Author : Sonia aka. Han Minji
Genre : Mystery, drama, friendship
Main casts : Oh Sehun, Park Sanghyun, Park Sandara, Lee Eunhye, Han Minji, Kim Seonri, Cho Hara.
Beware of : typo(s), bahasa yang nggak padu dan plot yang nggak jelas :P
Song of the story : EXO – Angel, EXO – What is Love, Ailee - Heaven, Block B – Synchronization 100, UKISS – When Love Stops, MBLAQ – Beautiful, Yoseob ft. Eunji – Love Day, IU – Last Fantasy and IU – Secret (biar lebih dapat feel-nya aku saranin buat dengerin lagu-lagu di atas :D)
Disclaimer : Sehun dan Cheondung milik Tuhan, tapi cerita ini milik author. Jadi, masalah Sehun sama Cheondung mau diapain, itu suka-suka author #plakk
Ini FF tercipta karena keliaran khayalan author pas tengah malem, jadi harap maklum kalau banyak hal nggak masuk akal di sini... xD
A-yo WASSSSSUUUUUP *ala Kris*~ saya comeback lagi sambil bawa ini. Ini prolog *baru prolog, belum FF aslinya* FF sequel dari FF ‘I Love the Invisible You’. Ide cerita ini muncul begitu saja pas dengerin lagunya Block B yang Synchronization 100% sama lagunya EXO yang Angel. Haha~ lagi demen sama tuh lagu, makanya aku bikin jadi FF. Ohya, ini FF fantasy pertama author, jadi author mohon kritik dan saran yang membangun dari readers yaaa~ ^^
Ini FF udah direncanain dari sebelum UN, tapi baru rampung sekarang. Imajinasi Author lagi ngadat, makanya jadi lama updatenya *hahaha, ketahuan abalnya*
Oiya, di FF ini juga ada Dara, Cheondung sama Dadoong juga lho... *nggak ada yang tanya*
Aku udah lama pengen bikin FF yang ada trio marga Park itu dan baru kesampaian sekarang, hahaha *jingkrak-jingkrak*
HAPPY READING, HOPE YOU’LL ENJOY~! ^^
Jangan Lupa buat RCL!!
Secercah cahaya matahari pagi masuk melalui ventilasi ruang kelas pagi itu. Menimbulkan rasa hangat pada kulit siapa saja yang dikenainya. Cahaya matahari musim panas begitu menyilaukan dan terkadang panas membakar, tapi itulah istimewanya musim ini. Namun, cerahnya matahari musim panas tak mampu menghilangkan awan kelabu di hati Eunhye.
Hari itu, seperti biasa, Eunhye berangkat pagi dan duduk termenung sendirian di dalam kelas. Yeoja itu sedikit mendesah, lalu mengambil ponsel dari saku celana jeansnya. Dengan gerakan cepat, dia membuka sebuah file foto miliknya. Senyuman miris seketika mengembang di wajahnya saat menatap foto itu. Foto itu adalah foto Sehun. Dilihatnya dalam foto itu, Sehun sedang berpose dengan senyum lebar dan mata yang berbinar.
Sudah lama Eunhye tidak melihat wajah itu, senyuman itu dan ekspresi itu. Dia sangat merindukan suara menyebalkan dan senyum usil khas Sehun yang dulu selalu andil memeriahkan harinya.
Sudah hampir dua tahun sejak kematian tragis Sehun dan perasaannya pada namja itu masih belum berubah.
Ya. Eunhye tak keberatan tentang perasaannya yang takkan terbalas itu. Eunhye tahu, seberapa sering pun dia memanggil nama Sehun, toh namja itu juga takkan bisa mendengarnya. Rasa rindu kembali menyeruak dalam relung hatinya, rasa cintanya pada Sehun membuat yeoja itu rela menunggu suatu hal yang tak pasti.
‘Saat kau mendengar bisikku lewat angin yang berhembus, kau akan bertemu dengan namja lain yang memiliki jiwa sepertiku…’
Kata-kata terakhir yang terucap dari mulut namja itu begitu menyihir Eunhye. Sudah hampir setahun berlalu sejak peristiwa itu dan Eunhye masih setia menunggu pembuktian dari kata-kata itu.
Dia begitu setia menanti bisikan yang dimaksud Sehun, tapi sampai sekarang, Eunhye belum mendengarnya. “Sampai kapan aku harus menunggu, Oh Sehun? Kapan namja yang kaumaksud itu datang? Benarkah dia dapat semirip itu denganmu?”
Tiap hari dia menunggu bisikan itu, dia percaya bahwa namja itu takkan berbohong padanya. Menunggu bisikan seorang yang sudah mati lewat angin yang berhembus? Terdengar gila dan bodoh, tapi itulah yang dilakukan Eunhye. Dia hanya berharap tanpa bisa melakukan tindakan apapun untuk menemukan namja yang dimaksud oleh Sehun. Bodoh dan naïf, mungkin dua kata itulah yang paling tepat untuk menggambarkan diri Eunhye sekarang ini.
“Ckckck… lagi-lagi kau memasang ekspresi seperti itu. Pasti gara-gara Sehun lagi.” Sebuah suara datang dari arah pintu kelas. Pemilik suara yang lembut itu berjalan menuju bangku yang terletak di sebelah bangku Eunhye.
“Seonri?” Eunhye tersentak kaget, tersadar dari lamunannya.
“Kenapa memasang ekspresi wajah seperti itu, eo? Dasar…”
“Aissh, Kau membuatku kaget…”
“Eunhye-ya, bisakah kau berhenti menunggu hal itu? Sebegitu percayanyakah kau pada Sehun? Semua hal yang kauceritakan padaku sangat tak masuk akal. Dia menyuruhmu untuk menunggu bisiknya lewat angin yang berhembus? Hahaha, lucu sekali.” Ucap Seonri seraya menghela napas berat dan berbicara dengan nada yang sedikit menggurui.
“Aku percaya padanya. Sehun tak mungkin berbohong padaku.” Balas Eunhye penuh keyakinan.
“Jika aku jadi kau, aku lebih memilih mencari namja chingu sendiri daripada harus menunggu sesuatu yang terdengar seperti bualan. Jika kau mau, pasti kau sudah memiliki kehidupan yang lebih baik. Sekali-kali kau perlu membahagiakan dirimu, Lee Eunhye. Jangan hanya karena Sehun, kau rela menderita seperti itu…” ucap Seonri lagi, wajahnya terlihat khawatir.
“Geokjeongma. Aku baik-baik saja kok.” Sanggah Eunhye.
“Geurae. Sepertinya, seberapa panjang pun aku berbicara, kau takkan dengar. Tapi, apapun keputusanmu, aku akan dukung…”
“Hehe… gomawo.” Kata Eunhye sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, “A, cham! Di mana Minji dan Hara? Apa mereka tidak berangkat bersamamu?”
“Tadi kita berangkat bersama, tapi Minji mengajak Hara ke kantin, dia bilang dia belum sempat sarapan.”
“Umm… arrasseo.”
Keheningan kembali tercipta di antara Eunhye dan Seonri. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya Minji dan Hara datang dengan setumpuk camilan di tangan mereka.
“Na wasseo-----aku datang~! Jjajaaaaa~!” seru Minji sambil menyodorkan camilan yang di bawanya di depan wajah Seonri dan Eunhye.
“Ck~ kerjaanmu itu makan terus ya?” kata Seonri.
“Ini enak lho, iyakan, Hara?” Minji mengerling pada Hara, “Cobalah.” Tawar Minji pada Seonri dan Minji.
“Iya. Makanlah. Kami sudah susah-susah membelinya, tahu.”
“Baiklah.” Ucap Eunhye dan Seonri bersamaan.
“Hari ini… apa kita jadi pergi ke rumah Dara Seonbae?” tanya Hara pada ketiga sahabatnya.
“Dara Seonbae bilang kita harus ke rumahnya untuk mengambil bahan untuk tugas desain interior kita. Seonbae pasti memiliki banyak hal yang kita butuhkan.” Jawab Eunhye sambil mengunyah makanannya.
“Baiklah. Nanti akan kuhubungi Dara Seonbae.” Kata Hara kemudian.
“Sekarang, kita makan dulu. Hehe~” celetuk Minji sambil menyuapkan sepotong roti ke mulutnya.
“Dasarrrr… yang ada di otakmu itu hanya makanaaaan saja. Bahkan kau memanggil namchi-mu sendiri dengan sebutan bacon. Jangan-jangan kau pernah berpikir untuk memakannya. Kasihan sekali Baekhyun Oppa, dia pasti bangkrut setiap mengajakmu jalan-jalan.” Kata Eunhye dengan nada bercanda yang kemudian diikuti oleh tawa mereka berempat.
***
Dengan diiringi hembusan angin musim panas yang cukup kencang Eunhye, Minji, Seonri dan Hara berlari menuju gerbang utama kampus mereka. Mereka sudah membuat janji dengan Dara untuk bertemu di sana. Seperti yang sudah diduga oleh mereka berempat, Dara sudah berdiri di sana dengan tubuh tingginya yang tersandar di badan mobilnya. Cahaya matahari jatuh mengenai wajahnya yang putih dan halus, tapi Dara terlihat tak takut akan efek buruk yang akan ditimbulkan oleh sinar itu. Tangannya segera melambai saat melihat Eunhye dan teman-temannya datang.
“Seonbae, joesonghaeyo. Tadi ada sedikit tambahan yang diberikan Gyosunim, jadi kami telat.” Kata Minji sambil membungkukkan badannya, diikuti ketiga temannya.
“Gwaenchanna. Aku juga baru saja sampai di sini kok. Kaja!” Dara tersenyum ramah dan mempersilakan keempat hoobae-nya itu untuk masuk ke mobilnya.
“Gomawoyo, Seonbae.” Ucap mereka berempat secara bersamaan.
Pada sepuluh menit pertama dalam perjalanan menuju rumah Dara, tak ada satu suara pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Sedangkan Dara, dia berkonsentrasi penuh pada jalanan yang dilaluinya.
Jendela mobil Dara yang terbuka membuat angin dengan leluasa masuk ke dalam mobil sport mewah itu.
Mata Eunhye terpejam, menikmati setiap sentuhan angin yang menerpa wajahnya. Ingatan yeoja itu pun langsung menerawang jauh ke masa lalu, terbawa oleh angin menuju ke dimensi waktu yang sudah tak dapat terulang lagi. Masa di mana dia dan Sehun masih duduk di bangku SD dan melewati masa yang menyenangkan bersama. Memori-memori itu mulai bergolak dalam ruang rindunya, membuat sanubarinya terus saja memberontak ingin bertemu dengan namja itu lagi. Semakin lama dia merasakan hembusan panjang angin yang mengelus wajahnya, semakin keras pula Eunhye mendengar nyanyian sendu hatinya, sungguh terdengar pilu.
“Andai kau tahu, sampai saat ini aku masih setia menunggu pembuktian dari kata-katamu. Begitu bodohkah aku karena telah menyia-nyiakan hidupku hanya untuk menunggu bualan yang kauucapkan itu, eo? Arrrgh… kenapa juga kau harus pergi meninggalkanku? Bukankah akan lebih baik jika kau di sini bersamaku? Ya! Nappeun namja! Dapatkah kau mendengar ini? Dapatkah?”
Eunhye membuka matanya perlahan lalu melontarkan pandangannya keluar mobil, sambil menyunggingkan sebuah senyuman, lebih tepatnya senyuman miris.
“Semua sahabatku sudah memiliki namchi. Lalu kapan aku memilikinya? Kapan namja yang kaumaksud itu datang?” kata Eunhye dalam hatinya. Lagi-lagi pertanyaan itu mulai mengusiknya. Eunhye menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.
Angin kembali menerpa wajah sendu Eunhye. Aroma harum asing yang menenangkan tercium oleh indra penciumannya dan sebuah suara datang bersama hembusan angin yang harum itu. Suara yang tak asing di telinganya. Suara yang sangat dinantinya. Ya. Suara Sehun.
“Maaf jika aku sudah membuatmu menunggu lama. Kau akan segera bertemu dengan namja yang kumaksud…” kata-kata singkat itu benar-benar terdengar oleh Eunhye lewat angin yang baru saja melewati indera pendengarannya. Yeoja itu segera melebarkan matanya tak percaya dan mencoba mencari sosok Sehun di sekitarnya. Napasnya mulai memburu, emosinya pun jadi tak terkendali.
“Sehun? Apa kau di sini? Minji-ya, apa kau merasakan hawa keberadaan Sehun di sini?” kata Eunhye dengan suara pelan yang bergetar.
“Ani. Aku tidak merasakan hawa aneh apapun.” Jawab Minji.
“Eunhye-ya, gwaenchanna?” tanya Hara yang duduk di sebelah Eunhye.
“Baru saja… aku mendengar suara Sehun. Dia berkata jika aku akan segera bertemu dengan namja yang dimaksud olehnya.”
“Jinjja? Bagaimana bisa aku tak mendengar apapun?” tanya Minji heran.
“Mungkin hanya Eunhye yang bisa mendengarnya.” Seonri yang menjawab.
“Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya seru sekali.” Kata Dara dari depan stir sambil menatap keempat hoobaenya itu lewat kaca spion dalam.
“Anieyo. Hanya obrolan biasa. Hehe…” jawab Minji asal.
“Geurae? A, ye… Sebentar lagi kita sampai.” Kata Dara lagi.
***
Tempat tinggal Dara berada di sebuah kawasan perumahan elit di daerah Gangnam dan lebih mirip istana jika dibandingkan sebuah rumah. Halamannya begitu luas dan terdapat taman mewah nan indah di sana. Bunga berwarna-warni sepanjang mata memandang. Tempat seperti ini tentu saja merupakan surga yang sempurna bagi para yeoja seperti Eunhye dan ketiga temannya. Mereka tak henti-hentinya berdecak kagum melihat keindahan arsitektur dan desain penataan rumah Dara.
“Ayo kita masuk,” ajak Dara. “Kurasa ini saatnya kalian bekerja.” Kata Dara sedikit menyindir.
Perasaan mereka berempat langsung mencelus mendengarnya. Mereka sangat ingin mengelilingi rumah indah ini, tapi kan tujuan mereka ke sini adalah demi tugas kuliah mereka. Tiba-tiba mereka menjadi ngeri sendiri membayangkan tugas seabrek yang harus dikerjakannya. Mereka pun segera bangkit dari negeri fantasi khayalan mereka dan berjalan masuk rumah Dara untuk menyelesaikan tugas mereka.
Begitu memasuki rumah Dara, mereka kembali dibuat berdecak kagum.
“Seonbae, apa Seonbae sendiri yang mendesain rumah ini?” tanya Eunhye penasaran.
“Eung~ tapi tidak semuanya. Bagaimana menurut kalian?”
“Ini lebih dari bagus!” seru Seonri penuh semangat.
“Kurasa kami akan mendapat banyak inspirasi dari sini.” Tambah Hara.
Mereka pun dibimbing Dara memasuki kamarnya yang luas dan sangat artistik. Sekali masuk di kamar itu, orang pasti akan tahu jika pemiliknya adalah seorang desainer interior berbakat. Ada sesuatu yang unik di kamar itu yang membuat mata Eunhye langsung tertarik, terdapat boneka kucing di atas meja kecil di samping tempat tidur Dara. Boneka itu terlihat sangat hidup dengan mata kaca yang mengerikan. Kemudian juga ada beberapa foto Dara dengan seekor kucing yang tertempel di dinding kamarnya.
“Dara Seonbae pasti sangat menyukai kucing…” gumam Eunhye sambil tersenyum, merasa memiliki teman baru yang sehobi dengannya.
Dara melepaskan jaketnya ketika memasuki ruangan ini, karena dia terlihat sangat kepanasan. Tak lama kemudian, terdengarlah suara kucing di salah satu sudut kamar Dara. Seekor kucing lucu muncul dan berlari menghampiri sang majikan. Dara pun menyambut peliharaan mungilnya itu dengan hati gembira.
“Maaf, sudah meninggalkanmu terlalu lama, Dadoongie…” Dara menggendong kucing kecil itu sambil mengelus bulu-bulu halusnya.
“Kucing yang lucu!” seru Eunhye penuh antusias.
Namun, ketika Eunhye mendekati dan mengulurkan tangannya pada kucing itu, kucing itu segera beringsut semakin dalam di gendongan Dara.
Dara mengelus Dadoong penuh sayang, “Dadoongie, dia tidak jahat kok.”
Dara mengalihkan pandangannya pada Eunhye yang terlihat sedikit kecewa. “Kami jarang kedatangan tamu. Karena itu Dadoong merasa malu bila bertemu dengan orang asing seperti kalian.”
“Gwaenchanna. Apa Seonbae sudah lama memelihara Dadoong?”
“Baru beberapa minggu Dadoong tinggal di rumahku. Nam dongsaeng-ku yang mengadopsinya. Nama Dadoong sendiri berasal dari gabungan nama kami. Mmm... apa kau juga menyukai kucing?”
Eunhye mengangguk cepat, “Eung~ aku sangat suka pada kucing. Andai saja Dadoong mau bermain denganku…”
“Mungkin jika kau memberikan makanan kucing ini padanya dengan lembut, dia mau mengenalmu lebih dekat. Coba saja.” Cetus Dara seraya menyodorkan sekotak makanan kucing pada Eunhye.
“Kenapa jadi membicarakan kucing? Ayo kita mulai tugas kita.” Sahut Seonri, tampak tak tertarik dengan makhluk bernama kucing itu. Hal yang sama terlihat pada ekspresi Minji dan Hara.
“Hehe, mian. Aku sampai lupa tujuan kita datang ke sini.” Eunhye kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
“Baiklah. Kita mulai sekarang saja ya?” tawar Dara.
***
Sudah berjam-jam lamanya Eunhye, Minji, Seonri dan Hara berkutat dengan tugas desain interior mereka dengan bantuan Dara. Sesekali Eunhye bermain dengan Dadoong yang kini menjadi sangat akrab dengannya untuk menghilangkan kejenuhannya.
Secercah cahaya kemerahan masuk melalui jendela, suara kumbang kayu pun sudah mulai menyemarakkan kediaman Dara, menandakan bahwa matahari sudah bersiap-siap kembali ke tempat peraduannya.
“Hari ini cukup sampai di sini saja ya? Aku sudah lelah.” Ucap Minji sambil mengelap keringat di keningnya. Ketiga temannya langsung mengangguk.
“Baiklah. Besok kita lanjutkan lagi.” Jawab Dara menyetujui. Dia kasihan melihat keempat hoobaenya terlihat kelelahan seperti itu. Dia sangat mengerti bagaimana sulitnya mendesain bagi para pemula seperti mereka.
Mereka berempat pun segera berkemas dan bersiap pulang. Namun, tiba-tiba Dadoong yang berada di pangkuan Eunhye melompat keluar dan berlari menuju balkon kamar Dara, membuat Eunhye sedikit terkejut dengan ulahnya itu. Eunhye pun ikut keluar menuju balkon dan dilihatnya kucing kecil itu seperti sedang melihat sesuatu yang tak dapat dilihat Eunhye. Seketika itu, angin mulai bertiup kencang menyebabkan rambut panjang Eunhye berkibar-kibar tak tentu arah. Aroma harum yang asing segera menyergap hidungnya. Aroma yang sama… harum dan menenangkan, pikir Eunhye. Tapi, kenapa angin ini datang lagi? Jangan-jangan…
Eunhye pun segera mendekati Dadoong, dia merasa jika kucing itu seperti ingin menunjukkan sesuatu padanya. Lagi-lagi, Eunhye mendengar suara Sehun. Suara itu begitu lembut dan menenangkan. Kata-kata yang diucapkan namja itu sama persis seperti yang didengarnya saat di mobil tadi. Eunhye mengedarkan pandangnya ke seluruh arah, siapa tahu dia dapat melihat Sehun di salah satu sudut balkon itu. Namun, hasilnya nihil, tak ada sesuatu pun di sana. Benar dugaanku, Sehun datang lagi, dia ada di sini…
Tubuh mungil Eunhye sedikit bergetar, perlahan yeoja itu menggendong Dadoong dan membawanya masuk. Eunhye memasang ekspresi sebiasa dan sedatar mungkin untuk menutupi kegugupannya di depan teman-temannya.
“Lama sekali kau di luar...” kata Minji.
“Aku hanya senang merasakan hembusan angin musim panas…” jawab Eunhye cepat.
Baru saja Eunhye mengatupkan bibirnya, seorang namja masuk ke dalam kamar Dara. Namja berpostur tinggi dan berkulit putih itu memasuki kamar Dara dalam keadaan shirtless, seperti sedang memamerkan white choco abs-nya. Keringat terlihat membasahi seluruh tubuhnya dan hal itu membuatnya terlihat sangat… seksi. Sesekali namja itu mengelap keringat di wajahnya dengan handuk yang terlampir di pundaknya. Eunhye dan ketiga sahabatnya hanya bisa bengong melihat namja itu.
“Nuna, di mana Dadoong?” tanya namja itu santai, seakan tak melihat wajah keempat yeoja di hadapannya yang memerah karena melihatnya shirtless.
“Dia memanggil Dara Seonbae dengan sebutan Nuna? Jadi dia nam dongsaeng yang diceritakan Seonbae tadi?” kata Eunhye dalam hati, sedetik pun pandangannya tak lepas dari sosok namja itu.
“Cheondungie, kenapa kau tidak memakai bajumu, eo?” tanya Dara sambil melirik keempat hoobaenya yang sedang memasang ekspresi amazed pada sosok nam dongsaengnya.
“Hehe, aku baru saja berlatih. Oh ya, di mana Dadoong?” tanya namja itu lagi, matanya menelusuri seluruh kamar Dara untuk mencari keberadaan Dadoong.
“Itu dia…” jawab Dara sambil menunjuk Dadoong yang berada di pangkuan Eunhye.
“A, ye. kenalkan, dia Sanghyun, adikku. Tapi aku biasa memanggilnya Cheondung.” Kata Dara pada Eunhye dan teman-temannya.
“Bangapseumnida~” ucap Hara, Minji dan Seonri bersamaan. Sedangkan Eunhye hanya diam sambil terus mengamati Cheondung.
“Apa dia namja yang dimaksud Sehun? Wajahnya begitu mirip…”
Eunhye terkesima dengan semua yang ada pada Cheondung dan hampir tidak memperhatikan bahwa namja itu semakin dekat dan semakin dekat dengannya. Ada perasaan asing yang menghinggapi hati Eunhye sehingga membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya dan membuat desiran darah dalam tubuhnya semakin cepat. Dia seperti kehilangan akal sehatnya untuk beberapa saat. Tiba-tiba saja wajah namja itu terlihat hanya berjarak beberapa inci di depan matanya. Eunhye menelan ludahnya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia seperti melihat Sehun dalam diri Cheondung. “Bagaimana bisa semirip ini? Tidak… tapi dia bukan Sehun, dia hanya mirip dengan Sehun.”
“Bolehkah aku mengambil Dadoong?” tanya Sanghyun untuk kedua kalinya, karena pertanyaan pertamanya tak dijawab oleh yeoja itu.
Eunhye tersadar dari semua pemikirannya, “A, mianhae.” Eunhye segera menyerahkan Dadoong pada Sanghyun dan namja itu pun langsung tersenyum geli melihat tingkah Eunhye.
“Dadoongie, annyeong~” kata Eunhye sambil melambai pada kucing itu dengan gaya sesantai mungkin untuk menyembunyikan rasa malunya.
Sanghyun menggerakkan kaki depan Dadoong sehingga kucing itu terlihat seperti melambaikan tangannya, “Annyeong~”
“Baiklah. Aku kembali ke kamarku dulu.” Sanghyun tersenyum ramah pada semua orang yang berada di situ dan dia pun segera menghilang di balik pintu.
Eunhye masih terdiam kaku di tempatnya, tak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya. Pikirannya masih melayang meninggalkan raganya entah ke mana. Ini semua seperti mimpi baginya.
“Eunhye-ya, gwaenchanna? Kenapa wajahmu mendadak menjadi pucat?” tanya Seonri.
Eunhye menjawab dengan gumaman yang terbata-bata, “Kurasa aku… aku telah… telah… menemukan namja yang dimaksud oleh Sehun…”
***
Sanghyun duduk sendirian di sebuah padang yang tak pernah dilihatnya selama ini. Padang itu terhampar bagaikan permadani keemasan yang luasnya sejauh mata memandang. Suasana di padang itu begitu sepi dan sedikit mencekam baginya, karena hanya ada dirinya di sana. Sesekali Sanghyun melihat keadaan sekitar, memastikan apa dia hanya sendiri di tempat antah berantah itu. Hembusan angin mulai menampari tubuhnya yang hanya tertutupi sehelai kain putih tipis, membawa serta debu-debu kecil yang sedikit menyesakkan napasnya. Kemudian, sebuah sentuhan mendarat tiba-tiba di bahu lebarnya. Sanghyun tersentak, dia pun segera menoleh untuk mengetahui siapa itu. Kening Sanghyun langsung mengerut saat menatap seorang namja yang kini sudah berada di hadapannya. Dia tak pernah melihat namja itu, apalagi mengenalnya. Namja itu terlihat sangat putih dan bercahaya. Ada sepasang sayap yang megembang dengan indah di punggungnya. Sanghyun memiringkan kepalanya ke kanan, memandang makhluk di depannya dengan seksama untuk memastikan dia itu malaikat atau makhluk apa.
“Nu…Nuguseyo?” ucap Sanghyun hati-hati.
“Aku Oh Sehun. Kau Park Sanghyun, kan?” namja itu gantian bertanya sambil tersenyum simpul.
“Ne, aku Park Sanghyun. Tapi… bagaimana bisa kau tahu namaku? Kita bahkan tidak pernah saling kenal.” Tanya Sanghyun heran sekaligus ingin tahu.
“Itu tidak penting. Aku menemuimu karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Kening Sanghyun kembali mengerut, “Mengatakan sesuatu?”
Sehun mengangguk, “Aku ingin kau menjaga Eunhye untukku. Aku percaya jika kau namja yang baik untuk dia.”
“Eunhye? Siapa dia?”
“Kau akan segera tahu. Percayalah padaku, Eunhye yeoja yang baik dan pantas untukmu.”
“Tapi…”
Belum selesai Sanghyun mengucapkan apa yang ingin diucapkannya, namja bernama Sehun itu sudah menghilang dari hadapannya.
Sanghyun terbangun di tengah malam dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Napasnya terengah-engah. Dia pun segera mengambil segelas air putih yang berada di meja kecil di samping ranjangnya dan meneguknya tanpa sisa.
“Aissh… mimpi yang aneh. Siapa namja itu dan… siapa Eunhye? Aku benar-benar bingung. Lalu…haruskah aku percaya kata-kata namja itu?” kata Sanghyun sambil berbaring menatap langit-langit kamarnya. “Ahhh, molla… sebaiknya aku kembali tidur. Anggap saja itu tadi mimpi biasa.”
***
Eunhye merenung di kamarnya sambil membuka foto albumnya, “Namja bernama Sanghyun itu benar-benar mirip denganmu, Sehunnie. Mungkinkah jika dia… reinkarnasimu?” Eunhye meraba wajah Sehun di foto itu dengan lembut.
“Bagaimana caranya agar aku dapat dekat dengannya? Kau ingin aku melakukan apa, eo? Apa aku harus mendekatinya lebih dulu? Itu tidak mungkin, kan? Aku seorang yeoja, kau tahu itu…” Eunhye terus saja berbicara seolah Sehun berada di sisinya.
“Ya! Nappeun namja, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Kenapa kau meninggalkan aku dalam keadaan bingung seperti ini?” kata Eunhye lagi sambil menunjuk-nunjuk foto Sehun, dia sudah tak tahu lagi harus melakukan apa untuk ini.
Eunhye pun kembali terdiam dalam lamunannya, sehingga kesunyian kembali tercipta di dalam ruangan gelap itu. Hanya ada suara kumbang dan jangkrik musim panas yang saling bersahutan, masih setia menyemarakkan malam.
Dalam kegelapan kamarnya, yeoja itu memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut. Tanpa disadarinya, air mata mulai mengalir dengan deras. Entah apa penyebab cairan bening itu mengalir tak terkendali, dia sendiri bahkan tak tahu alasan pasti kenapa dia menangis seperti itu. Bukankah harusnya dia bahagia saat dia tahu sudah menemukan namja yang dimaksud oleh Sehun?
Eunhye segera menyeka air matanya dan bertekad dalam hati untuk memerjuangkan kebahagiaannya. Lagi pula, dia kan sudah berjanji pada Sehun untuk hidup dengan baik dan tidak menjadikan namja itu sebagai alasannya untuk menangis.
“Geurae, Sehunnie. Aku akan melakukan apa yang harus kulakukan. Aku janji aku akan hidup dengan baik. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri dan memperjuangkannya.”
***
Hari ini hari Sabtu, hari di mana Eunhye rutin memeriksakan kucing putih peliharaannya. Seperti biasa, setelah makan siang dia membawa kucingnya itu ke dokter hewan langganannya di daerah Gangnam.
Eunhye duduk di salah satu sofa di ruang tunggu, menanti giliran kucingnya untuk diperiksa. Kemudian, seorang namja datang dan duduk di sebelahnya. Awalnya Eunhye tidak terlalu peduli dengan namja di sebelahnya, tapi saat dia melirik diam-diam ke arah namja itu, jantungnya langsung berdebar. Namja itu ternyata adalah nam dongsaeng Dara, Sanghyun. Eunhye memalingkan wajahnya secepat kilat saat tahu siapa namja yang duduk di sebelahnya. Dia terlalu malu dan takut untuk memulai pembicaraan.
“Kau di sini untuk memeriksakan peliharaanmu?” Tanya Sanghyun, sekedar berbasa-basi pada sesama pemelihara hewan.
Pertanyaan itu membuat Eunhye mau tak mau menghadap ke arah Sanghyun.
“Ne… aku memang rutin memeriksakan kucingku.” Jawab Eunhye sekadarnya sambil mengelus bulu-bulu lembut kucingnya.
“Neo! Kau yang kemarin lusa ke rumahku, kan?” kata Sanghyun sambil tersenyum saat melihat wajah Eunhye. Dia terlihat sangat antusias, karena saat pertama bertemu dengan Eunhye, dia sudah merasa tertarik dengan yeoja itu.
“Ne.” jawab Eunhye singkat sambil menundukkan kepala, merasa canggung dengan suasana ini. “Ahh… ternyata dia mengenaliku.”
“Siapa namamu? Kemarin kita belum sempat berkenalan, kan?” Tanya Sanghyun lagi.
Eunhye menoleh dan tersenyum pada Sanghyun, “Namaku… Lee Eunhye.”
Deg…
“Lee Eunhye? Dia Eunhye? Apa mungkin jika dia Eunhye yang dimaksud oleh namja di mimpiku waktu itu? Tapi apa semua ini asuk akal?” pertanyaan-pertanyaan besar mulai memenuhi kepala Sanghyun.
“Sanghyun-ssi, gwaenchanna?”
Sanghyun tersadar dari lamunannya, “Ah, ye. Gwaenchanna…”
“Kau juga memeriksakan Dadoong di sini?”
“Aniya. Aku hanya membeli obat perawatan untuknya di apotek dokter Lim. Antreannya masih panjang, jadi aku duduk saja di sini.”
“A, geuraeyo. Sanghyun-ssi, maaf aku harus pergi sekarang. Giliranku untuk memeriksakan kucingku sudah tiba. Sampai jumpa lagi. Annyeong…” ujar Eunhye seraya menyunggingkan senyum lalu berjalan cepat menuju ruang praktek dokter yang akan menangani kucingnya.
Sanghyun mengantar kepergian Eunhye dengan senyuman yang terukir di wajahnya, “Aku tak pernah mengira jika Eunhye itu kau…”
Lalu… siapa namja yang menemuiku malam itu? Apa dia memiliki hubungan dengan Eunhye? Kurasa aku harus menyelidiki ini semua dan mencari tahu kebenarannya…
***
Sanghyun sangat penasaran tentang Eunhye dan rasa penasarannya itu pun membawanya masuk ke kamar Dara untuk menanyakan hal tersebut pada Nunanya.
“Nuna, apa kau kenal dekat dengan Lee Eunhye?” Tanya Sanghyun tanpa basa-basi.
“Wae? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan soal Eunhye? Kau menyukainya ya?” cetus Dara dengan nada sedikit menggoda.
“Ani. Aku hanya ingin tahu tentang dia. Ada sesuatu yang membuatku penasaran tentang dirinya.” Sanggah Sanghyun cepat.
“Terkadang rasa cinta berawal dari rasa penasaran yang besar terhadap seseorang…” gumam Dara, seperti berbicara sendiri, tapi intinya dia bermaksud menyindir dongsaengnya itu.
“Ya! Nunaaaa~ jawab saja, Jangan bicara yang macam-macam.”
“Kalau kau ingin tahu tentang dia, tanyakan saja padanya langsung. Kalau kau mau, aku akan memberimu nomor ponsel Eunhye.” Jawab Dara tenang.
“Baiklah, berikan aku nomornya…” kata Sanghyun setuju, lalu sedetik kemudian dia berubah pikiran, “Ani. Aku minta nomor ponsel teman-temannya saja.”
Dara memiringkan kepalanya, bingung dengan sikap dongsaengnya itu, “Kenapa teman-temannya? Apa tidak lebih baik jika kau bertanya langsung pada Eunhye?”
“Nanti saja jika aku sudah menemukan jawaban dari teman-temannya, aku akan menghubunginya langsung.” Jawab Sanghyun mantap.
“A, geurae. Terserah padamu saja. Aku benar-benar tak paham jalan pikiranmu, Cheondungie…” ujar Dara pasrah, lalu memberikan nomor ponsel Seonri, Minji dan Hara pada Sanghyun.
***
Seonri, Hara dan Minji datang dengan tergesa-gesa ke mini café langganan mereka, karena Sanghyun meminta ketiga yeoja itu untuk datang menemuinya di sana.
“Annyeong, Sanghyun-ssi. Maaf kami terlambat…” ucap Minji sambil membungkukkan badannya, diikuti Hara dan Seonri.
“Gwaenchanna. Silahkan duduk.” Jawab Sanghyun ramah.
“Ada masalah apa hingga kau mengajak kami bertemu di sini?” Tanya Seonri langsung pada inti.
Sanghyun memasang ekspresi serius, “Aku ingin menanyakan sesuatu tentang Eunhye dan kuharap kalian mau membantuku untuk ini.”
“Baiklah, tanyakan saja. Selagi kami tahu, kami akan menjawabnya.” Ujar Hara.
“Apa kalian tahu tentang namja bernama Oh Sehun?” Tanya Sanghyun sambil menopang dagunya dan menatap ketiga yeoja di hadapannya secara bergantian.
“Kaubilang siapa? Oh… Oh Sehun?” Tanya Minji hati-hati.
“Eung… Oh Sehun. Apa kalian mengenalnya?”
“Baiklah jika kau ingin tahu tentang Sehun. Aku memang tak mengenalnya secara langsung. Namun aku tahu jika Sehun adalah salah satu orang terpenting dalam hidup Eunhye. Tapiiii…” Minji menggantung kata-katanya, membuat Sanghyun semakin penasaran.
“Tapi apa?”
“Dia sudah meninggal sekitar dua tahun yang lalu karena kecelakaan.” Jawab Minji dengan lirih.”dan sejak itu, Eunhye tidak mau dekat lagi dekat namja. Dia berkeras menunggu namja yang sudah dijanjikan Sehun untuk menjaganya.”
“Jadi… dia sudah… meninggal?” gumam Sanghyun shock.
Jadi namja yang menemuiku malam itu… sudah meninggal?
“Sanghyun-ssi, bagaimana kau bisa tahu tentang Sehun?” Tanya Seonri dengan tatapan menyelidik.
“Beberapa hari yang lalu, ada seorang namja asing yang menemuiku lewat mimpi. Dia bilang dia adalah Oh Sehun dan anehnya, dia memintaku untuk menjaga Eunhye untuknya.” Jelas Sanghyun.
“Eo? Sehun menemuimu?” Minji membelalakkan matanya tak percaya. Seonri dan Hara langsung bertukar pandang.
“Ne. wae?”
“Beberapa hari yang lalu, Eunhye berkata pada kami jika Sehun memberitahunya bahwa kaulah namja yang dijanjikan Sehun untuk menjaganya. Kami tak pernah menyangka jika Sehun juga menemuimu…”
“Jadi maksudmu… Eunhye tahu jika aku ini namja yang dipilih Sehun?”
“Dia tahu jika aku adalah namja yang dipilih Sehun untuk menggantikannya, tapi kenapa dia bersikap seolah sedang menghindariku? Apa dia masih belum bisa melupakan cintanya pada Sehun?”
“Geuronde----begitulah…” jawab tiga yeoja di hadapannya serempak.
“Apa kau tertarik pada Eunhye? Dan… apa kau akan mengikuti kata-kata Sehun padamu?” Tanya Minji.
“Ne, aku tertarik padanya sejak pertama aku melakukan kontak dengannya. Dia menatapku begitu lekat dan aku merasa… emmm… jujur saja belum ada yeoja yang pernah menatapku dengan pandangan seperti itu. Aku merasakan ada gejolak dalam matanya. Rasa rindu, cinta atau entahlah… aku sendiri tak dapat menafsirkan arti tatapannya saat itu.” Jelas Sanghyun panjang-lebar.
“Aku mengerti apa yang Eunhye rasakan saat itu...” kata Minji sambil menatap wajah Sanghyun lekat, “Apa kau sadar jika wajahmu begitu mirip dengan Sehun?”
“Nae eolgul?” Tanya Sanghyun memastikan.
“Eung. Wajahmu. Cobalah kauingat-ingat wajah Sehun saat dia menemuimu di mimpi. Bukankah dia mirip denganmu? Kurasa Eunhye menyadari itu sejak dia pertama melihatmu.”
“Apa mungkin jika Eunhye shock saat melihatku hingga dia menatapku seperti itu? Waktu itu… pasti dia menatapku sebagai Sehun…” kata Sanghyun lirih, wajahnya menjadi sendu menghadapi kenyataan bahwa Eunhye melihatnya bukan sebagai dirinya, melainkan sebagai Sehun.
“Nah, sekarang apa yang akan kaulakukan?” Tanya Minji lagi.
“Jal morreugesseo. Semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini benar-benar tak masuk akal dan kurasa aku butuh waktu untuk merenungkan ini semua...”
***
Pertemuan pertama adalah karena ketidaksengajaan. Pertemuan kedua adalah kebetulan. Pertemuan ketiga adalah karena takdir….
Ungkapan itulah yang diyakini oleh Sanghyun. Pertemuannya dengan Eunhye selalu terjadi secara tidak sengaja dan tanpa direncanakan. Sanghyun pun akhirnya bertekad, jika dia bertemu dengan Eunhye lagi, dia akan mengungkapkan ketertarikannya pada yeoja itu secara langsung.
Hari ini, secara tak sengaja dia bertemu dengan Eunhye lagi di petshop saat mereka sama-sama sedang membeli makanan untuk kucing mereka. Kali ini, dia yakin jika dia dan Eunhye memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk bertemu.
“Sanghyun-ssi?” kali ini Eunhye yang menyapa Sanghyun terlebih dulu.
“Eoh? Eunhye-ssi?” kata Sanghyun senang saat menyadari siapa yang baru saja menyebut namanya.
“Kau juga sedang membeli makanan untuk kucingmu?”
Sanghyun mengangguk, “Ne. a, cham. Bagaimana jika setelah ini kita pergi makan siang bersama? Aku akan menraktirmu.”
“Kita baru saja saling kenal, tapi kau sudah mengajakku makan. Aku merasa...”
“Gwaenchanna. Lagi pula, aku yang mengajakmu. Eotteohke?”
“Baiklah.” Jawab Eunhye pada akhirnya, dia tak kuasa menolak tawaran Sanghyun. Dia berpikir bahwa ini adalah satu langkah yang akan mengawali jalan menuju pintu kebahagiaannya. Eunhye sudah memutuskan untuk move on dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Sanghyun tersenyum senang, “Syukurlah kau mau menerima ajakanku. Kaja…”
Eunhye berjalan pelan, mengekor di belakang Sanghyun. Sanghyun yang gemas melihatnya pun langsung menarik pergelangan tangan Eunhye dan membuat yeoja itu berjalan sejajar dengan posisinya.
“Sanghyun-ssi, kenapa kau begitu baik padaku? Padahal kita baru saja mengenal satu sama lain…” ucap Eunhye sambil menatap wajah Sanghyun.
Namun, Sanghyun pura-pura tak mendengar pertanyaan yang muncul dari mulut yeoja itu dan terus saja berjalan sambil memandang lurus ke depan dengan senyuman di wajahnya.
“Sanghyun-ssi…” panggil Eunhye, dia merasa tak diperhatikan oleh namja itu.
Sanghyun menoleh ke arah Eunhye, tersenyum, “Panggil aku Cheondung saja atau… Oppa.”
“Tapi kan kita belum…”
Sanghyun segera mendekatkan wajahnya pada Eunhye dan meletakkan telunjuknya di bibir Eunhye agar yeoja itu tidak menyanggah lagi.
“…cukup dekat.” Lanjut Eunhye pelan, setelah Sanghyun melepas telunjuknya.
***
Sanghyun dan Eunhye duduk berhadapan di restoran yang terkenal di kalangan anak muda di kota Seoul. Ada satu hal menarik di restoran itu : banyak kertas yang bergantungan di dalamnya. Ya, pengunjung di sana memang diperbolehkan menulis harapan mereka di secarik kertas dan mengaitkannya di tempat yang sudah disediakan oleh restoran itu. Oleh karena itu, tak heran jika banyak sekali pasangan yang datang di restoran itu untuk sekedar menulis harapannya agar hubungan mereka dapat langgeng.
Sanghyun pun tak mau kalah dengan pengunjung lain. Dia segera mengambil dua lembar kertas dan bolpoin yang sudah disediakan dan menulis sesuatu di sana.
“Kau ingin menuliskan harapanmu?” tawar Sanghyun sambil menyodorkan secarik kertas pada Eunhye. Yeoja itu mengangguk sambil tersenyum.
Eunhye sudah lama sekali tidak merasakan perasaan hangat seperti ini. Perasaan hangat yang berbeda dari yang biasanya diberikan oleh teman-temannya. Perasaan hangat yang dulu hanya dapat dirasakannya saat bersama Sehun.
“Apa harapan yang kautulis?” Tanya Sanghyun setelah mengaitkan kertas harapan mereka berdua.
“Bimil-----rahasia.” Jawab Eunhye sambil tersenyum jahil. Dia sudah mulai akrab dan merasa nyaman dengan Sanghyun.
Aneh… kenapa aku merasa seperti sudah lama mengenal Sanghyun? Biasanya aku sulit bergaul dengan orang yang baru kukenal, tapi kenapa kali ini…
“Pelit.” Kata Sanghyun pura-pura kesal.
“Apa kau juga mau mengungkapkan harapanmu padaku? Tidak, kan? Kalau begitu, kau sama pelitnya denganku.” Balas Eunhye, lalu menjulurkan lidahnya.
Sanghyun memasang wajah serius, “Jadi… kau ingin mendengar harapanku?”
“Memangnya apa harapanmu?”
“Harapanku adalah… agar kau melihatku sebagai Sanghyun, bukan Sehun. Karena aku adalah aku dan Sehun adalah Sehun. Eunhye-ya, neol johahaeyo…” Sanghyun menatap Eunhye dalam-dalam lalu meraih tangan Eunhye dalam genggamannya.
Eunhye terkejut Sanghyun mengucapkan nama Sehun, “Ba… bagaimana kau tahu tentang Sehun?”
“Sehun menemuiku lewat mimpi, tepat setelah pertemuan kita di hari itu.”
“Lalu… apa yang dikatakannya?”
“Dia berkata jika dia ingin aku menggantikannya untuk menjagamu.”
Eunhye menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Sanghyun, “Jadi kau melakukan ini semua karena kata-kata Sehun? Bukan karena kau tulus menyukaiku?”
“Geuge anira-----bukan seperti itu…” Sanghyun berusaha menjelaskan, ekspresinya mulai berubah panik, “Aku sudah tertarik padamu sejak pertama kali aku melihatmu, saat kau sedang memangku Dadoong waktu itu. Jauh sebelum aku mengetahui jika Eunhye yang dimaksud Sehun itu adalah kau. Bahkan aku sendiri tak pernah menyangka jika kau adalah Eunhye. Aku sangat terkejut saat kau mengatakan padaku bahwa namamu adalah Eunhye. Aku berpikir saat itu bahwa mungkin kau dan aku memang sudah ditakdirkan untuk bertemu. Kuharap kau jangan salah paham, karena aku benar-benar menyukaimu. Jinshimiya …”
Eunhye membalas tatapan Sanghyun, berusaha mencari ketulusan dari mata namja itu.
“Geurae. Nan neo mideoyo…” kata Eunhye pada akhirnya, membuat hati Sanghyun serasa melambung tinggi ke langit karena terlalu senang.
“Aku sudah menjawab pertanyaanmu tadi, kan?”
Eunhye mengerutkan kening, tak mengerti, “Pertanyaan yang mana?”
“Kenapa aku bersikap baik padamu, padahal aku baru saja mengenalmu. Sekarang kau tahu jawabannya, kan?”
“Apa jawabannya?” Tanya Eunhye innocent.
“Neorang kachigoshipeunikka-----karena aku ingin bersamamu…” jawab Sanghyun mantap sambil menatap yeoja di hadapannya itu lekat-lekat.
Eunhye terdiam mendengar kata-kata Sanghyun, ucapan namja itu terdengar sangat tulus padanya.
Ne. Aku harus move on. Sanghyun benar, aku tidak boleh menyamakan dia dengan Sehun. Karena Sehun adalah Sehun dan Sanghyun adalah Sanghyun. Mereka dua pribadi yang berbeda meskipun wajah mereka mirip. Aku akan mulai membuka hatiku untuk cinta baru yang datang dalam hidupku. Ya, aku akan mencoba membuka lembaran baru dalam hidupku...
“Nado…” jawab Eunhye setelah cukup lama terdiam, “Aku juga ingin bersamamu. Bukan karena kau adalah namja pilihan Sehun, tapi karena kau adalah Sanghyun.”
Sanghyun mengacak rambut Eunhye penuh sayang, “Mulai sekarang, panggil aku Cheondung Oppa.”
“Kau membuat rambutku berantakan!” protes Eunhye sambil menyingkirkan tangan Sanghyun dari kepalanya.
Sanghyun pun hanya tertawa melihat ekspresi menggemaskan yang ditunjukkan oleh Eunhye.
Cinta yang kutemukan kali ini… adalah cinta yang instan. Kenapa? Karena aku merasa kami begitu cepat disatukan oleh Tuhan dengan hal-hal yang tak disengaja dan tak pernah terlintas dalam pikiran kami…
***
Eunhye dan Sanghyun berjalan bergandengan menyusuri jalanan terpadat di kota Seoul. Senyuman terus melekat di wajah mereka. Ya, mereka bahagia sekali hari itu. Mereka berjalan begitu pelan, seolah tak ingin saat kebersamaan ini berakhir begitu saja. Sanghyun menggenggam tangan Eunhye erat, “Kau benar-benar tak ingin kuantar pulang?” tanyanya lembut.
Eunhye mengangguk pelan, “Ne. aku bisa pulang naik bus, geokjeongma.” Eunhye berusaha meyakinkan,”Cheondung Oppa, gomawoyo untuk hari ini. Na kalkke…” kata Eunhye sambil tersenyum.
“Hati-hati di jalan…” Sanghyun melepas genggamannya lalu terus mengawasi Eunhye yang sedang bersiap-siap menyebrang menuju halte.
Eunhye mulai berjalan menyebrangi jalan yang padat itu, tanpa diketahuinya, sebuah mobil berkecepatan tinggi bergerak ke arahnya.
“Lee Eunhye, awaaaaaaaas!!!” teriak Sanghyun.
Sanghyun yang melihat itu langsung berlari secepat yang dia bisa dan menarik tubuh Eunhye dalam peluknya. “Uhhh… hampir saja…” kata Sanghyun dalam hati, ada kelegaan besar setelah berhasil menyelamatkan yeoja itu. Tubuh mereka berdua sama-sama bergetar hebat. Mereka terpaku di tengah jalanan itu, masih shock dengan apa yang baru saja terjadi dan Sanghyun pun masih memeluk tubuh Eunhye dengan eratnya.
Tiba-tiba…
BRAAAAKKKKK!!!
Sebuah truk muatan menabrak mereka berdua dengan sangat keras, menimbulkan suara yang sangat miris dan mengerikan bagi setiap orang yang mendengarnya. Tubuh Eunhye dan Sanghyun terpental jauh dan jatuh di atas aspal.
Eunhye membuka matanya perlahan dan segera berdiri sambil membersihkan bajunya dari debu jalanan. Dia pun kemudian memeriksa tubuhnya, “Eoh? Aku tidak terluka sama sekali? Bagaimana bisa ini terjadi?”
Sedetik kemudian, Eunhye teringat pada sosok Sanghyun yang tadi juga tertabrak bersamanya. Eunhye mengedarkan pandangannya, kepanikan mulai menggerogoti hatinya. Dia takut terjadi sesuatu pada namja itu.
“Eunhye-ya, gwaenchanna?” sebuah suara yang tak dikenalnya muncul di belakang punggungnya. Eunhye pun langsung memeluk pemilik suara itu dengan erat.
“Ne. gwaenchanna. Neo eotte?”
Sanghyun tersenyum lalu mengangguk. Walaupun ekspresinya terlihat baik, tapi tingkahnya sedikit aneh, seperti sedang berusaha menutupi sesuatu.
“Geundae, Oppa. Ige… neomu isanghae-----ini sangat aneh. Kita tertabrak begitu keras, tapi kenapa kita tak merasakan rasa sakit apapun?” ucap Eunhye, merasa aneh dengan hal yang dialaminya.
Sanghyun menunjuk ke arah kerumunan orang yang sedang mengelilingi sesuatu. Sanghyun menuntun Eunhye ke kerumunan itu. Eunhye langsung shock dan terdiam saat melihat tubuhnya dan Sanghyun terluka begitu parah dan tak bergerak sedikit pun. Dia pun ingin mendekat dan melihat lebih jelas, tangannya berusaha mendorong orang yang menutupi pandangannya, tapi ternyata itu tak bisa dilakukannya karena tangannya menembus orang itu. “Oh tidak…kenapa ini terjadi? Padahal aku baru saja merasakan kebahagiaan di kehidupan baruku…”rintih Eunhye dalam hatinya.
Eunhye mulai menangis, “Oppa… apa yang terjadi pada kita?”
Sanghyun hanya bisa diam dan menenangkan Eunhye, karena dia juga tidak mengerti apa yang dialaminya.
“Roh kalian… terpisah dari tubuh kalian, karena itu kalian tidak merasakan sakit sedikit pun.”
Eunhye dan Sanghyun menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang namja dengan kulit putih yang bercahaya berdiri di dekat mereka berdua, sepasang sayap putih nan indah mengembang di balik punggung namja itu. Mata Eunhye dan Sanghyun membulat lebar melihat sosok berpakaian putih yang sudah tak asing lagi di mata mereka : SEHUN.
“Se … Sehun-a… apa itu kau?” Tanya Eunhye dengan tatapan tak percaya.
Sehun tersenyum simpul, “Eo, naya-----ini aku…”
Sanghyun hanya bisa terpaku melihat makhluk yang sekarang sudah berhadapan dengannya itu. Sehun yang dilihatnya sekarang terlihat sama persis dengan Sehun yang dilihatnya di mimpi. Kulit bersinar, sayap lebar yang mengembang indah dan wajah yang sangat tampan.
“Apa kau… malaikat maut yang akan menjemput kami?” Tanya Sanghyun, dia memundurkan tubuhnya menjauhi Sehun, sedikit takut dengan makhluk itu.
“Aniya. Mana mungkin malaikat setampan aku adalah malaikat maut? Aku adalah malaikat pelindung Eunhye.”
“Ma… malaikat pelindung?” Tanya Sanghyun, matanya melebar karena kaget dengan jawaban Sehun. “Memangnya ada yang seperti itu?”
Sehun melekatkan pandangannya ada sosok Eunhye yang dari tadi membisu, “Eung… malaikat pelindung.” Jawabnya lagi, “setelah aku kembali ke Eden, Tuhan mengutusku untuk menjadi malaikat. Aku pun tak mengira Tuhan mengutusku untuk menjadi malaikat pelindung Eunhye. Entah kenapa aku yang dipilih, aku juga tak tahu. Tapi yang jelas, saat kutahu jika tugasku adalah melindungi Eunhye, aku merasa sangat bahagia…” jelas Sehun, bermaksud menjelaskan kehadirannya di sini pada Eunhye.
Eunhye menatap Sehun penuh rindu dan akhirnya yeoja itu pun menghambur ke dalam pelukan Sehun. Sayap lebar Sehun mengembang dan segera membalas memeluk yeoja itu.
“Sehunnie, neomu geuriweosseo…” hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut mungil Eunhye untuk mengungkapkan rasa rindunya yang sudah terlalu besar pada Sehun. “Gomawo, sudah menjadi malaikat pelindungku.”
Sanghyun yang melihat adegan itu hanya dapat mengalihkan pandangannya, berusaha menahan rasa cemburunya melihat yeoja-nya berpelukan dengan Sehun.
“Lalu, apa kau dapat menjelaskan yang sedang terjadi saat ini pada kami?” Tanya Sanghyun lagi, berupaya menghentikan pemandangan yang menyakitkan hati dan matanya itu.
Eunhye yang baru sadar jika Sanghyun juga berada di sini langsung melepaskan dirinya dari pelukan sayap Sehun. Dia dan Sehun pun menjadi merasa bersalah pada Sanghyun.
“Mianhae, Oppa…” ucap Eunhye lirih, takut jika Sanghyun akan marah padanya. Sanghyun hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Sehun langsung menjawab pertanyaan Sanghyun untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka, “Kalian sedang berada di dunia antara hidup dan mati.”
“Jadi maksudmu kami… ”
“Ne. kalian belum mati…” kata Sehun seolah tahu apa yang dipikirkan Sanghyun.
“Tapi, Sehunnie, kenapa roh kami terpisah dari raga kami seperti ini?” Tanya Eunhye, pada akhirnya dia mulai ikut angkat berbicara.
“Bukankah menurut logika kita, jika roh terpisah dari raga itu artinya mati?” kata Sanghyun, dengan penekanan di kata mati.
“Kalian belum mati, kalian hanya sedang berada di ambang kematian. Tidak ada malaikat maut yang menjemput kalian hari ini karena kalian memang tidak ditakdirkan mati hari ini.” Jelas Sehun lagi.
“Tidak ditakdirkan mati hari ini? Lalu apa yang harus kami lakukan? Apa kami akan seperti ini selamanya? Hidup tidak, mati juga tidak…” Tanya Sanghyun semakin bingung sekaligus panik.
“Ada satu solusi agar roh kalian dapat kembali ke raga kalian.”
Sanghyun dan Eunhye diam, mendengarkan solusi yang akan dikatakan oleh Sehun.
“Kalian harus memakan buah kehidupan yang hanya tumbuh di taman Eden...”
“Lalu… bagaimana cara untuk pergi ke sana?” Tanya Eunhye penuh harap.
Sehun terdiam cukup lama, sedang berpikir keras tentang apa yang harus dilakukannya untuk membantu Eunhye. “Aku tahu jika Eunhye tidak ditakdirkan mati hari ini. Aku harus melakukan sesuatu untuknya. Aku tidak ingin Eunhye mati sebelum waktunya. Aku masih ingin melihat Eunhye menjalani hidupnya dengan bahagia…”
“Aku tahu. Tunggu aku di sini. Jangan pergi ke mana-mana. Arrasseo?” kata Sehun tiba-tiba dan bersiap mengepakkan sayap malaikatnya.
“Kau mau pergi ke mana?” Tanya dua roh itu bersamaan.
“Kalian tidak perlu tahu. Percayalah, aku akan membantu kalian. Jadi, tunggu sampai aku kembali.”
Sehun segera terbang menjauh meninggalkan dua roh yang sedang gamang itu.
“Apapun akan kulakukan dan kukorbankan, asal Eunhye dapat hidup kembali…”
***
prok... prok... prok... akhirnya ini FF selesai juga, yah... walaupun baru prolognya :D
yang nggak sengaja nemu FF ini, jangan lupa RCL ya? komen reader sangat penting untuk kemajuan author :D
ANNYEOOOONG~! *nebar duit Siwon*
0 komentar:
Posting Komentar