Selasa, 19 Juni 2012

[FF Sequel Invisible Love] Your Guardian Angel

Diposting oleh hunhanbuin di 19.51





Title : Your Guardian Angel
Author : Sonia aka. Han Minji
Genre : Fantasy, romance, drama, friendship
casts : Sehun Exo, Sanghyun MBLAQ, Lee Eunhye,Luhan Exo and other cameos.
song of the story : EXO - What is Love, EXO - Angel,Ailee - Heaven


Ayo wassssuuup~~!!! si Author balik lagi bawa FF lanjutan Your Guardian Angel.
setelah lama banget mikirin lanjutan nih FF, akhirnya ini FF kelar juga *jingkrak-jingkrak*
maaf banget updatenya lama. lagi stress mikir SNMPTN masalahnya T__T *galau*
ahya, ini FF hasil khayalan tengah malam author yang lagi ngegalau. jadi kalau jelek, harap dimaklumi ye? OTL
ya udah deh kalau gitu, HAPPY READING :D










use me as you will
pull my strings just for a thrill
and
I know I’ll be okay
though my skies are turning gray

I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
even if saving you sends me to heaven
...

(The Red Jumpsuit Apparatus - Your Guardian Angel)


***

“Apapun akan kulakukan dan kukorbankan, asal Eunhye dapat hidup kembali…”

***

Sehun mendarat dengan selamat dan melangkah dengan ragu ke sebuah tempat yang dapat dikatakan sangat indah dan penuh keajaiban. Di hadapannya berdiri sebuah istana megah dengan tiang-tiang emas yang kokoh dan berdinding perak padat. Lantainya terbuat dari kristal biru yang sangat bening, membuat setiap makhluk yang melangkahkan kakinya di istana itu merasa seperti sedang menapaki permukaan air danau yang tenang. Aroma harum yang kuat namun menenangkan menyebar ke segala sudut istana itu.
Langkah Sehun semakin pelan saat mendekati gerbang istana tersebut. Rasa tegang mulai menggerogoti dirinya dan hatinya.
Perlahan Sehun mulai memasuki istana berlantai kristal itu, beberapa malaikat pun menyambutnya dengan ramah, salah satunya Luhan. Luhan lah malaikat pelindung yang selama ini menjadi teman dekatnya sekaligus teman bertugasnya.
Sehun memasuki ruangan terluas dan termegah di istana itu. Ruangan Leader Suho.
“Eung? Oh Sehun?  ada perlu apa kau menemuiku?” tanya Suho dengan senyum bijaknya.
Sehun menggigit bibir bawahnya,  “Aku... aku ingin bertanya mengenai sesuatu...” Sehun terdiam beberapa saat, berusaha merangkai pertanyaan di benaknya dengan hati-hati,  “Apa malaikat dapat mengambil kesempatan kedua untuk bereinkarnasi jika kesempatan pertamanya tersiakan?”
Suho menaikkan sebelah alisnya, “Kenapa kau menanyakan masalah itu?”
“Kau Leader dari semua malaikat pelindung, pasti kau tahu tentang hal ini. Jika malaikat melanggar suatu aturan, dia pasti akan menjadi roh biasa dan tidak dapat bereinkarnasi selamanya. Lalu, dapatkah roh biasa itu menjadi malaikat lagi? Dengan begitu, dia memiliki kesempatan kedua untuk bereinkarnasi.”
“Aku juga tidak tahu, karena hanya Tuhan yang dapat memutuskan semuanya. Aku hanyalah malaikat pelindung biasa yang ditugaskan-Nya untuk mengatur kalian.” Suho mengelus dagunya, pandangannya kemudian mengarah pada sosok Sehun yang terdiam dengan wajah murung, “Hmmm... Apa sekarang kau sedang membicarakan tentang dirimu sendiri?”
“Itu... aku akui kau benar, aku memang menanyakan ini semua untuk diriku. Aku ke sini karena aku ingin tahu apa aku masih dapat bereinkarnasi jika aku telah melanggar peraturan.” Sehun menunduk semakin dalam, “Aku ingin pergi ke taman Eden dan memetik buah kehidupan...”
Suho melebarkan matanya, tampak terkejut, “Mwo? Kau baru menjadi malaikat selama setahun dan tugasmu itu belum selesai. Karena itu, kau tidak boleh memetiknya sekarang. Mana boleh pekerja mengambil upahnya sebelum pekerjaannya selesai?”
“Algesseumnida... geundae, aku harus melakukannya. Aku harus menyelamatkan nyawa yeoja yang kulindungi. Dia tidak ditakdirkan mati dalam waktu dekat ini, tapi rohnya sudah terpisah dari raganya, karena itu aku akan melakukan apapun agar dia dapat hidup kembali.” Sehun  memberanikan diri untuk menatap mata Suho, “Bukankah itu tugas malaikat pelindung yang sesungguhnya? ”
“Tapi kau tak perlu melangkah sejauh itu, kan? Satu malaikat hanya boleh memetik satu  buah kehidupan dan cara mendapatkannya pun tidak mudah. Karena seorang malaikat harus melakukan tugasnya bertahun-tahun dulu, baru dia dapat memetiknya. Kau juga tahu kan resikonya jika memetiknya sebelum masa kerja habis? Apa kau takkan menyesalinya?”
“Aku tahu aku takkan dapat bereinkarnasi lagi, tapi aku tak akan menyesali itu semua karena itu semua kehendakku.”
“A, geuraeyo... Kurasa aku tak akan bisa mencegah niatanmu itu. Terserah kau saja...” Suho akhirnya menyerah. Dia tahu, jika dia membujuk Sehun lebih lanjut pun, Sehun takkan mendengarnya.
“Aku tahu ini lancang, tapi... dapatkah kau memberitahuku di mana letak Taman Eden?”
“Jika aku tahu, aku pasti akan memberitahumu, tapi tidak ada malaikat yang tahu tentang taman itu. Hanya Tuhan dan para penjaga Taman den yang tahu. ”
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan berangkat sekarang. Doakan agar aku dapat menemukan letak taman Eden...” Sehun tersenyum pada Suho semanis yang dia bisa, karena mungkin saja ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Leader tampan itu. Dia pun kemudian keluar dengan langkah lebar, seakan sedang dikejar-kejar oleh sang waktu.
“Sehun-a!” sebuah suara memanggil namanya, suara yang sangat dikenalnya.
Sehun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara itu, “Eoh, Luhan Hyung! Wae geurae?”
“Apa kau benar-benar akan melakukan hal itu?”
Sehun menaikkan sebelah alisnya, “Melakukan apa?”
“Itu... tentang buah kehidupan...” jawab Luhan pelan, dari ekspresi wajahnya, dia tampak tak rela jika dia harus kehilangan teman baiknya itu.
“Geokjeongma, Hyung... aku akan baik-baik saja.” Kata Sehun sambil menggenggam tangan Hyungnya itu, berusaha menghilangkan kecemasannya. “Tidak seharusnya Hyung menguping pembicaraanku dengan Leader Suho...”katanya lagi, kali ini dengan seulas senyum di wajahnya.
“Tapi, itu berarti ini adalah pertemuan terakhir kita. Setelah kau mengambil buah itu... kau akan kembali tinggal di Eden, bukan di sini bersamaku.” Luhan menunduk dalam-dalam, “dapatkah kau membatalkan niatmu ini? Ini sangat beresiko. Aku takut sesuatu yang buruk akan menimpamu...”
“Hyung, percayalah, aku akan baik-baik saja dan kita pasti akan bertemu lagi nanti. Ne?” Sehun kemudian melepas genggaman tangannya.
“Sehun-a, kenapa kau yakin sekali bisa mengambil buah itu? Kau hampir tak tahu apa-apa tentang tempat yang akan kaucari. Bahkan kau tak tahu di mana letak taman Eden sebenarnya...” Luhan berkomentar penuh kecemasan. “Kau tidak bisa dibilang terlatih mencari jalan dengan mengikuti bintang-bintang atau apapun itu, dan dua roh temanmu itu juga tak tahu apa-apa tentang Taman Eden. Ini gawat...” Luhan memainkan jari-jari tangannya dan menatap Sehun.
“Aku akan mencari tahu sendiri. Hyung tak perlu mengkhawatirkan aku...” Sehun mengangguk penuh rasa optimis, meski dalam hatinya terdapat rasa takut dan ketidakyakinan yang besar, ”Baiklah, Hyung. Kanda-----aku pergi...”
“Jamkkanman.” Kata Luhan lagi saat Sehun sudah mulai melangkah menjauh.
“Waeyo? Ada apa lagi, Hyung?”
Luhan melangkah mengampiri Sehun, “Aku kenal dengan seekor naga. Hmm... tepatnya, jelmaan naga. Dia pernah menjaga gerbang taman Eden sebelumnya. Kurasa dia akan dengan senang hati membantumu.  Jika kau mau, aku bisa mengantarmu ke tempatnya...”
“A, jeongmalyo?” tanya Sehun penuh rasa antusiasme sekaligus tak percaya.
Luhan mengangguk, “Aku bukan manusia yang suka berbohong. Kau tahu kan, aku ini malaikat dan malaikat tidak pernah berbohong.” Luhan menarik pergelangan tangan Sehun  agar dia mengikutinya, “Aku akan mengantarmu ke tempatnya.”
“Ne... gomawo, Hyung sudah bersedia menolongku. Mianhae, karena aku tidak dapat menemanimu lagi di sini.”
“Gwaenchanna. Aku sangat mengerti posisimu saat ini. Mungkin jika aku jadi kau, aku akan melakukan hal ini juga...” ucap Luhan sambil menampakkan seulas senyum manisnya, berusaha menutupi rasa sedihnya karena akan segera berpisah dengan Sehun. “Ya, setidaknya aku harus melakukan sesuatu untuk Sehun sebelum dia pergi...”

***

Sehun dan Luhan sampai di sebuah lembah gunung di kahyangan yang letaknya tak jauh dari istana malaikat pelindung. Ya, kahyangan memang terbagi menjadi beberapa bagian yang masing-masing bagian memiliki fungsi tersendiri. Seperti istana tempat tinggal para malaikat pelindung, Eden yang digunakan untuk menampung para roh baik yang baru saja mati dan bagian-bagian penting lainnya.
Matahari semakin tinggi, mengusir kabut , menghilangkan temaram dan menggoreskan ribuan warna pada dinding tebing yang mengelilingi lembah itu. Ketika kabut tersibak, sebuah kenampakan yang luar biasa terungkap. Sungai-sungai bening tampak mengalir dengan tenang dan di sekelilingnya terdapat para nymph yang sedang menari-nari mengitari pohon-pohon.  Sungai-sungai itu tampak berkilauan seperti aliran berlian jika dilihat dari atas seperti ini. Suara-suara nyanyian yang lebih terdengar seperti tangisan  dan rintihan terdengar jelas, entah dari mana datangnya, membuat siapapun yang mendengarnya merasa ngeri sendiri. Saat pertama terbang memasuki tempat itu, Sehun langsung merasakan  hawa yang berbeda dari biasanya. Lembah itu memang indah, tapi aura magis dan misterius di dalamnya sangatlah kuat.
Sehun menyenggol lengan Luhan dengan sikunya, “Hyung, kenapa tempat ini mengerikan sekali? Banyak suara aneh memenuhi telingaku.”
“Ini biasa terjadi di sini. Tapi tenanglah, tempat ini tidaklah berbahaya.”
“Apa kita sudah dekat dengan tempat tinggal temanmu itu, Hyung?”
“Kita hampir sampai...”
Sehun terbang mengekor di belakang Luhan, wajahnya tampak semakin tegang setelah membayangkan bagaimana rupa naga yang sebenarnya.
Mereka berdua lalu bergegas menuju sekumpulan pohon pinus yang tumbuh miring di kaki gunung yang paling tinggi. Di bawah pohon-pohon itu suasananya gelap, begitu gelapnya hingga celah yang membelah lereng itu nyaris tak terlihat oleh mata. Bagaikan mulut yang menganga, celah itu menelan semua kabut yang melayang.
“Sehun-a, kita sudah sampai...” kata Luhan sambil menunjuk sebuah gua di salah satu sisi celah di lereng itu.
Sehun hanya diam, dia mengamati gua itu dengan tatapan waspada sekaligus sedikit takut. Mereka memasuki gua yang gelap itu, hawa dingin segera menyergap tubuh mereka berdua. Matahari semakin terik di luar, tapi keadaan di gua tetap sejuk. Sepanjang perjalanan di gua itu, mereka berdua tidak mengucapkan sepatah kata pun karena terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Dari suatu celah di sudut gua yang paling gelap, terdengar suara desisan yang cukup keras. Dengan cemas, Sehun menegakkan tubuhnya dan memasang telinga. Bunyi desiran dan suara cakar yang menggores batu karang di dasar gua mulai terdengar oleh telinganya. Lalu, dari balik kegelapan muncul makhluk paling menakutkan yang pernah dilihat oleh Sehun.
Rupa makhluk itu bagaikan ular raksasa, dengan sisik berkilap yang melapisi seluruh tubuhnya. Ada sepasang sungut yang menjulur di kedua sisi mulutnya. Matanya merah dengan pandangan yang  sangat tajam. Terdapat sepasang tanduk di kepalanya yang sangat mirip dengan tanduk rusa. Empat cakar di keempat kakinya terlihat sangat tajam seperti cakar rajawali yang siap menerkam siapa saja yang mengusiknya. Kedua sayapnya yang membuatnya terlihat semakin mengerikan langsung mengembang saat melihat sosok Sehun dan Luhan. Perlahan, sosok mengerikan itu mendekati mereka berdua. Sehun pun segera mundur beberapa langkah, menjadi semakin ketakutan.
Makhluk mengerikan itu menatap wajah Sehun dengan pandangan bertanya-tanya, “Kau siapa?”, dia bertanya. “Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”
“Dia temanku, Kris. Namanya Sehun.” Luhan yang menjawab karena Sehun masih terlihat ketakutan.
Sehun berdiri bagaikan patung. Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya tak dapat melakukannya. Tubuhnya terasa kaku.
“Kris,dapatkah kau mengubah wujudmu? Kurasa Sehun sangat ketakutan melihatmu...”
Naga bernama Kris itu menatap tubuhnya sendiri lalu tertawa, “A,  baiklah...” katanya kemudian.
Tak lama, makhluk mengerikan itu sudah berubah wujud menjadi sesosok namja yang sangat tampan dengan tatapan mata tajamnya yang menyihir. Sehun tak habis pikir, bagaimana bisa namja setampan itu menjadi jelmaan seekor naga yang mengerikan?
“Perkenalkan, aku Kris. Aku adalah jelmaan dari yong-----naga langit. Tugasku di sini adalah menjaga istana tempat kalian tinggal.” Kris mengulurkan tangannya pada Sehun seraya tersenyum kecil.
“Aku... aku Sehun.” kata Sehun masih terlihat shock dan ketakutan.
“Apa gerangan yang membuat kalian berdua menemuiku?”
Sehun menatap Luhan, meminta Luhan menjelaskan pada Kris tentang masalahnya.
“Sehun ingin pergi ke taman Eden, tapi dia tidak tahu di mana letaknya. Apa kau bisa mengantarnya ke sana?”
“Taman Eden?” tanya Kris, kaget.
“Ne, taman Eden. Kau pernah berkata padaku jika kau pernah menjadi penjaga di gerbang taman itu. Kau pasti masih ingat letaknya kan?” lanjut Luhan.
Sehun mulai ikut berbicara, “Dan... dapatkah aku membawa dua roh temanku yang nyawanya ingin kuselamatkan?”
“Tapi... perjalanan ke sana tidaklah mudah. Aku takut akan terjadi sesuatu padamu dan roh temanmu yang ingin kauajak itu.”
“Aku yakin kami akan baik-baik saja. Jadi... tolonglah. Aku mohon.” Sehun berlutut di hadapan Kris.
“YA!! Jangan berlutut seperti itu. Aku bukanlah Tuhan yang pantas diperlakukan seperti itu.” Seru Kris sambil membantu Sehun berdiri.”Baiklah, akan kubantu kalian. Tapi, di mana roh temanmu itu?”
“Mereka masih di bumi. Aku tidak bisa membawa mereka ke sini karena mereka masih setengah roh dan mereka tidak dapat terbang seperti kita.”
“Jika seperti itu... ayo segera mulai perjalanan ini, karena ini tidak akan mudah.”  Kata Kris.
“Sehun-a, maafkan aku karena aku hanya bisa mengantarmu ke sini. Aku masih memiliki tugas yang belum kuselesaikan...” ucap Luhan dengan wajah penuh sesal.
“Gwaenchanna, Hyung. Aku sudah merasa sangat terbantu dengan ini.” Sehun  tersenyum, menghampiri Luhan dan memeluk Hyung-nya itu.
“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Aku harus kembali ke istana. Sehun-a, aku akan selalu mendoakanmu...” Luhan mengalihkan pandangannya pada Kris, “Tolong bantu dan jaga dia ya?”
Kris mengangguk seraya menunjukkan senyumannya yang seakan memiliki kekuatan sihir itu.
Setelah Luhan pergi, Kris pun kembali menatap Sehun, “Kau takkan ketakutan lagi kan, jika aku mengubah diriku menjadi naga? Agar dapat memberi tumpangan pada dua temanmu itu, aku harus menjadi naga.”
“Gwaenchanna. Aku hanya kaget tadi. Karena aku baru pertama kali ini melihat naga secara langsung.”
“Baiklah.... Kaja.” Kris kembali mengubah dirinya menjadi naga.

***

Di tempat lain, Sanghyun dan Eunhye sedang berjalan berdampingan di pinggiran sungai Han. Wajah mereka tampak muram, seperti ada sesuatu yang berat yang mengganjal di benak mereka.
“Oppa... apa tadi kau lihat? Mereka semua menangis saat melihat kita terluka parah seperti itu.” Eunhye menyeka air matanya yang kembali mengalir saat mengingat wajah sedih sahabat-sahabatnya dan orang tuanya saat melihat keadaannya di rumah sakit tadi.
“Aku lihat semuanya. Dara Nuna, Appa dan Eomma-ku terlihat sangat terpukul melihat keadaanku. Aku tidak tega melihat mereka semua seperti itu.” Sanghyun lalu memegang pipi Eunhye dengan kedua telapak tangannya sambil menyeka air mata di wajah yeoja itu.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Sehun tak juga kembali dari tadi. Ini sudah empat jam sejak kepergiannya.”
“Tunggu saja dia. Dia sudah berjanji pada kita bahwa dia akan kembali untuk membantu kita. Bukankah kau percaya padanya?” Sanghyun tersenyum dan menepuk kepala Eunhye penuh sayang.
Eunhye menatap Sanghyun, “Eung. Aku percaya padanya...Kalau begitu, kita harus kembali ke tempat yang tadi...”
Sanghyun mengangguk, kemudian menggandeng tangan Eunhye dan berjalan pelan kembali ke tempat di mana Sehun meminta mereka untuk menunggunya.
Bulan melayang di atas atap-atap rumah kota dan segelintir bintang menampakkan diri di langit ketika tiba-tiba Sangyun melihat sesuatu yang terlihat seperti burung melayang-layang di atas kepalanya. Namun dia langsung merasa gamang ketika melihat ukuran burung itu semakin besar saja saat mendekatinya. Cepat-cepat dia mundur selangkah, “Eunhye-ya, makhluk apa itu?” tunjuk Sanghyun pada titik yang masih melayang-layang di atasnya.
Eunhye mengikuti arah yang ditunjuk oleh Sanghyun, kemudian memicingkan matanya untuk memperjelas pandangnya, “Aku juga tidak tahu, yang jelas itu pasti makhluk yang sangat besar...”
“Perasaanku saja atau makhluk itu memang terbang turun menuju tempat ini?” gumam Sanghyun.
“Ani, Oppa... aku juga merasa makhluk itu menuju ke tempat kita berdiri.”
Beberapa menit kemudian, makhluk itu sudah benar-benar berdiri di depan mata mereka. Sanghyun dan Eunhye hanya bisa menatap makhluk di hadapannya dengan pandangan kosong, ini seperti mimpi buruk bagi mereka.
“Apa kau... naga? Kau benar-benar naga?” tanya Eunhye takut-takut. “Kenapa aku terus saja mengalami hal-hal yang aneh seperti ini?”
Makhluk itu mengangguk. Lalu, tak lama kemudian Sehun muncul di antara mereka.
“Sehunnie, kenapa kau lama sekali? Aku sudah ketakutan setengah mati.” Kata Eunhye sambil melirik ke arah naga itu.
“Apa kau tahu kenapa dia berada di sini?” Sanghyun menunjuk ke arah naga itu.
“Dia Kris dan dialah yang akan membantu kita pergi menuju taman Eden.”
“Di... dia akan... membantu kita?” kata Sanghyun dan Eunhye hampir bersamaan.
Sehun mengangguk sambil tersenyum.“Jangan takut padanya, dia baik dan juga sangat tampan. Aku berani menjamin.”
“Tampan?” tanya Eunhye, heran.
Perlahan asap putih mengelilingi Kris, sehingga Eunhye dan Sanghyun tidak dapat mengetahui apa yang terjadi pada makhluk itu. “Ada apa dengannya?”
“Lihat saja...” jawab Sehun singkat.
Asap putih yang mengelilingi tubuh Kris menghilang secara berangsur-angsur, dan yang kini terlihat di mata Eunhye dan Sanghyun bukanlah sosok naga yang mengerikan, melainkan sosok namja yang sangat tampan dan berkarisma.
“Apa kau Kris yang tadi? Bagaimana bisa?” tanya Sanghyun, dia terkesiap menatap Kris dari atas sampai ke bawah.
“Tentu saja bisa. Aku ini jelmaan naga langit, karena itu aku dapat berubah menjadi naga dan manusia hanya dengan hitungan detik.” Kris tersenyum, “Nah, kalau seperti ini, kalian tidak takut padaku, kan?”
Eunhye dan Sanghyun mengangguk.
“Tapi, aku hanya bisa memberi tumpangan pada kalian jika aku menjadi naga. Jika tidak, aku tidak bisa terbang dan mengantar kalian ke taman Eden. Apa kalian keberatan dengan hal ini?”
“Baiklah jika ini satu-satunya jalan, kami akan ikuti. Memang kami masih takut dengan wujud nagamu, tapi kami akan menahan perasaan takut itu.” Jawab Eunhye mantap, lalu menatap tiga namja di hadapannya secara bergantian.
“Bagus jika seperti itu. Kaja! Kita harus cepat memulai perjalanan ini...” kata Kris, dan di detik selanjutnya dia sudah berubah menjadi naga lagi.“Kalian berdua, naiklah ke punggungku.” Perintah Kris.
“Bb... baiklah.” Dengan perasaan takut, Eunhye dan Sanghyun pun naik ke punggung naga itu.
“Kalian harus berpegangan pada gerigi di punggungku,” Kris menjelaskan,”Dan ikat tubuh kalian dengan sabuk itu ke gerigiku agar kalian tak jatuh saat diterpa angin.”
Sanghyun dan Eunhye mengangguk. Kris kemudian menoleh ke belakang dan menatap kedua penumpangnya. “Siap?”
“Siap!!” jawab mereka berdua cepat.
 “Kris, kita akan terbang melewati bumi atau kahyangan? Aku tidak tahu di mana pintu menuju Taman Eden berada. Dapatkah pintu itu ditemukan di bumi?” tanya Sehun.
“Kita melewati Bumi saja, karena pintu menuju Taman Eden memang terletak di salah satu sisi Bumi.” Kris bersiap mengepakkan sayapnya, “Ayo berangkat ke arah utara!”
“Utara?” tanya Sehun.
“Ya, utara. Kita akan menuju ujung dunia, karena di sanalah pintu menuju Taman Eden berada.”
Sang naga membentangkan sayapnya yang mengilap dan lepas landas, begitu pula Sehun.
Sanghyun dan Eunhye menahan napas dan berpegangan semakin erat pada gerigi di punggung Kris. Sang naga terbang semakin tinggi. Kebisingan kota Seoul tertinggal jauh di bawah mereka. Malam menyelubungi mereka dengan kegelapan dan keheningan, lalu segera saja dunia manusia tak lebih dari kilau-kilau cahaya yang berada jauh di bawah.

***

Selama berjam-jam mereka berempat-----Sehun, Kris, Eunhye dan Sanghyun-----terbang di antara langit malam yang gelap, karena hanya segelintir bintang menampakkan diri di sana. Suasana malam terasa membelai karena angin panas melintasi Laut Timur. Namun menjelang fajar, cuaca mulai tak bersahabat. Angin yang sudah agak lama bertiup dari arah berlawanan kini berhembus semakin kencang. Kris berusaha menghindari angin itu dan meminta Sehun untuk segera naik ke punggungnya juga agar dia tidak terbawa angin. Terkadang dia terbang lebih tinggi, kadang juga lebih rendah, berusaha menghindari angin, tapi tetap saja tak berhasil karena angin itu ada di mana-mana. Makin lama, Kris makin kesulitan untuk bergerak maju. Awan mulai bertumpuk-tumpuk bagaikan pegunungan di langit, guntur bergemuruh dan kilat membelah-belah langit yang tampak semakin gelap.
“Aku tak sanggup melawan angin!!!” teriak Kris pada ketiga penumpangnya. Dengan tenaga yang dimilikinya, dia berjuang melawan musuh yang tak kasat mata itu. Namun angin terus saja menamparnya, mendorongnya untuk jatuh mendekati ombak-ombak ganas di tengah lautan.Sehun, Sanghyun dan Eunhye berusaha mati-matian untuk berpegangan pada gerigi di punggung Kris. Mereka hanya bisa menahan teriakan keluar dari mulut mereka, agar Kris tidak merasa terganggu.
Hujan deras menerpa dari awan-awan yang menggunung. Seketika itu, gerigi di punggung Kris menjadi sangat licin dan tidak dapat lagi dijadikan pegangan. Eunhye kemudian memeluk Sanghyun dari belakang, menjadikan namja itu sebagai pegangannya. Melihat hal itu, Sehun menjadi sedikit cemburu dan akhirnya dia pun mengikuti cara Eunhye dan memeluk yeoja itu dari belakang. Seulas senyum mengembang di wajah tampannya,”Aku belum pernah memeluknya dari belakang seperti ini...”
Mereka sedang terperangkap dalam badai dan ini sungguh bukan waktu yang tepat untuk merasa cemburu, tapi itulah yang dilakukan Sehun. Walaupun dia malaikat, dia tetap tak dapat mencegah hatinya untuk merasakan itu. Sedangkan Sanghyun, dia harus lebih erat bepegangan pada gerigi Kris dan mengeratkan sabuknya agar kedua makhluk di belakangnya tidak terjatuh, dia terlihat sangat kesulitan melakukannya. Sebenarnya Sehun tak bermaksud untuk mempersulit Sanghyun, dia hanya merasa sedikit.... tidak suka.
Di sisi lain, Kris berusaha sangat keras, badai berulang-ulang membawanya ke arah ombak lautan yang ganas, begitu rendahnya hingga wajah ketiga penumpangnya terkena terjangan air.
Kepakan sayap Kris semakin lemah, Sehun dapat merasakan itu. Tiba-tiba secercah harapan muncul di depan mata mereka.
“Itu!” seru Sanghyun senang, “Itu daratan! Kris, apa kau masih sanggup terbang sampai ke sana?”
Dengan sisa tenaganya, Kris terbang perlahan  melewati angin dan menuju ke tepian pantai yang ditunjuk Sanghyun.
“Kita pasti bisa!” teriak Sehun sambil terus berpegangan pada Eunhye. “Kita pasti berhasil sampai di sana!”
Matahari semakin tinggi dan lambat laun langit pun menjadi cerah. Badai mulai melemah, seakan memutuskan untuk kembali ke peraduannya ketika pagi datang.
Dengan beberapa kepakan sayap terakhir, Kris meninggalkan lautan di belakangnya, terbang merendah dan akhirnya  mendarat di hamparan pasir putih pantai yang lembut. Sehun, Eunhye dan Sanghyun segera meluncur turun dari punggung Kris. Naga itu merebahkan kepalanya di pasir dan memejamkan matanya, dia terlalu letih. Makhluk besar itu ambruk, berdiri kembali, lalu jatuh dan perlahan tergeletak ke bagian tubuh sebelah kirinya.Seluruh tubuhnya merasakan nyeri karena terpaan angin yang sangat kencang. Perlahan, dia berubah menjadi sosok manusianya.
Sehun berjalan mendekati Kris, memegang lututnya dengan tangan kanan dan menggoyangkan tubuhnya, “Kris!” Sehun menegurnya agar Kris tersadar, “Bangun, Kris!”
Tak ada jawaban dari mulut namja tampan itu.
“Kris-ssi, ireonayo!” seru Eunhye mulai panik melihat Kris tak bergerak sama sekali.
“Kita harus menyadarkannya. Tapi bagaimana caranya?” Sanghyun mendekati tubuh Kris yang basah dan terlihat lemas, napasnya juga memburu.
Sebenarnya Kris sadar, dia hanya tidak dapat menggerakkan seluruh otot tubuhnya, karena dia terlalu lelah. Bahkan untuk sekedar membuka mata pun sulit dilakukannya.
Belum habis kepanikan mereka, terdengar suara dari balik semak yang membuat mereka berdiri waspada. Mereka menghentikan aktivitasnya dan mulai memasang telinga. Bunyi berisik dari balik semak itu semakin keras terdengar. Tiba-tiba muncullah sesosok makhluk aneh, rupanya dialah sumber dari suara-suara itu. Makhluk itu memiliki tubuh layaknya seekor kuda atau mungkin keledai, berwarna putih dengan sedikit aksen abu-abu di sekitar lehernya dan tak lupa sebuah tanduk di bagian tengah atas keningnya. Sehun, Saghyun dan Eunhye hanya dapat menganga melihat wujudnya, karena mereka hanya pernah melihat makhluk seperti itu di film-film.
“Unicorn...” gumam mereka bertiga bersamaan seraya menatap makhluk di hadapan mereka dengan tatapan kagum. Ada sedikit rasa lega saat melihat maklhuk aneh itu, karena mereka tahu, unicorn adalah makhluk baik di dalam kisah-kisah anak.
Unicorn itu pun berjalan mendekati mereka, “Bagaimana bisa kalian menemukan tempat ini? Tak pernah ada manusia yang menemukan tempat tinggal kami, para unicorn.”
“Kami bukan manusia, kami... setengah roh.” jawab Sanghyun sambil menunjuk dirinya dan Eunhye.
“Dan aku adalah malaikat pelindungnya.” Tambah Sehun lalu menunjuk Eunhye.
“A,geurae?” kata unicorn itu kemudian.”Lalu apa yang terjadi dengan teman kalian?” unicorn itu menunjuk ke arah Kris dengan gerakan mata.
“Kurasa dia terlalu lelah setelah melawan badai hampir semalaman...” jawab Sehun.”Apa kau dapat membantu kami untuk menyembuhkannya? Dan... Jika aku boleh tahu... siapa namamu?”
“Aku Yixing.” Jawabnya, lalu menatap Kris yang terbaring tak berdaya, “Aku ini jelmaan unicorn dan aku dapat menyembuhkan penyakit apapun dengan mudah. Karena itulah tugas unicorn, sebagai penyembuh.”
“Jelmaan? Itu artinya kau... manusia?”
“Begitulah...” jawab unicorn bernama Yixing itu singkat,
“Jadi kau dapat menyembuhkan Kris?” Eunhye tampak sangat senang mendengarnya.
Unicorn itu tak menjawab pertanyaan Eunhye dan langsung mendekati Kris, menempelkan ujung tanduknya di kening namja itu. Seberkas sinar muncul di sana dan saat sinar itu lenyap, Kris sudah sadar kembali. Kris membuka matanya perlahan, rasa nyeri di tubuhnya sudah hilang seutuhnya dan kini dia merasa segar kembali.
Kris pun segera berdiri, “Kita berada di mana?”
“Aku juga tak tahu.” Jawab Sehun polos.
“Ini pulau tempat tinggal para unicorn.” Yixing menjawab pertanyaan Kris.
Kris menoleh ke arah Yixing lalu membungkukkan badannya, “A, ne. Terima kasih karena sudah menolongku tadi.”
“Itu sudah menjadi tugas unicorn, kau tak perlu sungkan.” Unicorn itu kemudian berbalik, bersiap pergi.
“Jamkkanmanyo!” seru Kris, mencegah unicorn itu untuk melangkah.”Di mana arah utara jika dilihat dari tempat ini?”
Yixing menghentikan langkahnya, “Arah utara berada di kananmu.” Jawabnya singkat,”Aku penasaran... ke mana kalian akan pergi?”
“Kami akan pergi ke... Taman Eden.” Jawab Kris dengan penekanan di kata Eden.
Unicorn itu tampak terkejut dengan jawaban Kris, “Jeongmalyo? Baiklah kalau begitu. Kudoakan kalian semua selamat sampai di sana.”
“Kamsahamnida...” ucap mereka berempat bersamaan.

***

“Kris, gwaenchanna? Apa kau serius akan melanjutkan perjalanan ini sekarang? Apa kau tak butuh istirahat? ” tanya Sehun penuh kecemasan saat Kris menyuruh mereka bertiga untuk segera memulai perjalanan lagi setelah menunggu sinar bulan datang.
Kris hanya mendengus dan menatap Sehun, “Gwaenchanna. Unicorn tadi telah menghilangkan rasa sakit di tubuhku. Asalkan ada cahaya bulan menerangiku, itu akan baik-baik saja. Jadi, jangan khawatir.” Kris menatap mereka bertiga satu persatu, “Kalian juga harus cepat sampai ke Taman Eden. Karena itu cepatlah kalian naik. Kau juga Sehun, sebaiknya kau ikut naik ke punggungku.” Lanjut Kris.
“Baiklah jika itu kehendakmu. Kami akan mengikuti semua instruksimu.” Ucap Sehun pada akhirnya, lalu berjalan di samping Kris.
Mereka berempat berjalan menuju ke arah utara, mencari dataran yang lapang untuk Kris berubah menjadi naga. Sehun berjalan di belakang bersama Kris sedangkan Sanghyun dan Eunhye berjalan sambil bergandengan di depan. Sesekali Sehun melirik ke arah mereka berdua dengan tatapan sebal yang penuh kecemburuan.
“Eunhye-ya, kau tidak terluka kan?” tanya Sanghyun sambil membelai rambut Eunhye.
Sehun yang melihatnya langsung melotot kesal, “Aku saja belum pernah melakukan itu pada Eunhye!” desisnya, sedikit geram.
Kris segera menenangkan Sehun dengan menepuk pundak malaikat tampan itu, “Kau tidak boleh. Kau tahu itu kan? Seberapa besar pun rasa cinta atau rasa cemburumu pada Eunhye, kau takkan bisa lagi bersatu dengannya. Duniamu dan dunianya sudah berbeda.”
Sehun mengangguk pasrah, “Arratta. Padahal aku sendiri yang meminta mereka untuk bersatu. Tapi kenapa aku malah...” Sehun tak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Gwaenchanna. Itu wajar, aku juga merasakan hal sama denganmu sebelumnya. Dan kurasa, semua malaikat dan makhluk sepertiku juga merasakan hal yang sama.”
“Musun soriya?” Sehun mengernyit, tak mengerti maksud dari kata-kata Kris.
“Aku ini juga manusia. Dulu aku memiliki kehidupan yang sangat bahagia dan tak ingin kutinggalkan. Aku memiliki yeochi yang cantik, keluarga yang sangat menyayangiku dan teman-teman yang sangat kurindukan. Yaaah... tapi semua itu berakhir karena takdir yang sudah digariskan Tuhan untukku. Aku berubah menjadi naga dan ditugaskan untuk menjaga Taman Eden. Pada awalnya, aku merasa ini semua tak adil untukku dan terus meratap pada Tuhan, ‘Kenapa harus aku?’” Kris menarik napas panjang, “Tapi kemudian aku sadar. Bukankah Tuhan pemilik semesta alam telah melakukan yang terbaik untuk makhluknya? Dan seperti yang kaulihat, aku menikmati tugasku sebagai salah satu penjaga di kahyangan sekarang. Cepat atau lambat, kau akan mengerti garis takdirmu dan mau tak mau kau harus menjalaninya dengan ikhlas.”
Sehun hanya diam, melihat ke arah Sanghyun dan Eunhye yang terlihat sangat akrab dan bahagia. Segaris senyum tercipta di wajahnya, “Setidaknya aku dapat melihatnya tersenyum seperti itu.”
“Percayalah padaku, Tuhan sudah merencanakan sesuatu yang indah untukmu.”
Sehun menghentikan langkah, bingung dengan perasaannya sendiri dan mulai berjalan lagi dengan langkah pelan.
Kris menepuk pundak Sehun, tersenyum. “Ayo kita lanjutkan perjalanan. Kau harus bisa menjalani takdirmu sebagai penyelamat dan pelindung Eunhye.”
“Eung~ Baiklah...” jawab Sehun, dia mulai kembali menjadi Sehun yang ceria.
“A,ne. Jangan lakukan hal bodoh seperti tadi malam hanya karena kau cemburu. Kau tahu? Itu dapat membahayakan kalian betiga atau bahkan aku.”
“Hal bodoh? Aku tak pernah melakukannya.” Sehun berkelit dan langsung mengalihkan pandang.
“Kau pikir aku tidak tahu jika kau kemarin melakukan hal konyol hanya karena cemburu? Untung saja Sanghyun berpegangan erat pada gerigiku, kalau tidak... entah jadi apa kalian saat ini.”
“Eum... masalah itu... aku hanya... hanya sedikit...” Sehun menjilat-jilat bibirnya seperti biasa, gugup.
“Sudahlah, lupakan. Itu semua sudah lewat. Yang penting sekarang kau takkan melakukannya lagi.” Jawab Kris tegas lalu mempercepat langkahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka berempat sampai di sebuah stepa yang sangat luas. Kris pun segera mengubah wujudnya menjadi naga kembali dan meminta ketiga penumpangnya untuk segera naik dan melanjutkan perjalanan.

***

Pada malam-malam berikutnya, Kris terbang lebih cepat dari angin. Udara malam memang sejuk, tapi hawa pada siang hari begitu panas sehingga mereka nyaris tidak bisa melanjutkan perjalanan. Berhari-hari mereka terbang lurus ke utara, tapi anehnya, mereka sama sekali tidak merasakan lelah. Kris tak heran akan keadaan itu, dia yakin karena unicorn itulah sampai sekarang dia dapat bertahan tanpa istirahat sedetik pun. Tidak ada halangan berarti untuk beberapa hari ini, sehingga mereka dapat tertawa santai.
Mereka kini tengah melintasi hamparan hutan pinus yang berada di pegunungan. Mereka tidak tahu sekarang mereka ada di negara apa, yang mereka tahu hanyalah mereka sedang berada di sebelah utara Eropa.
Eunhye selalu memperhatikan negeri-negeri yang dilewatinya dengan seksama. Sebenarnya dia ingin sekali melihat negeri-negeri asing itu lebih dekat. Namun itu hanya bisa dilakukannya saat tengah malam, waktu Kris terbang merendah di atas kota-kota. Dari atas dia dapat melihat berbagai menara dan gedung tinggi menjulang mewah dengan ciri khas eropanya.
Udara di atas sini dipenuhi oleh bau yang asing, seperti campuran bau hujan, debu atau bahkan embun. Sungguh tak terdefinisikan.
Malam ini malam yang sangat indah, hangat dan penuh dengan bintang. Dalam waktu yang sangat singkat, hutan dan pegunungan yang tadi mereka lewati lenyap ditelan kegelapan. Kini, di belakang, sebelah kanan dan kiri mereka tidak ada hal lain selain air dan bongkahan es yang mengapung. Hanya warna putih kebiruan sejauh mata memandang.Sesekali sekelompok burung terbang melintas dan berkaok kaget saat melihat Kris. Ya, kali ini mereka harus menyebrangi samudra Arktik  untuk menuju ke ujung dari dunia, utara dari Bumi.
“Oh, tidak!” seru Kris tiba-tiba.
“Ada apa?” teriak Sehun dari belakang.
“Bulan! Aku tidak melihat bulan!”
“Lalu kenapa jika kau tidak melihat bulan?”
Kris terbang semakin pelan, kepakan sayapnya mulai lunglai seakan sedang menopang beban berat yang tidak kelihatan. Naga hanya bisa memperoleh kekuatan jika bulan tergantung di langit dan memancarkan sinarnya. Jika terjadi gerhana bulan seperti ini, naga akan menjadi lemah dan kehilangan kekuatannya.
“Kau terbang terlalu rendah, Kris!” seru Sehun lagi.
“Aku tidak kuat lagi! Aku menjadi lemah tanpa sinar Bulan!” teriak Kris.
“Oh, tidak. Ini terjadi lagi. Padahal baru beberapa hari yang lalu kita mengalami hal yag sama.” Ucap Sanghyun sambil memepererat pegangannya di gerigi Kris.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita berada di atas lautan es sekarang!” teriak Eunhye ketakutan.
Kris terbang semakin rendah. Wajah ketiga penumpangnya pun mulai diterpa percikan air asin yang sedingin es. Pada detik berikutnya, Kris pun jatuh dari langit, seperti burung yang baru ssaja tertembak oleh sang pemburu. Tapi anehnya, mereka tidak benar-benar terjatuh, mereka melayang-layang di udara seperti serbuk-serbuk bunga dandelion yang berterbangan.
“Bagaimana bisa ini terjadi? Bagaimana mungkin kita tidak terjatuh?” kata Kris dengan tatapan tak percaya, memandang ketiga penumpanganya.
“Kurasa aku tahu kenapa...” gumam Sehun sambil menatap ke atas.
Kris, Sanghyun dan Eunhye pun mengikuti arah pandangan Sehun. mereka bertiga terkejut melihat sosok yang tengah terbang di atas sana. Makhluk yang memiliki ciri sama persis dengan Sehun, malaikat.
Malaikat itu  menatap keempat makhluk di bawahnya sambil tersenyum dan segera mengarahkan gerakan tangannya ke arah daratan terdekat. Seketika itu pun, Kris dan ketiga penumpangnya sudah berada di atas daratan berlapis es.
“Luhan Hyung! Jinjja gomawoyo.” Seru Sehun , lalu berlari ke arah Luhan yang baru saja mendarat. Luhan hanya membalasnya dengan senyuman.
“Luhan, bagaimana kau tahu kami ada di sini?” tanya Kris.
“Insting malaikat sangatlah tajam. Kau tahu itu.” Jawab Luhan asal.
“Ah, kau bisa  saja.” Kata Kris, “Tapi ada satu hal yang membuatku bingung. Kau memiliki kekuatan yang hebat seperti itu, tapi kenapa dia tidak punya?” Kris menunjuk Sehun dan yang ditunjuk pun langsung menunduk.
“Itu karena dia belum lama bertugas, sehingga dia belum terlalu memerlukan kekuatan sepertiku.” Jawab Luhan lagi. “A! Apa kau yang bernama Lee Eunhye?” cetus Luhan sambil menunjuk Eunhye.
Eunhye membungkukkan badannya, “Ne, namaku Eunhye. Kamsahamnida, telah menolong kami.”
“Wah, ternyata kau yeoja yang benar-benar cantik dan baik. Pantas saja Sehun masih belum bisa melupakanmu dan rela mengorbankan apapun demi dirimu.” Kata Luhan sambil tersenyum. Dia senang karena akhirnya dia dapat melihat yeoja yang selalu diceritakan Sehun padanya.
Sehun membekap mulut Luhan dengan tangannya. “Hyung, jangan bicara yang tidak-tidak.”
Sanghyun dan Eunhye mengernyit.
“Me... mengorbankan apapun... demi aku?” tanya Eunhye sambil menatap ke arah Sehun. sehun langsung menggeleng kuat-kuat.
“Jangan pedulikan kata-kata Luhan Hyung. Dia memang terkadang suka bicara sesukanya.” Kata Sehun sambil meringis, tangannya masih saja membekap mulut Luhan.
“Sehun-a! Lepaskan tanganmu.” Kata Luhan, tidak terdengar begitu jelas karena bekapan Sehun.
Sehun melepas tangannya dari wajah Luhan dan berbisik pada hyungnya itu, “Mianhaeyo, Hyung. Aku tak bermaksud untuk... arghh...” Sehun mendekatkan mulutnyanya ke telinga Luhan, “Aku hanya tak ingin membebani Eunhye. Dia pasti akan merasa bersalah setelah mendengarnya.”
Luhan mengangguk, “Sehun-a, maafkan hyungmu ini yang tidak mengerti hal seperti itu. Aku tak pernah berpikir sampai ke sana. Kau tahu kan, aku tak memiliki niat buruk saat mengatakan itu tadi.”
“Gwaenchanna, Hyung. Arrasseoyo...” jawab Sehun sambil merangkul Luhan.
“Apa kau akan ikut bersama kami ke Taman Eden?” tanya Kris pada Luhan.
“Aniya. Aku masih harus melaksanakan tugasku. Baiklah, kurasa aku harus kembali sekarang...”
“Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih!” seru mereka berempat pada Luhan yang mulai terbang menjauh.
Sepeninggalan Luhan, mereka berempat hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa. Bulan di atas sana masih belum terlihat juga. Kris mengembuskan napas panjang, dia berubah menjadi wujud manusianya sekarang.
“Tadi... hampir saja kita tercebur ke lautan es. Aku sungguh minta maaf pada kalian. Aku telah menimbulkan rasa takut yang besar di benak kalian. Maafkan aku...” kata Kris, terlihat sangat menyesal.
“Itu semua bukan salahmu. Ini semua di luar kehendak kita, kau tahu itu.” Ucap Sanghyun, berusaha menenangkan Kris.
“Apa kalian merasakan keanehan seperti yang kurasakan?” tanya Sehun tiba-tiba.
“Keanehan apa?” tanya Eunhye tidak mengerti.
“Ini adalah daerah dekat kutub, tapi aku sama sekali tidak kedinginan. Dan lagi...” Sehun memandang sekitar dengan waspada, “Aku merasakan tanah yang kita pijak bergerak setiap detiknya. Apa kalian tidak merasakan hal itu?”
“Kau benar, aku juga tidak merasakan dingin. Tapi tentang tanah... aku tak merasakan apapun.” Kata Kris, mewakili jawaban Eunhye dan Sanghyun.
“Aku merasa... pulau ini berbau sedikit amis. Apa karena laut?” Sanghyun berdiri dan mengamati lebih teliti tempat yang dipijaknya, “dan lapisan es ini... kurasa kita sedang tidak berada di tanah yang dilapisi es. Setelah dilihat lebih teliti, pulau ini berbentuk seperti tempurung kura-kura. Atau jangan-jangan pulau ini...” Sanghyun bergidik ngeri membayangkan apa yang ada di bayangannya saat itu.
“Kura-kura raksasa!!!” seru Sehun.
“Naik lagi ke punggungku! Ppalli!!” teriak Kris, secepat kilat dia mengubah dirinya menjadi naga lagi.
Sekonyong-konyong, seluruh pulau bergetar.
“Lari!” Sehun berteriak dan mendorong Eunhye ke arah Sang Naga. Dengan susah payah, mereka naik ke punggung Kris. Sementara itu, pulau itu menyembul semakin tinggi dari permukaan laut.
“Tapi, Kris, bulannya!!” Sehun memekik putus asa menyadarinya.”Bulannya belum muncul juga. Bagaimana mungkin kau bisa terbang, Kris?”
Sehun benar, di tempat bulan seharusnya menggantung, hanya tampak lubang hitam yang menganga. Tak ada sisa cahaya dari bulan di sana.
“Aku harus terus mencoba terbang!” seru Kris sambil merentangkan sayapnya. Namun meskipun dia sudah berusaha keras, tubuhnya tak terangkat sejengkal pun. Sehun, Sanghyun dan Eunhye saling berpandangan dengan cemas.
Tiba-tiba, kepala raksasa muncul dari laut di depan mereka. Kepala itu tampak berlumut dan mmm... terlihat sedikit berlendir. Sepasang mata terbuka dari bawah kelopak yang tebal.
“Omo!! Kita benar-benar mendarat di atas kura-kura raksasa!” teriak Eunhye tak percaya.
Kura-kura itu mengangkat kepalanya, hingga melayang di atas kepala Kris. Sang naga hanya dapat berdiri terpaku melihatnya.
”Kalian bertiga mundur! Berlindunglah di belakang tubuhku.” Gumam Kris pada ketiga penumpangnya.
“Wah, ada siapa di sini?” ucap kura-kura itu dengan suara merdu dan lembut. “Tamu yang sangat tidak biasa di daerahku yang penuh dengan air asin dan hamparan es ini. Apa yang membuat sepasang makhluk setengah roh, malaikat pelindung dan naga sampai di sini? Pastinya bukan hanya untuk menangkap ikan, kan?”
“Yang jelas kami berada di sini bukan untuk berurusan denganmu.” Seru Kris lantang.
“A, begitu ya?” sahut kura-kura raksasa itu santai. “Setahuku kalian ke sini untuk pergi ke Taman Eden dan mengambil buah kehidupan dari sana.”
Kris, Sehun, Sanghyun dan Eunhye melotot kaget mendengar kata-kata kura-kura itu, isi pikiran mereka sama : “Bagaimana dia bisa tahu?!”
” Kau! Namamu Sehun, kan? Malaikat kecil yang tampan dan sangat bersinar. Kau benar-benar malaikat pelindung yang baik. Kau rela mengorbankan kesempatanmu bereinkarnasi hanya demi nyawa yeoja yang kaulindungi. Kurasa kau malaikat pelindung terbaik di jagad raya ini...”
Sanghyun menatap ke arah Sehun, merasa tidak sebanding dengan malaikat itu untuk bersaing memperebutkan hati Eunhye.
“Aku mohon, jangan teruskan perkataanmu. Aku tak tahu bagaimana kau mengenal dan mengerti seluruhnya tentang aku, tapi kumohon. Hentikan kata-katamu itu.” Seru Sehun, lalu menatap ke arah Eunhye yang tengah menatapnya lekat.
“Apa benar yang dikatakannya?” tanya Eunhye, air mata mulai mengalir di kedua pipinya.
“Eunhye-ya...”
“Kau tak perlu mengorbankan apapun demi aku, karena aku... aku tak pernah melakukan sesuatu pun untukmu. Kau tahu itu kan, Oh Sehun?!!”
“Gwaenchanna. Ini sudah menjadi keputusanku. Kita hampir sampai ke Taman Eden, terlambat untuk membatalkannya.” Sehun tersenyum dan memeluk Eunhye. Sepasang sayapnya langsung mengembang dan ikut menaungi tubuh mungil Eunhye.
“Kenapa kau mengorbankan sesuatu yang sangat penting bagimu, eo? Kau ini benar-benar bodoh!”
“Ye, aku memang bodoh. Tapi aku senang menjadi malaikat yang bodoh seperti ini asalkan kau tetap bisa hidup dan tersenyum bahagia.”
“Kaupikir itu takkan menjadi beban bagiku? Bagaimana caraku membalasmu? Aku tak punya apa-apa!!” Eunhye terisak hebat, rasa bersalah menggerooti hatinya.
“Kau hanya perlu membalasnya dengan senyummu. Ya, hanya senyum.” Sehun melepaskan pelukannya dan menyeka air mata di wajah Eunhye.
“Hei, kalian berdua! Sudahlah, terima ini semua dengan ikhlas, karena ini sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk kalian. Keberadaanku di sini hanyalah untuk meyakinkan kalian bahwa jalan yang kalian ambil itu benar.” Kata kura-kura raksasa itu lagi, ditujukan pada Sehun dan Eunhye yang terlihat sangat gamang.
“Sebenarnya kau ini siapa?” tanya Sanghyun, mewakili semua pertanyaan yang lain.
“Aku adalah kura-kura kebijaksanaan. Aku selalu mengatakan kebenaran yang aku tahu pada orang yang kukehendaki.” Jawab makhluk raksasa itu.
“Kura-kura kebijaksanaan? ” Kris ikut bertanya.
“Ya, itulah aku.”
“Apa kau dapat membantu kami dalam perjalanan ini?”
“Geurom. Tentu saja bisa. Adakah sesuatu yang ingin kalian tanyakan?”
“Tentang roh jahat yang berkeliaran di sekitar Taman Eden, apakah mereka masih ada di sana?” tanya Kris lagi.
“Tentu saja mereka masih bergentayangan di sana. Jiwa-jiwa yang tak tenang seperti mereka akan terus seperti itu. Selamanya...”
“Lalu, adakah cara untuk menhindarinya?” sambung Sanghyun, padahal dia tidak tahu bagaimana wujud roh-roh itu.
“Tidak ada. Tapi jika kalian tidak ingin terlibat masalah dengan mereka, kalian tidak boleh merasa takut sedetik pun. Apapun yang terjadi, jangan sampai kalian merasa ketakutan.”
“Baiklah, aku mengerti. Kuharap aku nanti dapat mengatasi rasa takutku...” gumam Sanghyun sambil menganggukkan kepalanya.
“Lalu apa yang akan terjadi jika aku ketakutan?” tanya Eunhye, yang kali ini sudah dapat mengendalikan emosinya.
“Kalian akan tinggal selamanya bersama mereka, bersama jiwa-jiwa jahat yang tak tenang.” Jawab Sang Kura-kura dengan nada mencekam.
“Ah, jawabanmu terlalu dibuat-buat menakutkan...” Sehun mengibaskan tangannya di depan wajah sambil tertawa.
“Sudah kubilang, aku hanya akan mengatakan kebenaran.” Protes Sang kura-kura tidak terima. “Kalian semua cepatlah berangkat, semakin kalian menunda, akan semakin berbahaya. Cahaya bulan sudah kembali menerangi bumi, maka cepatlah!” Lanjutnya seraya menatap empat makhluk di hadapannya dengan tatapan serius.
“Baiklah. Kami akan segera berangkat.” Jawab Kris, lalu segera berubah menjadi naga lagi.”Kalian! cepat naik ke punggungku!”

***

Kris terbang semakin tinggi. Dia merasa sangat bertenaga, seolah di dalam darahnya mengalir cahaya bulan itu sendiri. Akhirnya tempat tujuan mereka sudah dekat. Rendah di batas horizon, tak jauh dari tempat mereka berada, terdapat cahaya warna warni yang membentuk rangkaian seperti tirai yang melambai-lambai malas membentang di langit. Seiring waktu berlalu, segaris cahaya hijau terbentuk dan melayang jauh di atas mereka, perlahan membentuk sebuah kurva yang mengombak pelan. Tiba-tiba bagian bawah dari tirai cahaya itu berubah merah dan menggelombang dengan begitu cepat.  Biru dan ungu kemudian muncul, berputar-putar seperti roda angin yang bercahaya. Seluruh langit tampak dipenuhi oleh warna dan gerakan indah. Cahaya itu terlihat sangat indah dan mengagumkan. Setiap orang yang melihatnya pasti akan merasa begitu.

“Tutup mata kalian!” seru Kris tiba-tiba.
“Kenapa? Kami masih ingin melihat aurora itu.” Jawab Eunhye dengan nada kecewa.
“Tutup mata kalian, jangan lihat aurora itu karena aurora adalah jelmaan roh jahat yang dimaksud oleh Kura-kura Kebijaksanaan. Sebentar lagi kita akan menembus cahaya –cahaya indah itu. Jadi, tutup mata kalian sekarang juga!”
“Jadi, maksudmu kita akan menembus aurora itu? Tadi kau bilang aurora adalah jelmaan roh-roh jahat. Bagaimana cara kita melewatinya?” Teriak Sehun, agar Kris dapat mendengar suaranya.
“Kalian hanya perlu menutup mata kalian. Karena jika kalian ketakutan karena melihat wujud mereka, kalian berada dalam bahaya besar. Apapun yang terjadi, jangan buka mata kalian sampai aku menyuruh kalian melakukannya.”
“Apa taman Eden berada di balik cahaya aurora itu? Bukankah satu-satunya hal yang ada di balik aurora adalah luar angkasa?
“Kalian tak pernah tahu ya? Ada dimensi lain di sini yang akan membawa kita ke Taman Eden. Memang terdengar janggal di telinga kalian, tapi ini kebenarannya. Manusia tak pernah tahu karena Eden hanya bisa dimasuki oleh makhluk tak kasat mata seperti Sehun dan roh-roh baik. Sedangkan roh-roh jahat, mereka hanya bisa berkeliaran di luar Taman Eden dan manusia melihatnya sebagai aurora. Cahaya yang kalian pikir indah tidaklah seindah kenyataannya. Kalian akan tahu seberapa mengerikannya aurora saat melewatinya nanti.” Jelas Kris panjang lebar, membuat ketiga penumpangnya merasa ngeri karena membayangkan kemungkinan terburuk.
“Nah, sekarang... tutup rapat-rapat mata kalian. Kuperingatkan sekali lagi. Seberapapun penasarannya kau pada makhluk yang menggodamu, jangan pernah buka matamu!”
“Ne!” jawab mereka bertiga kompak.
Detik-detik pertama memasuki kumpulan cahaya itu, mereka tidak merasakan hal aneh. Namun semakin ke dalam, mereka semakin merasakan hawa dingin yang tak biasa dan lebih mengerikan dari hawa es. Banyak sekali suara rintihan dan tangisan terdengar. “Temani, aku di sini...”, “Tinggallah bersamaku. Kau akan bahagia.”, “Aku kesepian, temani aku...” ucapan makhluk-makhluk itu sangatlah miris di telinga sekaligus mengerikan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Selain itu, bau anyir darah memenuhi indra penciuman mereka berempat. Semakin dalam memasuki cahaya aurora, semakin berat pula godaan untuk mereka membuka mata. Sesekali mereka merasa disentuh oleh makhluk-makhluk itu, membuat mereka ingin menjerit ketakutan.
“Wah... kau malaikat yang sangaaaaat tampan. Maukah kau jadi milikku? Ayo, buka matamu. Kau akan menyesal jika tidak melihat makhluk secantik diriku...” ucap sebuah suara, tepat di samping Sehun. sehun hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi dan mata yang tertutup rapat.
“Ya! Kau sungguh tidak sopan! Aku sedang bicara padamu, bagaimana mungkin kau tak menatap wajahku, eo?” seru makhluk itu penuh kekesalan, lalu memegang wajah Sehun dengan kedua tangannya.
Sehun tak merespon, dia sibuk berpegangan erat pada gerigi di punggung Kris.
“Sehun-a, gwaenchanna?” ucap Eunhye, tetap dengan mata terpejam.
“Gwaenchanna. Sudahlah, jangan khawatirkan ku. Kau tetaplah fokus dan jangan pernah buka matamu.” Sehun membalas bisikan Eunhye.
Makhluk yang menggoda Sehun masih saja menempel padanya, Sehun menjadi tidak nyaman dengan hal itu. Hawa dan aroma dari makhluk itu sungguh mengerikan, lebih mengerikan dari apapun yang pernah dirasakan olehnya.
Sehun pun menutup mata semakin rapat dan berteriak pada Kris, “Apa ini masih lama? Kurasa kami tidak bida bertahan lebih lama!”
“Kita hampir sampai! Bertahanlah sebentar lagi. Gerbang menuju dimensi lain sudah di depan mata!” teriak Kris.

***

Tujuh puncak gunung menjulang di kejauhan, tampak putih bersinar terkena cahaya bintang. Di bawahnya, terdapat empat sungai berair sangat jernih mengalir dengan tenang. Bau harum menyergap hidung mereka, membuat mereka menikmati setiap detiknya dengan perasaan nyaman yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Ya. Akhirnya mereka sampai di depan gerbang Taman Eden. Sehun menatap gerbang yang terbuka lebar itu dengan tatapan puas sekaligus senang. “Akhirnya kita sampai juga di sini.”
“Baiklah. Aku akan masuk dan memetik buah kehidupan. Kalian tunggu saja di sini.” Lanjut Sehun.
“Kami ingin ikut, kami harus membantumu.” Ucap Sanghyun.
“Kalian tidak akan bisa memasuki gerbang ini, karena kalian belum menjadi roh seutuhnya. Hanya kami para malaikat dan roh baik yang dapat melewatinya.” Jelas Sehun.
“Tapi, Sehun-a...” Eunhye bersikeras ingin ikut.
“Sehun benar, hanya dia yang bisa memasukinya. Kalian di sini saja bersamaku. Tenanglah, Sehun akan kembali dengan selamat.” Kata Kris, meyakinkan dua roh gamang itu.
“Ne, aku akan kembali dengan selamat. Geokjeongma...” ucap Sehun sambil menepuk puncak kepala Eunhye penuh sayang, lalu berjalan dengan mantap memasuki Taman Eden. Perlahan dia merentangkan sayap malaikatnya dan terbang mencari letak pohon kehidupan di Taman itu.
Sehun memulai perjalanannya di taman Eden. Hmmm... kata apa yang sekiranya paling tepat untuk mendeskripsikan Taman Eden? Pernahkah kalian mendengar taman Babylonia yang ternal sangat indah itu? Para ilmuwan sejarah mengira bahwa itu adalah Taman Eden yang sebenarnya. Namun mereka semua salah. Taman Eden jutaan atau bahkan milyaran kali lebih indah dari taman Babylonia yang termasyhur itu. Taman Eden bagaikan taman bergantung raksasa yang dalamnya bahkan lebih luas dari bumi. Di dalamnya mengalir empat sungai berair jernih nan manis. Sekali kau menenggak airnya, kau takkan merasakan haus dalam kurun waktu yang lama. Buah-buah yang tumbuh di sana adalah buah yang ratusan kali lebih menyegarkan dan mengenyangkan daripada buah yang ada di bumi. Ya, tak ada yang dapat menandingi indah dan menyenangkannya Taman Eden.
Puncak-puncak putih itu kini sedemikian dekat. Sedemikian dekatnya hingga Sehun merasa dia dapat meraup salju yang menutupi lereng-lerengnya dengan tangan. Sehun menuju ke tempat di antara dua puncak gunung yang paling runcing. Tak tahu kenapa, feelingnya merasaka jika pohon kehidupan berada di antara puncak itu. Sehun masuk ke dalam sebuah celah di lereng puncak itu dan menemukan pemandangan yang sungguh indah, keindahan yang paling sempurna yang pernah dilihatnya. Lembah yang dilihatnya saat ini bahkan lebih indah dari semua lembah yang pernah dimimpikannya. Sehun memandang lembah penuh bunga itu, menhirup wanginya yang sudah tercium dari tempatnya berdiri. Dia kemudian memejamkan mata dan merasakan keberadaan pohon kehidupan. Jelas sekali, sejelas aroma wangi bunga-bunga itu.
Sehun terbang ke bawah menuju sebuah danau yang terbentang luas di tengah lembah. Danau di bawahnya bagaikan sebuah cermin berkaca biru. Sesampainya di pinggir danau itu, Sehun meminum beberapa tenggak air darinya. Seketika itu, kakinya menuntunnya menuju sebuah pohon yang tampak sangat tua. Pohon itu memiliki beberapa cabang yang membuatnya terlihat sangat kokoh dan gagah. Sebagian akar dari pohon itu berada di danau. Pohon itu begitu bersinar, seperti memiliki aura yang kuat. Sehun mendekatinya perlahan untuk memastikan.
“Ini... pohon kehidupan?” Sehun menyentuh sulur yang menjulur dari pohon itu. Matanya mencari-cari buah kehidupan.
“Ah, aku mendapatkannya!” seru Sehun senang dan segera memetiknya.
“Jika kau memakan buah itu, kau akan dapat hidup kembali dan memperbaiki kesalahanmu di kehidupanmu yang sebelumnya.” Sebuah suara muncul dari atas pohon itu.
“Neo... nuguseyo?” tanya Sehun, dia mundur beberapa langkah karena kaget.
“Kau tak perlu tahu.” Jawab suara itu lagi. “Eum... kau mengambil buah itu bukan untuk dirimu sendiri, kan?”
“Ye, temanku yang memerlukannya. Kenapa?”
“Kau yang pertama melakukan hal seperti ini. Oleh karena itu, aku akan membiarkan kau pergi tanpa syarat apapun.”
“Benarkah?” Sehun tersenyum senang, “Walaupun aku tak tahu siapa kau sebenarnya, aku sangat berterimakasih padamu.” Sehun membungkukkan badannya penh hormat pada suara yang sepertinya tak beraga itu, lalu berbalik pergi, kembali ke gerbang taman Eden.
“Aku berhasil mendapatkannya, Eunhye... kau akan selamat.” Senyum Sehun mengembang semakin lebar. Tak ada kekhawatiran akan hukuman yang harus diterimanya setelah ini.

***
Kris, Sanghyun dan Eunhye berjalan mondar-mandir dengan hati cemas, karena Sehun belum juga kembali.
“Kenapa kalian mondar-mandir seperti itu, eoh?”
Ketiganya langsung berbinar saat melihat siapa pemilik suara itu, “Sehun! kau kembali!”
“Tentu saja aku kembali...” kata Sehun sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya, “dan aku membawa... ini!!” Sehun mengeluarkan buah kehidupan yang sedari tadi disembunyikannya di balik punggung. “Aku hebat, kaaaan?”
Namun, bukanlah senyuman yang tergambar di wajah Eunhye saat melihat buah itu di tangan Sehun, melainkan wajah penuh kekhawatiran yang siap meluapkan air mata.
“Wae? Kenapa ekspresimu seperti itu? Apa kau tidak senang?” tanya Sehun bingung.
“Mana sayapmu? Mana sinar yang selama ini menyelimuti tubuhmu? Apa terjadi sesuatu padamu?”
“Geokjeongma. Aku hanya kembali menjadi roh biasa.”
“Jadi... kau bukan lagi malaikat? Apa ini semua karena buah itu? Inikah yang dikatakan oleh kura-kura raksasa saat itu?”
“Eung... geuraesseo.”
“Jadi... secara tidak langsung ini semua adalah kesalahanku. Itu benar, kan?” Eunhye mulai menangis.
“Jangan merasa bersalah karena semua ini. Aku sendiri yang memilih jalan ini. Aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu. Oleh karena itu kau tidak boleh menyiakan pengorbananku ini. Arra?” Sehun memegang kedua pundak Eunhye sambil tersenyum.
“Apa kau tidak ingin bahagia? Tidakkah kau merindukan kebahagiaan, eo?”
“Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia. Walau aku kehilangan kesempatanku untuk bereinkarnasi, aku yakin aku akan tetap bahagia. Karena bagiku, kaulah kebahagiaan abadiku. Jika kau bahagia, aku juga begitu...”
“Dasar bodoh...” hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut mungil Eunhye.
Sehun memeluk Eunhye, mungkin untuk yang terakhir kalinya. “Uljima... uljima... aku ingin kau tersenyum saat mengingatku, bukan menagis seperti ini.”
Eunhye diam dalam tangis, Sehun melepas pelukannya lalu kembali fokus pada apa yang akan dikatakannya.
“Aku hanya dapat mengambil satu buah kehidupan, karena itu memang peraturannya.” Sehun mengangsurkan buah itu ke tangan Eunhye, “Bagi dua buah ini dan makanlah. Itu artinya kalian membawa setengah dari jiwa masing-masing. Jika sudah seperti itu, kalian berdua harus hidup bersama berdampingan.”
“Jadi maksudmu...” kata Sanghyun.
“Kalian harus tetap bersama sampai mati...” jawab Sehun pasti.”Nah, cepatlah kalian makan buah ini.”
Sanghyun membagi buah itu menjadi dua dan menyerahkan separo bagiannya pada Eunhye. Mereka berdua saling berpandangan dan memakan buah itu bersamaan.
“Sehun-a, gomawo...” ucap Eunhye seraya melemparkan senyuman indahnya pada Sehun saat tubuhnya mulai menjadi transparan dan menghilang perlahan.
Sehun hanya diam dengan air mata mengalir di pipinya. “Annyeong, Eunhye-ya... berbahagialah bersama Sanghyun. Demi aku...”
Beberapa detik kemudian, Sanghyun dan Eunhye sudah menghilang dari hadapan Sehun dan Kris. Sehun terus saja menangis, berusaha mengikhlaskan Eunhye.
“Ini keputusan yang tepat. Kau telah menyelesaikan tugasmu sebagai pelindung dengan baik.”
“Ne. Arratta... Kata-kata terakhirnya padaku... membuatku lega.” Ucap Sehun dengan suara sumbang sambil menyeka air matanya.

***

Beberapa bulan setelah petualangan batin tak terlupakannya bersama Kris dan Sehun, Eunhye sudah menjalani kehidupannya seperti biasa. Hari-harinya kini dipenuhi rasa syukur yang besar pada Tuhan karena telah menganugerahkan hidup yang luar biasa baginya.
Dia kini memiliki Sanghyun yang selalu setia mendampinginya, bersedia mendengarkan keluhan dan menerima semua kekurangannya.
“Ya! Pagi-pagi kau sudah melamun!” seru Sanghyun, lalu duduk di sebelah Eunhye yang sedang duduk di salah satu sudut kantin kampus. “Apa kau sedang bersedih karena memikirkan Sehun? apa kau merasa kecewa karena tak ada lagi malaikat pelindung yang mengawasimu?”
“Aniya... aku hanya sedang merenung dan bersyukur atas apa yang Tuhan berikan untukku selama ini. Bagiku, kau adalah malaikat pelindung yang dikirimkan Tuhan untukku. Kau tahu? Aku bahagia sekali saat bertemu denganmu. Aku janji, aku akan menerimamu apa adanya tanpa membandingkanmu dengan Sehun. percayalah padaku...” Eunhye mengecup pipi kanan Sanghyun lembut, lalu berbisik “Saranghae...”
“Kau ini...” ujar Sanghyun, lalu membalas kecupan Eunhye dengan ciuman di bibir yeoja itu, “Nado saranghae...” bisiknya.
“Aissh... kalian ini selalu saja melakukan PDA!” seru sebuah suara yang tak asing, suara Seonri.
“Kkk...ka... kalian melihatnya? Kukira tak ada orang di kantin saat pagi buta seperti ini.” Ucap Eunhye gelagapan dengan wajah memerah.
“Dasarrr...” tambah Hara sambil bedecak, diikuti gelengan kepala Minji.
“Hahaha~ mian. Kami tidak bermaksud seperti itu.” Kata Sanghyun malu-malu.
“Aku berterimakasih pada-Mu, Tuhan atas semua yang kau berikan padaku. Sebuah keluarga dan seorang namchi yang mencintaiku serta sahabat-sahabatku yang menyayangiku dengan tulus. Kupikir, tak ada yang lebih berharga dari mereka semua di dunia in. Aku hanya memiliki satu permintaan pad-Mu. Tolonglah, rawat Sehun dengan baik di sana. Berikanlah dia kebahagiaan yang abadi bersama-Mu. Dia sudah berbuat baik dan mengabdi pada-Mu dengan tulus. Aku mohon... kabulkan permintaanku yang satu ini....”

***

Seorang namja berpostur tinggi, berkulit putih dan halus duduk di sebuah taman di pusat kota Seoul. Berulang kali dia melihat jam di pergelangan tangan kanannya. Meski terlihat sedikit kepanasan karena paparan sinar matahari, senyuman tak pernah hilang dari wajah tampannya.
“Sehun Oppa!!” seru seorang yeoja mungil berparas ayu sambil berlari kecil menuju namja bernama Sehu itu. “Maaf karena telah membuatmu menunggu lama.” Yeoja itu terengah-engah.
“Duduklah dan atur napasmu.” Jawab namja itu tenang sambil mempersilahkan yeojanya duduk di sebelahnya.
“Ada masalah apa hingga kau berlarian seperti itu?”
“Aku sudah telat, karena itu aku harus ... cepat... sampai... di sini... hhhh...” yeoja itu masih terengah-engah.
“Dasar, Lee Eunhye... kau ini sama sekali tak bisa menghilangkan kebiasaan telatmu.” Sehun bersiap menyentil kening Eunhye dengan jarinya, “Ini hukuman untukmu...”
“Apo! Kau ini jahat sekali, Oppa!” rengek Eunhye sambil mengelus keningnya yang kini memerah karena sentilan Sehun.
Sehun tertawa puas melihat wajah lucu Eunhye.
“Manjokhae-----puas?” tanya Eunhye, bibirnya kini mengerucut sebal.
“Eung~ geurom.” Jawab Sehun, tawanya masih saja belum berhenti.
“Kalau bukan karena wajahmu yang tampan, aku pasti sudah...”
Cup... sebuah kecupan manis mendarap di pipi Eunhye. Eunhye pun terdiam dengan wajah memerah, “Oppa! Kau ini selalu saja berhasil membuatku blushing.”
“Tapi kau suka kan?”
“Tidak! Siapa bilang aku suka?!” sanggah Eunhye, tapi wajahnya makin merah.
Sehun tertawa semakin keras, senang sekali dia bisa mengoda Eunhye seperti itu.

***

Oh Sehun dan Lee Eunhye. Keduanya akhirnya dapat bersatu di kehidupan kedua mereka setelah reinkarnasi. Ingin tahu apa yang terjadi pada Sehun setelah memetik buah kehidupan?
Dia memang tidak bertugas sebagai malaikat lagi, tapi Tuhan menjanjikan sesuatu yang besar untuknya. Ya, reinkarnasi. Beratus-ratus tahun setelah kehidupan pertamanya, dia kembali dilahirkan sebagai Oh Sehun. Tidak hanya itu, Tuhan juga menjanjikan bahwa Sehun akan hidup bersama Eunhye di kehidupan keduanya.
Kenapa Tuhan melakukan itu? Tuhan mengerti dan tahu seberapa besar cinta dan pengorbanan Sehun untuk Eunhye, karena itu Tuhan melakukan semua itu. Itu adalah hadiah besar yang dijanjikan Tuhan untuk makhluknya yang bukan hanya hidup untuk dirinya sendiri, melainkan hidup untuk Tuhan dan sesamanya.

***






AYO AYO RCL! YANG NEMU INI FF MESTI RCL! ARRA?? :D
DASI BWAYO, NE!! :*


*nebar duit Siwon ke readers*

0 komentar:

Posting Komentar

 

My Fictional World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea