Kamis, 14 Juni 2012

[FF Jo Twins] DANDELION PART 2

Diposting oleh hunhanbuin di 21.33

TITLE                                      : Dandelion
PART TITLE                          : Darkness, a Painful Memory
AUTHOR                                              : Sonia aka. Han Minjee
GENRE                                  : brothership, friendship, romance, dll
CASTS                                   : Yun Jina, Jo Twins, Jo Hyunmin (Jo Twins’s real lilbro), and other casts
BEWARE OF                        : plot gaje, banyak typo, kata-kata yang ambigu, bahasa yang campur aduk.
SBS (Song behind Story):  BEAST (Oasis), Suju (All My Heart), K-Will (My Heart is Beating), F.Cuz (Friend’s Graduation), G.NA (Loving You), Jaejoong (I’ll Protect You), MBLAQ (U & I), B1A4 (Chu Chu Chu), Teen Top (Angel), U-KISS (Love of a Friend), BB. BOYS (We Will be Okay), Infinite (Voice of My Heart), IU (Good Day), Younha (Can’t Believe it.), dll :p
SUMMARY                               :
“dia kehilangan ingatan masa kecilnya. Memori yang dimilikinya saat dan sebelum berumur 12 tahun hampir semuanya menghilang.Saat dia berumur 12 tahun, dia mengalami amnesia karena trauma dan shock berat.”
“Peristiwa…? Peristiwa apa yang membuat Youngmin begitu berubah? Peristiwa macam apa yang bisa mengubah kepribadian seseorang yang ceria menjadi emosional seperti itu? ”





HAPPY READING…. ^^





Matahari baru saja menampakkan diri dengan senyuman cahaya kuningnya di ufuk timur, sinarnya pun menerobos masuk ke kamar Jina lewat ventilasi jendela kamar. Yeoja itu terlihat menggeliat kecil, tampak terganggu dengan sinar matahari yang membuatnya silau. Perlahan yeoja itu membuka matanya dan tersadar bahwa dia mempunyai jadwal kuliah pagi hari itu. Secepat kilat Jina mandi dan berganti pakaian.
Ya, sudah seminggu sejak dia kuliah di Seoul Institute of the Art atau lebih mudah disebut Institut Seni Seoul. Jina memutuskan untuk mengambil bidang fotografi, sama seperti Youngmin. Sedangkan Kwangmin mengambil bidang ilmu modern dance. Walaupun satu kelas dengan Youngmin, hubungan Jina dengan namja itu masih saja seperti dulu, tidak bisa akur. Jina sendiri tidak terlalu peduli dengan hal itu, karena dia sudah merasa bahagia bisa lebih dekat dan dekat dengan Kwangmin. Meskipun begitu, Jina belum berani mengungkapkan perasaannya pada Kwangmin, walau sepertinya namja itu juga menyukainya.

Jina keluar dari kamarnya dan berlari ke bawah untuk sarapan.
“Neulki-ya, apa Kwangmin dan Youngmin sudah siap berangkat?”
“Anieyo. Ini baru pukul 07.00 pagi, Jina-ya. Doryeonnim belum turun.”
“mworago? Masih pukul 07.00?”
“ye.” Jawab Neulki singkat sambil membantu Eomma-nya memasak. Keluarga Neulki memang bekerja di rumah Jo Sajangnim.
Jina menggaruk-garuk kepalanya sambil berlalu dari dapur, “Aissh~ aku kira aku sudah terlambat…”
Jina berjalan menuju halaman belakang rumah keluarga Jo. Jina berjongkok di depan sepetak tanah yang ditanami sekelompok dandelion. Dia tersenyum teringat saat dia dan Kwangmin diam-diam mengambil bunga dandelion dari bukit di belakang gedung kampus mereka lalu menanamnya di halaman belakang rumah. Namun tiba-tiba Jina teringat pada Neneknya di desa yang mungkin sedang bekerja di ladang pagi-pagi seperti ini. “Haaaa~ sudah dua minggu lebih aku tidak melihat Nenek. Aku benar-benar khawatir.”
Jina mengambil sebatang Dandelion, “Aku harap nenek selalu sehat dan bahagia di desa…”. Setelah mengucapkan harapannya, dia pun meniupnya.

“Ucapkanlah harapanmu, lalu tiuplah sebatang Dandelion. Harapanmu pasti akan terkabul…” itulah kata-kata Kwangmin saat mereka berdua menanam Dandelion bersama.

Setelah melakukan semua itu, Jina pun kembali ke ruang makan. Dilihatnya Kwangmin, Youngmin dan Hyunmin sudah duduk manis di tempat duduk mereka.
“Annyeong yeorubun~” sapa Jina sambil memasang senyum termanisnya.
“Annyeong~” balas Hyunmin dan Kwangmin bersamaan.
Sedangkan Youngmin hanya diam dan sedikit melirik ke arah Jina.
Setelah sarapan, Jina pun masuk ke mobil Kwangmin dan berangkat ke kampus.

%%%

Udara mulai panas, kelas yang diikuti Jina dan Youngmin pun sudah selesai. Tiba-tiba Youngmin berjalan ke arah Jina yang tengah merapikan buku-bukunya lalu meletakkan sebuah poster di bangku yeoja itu.
Jina mengerutkan keningnya, “ige mwoya?”
Youngmin menggerakkan dagunya, member isyarat pada Jina untuk membaca poster itu.
“Kompetisi Fotografi tingkat Nasional?”
“O. bagaimana kalau kita berkompetisi?”
“geundae-----tapi…”
Youngmin tersenyum meremehkan, “Apa kau tidak yakin dengan kemampuanmu? Berarti benar dugaanku bahwa kau masuk Fotografi hanya untuk main-main.”
Jina tidak terima dengan kata-kata Youngmin, “Ani. Tentu saja aku yakin. Aku akan mengikuti kompetisi ini dan aku yakin aku akan menang darimu.”
“Baiklah. Tapi, jika kau kalah…” Youngmin menggantung kata-katanya, membuat Jina semakin jengkel dan tidak sabar.
“ne?”
Youngmin menjentikkan jarinya, “Kau harus menjadi budakku sampai aku bosan, begitupun sebaliknya. Otte?”
“O! lihat saja, pasti aku yang akan menang!” seru Jina penuh emosi.

Setelah Youngmin pergi dan menghilang di balik pintu, Jina baru sadar akan kebodohan yang baru saja dilakukannya. “Aissh~ mana mungkin aku bisa menang dari namja itu?”

Jina berjalan sendiri menuju perpustakaan, tak henti-hentinya dia merutuki kebodohannya. Kenapa dia mau saja diajak bertaruh oleh Youngmin. Padahal dia sendiri tau bahwa Youngmin yang akan menang.
“Aissh~! Nan jeongmal jeongmal jeongmal jeongmal babo ijji?” ratap Jina sambil memukuli kepalanya.
Karena tingkahnya itu pula, tak sengaja dia menabrak seseorang.
“ah~ joesonghamnida, joesonghamnida~” Jina membungkukkan badannya berkali-kali pada orang yang ditabraknya.
“Ya! Mwohae-----apa yang kau lakukan?! Dasar, yeoja kampung!” Youngmin mencengkeram kepala Jina, “Kepalamu itu keras sekali ya?”
“Lepaskan kepalaku, Jo Youngmin!! Aku harus ke perpustakaan sekarang!!” seru Jina berusaha melepaskan tangan Youngmin dari kepalanya.
“Mau apa kau ke sana? Mencari materi untuk kompetisi?”

‘Sial! Bagaimana dia bisa tau? kenapa dia selalu bisa membaca pikiranku’ kata Jina dalam hati.

“baiklah, aku juga akan ke perpustakaan. Aku juga memerlukan buku-buku referensi. Aku akan mencarikan buku juga untukmu.”
“Dwaesseo. Aku bisa ke sana sendiri.” Jina melangkah cepat meninggalkan Youngmin.
“YA! YEOJA KAMPUNG!” seru Youngmin.
“gwaenchanna. Aku akan ke sana sendiri,” Jina menoleh ke arah Youngmin yang tengah tersenyum mengejek ke arahnya. Youngmin pun mengarahkan telunjuknya ke suatu arah dan memberi isyarat bahwa Jina sudah salah mengambil arah ke perpustakaan.
“Kalau mau ke perpustakaan, lewat sini, BABO!”
“Aku juga tau itu! Aku hanya sedang mengetes kejelianmu saja!” Sangkal Jina cepat.
Jina berjalan cepat melewati Youngmin yang sedang berjalan ke perpustakaan.
“sekarang kau harus belok kanan~!!” teriak Youngmin dengan nada mengejek.
“aku bilang, aku sudah tau!!!!” balas Jina dengan sengit.

Jina segera mencari buku yang dibutuhkannya dengan indeks. Jari-jari panjangnya menelusuri buku-buku yang tersusun di rak dengan rapi. Tiba-tiba gerakan jari-jarinya terhenti saat dia melihat lewat sudut kanan matanya, sosok yang dia kenal sedang tidur dengan pulas di salah satu bangku perpustakaan. Jina segera mengambil beberapa buku dan duduk di depan Kwangmin yang sedang tidur pulas. Jina memandangi wajah Kwangmin dalam-dalam.
“Hari ini aku bisa memandangimu dari dekat seperti ini… dan aku semakin mengerti alasan kenapa aku bisa menyukaimu…” Jina mengeluarkan kamera digital tua miliknya dari dalam tas dan mengambil foto Kwangmin. Senyum bahagia mengembang di wajah Jina saat memandangi hasil fotonya.
“ckckckck~”
Jina menoleh ke arah suara decakan itu berasal.
“Kau melakukan itu lagi?” youngmin menggeleng-gelengkan kepalanya, “lama-lama kau bisa menjadi stalker sejati.”
“Psssst~ jangan-keras-keras kalau bicara, nanti Kwangmin terbangun.”
“Hyuuuu~~” Youngmin memutar bola matanya, sedikit kesal karena sikap Jina yang dinilainya terlalu berlebihan.
“A~ ne! aku sudah memilih beberapa buku, bagaimana menurutmu? Ini lihatlah.” Kata Jina pada Youngmin dengan berbisik, lalu menyodorkan beberapa buku pada namja itu.
Youngmin melirik buku-buku itu sambil bersedekap,“Biar kutebak.”
“O?”
“Pasti tadi kau mengambil buku-buku ini dengan sembarangan karena melihat Kwangmin di sini kan? Lihatlah buku apa yang kau ambil…”
“Itu semua buku tentang fotografi kok.” Bantah Jina tak mau kalah.
“’Memahami makna lukisan’, ‘Melukis Ekspresi’, bla bla bla…  apa itu semua ada kaitannya dengan fotografi?” Youngmin menghela napas panjang, “bukan hanya hatimu saja, ternyata matamu juga benar-benar sudah dibutakan oleh cinta ya?”
“Hehe, mianhae…” Jina terkekeh dengan wajah lugunya, lalu mengambil buku-buku itu dan mengembalikannya ke rak.

“Ya! Apa kau membawa minuman? Aku haus.” Kata Youngmin.
“Ani…”
“Baiklah, aku membeli minuman dulu. Nanti baru kita pikirkan tentang bukunya.”
“Ne.”

Sepeninggalan Youngmin, Jina kembali memandangi Kwangmin. Perlahan, namja itu membuka matanya, Jina pun semakin lekat memandangi. Kwangmin belum sadar juga akan kehadiran Jina dan menguap lebar sambil meregangkan otot-ototnya.
“Kwangmin-a! ini untukmu! Kau haus kan?” Jina menyodorkan sebotol jus yang dibawanya dari rumah.
Kwangmin mengelus dadanya, “Aigoooo~ kau membuatku kaget~!”
“mianhae, ini terimalah.”
“ah~ gomawo. Kau tau saja kalau aku sedang kehausan.” Kwangmin meraih botol jus itu dari tanganJina dan meminumnya.
“Youngmin-a, apa kau mau minum jus? Jina baru saja memberikan ini padaku.” Tawar Kwangmin saat melihat Youngmin berjalan ke arahnya.
“Ya! Kau tadi berkata padaku bahwa kau tidak membawa minuman. Lalu apa yang baru saja kau berikan padanya?”
Jina segera memasang wajah innocent-nya, “Itu khusus kubawakan untuk Kwangmin, jadi…”
“Sudahlah. Lupakan.” Kata Youngmin sambil menenggak sodanya. “Untuk masalah buku referensi, biar aku belikan nanti.”
“Jinjja???” Tanya Jina dengan mata berbinar dan senyuman lebar.
“Jangan berpikir macam-macam! Aku hanya ingin menjadikanmu rival yang seimbang dengan kemampuanku.”

%%%

“Kwagmin-a, Otte?” kata Jina sesaat setelah Youngmin pergi.
“Ye?” Tanya Kwangmin, dia belum mengerti arah pembicaraan Jina.
“Aku pasti akan menjadi budak Youngmin. Otte??”
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakana. Cobalah cerita dari awal.”
“Begini, tadi aku terbawa emosi dan menerima saja taruhan yang diajukan Youngmin. Kami akan mengikuti kompetisi fotografi nasional. Yang kalah akan menjadi budak yang menang. Kau lihat kan? Dilihat dari segi manapun, Youngmin tetap lebih unggul dariku.”
“O. Arra~” Kwangmin terdiam sejenak, “Berarti, hal yang paling kau butuhkan saat ini adalah kamera seperti milik Youngmin. Kajja!” Kwangmin menarik tangan Jina.
“Eodi ka?”
“Ke toko Kamera…”

Jina dan Kwangmin tiba di sebuah mall dan menuju sebuah took peralatan fotografi. Mata Jina langsung tertuju pada sebuah kamera keluaran terbaru yang tengah dipamerkan. Canon SX40 HS.
“Kau mau yang ini? Baiklah, akan kubelikan.”
“Jeongmalyo?”
“geuromyo. Aku akan merasa kasihan sekali padamu kalau kau sampai menjadi budak Youngmin.”
“Hehe~ Gomawo, Kwangmin-a, jinjja gomawo~”

%%%

Di tempat lain, Youngmin sedang sibuk mencari buku tentang fotografi. Setelah mendapat buku-buku yang dibutuhkannya, Youngmin keluar dari took buku itu. Saat melewati sebuah took kamera, perhatian Youngmin tercuri oleh sebuah kamera yang sedang dipamerkan. Canon DSLR EOS 1D X.
“Omo! Fitur kamera ini benar-benar menakjubkan! Tapi untuk apa aku membeli kamera lagi? Aku baru saja membeli kamera …” Youngmin terlihat berpikir keras, “Baiklah. Akan kubelikan ini untuk Jina. Aku mengajaknya taruhan, aku juga harus memberinya perlengkapan yang setara dengan milikku.”

%%%

“Ini kebutuhan untuk kompetisi. Semuanya sudah kubelikan.” Ucap Youngmin datar sambil meletakkan tas belanjaan di tempat tidur Jina. Namun, tak ada tanggapan dari yeoja itu.
“Ya!! Aku bicara padamu!”
“O? mianhae. Aku hanya sedang mencoba menggunakan kamera baruku.”
“Mworago? Kamera baru?”
“Ye~ tadi aku membelinya bersama Kwangmin. Bagus kan?”
“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan membeli kamera baru? Aku sudah terlanjuur membelikan kamera untukmu!”
“Ne? kau membeli kamera untukku?”
“Lihatlah! Kamera yang kubelikan jauh lebih bagus dibanding kamera pemberian Kwangmin.” Youngmin mengeluarkan kamera pilihannya daru kardus, “Resolusi gambar yang diambil kamera ini 18 MP, sedangkan kamera yang kau pegang itu hanya beresolusi 14 MP. Jadi, pakai kamera ini saja untuk kompetisi.”
“Sirheo~ Tapi jika kau sudah mengingat siapa aku, aku akan menggunakan kamera pemberianmu.”
Youngmin mengangkat sebelah alisnya, “Apa yang harus kuingat darimu? Kita bahkan baru mengenal dua minggu ini.”
“Dwaesseo. Memang tidak ada yang harus kauingat dariku.” Jawab Jina dengan desahan dalam suaranya.
“Intinya, kau akan tetap memakai kamera itu?”
“Geuromyo.” Kata Jina mantap.
“Geurae! Terserah kau saja!” seru Youngmin dengan nada marah, lalu meletakkan kamera pemberiannya di meja belajar Jina dan pergi dengan membanting pintu.

%%%

“Aissh! Apa yang baru saja aku lakukan? Aku sudah mengeluarkan uang 1,7 juta won hanya untuk membeli kamera itu! Lalu apa yang kudapat? Dia bahkan tidak berterima kasih padaku! Kenapa yang dia perhatikan hanya Kwangmin, Kwangmin dan Kwangmin?! Aissh, molla! Ini benar-benat sudah menurunkan harga diriku!” seru Youngmin kesal, lalu membanting tubuhnya ke tempat tidur. Mata lebarnya menatap ke langit-langit kamar.

Tok… tok… tok…

Terdengar suara ketukan di pintu kamar Youngmin.
“Nuguya??”
“Na ya!” ucap JIna
“Kara-----pergi!!”
“Mianhae atas sikapku tadi. Aku tidak bermaksud untuk…”
“Karago-----kubilang, pergi!!!” seru Youngmin semakin keras.

Klek!

Jina membuka pintu kamar Youngmin dan melangkah perlahan ke arah namja yang sedang dalam posisi berbaring itu.
“YA! Aku sudah berkata padamu untuk pergi. Kenapa kau malah masuk ke kamarku?!”
“Aku membawa cake dan susu hangat untukmu. Dari siang kau belum makan kan?” kata Jina, lalu duduk di tempat tidur Youngmin. Namja itu tetap tidak peduli dan diam sambil menatap langit-langit.
“Ayo makan. Aaaa~” Jina menyuruh Youngmin membuka mulutnya.
Youngmin segera bangun dari posisinya dan duduk, “Kau pikir aku ini anak kecil yang harus disuapi untuk makan?!”
“Youngmin-a, mianhae. Jinjja mianhae. Terserah kau mau memaafkan aku atau tidak, tapi aku mohon makanlah. Kau bisa sakit.”
“Sirheo!!”
“Kalau begitu, aaaa~” ucap Jina sambil menyodorkan sesendok cake.
“Ya! Sirheo!” Youngmin membuang mukanya ke arah lain.
Jina yang gemas dengan sikap Youngmin segera memasukkan sesendok cake itu ke mulut Youngmin.
“Enak kan?”
Wajah Youngmin memerah, “ya! Apa yang kau lakukan?!”

Setelah cake dan susu hangatnya habis, Jina pun pamit dan menyuruh Youngmin untuk segera tidur.
“Jaljayo…” Jina melangkah keluar dan mematikan lampu kamar Youngmin.
Seketika itu, Youngmin merasa dirinya sedang terperangkap dalam kegelapan yang mencekam. Kegelapan membuatnya teringat kembali akan kejadian masa lalu yang sangat ingin dia lupakan dan setiap teringat akan  kejadian itu, badan Youngmin bergetar hebat dan dadanya terasa sesak.
Dengan susah payah Youngmin berteriak pada Jina, “Ya! Hidupkan lampunya kembali!”.
Jina yang baru saja menutup pintu, melongokkan kepalanya ke dalam kamar kembali, “Wae?”
“Sudahlah! Hidupkan saja!” teriak Youngmin dengan suara seperti orang tercekik.
“O! baiklah…” jawab Jina dengan wajah bingung.

Setelah lampu menyala kembali dan Jina sudah berlalu, Youngmin mengacak-acak isi lacinya, mengambil beberapa macam obat dan meminumnya.
“Aku tidak suka kegelapan. Kegelapan itu mengerikan…” ucapnya dengan napas masih memburu.

%%%

Di tempat lain, tanpa sepengetahuan Jina dan Youngmin, Kwangmin bertemu dengan Yubin.
“Yubin-a, ada perlu apa kau meminta untuk bertemu denganku?”
“Aku langsung ke inti permasaahan saja.” Yubin menghela napas, “Apa perasaanmu pada Jina masih belum berubah?”
“Kau memintaku datang ke sini hanya untuk menanyakan itu?”
“Karena itu menyangkut hubungan kita, Jo Kwangmin. Sudah hampir tiga bulan kita menjalani hubungan backstreet seperti ini. Kapan kau akan mengakuiku sebagai yeoja chingu-mu?”
“Apa kau masih belum bisa mempercayaiku? Aku memang pernah menyukai Jina. Tapi sekarang aku memiliki yeoja chingu. Mana mungkin aku mengkhianatimu? Aku janji, aku akan segera mengenalkanmu pada Youngmin dan Jina sebagai yeoja chingu-ku.”
“Tapi aku khawatir, kulihat Jina sangat menyukaimu…”
“Arra… aku akan mencoba membuatnya mengerti. Kau tenang saja….”
Yubin mengangguk pelan, padahal dalam hatinya dia masih ragu terhadap namja chingu-nya itu.

%%%


 Dandelion di pekarangan belakang rumah keluarga Jo semakin banyak dan tumbuh subur, walau tiap harinya banyak dari mereka yang tertiup angin. Begitu pula Jina yang setiap harinya tumbuh semakin dewasa dan mulai menemukan tujuan hidupnya. Walau selalu ada hal yang membuat yeoja itu resah, seperti perubahan sikap Kwangmin padanya akhir-akhir ini. Jika biasanya tiap pulang kuliah namja itu selalu  menawarinya pulang bersama, sekarang sudah jarang bahkan selama lima hari ini Kwangmin tidak menawarinya sama sekali. Tak hanya soal itu, Kwangmin sekarang juga bersikap sedikit cuek dari biasanya. Jina tak habis pikir dengan perubahan sikap Kwangmin. Terkadang Jina merasa namja itu sedang berusaha menghindar darinya.

Sore itu, seperti biasa Jina sedang menyirami dandelion-dandelionnya . Tiba-tiba Kwangmin datang dan menghampirinya.
“Kwangmin?” kata Jina kaget, karena sudah beberapa hari ini dia tidak berbicara dengan Kwangmin.
Kwangmin berjongkok menghadap Jina sambil tersenyum, “Aku ingin membuat wish dengan dandelionmu. Bolehkan aku minta satu batang?”
“O. petik saja. Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat wish bersama? Kurasa itu akan menyenangkan.”
Kwangmin mengangguk kecil, “Baiklah. Aku dulu yang membuat wish ya?”
“Ye. aku nanti setelah kau saja.”
Kwangmin memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam sambil mengucapkan harapannya dalam hati.

‘Aku harap Jina akan baik-baik saja saat dia tau aku berpacaran dengan Yubin. Jina-ya, kumohon maafkan aku. Kukira kau tidak akan menerima tawaran ayahku dan datang ke sini, karena itu pula aku menerima pernyataan cinta dari Yubin tiga bulan lalu. Mianhae Jina-ya, jinjja mianhae. Kuharap kelak kau mau mengerti posisiku sekarang ini…’

Kwangmin membuka matanya, lalu meniup dandelion yang dipegangnya dengan lembut.
“Sepertinya hal yang kau harapkan besar sekali ya?”
“ne, harapanku sangat besar dan kuharap itu bisa jadi kenyataan…” Kwangmin menghela napas panjang, “Sekarang giliranmu.” Kata Kwangmin sambil menyerahkan sebatang dandelion pada Jina.

Jina melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Kwangmin, lalu mengucapkan harapannya dalam hati.

‘Aku harap Kwangmin bisa mengerti perasaanku padanya…’  

Setelah mengucapkan itu, Jina merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya. Bibir Kwangmin. 1 detik, 2 detik, tiga detik, 4 detik, 5 detik… Lama sekali bibir Kwangmin menempel pada bibirnya. Jina menahan napas dan tersenyum, menikmati setiap detik dari pertautan bibir mereka itu. Jantung Jina berdebar kencang, begitu pula Kwangmin. Perasaannya kini campur aduk, antara senang, kaget dan tak percaya.

Kwangmin melepas ciumannya. Jina kemudian membuka mata dan tersenyum pada Kwangmin. Namja itu merasa bersalah pada Jina, karena telah memberikan harapan palsu pada yeoja lugu itu.
“Mianhae, Jina-ya, aku tidak bermaksud untuk melakukannya. aku mohon, lupakan kejadian ini…” Kwangmin bangkit berdiri dan pergi.

Youngmin yang sedang membaca majalah di gazebo di dekat petak dandelion itu langsung melotot melihat Kwangmin mencium Jina. Hyunmin yang juga sedang berada di gazebo sambil bermain PSP, tanpa sengaja juga melihat adegan itu.
Anak kecil itu pun segera menutup mata Youngmin dengan majalah yang sedang dipegang Youngmin, “Jangan dilihat, Hyung!”
“Harusnya aku yang berkata seperti itu padamu, anak kecil!”
“Jika hyung melihatnya dengan ekspresi seperti itu, aku tidak bisa kalau hanya diam saja.”
Youngmin terdiam mendengar kata-kata Hyunmin, baru kali ini dia dinasehati anak kecil.
“Seperti yang pernah kulihat di drama-drama malam, jika ada dua namja yang menyukai yeoja yang sama, pasti pada akhirnya namja itu akan berkelahi demi yeoja yang disukainya.”
“Ya! Sikkeuro-----diamlah, Jo Hyunmin!” Youngmin beranjak dan pergi ke kamarnya. “Suka? Tau apa anak kecil seperti dia? Beraninya dia berkata seperti itu padaku!!”

Hyunmin menghampiri Jina yang sedang berjongkok sambil terus memegangi bibirnya.
“Yang barusan itu keren sekali, Nuna!” kata Hyunmin dengan senyum lugunya.
“Kau melihatnya??” Tanya Jina kaget, wajahnya mendadak menjadi semerah tomat.
“O, tadi aku dan Youngmin hyung tak sengaja melihatnya. Kalau boleh kutebak, itu ciuman pertama Nuna ya?”
“Bagaimana kau bisa tau, Hyunmin-a? dan apa yang kau katakan tadi? Youngmin juga melihatnya?”
“Aku sudah sering melihat yang seperti itu di drama malam, hehe.” Hyunmin terkekeh,”ne, tadi hyung melihatnya dan dia langsung masuk ke dalam.”
“Ahhh~~ eotteokhae? Neomu changpihae-----aku sangat malu!”

%%%

Matahari sudah menghilang dan bulan pun mulai menjalankan tugasnya untuk menggantikan matahari. Jina dan keluarga Jo sedang makan malam. Makan malam hari itu sungguh berbeda dari biasanya. Suasananya begitu senyap. Tak ada seorangpun yang ingin memulai pembicaraan. Kwangmin dan Jina masih merasa canggung satu sama lain karena hal yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu. Hyunmin yang biasanya cerewet pun mendadak seperti mengunci mulutnya. Mungkin dia merasakan adanya aura peperangan di meja itu.

“Youngmin-a, apa kau sudah mengirimkan foto untuk kompetisi?” Tanya Jina, memecah keheningan di antara mereka.
Youngmin bergeming, namja itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, bahkan untuk menatap Jina saja dia tidak ingin. Dia tidak tau kenapa dia harus bersikap dingin pada Jina dan Kwangmin. Pikirannya mengatakan untuk bersikap biasa setelah melihat adegan tadi, tapi hati dan bahasa tubuhnya tidak bisa melakukan itu.
“Youngmin-a? apa kau sedang marah padaku?”

Kwangmin yang sedang makan segera meletakkan sendoknya dan menyuruh Youngmin untuk menjawab Jina.
“Youngmin-a, Jina bertanya padamu. Kau harus menjawab saat orang lain bertanya padamu. Walaupun itu hanya dengan anggukan atau gelengan.”

Youngmin mengangguk tanpa ekspresi, dalam hati dia merasa sangat jengkel dengan tingkah dua orang itu yang makin lama makin membuatnya muak.
‘Hah… apa yang baru saja dilakukan Kwangmin? Dia memarahiku hanya karena aku tidak menjawab pertanyaan Jina? Lucu sekali!!’
Jina menatap Youngmin, lalu kembali bertanya, “Aku juga sudah mengirimnya. Kalau begitu kita tinggal menunggu pengumuman pemenangnya. Apa kau tau kapan pengumumannya?”
Youngmin mendengus. Lalu menjawab sekenanya, “4 hari lagi!”
Dia pun segera beranjak pergi menuju kamarnya.

Jina memandang Kwangmin, matanya seolah bertanya “Ada apa dengannya?”
.
%%%

Youngmin membaringkan tubuhnya sambil menatap langit malam lewat jendela kamarnya, bertanya tanya kenapa dia bisa semarah itu. Padahal itu hal biasa yang sering dilihatnya di film atau drama.
“Apa karena itu kenyataan yang terjadi di depan mataku aku jadi seperti ini? Lalu kenapa dadaku menjadi sesak seperti ini? Aku tidak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Sebenarnya apa yang salah denganku?”
Youngmin berusaha memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Dia ingin sekali pergi meninggalkan dunia nyata yang kini membuatnya bingung dan pergi ke dunia mimpi agar dia bisa bebas dari semua kebingungan ini, walaupun hanya untuk beberapa saat. Berkali-kali namja itu membolak-balikkan badannya, dia sama sekali tidak bisa tidur. Bayangan wajah Jina terus muncul di pikirannya dan seperti menghantuinya.

“AAAAHHH~! APA YANG SUDAH KAULAKUKAN PADAKU, YUN JINA?!!!” teriak Youngmin dalam hatinya.

%%%

Hari pengumuman pemenang kompetisi fotografi pun datang. Jina berjalan dengan langkah ceria ke kampus dan masuk ke kelas pertamanya hari itu. Senyuman mengembang di wajahnya, karena dia sudah tau bahwa dia meraih juara di kompetisi itu.
Tadi pagi, Yubin menelpon rumah keluarga Jo dan memberitahunya bahwa dia meraih juara 3. Jina memang sudah mewanti-wanti pada Yubin untuk melihat pengumuman pemenangnya di website penyelenggara kompetisi itu, karena Jina tidak memiliki handphone atau gadget untuk melakukannya.

Jina duduk di bangku paling depan kelas. Matanya menangkap sosok namja berambut kecoklatan yang tengah duduk di bangku pojok belakang sambil menengadahkan kepalanya dan bersandar pada didnding.

“Youngmin-a…” panggil Jina sambil berjalan menghampiri Youngmin.
“eung?” hanya gumaman yang keluar dari mulut namja itu. Matanya terpejam, tampak kelelahan. Jina menatap wajah Youngmin dan mendapati lingkaran hitam di bawah mata namja itu.
“Youngmin-a, apa kau tidak tidur semalaman?” Tanya Jina khawatir.

Youngmin diam, tidak bernafsu menjawab pertanyaan Jina.
“Apa yeoja ini tidak tau kenapa aku bisa memiliki kantung mata seperti ini? Padahal ini semua karena dia!! Aku tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari ini karena otakku dipenuhi olehnya!! Tidakkah dia tau aku hampir gila karena ini semua??!!” gerutu Youngmin dalam hati.

“Youngmin-a, gwaenchanna?”
“Sudahlah. Jangan pura-pura khawatir padaku.”
“Aku tidak pura-pura, Jo Youngmin!” Jina jengkel dan duduk kembali ke bangkunya. Dia teringat tentang kompetisi itu. Jina pun menghampiri namja itu lagi, lalu menjentikkan jarinya penuh gaya dan berseru pada Youngmin.
“Jo Youngmin!!! Bersiaplah untuk menjadi budakku!!”
Youngmin membuka matanya, tampak tak tertarik, “Kau ini berisik sekali!”
“Aku meraih juara 3 dalam kompetisi fotografi. Jadi, bersiaplah menjadi budakku. Arasseo?”
Youngmin bangkit dari posisinya dan berdiri menghadap Jina, “Baiklah aku akan jadi budakmu. Tapi sebelum itu terjadi, lihatlah ini terlebih dulu.”
Youngmin mengambil HP dari dalam kantung celananya, lalu menyodorkannya pada Jina.
“Bacalah…”
“Ini website penyelenggara kompetisi itu ya?”
Youngmin mengangguk, “lihatlah siapa saja pemenangya… ”

Mata Jina seperti hampir keluar menatap nama-nama yang terpampang di halaman web itu.
“Mwo?!! Juara 1 adalah Jo Youngmin?!!!!”
“O, memang aku. Wae?” Youngmin menarik ujung kanan bibirnya, menyeringai, “Jadi, mulai detik ini juga kau akan menjadi budakku!”
Jina menggigit bibirnya, “Kenapa Yubin tidak memberitahuku tentang yang satu ini?”

“Aigoooo… penderitaanku sudah dimulai!!! God, please help me!” Ratap Jina dalam hatinya.

“Sebelum kau memulai tugasmu, aku akan membelikan HP untukmu. Agar aku mudah menghubungimu sewaktu-waktu aku membutuhkanmu.”
“HP? Jinjja?”
“Jangan memasang ekspresi seperti itu. Aku melakukannya hanya untuk kontrak budak ini. Arasseo??”
“O!! tapi aku tetap berterima kasih padamu. Walaupun kau kasar dan menyebalkan, sebenarnya kau itu baik hati. Aku tau itu…”
“Mworago? Beraninya seorang budak berkata seperti itu pada majikannya!!”
“Hehe… aku hanya bercanda, Jo Youngmin.”

%%%

Sudah hampir sebulan sejak “Kontrak Budak”  itu dilakukan oleh Jina. Yeoja itu benar-benar merasa sangat menderita menjadi budak Youngmin. Dari bangun tidur sampai waktu tidur di malam hari, Jina harus menuruti semua keinginan dan kebutuhan Youngmin yang terkadang dinilainya tak masuk akal. Tapi Jina mulai terbiasa dengan perintah dan protes yang terus melayang dari mulut namja itu. Jina sudah hafal dengan perintah rutin Youngmin, seperti; “Belikan aku pizza”, “Kerjakan tugasku!!”, “Buatkan jus untukku. Aku haus”,dll.

Lama-lama Kwangmin merasa kasihan pada Jina, tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Jina, karena itu memang sudah menjadi kesepakatan mereka              berdua dan Jina harus menanggung konsekuensinya.

Suatu malam, Youngmin menyuruh Jina membantunya mengerjakan tugasnya (lagi). Malam itu, hujan turun dengan derasnya dan sepertinya akan terjadi badai. Namun, keluarga Jo tidak perlu khawatir dengan hal itu. Selama ini rumah mereka tidak pernah terkena efek yang fatal dari badai tersebut. Kalaupun terkena imbas, mereka hanya mengalami sedikit kerusakan.
“Hujannya mengerikan. Aku sedikit takut.” Ucap Jina sambil menatap keluar jendela.
“Dasar penakut. Itu hanya badai kecil.” Jawab Youngmin menanggapi.

Hujan di luar semakin deras, anginnya pun semakin besar. Listrik di rumah keluarga Jo pun mati, sehingga lampu di kamar Youngmin juga padam.
“Mwohaneungeoya-----Apa yang terjadi? Youngmin-a!! apa kau masih di sini? Aku takut!” teriak Jina. Tangannya mencoba meraih-raih Youngmin yang tadi duduk di sebelah kanannya, tapi tidak bisa. Di antara suara gemuruh angin dan petir yang membahana di telinganya, Jina mendengar suara rintihan dan napas menderu dari arah kanannya.
“Youngmin-a? neo gwaenchanna? Kau membuatku khawatir!” Jina meraba-raba dan mencari sosok Youngmin dalam kegelapan yang pekat.
Tiba-tiba, Jina merasakan kepala Youngmin bersandar di bahunya, deru napas namja itu terdengar sangat cepat.
“Youngmin-a! kau kenapa?”
Youngmin memegangi dadanya yang terasa begitu sesak, “Aku… aku tidak bisa berada dalam kegelapan.”

“Kwangmiiiiiiiiiin~!!! Terjadi sesuatu pada Youngmin!” teriak Jina panik.

Tak lama, Kwangmin datang sambil membawa lampu emergency.
“Sudah kuduga ini akan terjadi.” Kwangmin pun segera memapah Youngmin dan membaringkannya di tempat tidur.
Jina menatap khawatir pada Youngmin yang tak sadarkan diri, “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Youngmin menjadi seperti ini?“
“Mmmm… dia mengidap nyctophobia.”
“Nyctophobia?”
“Itu nama lain dari phobia gelap dan malam hari.” Kwangmin menatap Youngmin, “Penyebab phobia yang dimilikinya juga sama dengan penyebab dia amnesia. ”
“Mwo?” Jina kaget mendengar penjelasan Kwangmin. “Lalu, kalau aku boleh tau, peristiwa apa yang membuatnya seperti ini?”
“Baiklah, akan kuceritakan padamu…”

[Flashback]
Saat Youngmin berumur 6 tahun, beberapa bulan setelah kepindahannya dari desa Jina…

Saat itu, tepatnya pukul 9 malam, Youngmin dan Kwangmin baru saja selesai les piano. Seperti biasa, Eomma mereka datang menjemput. Youngmin langsung menghambur ke pelukan Eomma-nya. Ya, Youngmin memang sangat dekat dengan Eomma-nya, tidak seperti Kwangmin yang hanya dekat dengan Appa-nya.
“Maaf ya, hari ini Eomma telat menjemput kalian.” Kata Eomma mereka sambil mengelus kepala kedua putra kembarnya itu.
“Gwaenchanna, Eomma, yang penting Eomma sudah datang.” Jawab Kwangmin sambil tersenyum.
“Lalu Hyunmin dimana?” Tanya Youngmin, karena dia tidak melihat adik kecilnya itu di gendongan Eomma-nya.
“Adik kecilmu itu sudah tidur di rumah. Kajja. Mobil Eomma ada di seberang. Kalian di sini saja, biar Eomma ambil mobil dulu. Arasseo?”
Kwangmin mengangguk kecil. Namun Youngmin malah terus mengikuti Eomma-nya, seperti tidak ingin berpisah. Youngmin kecil berjalan mengikuti Eomma-nya tanpa melihat kanan-kirinya.
“Eomma~!!!” teriak Youngmin sambil terus berjalan. Eomma-nya menoleh dan mengisyaratkan Youngmin kembali.
“Eomma~!!!” panggil Youngmin lagi.
Padahal dari arah kanannya melaju cepat sebuah truk barang. Eomma Youngmin langsung berlari dan mendorong Youngmin ke tepi jalan.

Dan…

BRAAAAAK….!!!

Bagian depan truk itu menabrak Eomma Youngmin, menimbulkan suara keras yang mengerikan. Youngmin dan Kwangmin langsung menghampiri tubuh Eomma-nya yang sudah tak bergerak itu. Kwangmin terisak melihat Eomma-nya, dia hanya berani memandangnya.

Sedangkan Youngmin…

“Eomma~! Jangan tinggalkan Youngmin sendiri!!” tangis Youngmin sambil memeluk dan menciumi Eomma-nya. Noda darah memenuhi baju anak kecil itu.
Bulan yang tertelan oleh awan hitam di angkasa, mulai meninggalkan kegelapan yang mencekam dan pekat. Yang terlihat oleh Youngmin hanyalah kilau darah yang kini melumuri hampir seluruh tubuh Eomma-nya.
Tiba-tiba Youngmin merasakan semuanya gelap, dia tak sadarkan diri. Semuanya terjadi begitu cepat dan membuat anak kecil itu sangat shock Kwangmin hanya bisa menangis melihat dua orang yang disayanginya seperti itu.

“Ya! Apa kalian baik-baik saja?” teriak seseorang yang kemudian menghampiri mereka.
Pertolongan pun mulai berdatangan dari orang-orang di sekitar tempat kejadian.

[Flashback end]

“Aku tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Youngmin saat itu. Memang berat kehilangan orang yang sangat kita sayangi, apalagi saat kita masih kecil dan butuh perhatian. Aku juga merasakan hal yang sama dengan kalian. Tapi aku berusaha mengikhlaskan kepergian Appa dan Eomma.”
“O. saat itu aku juga sangat kehilangan. Walaupun sulit, akhirnya aku bisa merelakan kepergiannya. Tapi sayangnya Youngmin tidak sepertiku.” Kwangmin mendesah, sorot matanya menjadi sedih, “Sejak malam itu, Youngmin melupakan semua kenangan masa kecilnya. Yang diingatnya hanya peristiwa kelam itu. Aku tidak tau kenapa itu bisa terjadi, tapi saat dia dibawa ke psikolog, psikolog itu mengatakan kalau Youngmin menderita amnesia karena shock berat. Aku tau, Youngmin sangat dekat dekat Eomma, karenanya dia sampai seperti itu.”

Jina diam mendengarkan cerita Kwangmin. Bibirnya seperti sulit digerakkan.

“Sejak malam itu pula Youngmin tidak dapat berada di ruangan gelap atau keluar pada malam hari. Dia pernah berkata padaku, kalau dia berada dalam gelap, rasa bersalah karena kematian Eomma kembali menyerangnya, membuat dadanya sesak dan seluruh tubuhnya lemas.”

“Jadi seperti itu… lalu, siapa Eomma yang dimaksud Neulki? Dia berkata padaku bahwa Jo Sajangnim tinggal di Verona bersama Nyonya. ”
“Ah, dia Ibu tiriku. Walau hanya Ibu tiri, beliau sangat baik dan penuh kasih sayang. Dialah yang merawat Hyunmin dan kami berdua setelah Eomma meninggal.”
“Eung, ara…” Jina mengangguk kecil.
“Baiklah, aku ke kamar Hyunmin dulu ya? Kasihan dia kutinggal sendirian.”
Kwangmin beranjak dari duduknya dan segera keluar.

Jina duduk di sebelah tempat tidur Youngmin, menatap lekat-lekat wajah namja itu. Tiba-tiba Youngmin mengigau dan terus memanggil Eomma-nya. Jina mencoba menenangkannya dengan menggenggam tangan namja itu. Beberapa saat kemudia, namja itu kembali tenang. Jina pun berusaha menarik tangannya, tapi Youngmin terus saja menggenggamnya.
“Haaaah, padahal biasanya dia dingin dan kasar, tapi sekarang dia malah membuatku merasa kasihan. Aku tidak mengira kau punya masa lalu yang seperti itu, Jo Youngmin. Pasti kau merasa sangat bersalah atas kematian Eomma-mu…”
Jina menunggui Youngmin sampai akhirnya dia tertidur. Tangannya pun masih berada dalam genggaman namja itu.

%%%

Kicauan burung mulai menyemarakkan pagi, cahaya matahari pun mulai memenuhi ruangan. Jina membuka matanya dan mendapati dirinya berada di tempat tidur yang sama dengan Youngmin. Dilihatnya namja itu meringkuk dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Jina mengedipkan matanya beberapa kali dan menyadari posisinya sekarang ini. Yeoja itu pun berteriak keras.
“Apa yang kaulakukan Jo Youngmiiiiiiiin~~!!!”
Youngmin mulai menggeliat, mata lebarnya terbuka dan menatap Jina jengkel, “Ada apa pagi-pagi sudah ribut? Mengganggu orang tidur saja!!”
“Ya! Bagaimana aku bisa tidur seranjang denganmu, hah??”
“Tadi malam kau tidur di samping tempat tidurku. Karena aku tidak tega melihatmu tidur sampai ngorok begitu, aku membawamu ke tempat tidurku.” Jelas Youngmin dengan wajah innocent, lalu melanjutkan tidurnya.
Jina keluar kamar Youngmin dengan langkah lebar, dia jengkel sekali dengan Youngmin yang dinilainya seenaknya.
“Huh, baru saja aku mulai bersimpati padanya, tapi dia malah berlaku seenaknya padaku…”

Jina melangkahkan kakinya ke pekarangan belakang, dia bermaksud menengok petak dandelionnya. Benar dugaannya, dandelion-dandelionnya hancur karena badai semalam. “Aissh~ wae ireoke-----kenapa begini?”
“Arasseo. Besok kan hari Senin, aku bisa mengambil lagi dari bukit di belakang kampus. Semoga dandelion di sana tidak rusak karena badai tadi malam. I hope…”

%%%

Hari baru, semangat baru. Walaupun sedih karena petak dandelionnya rusak gara-gara badai kemarin lusa, Jina tetap bersemangat menyambut hari itu. Jina berencana mengambil beberapa tanaman dandelion yang tumbuh di bukit di belakang gedung kampus untuk ditanam lagi di pekarangan. JIna berjongkok sambil mengumpulkan tanaman-tanaman yang dirasanya masih bisa ditanam. Tanpa sengaja dia mendengar suara-suara yang familiar baginya. Jina mendekati sumber suara itu. Tubuhnya langsung melemas melihat pemandangan di depannya. Dandelion-dandelion dalam genggamannya terjatuh.
Kenyataan yang sangat menyakitkan baginya, hingga dia hanya bisa berdiri mematung. Jina mengalihkan pandangannya dari dua objek itu. Kwangmin dan Yubin. Dua orang itu sedang duduk di puncak bukit kecil itu dan Kwangmin baru saja mencium dahi Yubin dengan pandangan penuh kasih. Jantung Jina berdetak kencang, hatinya begitu ngilu melihat kenyataan yang terpampang di hadapannya. Kenyataan .yang harus dihadapinya begitu kejam dan menusuk. Jina merasa tak ada ruang yang tersisa untuknya, agar dia dapat memasuki hati Kwangmin. Yang ada sekarang hanyalah sebuah ironi yang harus dia terima.

Jina tidak pernah tau sebelumnya jika Kwangmin dan Yubin memilki hubungan. Jina merasa terkhianati oleh Yubin. Padahal yeoja itu tau kalau Jina sangat menyukai Kwangmin.

“Tidak… aku tidak boleh sedih, aku tidak boleh menangis. Aku tidak boleh marah pada mereka. Mereka saling mencintai dan aku akan berdosa jika membuat mereka berpisah hanya karena keegoisanku. Tapi… bagaimana dengan hatiku? Ini benar-benar menyakitkan, sangat menyakitkan….”

%%%

Jina berjalan keluar dari area kampus dan berpapasan dengan Youngmin. Youngmin tersenyum pada Jina, tapi yeoja itu tidak menggubris keberadaan Youngmin dan melewati namja itu begitu saja.

“Jangan bersikap seolah kita tidak saling kenal!” seru Youngmin pada Jina.
Jina menghentikan langkahnya, menarik napas panjang tanpa berpaling menghadap namja itu.
“Jangan lupa kalau kau itu budakku.”
“Aratta. Tapi tolonglah, untuk hari ini saja. Lakukan sendiri semua yang kaubutuhkan sama seperti saat aku belum menjadi budakmu.” Kata Jina tanpa menoleh ke arah Youngmin.
Jina melangkahkan kakinya.
“Baiklah. Aku juga tidak butuh bantuan dari yeoja kampong sepertimu!”
“Mworago?” kata Jina sambil berjalan menuju Youngmin, yeoja itu menatap marah pada Youngmin.
“AKU TIDAK BUTUH BANTUAN DARI YEOJA KAMPUNG SEPERTIMU!!!”
“Lalu kenapa tidak dari dulu? Jika kau hebat, kenapa kau menjadikanku budak dan harus mengikuti semua perintahmu? Apa kau tidak bisa melakukan semuanya sendiri?! Kenapa kau menjadikanku budak jika kau tidak butuh?! Kau bisa saja kan membatalkan taruhan itu? Tapi kenapa kau tidak melakukan itu?!” seru Jina penuh emosi.
Youngmin kaget melihat reaksi Jina, baru kali ini yeoja itu terlihat sangat marah padanya. Padahal biasanya dia tidak akan marah jika Youngmin memanggilnya ‘Yeoja Kampung’, tapi kenapa kali ini…
“Aku berkata seperti itu karena kau telihat tidak ingin mealakukan tugasmu sebagai budakku!”
“Aku memiliki alasan kenapa aku tidak ingin melakukannya. Apa kau pernah menanyakan pada ku kenapa aku tidak bisa? Tidak pernah!!!”
“Lalu kenapa kau tidak mengatakannya? Kenapa kau tiba-tiba marah?”
“Apakah aku harus tersenyum setiap saat? Kau pikir aku ini robot yang diprogramkan khusus untuk tersenyum? Aku ini juga manusia, adakalanya suasana hatiku sedang tidak baik. Jadi, untuk hari ini aku sedang tidak ingin melihatmu. Jebal. Mengertilah.”
“Baiklah, kalau itu maumu!!!” balas Youngmin sambil berlalu dari hadapan Jina, dari suaranya terlihat rasa kesal yang teramat sangat pada Jina.

Jina berjalan menuju halte bus sambil menunduk. Dia tidak mengerti kenapa dia harus bersikap kasar pada Youngmin, padahal namja itu tidak bersalah.
“Mianhae, Youngmin-a… aku melakukan itu karena saat aku melihatmu, aku seperti melihat Kwangmin dan saat aku teringat padanya, hatiku menjadi sakit. Mianhae,karena telah menjadikanmu pelampiasan amarahku…”

%%%

Hari mulai petang, sedikit demi sedikit Matahari menyembunyikan dirinya di balik cakrawala barat. Titik lembut air berjatuhan dari langit yang mulai berwarna keemasan. Walau hanya gerimis kecil, tapi titik-titik air itu mampu membuat tubuh Youngmin basah. Dengan langkah lesu, namja itu memasuki rumahnya, wajahnya seakan membeku, kaku. Sejak dia bertengkar dengan Jina tadi siang, dia merasa sulit untuk tersenyum. Bukan karena dia marah pada yeoja itu, tapi karena tanpa sadar Youngmin mengkhawatirka Jina. Entah apa yang membuat Jina bersikap seperti itu padanya.
Mata Youngmin menyapu setiap ruangan yang dilewatinya, tapi dia tidak menemukan Jina. Sampai akhirnya dia berniat mencari Jina di kamar yeoja itu. Perlahan Youngmin membuka pintu kamar Jina, berharap melihat yeoja itu disana, tapi hasilnya sama saja, NIHIL. Youngmin menutup kembali kamar Jina, lalu tiba-tiba namja itu merasakan sebuah dorongan dari dalam hatinya untuk masuk ke kamar Jina. Youngmin duduk ranjang Jina dan menemukan sebuah buku kecil di atas meja yeoja itu. Rasa penasaran membuat Youngmin membuka buku itu. “Ini… sebuah diary??
Lembar demi lembar dibacanya, jantung Youngmin berdetak cepat saat dia melihat namanya ada dalam diary itu. “Hah? Namaku? Dan tanggal di catatan ini, adalah hari pertama Jina pindah. Ada apa dia menulis namaku di sini?

Youngmin-a, apa kau benar-benar melupakanku?
Hatiku sakit. Otakku terus memutar kenanganku bersama anak kembar ini. Saat-saat bahagia dimana aku selalu bermain bersama mereka. Ya, 10 tahun yang lalu. Memang sudah lama dan mungkin Youngmin benar-benar sudah melupakannya. Aku tak pernah menyangka Youngmin sangat berubah seperti sekarang ini. Tidak adakah secuilpun kenangan tentang diriku yang tertinggal di benaknya?

Youngmin menarik napas panjang, “Apa benar jika aku pernah mengenal Jina sebelumnya? Aku sama sekali tidak ingat.”

Youngmin membuka lembar berikutnya dan menemukan sebuah foto yang menurutnya sangat aneh.
“Punggung? Punggung siapa ini? Kenapa dia meletakkan foto tak berguna seperti ini di buku diary-nya?
Youngmin membalik foto itu dan menemukan sebuah catatan kecil,’Punggung Kwangmin saat dia menggendongku pulang. Kwangmin adalah pangeran penyelamatku…’
“Ya! Bukankah ini aku? Aku yang menggendongnya saat dia terjatuh dari pohon karena ingin mengambil foto pemandangan di desa. Tapi, kenapa dia menuliskan nama Kwangmin? Hah, bodoh sekali yeoja itu!!”
Youngmin terdiam setelah berbicara sendiri. Dia sadar, memori masa lalunya sedikit demi sedikit mulai kembali.
“Sekarang aku ingat! Yun Jina, tetanggaku saat berada di desa dulu! Bagaimana aku bisa lupa?!!”

Youngmin kembali meneruskan membaca diary Jina.

Aku adalah dandelion.
Walau banyak orang yang tidak menganggapnya dan hanya menganggapnya sebagai rumput liar yang tak berguna, tapi bagiku dandelion adalah bunga terindah yang pernah Tuhan ciptakan. Bunga kecil itu sudah mengajariku berbagai nilai kehidupan. Walau aku tak bisa setegar bunga liar itu, aku telah berusaha sekuat mungkin untuk menjadi sepertinya.

Youngmin mengerutkan keningnya,lalu sebuah jawaban muncul di pikirannya.
“Aha! Dandelion!! Kurasa aku tau dimana dia sekarang!”



TBC…

                                                                              

0 komentar:

Posting Komentar

 

My Fictional World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea