TITLE :
Dandelion
PART
TITLE : Darkness,
a Painful Memory
AUTHOR :
Sonia aka. Han Minjee
GENRE : brothership,
friendship, romance, dll
CASTS : Yun Jina,
Jo Twins, Jo Hyunmin (Jo Twins’s real lilbro), and other casts
BEWARE
OF : plot gaje, banyak
typo, kata-kata yang ambigu, bahasa yang campur aduk.
SBS (Song behind Story): BEAST (Oasis), Suju (All My Heart), K-Will
(My Heart is Beating), F.Cuz (Friend’s Graduation), G.NA (Loving You), Jaejoong
(I’ll Protect You), MBLAQ (U & I), B1A4 (Chu Chu Chu), Teen Top (Angel),
U-KISS (Love of a Friend), BB. BOYS (We Will be Okay), Infinite (Voice of My
Heart), IU (Good Day), Younha (Can’t Believe it.), dll :p
SUMMARY :
“dia
kehilangan ingatan masa kecilnya. Memori yang dimilikinya saat dan sebelum berumur
12 tahun hampir semuanya menghilang.Saat dia berumur 12 tahun, dia mengalami
amnesia karena trauma dan shock berat.”
“Peristiwa…? Peristiwa apa yang membuat Youngmin begitu berubah?
Peristiwa macam apa yang bisa mengubah kepribadian seseorang yang ceria menjadi
emosional seperti itu? ”
HAPPY
READING…. ^^
Matahari
baru saja menampakkan diri dengan senyuman cahaya kuningnya di ufuk timur,
sinarnya pun menerobos masuk ke kamar Jina lewat ventilasi jendela kamar. Yeoja
itu terlihat menggeliat kecil, tampak terganggu dengan sinar matahari yang
membuatnya silau. Perlahan yeoja itu membuka matanya dan tersadar bahwa dia
mempunyai jadwal kuliah pagi hari itu. Secepat kilat Jina mandi dan berganti
pakaian.
Ya, sudah seminggu
sejak dia kuliah di Seoul Institute of the Art atau lebih mudah disebut
Institut Seni Seoul. Jina memutuskan untuk mengambil bidang fotografi, sama
seperti Youngmin. Sedangkan Kwangmin mengambil bidang ilmu modern dance.
Walaupun satu kelas dengan Youngmin, hubungan Jina dengan namja itu masih saja
seperti dulu, tidak bisa akur. Jina sendiri tidak terlalu peduli dengan hal
itu, karena dia sudah merasa bahagia bisa lebih dekat dan dekat dengan
Kwangmin. Meskipun begitu, Jina belum berani mengungkapkan perasaannya pada
Kwangmin, walau sepertinya namja itu juga menyukainya.
Jina keluar
dari kamarnya dan berlari ke bawah untuk sarapan.
“Neulki-ya,
apa Kwangmin dan Youngmin sudah siap berangkat?”
“Anieyo.
Ini baru pukul 07.00 pagi, Jina-ya. Doryeonnim belum turun.”
“mworago?
Masih pukul 07.00?”
“ye.” Jawab
Neulki singkat sambil membantu Eomma-nya memasak. Keluarga Neulki memang
bekerja di rumah Jo Sajangnim.
Jina
menggaruk-garuk kepalanya sambil berlalu dari dapur, “Aissh~ aku kira aku sudah
terlambat…”
Jina
berjalan menuju halaman belakang rumah keluarga Jo. Jina berjongkok di depan
sepetak tanah yang ditanami sekelompok dandelion. Dia tersenyum teringat saat
dia dan Kwangmin diam-diam mengambil bunga dandelion dari bukit di belakang
gedung kampus mereka lalu menanamnya di halaman belakang rumah. Namun tiba-tiba
Jina teringat pada Neneknya di desa yang mungkin sedang bekerja di ladang
pagi-pagi seperti ini. “Haaaa~ sudah dua minggu lebih aku tidak melihat Nenek.
Aku benar-benar khawatir.”
Jina
mengambil sebatang Dandelion, “Aku harap nenek selalu sehat dan bahagia di
desa…”. Setelah mengucapkan harapannya, dia pun meniupnya.
“Ucapkanlah harapanmu, lalu tiuplah sebatang
Dandelion. Harapanmu pasti akan terkabul…” itulah kata-kata Kwangmin saat
mereka berdua menanam Dandelion bersama.
Setelah
melakukan semua itu, Jina pun kembali ke ruang makan. Dilihatnya Kwangmin,
Youngmin dan Hyunmin sudah duduk manis di tempat duduk mereka.
“Annyeong
yeorubun~” sapa Jina sambil memasang senyum termanisnya.
“Annyeong~”
balas Hyunmin dan Kwangmin bersamaan.
Sedangkan
Youngmin hanya diam dan sedikit melirik ke arah Jina.
Setelah
sarapan, Jina pun masuk ke mobil Kwangmin dan berangkat ke kampus.
%%%
Udara mulai
panas, kelas yang diikuti Jina dan Youngmin pun sudah selesai. Tiba-tiba
Youngmin berjalan ke arah Jina yang tengah merapikan buku-bukunya lalu
meletakkan sebuah poster di bangku yeoja itu.
Jina
mengerutkan keningnya, “ige mwoya?”
Youngmin
menggerakkan dagunya, member isyarat pada Jina untuk membaca poster itu.
“Kompetisi
Fotografi tingkat Nasional?”
“O.
bagaimana kalau kita berkompetisi?”
“geundae-----tapi…”
Youngmin
tersenyum meremehkan, “Apa kau tidak yakin dengan kemampuanmu? Berarti benar
dugaanku bahwa kau masuk Fotografi hanya untuk main-main.”
Jina tidak
terima dengan kata-kata Youngmin, “Ani. Tentu saja aku yakin. Aku akan
mengikuti kompetisi ini dan aku yakin aku akan menang darimu.”
“Baiklah.
Tapi, jika kau kalah…” Youngmin menggantung kata-katanya, membuat Jina semakin
jengkel dan tidak sabar.
“ne?”
Youngmin
menjentikkan jarinya, “Kau harus menjadi budakku sampai aku bosan, begitupun
sebaliknya. Otte?”
“O! lihat
saja, pasti aku yang akan menang!” seru Jina penuh emosi.
Setelah
Youngmin pergi dan menghilang di balik pintu, Jina baru sadar akan kebodohan
yang baru saja dilakukannya. “Aissh~ mana mungkin aku bisa menang dari namja
itu?”
Jina
berjalan sendiri menuju perpustakaan, tak henti-hentinya dia merutuki
kebodohannya. Kenapa dia mau saja diajak bertaruh oleh Youngmin. Padahal dia
sendiri tau bahwa Youngmin yang akan menang.
“Aissh~!
Nan jeongmal jeongmal jeongmal jeongmal babo ijji?” ratap Jina sambil memukuli
kepalanya.
Karena
tingkahnya itu pula, tak sengaja dia menabrak seseorang.
“ah~
joesonghamnida, joesonghamnida~” Jina membungkukkan badannya berkali-kali pada
orang yang ditabraknya.
“Ya!
Mwohae-----apa yang kau lakukan?! Dasar, yeoja kampung!” Youngmin mencengkeram
kepala Jina, “Kepalamu itu keras sekali ya?”
“Lepaskan
kepalaku, Jo Youngmin!! Aku harus ke perpustakaan sekarang!!” seru Jina
berusaha melepaskan tangan Youngmin dari kepalanya.
“Mau apa
kau ke sana? Mencari materi untuk kompetisi?”
‘Sial! Bagaimana dia bisa tau? kenapa dia
selalu bisa membaca pikiranku’ kata Jina dalam hati.
“baiklah,
aku juga akan ke perpustakaan. Aku juga memerlukan buku-buku referensi. Aku
akan mencarikan buku juga untukmu.”
“Dwaesseo.
Aku bisa ke sana sendiri.” Jina melangkah cepat meninggalkan Youngmin.
“YA! YEOJA
KAMPUNG!” seru Youngmin.
“gwaenchanna.
Aku akan ke sana sendiri,” Jina menoleh ke arah Youngmin yang tengah tersenyum
mengejek ke arahnya. Youngmin pun mengarahkan telunjuknya ke suatu arah dan
memberi isyarat bahwa Jina sudah salah mengambil arah ke perpustakaan.
“Kalau mau
ke perpustakaan, lewat sini, BABO!”
“Aku juga
tau itu! Aku hanya sedang mengetes kejelianmu saja!” Sangkal Jina cepat.
Jina
berjalan cepat melewati Youngmin yang sedang berjalan ke perpustakaan.
“sekarang
kau harus belok kanan~!!” teriak Youngmin dengan nada mengejek.
“aku
bilang, aku sudah tau!!!!” balas Jina dengan sengit.
Jina segera
mencari buku yang dibutuhkannya dengan indeks. Jari-jari panjangnya menelusuri
buku-buku yang tersusun di rak dengan rapi. Tiba-tiba gerakan jari-jarinya
terhenti saat dia melihat lewat sudut kanan matanya, sosok yang dia kenal
sedang tidur dengan pulas di salah satu bangku perpustakaan. Jina segera
mengambil beberapa buku dan duduk di depan Kwangmin yang sedang tidur pulas.
Jina memandangi wajah Kwangmin dalam-dalam.
“Hari ini
aku bisa memandangimu dari dekat seperti ini… dan aku semakin mengerti alasan
kenapa aku bisa menyukaimu…” Jina mengeluarkan kamera digital tua miliknya dari
dalam tas dan mengambil foto Kwangmin. Senyum bahagia mengembang di wajah Jina
saat memandangi hasil fotonya.
“ckckckck~”
Jina
menoleh ke arah suara decakan itu berasal.
“Kau
melakukan itu lagi?” youngmin menggeleng-gelengkan kepalanya, “lama-lama kau
bisa menjadi stalker sejati.”
“Psssst~
jangan-keras-keras kalau bicara, nanti Kwangmin terbangun.”
“Hyuuuu~~”
Youngmin memutar bola matanya, sedikit kesal karena sikap Jina yang dinilainya
terlalu berlebihan.
“A~ ne! aku
sudah memilih beberapa buku, bagaimana menurutmu? Ini lihatlah.” Kata Jina pada
Youngmin dengan berbisik, lalu menyodorkan beberapa buku pada namja itu.
Youngmin
melirik buku-buku itu sambil bersedekap,“Biar kutebak.”
“O?”
“Pasti tadi
kau mengambil buku-buku ini dengan sembarangan karena melihat Kwangmin di sini
kan? Lihatlah buku apa yang kau ambil…”
“Itu semua
buku tentang fotografi kok.” Bantah Jina tak mau kalah.
“’Memahami
makna lukisan’, ‘Melukis Ekspresi’, bla bla bla… apa itu semua ada kaitannya dengan fotografi?”
Youngmin menghela napas panjang, “bukan hanya hatimu saja, ternyata matamu juga
benar-benar sudah dibutakan oleh cinta ya?”
“Hehe,
mianhae…” Jina terkekeh dengan wajah lugunya, lalu mengambil buku-buku itu dan
mengembalikannya ke rak.
“Ya! Apa
kau membawa minuman? Aku haus.” Kata Youngmin.
“Ani…”
“Baiklah,
aku membeli minuman dulu. Nanti baru kita pikirkan tentang bukunya.”
“Ne.”
Sepeninggalan
Youngmin, Jina kembali memandangi Kwangmin. Perlahan, namja itu membuka
matanya, Jina pun semakin lekat memandangi. Kwangmin belum sadar juga akan
kehadiran Jina dan menguap lebar sambil meregangkan otot-ototnya.
“Kwangmin-a!
ini untukmu! Kau haus kan?” Jina menyodorkan sebotol jus yang dibawanya dari
rumah.
Kwangmin
mengelus dadanya, “Aigoooo~ kau membuatku kaget~!”
“mianhae,
ini terimalah.”
“ah~
gomawo. Kau tau saja kalau aku sedang kehausan.” Kwangmin meraih botol jus itu
dari tanganJina dan meminumnya.
“Youngmin-a,
apa kau mau minum jus? Jina baru saja memberikan ini padaku.” Tawar Kwangmin
saat melihat Youngmin berjalan ke arahnya.
“Ya! Kau
tadi berkata padaku bahwa kau tidak membawa minuman. Lalu apa yang baru saja
kau berikan padanya?”
Jina segera
memasang wajah innocent-nya, “Itu khusus kubawakan untuk Kwangmin, jadi…”
“Sudahlah.
Lupakan.” Kata Youngmin sambil menenggak sodanya. “Untuk masalah buku
referensi, biar aku belikan nanti.”
“Jinjja???”
Tanya Jina dengan mata berbinar dan senyuman lebar.
“Jangan
berpikir macam-macam! Aku hanya ingin menjadikanmu rival yang seimbang dengan
kemampuanku.”
%%%
“Kwagmin-a,
Otte?” kata Jina sesaat setelah Youngmin pergi.
“Ye?” Tanya
Kwangmin, dia belum mengerti arah pembicaraan Jina.
“Aku pasti
akan menjadi budak Youngmin. Otte??”
“Aku tidak
mengerti apa yang kau katakana. Cobalah cerita dari awal.”
“Begini,
tadi aku terbawa emosi dan menerima saja taruhan yang diajukan Youngmin. Kami
akan mengikuti kompetisi fotografi nasional. Yang kalah akan menjadi budak yang
menang. Kau lihat kan? Dilihat dari segi manapun, Youngmin tetap lebih unggul
dariku.”
“O. Arra~”
Kwangmin terdiam sejenak, “Berarti, hal yang paling kau butuhkan saat ini
adalah kamera seperti milik Youngmin. Kajja!” Kwangmin menarik tangan Jina.
“Eodi ka?”
“Ke toko
Kamera…”
Jina dan
Kwangmin tiba di sebuah mall dan menuju sebuah took peralatan fotografi. Mata
Jina langsung tertuju pada sebuah kamera keluaran terbaru yang tengah
dipamerkan. Canon SX40 HS.
“Kau mau
yang ini? Baiklah, akan kubelikan.”
“Jeongmalyo?”
“geuromyo.
Aku akan merasa kasihan sekali padamu kalau kau sampai menjadi budak Youngmin.”
“Hehe~
Gomawo, Kwangmin-a, jinjja gomawo~”
%%%
Di tempat lain, Youngmin sedang sibuk mencari
buku tentang fotografi. Setelah mendapat buku-buku yang dibutuhkannya, Youngmin
keluar dari took buku itu. Saat melewati sebuah took kamera, perhatian Youngmin
tercuri oleh sebuah kamera yang sedang dipamerkan. Canon DSLR EOS 1D X.
“Omo! Fitur kamera ini benar-benar menakjubkan!
Tapi untuk apa aku membeli kamera lagi? Aku baru saja membeli kamera …”
Youngmin terlihat berpikir keras, “Baiklah. Akan kubelikan ini untuk Jina. Aku
mengajaknya taruhan, aku juga harus memberinya perlengkapan yang setara dengan
milikku.”
%%%
“Ini kebutuhan untuk kompetisi. Semuanya sudah
kubelikan.” Ucap Youngmin datar sambil meletakkan tas belanjaan di tempat tidur
Jina. Namun, tak ada tanggapan dari yeoja itu.
“Ya!! Aku bicara padamu!”
“O? mianhae. Aku hanya sedang mencoba
menggunakan kamera baruku.”
“Mworago? Kamera baru?”
“Ye~ tadi aku membelinya bersama Kwangmin.
Bagus kan?”
“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan
membeli kamera baru? Aku sudah terlanjuur membelikan kamera untukmu!”
“Ne? kau membeli kamera untukku?”
“Lihatlah! Kamera yang kubelikan jauh lebih
bagus dibanding kamera pemberian Kwangmin.” Youngmin mengeluarkan kamera
pilihannya daru kardus, “Resolusi gambar yang diambil kamera ini 18 MP,
sedangkan kamera yang kau pegang itu hanya beresolusi 14 MP. Jadi, pakai kamera
ini saja untuk kompetisi.”
“Sirheo~ Tapi jika kau sudah mengingat siapa
aku, aku akan menggunakan kamera pemberianmu.”
Youngmin mengangkat sebelah alisnya, “Apa yang
harus kuingat darimu? Kita bahkan baru mengenal dua minggu ini.”
“Dwaesseo. Memang tidak ada yang harus kauingat
dariku.” Jawab Jina dengan desahan dalam suaranya.
“Intinya, kau akan tetap memakai kamera itu?”
“Geuromyo.” Kata Jina mantap.
“Geurae! Terserah kau saja!” seru Youngmin
dengan nada marah, lalu meletakkan kamera pemberiannya di meja belajar Jina dan
pergi dengan membanting pintu.
%%%
“Aissh! Apa yang baru saja aku lakukan? Aku
sudah mengeluarkan uang 1,7 juta won hanya untuk membeli kamera itu! Lalu apa
yang kudapat? Dia bahkan tidak berterima kasih padaku! Kenapa yang dia
perhatikan hanya Kwangmin, Kwangmin dan Kwangmin?! Aissh, molla! Ini
benar-benat sudah menurunkan harga diriku!” seru Youngmin kesal, lalu
membanting tubuhnya ke tempat tidur. Mata lebarnya menatap ke langit-langit
kamar.
Tok… tok… tok…
Terdengar suara ketukan di pintu kamar
Youngmin.
“Nuguya??”
“Na ya!” ucap JIna
“Kara-----pergi!!”
“Mianhae atas sikapku tadi. Aku tidak bermaksud
untuk…”
“Karago-----kubilang, pergi!!!” seru Youngmin
semakin keras.
Klek!
Jina membuka pintu kamar Youngmin dan melangkah
perlahan ke arah namja yang sedang dalam posisi berbaring itu.
“YA! Aku sudah berkata padamu untuk pergi.
Kenapa kau malah masuk ke kamarku?!”
“Aku membawa cake dan susu hangat untukmu. Dari
siang kau belum makan kan?” kata Jina, lalu duduk di tempat tidur Youngmin.
Namja itu tetap tidak peduli dan diam sambil menatap langit-langit.
“Ayo makan. Aaaa~” Jina menyuruh Youngmin
membuka mulutnya.
Youngmin segera bangun dari posisinya dan
duduk, “Kau pikir aku ini anak kecil yang harus disuapi untuk makan?!”
“Youngmin-a, mianhae. Jinjja mianhae. Terserah
kau mau memaafkan aku atau tidak, tapi aku mohon makanlah. Kau bisa sakit.”
“Sirheo!!”
“Kalau begitu, aaaa~” ucap Jina sambil
menyodorkan sesendok cake.
“Ya! Sirheo!” Youngmin membuang mukanya ke arah
lain.
Jina yang gemas dengan sikap Youngmin segera
memasukkan sesendok cake itu ke mulut Youngmin.
“Enak kan?”
Wajah Youngmin memerah, “ya! Apa yang kau
lakukan?!”
Setelah cake dan susu hangatnya habis, Jina pun
pamit dan menyuruh Youngmin untuk segera tidur.
“Jaljayo…” Jina melangkah keluar dan mematikan
lampu kamar Youngmin.
Seketika itu, Youngmin merasa dirinya sedang
terperangkap dalam kegelapan yang mencekam. Kegelapan membuatnya teringat
kembali akan kejadian masa lalu yang sangat ingin dia lupakan dan setiap
teringat akan kejadian itu, badan Youngmin
bergetar hebat dan dadanya terasa sesak.
Dengan susah payah Youngmin berteriak pada
Jina, “Ya! Hidupkan lampunya kembali!”.
Jina yang baru saja menutup pintu, melongokkan
kepalanya ke dalam kamar kembali, “Wae?”
“Sudahlah! Hidupkan saja!” teriak Youngmin
dengan suara seperti orang tercekik.
“O! baiklah…” jawab Jina dengan wajah bingung.
Setelah lampu menyala kembali dan Jina sudah
berlalu, Youngmin mengacak-acak isi lacinya, mengambil beberapa macam obat dan
meminumnya.
“Aku tidak suka kegelapan. Kegelapan itu
mengerikan…” ucapnya dengan napas masih memburu.
%%%
Di tempat lain, tanpa sepengetahuan Jina dan
Youngmin, Kwangmin bertemu dengan Yubin.
“Yubin-a, ada perlu apa kau meminta untuk
bertemu denganku?”
“Aku langsung ke inti permasaahan saja.” Yubin
menghela napas, “Apa perasaanmu pada Jina masih belum berubah?”
“Kau memintaku datang ke sini hanya untuk
menanyakan itu?”
“Karena itu menyangkut hubungan kita, Jo
Kwangmin. Sudah hampir tiga bulan kita menjalani hubungan backstreet seperti
ini. Kapan kau akan mengakuiku sebagai yeoja chingu-mu?”
“Apa kau masih belum bisa mempercayaiku? Aku
memang pernah menyukai Jina. Tapi sekarang aku memiliki yeoja chingu. Mana
mungkin aku mengkhianatimu? Aku janji, aku akan segera mengenalkanmu pada
Youngmin dan Jina sebagai yeoja chingu-ku.”
“Tapi aku khawatir, kulihat Jina sangat
menyukaimu…”
“Arra… aku akan mencoba membuatnya mengerti.
Kau tenang saja….”
Yubin mengangguk pelan, padahal dalam hatinya
dia masih ragu terhadap namja chingu-nya itu.
%%%
Dandelion
di pekarangan belakang rumah keluarga Jo semakin banyak dan tumbuh subur, walau
tiap harinya banyak dari mereka yang tertiup angin. Begitu pula Jina yang
setiap harinya tumbuh semakin dewasa dan mulai menemukan tujuan hidupnya. Walau
selalu ada hal yang membuat yeoja itu resah, seperti perubahan sikap Kwangmin
padanya akhir-akhir ini. Jika biasanya tiap pulang kuliah namja itu selalu menawarinya pulang bersama, sekarang sudah
jarang bahkan selama lima hari ini Kwangmin tidak menawarinya sama sekali. Tak
hanya soal itu, Kwangmin sekarang juga bersikap sedikit cuek dari biasanya. Jina tak habis pikir dengan perubahan sikap Kwangmin.
Terkadang Jina merasa namja itu sedang berusaha menghindar darinya.
Sore itu, seperti
biasa Jina sedang menyirami dandelion-dandelionnya . Tiba-tiba Kwangmin datang
dan menghampirinya.
“Kwangmin?”
kata Jina kaget, karena sudah beberapa hari ini dia tidak berbicara dengan
Kwangmin.
Kwangmin
berjongkok menghadap Jina sambil tersenyum, “Aku ingin membuat wish dengan
dandelionmu. Bolehkan aku minta satu batang?”
“O. petik
saja. Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat wish bersama? Kurasa itu akan menyenangkan.”
Kwangmin
mengangguk kecil, “Baiklah. Aku dulu yang membuat wish ya?”
“Ye. aku
nanti setelah kau saja.”
Kwangmin
memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam sambil mengucapkan harapannya
dalam hati.
‘Aku harap Jina akan baik-baik saja saat dia
tau aku berpacaran dengan Yubin. Jina-ya, kumohon maafkan aku. Kukira kau tidak
akan menerima tawaran ayahku dan datang ke sini, karena itu pula aku menerima
pernyataan cinta dari Yubin tiga bulan lalu. Mianhae Jina-ya, jinjja mianhae.
Kuharap kelak kau mau mengerti posisiku sekarang ini…’
Kwangmin
membuka matanya, lalu meniup dandelion yang dipegangnya dengan lembut.
“Sepertinya
hal yang kau harapkan besar sekali ya?”
“ne,
harapanku sangat besar dan kuharap itu bisa jadi kenyataan…” Kwangmin menghela
napas panjang, “Sekarang giliranmu.” Kata Kwangmin sambil menyerahkan sebatang
dandelion pada Jina.
Jina
melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Kwangmin, lalu mengucapkan
harapannya dalam hati.
‘Aku harap Kwangmin bisa mengerti perasaanku
padanya…’
Setelah
mengucapkan itu, Jina merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh
bibirnya. Bibir Kwangmin. 1 detik, 2 detik, tiga detik, 4 detik, 5 detik… Lama
sekali bibir Kwangmin menempel pada bibirnya. Jina menahan napas dan tersenyum,
menikmati setiap detik dari pertautan bibir mereka itu. Jantung Jina berdebar
kencang, begitu pula Kwangmin. Perasaannya kini campur aduk, antara senang,
kaget dan tak percaya.
Kwangmin
melepas ciumannya. Jina kemudian membuka mata dan tersenyum pada Kwangmin.
Namja itu merasa bersalah pada Jina, karena telah memberikan harapan palsu pada
yeoja lugu itu.
“Mianhae,
Jina-ya, aku tidak bermaksud untuk melakukannya. aku mohon, lupakan kejadian
ini…” Kwangmin bangkit berdiri dan pergi.
Youngmin yang
sedang membaca majalah di gazebo di dekat petak dandelion itu langsung melotot
melihat Kwangmin mencium Jina. Hyunmin yang juga sedang berada di gazebo sambil
bermain PSP, tanpa sengaja juga melihat adegan itu.
Anak kecil
itu pun segera menutup mata Youngmin dengan majalah yang sedang dipegang Youngmin,
“Jangan dilihat, Hyung!”
“Harusnya
aku yang berkata seperti itu padamu, anak kecil!”
“Jika hyung
melihatnya dengan ekspresi seperti itu, aku tidak bisa kalau hanya diam saja.”
Youngmin
terdiam mendengar kata-kata Hyunmin, baru kali ini dia dinasehati anak kecil.
“Seperti
yang pernah kulihat di drama-drama malam, jika ada dua namja yang menyukai
yeoja yang sama, pasti pada akhirnya namja itu akan berkelahi demi yeoja yang
disukainya.”
“Ya!
Sikkeuro-----diamlah, Jo Hyunmin!” Youngmin beranjak dan pergi ke kamarnya. “Suka? Tau apa anak kecil seperti dia?
Beraninya dia berkata seperti itu padaku!!”
Hyunmin
menghampiri Jina yang sedang berjongkok sambil terus memegangi bibirnya.
“Yang
barusan itu keren sekali, Nuna!” kata Hyunmin dengan senyum lugunya.
“Kau
melihatnya??” Tanya Jina kaget, wajahnya mendadak menjadi semerah tomat.
“O, tadi
aku dan Youngmin hyung tak sengaja melihatnya. Kalau boleh kutebak, itu ciuman
pertama Nuna ya?”
“Bagaimana
kau bisa tau, Hyunmin-a? dan apa yang kau katakan tadi? Youngmin juga
melihatnya?”
“Aku sudah
sering melihat yang seperti itu di drama malam, hehe.” Hyunmin terkekeh,”ne,
tadi hyung melihatnya dan dia langsung masuk ke dalam.”
“Ahhh~~
eotteokhae? Neomu changpihae-----aku sangat malu!”
%%%
Matahari
sudah menghilang dan bulan pun mulai menjalankan tugasnya untuk menggantikan
matahari. Jina dan keluarga Jo sedang makan malam. Makan malam hari itu sungguh
berbeda dari biasanya. Suasananya begitu senyap. Tak ada seorangpun yang ingin
memulai pembicaraan. Kwangmin dan Jina masih merasa canggung satu sama lain
karena hal yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu. Hyunmin yang biasanya cerewet
pun mendadak seperti mengunci mulutnya. Mungkin dia merasakan adanya aura
peperangan di meja itu.
“Youngmin-a,
apa kau sudah mengirimkan foto untuk kompetisi?” Tanya Jina, memecah keheningan
di antara mereka.
Youngmin
bergeming, namja itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, bahkan untuk
menatap Jina saja dia tidak ingin. Dia tidak tau kenapa dia harus bersikap
dingin pada Jina dan Kwangmin. Pikirannya mengatakan untuk bersikap biasa
setelah melihat adegan tadi, tapi hati dan bahasa tubuhnya tidak bisa melakukan
itu.
“Youngmin-a?
apa kau sedang marah padaku?”
Kwangmin
yang sedang makan segera meletakkan sendoknya dan menyuruh Youngmin untuk
menjawab Jina.
“Youngmin-a,
Jina bertanya padamu. Kau harus menjawab saat orang lain bertanya padamu.
Walaupun itu hanya dengan anggukan atau gelengan.”
Youngmin
mengangguk tanpa ekspresi, dalam hati dia merasa sangat jengkel dengan tingkah
dua orang itu yang makin lama makin membuatnya muak.
‘Hah… apa yang baru saja dilakukan Kwangmin?
Dia memarahiku hanya karena aku tidak menjawab pertanyaan Jina? Lucu sekali!!’
Jina
menatap Youngmin, lalu kembali bertanya, “Aku juga sudah mengirimnya. Kalau
begitu kita tinggal menunggu pengumuman pemenangnya. Apa kau tau kapan
pengumumannya?”
Youngmin
mendengus. Lalu menjawab sekenanya, “4 hari lagi!”
Dia pun
segera beranjak pergi menuju kamarnya.
Jina
memandang Kwangmin, matanya seolah bertanya “Ada
apa dengannya?”
.
%%%
Youngmin
membaringkan tubuhnya sambil menatap langit malam lewat jendela kamarnya,
bertanya tanya kenapa dia bisa semarah itu. Padahal itu hal biasa yang sering
dilihatnya di film atau drama.
“Apa karena itu kenyataan yang terjadi di depan
mataku aku jadi seperti ini? Lalu kenapa dadaku menjadi sesak seperti ini? Aku
tidak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Sebenarnya apa yang salah
denganku?”
Youngmin
berusaha memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Dia ingin sekali pergi
meninggalkan dunia nyata yang kini membuatnya bingung dan pergi ke dunia mimpi
agar dia bisa bebas dari semua kebingungan ini, walaupun hanya untuk beberapa
saat. Berkali-kali namja itu membolak-balikkan badannya, dia sama sekali tidak
bisa tidur. Bayangan wajah Jina terus muncul di pikirannya dan seperti menghantuinya.
“AAAAHHH~! APA YANG SUDAH KAULAKUKAN PADAKU,
YUN JINA?!!!” teriak Youngmin dalam hatinya.
%%%
Hari
pengumuman pemenang kompetisi fotografi pun datang. Jina berjalan dengan
langkah ceria ke kampus dan masuk ke kelas pertamanya hari itu. Senyuman
mengembang di wajahnya, karena dia sudah tau bahwa dia meraih juara di kompetisi
itu.
Tadi pagi,
Yubin menelpon rumah keluarga Jo dan memberitahunya bahwa dia meraih juara 3.
Jina memang sudah mewanti-wanti pada Yubin untuk melihat pengumuman pemenangnya
di website penyelenggara kompetisi itu, karena Jina tidak memiliki handphone
atau gadget untuk melakukannya.
Jina duduk
di bangku paling depan kelas. Matanya menangkap sosok namja berambut kecoklatan
yang tengah duduk di bangku pojok belakang sambil menengadahkan kepalanya dan
bersandar pada didnding.
“Youngmin-a…”
panggil Jina sambil berjalan menghampiri Youngmin.
“eung?”
hanya gumaman yang keluar dari mulut namja itu. Matanya terpejam, tampak
kelelahan. Jina menatap wajah Youngmin dan mendapati lingkaran hitam di bawah
mata namja itu.
“Youngmin-a,
apa kau tidak tidur semalaman?” Tanya Jina khawatir.
Youngmin
diam, tidak bernafsu menjawab pertanyaan Jina.
“Apa yeoja ini tidak tau kenapa aku bisa
memiliki kantung mata seperti ini? Padahal ini semua karena dia!! Aku tidak
bisa tidur nyenyak beberapa hari ini karena otakku dipenuhi olehnya!! Tidakkah
dia tau aku hampir gila karena ini semua??!!” gerutu Youngmin dalam hati.
“Youngmin-a,
gwaenchanna?”
“Sudahlah.
Jangan pura-pura khawatir padaku.”
“Aku tidak
pura-pura, Jo Youngmin!” Jina jengkel dan duduk kembali ke bangkunya. Dia
teringat tentang kompetisi itu. Jina pun menghampiri namja itu lagi, lalu
menjentikkan jarinya penuh gaya dan berseru pada Youngmin.
“Jo
Youngmin!!! Bersiaplah untuk menjadi budakku!!”
Youngmin
membuka matanya, tampak tak tertarik, “Kau ini berisik sekali!”
“Aku meraih
juara 3 dalam kompetisi fotografi. Jadi, bersiaplah menjadi budakku. Arasseo?”
Youngmin
bangkit dari posisinya dan berdiri menghadap Jina, “Baiklah aku akan jadi
budakmu. Tapi sebelum itu terjadi, lihatlah ini terlebih dulu.”
Youngmin
mengambil HP dari dalam kantung celananya, lalu menyodorkannya pada Jina.
“Bacalah…”
“Ini
website penyelenggara kompetisi itu ya?”
Youngmin
mengangguk, “lihatlah siapa saja pemenangya… ”
Mata Jina seperti
hampir keluar menatap nama-nama yang terpampang di halaman web itu.
“Mwo?!!
Juara 1 adalah Jo Youngmin?!!!!”
“O, memang
aku. Wae?” Youngmin menarik ujung kanan bibirnya, menyeringai, “Jadi, mulai
detik ini juga kau akan menjadi budakku!”
Jina
menggigit bibirnya, “Kenapa Yubin tidak memberitahuku tentang yang satu ini?”
“Aigoooo… penderitaanku sudah dimulai!!! God, please
help me!” Ratap Jina dalam hatinya.
“Sebelum
kau memulai tugasmu, aku akan membelikan HP untukmu. Agar aku mudah
menghubungimu sewaktu-waktu aku membutuhkanmu.”
“HP?
Jinjja?”
“Jangan
memasang ekspresi seperti itu. Aku melakukannya hanya untuk kontrak budak ini.
Arasseo??”
“O!! tapi
aku tetap berterima kasih padamu. Walaupun kau kasar dan menyebalkan,
sebenarnya kau itu baik hati. Aku tau itu…”
“Mworago?
Beraninya seorang budak berkata seperti itu pada majikannya!!”
“Hehe… aku
hanya bercanda, Jo Youngmin.”
%%%
Sudah
hampir sebulan sejak “Kontrak Budak” itu dilakukan oleh Jina. Yeoja itu benar-benar
merasa sangat menderita menjadi budak Youngmin. Dari bangun tidur sampai waktu
tidur di malam hari, Jina harus menuruti semua keinginan dan kebutuhan Youngmin
yang terkadang dinilainya tak masuk akal. Tapi Jina mulai terbiasa dengan
perintah dan protes yang terus melayang dari mulut namja itu. Jina sudah hafal
dengan perintah rutin Youngmin, seperti; “Belikan
aku pizza”, “Kerjakan tugasku!!”, “Buatkan jus untukku. Aku haus”,dll.
Lama-lama
Kwangmin merasa kasihan pada Jina, tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk
menolong Jina, karena itu memang sudah menjadi kesepakatan mereka berdua dan Jina harus menanggung
konsekuensinya.
Suatu
malam, Youngmin menyuruh Jina membantunya mengerjakan tugasnya (lagi). Malam
itu, hujan turun dengan derasnya dan sepertinya akan terjadi badai. Namun,
keluarga Jo tidak perlu khawatir dengan hal itu. Selama ini rumah mereka tidak
pernah terkena efek yang fatal dari badai tersebut. Kalaupun terkena imbas,
mereka hanya mengalami sedikit kerusakan.
“Hujannya
mengerikan. Aku sedikit takut.” Ucap Jina sambil menatap keluar jendela.
“Dasar
penakut. Itu hanya badai kecil.” Jawab Youngmin menanggapi.
Hujan di
luar semakin deras, anginnya pun semakin besar. Listrik di rumah keluarga Jo
pun mati, sehingga lampu di kamar Youngmin juga padam.
“Mwohaneungeoya-----Apa
yang terjadi? Youngmin-a!! apa kau masih di sini? Aku takut!” teriak Jina.
Tangannya mencoba meraih-raih Youngmin yang tadi duduk di sebelah kanannya,
tapi tidak bisa. Di antara suara gemuruh angin dan petir yang membahana di
telinganya, Jina mendengar suara rintihan dan napas menderu dari arah kanannya.
“Youngmin-a?
neo gwaenchanna? Kau membuatku khawatir!” Jina meraba-raba dan mencari sosok
Youngmin dalam kegelapan yang pekat.
Tiba-tiba,
Jina merasakan kepala Youngmin bersandar di bahunya, deru napas namja itu
terdengar sangat cepat.
“Youngmin-a!
kau kenapa?”
Youngmin
memegangi dadanya yang terasa begitu sesak, “Aku… aku tidak bisa berada dalam
kegelapan.”
“Kwangmiiiiiiiiiin~!!!
Terjadi sesuatu pada Youngmin!” teriak Jina panik.
Tak lama,
Kwangmin datang sambil membawa lampu emergency.
“Sudah
kuduga ini akan terjadi.” Kwangmin pun segera memapah Youngmin dan
membaringkannya di tempat tidur.
Jina
menatap khawatir pada Youngmin yang tak sadarkan diri, “Sebenarnya apa yang
terjadi? Kenapa tiba-tiba Youngmin menjadi seperti ini?“
“Mmmm… dia
mengidap nyctophobia.”
“Nyctophobia?”
“Itu nama
lain dari phobia gelap dan malam hari.” Kwangmin menatap Youngmin, “Penyebab
phobia yang dimilikinya juga sama dengan penyebab dia amnesia. ”
“Mwo?” Jina
kaget mendengar penjelasan Kwangmin. “Lalu, kalau aku boleh tau, peristiwa apa
yang membuatnya seperti ini?”
“Baiklah,
akan kuceritakan padamu…”
[Flashback]
Saat Youngmin berumur 6 tahun, beberapa bulan
setelah kepindahannya dari desa Jina…
Saat itu, tepatnya pukul 9 malam, Youngmin dan
Kwangmin baru saja selesai les piano. Seperti biasa, Eomma mereka datang
menjemput. Youngmin langsung menghambur ke pelukan Eomma-nya. Ya, Youngmin
memang sangat dekat dengan Eomma-nya, tidak seperti Kwangmin yang hanya dekat
dengan Appa-nya.
“Maaf ya, hari ini Eomma telat menjemput
kalian.” Kata Eomma mereka sambil mengelus kepala kedua putra kembarnya itu.
“Gwaenchanna, Eomma, yang penting Eomma sudah
datang.” Jawab Kwangmin sambil tersenyum.
“Lalu Hyunmin dimana?” Tanya Youngmin, karena
dia tidak melihat adik kecilnya itu di gendongan Eomma-nya.
“Adik kecilmu itu sudah tidur di rumah. Kajja. Mobil
Eomma ada di seberang. Kalian di sini saja, biar Eomma ambil mobil dulu.
Arasseo?”
Kwangmin mengangguk kecil. Namun Youngmin malah
terus mengikuti Eomma-nya, seperti tidak ingin berpisah. Youngmin kecil
berjalan mengikuti Eomma-nya tanpa melihat kanan-kirinya.
“Eomma~!!!” teriak Youngmin sambil terus
berjalan. Eomma-nya menoleh dan mengisyaratkan Youngmin kembali.
“Eomma~!!!” panggil Youngmin lagi.
Padahal dari arah kanannya melaju cepat sebuah
truk barang. Eomma Youngmin langsung berlari dan mendorong Youngmin ke tepi
jalan.
Dan…
BRAAAAAK….!!!
Bagian depan truk itu menabrak Eomma Youngmin,
menimbulkan suara keras yang mengerikan. Youngmin dan Kwangmin langsung
menghampiri tubuh Eomma-nya yang sudah tak bergerak itu. Kwangmin terisak
melihat Eomma-nya, dia hanya berani memandangnya.
Sedangkan Youngmin…
“Eomma~! Jangan tinggalkan Youngmin sendiri!!”
tangis Youngmin sambil memeluk dan menciumi Eomma-nya. Noda darah memenuhi baju
anak kecil itu.
Bulan yang tertelan oleh awan hitam di angkasa,
mulai meninggalkan kegelapan yang mencekam dan pekat. Yang terlihat oleh
Youngmin hanyalah kilau darah yang kini melumuri hampir seluruh tubuh
Eomma-nya.
Tiba-tiba Youngmin merasakan semuanya gelap,
dia tak sadarkan diri. Semuanya terjadi begitu cepat dan membuat anak kecil itu
sangat shock Kwangmin hanya bisa menangis melihat dua orang yang disayanginya
seperti itu.
“Ya! Apa kalian baik-baik saja?” teriak
seseorang yang kemudian menghampiri mereka.
Pertolongan pun mulai berdatangan dari
orang-orang di sekitar tempat kejadian.
[Flashback end]
“Aku tidak
bisa membayangkan apa yang dirasakan Youngmin saat itu. Memang berat kehilangan
orang yang sangat kita sayangi, apalagi saat kita masih kecil dan butuh
perhatian. Aku juga merasakan hal yang sama dengan kalian. Tapi aku berusaha
mengikhlaskan kepergian Appa dan Eomma.”
“O. saat
itu aku juga sangat kehilangan. Walaupun sulit, akhirnya aku bisa merelakan
kepergiannya. Tapi sayangnya Youngmin tidak sepertiku.” Kwangmin mendesah,
sorot matanya menjadi sedih, “Sejak malam itu, Youngmin melupakan semua
kenangan masa kecilnya. Yang diingatnya hanya peristiwa kelam itu. Aku tidak
tau kenapa itu bisa terjadi, tapi saat dia dibawa ke psikolog, psikolog itu
mengatakan kalau Youngmin menderita amnesia karena shock berat. Aku tau,
Youngmin sangat dekat dekat Eomma, karenanya dia sampai seperti itu.”
Jina diam
mendengarkan cerita Kwangmin. Bibirnya seperti sulit digerakkan.
“Sejak
malam itu pula Youngmin tidak dapat berada di ruangan gelap atau keluar pada
malam hari. Dia pernah berkata padaku, kalau dia berada dalam gelap, rasa
bersalah karena kematian Eomma kembali menyerangnya, membuat dadanya sesak dan
seluruh tubuhnya lemas.”
“Jadi
seperti itu… lalu, siapa Eomma yang dimaksud Neulki? Dia berkata padaku bahwa
Jo Sajangnim tinggal di Verona bersama Nyonya. ”
“Ah, dia
Ibu tiriku. Walau hanya Ibu tiri, beliau sangat baik dan penuh kasih sayang.
Dialah yang merawat Hyunmin dan kami berdua setelah Eomma meninggal.”
“Eung,
ara…” Jina mengangguk kecil.
“Baiklah,
aku ke kamar Hyunmin dulu ya? Kasihan dia kutinggal sendirian.”
Kwangmin
beranjak dari duduknya dan segera keluar.
Jina duduk
di sebelah tempat tidur Youngmin, menatap lekat-lekat wajah namja itu.
Tiba-tiba Youngmin mengigau dan terus memanggil Eomma-nya. Jina mencoba menenangkannya
dengan menggenggam tangan namja itu. Beberapa saat kemudia, namja itu kembali
tenang. Jina pun berusaha menarik tangannya, tapi Youngmin terus saja
menggenggamnya.
“Haaaah,
padahal biasanya dia dingin dan kasar, tapi sekarang dia malah membuatku merasa
kasihan. Aku tidak mengira kau punya masa lalu yang seperti itu, Jo Youngmin.
Pasti kau merasa sangat bersalah atas kematian Eomma-mu…”
Jina
menunggui Youngmin sampai akhirnya dia tertidur. Tangannya pun masih berada
dalam genggaman namja itu.
%%%
Kicauan burung
mulai menyemarakkan pagi, cahaya matahari pun mulai memenuhi ruangan. Jina
membuka matanya dan mendapati dirinya berada di tempat tidur yang sama dengan
Youngmin. Dilihatnya namja itu meringkuk dengan selimut menutupi seluruh
tubuhnya. Jina mengedipkan matanya beberapa kali dan menyadari posisinya
sekarang ini. Yeoja itu pun berteriak keras.
“Apa yang
kaulakukan Jo Youngmiiiiiiiin~~!!!”
Youngmin
mulai menggeliat, mata lebarnya terbuka dan menatap Jina jengkel, “Ada apa
pagi-pagi sudah ribut? Mengganggu orang tidur saja!!”
“Ya!
Bagaimana aku bisa tidur seranjang denganmu, hah??”
“Tadi malam
kau tidur di samping tempat tidurku. Karena aku tidak tega melihatmu tidur
sampai ngorok begitu, aku membawamu ke tempat tidurku.” Jelas Youngmin dengan
wajah innocent, lalu melanjutkan tidurnya.
Jina keluar
kamar Youngmin dengan langkah lebar, dia jengkel sekali dengan Youngmin yang
dinilainya seenaknya.
“Huh, baru saja aku mulai bersimpati padanya,
tapi dia malah berlaku seenaknya padaku…”
Jina melangkahkan
kakinya ke pekarangan belakang, dia bermaksud menengok petak dandelionnya.
Benar dugaannya, dandelion-dandelionnya hancur karena badai semalam. “Aissh~
wae ireoke-----kenapa begini?”
“Arasseo. Besok kan hari Senin, aku bisa
mengambil lagi dari bukit di belakang kampus. Semoga dandelion di sana tidak
rusak karena badai tadi malam. I hope…”
%%%
Hari baru,
semangat baru. Walaupun sedih karena petak dandelionnya rusak gara-gara badai
kemarin lusa, Jina tetap bersemangat menyambut hari itu. Jina berencana
mengambil beberapa tanaman dandelion yang tumbuh di bukit di belakang gedung
kampus untuk ditanam lagi di pekarangan. JIna berjongkok sambil mengumpulkan
tanaman-tanaman yang dirasanya masih bisa ditanam. Tanpa sengaja dia mendengar
suara-suara yang familiar baginya. Jina mendekati sumber suara itu. Tubuhnya
langsung melemas melihat pemandangan di depannya. Dandelion-dandelion dalam
genggamannya terjatuh.
Kenyataan
yang sangat menyakitkan baginya, hingga dia hanya bisa berdiri mematung. Jina
mengalihkan pandangannya dari dua objek itu. Kwangmin dan Yubin. Dua orang itu
sedang duduk di puncak bukit kecil itu dan Kwangmin baru saja mencium dahi
Yubin dengan pandangan penuh kasih. Jantung Jina berdetak kencang, hatinya
begitu ngilu melihat kenyataan yang terpampang di hadapannya. Kenyataan .yang
harus dihadapinya begitu kejam dan menusuk. Jina merasa tak ada ruang yang
tersisa untuknya, agar dia dapat memasuki hati Kwangmin. Yang ada sekarang
hanyalah sebuah ironi yang harus dia terima.
Jina tidak
pernah tau sebelumnya jika Kwangmin dan Yubin memilki hubungan. Jina merasa
terkhianati oleh Yubin. Padahal yeoja itu tau kalau Jina sangat menyukai
Kwangmin.
“Tidak… aku tidak boleh sedih, aku tidak boleh
menangis. Aku tidak boleh marah pada mereka. Mereka saling mencintai dan aku
akan berdosa jika membuat mereka berpisah hanya karena keegoisanku. Tapi…
bagaimana dengan hatiku? Ini benar-benar menyakitkan, sangat menyakitkan….”
%%%
Jina
berjalan keluar dari area kampus dan berpapasan dengan Youngmin. Youngmin
tersenyum pada Jina, tapi yeoja itu tidak menggubris keberadaan Youngmin dan
melewati namja itu begitu saja.
“Jangan
bersikap seolah kita tidak saling kenal!” seru Youngmin pada Jina.
Jina
menghentikan langkahnya, menarik napas panjang tanpa berpaling menghadap namja
itu.
“Jangan
lupa kalau kau itu budakku.”
“Aratta.
Tapi tolonglah, untuk hari ini saja. Lakukan sendiri semua yang kaubutuhkan
sama seperti saat aku belum menjadi budakmu.” Kata Jina tanpa menoleh ke arah
Youngmin.
Jina
melangkahkan kakinya.
“Baiklah.
Aku juga tidak butuh bantuan dari yeoja kampong sepertimu!”
“Mworago?”
kata Jina sambil berjalan menuju Youngmin, yeoja itu menatap marah pada
Youngmin.
“AKU TIDAK
BUTUH BANTUAN DARI YEOJA KAMPUNG SEPERTIMU!!!”
“Lalu
kenapa tidak dari dulu? Jika kau hebat, kenapa kau menjadikanku budak dan harus
mengikuti semua perintahmu? Apa kau tidak bisa melakukan semuanya sendiri?! Kenapa
kau menjadikanku budak jika kau tidak butuh?! Kau bisa saja kan membatalkan
taruhan itu? Tapi kenapa kau tidak melakukan itu?!” seru Jina penuh emosi.
Youngmin
kaget melihat reaksi Jina, baru kali ini yeoja itu terlihat sangat marah
padanya. Padahal biasanya dia tidak akan marah jika Youngmin memanggilnya
‘Yeoja Kampung’, tapi kenapa kali ini…
“Aku
berkata seperti itu karena kau telihat tidak ingin mealakukan tugasmu sebagai
budakku!”
“Aku
memiliki alasan kenapa aku tidak ingin melakukannya. Apa kau pernah menanyakan
pada ku kenapa aku tidak bisa? Tidak pernah!!!”
“Lalu
kenapa kau tidak mengatakannya? Kenapa kau tiba-tiba marah?”
“Apakah aku
harus tersenyum setiap saat? Kau pikir aku ini robot yang diprogramkan khusus
untuk tersenyum? Aku ini juga manusia, adakalanya suasana hatiku sedang tidak
baik. Jadi, untuk hari ini aku sedang tidak ingin melihatmu. Jebal. Mengertilah.”
“Baiklah,
kalau itu maumu!!!” balas Youngmin sambil berlalu dari hadapan Jina, dari
suaranya terlihat rasa kesal yang teramat sangat pada Jina.
Jina
berjalan menuju halte bus sambil menunduk. Dia tidak mengerti kenapa dia harus
bersikap kasar pada Youngmin, padahal namja itu tidak bersalah.
“Mianhae, Youngmin-a… aku melakukan itu karena
saat aku melihatmu, aku seperti melihat Kwangmin dan saat aku teringat padanya,
hatiku menjadi sakit. Mianhae,karena telah menjadikanmu pelampiasan amarahku…”
%%%
Hari mulai
petang, sedikit demi sedikit Matahari menyembunyikan dirinya di balik cakrawala
barat. Titik lembut air berjatuhan dari langit yang mulai berwarna keemasan.
Walau hanya gerimis kecil, tapi titik-titik air itu mampu membuat tubuh
Youngmin basah. Dengan langkah lesu, namja itu memasuki rumahnya, wajahnya
seakan membeku, kaku. Sejak dia bertengkar dengan Jina tadi siang, dia merasa
sulit untuk tersenyum. Bukan karena dia marah pada yeoja itu, tapi karena tanpa
sadar Youngmin mengkhawatirka Jina. Entah apa yang membuat Jina bersikap
seperti itu padanya.
Mata
Youngmin menyapu setiap ruangan yang dilewatinya, tapi dia tidak menemukan
Jina. Sampai akhirnya dia berniat mencari Jina di kamar yeoja itu. Perlahan
Youngmin membuka pintu kamar Jina, berharap melihat yeoja itu disana, tapi
hasilnya sama saja, NIHIL. Youngmin menutup kembali kamar Jina, lalu tiba-tiba
namja itu merasakan sebuah dorongan dari dalam hatinya untuk masuk ke kamar
Jina. Youngmin duduk ranjang Jina dan menemukan sebuah buku kecil di atas meja
yeoja itu. Rasa penasaran membuat Youngmin membuka buku itu. “Ini… sebuah diary??
Lembar demi
lembar dibacanya, jantung Youngmin berdetak cepat saat dia melihat namanya ada
dalam diary itu. “Hah? Namaku? Dan tanggal
di catatan ini, adalah hari pertama Jina pindah. Ada apa dia menulis namaku di
sini?
Youngmin-a, apa kau benar-benar melupakanku?
Hatiku sakit. Otakku terus memutar kenanganku
bersama anak kembar ini. Saat-saat bahagia dimana aku selalu bermain bersama
mereka. Ya, 10 tahun yang lalu. Memang sudah lama dan mungkin Youngmin
benar-benar sudah melupakannya. Aku tak pernah menyangka Youngmin sangat
berubah seperti sekarang ini. Tidak adakah secuilpun kenangan tentang diriku
yang tertinggal di benaknya?
Youngmin
menarik napas panjang, “Apa benar jika
aku pernah mengenal Jina sebelumnya? Aku sama sekali tidak ingat.”
Youngmin
membuka lembar berikutnya dan menemukan sebuah foto yang menurutnya sangat
aneh.
“Punggung?
Punggung siapa ini? Kenapa dia meletakkan foto tak berguna seperti ini di buku
diary-nya?
Youngmin
membalik foto itu dan menemukan sebuah catatan kecil,’Punggung Kwangmin saat dia menggendongku
pulang. Kwangmin adalah pangeran penyelamatku…’
“Ya!
Bukankah ini aku? Aku yang menggendongnya saat dia terjatuh dari pohon karena ingin
mengambil foto pemandangan di desa. Tapi, kenapa dia menuliskan nama Kwangmin?
Hah, bodoh sekali yeoja itu!!”
Youngmin
terdiam setelah berbicara sendiri. Dia sadar, memori masa lalunya sedikit demi
sedikit mulai kembali.
“Sekarang
aku ingat! Yun Jina, tetanggaku saat berada di desa dulu! Bagaimana aku bisa
lupa?!!”
Youngmin
kembali meneruskan membaca diary Jina.
Aku adalah dandelion.
Walau banyak orang yang tidak menganggapnya dan
hanya menganggapnya sebagai rumput liar yang tak berguna, tapi bagiku dandelion
adalah bunga terindah yang pernah Tuhan ciptakan. Bunga kecil itu sudah
mengajariku berbagai nilai kehidupan. Walau aku tak bisa setegar bunga liar
itu, aku telah berusaha sekuat mungkin untuk menjadi sepertinya.
Youngmin
mengerutkan keningnya,lalu sebuah jawaban muncul di pikirannya.
“Aha!
Dandelion!! Kurasa aku tau dimana dia sekarang!”
TBC…
0 komentar:
Posting Komentar