TITLE : Dandelion
PART TITLE : The Forgotten Memories
AUTHOR : Sonia aka. Han Minjee
GENRE : brothership, friendship, romance,
dll
CASTS : Yun Jina, Jo Twins, Jo Hyunmin
(Jo Twins’s real lilbro), and other casts
BEWARE OF : plot gaje, banyak typo, kata-kata yang
ambigu, bahasa yang campur aduk.
SBS (Song behind Story): BEAST
(Oasis), Suju (All My Heart), K-Will (My Heart is Beating), F.Cuz (Friend’s Graduation),
G.NA (Loving You), Jaejoong (I’ll Protect You), MBLAQ (U & I), B1A4 (Chu
Chu Chu), Teen Top (Angel), U-KISS (Love of a Friend), BB. BOYS (We Will be
Okay), Infinite (Voice of My Heart), IU (Good Day), Younha (Can’t Believe it.),
dll :p
SUMMARY :
“Dandelion,
bunga yang terlihat sangat lemah dan rapuh jika angin datang dan menerjangnya.
Tapi, dandelion tetap berusaha tegar dan kuat melawan terpaan angin yang setiap
saat akan mencabutnya dari tempatnya. Jika dandelion memang harus diterbangkan
oleh Sang angin, dandelion rela dan tidak akan bersedih. Karena dandelion
percaya angin tidak akan menyakitinya. Dandelion tidak pernah berhenti
berusaha. Dandelion percaya bahwa setelah dia terbang melintasi jagad raya,
meniti kehidupan yang penuh kesulitan, suatu hari nanti dia akan tumbuh di
tempat baru dan akan menemukan kebahagiaannya.”
HAPPY READING…. ^^
Jina merasakan lembaran-lembaran kelopak sakura berjatuhan dengan anggun di sekitarnya. Gadis cantik
itu duduk di depan rumahnya sambil memandangi langit senja yang kemerahan. Air
mata mulai meleleh di kedua pipinya.
Sudah 8 tahun Jina tinggal bersama nenek dan kakeknya sejak
orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat Jina masih berumur 10 tahun.
Namun, beberapa hari lalu kakeknya meninggal karena sakit keras. Karena nenek
Jina merasa tidak bisa lagi membiayai hidupnya dan Jina, Nenek Jina pun
menerima bantuan sahabat Appa Jina yang bersedia menampung dan membiayai hidup
Jina. Nenek Jina tidak tega melihat cucunya menderita dan hidup serba
kekurangan seperti ini.
Jina terus melamun dan menangis di bawah pohon sakura itu.Hari
itu adalah hari terakhirnya untuk tinggal bersama neneknya. besok dia harus
pindah ke Seoul dan tinggal bersama keluarga sahabat Appa-nya itu. Terlalu
berat bagi Jina untuk meninggalkan neneknya sendirian di desa terpencil seperti
ini.
Pada awalnya Jina menolak tawaran itu, tapi setelah dia
memikirkannya lagi, dia mau menerimanya karena dia tidak mau menambah beban
neneknya.
“Jina-ya~ sedang apa kau di situ? Masuklah, hari sudah mulai
gelap.” Teriak seorang wanita tua dari teras rumahnya.
Jina tersenyum kecil, menghapus air matanya lalu segera
berjalan menuju wanita tua itu.
“kau harus menyiapkan semua barang yang perlu kau bawa.
Besok kau akan dijemput.”
“ne, halmoni. Arasseumnida~” ucap Jina dengan nada berat dan
sedih. Dia mencoba tersenyum.
“Jina-ya, jangan bersedih, Nenek jadi ikut sedih. Nenek
melakukan semua ini demi kebaikanmu. Nenek ingin kau merasakan indah dan
nikmatnya hidup ini. Nenek tidak mau melihatmu selalu bekerja keras untuk
membantu menghidupi nenek. Nenek ingin kau hidup dengan lebih bahagia dan menjalani
kehidupan seperti orang lain. Berjanjilah pada nenek untuk selalu hidup dengan
senyuman. Ne?”
Jina menangis dan langsung memeluk neneknya dengan erat,
“Ne~ Jina janji kalau Jina akan selalu tersenyum dalam menghadapi semua masalah.”
Jina menyeka air matanya,”baiklah, sekarang Jina mau menyiapkan semua barang
yang perlu Jina bawa dulu…”
Nenek Jina hanya bisa menatap punggung cucunya itu dengan
nanar dan penuh rasa bersalah. Tiba-tiba Nenek Jina memanggil Jina kembali,
“Ada sesuatu yang ingin Nenek perlihatkan padamu. Ayo, ikut Nenek ke halaman
belakang…”
Jina mengekor langkah Neneknya, dia sedikit penasaran dengan
apa yang akan diperlihatkan Nenek padanya.
Nenek Jina memetik sebatang bunga dandelion di pekarangan,
lalu menunjukkannya pada Jina.
Jina mengerutkan keningnya, “Bunga Dandelion?”
“Kau pasti bertanya-tanya apa maksud Nenek memperlihatkan
ini.”
Nenek menghampiri Jina dan menepuk pundak cucu satu-satunya
itu, lalu meniup bunga Dandelion yang dipegangnya.“Dandelion, bunga yang
terlihat sangat lemah dan rapuh jika angin datang dan menerjangnya. Tapi,
dandelion tetap berusaha tegar dan kuat melawan terpaan angin yang setiap saat
akan mencabutnya dari tempatnya. Jika dandelion memang harus diterbangkan oleh
Sang angin, dandelion rela dan tidak akan bersedih. Karena dandelion percaya angin
tidak akan menyakitinya. Dandelion tidak pernah berhenti berusaha. Dandelion
percaya bahwa setelah dia terbang melintasi jagad raya, meniti kehidupan yang
penuh kesulitan, suatu hari nanti dia akan tumbuh di tempat baru dan akan
menemukan kebahagiaannya.”
Nenek menatap Jina dalam-dalam, “Maksud Nenek menunjukkan
bunga ini padamu adalah agar kau bisa hidup seperti bunga ini. Tetaplah
optimis, walaupun hidupmu sulit. Nenek hanya bisa membekalimu dengan
nasehat-nasehat Nenek, Nenek harap kau bisa hidup bahagia di tempat barumu
nanti.”
Jina hanya diam mendengar kata-kata neneknya, dia pun segera
memeluk neneknya itu. “Ne, halmoni. Jina akan berusaha untuk hidup seperti
bunga dandelion…”
%%%
Hidup
seperti Dandelion. Itulah prinsip Jina sekarang ini.
Jina melangkahkan kakinya menuju gerbang sebuah
rumah bergaya Eropa yang menurutnya cukup besar.
Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya saat
melihat betapa indah dan mewahnya arsitektur rumah itu. Jina memasuki halaman
rumah itu dan langsung disambut oleh seorang pelayan perempuan yang sepertinya
masih seumuran dengan Jina. Dengan gugup, Jina memasuki rumah itu dan bersiap
bertemu dengan si Tuan rumah.
“Agassi, silahkan ikut saya. Saya akan mengantar
anda ke kamar yang telah disiapkan untuk anda. ” kata orang itu pada Jina yang
masih terkagum-kagum dengan rumah yang dimasukinya.
“ne~ ^^”
Jina tersenyum, “Apa pemilik rumah ini sedang ada di rumah? Aku ingin bertemu
dengan mereka.”
“anieyo. Tuan muda belum pulang, mereka sedang keluar.”
“Tuan muda? O.o”
“Ne… yang tinggal di rumah ini adalah anak-anak
Jo sajangnim. Sajangnim sendiri sudah 3 tahun tinggal di Verona.”
“jadi aku akan tinggal bersama dengan anak-anak
Jo Sajangnim?”
“Ne, Agassi.”
“Ya! Jangan panggil aku Agassi. Panggil saja
dengan namaku. Aku tidak nyaman dengan panggilan itu.”
“Tapi, Agassi…”
“Panggil aku Jina ;)”
“Baiklah, Jina-ya” kata pelayan itu dengan
kikuk.
“Lalu, siapa namamu?”
“Joneun Sin Neulki imnida.”
“bangapseumnida, Neulki-ya.”
Neulki hanya tersenyum, lalu menunjuk sebuah
ruangan, “a~Kita sudah sampai. Ini kamar yang sudah disiapkan untuk anda.”
“gomawo, Neulki-ya.”
Neulki tersenyum sambil membungkukkan badannya
dan berlalu dari hadapan Jina.
Jina memandangi seisi kamar itu dengan takjub.
“Wow! Seperti kamar seorang putri!”
Jina melihat bayangan dirinya di kaca, “tapi…
penampilanku benar-benar seperti gelandangan. Tidak pantas menempati kamar
seperti ini…”
%%%
Tok… tok… tok… terdengar pintu kamarnya diketuk,
“doryeonnim sudah pulang.” Seru Neulki dari balik pintu.
“ne~ aku akan keluar sebentar lagi.”
Jina keluar dari kamarnya dan berjalan menuju
ruang keluarga. Dia merasa gugup sekarang. Dia merasa tidak pantas mendapat
perlakuan spesial seperti ini.
“a~ Jina-ya, lama tidak bertemu. Aku rindu sekali
padamu.” Ucap seorang namja dengan senyuman lebar. Namja itu pun segera menghampiri
Jina dan memeluknya.
“neo…nu… nuguseyo?” Tanya Jina tergagap karena
memperoleh perlakuan seperti itu.
“ya! Kau melupakanku?! Jahatnya…”
Jina menatap wajah namja itu lekat-lekat. “kau…
?”
Namja itu mencubit pipi Jina dengan gemas, “aku
Kwangmin, Jina-ya… =__=”
“Kk…Kwangmin??” Jina melihat wajah namja di
hadapannya itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa rindu.
“mianhae...” Jina menunduk “Maklum, sudah hampir
10 tahun kita tidak bertemu. Kau kelihatan berbeda sekali sekarang…” Jina balas
memeluk Kwangmin, “kau tau? Aku sangat merindukanmu.”
“Nado…” jawab Kwangmin lembut.
Jina melepaskan pelukannya, air mata bahagia
mengalir di kedua pipinya.
“kenapa kau menangis?” Kwangmin segera menghapus
air mata Jina dengan ibu jarinya. “Uljimayo~”
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan
bagi Jina, karena dia telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Ya, dari
dulu sampai sekarang Jina masih menyukai Kwangmin. Jina tidak menyangka akan
tinggal serumah dengan pujaan hatinya itu.
Jina mengalihkan pandangannya pada anak
berseragam SD yang sedang duduk di sofa yang sedari tadi tidak di perhatikannya.
“lalu, itu siapa? Aku belum pernah bertemu.”
“dia Jo Hyunmin, namdongsaeng-ku. Dia baru kelas
4 SD.”
“Annyeong, Nuna~” sapa anak kecil itu. Matanya
terlihat berbinar karena senang.
“Annyeong, Hyunmin-a…” Jina duduk berjongkok di
depan Hyunmin lalu mengelus kepala anak itu, “kau kelihatan senang sekali ya?
^^”
“O, geuromyo. Sudah lama aku menunggu kedatangan
Nuna. Hehe…”
Di saat yang sama, seorang namja yang berwajah identik dengan Kwangmin
memasuki ruang keluarga dan berjalan lurus tanpa peduli dengan apa yang
terjadi.
“Youngmin Hyung!” seru Hyunmin, menghentikan
langkah namja itu.
“mwo?” ujar Youngmin singkat, lalu mengedarkan
pandangannya di ruangan itu. Pandangan Youngmin berhenti di satu titik, “mwoya
geugeon?” tanyanya saat melihat Jina berdiri di belakang Kwangmin.
“eo? Dia Jina, teman kecil kita dulu. Mulai hari
ini dia akan tinggal bersama kita. Ini menyenangkan kan?” jawab Kwangmin penuh
antusias.
“ne! ini menyenangkan! aku ingin sekali mempunyai
Nuna.” Sambar Hyunmin tanpa melihat ekspresi wajah Youngmin yang sudah merasa
tidak suka akan kehadiran Jina.
“gomawo, Kwangmin-a, Youngmin-a, Hyunmin-a…. ^^”
balas Jina sambil tersenyum lebar. Tapi senyumnya langsung lenyap saat melihat
wajah Youngmin.
“jangan sok akrab denganku.” Seru Youngmin
tegas.
“tapi, Youngmin-a… dulu kan kita…” kata Jina heran.
“kau ini siapa? Aku tidak mengenalmu! Dan lagi,
kau itu hanya menumpang di sini, jadi jangan panggil aku seperti itu!!” Youngmin
memotong kata-kata Jina .
Jina tertunduk lesu, “jadi kau benar-benar tidak
ingat pada ku?”
Youngmin menatap Jina dari atas sampai bawah,
“yeoja dekil ini akan tinggal bersama kita? Yang benar saja?!” kata Youngmin
tajam dengan tatapan super dingin ke arah tiga orang di hadapannya, lalu pergi
menuju kamarnya.
Kwangmin, Hyunmin dan
Jina langsung terdiam, sedikit takut dengan sentakan Youngmin.
“Jina-ya, kata-kata Youngmin tadi jangan di
masukkan dalam hati ya? Dia memang seperti itu.”
“ye, aratta.” Kata Jina sambil mencoba
tersenyum.
%%%
“ah… kira-kira apa yang sedang dilakukan Halmoni
di desa ya? Aku khawatir terjadi apa-apa… :( ”
Gumam Jina sambil berbaring di kasur empuknya
dan menatap langit-lagit kamarnya.
Jina kemudian bangkit dari posisinya dan
mengeluarkan dua buah frame foto dari tasnya. Satu frame berisi fotonya dan
ayah ibunya, sedangkan yang satu lagi berisi foto punggung seorang anak kecil.
Jina mengambil foto punggung anak kecil itu dan melihat tulisan di baliknya, ‘Punggung Kwangmin saat dia menggendongku
pulang. Kwangmin adalah pangeran penyelamatku…’
Jina tersenyum saat membaca tulisannya waktu SD
dulu. “ne. kwangmin adalah Pangeran penyelamatku…”
Kruyuk…kruyuk…
Jina langsung memegang perutnya. “aku baru
sadar kalau sejak tadi siang aku belum makan apa-apa. ”
Jina melangkahkan
kakinya keluar kamar, saat berjalan menuju lantai bawah, dia berpapasan dengan
Youngmin. Youngmin menatap Jina dengan lekat, Jina menjadi salah tingkah
sendiri.
“wae? Kenapa kau
melihatku seperti itu?”
Youngmin hanya tersenyum
sinis, lalu masuk ke kamarnya.
“Ya! Youngmin-a!” panggil
Jina, tapi namja itu sama sekali tidak menggubrisnya. “ada apa dengan Youngmin
ya? Kenapa dia jadi begitu dingin? Ah~ molla.”
Jina masuk ke ruang
makan dan disambut ramah oleh Kwangmin dan Hyunmin. Dua bersaudara itu sungguh
berbeda dengan Youngmin yang sekarang, mereka begitu ramah dan ceria. Sedangkan
Youngmin, sekarang namja itu begitu dingin dan kelihatan emosional. Jina pun
tak habis pikir, kenapa sahabat kecilnya itu bisa melupakannya. Padahal dulu
mereka selalu bermain bersama karena rumah mereka berdekatan.
“Kwangmin-a, ada yang
ingin kutanyakan padamu.” Ujar Jina dengan mulut penuh makanan.
“ne? Tanya tentang apa?”
“tentang Youngmin.” Jina
meminum segelas air putih di depannya , “kenapa dia bisa melupakanku? Padahal
kan dulu kita bertiga bersahabat.”
“tentang itu…” Kwangmin
terlihat sedikit berpikir, “dia kehilangan ingatan masa kecilnya. Memori yang
dimilikinya saat dan sebelum berumur 12 tahun hampir semuanya menghilang.”
“kehilangan ingatan masa
kecil?”
“ne, waktu dia berumur
12 tahun, dia mengalami amnesia karena trauma dan shock berat.”
Jina hanya mengangguk
kecil mendengar jawaban Kwangmin. Sebenarnya dia sangat terkejut mendengar
jawaban Kwangmin dan penasaran akan kejadian yang membuat Youngmin trauma dan
menjadi seperti itu. Tapi dia pikir tidak baik menanyakan hal seperti itu saat
ini.
“hyung~! Kau tidak
pernah bercerita tentang ini padaku!” protes Hyunmin yang ternyata dari tadi
ikut mendengarkan.
“pssst~ anak kecil tidak
boleh tau.” Kwangmin meleletkan lidahnya.
Jina tertawa melihat
tingkah Hyunmin dan Kwangmin yang akhirnya malah saling ledek.
“Neulki-ya~ kau siapkan
makan malam untuk Youngmin ya, sekalian antarkan ke kamarnya.” Kata Kwangmin
setelah selesai dengan makan malamnya.
“ne~ doryeonnim…”
“Neulki-ya~ biar aku
saja yang mengantar ke kamar Youngmin.”
Neulki mengangguk.
“wae, Nuna ?” Tanya
Hyunmin heran.
“Hyung-mu yang satu itu
selalu bersikap dingin padaku, tapi aku harus tetap bersikap baik padanya.”
“Wah~ Nuna benar.
Lama-lama Hyung pasti merubah sikapnya. Baiklah, Nuna, HWAITING~!”
%%%
Tok…
tok… tok…
Jina
mengetuk pintu kamar Youngmin dengan pelan
“Nuguseyo?”
seru Youngmin dari dalam sana.
“Naya-----Ini
aku~” jawab Jina, lalu membuka pintu kamar Youngmin dan masuk.
“ya!
Siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamarku, hah?” semprot Youngmin kasar.
“Aku
kan hanya ingin mengantar makan malammu. Ini.” Jina menyodorkan makan malam
Youngmin, tapi namja itu hanya menatap dingin padanya.
“taruh
saja di meja itu.” Ujar Youngmin singkat lalu kembali fokus membersihkan lensa
kamera DSLR-nya.
“apa
yang kau pegang itu? Kameramu ya?
“menurutmu?”
“itu
milikmu.”.
“kalau
kau sudah tau, kenapa harus bertanya lagi?” jawab Youngmin ketus.
Bukan
Jina namanya kalau menyerah begitu saja dengan perlakuan seperti itu. Dia terus
saja bicara tanpa peduli wajah Youngmin yang berubah menjadi semakin seram.
“Kau
suka fotografi? Aku juga suka dengan fotografi.” Jina menghela napas sejenak,
“tapi sayang aku tidak bisa mengembangkan bakatku karena aku tidak punya kamera
seperti yang kaumiliki itu. Aku hanya punya kamera digital peninggalan Appa.”
“kalau
urusanmu sudah selesai, keluarlah. Aku tidak suka ada orang asing di kamarku.”
“Youngmin benar-benar sudah berubah…” desah
Jina dalam hati.
“geuraeyo.
Aku akan keluar. Selamat menikmati makan malammu~” Jina tersenyum terpaksa,
lalu keluar dengan perasaan sedih.
%%%
Sudah
seminggu sejak Jina pindah ke Seoul. Setiap hari Jina harus menghadapi
perlakuan dingin Youngmin padanya. Walau sedih, Jina tidak terlalu peduli
tentang itu, yang dia pikirkan dan dia utamakan adalah Kwangmin. Setiap malam
Jina tidak lupa mengantar susu cokelat untuk Kwangmin sebelum namja itu tidur.
Jina berusaha menunjukkan perhatiannya kepada Kwangmin, sampai-sampai Hyunmin
merasa iri dengan perlakuan khusus itu.
“Nuna~~
kenapa hanya Kwangmin Hyung yang dibuatkan susu sebelum tidur? Aku kan juga
mau…” protes Hyunmin dengan nada manja.
Jina
tersenyum kecil, “kau juga mau? Baiklah, akan kubuatkan juga untukmu.” Jina
mengacak-acak rambut Hyunmin, gemas dengan wajah lucu anak itu.
Sedangkan
Kwangmin, tentu saja namja itu sangat senang dengan perhatian Jina.
Suatu
pagi, diam-diam Jina mengambil foto Kwangmin yang baru saja selesai berenang.
“A~
jadi Ini yang kau sebut dengan hobi fotografi?” kata seseorang dari balik
punggung Jina.
Jina
berbalik dan tersentak melihat siapa yang baru saja memergokinya, “Yo…
youngmin? Apa yang kau lakukan di sini?”
Jina menyeringai, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“harusnya
aku yang bertanya seperti itu padamu…” Youngmin mendesah , “kau menyukai
Kwangmin?”
‘DEG!’ Jina
mendadak salah tingkah mendengar pertanyaan Youngmin yang sangat tepat dengan
keadaannya saat itu.
“ani…
joltae andwae-----tentu saja tidak.”
“haaa~”
Youngmin kembali mendesah.
“kenapa
kau mendesah seperti itu?”
“sadarlah,
kau ini YEOJA KAMPUNG NAN DEKIL. Penampilanmu juga sama sekali tidak menarik,
jadi jangan berharap Kwangmin akan memandangmu.”
“musun
soriya?” ujar Jina, kesabarannya sedikit berkurang sekarang.
“kalau
kau ingin Kwangmin memandangmu, hal pertama yang harus kau lakukan adalah
mengubah penampilanmu. Kau tau? Besok kau sudah mulai berangkat kuliah,
penampilanmu itu sangat tidak sesuai untuk ukuran seorang mahasiswa. Kwangmin
pun pasti akan berpikir seperti itu. Apa kau tidak malu dengan pakaianmu yang
seperti gelandangan itu? ” Youngmin begidik melihat pakaian yang menempel di
tubuh Jina.
“mengubah
penampilanku?”
“aissh~
selain dekil dan kampungan, ternyata kau juga bodoh.” Untuk ketiga kalinya,
Youngmin mendesah, “begini, kalau penampilanmu menarik, Kwangmin akan
memandangmu.”
“tapi…
bagaimana caranya?”
“na
ddarawa-----ikuti aku.”
%%%
Youngmin
dan Jina sampai di sebuah mall besar di Seoul. Jina hanya menganga melihat
betapa ramai, besar dan mewahnya mall itu.
“ya!
Ppalli! Kenapa hanya diam di situ? Ayo masuk!” seru Youngmin sesampainya di
sebuah salon.
“wow!
Tempat apa ini?” seru Jina dengan wajah terkagum-kagum.
“ini
salon, bodoh. Bagaimana kau bisa tidak tau? Satu lagi. Jangan perlihatkan sikap
kampunganmu di sini. Arasseo?? =.=”
“lalu,
apa yang akan kau lakukan di sini?”
Youngmin
menarik sudut kanan bibirnya, menyeringai.“sudah kuputuskan. Aku akan mengubah
bentukmu!”
Jina
merasa ngeri melihat seringaian Youngmin, “mworago?!”
Tiba-tiba
seorang yeoja datang menghampiri mereka berdua. “Youngmin-a! sudah lama sekali
kau tidak berkunjung.” Yeoja berambut panjang dan cantik itu pun mengarahkan
pandangannya pada Jina, “lalu, siapa dia?”
“ah,
kau bisa langsung bertanya padanya. Sekarang aku minta bantuanmu untuk mengubah
penampilan yeoja dekil ini.”
“OK.
Serahkan saja padaku ;)” sahut Yubin sambil mengerling.
“ikuti
apa yang Yubin katakan. Aku akan menunggu di sini.” Youngmin mengibaskan
tangannya, menyuruh Jina segera pergi.
“Siapa
namamu?” Tanya Yubin sambil memotong rambut Jina.
“Oh~
aku Yun Jina. Senang bisa bertemu denganmu, Yubin-a…”
Mendengar
nama ‘Yun Jina’, Yubin langsung berhenti memotong rambut Jina.
“Yubin-sshi,
gwaenchannayo?”
“ye,
ye, na gwaenchanna. Jadi kau yang bernama Jina? Aku tidak mengira akan bertemu
denganmu secara langsung.” Kata Yubin dengan wajah waspada dan sedikit
khawatir.
“mwo?”
Tanya Jina dengan wajah bingung.
“dwaesseo-----lupakan.
Aku hanya kaget.” Yubin menghela napas panjang, “lalu, bagaimana kau bisa
mengenal Youngmin?” Tanya Yubin pura-pura tidak tau.
“sebenarnya
aku, Kwangmin dan Youngmin adalah sahabat kecil. Orang tua mereka akan membiayai
kuliahku dan memintaku untuk tinggal bersama mereka.”
“a…
arrasseo~”
“Yubin-sshi,
apa kau mau menjadi teman pertamaku di Seoul? Aku sangat ingin memiliki teman
perempuan di sini. Selama seminggu aku tinggal di Seoul, yang aku kenal hanya
Kwangmin, Youngmin dan Hyunmin. Aku sedikit kesepian.”
“ah,
geuromyo. Jadilah temanku, kalau kau membutuhkan sesuatu kau bisa meminta
bantuanku kok.”
“a~~
sinna-----ah, ini menyenangkan! Gomawo ^^”
Yubin
hanya tersenyum simpul melihat JiNa yang terlihat sangat gembira itu.
%%%
Hampir
dua jam lebih Youngmin menunggu Jina selesai dengan semua perawatan salon,
namja itu pun sudah tertidur karena bosan menunggu. Selesai melakukan semua
perawatan itu, Jina berusaha membangunkan Youngmin yang kelihatan tertidur sangat
pulas.
“Youngmin-a,
ireona… aku sudah selesai.”
“ya!
Kau lama sekali?! Aku hampir saja mati karena bosan!”
“mianhae…”
jina menunduk karena merasa bersalah, tapi sedetik kemudian, yeoja itu kembali
dipenuhi semangat, “bagaimana hasilnya? Yubin juga meminjamkan baju dan
sepatunya untukku. Jjang ijji----keren kan?”
“Lumayan.
Kajja-----ayo pergi.” Jawab Youngmin singkat.
Jina
sedikit kecewa dengan tanggapan Youngmin, “kita pulang?”
“akan
kubelikan baju dan sepatu juga untukmu. Aku tidak ingin menanggung malu kalau
kau besok ke kampus dengan pakaian seperti tadi.”
Youngmin
membelikan setumpuk pakaian dan sepatu, setelah itu mereka pulang ke rumah.
Sampai di rumah, Kwangmin dan Youngmin langsung menyambut mereka dengan tatapan
kagum.
“wah~!
Nuna cantik sekali~” kata Hyunmin saat Jina memasuki rumah.
“oh,
nae yeosinnim-----oh, dewiku!” seru Kwangmin dengan maksud bercanda, “kau
cantik Jina-ya.”
Wajah
Jina langsung bersemu merah mendengar pujian Kwangmin.
“jangan
terlalu memujinya. Kepalanya bisa membesar.”
“ya!”
seru Jina kesal.
“kau
berani membentakku?! Kau bahkan belum berterima kasih padaku untuk semua ini!”
Jina
membungkukkan badannya, “mianhaeyo. Kamsahamnida….”
Youngmin
berjalan menuju ke kamarnya.
“Jina-ya,
sepertinya Youngmin sudah sedikit melunak padamu.” Kata Kwangmin setelah
Hyunmin dan Youngmin pergi.
“aku
rasa sikapnya sama saja dengan sebelumnya. Kata-katanya juga masih kasar
terhadapku.”
“haha~
tapi itulah Youngmin yang sekarng. Kau harus mengerti dia. Ara?”
“ye.”
“mmm…
aku meminta maaf atas nama Youngmin. Sejak peristiwa itu, sifatnya menjadi
dingin.”
“sebenarnya
peristiwa apa yang membuat Youngmin trauma seperti itu? Bisakah kau
menceritakannya padaku?”
“masalah
itu… kapan-kapan akan aku ceritakan. Sekarang sebaiknya kau makan lalu
istirahat. Dari pagi sampai sore kau pergi dengan Youngmin, pasti kau sangat
lelah.” Kwangmin berjalan ke arah ruang TV, lalu menjentikkan jarinya dan
berbalik menghadap Jina,”Oh, iya, besok kita mulai kuliah. Jadi kau harus
bangun pagi-pagi, OK?”
“ne,
arra…”
Jina
melangkah menuju ruang makan dengan tanda tanya besar bersarang di otaknya,
“Peristiwa…? Peristiwa apa yang membuat Youngmin begitu berubah? Peristiwa
macam apa yang bisa mengubah kepribadian seseorang yang ceria menjadi emosional
seperti itu? ”
%%%
0 komentar:
Posting Komentar