Title : Your Guardian Angel
Author : Sonia aka. Han Minji
Genre : Fantasy, romance, drama, friendship
casts : Sehun Exo, Sanghyun MBLAQ, Lee Eunhye,Luhan Exo and other cameos.
song of the story : EXO - What is Love, EXO - Angel,Ailee - Heaven
Ayo wassssuuup~~!!! si Author balik lagi bawa FF lanjutan Your Guardian Angel.
setelah lama banget mikirin lanjutan nih FF, akhirnya ini FF kelar juga *jingkrak-jingkrak*
maaf banget updatenya lama. lagi stress mikir SNMPTN masalahnya T__T *galau*
ahya, ini FF hasil khayalan tengah malam author yang lagi ngegalau. jadi kalau jelek, harap dimaklumi ye? OTL
ya udah deh kalau gitu, HAPPY READING :D
use me as you will
pull my strings just for a thrill
and I know I’ll be okay
though my skies are turning gray
I will never let you fall
I’ll stand up with you forever
I’ll be there for you through it all
even if saving you sends me to heaven...
(The Red Jumpsuit Apparatus - Your
Guardian Angel)
***
“Apapun akan
kulakukan dan kukorbankan, asal Eunhye dapat hidup kembali…”
***
Sehun mendarat dengan selamat dan melangkah dengan ragu ke sebuah tempat
yang dapat dikatakan sangat indah dan penuh keajaiban. Di hadapannya berdiri
sebuah istana megah dengan tiang-tiang
emas yang kokoh dan berdinding perak padat. Lantainya terbuat dari kristal biru
yang sangat bening, membuat setiap makhluk yang melangkahkan kakinya di istana
itu merasa seperti sedang menapaki permukaan air danau yang tenang. Aroma harum
yang kuat namun menenangkan menyebar ke segala sudut istana itu.
Langkah Sehun semakin pelan
saat mendekati gerbang istana tersebut. Rasa tegang mulai menggerogoti dirinya
dan hatinya.
Perlahan Sehun mulai
memasuki istana berlantai kristal itu, beberapa malaikat pun menyambutnya
dengan ramah, salah satunya Luhan. Luhan lah malaikat pelindung yang selama ini
menjadi teman dekatnya sekaligus teman bertugasnya.
Sehun memasuki ruangan
terluas dan termegah di istana itu. Ruangan Leader Suho.
“Eung? Oh Sehun? ada perlu apa kau menemuiku?” tanya Suho
dengan senyum bijaknya.
Sehun menggigit bibir
bawahnya, “Aku... aku ingin bertanya mengenai
sesuatu...” Sehun terdiam beberapa saat, berusaha merangkai pertanyaan di
benaknya dengan hati-hati, “Apa malaikat
dapat mengambil kesempatan kedua untuk bereinkarnasi jika kesempatan pertamanya
tersiakan?”
Suho menaikkan sebelah
alisnya, “Kenapa kau menanyakan masalah itu?”
“Kau Leader dari semua
malaikat pelindung, pasti kau tahu tentang hal ini. Jika malaikat melanggar
suatu aturan, dia pasti akan menjadi roh biasa dan tidak dapat bereinkarnasi
selamanya. Lalu, dapatkah roh biasa itu menjadi malaikat lagi? Dengan begitu,
dia memiliki kesempatan kedua untuk bereinkarnasi.”
“Aku juga tidak tahu, karena
hanya Tuhan yang dapat memutuskan semuanya. Aku hanyalah malaikat pelindung
biasa yang ditugaskan-Nya untuk mengatur kalian.” Suho mengelus dagunya, pandangannya
kemudian mengarah pada sosok Sehun yang terdiam dengan wajah murung, “Hmmm...
Apa sekarang kau sedang membicarakan tentang dirimu sendiri?”
“Itu... aku akui kau benar,
aku memang menanyakan ini semua untuk diriku. Aku ke sini karena aku ingin tahu
apa aku masih dapat bereinkarnasi jika aku telah melanggar peraturan.” Sehun
menunduk semakin dalam, “Aku ingin pergi ke taman Eden dan memetik buah
kehidupan...”
Suho melebarkan matanya,
tampak terkejut, “Mwo? Kau baru menjadi malaikat selama setahun dan tugasmu itu
belum selesai. Karena itu, kau tidak boleh memetiknya sekarang. Mana boleh
pekerja mengambil upahnya sebelum pekerjaannya selesai?”
“Algesseumnida... geundae,
aku harus melakukannya. Aku harus menyelamatkan nyawa yeoja yang kulindungi. Dia
tidak ditakdirkan mati dalam waktu dekat ini, tapi rohnya sudah terpisah dari
raganya, karena itu aku akan melakukan apapun agar dia dapat hidup kembali.” Sehun
memberanikan diri untuk menatap mata
Suho, “Bukankah itu tugas malaikat pelindung yang sesungguhnya? ”
“Tapi kau tak perlu
melangkah sejauh itu, kan? Satu malaikat hanya boleh memetik satu buah kehidupan dan cara mendapatkannya pun
tidak mudah. Karena seorang malaikat harus melakukan tugasnya bertahun-tahun
dulu, baru dia dapat memetiknya. Kau juga tahu kan resikonya jika memetiknya
sebelum masa kerja habis? Apa kau takkan menyesalinya?”
“Aku tahu aku takkan dapat
bereinkarnasi lagi, tapi aku tak akan menyesali itu semua karena itu semua
kehendakku.”
“A, geuraeyo... Kurasa aku
tak akan bisa mencegah niatanmu itu. Terserah kau saja...” Suho akhirnya
menyerah. Dia tahu, jika dia membujuk Sehun lebih lanjut pun, Sehun takkan
mendengarnya.
“Aku tahu ini lancang,
tapi... dapatkah kau memberitahuku di mana letak Taman Eden?”
“Jika aku tahu, aku pasti akan
memberitahumu, tapi tidak ada malaikat yang tahu tentang taman itu. Hanya Tuhan
dan para penjaga Taman den yang tahu. ”
“Baiklah. Kalau begitu, aku
akan berangkat sekarang. Doakan agar aku dapat menemukan letak taman Eden...”
Sehun tersenyum pada Suho semanis yang dia bisa, karena mungkin saja ini adalah
pertemuan terakhirnya dengan Leader tampan itu. Dia pun kemudian keluar dengan
langkah lebar, seakan sedang dikejar-kejar oleh sang waktu.
“Sehun-a!” sebuah suara
memanggil namanya, suara yang sangat dikenalnya.
Sehun menghentikan
langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara itu, “Eoh, Luhan Hyung! Wae geurae?”
“Apa kau benar-benar akan
melakukan hal itu?”
Sehun menaikkan sebelah
alisnya, “Melakukan apa?”
“Itu... tentang buah
kehidupan...” jawab Luhan pelan, dari ekspresi wajahnya, dia tampak tak rela
jika dia harus kehilangan teman baiknya itu.
“Geokjeongma, Hyung... aku
akan baik-baik saja.” Kata Sehun sambil menggenggam tangan Hyungnya itu, berusaha
menghilangkan kecemasannya. “Tidak seharusnya Hyung menguping pembicaraanku
dengan Leader Suho...”katanya lagi, kali ini dengan seulas senyum di wajahnya.
“Tapi, itu berarti ini
adalah pertemuan terakhir kita. Setelah kau mengambil buah itu... kau akan
kembali tinggal di Eden, bukan di sini bersamaku.” Luhan menunduk dalam-dalam, “dapatkah
kau membatalkan niatmu ini? Ini sangat beresiko. Aku takut sesuatu yang buruk
akan menimpamu...”
“Hyung, percayalah, aku akan
baik-baik saja dan kita pasti akan bertemu lagi nanti. Ne?” Sehun kemudian
melepas genggaman tangannya.
“Sehun-a, kenapa kau yakin
sekali bisa mengambil buah itu? Kau hampir tak tahu apa-apa tentang tempat yang
akan kaucari. Bahkan kau tak tahu di mana letak taman Eden sebenarnya...” Luhan
berkomentar penuh kecemasan. “Kau tidak bisa dibilang terlatih mencari jalan
dengan mengikuti bintang-bintang atau apapun itu, dan dua roh temanmu itu juga
tak tahu apa-apa tentang Taman Eden. Ini gawat...” Luhan memainkan jari-jari
tangannya dan menatap Sehun.
“Aku akan mencari tahu
sendiri. Hyung tak perlu mengkhawatirkan aku...” Sehun mengangguk penuh rasa
optimis, meski dalam hatinya terdapat rasa takut dan ketidakyakinan yang besar,
”Baiklah, Hyung. Kanda-----aku pergi...”
“Jamkkanman.” Kata Luhan
lagi saat Sehun sudah mulai melangkah menjauh.
“Waeyo? Ada apa lagi, Hyung?”
Luhan melangkah mengampiri
Sehun, “Aku kenal dengan seekor naga. Hmm... tepatnya, jelmaan naga. Dia pernah
menjaga gerbang taman Eden sebelumnya. Kurasa dia akan dengan senang hati
membantumu. Jika kau mau, aku bisa
mengantarmu ke tempatnya...”
“A, jeongmalyo?” tanya Sehun
penuh rasa antusiasme sekaligus tak percaya.
Luhan mengangguk, “Aku bukan
manusia yang suka berbohong. Kau tahu kan, aku ini malaikat dan malaikat tidak
pernah berbohong.” Luhan menarik pergelangan tangan Sehun agar dia mengikutinya, “Aku akan mengantarmu
ke tempatnya.”
“Ne... gomawo, Hyung sudah bersedia
menolongku. Mianhae, karena aku tidak dapat menemanimu lagi di sini.”
“Gwaenchanna. Aku sangat
mengerti posisimu saat ini. Mungkin jika aku jadi kau, aku akan melakukan hal
ini juga...” ucap Luhan sambil menampakkan seulas senyum manisnya, berusaha
menutupi rasa sedihnya karena akan segera berpisah dengan Sehun. “Ya, setidaknya aku harus melakukan sesuatu
untuk Sehun sebelum dia pergi...”
***
Sehun dan Luhan sampai di
sebuah lembah gunung di kahyangan yang letaknya tak jauh dari istana malaikat
pelindung. Ya, kahyangan memang terbagi menjadi beberapa bagian yang
masing-masing bagian memiliki fungsi tersendiri. Seperti istana tempat tinggal
para malaikat pelindung, Eden yang digunakan untuk menampung para roh baik yang
baru saja mati dan bagian-bagian penting lainnya.
Matahari semakin tinggi,
mengusir kabut , menghilangkan temaram dan menggoreskan ribuan warna pada
dinding tebing yang mengelilingi lembah itu. Ketika kabut tersibak, sebuah
kenampakan yang luar biasa terungkap. Sungai-sungai bening tampak mengalir
dengan tenang dan di sekelilingnya terdapat para nymph yang sedang menari-nari
mengitari pohon-pohon. Sungai-sungai itu
tampak berkilauan seperti aliran berlian jika dilihat dari atas seperti ini. Suara-suara
nyanyian yang lebih terdengar seperti tangisan
dan rintihan terdengar jelas, entah dari mana datangnya, membuat
siapapun yang mendengarnya merasa ngeri sendiri. Saat pertama terbang memasuki
tempat itu, Sehun langsung merasakan
hawa yang berbeda dari biasanya. Lembah itu memang indah, tapi aura
magis dan misterius di dalamnya sangatlah kuat.
Sehun menyenggol lengan
Luhan dengan sikunya, “Hyung, kenapa tempat ini mengerikan sekali? Banyak suara
aneh memenuhi telingaku.”
“Ini biasa terjadi di sini. Tapi
tenanglah, tempat ini tidaklah berbahaya.”
“Apa kita sudah dekat dengan
tempat tinggal temanmu itu, Hyung?”
“Kita hampir sampai...”
Sehun terbang mengekor di
belakang Luhan, wajahnya tampak semakin tegang setelah membayangkan bagaimana
rupa naga yang sebenarnya.
Mereka berdua lalu bergegas
menuju sekumpulan pohon pinus yang tumbuh miring di kaki gunung yang paling
tinggi. Di bawah pohon-pohon itu suasananya gelap, begitu gelapnya hingga celah
yang membelah lereng itu nyaris tak terlihat oleh mata. Bagaikan mulut yang
menganga, celah itu menelan semua kabut yang melayang.
“Sehun-a, kita sudah
sampai...” kata Luhan sambil menunjuk sebuah gua di salah satu sisi celah di lereng
itu.
Sehun hanya diam, dia
mengamati gua itu dengan tatapan waspada sekaligus sedikit takut. Mereka
memasuki gua yang gelap itu, hawa dingin segera menyergap tubuh mereka berdua. Matahari
semakin terik di luar, tapi keadaan di gua tetap sejuk. Sepanjang perjalanan di
gua itu, mereka berdua tidak mengucapkan sepatah kata pun karena terlalu sibuk
dengan pikirannya masing-masing.
Dari suatu celah di sudut
gua yang paling gelap, terdengar suara desisan yang cukup keras. Dengan cemas,
Sehun menegakkan tubuhnya dan memasang telinga. Bunyi desiran dan suara cakar
yang menggores batu karang di dasar gua mulai terdengar oleh telinganya. Lalu,
dari balik kegelapan muncul makhluk paling menakutkan yang pernah dilihat oleh
Sehun.
Rupa makhluk itu bagaikan
ular raksasa, dengan sisik berkilap yang melapisi seluruh tubuhnya. Ada
sepasang sungut yang menjulur di kedua sisi mulutnya. Matanya merah dengan
pandangan yang sangat tajam. Terdapat
sepasang tanduk di kepalanya yang sangat mirip dengan tanduk rusa. Empat cakar
di keempat kakinya terlihat sangat tajam seperti cakar rajawali yang siap
menerkam siapa saja yang mengusiknya. Kedua sayapnya yang membuatnya terlihat
semakin mengerikan langsung mengembang saat melihat sosok Sehun dan Luhan. Perlahan,
sosok mengerikan itu mendekati mereka berdua. Sehun pun segera mundur beberapa
langkah, menjadi semakin ketakutan.
Makhluk mengerikan itu
menatap wajah Sehun dengan pandangan bertanya-tanya, “Kau siapa?”, dia
bertanya. “Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”
“Dia temanku, Kris. Namanya
Sehun.” Luhan yang menjawab karena Sehun masih terlihat ketakutan.
Sehun berdiri bagaikan
patung. Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya tak dapat melakukannya. Tubuhnya
terasa kaku.
“Kris,dapatkah kau mengubah
wujudmu? Kurasa Sehun sangat ketakutan melihatmu...”
Naga bernama Kris itu
menatap tubuhnya sendiri lalu tertawa, “A,
baiklah...” katanya kemudian.
Tak lama, makhluk mengerikan
itu sudah berubah wujud menjadi sesosok namja yang sangat tampan dengan tatapan
mata tajamnya yang menyihir. Sehun tak habis pikir, bagaimana bisa namja
setampan itu menjadi jelmaan seekor naga yang mengerikan?
“Perkenalkan, aku Kris. Aku
adalah jelmaan dari yong-----naga
langit. Tugasku di sini adalah menjaga istana tempat kalian tinggal.” Kris
mengulurkan tangannya pada Sehun seraya tersenyum kecil.
“Aku... aku Sehun.” kata Sehun
masih terlihat shock dan ketakutan.
“Apa gerangan yang membuat
kalian berdua menemuiku?”
Sehun menatap Luhan, meminta
Luhan menjelaskan pada Kris tentang masalahnya.
“Sehun ingin pergi ke taman
Eden, tapi dia tidak tahu di mana letaknya. Apa kau bisa mengantarnya ke sana?”
“Taman Eden?” tanya Kris,
kaget.
“Ne, taman Eden. Kau pernah
berkata padaku jika kau pernah menjadi penjaga di gerbang taman itu. Kau pasti
masih ingat letaknya kan?” lanjut Luhan.
Sehun mulai ikut berbicara, “Dan...
dapatkah aku membawa dua roh temanku yang nyawanya ingin kuselamatkan?”
“Tapi... perjalanan ke sana
tidaklah mudah. Aku takut akan terjadi sesuatu padamu dan roh temanmu yang
ingin kauajak itu.”
“Aku yakin kami akan
baik-baik saja. Jadi... tolonglah. Aku mohon.” Sehun berlutut di hadapan Kris.
“YA!! Jangan berlutut
seperti itu. Aku bukanlah Tuhan yang pantas diperlakukan seperti itu.” Seru
Kris sambil membantu Sehun berdiri.”Baiklah, akan kubantu kalian. Tapi, di mana
roh temanmu itu?”
“Mereka masih di bumi. Aku
tidak bisa membawa mereka ke sini karena mereka masih setengah roh dan mereka
tidak dapat terbang seperti kita.”
“Jika seperti itu... ayo
segera mulai perjalanan ini, karena ini tidak akan mudah.” Kata Kris.
“Sehun-a, maafkan aku karena
aku hanya bisa mengantarmu ke sini. Aku masih memiliki tugas yang belum
kuselesaikan...” ucap Luhan dengan wajah penuh sesal.
“Gwaenchanna, Hyung. Aku
sudah merasa sangat terbantu dengan ini.” Sehun
tersenyum, menghampiri Luhan dan memeluk Hyung-nya itu.
“Baiklah kalau begitu, aku
pergi dulu. Aku harus kembali ke istana. Sehun-a, aku akan selalu
mendoakanmu...” Luhan mengalihkan pandangannya pada Kris, “Tolong bantu dan
jaga dia ya?”
Kris mengangguk seraya
menunjukkan senyumannya yang seakan memiliki kekuatan sihir itu.
Setelah Luhan pergi, Kris
pun kembali menatap Sehun, “Kau takkan ketakutan lagi kan, jika aku mengubah
diriku menjadi naga? Agar dapat memberi tumpangan pada dua temanmu itu, aku
harus menjadi naga.”
“Gwaenchanna. Aku hanya
kaget tadi. Karena aku baru pertama kali ini melihat naga secara langsung.”
“Baiklah.... Kaja.” Kris
kembali mengubah dirinya menjadi naga.
***
Di tempat lain, Sanghyun dan
Eunhye sedang berjalan berdampingan di pinggiran sungai Han. Wajah mereka
tampak muram, seperti ada sesuatu yang berat yang mengganjal di benak mereka.
“Oppa... apa tadi kau lihat?
Mereka semua menangis saat melihat kita terluka parah seperti itu.” Eunhye
menyeka air matanya yang kembali mengalir saat mengingat wajah sedih
sahabat-sahabatnya dan orang tuanya saat melihat keadaannya di rumah sakit
tadi.
“Aku lihat semuanya. Dara
Nuna, Appa dan Eomma-ku terlihat sangat terpukul melihat keadaanku. Aku tidak
tega melihat mereka semua seperti itu.” Sanghyun lalu memegang pipi Eunhye
dengan kedua telapak tangannya sambil menyeka air mata di wajah yeoja itu.
“Lalu, apa yang harus kita
lakukan sekarang? Sehun tak juga kembali dari tadi. Ini sudah empat jam sejak
kepergiannya.”
“Tunggu saja dia. Dia sudah
berjanji pada kita bahwa dia akan kembali untuk membantu kita. Bukankah kau
percaya padanya?” Sanghyun tersenyum dan menepuk kepala Eunhye penuh sayang.
Eunhye menatap Sanghyun, “Eung.
Aku percaya padanya...Kalau begitu, kita harus kembali ke tempat yang tadi...”
Sanghyun mengangguk,
kemudian menggandeng tangan Eunhye dan berjalan pelan kembali ke tempat di mana
Sehun meminta mereka untuk menunggunya.
Bulan melayang di atas
atap-atap rumah kota dan segelintir bintang menampakkan diri di langit ketika
tiba-tiba Sangyun melihat sesuatu yang terlihat seperti burung melayang-layang di
atas kepalanya. Namun dia langsung merasa gamang ketika melihat ukuran burung
itu semakin besar saja saat mendekatinya. Cepat-cepat dia mundur selangkah, “Eunhye-ya,
makhluk apa itu?” tunjuk Sanghyun pada titik yang masih melayang-layang di
atasnya.
Eunhye mengikuti arah yang
ditunjuk oleh Sanghyun, kemudian memicingkan matanya untuk memperjelas
pandangnya, “Aku juga tidak tahu, yang jelas itu pasti makhluk yang sangat
besar...”
“Perasaanku saja atau
makhluk itu memang terbang turun menuju tempat ini?” gumam Sanghyun.
“Ani, Oppa... aku juga
merasa makhluk itu menuju ke tempat kita berdiri.”
Beberapa menit kemudian,
makhluk itu sudah benar-benar berdiri di depan mata mereka. Sanghyun dan Eunhye
hanya bisa menatap makhluk di hadapannya dengan pandangan kosong, ini seperti
mimpi buruk bagi mereka.
“Apa kau... naga? Kau
benar-benar naga?” tanya Eunhye takut-takut. “Kenapa aku terus saja mengalami hal-hal yang aneh seperti ini?”
Makhluk itu mengangguk. Lalu,
tak lama kemudian Sehun muncul di antara mereka.
“Sehunnie, kenapa kau lama
sekali? Aku sudah ketakutan setengah mati.” Kata Eunhye sambil melirik ke arah
naga itu.
“Apa kau tahu kenapa dia
berada di sini?” Sanghyun menunjuk ke arah naga itu.
“Dia Kris dan dialah yang
akan membantu kita pergi menuju taman Eden.”
“Di... dia akan... membantu
kita?” kata Sanghyun dan Eunhye hampir bersamaan.
Sehun mengangguk sambil
tersenyum.“Jangan takut padanya, dia baik dan juga sangat tampan. Aku berani
menjamin.”
“Tampan?” tanya Eunhye,
heran.
Perlahan asap putih
mengelilingi Kris, sehingga Eunhye dan Sanghyun tidak dapat mengetahui apa yang
terjadi pada makhluk itu. “Ada apa dengannya?”
“Lihat saja...” jawab Sehun
singkat.
Asap putih yang mengelilingi
tubuh Kris menghilang secara berangsur-angsur, dan yang kini terlihat di mata
Eunhye dan Sanghyun bukanlah sosok naga yang mengerikan, melainkan sosok namja
yang sangat tampan dan berkarisma.
“Apa kau Kris yang tadi? Bagaimana
bisa?” tanya Sanghyun, dia terkesiap menatap Kris dari atas sampai ke bawah.
“Tentu saja bisa. Aku ini
jelmaan naga langit, karena itu aku dapat berubah menjadi naga dan manusia
hanya dengan hitungan detik.” Kris tersenyum, “Nah, kalau seperti ini, kalian
tidak takut padaku, kan?”
Eunhye dan Sanghyun
mengangguk.
“Tapi, aku hanya bisa
memberi tumpangan pada kalian jika aku menjadi naga. Jika tidak, aku tidak bisa
terbang dan mengantar kalian ke taman Eden. Apa kalian keberatan dengan hal
ini?”
“Baiklah jika ini
satu-satunya jalan, kami akan ikuti. Memang kami masih takut dengan wujud
nagamu, tapi kami akan menahan perasaan takut itu.” Jawab Eunhye mantap, lalu
menatap tiga namja di hadapannya secara bergantian.
“Bagus jika seperti itu. Kaja!
Kita harus cepat memulai perjalanan ini...” kata Kris, dan di detik selanjutnya
dia sudah berubah menjadi naga lagi.“Kalian berdua, naiklah ke punggungku.” Perintah
Kris.
“Bb... baiklah.” Dengan
perasaan takut, Eunhye dan Sanghyun pun naik ke punggung naga itu.
“Kalian harus berpegangan
pada gerigi di punggungku,” Kris menjelaskan,”Dan ikat tubuh kalian dengan
sabuk itu ke gerigiku agar kalian tak jatuh saat diterpa angin.”
Sanghyun dan Eunhye
mengangguk. Kris kemudian menoleh ke belakang dan menatap kedua penumpangnya. “Siap?”
“Siap!!” jawab mereka berdua
cepat.
“Kris, kita akan terbang melewati bumi atau
kahyangan? Aku tidak tahu di mana pintu menuju Taman Eden berada. Dapatkah
pintu itu ditemukan di bumi?” tanya Sehun.
“Kita melewati Bumi saja,
karena pintu menuju Taman Eden memang terletak di salah satu sisi Bumi.” Kris
bersiap mengepakkan sayapnya, “Ayo berangkat ke arah utara!”
“Utara?” tanya Sehun.
“Ya, utara. Kita akan menuju
ujung dunia, karena di sanalah pintu menuju Taman Eden berada.”
Sang naga membentangkan
sayapnya yang mengilap dan lepas landas, begitu pula Sehun.
Sanghyun dan Eunhye menahan
napas dan berpegangan semakin erat pada gerigi di punggung Kris. Sang naga
terbang semakin tinggi. Kebisingan kota Seoul tertinggal jauh di bawah mereka. Malam
menyelubungi mereka dengan kegelapan dan keheningan, lalu segera saja dunia
manusia tak lebih dari kilau-kilau cahaya yang berada jauh di bawah.
***
Selama berjam-jam mereka
berempat-----Sehun, Kris, Eunhye dan Sanghyun-----terbang di antara langit
malam yang gelap, karena hanya segelintir bintang menampakkan diri di sana. Suasana
malam terasa membelai karena angin panas melintasi Laut Timur. Namun menjelang
fajar, cuaca mulai tak bersahabat. Angin yang sudah agak lama bertiup dari arah
berlawanan kini berhembus semakin kencang. Kris berusaha menghindari angin itu
dan meminta Sehun untuk segera naik ke punggungnya juga agar dia tidak terbawa
angin. Terkadang dia terbang lebih tinggi, kadang juga lebih rendah, berusaha
menghindari angin, tapi tetap saja tak berhasil karena angin itu ada di
mana-mana. Makin lama, Kris makin kesulitan untuk bergerak maju. Awan mulai bertumpuk-tumpuk
bagaikan pegunungan di langit, guntur bergemuruh dan kilat membelah-belah
langit yang tampak semakin gelap.
“Aku tak sanggup melawan
angin!!!” teriak Kris pada ketiga penumpangnya. Dengan tenaga yang dimilikinya,
dia berjuang melawan musuh yang tak kasat mata itu. Namun angin terus saja
menamparnya, mendorongnya untuk jatuh mendekati ombak-ombak ganas di tengah
lautan.Sehun, Sanghyun dan Eunhye berusaha mati-matian untuk berpegangan pada
gerigi di punggung Kris. Mereka hanya bisa menahan teriakan keluar dari mulut
mereka, agar Kris tidak merasa terganggu.
Hujan deras menerpa dari
awan-awan yang menggunung. Seketika itu, gerigi di punggung Kris menjadi sangat
licin dan tidak dapat lagi dijadikan pegangan. Eunhye kemudian memeluk Sanghyun
dari belakang, menjadikan namja itu sebagai pegangannya. Melihat hal itu, Sehun
menjadi sedikit cemburu dan akhirnya dia pun mengikuti cara Eunhye dan memeluk
yeoja itu dari belakang. Seulas senyum mengembang di wajah tampannya,”Aku belum pernah memeluknya dari belakang
seperti ini...”
Mereka sedang terperangkap
dalam badai dan ini sungguh bukan waktu yang tepat untuk merasa cemburu, tapi
itulah yang dilakukan Sehun. Walaupun dia malaikat, dia tetap tak dapat
mencegah hatinya untuk merasakan itu. Sedangkan Sanghyun, dia harus lebih erat
bepegangan pada gerigi Kris dan mengeratkan sabuknya agar kedua makhluk di
belakangnya tidak terjatuh, dia terlihat sangat kesulitan melakukannya. Sebenarnya
Sehun tak bermaksud untuk mempersulit Sanghyun, dia hanya merasa sedikit....
tidak suka.
Di sisi lain, Kris berusaha
sangat keras, badai berulang-ulang membawanya ke arah ombak lautan yang ganas,
begitu rendahnya hingga wajah ketiga penumpangnya terkena terjangan air.
Kepakan sayap Kris semakin
lemah, Sehun dapat merasakan itu. Tiba-tiba secercah harapan muncul di depan
mata mereka.
“Itu!” seru Sanghyun senang,
“Itu daratan! Kris, apa kau masih sanggup terbang sampai ke sana?”
Dengan sisa tenaganya, Kris
terbang perlahan melewati angin dan
menuju ke tepian pantai yang ditunjuk Sanghyun.
“Kita pasti bisa!” teriak
Sehun sambil terus berpegangan pada Eunhye. “Kita pasti berhasil sampai di sana!”
Matahari semakin tinggi dan
lambat laun langit pun menjadi cerah. Badai mulai melemah, seakan memutuskan
untuk kembali ke peraduannya ketika pagi datang.
Dengan beberapa kepakan
sayap terakhir, Kris meninggalkan lautan di belakangnya, terbang merendah dan
akhirnya mendarat di hamparan pasir
putih pantai yang lembut. Sehun, Eunhye dan Sanghyun segera meluncur turun dari
punggung Kris. Naga itu merebahkan kepalanya di pasir dan memejamkan matanya,
dia terlalu letih. Makhluk besar itu ambruk, berdiri kembali, lalu jatuh dan
perlahan tergeletak ke bagian tubuh sebelah kirinya.Seluruh tubuhnya merasakan
nyeri karena terpaan angin yang sangat kencang. Perlahan, dia berubah menjadi
sosok manusianya.
Sehun berjalan mendekati
Kris, memegang lututnya dengan tangan kanan dan menggoyangkan tubuhnya, “Kris!”
Sehun menegurnya agar Kris tersadar, “Bangun, Kris!”
Tak ada jawaban dari mulut
namja tampan itu.
“Kris-ssi, ireonayo!” seru
Eunhye mulai panik melihat Kris tak bergerak sama sekali.
“Kita harus menyadarkannya. Tapi
bagaimana caranya?” Sanghyun mendekati tubuh Kris yang basah dan terlihat
lemas, napasnya juga memburu.
Sebenarnya Kris sadar, dia
hanya tidak dapat menggerakkan seluruh otot tubuhnya, karena dia terlalu lelah.
Bahkan untuk sekedar membuka mata pun sulit dilakukannya.
Belum habis kepanikan mereka,
terdengar suara dari balik semak yang membuat mereka berdiri waspada. Mereka
menghentikan aktivitasnya dan mulai memasang telinga. Bunyi berisik dari balik
semak itu semakin keras terdengar. Tiba-tiba muncullah sesosok makhluk aneh,
rupanya dialah sumber dari suara-suara itu. Makhluk itu memiliki tubuh layaknya
seekor kuda atau mungkin keledai, berwarna putih dengan sedikit aksen abu-abu
di sekitar lehernya dan tak lupa sebuah tanduk di bagian tengah atas keningnya.
Sehun, Saghyun dan Eunhye hanya dapat menganga melihat wujudnya, karena mereka
hanya pernah melihat makhluk seperti itu di film-film.
“Unicorn...” gumam mereka
bertiga bersamaan seraya menatap makhluk di hadapan mereka dengan tatapan kagum.
Ada sedikit rasa lega saat melihat maklhuk aneh itu, karena mereka tahu,
unicorn adalah makhluk baik di dalam kisah-kisah anak.
Unicorn itu pun berjalan
mendekati mereka, “Bagaimana bisa kalian menemukan tempat ini? Tak pernah ada
manusia yang menemukan tempat tinggal kami, para unicorn.”
“Kami bukan manusia, kami...
setengah roh.” jawab Sanghyun sambil menunjuk dirinya dan Eunhye.
“Dan aku adalah malaikat
pelindungnya.” Tambah Sehun lalu menunjuk Eunhye.
“A,geurae?” kata unicorn itu
kemudian.”Lalu apa yang terjadi dengan teman kalian?” unicorn itu menunjuk ke
arah Kris dengan gerakan mata.
“Kurasa dia terlalu lelah
setelah melawan badai hampir semalaman...” jawab Sehun.”Apa kau dapat membantu
kami untuk menyembuhkannya? Dan... Jika aku boleh tahu... siapa namamu?”
“Aku Yixing.” Jawabnya, lalu
menatap Kris yang terbaring tak berdaya, “Aku ini jelmaan unicorn dan aku dapat
menyembuhkan penyakit apapun dengan mudah. Karena itulah tugas unicorn, sebagai
penyembuh.”
“Jelmaan? Itu artinya kau...
manusia?”
“Begitulah...” jawab unicorn
bernama Yixing itu singkat,
“Jadi kau dapat menyembuhkan
Kris?” Eunhye tampak sangat senang mendengarnya.
Unicorn itu tak menjawab
pertanyaan Eunhye dan langsung mendekati Kris, menempelkan ujung tanduknya di
kening namja itu. Seberkas sinar muncul di sana dan saat sinar itu lenyap, Kris
sudah sadar kembali. Kris membuka matanya perlahan, rasa nyeri di tubuhnya
sudah hilang seutuhnya dan kini dia merasa segar kembali.
Kris pun segera berdiri, “Kita
berada di mana?”
“Aku juga tak tahu.” Jawab
Sehun polos.
“Ini pulau tempat tinggal
para unicorn.” Yixing menjawab pertanyaan Kris.
Kris menoleh ke arah Yixing lalu membungkukkan badannya, “A,
ne. Terima kasih karena sudah menolongku tadi.”
“Itu sudah menjadi tugas
unicorn, kau tak perlu sungkan.” Unicorn itu kemudian berbalik, bersiap pergi.
“Jamkkanmanyo!” seru Kris,
mencegah unicorn itu untuk melangkah.”Di mana arah utara jika dilihat dari
tempat ini?”
Yixing menghentikan
langkahnya, “Arah utara berada di kananmu.” Jawabnya singkat,”Aku penasaran...
ke mana kalian akan pergi?”
“Kami akan pergi ke... Taman
Eden.” Jawab Kris dengan penekanan di kata Eden.
Unicorn itu tampak terkejut
dengan jawaban Kris, “Jeongmalyo? Baiklah kalau begitu. Kudoakan kalian semua
selamat sampai di sana.”
“Kamsahamnida...” ucap
mereka berempat bersamaan.
***
“Kris, gwaenchanna? Apa kau
serius akan melanjutkan perjalanan ini sekarang? Apa kau tak butuh istirahat? ”
tanya Sehun penuh kecemasan saat Kris menyuruh mereka bertiga untuk segera
memulai perjalanan lagi setelah menunggu sinar bulan datang.
Kris hanya mendengus dan
menatap Sehun, “Gwaenchanna. Unicorn tadi telah menghilangkan rasa sakit di
tubuhku. Asalkan ada cahaya bulan menerangiku, itu akan baik-baik saja. Jadi,
jangan khawatir.” Kris menatap mereka bertiga satu persatu, “Kalian juga harus
cepat sampai ke Taman Eden. Karena itu cepatlah kalian naik. Kau juga Sehun,
sebaiknya kau ikut naik ke punggungku.” Lanjut Kris.
“Baiklah
jika itu kehendakmu. Kami akan mengikuti semua instruksimu.” Ucap Sehun pada
akhirnya, lalu berjalan di samping Kris.
Mereka
berempat berjalan menuju ke arah utara, mencari dataran yang lapang untuk Kris
berubah menjadi naga. Sehun berjalan di belakang bersama Kris sedangkan
Sanghyun dan Eunhye berjalan sambil bergandengan di depan. Sesekali Sehun
melirik ke arah mereka berdua dengan tatapan sebal yang penuh kecemburuan.
“Eunhye-ya,
kau tidak terluka kan?” tanya Sanghyun sambil membelai rambut Eunhye.
Sehun
yang melihatnya langsung melotot kesal, “Aku saja belum pernah melakukan itu
pada Eunhye!” desisnya, sedikit geram.
Kris
segera menenangkan Sehun dengan menepuk pundak malaikat tampan itu, “Kau tidak
boleh. Kau tahu itu kan? Seberapa besar pun rasa cinta atau rasa cemburumu pada
Eunhye, kau takkan bisa lagi bersatu dengannya. Duniamu dan dunianya sudah
berbeda.”
Sehun
mengangguk pasrah, “Arratta. Padahal aku sendiri yang meminta mereka untuk
bersatu. Tapi kenapa aku malah...” Sehun tak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Gwaenchanna.
Itu wajar, aku juga merasakan hal sama denganmu sebelumnya. Dan kurasa, semua
malaikat dan makhluk sepertiku juga merasakan hal yang sama.”
“Musun
soriya?” Sehun mengernyit, tak mengerti maksud dari kata-kata Kris.
“Aku
ini juga manusia. Dulu aku memiliki kehidupan yang sangat bahagia dan tak ingin
kutinggalkan. Aku memiliki yeochi yang cantik, keluarga yang sangat
menyayangiku dan teman-teman yang sangat kurindukan. Yaaah... tapi semua itu
berakhir karena takdir yang sudah digariskan Tuhan untukku. Aku berubah menjadi
naga dan ditugaskan untuk menjaga Taman Eden. Pada awalnya, aku merasa ini
semua tak adil untukku dan terus meratap pada Tuhan, ‘Kenapa harus aku?’” Kris menarik napas panjang, “Tapi kemudian aku
sadar. Bukankah Tuhan pemilik semesta alam telah melakukan yang terbaik untuk
makhluknya? Dan seperti yang kaulihat, aku menikmati tugasku sebagai salah satu
penjaga di kahyangan sekarang. Cepat atau lambat, kau akan mengerti garis
takdirmu dan mau tak mau kau harus menjalaninya dengan ikhlas.”
Sehun
hanya diam, melihat ke arah Sanghyun dan Eunhye yang terlihat sangat akrab dan
bahagia. Segaris senyum tercipta di wajahnya, “Setidaknya aku dapat melihatnya
tersenyum seperti itu.”
“Percayalah
padaku, Tuhan sudah merencanakan sesuatu yang indah untukmu.”
Sehun
menghentikan langkah, bingung dengan perasaannya sendiri dan mulai berjalan
lagi dengan langkah pelan.
Kris
menepuk pundak Sehun, tersenyum. “Ayo kita lanjutkan perjalanan. Kau harus bisa
menjalani takdirmu sebagai penyelamat dan pelindung Eunhye.”
“Eung~
Baiklah...” jawab Sehun, dia mulai kembali menjadi Sehun yang ceria.
“A,ne.
Jangan lakukan hal bodoh seperti tadi malam hanya karena kau cemburu. Kau tahu?
Itu dapat membahayakan kalian betiga atau bahkan aku.”
“Hal
bodoh? Aku tak pernah melakukannya.” Sehun berkelit dan langsung mengalihkan
pandang.
“Kau
pikir aku tidak tahu jika kau kemarin melakukan hal konyol hanya karena
cemburu? Untung saja Sanghyun berpegangan erat pada gerigiku, kalau tidak...
entah jadi apa kalian saat ini.”
“Eum...
masalah itu... aku hanya... hanya sedikit...” Sehun menjilat-jilat bibirnya
seperti biasa, gugup.
“Sudahlah,
lupakan. Itu semua sudah lewat. Yang penting sekarang kau takkan melakukannya
lagi.” Jawab Kris tegas lalu mempercepat langkahnya.
Beberapa
saat kemudian, mereka berempat sampai di sebuah stepa yang sangat luas. Kris
pun segera mengubah wujudnya menjadi naga kembali dan meminta ketiga
penumpangnya untuk segera naik dan melanjutkan perjalanan.
***
Pada
malam-malam berikutnya, Kris terbang lebih cepat dari angin. Udara malam memang
sejuk, tapi hawa pada siang hari begitu panas sehingga mereka nyaris tidak bisa
melanjutkan perjalanan. Berhari-hari mereka terbang lurus ke utara, tapi
anehnya, mereka sama sekali tidak merasakan lelah. Kris tak heran akan keadaan
itu, dia yakin karena unicorn itulah sampai sekarang dia dapat bertahan tanpa
istirahat sedetik pun. Tidak ada halangan berarti untuk beberapa hari ini,
sehingga mereka dapat tertawa santai.
Mereka
kini tengah melintasi hamparan hutan pinus yang berada di pegunungan. Mereka
tidak tahu sekarang mereka ada di negara apa, yang mereka tahu hanyalah mereka
sedang berada di sebelah utara Eropa.
Eunhye
selalu memperhatikan negeri-negeri yang dilewatinya dengan seksama. Sebenarnya
dia ingin sekali melihat negeri-negeri asing itu lebih dekat. Namun itu hanya
bisa dilakukannya saat tengah malam, waktu Kris terbang merendah di atas
kota-kota. Dari atas dia dapat melihat berbagai menara dan gedung tinggi
menjulang mewah dengan ciri khas eropanya.
Udara
di atas sini dipenuhi oleh bau yang asing, seperti campuran bau hujan, debu
atau bahkan embun. Sungguh tak terdefinisikan.
Malam
ini malam yang sangat indah, hangat dan penuh dengan bintang. Dalam waktu yang
sangat singkat, hutan dan pegunungan yang tadi mereka lewati lenyap ditelan
kegelapan. Kini, di belakang, sebelah kanan dan kiri mereka tidak ada hal lain
selain air dan bongkahan es yang mengapung. Hanya warna putih kebiruan sejauh
mata memandang.Sesekali sekelompok burung terbang melintas dan berkaok kaget
saat melihat Kris. Ya, kali ini mereka harus menyebrangi samudra Arktik untuk menuju ke ujung dari dunia, utara dari
Bumi.
“Oh,
tidak!” seru Kris tiba-tiba.
“Ada
apa?” teriak Sehun dari belakang.
“Bulan!
Aku tidak melihat bulan!”
“Lalu
kenapa jika kau tidak melihat bulan?”
Kris
terbang semakin pelan, kepakan sayapnya mulai lunglai seakan sedang menopang
beban berat yang tidak kelihatan. Naga hanya bisa memperoleh kekuatan jika
bulan tergantung di langit dan memancarkan sinarnya. Jika terjadi gerhana bulan
seperti ini, naga akan menjadi lemah dan kehilangan kekuatannya.
“Kau
terbang terlalu rendah, Kris!” seru Sehun lagi.
“Aku
tidak kuat lagi! Aku menjadi lemah tanpa sinar Bulan!” teriak Kris.
“Oh,
tidak. Ini terjadi lagi. Padahal baru beberapa hari yang lalu kita mengalami
hal yag sama.” Ucap Sanghyun sambil memepererat pegangannya di gerigi Kris.
“Apa
yang harus kita lakukan sekarang? Kita berada di atas lautan es sekarang!”
teriak Eunhye ketakutan.
Kris
terbang semakin rendah. Wajah ketiga penumpangnya pun mulai diterpa percikan
air asin yang sedingin es. Pada detik berikutnya, Kris pun jatuh dari langit,
seperti burung yang baru ssaja tertembak oleh sang pemburu. Tapi anehnya,
mereka tidak benar-benar terjatuh, mereka melayang-layang di udara seperti
serbuk-serbuk bunga dandelion yang berterbangan.
“Bagaimana
bisa ini terjadi? Bagaimana mungkin kita tidak terjatuh?” kata Kris dengan
tatapan tak percaya, memandang ketiga penumpanganya.
“Kurasa
aku tahu kenapa...” gumam Sehun sambil menatap ke atas.
Kris,
Sanghyun dan Eunhye pun mengikuti arah pandangan Sehun. mereka bertiga terkejut
melihat sosok yang tengah terbang di atas sana. Makhluk yang memiliki ciri sama
persis dengan Sehun, malaikat.
Malaikat
itu menatap keempat makhluk di bawahnya
sambil tersenyum dan segera mengarahkan gerakan tangannya ke arah daratan
terdekat. Seketika itu pun, Kris dan ketiga penumpangnya sudah berada di atas
daratan berlapis es.
“Luhan
Hyung! Jinjja gomawoyo.” Seru Sehun , lalu berlari ke arah Luhan yang baru saja
mendarat. Luhan hanya membalasnya dengan senyuman.
“Luhan,
bagaimana kau tahu kami ada di sini?” tanya Kris.
“Insting
malaikat sangatlah tajam. Kau tahu itu.” Jawab Luhan asal.
“Ah,
kau bisa saja.” Kata Kris, “Tapi ada satu
hal yang membuatku bingung. Kau memiliki kekuatan yang hebat seperti itu, tapi
kenapa dia tidak punya?” Kris menunjuk Sehun dan yang ditunjuk pun langsung
menunduk.
“Itu
karena dia belum lama bertugas, sehingga dia belum terlalu memerlukan kekuatan
sepertiku.” Jawab Luhan lagi. “A! Apa kau yang bernama Lee Eunhye?” cetus Luhan
sambil menunjuk Eunhye.
Eunhye
membungkukkan badannya, “Ne, namaku Eunhye. Kamsahamnida, telah menolong kami.”
“Wah,
ternyata kau yeoja yang benar-benar cantik dan baik. Pantas saja Sehun masih
belum bisa melupakanmu dan rela mengorbankan apapun demi dirimu.” Kata Luhan
sambil tersenyum. Dia senang karena akhirnya dia dapat melihat yeoja yang
selalu diceritakan Sehun padanya.
Sehun
membekap mulut Luhan dengan tangannya. “Hyung, jangan bicara yang tidak-tidak.”
Sanghyun
dan Eunhye mengernyit.
“Me...
mengorbankan apapun... demi aku?” tanya Eunhye sambil menatap ke arah Sehun.
sehun langsung menggeleng kuat-kuat.
“Jangan
pedulikan kata-kata Luhan Hyung. Dia memang terkadang suka bicara sesukanya.” Kata
Sehun sambil meringis, tangannya masih saja membekap mulut Luhan.
“Sehun-a!
Lepaskan tanganmu.” Kata Luhan, tidak terdengar begitu jelas karena bekapan
Sehun.
Sehun
melepas tangannya dari wajah Luhan dan berbisik pada hyungnya itu, “Mianhaeyo,
Hyung. Aku tak bermaksud untuk... arghh...” Sehun mendekatkan mulutnyanya ke
telinga Luhan, “Aku hanya tak ingin membebani Eunhye. Dia pasti akan merasa
bersalah setelah mendengarnya.”
Luhan
mengangguk, “Sehun-a, maafkan hyungmu ini yang tidak mengerti hal seperti itu. Aku
tak pernah berpikir sampai ke sana. Kau tahu kan, aku tak memiliki niat buruk
saat mengatakan itu tadi.”
“Gwaenchanna,
Hyung. Arrasseoyo...” jawab Sehun sambil merangkul Luhan.
“Apa
kau akan ikut bersama kami ke Taman Eden?” tanya Kris pada Luhan.
“Aniya.
Aku masih harus melaksanakan tugasku. Baiklah, kurasa aku harus kembali
sekarang...”
“Sekali
lagi, kami ucapkan terima kasih!” seru mereka berempat pada Luhan yang mulai
terbang menjauh.
Sepeninggalan
Luhan, mereka berempat hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa. Bulan di atas
sana masih belum terlihat juga. Kris mengembuskan napas panjang, dia berubah
menjadi wujud manusianya sekarang.
“Tadi...
hampir saja kita tercebur ke lautan es. Aku sungguh minta maaf pada kalian. Aku
telah menimbulkan rasa takut yang besar di benak kalian. Maafkan aku...” kata
Kris, terlihat sangat menyesal.
“Itu
semua bukan salahmu. Ini semua di luar kehendak kita, kau tahu itu.” Ucap
Sanghyun, berusaha menenangkan Kris.
“Apa
kalian merasakan keanehan seperti yang kurasakan?” tanya Sehun tiba-tiba.
“Keanehan
apa?” tanya Eunhye tidak mengerti.
“Ini
adalah daerah dekat kutub, tapi aku sama sekali tidak kedinginan. Dan lagi...”
Sehun memandang sekitar dengan waspada, “Aku merasakan tanah yang kita pijak
bergerak setiap detiknya. Apa kalian tidak merasakan hal itu?”
“Kau
benar, aku juga tidak merasakan dingin. Tapi tentang tanah... aku tak merasakan
apapun.” Kata Kris, mewakili jawaban Eunhye dan Sanghyun.
“Aku
merasa... pulau ini berbau sedikit amis. Apa karena laut?” Sanghyun berdiri dan
mengamati lebih teliti tempat yang dipijaknya, “dan lapisan es ini... kurasa
kita sedang tidak berada di tanah yang dilapisi es. Setelah dilihat lebih
teliti, pulau ini berbentuk seperti tempurung kura-kura. Atau jangan-jangan
pulau ini...” Sanghyun bergidik ngeri membayangkan apa yang ada di bayangannya
saat itu.
“Kura-kura
raksasa!!!” seru Sehun.
“Naik
lagi ke punggungku! Ppalli!!” teriak Kris, secepat kilat dia mengubah dirinya
menjadi naga lagi.
Sekonyong-konyong,
seluruh pulau bergetar.
“Lari!”
Sehun berteriak dan mendorong Eunhye ke arah Sang Naga. Dengan susah payah,
mereka naik ke punggung Kris. Sementara itu, pulau itu menyembul semakin tinggi
dari permukaan laut.
“Tapi,
Kris, bulannya!!” Sehun memekik putus asa menyadarinya.”Bulannya belum muncul
juga. Bagaimana mungkin kau bisa terbang, Kris?”
Sehun
benar, di tempat bulan seharusnya menggantung, hanya tampak lubang hitam yang
menganga. Tak ada sisa cahaya dari bulan di sana.
“Aku
harus terus mencoba terbang!” seru Kris sambil merentangkan sayapnya. Namun
meskipun dia sudah berusaha keras, tubuhnya tak terangkat sejengkal pun. Sehun,
Sanghyun dan Eunhye saling berpandangan dengan cemas.
Tiba-tiba,
kepala raksasa muncul dari laut di depan mereka. Kepala itu tampak berlumut dan
mmm... terlihat sedikit berlendir. Sepasang mata terbuka dari bawah kelopak
yang tebal.
“Omo!!
Kita benar-benar mendarat di atas kura-kura raksasa!” teriak Eunhye tak
percaya.
Kura-kura
itu mengangkat kepalanya, hingga melayang di atas kepala Kris. Sang naga hanya
dapat berdiri terpaku melihatnya.
”Kalian
bertiga mundur! Berlindunglah di belakang tubuhku.” Gumam Kris pada ketiga
penumpangnya.
“Wah,
ada siapa di sini?” ucap kura-kura itu dengan suara merdu dan lembut. “Tamu
yang sangat tidak biasa di daerahku yang penuh dengan air asin dan hamparan es
ini. Apa yang membuat sepasang makhluk setengah roh, malaikat pelindung dan
naga sampai di sini? Pastinya bukan hanya untuk menangkap ikan, kan?”
“Yang
jelas kami berada di sini bukan untuk berurusan denganmu.” Seru Kris lantang.
“A,
begitu ya?” sahut kura-kura raksasa itu santai. “Setahuku kalian ke sini untuk
pergi ke Taman Eden dan mengambil buah kehidupan dari sana.”
Kris,
Sehun, Sanghyun dan Eunhye melotot kaget mendengar kata-kata kura-kura itu, isi
pikiran mereka sama : “Bagaimana dia bisa
tahu?!”
”
Kau! Namamu Sehun, kan? Malaikat kecil yang tampan dan sangat bersinar. Kau
benar-benar malaikat pelindung yang baik. Kau rela mengorbankan kesempatanmu
bereinkarnasi hanya demi nyawa yeoja yang kaulindungi. Kurasa kau malaikat
pelindung terbaik di jagad raya ini...”
Sanghyun
menatap ke arah Sehun, merasa tidak sebanding dengan malaikat itu untuk
bersaing memperebutkan hati Eunhye.
“Aku
mohon, jangan teruskan perkataanmu. Aku tak tahu bagaimana kau mengenal dan
mengerti seluruhnya tentang aku, tapi kumohon. Hentikan kata-katamu itu.” Seru
Sehun, lalu menatap ke arah Eunhye yang tengah menatapnya lekat.
“Apa
benar yang dikatakannya?” tanya Eunhye, air mata mulai mengalir di kedua
pipinya.
“Eunhye-ya...”
“Kau
tak perlu mengorbankan apapun demi aku, karena aku... aku tak pernah melakukan
sesuatu pun untukmu. Kau tahu itu kan, Oh Sehun?!!”
“Gwaenchanna.
Ini sudah menjadi keputusanku. Kita hampir sampai ke Taman Eden, terlambat
untuk membatalkannya.” Sehun tersenyum dan memeluk Eunhye. Sepasang sayapnya
langsung mengembang dan ikut menaungi tubuh mungil Eunhye.
“Kenapa
kau mengorbankan sesuatu yang sangat penting bagimu, eo? Kau ini benar-benar
bodoh!”
“Ye,
aku memang bodoh. Tapi aku senang menjadi malaikat yang bodoh seperti ini
asalkan kau tetap bisa hidup dan tersenyum bahagia.”
“Kaupikir
itu takkan menjadi beban bagiku? Bagaimana caraku membalasmu? Aku tak punya
apa-apa!!” Eunhye terisak hebat, rasa bersalah menggerooti hatinya.
“Kau
hanya perlu membalasnya dengan senyummu. Ya, hanya senyum.” Sehun melepaskan
pelukannya dan menyeka air mata di wajah Eunhye.
“Hei,
kalian berdua! Sudahlah, terima ini semua dengan ikhlas, karena ini sudah
ditakdirkan oleh Tuhan untuk kalian. Keberadaanku di sini hanyalah untuk
meyakinkan kalian bahwa jalan yang kalian ambil itu benar.” Kata kura-kura
raksasa itu lagi, ditujukan pada Sehun dan Eunhye yang terlihat sangat gamang.
“Sebenarnya
kau ini siapa?” tanya Sanghyun, mewakili semua pertanyaan yang lain.
“Aku
adalah kura-kura kebijaksanaan. Aku selalu mengatakan kebenaran yang aku tahu
pada orang yang kukehendaki.” Jawab makhluk raksasa itu.
“Kura-kura
kebijaksanaan? ” Kris ikut bertanya.
“Ya,
itulah aku.”
“Apa
kau dapat membantu kami dalam perjalanan ini?”
“Geurom.
Tentu saja bisa. Adakah sesuatu yang ingin kalian tanyakan?”
“Tentang
roh jahat yang berkeliaran di sekitar Taman Eden, apakah mereka masih ada di
sana?” tanya Kris lagi.
“Tentu
saja mereka masih bergentayangan di sana. Jiwa-jiwa yang tak tenang seperti
mereka akan terus seperti itu. Selamanya...”
“Lalu,
adakah cara untuk menhindarinya?” sambung Sanghyun, padahal dia tidak tahu
bagaimana wujud roh-roh itu.
“Tidak
ada. Tapi jika kalian tidak ingin terlibat masalah dengan mereka, kalian tidak
boleh merasa takut sedetik pun. Apapun yang terjadi, jangan sampai kalian
merasa ketakutan.”
“Baiklah,
aku mengerti. Kuharap aku nanti dapat mengatasi rasa takutku...” gumam Sanghyun
sambil menganggukkan kepalanya.
“Lalu
apa yang akan terjadi jika aku ketakutan?” tanya Eunhye, yang kali ini sudah
dapat mengendalikan emosinya.
“Kalian
akan tinggal selamanya bersama mereka, bersama jiwa-jiwa jahat yang tak tenang.”
Jawab Sang Kura-kura dengan nada mencekam.
“Ah,
jawabanmu terlalu dibuat-buat menakutkan...” Sehun mengibaskan tangannya di
depan wajah sambil tertawa.
“Sudah
kubilang, aku hanya akan mengatakan kebenaran.” Protes Sang kura-kura tidak
terima. “Kalian semua cepatlah berangkat, semakin kalian menunda, akan semakin
berbahaya. Cahaya bulan sudah kembali menerangi bumi, maka cepatlah!” Lanjutnya
seraya menatap empat makhluk di hadapannya dengan tatapan serius.
“Baiklah.
Kami akan segera berangkat.” Jawab Kris, lalu segera berubah menjadi naga lagi.”Kalian!
cepat naik ke punggungku!”
***
Kris terbang semakin tinggi.
Dia merasa sangat bertenaga, seolah di dalam darahnya mengalir cahaya bulan itu
sendiri. Akhirnya tempat tujuan mereka sudah dekat. Rendah di batas horizon,
tak jauh dari tempat mereka berada, terdapat cahaya warna warni yang membentuk
rangkaian seperti tirai yang melambai-lambai malas membentang di langit. Seiring
waktu berlalu, segaris cahaya hijau terbentuk dan melayang jauh di atas mereka,
perlahan membentuk sebuah kurva yang mengombak pelan. Tiba-tiba bagian bawah
dari tirai cahaya itu berubah merah dan menggelombang dengan begitu cepat. Biru dan ungu kemudian muncul, berputar-putar
seperti roda angin yang bercahaya. Seluruh langit tampak dipenuhi oleh warna
dan gerakan indah. Cahaya itu terlihat sangat indah dan mengagumkan. Setiap
orang yang melihatnya pasti akan merasa begitu.
“Tutup
mata kalian!” seru Kris tiba-tiba.
“Kenapa?
Kami masih ingin melihat aurora itu.” Jawab Eunhye dengan nada kecewa.
“Tutup
mata kalian, jangan lihat aurora itu karena aurora adalah jelmaan roh jahat
yang dimaksud oleh Kura-kura Kebijaksanaan. Sebentar lagi kita akan menembus
cahaya –cahaya indah itu. Jadi, tutup mata kalian sekarang juga!”
“Jadi,
maksudmu kita akan menembus aurora itu? Tadi kau bilang aurora adalah jelmaan
roh-roh jahat. Bagaimana cara kita melewatinya?” Teriak Sehun, agar Kris dapat
mendengar suaranya.
“Kalian
hanya perlu menutup mata kalian. Karena jika kalian ketakutan karena melihat
wujud mereka, kalian berada dalam bahaya besar. Apapun yang terjadi, jangan
buka mata kalian sampai aku menyuruh kalian melakukannya.”
“Apa
taman Eden berada di balik cahaya aurora itu? Bukankah satu-satunya hal yang
ada di balik aurora adalah luar angkasa?
“Kalian
tak pernah tahu ya? Ada dimensi lain di sini yang akan membawa kita ke Taman
Eden. Memang terdengar janggal di telinga kalian, tapi ini kebenarannya. Manusia
tak pernah tahu karena Eden hanya bisa dimasuki oleh makhluk tak kasat mata
seperti Sehun dan roh-roh baik. Sedangkan roh-roh jahat, mereka hanya bisa
berkeliaran di luar Taman Eden dan manusia melihatnya sebagai aurora. Cahaya yang
kalian pikir indah tidaklah seindah kenyataannya. Kalian akan tahu seberapa
mengerikannya aurora saat melewatinya nanti.” Jelas Kris panjang lebar, membuat
ketiga penumpangnya merasa ngeri karena membayangkan kemungkinan terburuk.
“Nah,
sekarang... tutup rapat-rapat mata kalian. Kuperingatkan sekali lagi. Seberapapun
penasarannya kau pada makhluk yang menggodamu, jangan pernah buka matamu!”
“Ne!”
jawab mereka bertiga kompak.
Detik-detik
pertama memasuki kumpulan cahaya itu, mereka tidak merasakan hal aneh. Namun
semakin ke dalam, mereka semakin merasakan hawa dingin yang tak biasa dan lebih
mengerikan dari hawa es. Banyak sekali suara rintihan dan tangisan terdengar. “Temani, aku di sini...”, “Tinggallah
bersamaku. Kau akan bahagia.”, “Aku kesepian, temani aku...” ucapan
makhluk-makhluk itu sangatlah miris di telinga sekaligus mengerikan bagi siapa
saja yang mendengarnya.
Selain
itu, bau anyir darah memenuhi indra penciuman mereka berempat. Semakin dalam
memasuki cahaya aurora, semakin berat pula godaan untuk mereka membuka mata. Sesekali
mereka merasa disentuh oleh makhluk-makhluk itu, membuat mereka ingin menjerit
ketakutan.
“Wah...
kau malaikat yang sangaaaaat tampan. Maukah kau jadi milikku? Ayo, buka matamu.
Kau akan menyesal jika tidak melihat makhluk secantik diriku...” ucap sebuah
suara, tepat di samping Sehun. sehun hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi dan
mata yang tertutup rapat.
“Ya!
Kau sungguh tidak sopan! Aku sedang bicara padamu, bagaimana mungkin kau tak
menatap wajahku, eo?” seru makhluk itu penuh kekesalan, lalu memegang wajah
Sehun dengan kedua tangannya.
Sehun
tak merespon, dia sibuk berpegangan erat pada gerigi di punggung Kris.
“Sehun-a,
gwaenchanna?” ucap Eunhye, tetap dengan mata terpejam.
“Gwaenchanna.
Sudahlah, jangan khawatirkan ku. Kau tetaplah fokus dan jangan pernah buka
matamu.” Sehun membalas bisikan Eunhye.
Makhluk
yang menggoda Sehun masih saja menempel padanya, Sehun menjadi tidak nyaman
dengan hal itu. Hawa dan aroma dari makhluk itu sungguh mengerikan, lebih
mengerikan dari apapun yang pernah dirasakan olehnya.
Sehun
pun menutup mata semakin rapat dan berteriak pada Kris, “Apa ini masih lama? Kurasa
kami tidak bida bertahan lebih lama!”
“Kita
hampir sampai! Bertahanlah sebentar lagi. Gerbang menuju dimensi lain sudah di
depan mata!” teriak Kris.
***
Tujuh
puncak gunung menjulang di kejauhan, tampak putih bersinar terkena cahaya
bintang. Di bawahnya, terdapat empat sungai berair sangat jernih mengalir
dengan tenang. Bau harum menyergap hidung mereka, membuat mereka menikmati
setiap detiknya dengan perasaan nyaman yang tak pernah mereka rasakan
sebelumnya.
Ya.
Akhirnya mereka sampai di depan gerbang Taman Eden. Sehun menatap gerbang yang
terbuka lebar itu dengan tatapan puas sekaligus senang. “Akhirnya kita sampai
juga di sini.”
“Baiklah.
Aku akan masuk dan memetik buah kehidupan. Kalian tunggu saja di sini.” Lanjut
Sehun.
“Kami
ingin ikut, kami harus membantumu.” Ucap Sanghyun.
“Kalian
tidak akan bisa memasuki gerbang ini, karena kalian belum menjadi roh
seutuhnya. Hanya kami para malaikat dan roh baik yang dapat melewatinya.” Jelas
Sehun.
“Tapi,
Sehun-a...” Eunhye bersikeras ingin ikut.
“Sehun
benar, hanya dia yang bisa memasukinya. Kalian di sini saja bersamaku. Tenanglah,
Sehun akan kembali dengan selamat.” Kata Kris, meyakinkan dua roh gamang itu.
“Ne,
aku akan kembali dengan selamat. Geokjeongma...” ucap Sehun sambil menepuk
puncak kepala Eunhye penuh sayang, lalu berjalan dengan mantap memasuki Taman
Eden. Perlahan dia merentangkan sayap malaikatnya dan terbang mencari letak
pohon kehidupan di Taman itu.
Sehun
memulai perjalanannya di taman Eden. Hmmm... kata apa yang sekiranya paling
tepat untuk mendeskripsikan Taman Eden? Pernahkah kalian mendengar taman
Babylonia yang ternal sangat indah itu? Para ilmuwan sejarah mengira bahwa itu
adalah Taman Eden yang sebenarnya. Namun mereka semua salah. Taman Eden jutaan
atau bahkan milyaran kali lebih indah dari taman Babylonia yang termasyhur itu.
Taman Eden bagaikan taman bergantung raksasa yang dalamnya bahkan lebih luas
dari bumi. Di dalamnya mengalir empat sungai berair jernih nan manis. Sekali
kau menenggak airnya, kau takkan merasakan haus dalam kurun waktu yang lama. Buah-buah
yang tumbuh di sana adalah buah yang ratusan kali lebih menyegarkan dan
mengenyangkan daripada buah yang ada di bumi. Ya, tak ada yang dapat menandingi
indah dan menyenangkannya Taman Eden.
Puncak-puncak
putih itu kini sedemikian dekat. Sedemikian dekatnya hingga Sehun merasa dia
dapat meraup salju yang menutupi lereng-lerengnya dengan tangan. Sehun menuju
ke tempat di antara dua puncak gunung yang paling runcing. Tak tahu kenapa, feelingnya merasaka jika pohon kehidupan
berada di antara puncak itu. Sehun masuk ke dalam sebuah celah di lereng puncak
itu dan menemukan pemandangan yang sungguh indah, keindahan yang paling
sempurna yang pernah dilihatnya. Lembah yang dilihatnya saat ini bahkan lebih
indah dari semua lembah yang pernah dimimpikannya. Sehun memandang lembah penuh
bunga itu, menhirup wanginya yang sudah tercium dari tempatnya berdiri. Dia kemudian
memejamkan mata dan merasakan keberadaan pohon kehidupan. Jelas sekali, sejelas
aroma wangi bunga-bunga itu.
Sehun
terbang ke bawah menuju sebuah danau yang terbentang luas di tengah lembah. Danau
di bawahnya bagaikan sebuah cermin berkaca biru. Sesampainya di pinggir danau
itu, Sehun meminum beberapa tenggak air darinya. Seketika itu, kakinya
menuntunnya menuju sebuah pohon yang tampak sangat tua. Pohon itu memiliki
beberapa cabang yang membuatnya terlihat sangat kokoh dan gagah. Sebagian akar
dari pohon itu berada di danau. Pohon itu begitu bersinar, seperti memiliki
aura yang kuat. Sehun mendekatinya perlahan untuk memastikan.
“Ini...
pohon kehidupan?” Sehun menyentuh sulur yang menjulur dari pohon itu. Matanya
mencari-cari buah kehidupan.
“Ah,
aku mendapatkannya!” seru Sehun senang dan segera memetiknya.
“Jika
kau memakan buah itu, kau akan dapat hidup kembali dan memperbaiki kesalahanmu
di kehidupanmu yang sebelumnya.” Sebuah suara muncul dari atas pohon itu.
“Neo...
nuguseyo?” tanya Sehun, dia mundur beberapa langkah karena kaget.
“Kau
tak perlu tahu.” Jawab suara itu lagi. “Eum... kau mengambil buah itu bukan
untuk dirimu sendiri, kan?”
“Ye,
temanku yang memerlukannya. Kenapa?”
“Kau
yang pertama melakukan hal seperti ini. Oleh karena itu, aku akan membiarkan
kau pergi tanpa syarat apapun.”
“Benarkah?”
Sehun tersenyum senang, “Walaupun aku tak tahu siapa kau sebenarnya, aku sangat
berterimakasih padamu.” Sehun membungkukkan badannya penh hormat pada suara
yang sepertinya tak beraga itu, lalu berbalik pergi, kembali ke gerbang taman
Eden.
“Aku
berhasil mendapatkannya, Eunhye... kau akan selamat.” Senyum Sehun mengembang
semakin lebar. Tak ada kekhawatiran akan hukuman yang harus diterimanya setelah
ini.
***
Kris,
Sanghyun dan Eunhye berjalan mondar-mandir dengan hati cemas, karena Sehun
belum juga kembali.
“Kenapa
kalian mondar-mandir seperti itu, eoh?”
Ketiganya
langsung berbinar saat melihat siapa pemilik suara itu, “Sehun! kau kembali!”
“Tentu
saja aku kembali...” kata Sehun sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan
gigi putihnya, “dan aku membawa... ini!!” Sehun mengeluarkan buah kehidupan
yang sedari tadi disembunyikannya di balik punggung. “Aku hebat, kaaaan?”
Namun,
bukanlah senyuman yang tergambar di wajah Eunhye saat melihat buah itu di tangan
Sehun, melainkan wajah penuh kekhawatiran yang siap meluapkan air mata.
“Wae?
Kenapa ekspresimu seperti itu? Apa kau tidak senang?” tanya Sehun bingung.
“Mana
sayapmu? Mana sinar yang selama ini menyelimuti tubuhmu? Apa terjadi sesuatu
padamu?”
“Geokjeongma.
Aku hanya kembali menjadi roh biasa.”
“Jadi...
kau bukan lagi malaikat? Apa ini semua karena buah itu? Inikah yang dikatakan
oleh kura-kura raksasa saat itu?”
“Eung...
geuraesseo.”
“Jadi...
secara tidak langsung ini semua adalah kesalahanku. Itu benar, kan?” Eunhye
mulai menangis.
“Jangan
merasa bersalah karena semua ini. Aku sendiri yang memilih jalan ini. Aku
melakukannya karena aku sangat mencintaimu. Oleh karena itu kau tidak boleh
menyiakan pengorbananku ini. Arra?” Sehun memegang kedua pundak Eunhye sambil
tersenyum.
“Apa
kau tidak ingin bahagia? Tidakkah kau merindukan kebahagiaan, eo?”
“Aku
akan bahagia jika melihatmu bahagia. Walau aku kehilangan kesempatanku untuk
bereinkarnasi, aku yakin aku akan tetap bahagia. Karena bagiku, kaulah
kebahagiaan abadiku. Jika kau bahagia, aku juga begitu...”
“Dasar
bodoh...” hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut mungil Eunhye.
Sehun
memeluk Eunhye, mungkin untuk yang terakhir kalinya. “Uljima... uljima... aku
ingin kau tersenyum saat mengingatku, bukan menagis seperti ini.”
Eunhye
diam dalam tangis, Sehun melepas pelukannya lalu kembali fokus pada apa yang
akan dikatakannya.
“Aku
hanya dapat mengambil satu buah kehidupan, karena itu memang peraturannya.”
Sehun mengangsurkan buah itu ke tangan Eunhye, “Bagi dua buah ini dan makanlah.
Itu artinya kalian membawa setengah dari jiwa masing-masing. Jika sudah seperti
itu, kalian berdua harus hidup bersama berdampingan.”
“Jadi
maksudmu...” kata Sanghyun.
“Kalian
harus tetap bersama sampai mati...” jawab Sehun pasti.”Nah, cepatlah kalian makan
buah ini.”
Sanghyun
membagi buah itu menjadi dua dan menyerahkan separo bagiannya pada Eunhye. Mereka
berdua saling berpandangan dan memakan buah itu bersamaan.
“Sehun-a,
gomawo...” ucap Eunhye seraya melemparkan senyuman indahnya pada Sehun saat tubuhnya
mulai menjadi transparan dan menghilang perlahan.
Sehun
hanya diam dengan air mata mengalir di pipinya. “Annyeong, Eunhye-ya... berbahagialah bersama Sanghyun. Demi aku...”
Beberapa
detik kemudian, Sanghyun dan Eunhye sudah menghilang dari hadapan Sehun dan
Kris. Sehun terus saja menangis, berusaha mengikhlaskan Eunhye.
“Ini
keputusan yang tepat. Kau telah menyelesaikan tugasmu sebagai pelindung dengan
baik.”
“Ne.
Arratta... Kata-kata terakhirnya padaku... membuatku lega.” Ucap Sehun dengan
suara sumbang sambil menyeka air matanya.
***
Beberapa
bulan setelah petualangan batin tak terlupakannya bersama Kris dan Sehun,
Eunhye sudah menjalani kehidupannya seperti biasa. Hari-harinya kini dipenuhi
rasa syukur yang besar pada Tuhan karena telah menganugerahkan hidup yang luar
biasa baginya.
Dia
kini memiliki Sanghyun yang selalu setia mendampinginya, bersedia mendengarkan
keluhan dan menerima semua kekurangannya.
“Ya!
Pagi-pagi kau sudah melamun!” seru Sanghyun, lalu duduk di sebelah Eunhye yang
sedang duduk di salah satu sudut kantin kampus. “Apa kau sedang bersedih karena
memikirkan Sehun? apa kau merasa kecewa karena tak ada lagi malaikat pelindung
yang mengawasimu?”
“Aniya...
aku hanya sedang merenung dan bersyukur atas apa yang Tuhan berikan untukku
selama ini. Bagiku, kau adalah malaikat pelindung yang dikirimkan Tuhan
untukku. Kau tahu? Aku bahagia sekali saat bertemu denganmu. Aku janji, aku
akan menerimamu apa adanya tanpa membandingkanmu dengan Sehun. percayalah
padaku...” Eunhye mengecup pipi kanan Sanghyun lembut, lalu berbisik “Saranghae...”
“Kau
ini...” ujar Sanghyun, lalu membalas kecupan Eunhye dengan ciuman di bibir
yeoja itu, “Nado saranghae...” bisiknya.
“Aissh...
kalian ini selalu saja melakukan PDA!” seru sebuah suara yang tak asing, suara
Seonri.
“Kkk...ka...
kalian melihatnya? Kukira tak ada orang di kantin saat pagi buta seperti ini.” Ucap
Eunhye gelagapan dengan wajah memerah.
“Dasarrr...”
tambah Hara sambil bedecak, diikuti gelengan kepala Minji.
“Hahaha~
mian. Kami tidak bermaksud seperti itu.” Kata Sanghyun malu-malu.
“Aku berterimakasih pada-Mu, Tuhan atas
semua yang kau berikan padaku. Sebuah keluarga dan seorang namchi yang
mencintaiku serta sahabat-sahabatku yang menyayangiku dengan tulus. Kupikir,
tak ada yang lebih berharga dari mereka semua di dunia in. Aku hanya memiliki
satu permintaan pad-Mu. Tolonglah, rawat Sehun dengan baik di sana. Berikanlah dia
kebahagiaan yang abadi bersama-Mu. Dia sudah berbuat baik dan mengabdi pada-Mu
dengan tulus. Aku mohon... kabulkan permintaanku yang satu ini....”
***
Seorang
namja berpostur tinggi, berkulit putih dan halus duduk di sebuah taman di pusat
kota Seoul. Berulang kali dia melihat jam di pergelangan tangan kanannya. Meski
terlihat sedikit kepanasan karena paparan sinar matahari, senyuman tak pernah
hilang dari wajah tampannya.
“Sehun
Oppa!!” seru seorang yeoja mungil berparas ayu sambil berlari kecil menuju
namja bernama Sehu itu. “Maaf karena telah membuatmu menunggu lama.” Yeoja itu
terengah-engah.
“Duduklah
dan atur napasmu.” Jawab namja itu tenang sambil mempersilahkan yeojanya duduk
di sebelahnya.
“Ada
masalah apa hingga kau berlarian seperti itu?”
“Aku
sudah telat, karena itu aku harus ... cepat... sampai... di sini... hhhh...”
yeoja itu masih terengah-engah.
“Dasar,
Lee Eunhye... kau ini sama sekali tak bisa menghilangkan kebiasaan telatmu.” Sehun
bersiap menyentil kening Eunhye dengan jarinya, “Ini hukuman untukmu...”
“Apo!
Kau ini jahat sekali, Oppa!” rengek Eunhye sambil mengelus keningnya yang kini
memerah karena sentilan Sehun.
Sehun
tertawa puas melihat wajah lucu Eunhye.
“Manjokhae-----puas?”
tanya Eunhye, bibirnya kini mengerucut sebal.
“Eung~
geurom.” Jawab Sehun, tawanya masih saja belum berhenti.
“Kalau
bukan karena wajahmu yang tampan, aku pasti sudah...”
Cup... sebuah kecupan manis mendarap di pipi Eunhye. Eunhye pun
terdiam dengan wajah memerah, “Oppa! Kau ini selalu saja berhasil membuatku blushing.”
“Tapi
kau suka kan?”
“Tidak!
Siapa bilang aku suka?!” sanggah Eunhye, tapi wajahnya makin merah.
Sehun
tertawa semakin keras, senang sekali dia bisa mengoda Eunhye seperti itu.
***
Oh
Sehun dan Lee Eunhye. Keduanya akhirnya dapat bersatu di kehidupan kedua mereka
setelah reinkarnasi. Ingin tahu apa yang terjadi pada Sehun setelah memetik
buah kehidupan?
Dia
memang tidak bertugas sebagai malaikat lagi, tapi Tuhan menjanjikan sesuatu
yang besar untuknya. Ya, reinkarnasi. Beratus-ratus tahun setelah kehidupan
pertamanya, dia kembali dilahirkan sebagai Oh Sehun. Tidak hanya itu, Tuhan
juga menjanjikan bahwa Sehun akan hidup bersama Eunhye di kehidupan keduanya.
Kenapa
Tuhan melakukan itu? Tuhan mengerti dan tahu seberapa besar cinta dan
pengorbanan Sehun untuk Eunhye, karena itu Tuhan melakukan semua itu. Itu adalah
hadiah besar yang dijanjikan Tuhan untuk makhluknya yang bukan hanya hidup
untuk dirinya sendiri, melainkan hidup untuk Tuhan dan sesamanya.
***
AYO AYO RCL! YANG NEMU INI FF MESTI RCL! ARRA?? :D
DASI BWAYO, NE!! :*
*nebar duit Siwon ke readers*
0 komentar:
Posting Komentar