Kamis, 14 Juni 2012

[FF Jo Twins] DANDELION PART 1

Diposting oleh hunhanbuin di 02.03

TITLE                                      : Dandelion
PART TITLE                          : The Forgotten Memories
AUTHOR                               : Sonia aka. Han Minjee
GENRE                                  : brothership, friendship, romance, dll
CASTS                                   : Yun Jina, Jo Twins, Jo Hyunmin (Jo Twins’s real lilbro), and other casts
BEWARE OF                        : plot gaje, banyak typo, kata-kata yang ambigu, bahasa yang campur aduk.
SBS (Song behind Story):  BEAST (Oasis), Suju (All My Heart), K-Will (My Heart is Beating), F.Cuz (Friend’s Graduation), G.NA (Loving You), Jaejoong (I’ll Protect You), MBLAQ (U & I), B1A4 (Chu Chu Chu), Teen Top (Angel), U-KISS (Love of a Friend), BB. BOYS (We Will be Okay), Infinite (Voice of My Heart), IU (Good Day), Younha (Can’t Believe it.), dll :p

SUMMARY                                  : “Dandelion, bunga yang terlihat sangat lemah dan rapuh jika angin datang dan menerjangnya. Tapi, dandelion tetap berusaha tegar dan kuat melawan terpaan angin yang setiap saat akan mencabutnya dari tempatnya. Jika dandelion memang harus diterbangkan oleh Sang angin, dandelion rela dan tidak akan bersedih. Karena dandelion percaya angin tidak akan menyakitinya. Dandelion tidak pernah berhenti berusaha. Dandelion percaya bahwa setelah dia terbang melintasi jagad raya, meniti kehidupan yang penuh kesulitan, suatu hari nanti dia akan tumbuh di tempat baru dan akan menemukan kebahagiaannya.”





HAPPY READING…. ^^





Jina merasakan lembaran-lembaran kelopak sakura berjatuhan dengan anggun di sekitarnya. Gadis cantik itu duduk di depan rumahnya sambil memandangi langit senja yang kemerahan. Air mata mulai meleleh di kedua pipinya.
Sudah 8 tahun Jina tinggal bersama nenek dan kakeknya sejak orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat Jina masih berumur 10 tahun. Namun, beberapa hari lalu kakeknya meninggal karena sakit keras. Karena nenek Jina merasa tidak bisa lagi membiayai hidupnya dan Jina, Nenek Jina pun menerima bantuan sahabat Appa Jina yang bersedia menampung dan membiayai hidup Jina. Nenek Jina tidak tega melihat cucunya menderita dan hidup serba kekurangan seperti ini.

Jina terus melamun dan menangis di bawah pohon sakura itu.Hari itu adalah hari terakhirnya untuk tinggal bersama neneknya. besok dia harus pindah ke Seoul dan tinggal bersama keluarga sahabat Appa-nya itu. Terlalu berat bagi Jina untuk meninggalkan neneknya sendirian di desa terpencil seperti ini.
Pada awalnya Jina menolak tawaran itu, tapi setelah dia memikirkannya lagi, dia mau menerimanya karena dia tidak mau menambah beban neneknya.

“Jina-ya~ sedang apa kau di situ? Masuklah, hari sudah mulai gelap.” Teriak seorang wanita tua dari teras rumahnya.
Jina tersenyum kecil, menghapus air matanya lalu segera berjalan menuju wanita tua itu.
“kau harus menyiapkan semua barang yang perlu kau bawa. Besok kau akan dijemput.”
“ne, halmoni. Arasseumnida~” ucap Jina dengan nada berat dan sedih. Dia mencoba tersenyum.
“Jina-ya, jangan bersedih, Nenek jadi ikut sedih. Nenek melakukan semua ini demi kebaikanmu. Nenek ingin kau merasakan indah dan nikmatnya hidup ini. Nenek tidak mau melihatmu selalu bekerja keras untuk membantu menghidupi nenek. Nenek ingin kau hidup dengan lebih bahagia dan menjalani kehidupan seperti orang lain. Berjanjilah pada nenek untuk selalu hidup dengan senyuman. Ne?”
Jina menangis dan langsung memeluk neneknya dengan erat, “Ne~ Jina janji kalau Jina akan selalu tersenyum dalam menghadapi semua masalah.” Jina menyeka air matanya,”baiklah, sekarang Jina mau menyiapkan semua barang yang perlu Jina bawa dulu…”
Nenek Jina hanya bisa menatap punggung cucunya itu dengan nanar dan penuh rasa bersalah. Tiba-tiba Nenek Jina memanggil Jina kembali, “Ada sesuatu yang ingin Nenek perlihatkan padamu. Ayo, ikut Nenek ke halaman belakang…”
Jina mengekor langkah Neneknya, dia sedikit penasaran dengan apa yang akan diperlihatkan Nenek padanya.
Nenek Jina memetik sebatang bunga dandelion di pekarangan, lalu menunjukkannya pada Jina.
Jina mengerutkan keningnya, “Bunga Dandelion?”
“Kau pasti bertanya-tanya apa maksud Nenek memperlihatkan ini.”
Nenek menghampiri Jina dan menepuk pundak cucu satu-satunya itu, lalu meniup bunga Dandelion yang dipegangnya.“Dandelion, bunga yang terlihat sangat lemah dan rapuh jika angin datang dan menerjangnya. Tapi, dandelion tetap berusaha tegar dan kuat melawan terpaan angin yang setiap saat akan mencabutnya dari tempatnya. Jika dandelion memang harus diterbangkan oleh Sang angin, dandelion rela dan tidak akan bersedih. Karena dandelion percaya angin tidak akan menyakitinya. Dandelion tidak pernah berhenti berusaha. Dandelion percaya bahwa setelah dia terbang melintasi jagad raya, meniti kehidupan yang penuh kesulitan, suatu hari nanti dia akan tumbuh di tempat baru dan akan menemukan kebahagiaannya.”
Nenek menatap Jina dalam-dalam, “Maksud Nenek menunjukkan bunga ini padamu adalah agar kau bisa hidup seperti bunga ini. Tetaplah optimis, walaupun hidupmu sulit. Nenek hanya bisa membekalimu dengan nasehat-nasehat Nenek, Nenek harap kau bisa hidup bahagia di tempat barumu nanti.”
Jina hanya diam mendengar kata-kata neneknya, dia pun segera memeluk neneknya itu. “Ne, halmoni. Jina akan berusaha untuk hidup seperti bunga dandelion…”


%%%

Hidup seperti Dandelion. Itulah prinsip Jina sekarang ini.

Jina melangkahkan kakinya menuju gerbang sebuah rumah bergaya Eropa yang menurutnya cukup besar.
Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya saat melihat betapa indah dan mewahnya arsitektur rumah itu. Jina memasuki halaman rumah itu dan langsung disambut oleh seorang pelayan perempuan yang sepertinya masih seumuran dengan Jina. Dengan gugup, Jina memasuki rumah itu dan bersiap bertemu dengan si Tuan rumah.
“Agassi, silahkan ikut saya. Saya akan mengantar anda ke kamar yang telah disiapkan untuk anda. ” kata orang itu pada Jina yang masih terkagum-kagum dengan rumah yang dimasukinya.
“ne~  ^^” Jina tersenyum, “Apa pemilik rumah ini sedang ada di rumah? Aku ingin bertemu dengan mereka.”
“anieyo. Tuan muda belum pulang, mereka sedang keluar.”
“Tuan muda? O.o”
“Ne… yang tinggal di rumah ini adalah anak-anak Jo sajangnim. Sajangnim sendiri sudah 3 tahun tinggal di Verona.”
“jadi aku akan tinggal bersama dengan anak-anak Jo Sajangnim?”
“Ne, Agassi.”
“Ya! Jangan panggil aku Agassi. Panggil saja dengan namaku. Aku tidak nyaman dengan panggilan itu.”
“Tapi, Agassi…”
“Panggil aku Jina ;)”
“Baiklah, Jina-ya” kata pelayan itu dengan kikuk.
“Lalu, siapa namamu?”
“Joneun Sin Neulki imnida.”
“bangapseumnida, Neulki-ya.”
Neulki hanya tersenyum, lalu menunjuk sebuah ruangan, “a~Kita sudah sampai. Ini kamar yang sudah disiapkan untuk anda.”
“gomawo, Neulki-ya.”
Neulki tersenyum sambil membungkukkan badannya dan berlalu dari hadapan Jina.

Jina memandangi seisi kamar itu dengan takjub. “Wow! Seperti kamar seorang putri!”
Jina melihat bayangan dirinya di kaca, “tapi… penampilanku benar-benar seperti gelandangan. Tidak pantas menempati kamar seperti ini…”

%%%

Tok… tok… tok… terdengar pintu kamarnya diketuk, “doryeonnim sudah pulang.” Seru Neulki dari balik pintu.
“ne~ aku akan keluar sebentar lagi.”
Jina keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang keluarga. Dia merasa gugup sekarang. Dia merasa tidak pantas mendapat perlakuan spesial seperti ini.

“a~ Jina-ya, lama tidak bertemu. Aku rindu sekali padamu.” Ucap seorang namja dengan senyuman lebar. Namja itu pun segera menghampiri Jina dan memeluknya.
“neo…nu… nuguseyo?” Tanya Jina tergagap karena memperoleh perlakuan seperti itu.
“ya! Kau melupakanku?! Jahatnya…”
Jina menatap wajah namja itu lekat-lekat. “kau… ?”
Namja itu mencubit pipi Jina dengan gemas, “aku Kwangmin, Jina-ya… =__=”
“Kk…Kwangmin??” Jina melihat wajah namja di hadapannya itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa rindu.
“mianhae...” Jina menunduk “Maklum, sudah hampir 10 tahun kita tidak bertemu. Kau kelihatan berbeda sekali sekarang…” Jina balas memeluk Kwangmin, “kau tau? Aku sangat merindukanmu.”
“Nado…” jawab Kwangmin lembut.
Jina melepaskan pelukannya, air mata bahagia mengalir di kedua pipinya.
“kenapa kau menangis?” Kwangmin segera menghapus air mata Jina dengan ibu jarinya. “Uljimayo~”

Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Jina, karena dia telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Ya, dari dulu sampai sekarang Jina masih menyukai Kwangmin. Jina tidak menyangka akan tinggal serumah dengan pujaan hatinya itu.

Jina mengalihkan pandangannya pada anak berseragam SD yang sedang duduk di sofa yang sedari tadi tidak di perhatikannya. “lalu, itu siapa? Aku belum pernah bertemu.”
“dia Jo Hyunmin, namdongsaeng-ku. Dia baru kelas 4 SD.”
“Annyeong, Nuna~” sapa anak kecil itu. Matanya terlihat berbinar karena senang.
“Annyeong, Hyunmin-a…” Jina duduk berjongkok di depan Hyunmin lalu mengelus kepala anak itu, “kau kelihatan senang sekali ya? ^^”
“O, geuromyo. Sudah lama aku menunggu kedatangan Nuna. Hehe…”
Di saat yang sama, seorang namja yang berwajah identik dengan Kwangmin memasuki ruang keluarga dan berjalan lurus tanpa peduli dengan apa yang terjadi.
“Youngmin Hyung!” seru Hyunmin, menghentikan langkah namja itu.
“mwo?” ujar Youngmin singkat, lalu mengedarkan pandangannya di ruangan itu. Pandangan Youngmin berhenti di satu titik, “mwoya geugeon?” tanyanya saat melihat Jina berdiri di belakang Kwangmin.
“eo? Dia Jina, teman kecil kita dulu. Mulai hari ini dia akan tinggal bersama kita. Ini menyenangkan kan?” jawab Kwangmin penuh antusias.
“ne! ini menyenangkan! aku ingin sekali mempunyai Nuna.” Sambar Hyunmin tanpa melihat ekspresi wajah Youngmin yang sudah merasa tidak suka akan kehadiran Jina.
“gomawo, Kwangmin-a, Youngmin-a, Hyunmin-a…. ^^” balas Jina sambil tersenyum lebar. Tapi senyumnya langsung lenyap saat melihat wajah Youngmin.
“jangan sok akrab denganku.” Seru Youngmin tegas.
“tapi, Youngmin-a… dulu kan  kita…” kata Jina heran.
“kau ini siapa? Aku tidak mengenalmu! Dan lagi, kau itu hanya menumpang di sini, jadi jangan panggil aku seperti itu!!” Youngmin memotong kata-kata Jina .
Jina tertunduk lesu, “jadi kau benar-benar tidak ingat pada ku?”
Youngmin menatap Jina dari atas sampai bawah, “yeoja dekil ini akan tinggal bersama kita? Yang benar saja?!” kata Youngmin tajam dengan tatapan super dingin ke arah tiga orang di hadapannya, lalu pergi menuju kamarnya.
Kwangmin, Hyunmin dan Jina langsung terdiam, sedikit takut dengan sentakan Youngmin.
“Jina-ya, kata-kata Youngmin tadi jangan di masukkan dalam hati ya? Dia memang seperti itu.”
“ye, aratta.” Kata Jina sambil mencoba tersenyum.

%%%

“ah… kira-kira apa yang sedang dilakukan Halmoni di desa ya? Aku khawatir terjadi apa-apa… :( ”
Gumam Jina sambil berbaring di kasur empuknya dan menatap langit-lagit kamarnya.
Jina kemudian bangkit dari posisinya dan mengeluarkan dua buah frame foto dari tasnya. Satu frame berisi fotonya dan ayah ibunya, sedangkan yang satu lagi berisi foto punggung seorang anak kecil. Jina mengambil foto punggung anak kecil itu dan melihat tulisan di baliknya, ‘Punggung Kwangmin saat dia menggendongku pulang. Kwangmin adalah pangeran penyelamatku…’
Jina tersenyum saat membaca tulisannya waktu SD dulu. “ne. kwangmin adalah Pangeran penyelamatku…”

Kruyuk…kruyuk… Jina langsung memegang perutnya. “aku baru sadar kalau sejak tadi siang aku belum makan apa-apa. ”
Jina melangkahkan kakinya keluar kamar, saat berjalan menuju lantai bawah, dia berpapasan dengan Youngmin. Youngmin menatap Jina dengan lekat, Jina menjadi salah tingkah sendiri.
“wae? Kenapa kau melihatku seperti itu?”
Youngmin hanya tersenyum sinis, lalu masuk ke kamarnya.
“Ya! Youngmin-a!” panggil Jina, tapi namja itu sama sekali tidak menggubrisnya. “ada apa dengan Youngmin ya? Kenapa dia jadi begitu dingin? Ah~ molla.”

Jina masuk ke ruang makan dan disambut ramah oleh Kwangmin dan Hyunmin. Dua bersaudara itu sungguh berbeda dengan Youngmin yang sekarang, mereka begitu ramah dan ceria. Sedangkan Youngmin, sekarang namja itu begitu dingin dan kelihatan emosional. Jina pun tak habis pikir, kenapa sahabat kecilnya itu bisa melupakannya. Padahal dulu mereka selalu bermain bersama karena rumah mereka berdekatan.

“Kwangmin-a, ada yang ingin kutanyakan padamu.” Ujar Jina dengan mulut penuh makanan.
“ne? Tanya tentang apa?”
“tentang Youngmin.” Jina meminum segelas air putih di depannya , “kenapa dia bisa melupakanku? Padahal kan dulu kita bertiga bersahabat.”
“tentang itu…” Kwangmin terlihat sedikit berpikir, “dia kehilangan ingatan masa kecilnya. Memori yang dimilikinya saat dan sebelum berumur 12 tahun hampir semuanya menghilang.”
“kehilangan ingatan masa kecil?”
“ne, waktu dia berumur 12 tahun, dia mengalami amnesia karena trauma dan shock berat.”
Jina hanya mengangguk kecil mendengar jawaban Kwangmin. Sebenarnya dia sangat terkejut mendengar jawaban Kwangmin dan penasaran akan kejadian yang membuat Youngmin trauma dan menjadi seperti itu. Tapi dia pikir tidak baik menanyakan hal seperti itu saat ini.

“hyung~! Kau tidak pernah bercerita tentang ini padaku!” protes Hyunmin yang ternyata dari tadi ikut mendengarkan.
“pssst~ anak kecil tidak boleh tau.” Kwangmin meleletkan lidahnya.
Jina tertawa melihat tingkah Hyunmin dan Kwangmin yang akhirnya malah saling ledek.

“Neulki-ya~ kau siapkan makan malam untuk Youngmin ya, sekalian antarkan ke kamarnya.” Kata Kwangmin setelah selesai dengan makan malamnya.
“ne~ doryeonnim…”
“Neulki-ya~ biar aku saja yang mengantar ke kamar Youngmin.”
Neulki mengangguk.
“wae, Nuna ?” Tanya Hyunmin heran.
“Hyung-mu yang satu itu selalu bersikap dingin padaku, tapi aku harus tetap bersikap baik padanya.”
“Wah~ Nuna benar. Lama-lama Hyung pasti merubah sikapnya. Baiklah, Nuna, HWAITING~!”

%%%

Tok… tok… tok…
Jina mengetuk pintu kamar Youngmin dengan pelan
“Nuguseyo?” seru Youngmin dari dalam sana.
“Naya-----Ini aku~” jawab Jina, lalu membuka pintu kamar Youngmin dan masuk.
“ya! Siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamarku, hah?” semprot Youngmin kasar.
“Aku kan hanya ingin mengantar makan malammu. Ini.” Jina menyodorkan makan malam Youngmin, tapi namja itu hanya menatap dingin padanya.
“taruh saja di meja itu.” Ujar Youngmin singkat lalu kembali fokus membersihkan lensa kamera DSLR-nya.
“apa yang kau pegang itu? Kameramu ya?
“menurutmu?”
“itu milikmu.”.
“kalau kau sudah tau, kenapa harus bertanya lagi?” jawab Youngmin ketus.
Bukan Jina namanya kalau menyerah begitu saja dengan perlakuan seperti itu. Dia terus saja bicara tanpa peduli wajah Youngmin yang berubah menjadi semakin seram.
“Kau suka fotografi? Aku juga suka dengan fotografi.” Jina menghela napas sejenak, “tapi sayang aku tidak bisa mengembangkan bakatku karena aku tidak punya kamera seperti yang kaumiliki itu. Aku hanya punya kamera digital peninggalan Appa.”
“kalau urusanmu sudah selesai, keluarlah. Aku tidak suka ada orang asing di kamarku.”
“Youngmin benar-benar sudah berubah…” desah Jina dalam hati.
“geuraeyo. Aku akan keluar. Selamat menikmati makan malammu~” Jina tersenyum terpaksa, lalu keluar dengan perasaan sedih.

%%%

Sudah seminggu sejak Jina pindah ke Seoul. Setiap hari Jina harus menghadapi perlakuan dingin Youngmin padanya. Walau sedih, Jina tidak terlalu peduli tentang itu, yang dia pikirkan dan dia utamakan adalah Kwangmin. Setiap malam Jina tidak lupa mengantar susu cokelat untuk Kwangmin sebelum namja itu tidur. Jina berusaha menunjukkan perhatiannya kepada Kwangmin, sampai-sampai Hyunmin merasa iri dengan perlakuan khusus itu.
“Nuna~~ kenapa hanya Kwangmin Hyung yang dibuatkan susu sebelum tidur? Aku kan juga mau…” protes Hyunmin dengan nada manja.
Jina tersenyum kecil, “kau juga mau? Baiklah, akan kubuatkan juga untukmu.” Jina mengacak-acak rambut Hyunmin, gemas dengan wajah lucu anak itu.
Sedangkan Kwangmin, tentu saja namja itu sangat senang dengan perhatian Jina.

Suatu pagi, diam-diam Jina mengambil foto Kwangmin yang baru saja selesai berenang.
“A~ jadi Ini yang kau sebut dengan hobi fotografi?” kata seseorang dari balik punggung Jina.
Jina berbalik dan tersentak melihat siapa yang baru saja memergokinya, “Yo… youngmin?  Apa yang kau lakukan di sini?” Jina menyeringai, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu…” Youngmin mendesah , “kau menyukai Kwangmin?”
‘DEG!’ Jina mendadak salah tingkah mendengar pertanyaan Youngmin yang sangat tepat dengan keadaannya saat itu.
“ani… joltae andwae-----tentu saja tidak.”
“haaa~” Youngmin kembali mendesah.
“kenapa kau mendesah seperti itu?”
“sadarlah, kau ini YEOJA KAMPUNG NAN DEKIL. Penampilanmu juga sama sekali tidak menarik, jadi jangan berharap Kwangmin akan memandangmu.”
“musun soriya?” ujar Jina, kesabarannya sedikit berkurang sekarang.
“kalau kau ingin Kwangmin memandangmu, hal pertama yang harus kau lakukan adalah mengubah penampilanmu. Kau tau? Besok kau sudah mulai berangkat kuliah, penampilanmu itu sangat tidak sesuai untuk ukuran seorang mahasiswa. Kwangmin pun pasti akan berpikir seperti itu. Apa kau tidak malu dengan pakaianmu yang seperti gelandangan itu? ” Youngmin begidik melihat pakaian yang menempel di tubuh Jina.
“mengubah penampilanku?”
“aissh~ selain dekil dan kampungan, ternyata kau juga bodoh.” Untuk ketiga kalinya, Youngmin mendesah, “begini, kalau penampilanmu menarik, Kwangmin akan memandangmu.”
“tapi… bagaimana caranya?”
“na ddarawa-----ikuti aku.”

%%%

Youngmin dan Jina sampai di sebuah mall besar di Seoul. Jina hanya menganga melihat betapa ramai, besar dan mewahnya mall itu.
“ya! Ppalli! Kenapa hanya diam di situ? Ayo masuk!” seru Youngmin sesampainya di sebuah salon.
“wow! Tempat apa ini?” seru Jina dengan wajah terkagum-kagum.
“ini salon, bodoh. Bagaimana kau bisa tidak tau? Satu lagi. Jangan perlihatkan sikap kampunganmu di sini. Arasseo?? =.=”
“lalu, apa yang akan kau lakukan di sini?”
Youngmin menarik sudut kanan bibirnya, menyeringai.“sudah kuputuskan. Aku akan mengubah bentukmu!”
Jina merasa ngeri melihat seringaian Youngmin, “mworago?!”

Tiba-tiba seorang yeoja datang menghampiri mereka berdua. “Youngmin-a! sudah lama sekali kau tidak berkunjung.” Yeoja berambut panjang dan cantik itu pun mengarahkan pandangannya pada Jina, “lalu, siapa dia?”
“ah, kau bisa langsung bertanya padanya. Sekarang aku minta bantuanmu untuk mengubah penampilan yeoja dekil ini.”
“OK. Serahkan saja padaku ;)” sahut Yubin sambil mengerling.
“ikuti apa yang Yubin katakan. Aku akan menunggu di sini.” Youngmin mengibaskan tangannya, menyuruh Jina segera pergi.

“Siapa namamu?” Tanya Yubin sambil memotong rambut Jina.
“Oh~ aku Yun Jina. Senang bisa bertemu denganmu, Yubin-a…”
Mendengar nama ‘Yun Jina’, Yubin langsung berhenti memotong rambut Jina.
“Yubin-sshi, gwaenchannayo?”
“ye, ye, na gwaenchanna. Jadi kau yang bernama Jina? Aku tidak mengira akan bertemu denganmu secara langsung.” Kata Yubin dengan wajah waspada dan sedikit khawatir.
“mwo?” Tanya Jina dengan wajah bingung.
“dwaesseo-----lupakan. Aku hanya kaget.” Yubin menghela napas panjang, “lalu, bagaimana kau bisa mengenal Youngmin?” Tanya Yubin pura-pura tidak tau.
“sebenarnya aku, Kwangmin dan Youngmin adalah sahabat kecil. Orang tua mereka akan membiayai kuliahku dan memintaku untuk tinggal bersama mereka.”
“a… arrasseo~”
“Yubin-sshi, apa kau mau menjadi teman pertamaku di Seoul? Aku sangat ingin memiliki teman perempuan di sini. Selama seminggu aku tinggal di Seoul, yang aku kenal hanya Kwangmin, Youngmin dan Hyunmin. Aku sedikit kesepian.”
“ah, geuromyo. Jadilah temanku, kalau kau membutuhkan sesuatu kau bisa meminta bantuanku kok.”
“a~~ sinna-----ah, ini menyenangkan! Gomawo ^^”
Yubin hanya tersenyum simpul melihat JiNa yang terlihat sangat gembira itu.

%%%

Hampir dua jam lebih Youngmin menunggu Jina selesai dengan semua perawatan salon, namja itu pun sudah tertidur karena bosan menunggu. Selesai melakukan semua perawatan itu, Jina berusaha membangunkan Youngmin yang kelihatan tertidur sangat pulas.
“Youngmin-a, ireona… aku sudah selesai.”
“ya! Kau lama sekali?! Aku hampir saja mati karena bosan!”
“mianhae…” jina menunduk karena merasa bersalah, tapi sedetik kemudian, yeoja itu kembali dipenuhi semangat, “bagaimana hasilnya? Yubin juga meminjamkan baju dan sepatunya untukku. Jjang ijji----keren kan?”
“Lumayan. Kajja-----ayo pergi.” Jawab Youngmin singkat.
Jina sedikit kecewa dengan tanggapan Youngmin, “kita pulang?”
“akan kubelikan baju dan sepatu juga untukmu. Aku tidak ingin menanggung malu kalau kau besok ke kampus dengan pakaian seperti tadi.”
Youngmin membelikan setumpuk pakaian dan sepatu, setelah itu mereka pulang ke rumah. Sampai di rumah, Kwangmin dan Youngmin langsung menyambut mereka dengan tatapan kagum.
“wah~! Nuna cantik sekali~” kata Hyunmin saat Jina memasuki rumah.
“oh, nae yeosinnim-----oh, dewiku!” seru Kwangmin dengan maksud bercanda, “kau cantik Jina-ya.”
Wajah Jina langsung bersemu merah mendengar pujian Kwangmin.
“jangan terlalu memujinya. Kepalanya bisa membesar.”
“ya!” seru Jina kesal.
“kau berani membentakku?! Kau bahkan belum berterima kasih padaku untuk semua ini!”
Jina membungkukkan badannya, “mianhaeyo. Kamsahamnida….”
Youngmin berjalan menuju ke kamarnya.
“Jina-ya, sepertinya Youngmin sudah sedikit melunak padamu.” Kata Kwangmin setelah Hyunmin dan Youngmin pergi.
“aku rasa sikapnya sama saja dengan sebelumnya. Kata-katanya juga masih kasar terhadapku.”
“haha~ tapi itulah Youngmin yang sekarng. Kau harus mengerti dia. Ara?”
“ye.”
“mmm… aku meminta maaf atas nama Youngmin. Sejak peristiwa itu, sifatnya menjadi dingin.”
“sebenarnya peristiwa apa yang membuat Youngmin trauma seperti itu? Bisakah kau menceritakannya padaku?”
“masalah itu… kapan-kapan akan aku ceritakan. Sekarang sebaiknya kau makan lalu istirahat. Dari pagi sampai sore kau pergi dengan Youngmin, pasti kau sangat lelah.” Kwangmin berjalan ke arah ruang TV, lalu menjentikkan jarinya dan berbalik menghadap Jina,”Oh, iya, besok kita mulai kuliah. Jadi kau harus bangun pagi-pagi, OK?”
“ne, arra…”

Jina melangkah menuju ruang makan dengan tanda tanya besar bersarang di otaknya, “Peristiwa…? Peristiwa apa yang membuat Youngmin begitu berubah? Peristiwa macam apa yang bisa mengubah kepribadian seseorang yang ceria menjadi emosional seperti itu? ”

%%%

0 komentar:

Posting Komentar

 

My Fictional World Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea