkan kepalanya.
Junhee mengambil setelan dress biru
dan cardigan putih dari dalam lemarinya dan memakainya. Tak lupa, dia memoles
wajahnya dengan makeup tipis yang membuatnya terlihat natural tapi cantik. Dia
kemudian mengambil sepasang high heels
favoritnya yang akan membuat tinggi tubuhnya sejajar dengan Baekhyun jika dia
memakainya.
“Sehun-a, aku terlihat cantik, kan?”
tanyanya pada poster yang tertempel di dekat ranjangnya sambil bergaya dengan
mengangkat ujung dress-nya dan berputar beberapa kali.
Junhee tersenyum senang melihat
pantulan dirinya di cermin. Lalu, dia pun teringat pada Baekhyun yang akan
menjemputnya jam delapan. Dia melihat jam di atas mejanya dan mendesah,
“Yaaah... masih satu jam lagi. Sebaiknya aku menelepon Baekhyun sekarang.”
“June, ada apa?” suara di seberang
sana terdengar sangat akrab di telinganya.
“Baekhyun-a! Kita ke sana sekarang
saja, OK? Aku bosan di rumah.”
“Ah, baiklah kalau itu maumu. Dalam
tiga menit aku akan sampai di rumahmu. Jadi tunggu aku di depan rumah, arra?”
“Eo, arratta.” Jawab Junhee senang.
“Kkeunheo.”
***
“Aku akan memesan makanan dan minuman.
Sementara kau carikan kursi untuk kita. Kau pesan seperti yang biasanya kan?”
kata Baekhyun saat mereka memasuki kafe yang cukup ramai itu.
Junhee mengangguk, “Eung, aku mau yang
seperti biasanya.”
Baekhyun kemudian segera berjalan menuju
bar sambil mendendangkan lagu. Junhee mencarikan kursi untuk mereka duduki.
Akhirnya, Junhee menemukan sebuah sofa kosong di salah satu sisi kafe—di dekat
panggung. Baru saja dia duduk di sofa itu saat seorang yeoja—yang menurut
Junhee cukup cute—menepuk pundaknya
pelan. “Chogiyo—permisi...”
Junhee mendongak ke arah yeoja itu,
sedikit terkejut.
“Apa namja itu namchi-mu?” tanya yeoja
itu padanya.
Junhee mengikuti arah pandang yeoja
itu dan sudah bersiap menjawab bahwa dia tidak mengenal namja yang dimaksud
olehnya. Namun, Junhee menyadari bahwa namja yang dimaksud yeoja itu adalah
Baekhyun. Sahabatnya itu kini tengah berjalan menuju ke arahnya sambil membawa
pesanan mereka berdua. “Aniya. Dia temanku.” Jawab Junhee.
Wajah yeoja itu langsung berseri. “Neomu
kwiyeopta—dia sangat imut. Apa dia punya yeochi?”
Junhee mengernyit, lalu menjawab
dengan ragu-ragu. “Eopseoyo...”
“Bolehkah aku meminta nomor
ponselnya?” yeoja itu meminta dengan wajah penuh harap.
Junhee selamat dari menjawab
permintaan yeoja itu berkat kedatangan Baekhyun. Yeoja itu buru-buru pergi saat
Baekhyun meletakkan pesanannya di meja. Baekhyun kemudian duduk di samping
Junhee dan berkata, “Ini choco bagel
kesukaanmu. Makan yang banyak, aku tahu kau belum makan apa-apa setelah makan
es krim tadi.”
Junhee berusaha menyembunyikan
senyumnya saat menatap Baekhyun. Selama empat belas tahun bersahabat dengannya,
dia tidak pernah memikirkan apakah Baekhyun itu imut atau tidak, tampan atau
tidak. Junhee berpikir kalau Baekhyun memiliki mata hitam yang sangat indah.
Dia terlihat sangat keren, apalagi saat eyeliner
hitam membingkai matanya seperti saat ini. Wajahnya juga sangat imut,
bahkan terkadang terlihat seperti anak kecil.
“Kenapa memandangiku? Apa ada sesuatu
di wajahku?” kata Baekhyun.
Aku
harus memberitahunya, batin Junhee,
tapi ada desakan dalam dirinya untuk tidak melakukan hal itu. Isanghae—ini aneh. Kalau aku tidak memberitahunya, berarti aku bukan sahabat yang baik
untuknya.
“Jangan melihat ke arahnya, tapi yeoja
itu berpikir kalau kau imut,” bisiknya pada Baekhyun.
Mata Baekhyun melirik untuk melihat
yeoja itu. “Yeoja yang memakai dress pink itu?”
Junhee mengangguk lalu menelan bagelnya semulut penuh, tampak sekali
dia sudah kelaparan beberapa jam terakhir ini.
Wajah Baekhyun mengeras, dia tampak
kaku. “Dari mana kau tahu itu? Dan...kenapa kau berpikir begitu?”
Junhee membuka mulutnya yang penuh
untuk menjawab, tapi terpotong oleh seseorang yang tiba-tiba menghampiri
dirinya dan Baekhyun.
“Byun Baekhyun! Apa kau bersedia
membantuku? Ini benar-benar gawat...” kata seorang namja yang dikenal mereka sebagai
Jongin. Dia adalah orang yang ditugaskan oleh pemilik kafe untuk mengatur kafe
ini.
“Membantu? Membantu apa?” tanya
Baekhyun dengan sebelah alis terangkat.
“Band yang mengisi panggung hari ini tidak
bisa datang. Bisakah kau menggantikannya untukku?” Jongin memandang Baekhyun
dengan tatapan memohon, “Jebal! Ddak hanbeonman—satu kali ini saja...”
Junhee dan Baekhyun saling tatap.
Junhee kemudian mengangguk, mengisyaratkan pada Baekhyun untuk menyetujuinya.
“Baiklah, aku akan mengisinya. Tapi
hanya untuk satu lagu.” Baekhyun beranjak dan berjalan menuju panggung.
Jongin langsung berbinar melihatnya,
“Gomawo~!” serunya pada Baekhyun sambil membuat bentuk love dengan kedua tangannya. Junhee pun langsung terkekeh melihat
tingkah Jongin.
“Eum, annyeong haseyo. Byun Baekhyun
imnida.” Kata Baekhyun sambil membungkukkan badannya untuk mmeberi hormat, lalu
duduk di kursi piano di panggung itu.
Alunan nada-nada piano yang lembut
segera menggema ke seluruh penjuru kafe, membuat semua orang yang ada di sana
menghentikan aktivitasnya dan menonton pertunjukan Baekhyun dengan tatapan
kagum. Junhee tersenyum memandangi Baekhyun dan namja itu pun membalas
tatapannya dari balik piano.
Senyuman tak
pernah lepas dari wajah Baekhyun, perlahan dia menarik napas dan mulai
bernyanyi.
Breathlessly, I love you, I only love you. My heart
that looks toward you is burning. We’re not friends, we’re not lovers—it hurts and I cry. My heart
cannot be hidden- it’s getting bigger- it hurts. If you
are tired and exahusted and you need someone else.
I will be there, I’ll treat you well so you can rest.
I will stand behind you, I’ll
look at you alone—the love
of a friend. Though I
try to erase, I cannot erase... (UKISS – Love of a Friend)
Suasana
hati Junhee tiba-tiba membaik setelah mendengar Baekhyun bernyanyi. Suara merdu
sahabatnya itu selalu mampu menenangkan hatinya. Walau lagu yang dibawakannya
bukanlah lagu yang ceria, tapi itu cukup indah menurut Junhee. Dia jadi lega
karena sudah bisa sedikit melupakan Chanyeol yang dengan kejam telah selingkuh
darinya.
***
“Byun
Baekhyun! Neoneun jjang—kau keren!” seru Junhee saat Baekhyun berjalan ke
arahnya setelah turun dari panggung.
“Jinjjaya?”
tanya Baekhyun dengan senyum lebar.
Junhee
memberikan dua jempolnya pada Baekhyun. “Eung~ meosisseo—keren!”
Baekhyun
kemudian duduk dan kembali menikmati kopi americano-nya.
Junhee menatap Baekhyun lekat-lekat. “Omong-omong, tentang yeoja yang tadi
berpikir kau imut...”
“Lupakan tentang itu,” potong Baekhyun.
Junhee mengerjapkan mata beberapa kali karena terkejut. “Ada sesuatu yang ingin
kubicarakan denganmu.”
“Sesuatu? Tentang apa?” Junhee
langsung bertanya.
“Ini tentang yang kita bicarakan
tadi—saat kita di mobil. Tentang aku yang tidak punya yeochi...”
“Oh, tentang itu.” Junhee mengangkat
bahunya. “Kenapa kau tidak mengencani salah satu yeoja di kelas kita?
Contohnya... Sulli. Dia sangat imut, pintar dan ada rumor yang mengatakan jika
dia menyukaimu.”
“Sirheo—aku tidak mau.”
“Wae?” tanya Junhee, dia tiba-tiba
merasa kesal. “Kau tidak suka yeoja yang sempurna seperti dia?”
“Geuge anira—bukan seperti itu.”
Sanggahnya cepat. Wajahnya tampak gelisah. “Aku tidak bisa mengencani Sulli
atau siapapun karena itu takkan adil baginya nanti.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena aku sudah memiliki seseorang
yang kusukai.” Jawab Baekhyun, wajahnya memucat karena gelisah.
Junhee mengernyit, dia heran kenapa
menyukai seseorang bisa membuat sahabatnya itu tampak begitu gelisah. “Jadi
siapa dia?” tanya Junhee. Dia baru saja ingin menambah pertanyaan bagi Baekhyun
saat dia mendengar suara seorang namja batuk-batuk dengan keras dari arah
belakangnya. Itu batuk mengejek, semacam bunyi yang dikeluarkan oleh seseorang
saat dia menahan untuk tidak tertawa keras.
Junhee berbalik.
Duduk di sofa yang berjarak beberapa
meter darinya, ada namja jangkung berambut pirang itu. Dia mengenakan kemeja
kotak-kotak warna biru muda berlengan panjang. Pergelangan tangannya dililiti
beberapa gelang hitam. Namja itu sedang menatapnya. Ujung kanan bibirnya
terangkat, dia terlihat senang—atau lebih tepatnya, dia tampak sedang mengejek
Junhee.
“Ada apa?” tanya Baekhyun.
Junhee diam dan terus memandangi namja
jangkung itu yang tiba-tiba berdiri lalu melambaikan tangannya ke arah Junhee.
Dia pergi begitu saja.
“Junhee-ya, apa ada masalah?” tanya
Baekhyun sambil menepuk pelan pundak Junhee.
“Eum... tunggu di sini. Aku akan
segera kembali.” Junhee buru-buru mengejar namja itu, meninggalkan Baekhyun
yang terdiam sambil memandanginya. Siapa
namja itu?
***
Junhee menyerbu keluar kafe, dia takut
namja itu telah lenyap. Tapi ternyata dia masih ada di sana. Namja itu
bersandar di dinding luar kafe, tampak sedang menelepon seseorang. Dia
mendongak terkejut saat melihat Junhee sudah berdiri di hadapannya.
Namja itu buru-buru memasukkan
ponselnya ke kantung celana jeans. “Suara temanmu itu cukup bagus—menurutku.”
“Tidak hanya cukup, tapi memang bagus.” Junhee mengoreksi perkataan namja itu.
“Aku mau tahu, kenapa kau mengikutiku ke sini? Jangan-jangan kau mencari korban
lain setelah aku?”
“Eo? Mengikutimu? Kata siapa aku
mengikutimu?” namja itu mengangkat sebelah alisnya. “Dan apa kau bilang?
Korban? Korban apa?”
“Ya, byeontaeya! Kau pasti sedang
mencari yeoja dengan ujung rok terangkat sepertiku tadi kan?”
“Sudah kubilang aku bukan byeontae. Aku
punya nama dan namaku, Kris.”
“Aku tak peduli siapa namamu, kau
lebih pantas dipanggil byeontae!”
“Terserah apa katamu.”
“Melihat pantat seorang yeoja,
tidakkah kelakuan seperti itu perlu kaubenahi,eo?”
“Kau pikir aku ingin melihatnya? Itu
sudah jelas kesalahanmu. Kau sendiri yang membiarkan rokmu...”
“Dwaesseo—lupakan. Dwaesseo...” Potong
Junhee.
Namja itu kemudian tersenyum
merendahkan, lalu tiba-tiba berkata, “Kau dan temanmu itu terlihat sangat
menggelikan.”
“Mwo?”
“Tak ada orang yang lebih bodoh dari
kalian.”
“Kau pikir kau begitu pintar?” kata
Junhee. “Kurasa itulah sebabnya kau menertawai kami tadi.”
“Tadi aku tertawa karena pernyataan
cinta itu begitu menggelikan, apalagi kalau tidak terbalas.”
“Musun soriya—apa maksudmu?”
Kris mengangkat sudut kanan bibirnya
lagi. “Sudah kuduga, kau tidak akan menyadarinya—bodoh.”
“Ya, byeontae! Bicaralah yang jelas!”
seru Junhee kesal.
Baru saja Kris ingin menyanggah
Junhee, seorang yeoja mabuk terjatuh di depan mereka sambil meracau tidak
jelas. Tak lama setelah itu, dua polisi dan seorang namja datang menghampiri
yeoja itu.
“Ya! Cepat bangun!” gertak namja itu
pada yeoja mabuk tersebut.
“Wae? Apa aku memalukan?! Aku
memalukan?!!” yeoja mabuk itu menatap ke arah namja itu dengan pandangan benci,
lalu menendang-nendang dengan kasar, menolak diamankan oleh polisi.
“Aissh, sangat memalukan!! Benar-benar
membuat malu!” namja itu menatap yeoja mabuk itu dengan jengkel, “Masih tidak
bangun? Apa kau sudah bosan hidup, eo?!”
“Mwo? Aku tidak akan mati!” yeoja
mabuk itu terus saja mengamuk dan hal itu membuat hampir seluruh pengunjung
kafe—termasuk Baekhyun—keluar untuk melihat keributan yang terjadi.
Yeoja itu mendongak, menatap ke arah
namja itu. “Berani-beraninya kau membuangku! Kau pikir kau siapa?!”
Namja itu menghembuskan napas dengan
kesal.
Junhee mendekati yeoja yang tengah
mabuk itu tanpa rasa takut, setelah dia melihat polisi sudah tidak bisa
menanganinya. “Bangunlah, nyonya.” Kata Junhee pada yeoja itu.
“Memangnya siapa kau?!” yeoja itu menatap
wajah Junhee lekat-lekat dan mulai menendang-nendang seperti anak kecil lagi.
“Kau pikir kau siapa bisa begitu cantik?!”
Yeoja itu menoleh pada namja yang
bersamanya. “Oppa! Apa kau pikir dia lebih cantik dariku?”
“Aissh, jinjja! Aku bisa gila karena kau!”
seru namja itu jengkel sambil meremas rambutnya. Dia kemudian meminta polisi
untuk membawa yeoja itu pergi. Junhee kesal melihat kelakuan namja itu dan
berjalan menghampirinya. “Kau tidak seharusnya memerlakukannya seperti ini! Dia
jadi seperti ini juga karena dirimu!!”
Junhee kembali berjongkok di depan
yeoja mabuk itu, “Apa dengan mabuk seperti ini masalahmu akan selesai? Atau
jangan-jangan kau masih berharap untuk memulai lagi dengannya?! Masih
mengharapkan hubungan?!
“Aniyo. Aku mabuk karena dulu dia
berkata padaku jika aku terlihat cantik saat mabuk seperti ini.”
“Hal apapun akan dikatakan oleh namja
saat mereka ingin merayu yeoja.”
“Kenapa dia harus beralasan? Kenapa
dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya? Dia mempunyai yeoja lain di
belakangku!” katanya sambil menunjuk namja—yang sekarang terlihat sangat malu.
“Mana ada namja yang mengatakan
kebenaran?” kata Junhee, lebih kepada dirinya sendiri.
“Benarkah? Lalu kenapa dia bisa bosan
denganku?” rengek yeoja mabuk itu. Kata-katanya kali ini mampu membuat Junhee
terdiam. Dia memikirkan kata-kata itu dan mengulangnya, Chanyeol... Kenapa dia bisa bosan denganku?
“Bagaimana bisa kau berpikir seperti
itu?” suara namja yang terdengar berat ikut menginterupsi pikiran Junhee. Kris.
Namja itu kini sedang berjongkok di sebelahnya sambil meemandangi yeoja mabuk
itu. Junhee ikut menatap Kris, memerhatikan tiap kata yang keluar dari mulut
namja itu.
“Kurasa itu bukan karena dia bosan
atau apa. Itu hanya karena... hatinya bukan menjadi milikmu lagi.”
“Benarkah karena itu?” tanya yeoja
mabuk itu, pertanyaan yang sama yang ingin diajukan oleh Junhee.
Kris mengangguk pelan sambil
tersenyum. Yeoja mabuk itu seperti terbius oleh senyuman dan tatapan Kris.
“Jadi, kau tidak perlu mengutuk dirimu sendiri atau orang lain. Pulanglah,
mandi dan tidur. Setelah itu, kau hanya perlu tidur sampai namja lain datang di
hidupmu.”
Junhee terpaku mendengar kata-kata
Kris, “Benarkah?”
“Jeongmal?”
“Eum...jeongmal.” Kris tersenyum lalu
menyentil kening yeoja itu pelan. Junhee kemudian teringat saat Kris juga
melakukan itu padanya, dia mendadak tersenyum sendiri mengingat peristiwa itu.
Kris beranjak dari posisinya, dia
mengulurkan tangannya pada yeoja mabuk itu. Setelah itu, dia menyerahkannya
pada namja tukang selingkuh yang dari tadi hanya bisa mengumpat dan berdiri
kaku. Kris menoleh pada Junhee, lalu tersenyum. Junhee tak tahu pasti arti
senyuman itu. Mereka pun saling pandang untuk beberapa saat sampai akhirnya
Baekhyun menepuk pundak Junhee pelan lalu membantunya berdiri.
“Gwaenchanna?” tanya Baekhyun.
Junhee mengangguk pelan. Dilihatnya
dari sudut mata, Kris melangkah menjauh dari mereka berdua. “Gwaenchanna...”
jawabnya pelan pada Baekhyun.
“Mau pulang sekarang?” tanya Baekhyun
lagi.
“Terserah padamu. Kau yang punya
mobil.”
“Kau ini...” Baekhyun merangkul Junhee
dan mengajaknya berjalan menuju mobil. “Kalau mau pulang, bilang saja. Seperti
bukan dirimu saja.”
***
Junhee masuk ke dalam kamarnya dan segera
mengganti dress yang membungkus tubuhnya dengan baju piyama. Setelah mematikan lampu,
dia duduk di ranjangnya sambil memandangi poster besar Sehun yang ditempelnya
di dekat pintu ranjang. Lalu, dia merasa Sehun dalam posternya itu hilang dan
kini duduk di sebelahnya. Junhee menoleh pada Sehun dan bertanya, “Apa benar
jika aku hanya perlu tidur sampai namja lain datang di hidupku?”
Sehun tersenyum dan mengangguk pelan.
“Jika kau juga berpikir seperti itu, maka
aku akan tidur sekarang.” Kata Junhee, dia lalu membaringkan tubuhnya.
Sosok Sehun yang tadi juga duduk di
ranjangnya, kini sudah kembali ke tempatnya—poster. Junhee memandang ke atas.
Di eternit kamarnya juga ada poster Sehun. Dia memang sengaja memasangnya di
sana agar dapat memandang wajah idolanya itu sebelum tidur. Kelihatan bodoh
memang, tapi dia percaya jika bukan hanya dia yang seperti itu di dunia. Hampir
seluruh sudut kamarnya terisi dengan pernak-pernik tentang Sehun, seperti mug,
kalender, foto dan benda-benda lainnya.
“Sehuna-a, jalja—tidur yang nyenyak...”
ucapnya pelan pada poster itu.
Junhee menutup matanya. Saat dia sudah
jatuh tertidur, dia mendengar gema kata-kata Kris di benaknya. Kau hanya perlu tidur sampai namja lain
datang di hidupmu.
“Meskipun aku tidak tahu siapa itu,
tapi cepatlah datang.” Junhee berkata pelan dalam tidurnya.
***
Kantin Institut Seni Seoul memang
selalu penuh. Ukurannya sangat besar, sehingga bisa menampung banyak mahasiswa.
Interiornya nyaman dan terkesan anak muda banget,
hampir seperti kafe. Para pegawainya ramah dan memakai celemek warna biru muda
sebagai seragamnya. Menunya begitu mengesankan dan enak dengan harga
terjangkau.
Junhee duduk di tengah-tengah kantin,
dia sedang menunggu Baekhyun yang katanya dipanggil oleh Lim Gyosunim untuk
membahas tentang acara tahunan kampus mereka. Yah, Baekhyun memang mahasiswa
kesayangan Lim Gyosunim karena suaranya yang sangat powerful dan indah itu. Junhee menyesap caramel macchiatonya pelan sambil menulis sesuatu di buku yang tiap
hari selalu dibawanya. Itu buku musik, dia menulis semua lagu ciptaannya di
sana.
Tiba-tiba, saat dirinya sedang asik
merangkai nada yang sekiranya indah, seseorang datang dan mengambil gelas macchiatonya. Junhee mendongak dan
menatap orang di hadapannya dengan tatapan jengkel. Damn, kenapa orang aneh ini bisa ada di sisni?
“Ini lumayan enak.” Katanya sambil memandangi
dan menimang-nimang gelas macchiato Junhee.
“Apa kau tidak punya uang untuk
membelinya sendiri?” tanya Junhee sarkastik.
“Eung~ eopseo.” Kris dengan enteng
lalu meletakkan gelas itu kembali ke tempatnya. Dia kemudian duduk di samping
Junhee.
“Siapa bilang kau bisa duduk di sini?”
“Aku yang bilang.”
Junhee berdiri, tatapannya tampak
berapi-api karena kekesalan yang memuncak. “Neo! Na johahaseyo—apa kau
menyukaiku?”
Kris diam dan memandangi wajah kesal
Junhee dengan tatapan tanpa dosanya.
“Seperti inikah caramu mengungkapkan
perasaanmu? Ini tak ada gunanya.” Junhee kemudian merapikan barang-barangnya
dan memasukkannya ke dalam tas, lalu berpindah ke meja lain.
Kris mengikutinya, tapi kali ini dia
duduk berhadapan dengan Junhee. “Apa yang harus kulakukan? Kau bukan tipe yang kusuka.”
“Kau juga bukan tipeku.” Junhee
mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Baekhyun agar sahabatnya itu cepat
datang.
“Geundae, wae jakku banmal—tapi kenapa
kau selalu menggunakan bahasa tidak formal padaku?” Junhee melotot pada Kris. Perlahan
namja itu berdiri, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Junhee hingga jarak wajah
mereka hanya beberapa senti. Junhee memundurkan wajahnya. Kris dengan santainya
mendekatkan wajahnya lagi pada yeoja itu. Kris kemudian menatap bibir dan mata
Junhee secara bergantian selama beberapa saat dan berkata, “Kau cukup manis...”
Wajah Junhee merona, pipinya mendadak
terasa panas. Dia segera mengalihkan pandangannya dan memalingkan wajah.
“Wah... wajahmu memerah.” Kata Kris
dengan maksud mengejek. “Mungkinkah kau menyukaiku?”
Bibir Junhee menipis, wajahnya
terlihat berang. “Ini karena udara di sini panas.” Katanya sambil mengipasi
wajah dengan buku musiknya dan memegangi pipinya sesekali.
“Begitukah?” tanya Kris dengan wajah
menyebalkannya. “Ah, baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok...” dia pergi
dengan senyuman khasnya lalu melambai singkat ke arah Junhee.
Junhee menghembuskan napas panjang
saat namja itu menghilang dari balik dinding. “Bagaimana bisa...” bibirnya
kembali menipis. “Memandangku dari jarak sedekat itu. Jika itu terjadi padanya,
wajahnya juga pasti akan memerah!!!”
“Ya! Wae geurae?” tanya suara yang
sudah sangat akrab di telinga Junhee.
“Byun Baekhyun, kenapa kau lama
sekali? Aku bisa gila!”
Baekhyun duduk di hadapan Junhee.
“Wae? Apa ada seseorang yang mengganggumu?”
“Eo. Dia byeontae yang kuceritakan
itu.”
“Kenapa dia ada di sini?”
“Jangan bilang kalau dia...”
“Kuliah di sini.” Baekhyun melengkapi
kalimat Junhee.
“Oh, crap!” seru Junhee sebal.
“Sudahlah. Jangan dipikirkan.” Kata
Baekhyun, bermaksud menenangkan.
“Bagaimana tadi?” tanya Junhee.
“Oh, tentang acara tahunan kampus?”
Junhee mengangguk.
“Aku diminta Gyosunim untuk mengajak
salah satu teman dari jurusan kita duet di acara itu. Dan aku sudah memutuskan
siapa yang akan menemaniku menyanyi.”
“Eh? Secepat itukah kau memutuskan?”
Baekhyun mengangguk dengan mantap
sambil tersenyum.
“Lalu siapa dia?”
“Kau.”
“Ya! Bagaimana bisa itu aku?” protes
Junhee.
“Kau memiliki bakat yang hebat.
Suaramu bagus, kau juga pandai menciptakan lagu.”
“Sirheo—aku tidak mau. Kau bisa
menggunakan lagu ciptaanku. Tapi untuk menyanyikannya di panggung, aku tidak
bisa melakukannya.”
“Baiklah jika itu kemauanmu. Tapi
masalahnya...dengan siapa aku nanti akan menyanyi di acara itu?” Baekhyun
tampak kecewa dengan keputusan yang dibuat Junhee.
“Mianhae...” kata Junhee pelan. “Eum,
bagaimana jika kau mengajak Jieun saja?”
“Jieun? Si pendiam yang misterius
itu?” Baekhyun tercengang mendengar saran Junhee.
Junhee mengangguk. “Ada sebuah rumor
yang mengatakan bahwa sebenarnya dia memiliki suara emas. Rumor itu juga
mengatakan bahwa tiap selesai kegiatan di kelas, dia selalu berlatih di ruang teater.
Aku penasaran apa rumor itu benar. Bagaimana kalau kita mengeceknya sendiri
untuk memastikan?”
“Maksudmu... kita pergi ke ruang teater
sekarang?”
“Ye. Kaja!” Junhee bangkit dari posisi
duduk lalu menggamit lengan Baekhyun dan menariknya ke ruang teater.
***
Baekhyun dan Junhee mengendap-endap
lalu mengintip dari balik pintu ruang teater yang sedikit terbuka. Di sana, di
atas panggung, berdiri seorang yeoja yang tingginya kira-kira sama dengan
Junhee. Rambutnya hitam panjang dan sedikit bergelombang, cocok sekali dengan
wajahnya yang kalem dan terlihat sangat imut. Yeoja itu tampak sedang melakukan
pemanasan vokal.
Junhee melirik ke arah Baekhyun.
“Sebentar lagi dia akan menyanyi...” bisiknya.
“Eung, arra.”
Tepat setelah Baekhyun membalas
kata-kata Junhee, suara merdu dan bernada tinggi mulai terdengar dari dalam
ruangan itu. Baekhyun dan Junhee terdiam, mendengarkan baik-baik kualitas suara
itu.
“Benar-benar emas, seperti yang kau
katakan.” Kata Baekhyun dengan setengah berbisik tanpa mengalihkan pandangannya
dari sosok Jieun. Dia sangat kagum pada suara Jieun yang lembut dan menenangkan
itu.
“Rumor itu benar-benar terbukti. Tapi
yang membuatku heran, kenapa dia tidak pernah menunjukkan bakatnya itu pada
orang lain?”
“Yaaah, kurasa alasannya sama dengan
alasan seseorang yang kukenal.” Sindir Baekhyun.
“Ya! Itu tidak sama!” seru Junhee,
lalu kemudian dia menutup mulutnya karena dia tahu Jieun mendengar suaranya.
“Nuguya?” tanya Jieun sambil melihat
sekelilingnya.
Baekhyun menarik Junhee untuk tidak
melanjutkan kegiatan mengintai mereka.
“Itu tidak sama.” Ulang Junhee saat
mereka berjalan menuju tempat parkir.
“Arra—aku tahu. Tanpa kau beri tahu
pun aku sudah tahu alasannya. Aku kan mengenal dirimu luar dalam.” Baekhyun
tersenyum dan menepuk pundak Junhee pelan lalu merangkul yeoja itu sambil
berjalan.
***
Malam
harinya, Junhee pergi ke kafe langganannya sendirian tanpa ditemani Baekhyun
seperti biasanya. Setelah mendapatkan pesanannya—choco waffle dan hot choco—dia
duduk di sebuah sofa di pojok ruangan kafe itu. Lama sekali dia hanya diam di
sofa itu tanpa melakukan aktivitas apapun selain bernapas. Sesekali dia menarik
napas panjang. Dia kemudian mengambil ponsel di tasnya dan mengecek apakah ada
pesan atau telepon yang masuk. Seperti yang telah ditebaknya, tak ada satu pun
pesan atau telepon untuknya. Dia pun menghela napas panjang lagi.
Tanpa
diketahuinya, ada seorang namja yang sedari tadi mmeperhatikan tingkahnya dan
tersenyum dalam diam.
Junhee
kemudian menelepon Baekhyun. “Eo? June... wae geurae?” tanya suara di seberang
sana.
“Geunyang
aniya—tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menelepon seseorang.”
“Mwo?
Apa sesuatu terjadi lagi?”
“Aniya,
tidak ada...”
“Pasti
sesuatu telah terjadi.”
“Kubilang
tidak ada.”
“Kutahu
pasti ada.”
Junhee
menaikkan nada suaranya. “Aku bilang tidak ada. Kenapa kau bertanya terus?”
“Lebih
baik kau istirahat. Tenangkan pikiran dan hatimu, ne?” kata Baekhyun penuh perhatian.
“Eo.
Keunho!” Junhee menutup teleponnya, pandangannya kini kosong.
“Aku...
Sebenarnya aku ingin ikut mengisi acara tahunan itu, apalagi jika berduet
dengan Baekhyun. Tapi... aku tidak bisa, ada Chanyeol juga di sana. Aku tidak
mau jika harus melihatnya di setiap latihan acara itu. Jujur, aku masih
memiliki rasa sayang padanya. Mana mungkin aku bisa melupakannya dalam waktu
dua atau tiga hari?” Junhee menangis. “Aku benar-benar benci pada diriku yang
seperti ini. Tapi apa yang harus
kulakukan? Aku tak bisa mengelak dari perasaan ini.” Dia kini mulai terisak
hebat. Dalam sela isakannya, dia mengambil waffle
yang dipesannya dan menggigitnya dengan kalap.
Lalu
tiba-tiba waffle di tangannya lenyap
begitu saja karena direbut oleh seseorang. Isakan Junhee segera berhenti karena
kaget. Dia menoleh ke arah orang itu. “Sekarang apa lagi?”
“Aku
yang traktir. Makanlah yang kau suka.” Kata Kris, lalu duduk di sebelah Junhee.
“Siapa
yang akan mengatakan ‘tidak’ untuk itu?” kata Junhee, dia kemudian memesan
menu-menu dengan harga termahal di kafe itu.
“Eum,
selera makanmu bagus juga.”
“Untuk
seseorang yang baru saja kukenal, kau cukup baik karena mau menraktirku makan.”
Kata Junhee lagi, tidak dengan maksud memuji.
“A,
geurae?” Kris menatap Junhee lalu tersenyum lebar pada yeoja itu.
Junhee
memutar bola matanya. “Omo—Ya Tuhan. Apa kau benar-benar berpikir jika kau
tersenyum padaku, maka aku akan terpesona?”
“Apa
kau terpesona padaku?” mimik wajah Kris berubah menjadi serius, tapi kemudian
kembali seperti biasa lagi.
“Apa
kau khawatir aku akan menyukaimu?”
Kris
mengangguk menanggapi pertanyaan Junhee.
Junhee
tersenyum sinis dan menatap Kris seolah berkata pada namja itu, kau menggelikan!
“Kenapa
aku harus menyukai namja sepertimu?”
“Apa
yang salah dengan namja sepertiku?”
“Kau
tidak tahu malu, licik dan selalu mengambil keuntungan dari orang lain.”
Kris
hanya mengangkat bahu, lalu tersenyum tanpa dosa.
“Kau
menderita sindrom ‘kepangeranan’ yang membuatmu merasa kalau seluruh yeoja di
dunia ini pasti akan jatuh cinta padamu.”
“Yah,
itu faktanya...” kata Kris santai.
“Dan
kau... memiliki sisi gelap yang bahkan jika kau berusaha menutupinya, aku tetap
bisa melihatnya. Kau! Menjijikkan. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada
namja sepertimu? Sekarang kau sudah tahu alasannya, kan?”
Kris
membeku mendengar kata-kata terakhir yang terucap dari mulut Junhee. Matanya
menatap tajam pada Junhee, membuat yeoja itu sedikit tak nyaman dibuatnya. Ada
rasa marah sekaligus sedih dalam tatap matanya. Keduanya terdiam beberapa saat
sampai akhirnya Kris mulai berbicara lagi.
“Aku
juga tidak akan menyukai yeoja yang tidak menyukaiku.” Katanya tajam.“Menangis
sendirian di kafe karena diselingkuhi seorang namja. Sungguh menyedihkan
melihatnya.”
Junhee
ganti menatap Kris dengan tatapan berkilat.
“Wae?
Sekarang kau merasa sangat malu? Kau merasa seperti sebuah layang-layang yang
terpisah dari benang pengikatnya, kan? Seperti kaktus yang kehilangan
duri-durinya...”
Mata
Junhee memerah, air mata sedikit demi sedikit mulai menggenangi matanya. Dia
kemudian berdiri. “Bagaimana kau tahu aku seperti itu? Ada cara hingga kau bisa
tahu?”
“Aku
hanya menebak.” Jawab Kris, dia kemudian juga berdiri. Tubuhnya menjulang di
hadapan Junhee.
“Menebak?
Kau pasti sangat yakin, mengingat bahwa kau mengucapkannya tanpa basa-basi
seperti itu.”
“Eung~
aku yakin 80% ucapanku benar.”
“Geuraesseo—jadi
begitu?”
Kris
baru saja mengangguk saat tangan Junhee melesat cepat ke wajahnya. Tamparan itu
membuat Kris terhuyung mundur. Dia memegangi pipinya yang kini dihiasi tanda merah
bekas tamparan Junhee.
“Ya!
Untuk apa yang tadi itu?!”
“Yang
20% lagi.” jawab Junhee singkat, lalu berbalik pergi.
***
TBC...